AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Sea dan Maga



"Mau yang berapa persen, Tuan?" tawar bu warung.


"Aku mau minum kopi saja," kata Yohan sambil mengedarkan pandangan. Jujur, tidak ada yang menarik di warung ini. Wanitanya, tempatnya, semua hal yang ada di warung ini jelas bukan selera seorang Yohan.


"Ini kopinya, Tuan?"


"Kopi apa ini?"


"Itu kopi sachet *instan*t, Tuan. Kalau pagi-pagi kami jual seharga 2000 untuk yang sudah diseduh. Kalau malam 5000."


"Apa?! Hahahah," Yohan tertawa.


"Kenapa, Tuan? Apa mau kopi yang lain?"


"Tidak, ini saja. Aku tertawa karena lucu dengan harganya. Murah sekali. Jangan-jangan minuman yang kalian jual, minuman opolosan," guyon Yohan.


"Ya memang ada yang opolosan juga Tuan, tapi kami mencampurnya dengan jamu-jamuan, bukan dengan obat nyamuk. Jadi cukup aman, apa Tuan mau mencobanya?"


"Apa katamu?! Serius? G i l a, padahal aku hanya bercanda, ck ck," Yohan berdecak keheranan.


"Hehehe, tapi Anda bukan polisi, kan? Saya jadi takut."


Bu warung merenung, kembali mengingat-ingat wajah di hadapannya ini. Ia yakin pernah melihatnya. Tapi di mana ya? Ia sama sekali tidak mengingatnya.


"Tenang saja, aku tidak akan mengusik bisnis kalian. Aku tidak punya kewenangan. Harusya pemerintah setempat yang memperhatikan kalian, bukan aku," tegas Yohan. Lalu menyeruput kopi yang masih mengepul.


"Sluruuup, ahhh ... emm ... rasanya lumayan," pujinya. Entah kopi apa yang diminum pria itu.


"Berapa tarif ayam di sini?" tanya Yohan sambil memainkan ponselnya. Dia mengirim pesan untuk Agam.


"Gam, kudengar dari Vano, adik kamu, koma. Bolehkan aku menjenguknya? Malam ini aku berencana menjenguknya." Pesan terkirim.


"Bagaimana nilai jual ayamnya, Tuan. Macam-macam, tidak tentu. Yang jelas, semakin cantik si ayam, apalagi masih tersegel, maka nilai jualnya akan semakin tinggi," jelas bu warung, ia menatap kagum pada Yohan.


"Oh," ucap Yohan singkat.


Setelah merasa puas melihat-lihat dan menghangatkan tubuhnya dengan secangkir kopi, Yohanpun beranjak ke meja kasir. Bermaksud untuk membayar. Untungnya, ia masih ada sisa uang receh. Di warung ini tentu saja belum ada pembayaran dengan sistem online.


"Si Sea pingsan," sayup terdengar suara seorang perempuan mengatakan kalimat itu saat Yohan membalikan badan untuk pergi dari bagian kasir.


"Sea?" gumamnya.


Tidak mungkin.


Kepala Yohan menggeleng. Ia sedang menyangkal jika nama yang disebutkan itu adalah gadis yang dicarinya. Toh, nama Sea adalah nama panggilan yang ia ciptakan sendiri karena ia dan gadis itu dipertemukan di laut.


Yohan melanjutkan kembali langkahnya. Sama sekali tidak ada rasa curiga.


"Mau pulang sekarang, Tuan?" Ibu warung menguntit Yohan.


"Ya," lagi, Yohan hanya menjawab singkat.


Tiba-tiba seorang pria berbadan tambun tiba dari ruangan lain. Tepatnya dari bagian dalam.


"Win, anak ayam kamu k u r a n g a j a r. Baru juga aku mau pegang tangannya, dia sudah berani menampar dan meludahiku!"


Yohan mengernyitkan dahi. Masih menyimak. Lalu berbalik badan menuju pintu keluar.


"Sabar dong Bos, Sea kan masih kecil. Dia itu sedang ranum-ranumnya. Harusnya, Bos lebih sabar lagi," timpal bu warung yang dipanggil 'Win.'


"Tadi kutampar saja dia! Eh, malah pingsan. Cepat kamu urus! Aku tidak mau memakan ayam pingsan!" tegasnya sambil duduk bertopang kaki di sebuah kursi.


"Baik, Bos. Jangan khawatir. Maaf ya. Kalau dia berani macam-macam lagi, nanti saya diskon," rayu Bu Win. Ia kemudian meninggalkan ruangan itu seraya melemparkan senyum pada Yohan yang berada di ambang pintu.


Yohan hanya menggedikkan bahu, lalu melambaikan tangan, pertanda jika akan undur diri dari tempat tersebut.


.


.


"Huuu .... Ibu," lirih Sea. Ia yang terbaring di kamar sudah siuman dari pingsannya.


Ibu yang ia panggil, adalah ibu panti yang selama ini telah merawat dan membesarkannya.


Sea duduk perlahan sambil memeluk dadanya. Tampilannya sangat berbeda. Ia telah dirias. Menggunakan gaun super seksi yang sudah disediakan bu warung. Sea bahkan tidak tahu tasnya berada di mana.


Gaun ini sangat memalukan, bagian punggung Sea terbuka seluruhnya. Bagian depannya tak layak diungkap. Sea merasa jijik dengan gaun ini.


"Apa aku sudah dinodai?" Ia becermin dan memeriksa tubuhnya.


Syukurlah, semuanya baik-baik saja. Hanya pipi Sea saja yang memerah akibat tamparan pria tambun itu. Sea berusaha mencari apapun untuk menutupi tubuhnya, tapi tak ada satupun kain yang bisa ia gunakan.


Lalu matanya melihat sprei. Ide muncul. Ya, sprei ini bisa digunakan.


"Sea, awas kamu ya!"


Umpatan dari luar mengurungkan niat Sea. Bu Win rupanya akan segera tiba di kamar dan memberikan pelajaran pada gadis itu.


Seketika Sea panik. Matanya beredar. Lagi, ia mencari cara dan celah untuk melarikan diri. Gayung bersambut. Sea melihat ada tirai kecil di dinding kamar itu. Segera dibuka, dan ternyata ada sebuah jendela di baliknya.


"Seaaa."


Pintu terbuka bersamaan dengan berhasilnya Sea menbuka selot jendela.


"Hei, mau kemana kamu?! Mau kabur lagi?!" teriak Bu Win.


Sea tak menoleh. Ia naik ke bingkai pintu, lalu meloncat keluar dari kamar yang ternyata terhubung dengan lorong kecil yang sebelumnya pernah dilewati Sea.


Bu Win kesal. Ia kembali ke ruangan.


"Hei, si Sea mau kabur lagi. Jaga pintu depan sama pintu belakang!" titah Bu Win.


Ya Rabb, tolong selamatkan aku. Aku ingin pergi dari tempat neraka ini.


Jerit Sea dalam batinnya. Ia berlari melewati lorong itu tanpa alas kaki. Ia tidak peduli lagi dengan tasnya yang tertinggal. Fokus utamanya adalah keluar dari tempat ini. Ia berpikir lebih baik mati terbunuh daripada harus dilecehkan lagi.


Sea berada di jalan buntu. Ia tak mungkin kembali keluar melalui ruangan utama. Di hadapannya ada tembok tinggi. Lorong ini tanpa atap.


"Itu dia!" teriak bawahan Bu Win.


"Sea, di kamar mandi sebelah kiri ada jalan pintas."


Tiba-tiba Sea mendengar suar bisikan dari arah jendela. Saat Sea melirik ternyata ada seorang perempuan yang mengintipnya dari balik tirai jendela.


"Cepat Sea," titahnya.


Sea mengangguk, ternyata di tempat ini tidak semuanya jahat.


"Mau lari kemana kamu j a l a n g kecil!" teriak yang mengejar.


Sea berlari sekuat tenaga menuju kamar mandi umum yang dimaksud wanita itu. Entah jalan pintas seperti apa yang ada di kamar mandi. Sea tak terpikirkan, hanya bisa berharap agar wanita itu tak menipunya.


Sea menabrkan tubuhnya pada pintu kamar mandi agar cepat sampai. Segera menutup pintu dan menguncinya saat ia berhasil tiba.


"Hei, buka!" Yang mengejar Sea menggedor pintu.


Sea memegang dadanya yang mulai sesak dan berdebar. Terbelalak matanya melihat jalan pintas yang dimaksud wanita itu. Ternyata di kamar mandi ini ada tangga besi yang mengarah ke lubang kecil yang berada di atap.


Tak ada rasa ragu ia segera menaikinya dengan kaki gemetar karena diringi oleh getaran pintu kamar mandi yang sepertinya akan didobrak dari luar.


"Cepat Sea, cepat!" Sea memotivasi dirinya.


Setibanya di atap, ia tercengang, ternyata di bagian lain atap itu ada tempat jemuran pakaian yang menghadap langsung ke jalan raya. Ya, di belakang warung ini ternyata ada jalan raya. Tapi bagaima caranya Sea turun dari sini?


"Tolooong," teriak Sea. Saat di bawah sana ada mobil yang melintas. Namun tentu saja tak akan ada yang mendengar teriakan gadis itu.


Saat ini sudah malam, jalan raya dua arah terlihat sepi dari lalu-lalang kendaraan.


'BRAK.' Pintu kamar berhasil didobrak.


"Nekad sekali! Gadis itu naik ke atap!"


"Cepat kamu naik! Jangan sampai dia lolos!"


"Hei, kau g i l a ya?! Lubang atapnya kecil! Kita tidak akan cukup!"


Lalu Bu Win datang.


"Bagaimana caranya Bu?! Kan warung ini berdempetan dengan bangunan lain."


"Dasar bodoh! Ya kamu memutar saja ke jalan raya. Lagipula jarak untuk memutarnya tak jauh juga!" bentak Bu Win. Dia sangat marah.


Sementara itu, masih di sekitaran tempat yang sama dengan Sea, Yohan Nevan Haiden tengah melamun. Ia bersandar pada kemudi. Ternyata, pria itu masih berada di area parkir warung remang-remang.


Terkejut dirinya saat dari garasi warung itu ada dua motor yang keluar dengan terburu-buru seperti hendak balapan. Yohan membuka kaca mobil.


"Cepat! Jangan sampai dia lolos!" teriak pria yang dibonceng.


"Ada apa, sih? Mencurigakan," guman Yohan. Tiba-tiba muncul rasa kepenasaran.


Segera melajukan kemudi menyusul motor-motor itu, dan entah kenapa ia merasakan jantungnya bedebar. Debaran ini terasa berbeda. Debaran ini biasanya hanya terjadi saat ia berada di dekat Sea.


Saking rindunya, aku sampai merasa jika kamu berada di sini.


...❤...


...❤...


...❤...


"Be-begitu, Pak Dirut," jelas kepala dokter yang menangani Gama.


Setelah terjadi adu mulut yang cukup alot, dan rusaknya beberapa properti ruang rapat, akhirnya Pak Dirut mau juga mendengarkan penjelasan dokter dengan terperinci.


"Tenang, seluruh kerusakan akan menjadi tanggung jawab saya. Saya akan menggantinya dengan yang lebih bagus." Jelas Vano, tadi. Tepatnya saat Pak Dirut mengamuk.


Anggota kepolisian sektor pusat sudah datang. Ada delapan orang. Ketua BRN dan jajarannya sebentar lagi tiba di tempat. Tim kuasa hukum Agam Ben Buana telah berbaris rapi. Lucunya, beberapa di antara mereka ada yang masih menggunakan piyama tidur, dan mencoba menahan diri agar tidak menguap.


Vano dan Pak Yudha gelisah. Mereka sedang menunggu kedatangan pawang cantik untuk menjinakan si raja rimba yang sampai saat ini masih emosi. Sedangkan Freissya lebih memilih kembali ke ruang ICU untuk menemani Gama.


"Saya mau profesor radiologi datang ke ruangan ini saat ini juga!" tegas Agam.


"Ma-maaf, Pak. Profesor kami sudah sepuh, beliau pasti kerepototan kalau harus datang malam-malam," jelas dokter kepala.


Selain dokter kepala, tak ada satupun yang berani bicara kecuali ditanya langsung oleh Agam Ben Buana. Sebegitu besarnya kasih sayang Agam pada adiknya. Seluruh tim medis pada dasarnya menyadari jika Agam Ben Buana tengah berjuang untuk mendapatkan keadilan bagi adiknya.


"Mohon maaf, ketua BRN akan segera tiba," kata polisi.


Sontak tim medis terkejut. Tak menyangka jika malam ini di ruang rapat mereka akan terjadi peristiwa besar yang melibatkan Dirut HGC dan BRN.


"Jangan ada yang meninggalkan ruangan," tegas polisi saat ada beberapa tim medis diam-diam beranjak dari kursinya.


Agam menatap tajam ke arah pintu masuk. Dalam hal ini, Agam sebenarnya sudah memahami jika tim medis yang menangani Gama tidak bisa disalahkan.


Yang berperan dalam hal ini adalah ketua BRN. Harusnya, sejak tahu Gama kecelakaan, polisi yang mengawal Gama segera menginfokan pada tim IGD jika Gama terpasang cip di lehernya.


"Selamat malam."


Ketua BRN masuk bersama pengawalnya. Langsung menatap mantan anak emasnya. Mereka bertatapan lumayan lama, seolah tengah beradu ilmu kanuragan 'Tatap Jiwa.'


"Silahkan masuk, Pak."


Vano mempersilahkan. Yang lainnya menunduk. Hanya Agam Ben Buana yang tidak menunduk.


"Aku merindukanmu." Kepala BRN memeluk Agam. Agam diam saja, tidak merespon juga tidak menolak.


"Cepat jelaskan kondisi Sultan Yasa. Aku ingin melihatnya," ucap Pak Ketua.


"Cepat putar vidionya, Anda perhatikan dan jangan berkedip," ketus Agam.


Sebenarnya, Agam ingin menghajar ketua BRN saat ini juga. Namun ia tahu jika di antara pengawal yang mendampingi ketua BRN pasti ada wartawan dari media pemerintah. Jika ia gegabah, misinya bisa gagal.


Seseorang kemudian memutar rekaman yang menunjukan kondisi Gama setelah sadar dari komanya. Agam menitikan air mata saat melihatnya, pun dengan ketua BRN. Entah terapi seperti apa yang bisa menyembuhkan Gama.


"Sekarang Anda lihat, kan? Semua yang terjadi pada adik saya adalah kelalaian BRN. Adik saya terkontaminasi cip dan elektron bedah. BRN harus bertanggung jawab!"


"Maga, tenang ya. Kami akan membawa Gama untuk mendapatkan pengobatan di luar negeri," jelas ketua BRN.


Tim medis menyimak. Jika Agam menyalahkan BRN, artinya mereka di atas angin. Dugaan malapraktik bisa jadi dikesampingkan.


"Saya tidak butuh BRN menanggung pengobatan adik saya. Yang saya butuhkan adalah kalian harus mengeluarkan adik saya dari kandidat anggota BRN."


"Maga, permintaan itu tidak masuk akal. Aku ke sini justru karena ingin menuntut pihak rumah sakit. Sampai saat ini Sultan Yasa masih kandidat kami. Jadi, seluruh keputusan yang berhubungan dengan Sultan Yasa akan menjadi tanggung jawab BRN.


"Apa?!" Agam geram.


Awalnya, setelah kondisi Gama seperti itu, Agam berpikir Gama tidak akan dibutuhkan lagi karena secara otomatis seluruh kemampuan Gama akan terganggu. Tapi dugaan Agam salah.


Pak Dirutpun kembali emosi. Vano dan Pak Yudha menahan tangan Agam di kiri dan tangan.


"Maaf, Pak. Kami dari pihak rumah sakit sepertinya akan menempuh jalur hukum juga. Dari awal datang ke IGD, Pak Polisi yang membawa pasien sama sekali tidak memberi informasi tentang cip itu," sanggah dokter kepala.


"Kalau kalian mengumpulkan data penunjang dengan lengkap, kurasa efek elektroda itu tidak akan tejadi," sela ketua BRN.


"Pak! Adik saya kritis! Dia hampir mati! Tim medis sudah benar melakukan operasi darurat! Andai saja dari BRN ada yang memberitahu tentang cip itu, bisa saja kan tim medis melakukan operasi dengan meminimalisir penggunakan gelombang elektroda?!" teriak Agam. Wajahnya merah-padam.


Ketua BRN terdiam.


"Pak Agam Benar," kata dokter kepala.


"Lepaskan saya Vano, Pak Yudha tolong lepaskan saya!" Pak Dirut berontak. Ia ingin menyerang ketua BRN.


Vano dan Pak Yudha oleng. Lima orang polisi membantu. Kini, Pak Dirut dipegangi oleh tujuh orang.


"Cukup saya saja yang kalian eksploitasi! Kenapa harus adik saya juga?! Bahkan setelah adik saya sakitpun, kalian tetap tidak mau membebaskan adik saya. Kenapa kalian memperlakukan saya dan adik saya dengan tidak adil, hahh?!"


"Maga tenang, BRN seperti ini karena Anda dan Sultan Yasa anak istimewa."


"Saya dan adik saya tidak pernah meminta dilahirkan menjadi istimewa. Tapi saya dan adik saya butuh keadilan untuk mensyukuri keistimewaan ini, faham?!" sentak Agam. Andai ia tidak cidera, yakinlah tujuh orang itu sudah tumbang.


"Saya yakin di sini ada wartawan. Vano! Pak Yudha! Kalian ada di pihak siapa?! Kenapa menahan saya?!"


Rupanya kesabaran Agam Ben Buana hampir habis. Ia memutar badannya dan menendang mereka yang berusaha menahan tubuhnya. Pengacara Vano sampai terjungkal. Bosnya ini benar-benar g i l a. Teori dokter Cepy yang mengatakan Agam akan kesakitan saat begerak, terbantahkan.


Posisi Agam kini berhadapan dengan ketua BRN.


"Jangan," seru ketua BRN saat polisi dan pengawal akan menahan Agam.


"Sampai kapan Anda berpura-pura menjadi orang baik, hah?!"


Umpatan Agam membuat semua mata terbelalak.


"Jaga ucapanmu, Maga! Selama ini aku selalu melindungi kamu dan ada di pihakmu! Kamu anak emasku!" jelas ketua BRN.


"Apa perlu saya membongkar semuanya sekarang?!"


Agam mencengkram kerah baju ketua BRN. Lagi, semuanya kaget. Agam cari mati. Ia berani mempermalukan kepalan BRN di hadapan banyak orang.


"Pak Agam, tenang Pak. Mari kita fokus pada Gama."


"Diam kamu Vano! Diam!" teriak Agam.


Tangan Agam sudah mengepal dan gemetar, ia benar-benar akan meninju ketua BRN. Ketidaksukaan Agam pada ketua BRN berawal semejak Keivel diculik saat baru berumur tujuh hari.


Anehnya, ketua BRN hanya tersenyum saat Agam melayangkan tangannya. Mungkin ia tahu jika dewi fortuna berpihak padanya. Kenapa demikian? Karena pawang cantik sudah tiba.


"Maga, hentikan!"


Suara itu seolah meluluh lantakkan emosi Pak Dirut. Kini semua mata tertuju pada wanita cantik itu. Ada artis di hadapan mereka.


"LB?!" Seluruhnya menoleh.


Bukankah LB diculik? Mayoritas yang hadir bertanya-tanya.


Agam menoleh, tangannya tak jadi meninju. Ide Vano berhasil. Raja rimba bertekuk lutut pada LB.


Tapi masalahnya adalah ... kedatangan Linda menggagalkan rencana Agam untuk mengadu domba serta menjebak oknum polisi dan BRN yang telah ia curigai sebagai dalang yang menyebabkan Gama celaka. Agam harus merubah strategi saat ini juga.


"Sayang, ka-kamu di sini? Si-siapa yang menculik kamu, hahh? Siapa?!" Agam berhambur, memeriksa Linda dan memeluknya.


Semoga jawaban Linda sesuai dengan harapan Pak Dirut.


...~Tbc~...