AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Clever Tactic



"Sayang, ka-kamu di sini? Si-siapa yang menculik kamu, hahh? Siapa?!" Agam berhambur, memeriksa Linda dan memeluknya.


Awalnya Linda merenung, ia kaget dengan pertanyaan Agam. Setahu Linda, berdasarkan info dari dokter Cepy, Agam mengamuk, dan ia harus menenangkannya.


"Yang memakai baju hitam dan rompi tahan peluru, ketua BRN, mainkan rencana kita, sayang," bisik Agam saat memeluk Linda.


Hah, rencana yang mana? batin Linda. Secepatnya berpikir.


"Huuu," sambil memeluk Agam, Linda menangis. Faktanya, ia tengah berpikir mau mengatakan apa.


Hadirin menyimak dengan seksama, mereka pasang mata dan telinga. Wartawan misterius mulai memainkan perannya. Ia mulai merekam. Siapa sih yang menculik Linda? Mereka tentu penasaran karena penculiknya diduga mampu menonaktifkan CCTV bandara.


"Huuks, a-aku diculik oleh orang yang memakai masker hitam, huuu ... kalau tidak salah aku dibawa ke sebuah ruang bawah tanah. A-aku takut sekali. Saat memasuki lorong yang gelap, kulihat ada beberapa orang dari komplotan penculikku yang lehernya menyala. Mereka menyeramkan."


"Apa?!"


Mereka kaget. Terutama kepala BRN. Ya, memang tidak semua orang bisa langsung menebak identitas yang disebutkan oleh Linda, tapi polisi tidak bodoh. Mereka jelas tahu siapa yang dimaksud oleh Linda. Seketika, ketua BRN diam membisu.


Ia jadi berpikir, apakah pernyataan Linda benar? Apa ada anggota BRN yang memang sengaja ingin menculik dan mencelakai Linda? Jika benar, berarti memang ada musuh di dalam selimut.


"Lalu bagaimana kamu bisa lolos?" Agam terlihat khawatir.


"A-aku menggoda oknum polisi," jelas Linda.


"Hahh?"


Dua intansi negara disebut bersamaan oleh Linda. Jelas, staf medis terkejut.


"Maaf, sepertinya masalah ini sudah melenceng dari tema kita malam ini," kata dokter kepala yang menangani Gama.


"Dok, Anda diam dulu, ya. Silahkan kalian siapkan saja fakta-fakta yang bisa meringankan kalian di pengadilan, kami tetap akan menuntut kalian," kata ketua BRN.


"Hahaha, silahkan BRN menuntut tenaga medis. Yang jelas, saya sebagai keluarga Gama, akan menjadi pihak yang meringankan tim medis. Sebab sedari awal kalianlah yang membiarkan Gama dioperasi dengan cip masih terpasang di lehernya," sela Agam.


Keterangan Agam kembali membuat tim medis merasa lega. Kepala BRN tak ingin kalah pamor, ia pun bermanuver dengan teknik lain. Dalam hal ini, ia tidak mau jika citra BRN rusak gara-gara keterangan LB.


"Baik, jika itu yang Anda inginkan silahkan. Tapi, sebagai ketua BRN aku berharap kepada polisi dan masyarakat agar tidak percaya begitu saja dengan keterangan LB. Bagaimana mungkin kalian percaya pada tersangka. Kita semua sudah tahu noktah hitam seperti apa yang diperbuat LB," jelas ketua BRN dengan seringai liciknya.


"Anda jangan k u r a n g a j a r, Pak! Istri saya difitnah dan dikambinghitamkan, istri saya tidak layak ditangkap, faham!" teriak Agam sambil memegang tangan Linda.


"Pak, tenang," bujuk Linda.


"Tidak bisa, El! Saya tidak bisa tenang! Dia! Dia adalah orang yang telah mengeksploitasi saya dan Gama! Dia menggunakan kemampuan saya untuk mencari sebesar-besarnya keuntungan," tegas Agam sambil menatap tajam pada ketua BRN.


"Maga! Anda tidak tahu balas budi!" teriak ketua BRN.


"Bagaimana mungkin saya bisa balas budi pada orang yang tega menculik putra saya yang bahkan tali pusatnya saja belum terlepas!" teriak Agam


"Apa?!"


Keterangan Agam membuat semuanya tercengang. Semua pasang mata tertuju pada ketua BRN.


"Maga! Anda keterlaluan! Anda sudah di luar batas!" teriak ketua BRN. Wajahnya merah padam. Ini baru pertama kalinya ia dipermalukan oleh mantan bawahannya.


"Tangkap LB! Tangkap!" titah ketua BRN seraya menodongkan senjata ke arah Agam. Agam yang tangan kosong segera melindungi Linda. Pengacara Vano terkejut. Ketua BRN telah menyalahi prosedur.


"Pak Ketua, Anda menyalahi prusedur!" teriak Vano.


"Aaa," dokter wanita dan suster ketakutan. Mereka berhamburan menyelamatkan diri.


"Ada apa ini?!" Petugas keamanan kebingungan, dan mereka panik saat melihat seseorang menodongkan senjata.


"Silahkah bunuh saya! Asalkan Anda tidak membunuh keluarga saya!" tantang Agam.


"Cepat kamu tangkap LB! Dia tersangka, kan?" Ketua BRN beteriak lagi. Matanya melotot ke arah pengawal dan polisi.


"Pak Ketua, ini rumah sakit, kita tidak boleh melakukan keonaran di tempat ini," tolak polisi.


"Pak polisi, aku tidak apa-apa ditangkap. Aku akan mengikuti prosedur." Di luar dugaan Agam, Linda berlari ke arah polisi dan menyodorkan tangannya untuk diborgol.


"El," Agam memanggil istrinya.


"Pak Agam tenang ya, aku pasti baik-baik saja," tegas Linda. Di mimik wajahnya tak ada satupun binar ketakutan.


"Hahaha, istrimu sendiri bahkan meninggalkanmu. Lambat laun, semua orang akan melupakanmu. Kali ini Anda tidak beruntung Maga," ledek ketua BRN, ia kembali mengarahkan pistolnya pada Agam.


"Tolong jaga nama baik dan wibawa Anda, Pak Ketua, jangan bertindak gegabah," teriak Linda. Ia khawatir peluru itu benar-benar menghancurkan dada suaminya.


Anehnya, Agam tak melakukan apapun, ia malah menyilangkan tangan di dadanya dan tersenyum pada ketua BRN. Padahal, selain ditodong senjata oleh Pak Ketua, Agam juga dikelilingi pengawal yang merupakan anggota BRN dan polisi.


"Saksikan oleh kalian semua, kalau Agam Ben Buana tidak akan selamat lagi. Aku akan mempercepat eksekusinya tanpa melewati persidangan," seloroh Pak Ketua. Ya, ia memang mempunyai wewenang dan legislasi terhadap anggota BRN yang melanggar 'Malima.'


"Pak Vano, Dokter Cepy, cepat lakukan sesuatu!" desak Linda.


"Tenang Bu LB, Pak Dirut tidak akan mati dengan cara yang mudah," kata Vano.


"Ya, dia pemeran utama pria, masa ya mati duluan," sela dokter Cepy.


Bersamaan dengan itu staf medis dan paramedis segera diamankan oleh petugas keamanan untuk meninggalkan ruangan yang mengerikan itu. Suasana kian mencekam, area itu dijaga ketat oleh polisi. TKP segera dibatasi police line.


"Apa yang akan Anda ucapkan pada istri seksimu, Maga!" seru ketua BRN.


"Tidak ada," jawab Agam singkat.


"Pak Agam! Huuu, jangan main-main!" teriak Linda. Linda berontak, ingin memeluk Agam dan melindungi pria itu.


"Kalian orang-orangnya Pak Agam, kan? Kenapa diam saja?!" teriak Linda pada tim lawyer. Tapi mereka tetap bergeming. Hanya menunduk dan tak mengatakan apapun.


"Cepat tarik pelatuknya Pak Ketua," tantang Agam.


"Tidaaak! Jangaaan!" jerit Linda.


"Sombong sekali kamu, Maga. Baiklah, karena Anda tidak ingin mengatakan apapun. Maka aku saja yang berkata-kata. Aku ingin berterima kasih atas sepak terjang, prestasi, dan aksi heroik kamu selama menjadi anggota BRN."


"Tak perlu basa-basi, cepat!" bentak Agam.


"Anda sombong sekali. Memang ada berapa nyawa yang kamu miliki, hahh?!"


"Saya hanya punya satu nyawa. Tapi bukan di tangan Anda. Nyawa saya milik Tuhan saya," tegas Agam.


"Sombong!"


Ketua BRN mulai membidik. Tubuh Agam dipegangi oleh polisi dan pengawal. Tim kuasa hukum tetap menunduk dengan jantung berdegup kencang, Linda beteriak histeris.


"Mari kita berhitung, satu ---." Ledek ketua BRN.


"Hahaha, dua," katanya.


"Ti ---."


"Pak Agaaam," teriak Linda.


'Krak'


'Krak.'


"A-apa?!"


Mata ketua BRN membelalak, pistol yang ia pegang tak berpeluru. Bersamaan dengan Linda yang terkulai. LB pingsan karena mengira pistol itu telah berhasil membunuh suaminya.


Pak Dirut tersenyum, matanya yang tadi tertutup, terbuka satu-satu persatu. Ia mengedikkan bahunya, lalu polisi dan pengawal ketua BRN melepaskan tangan mereka dari menahan Agam.


"Kenapa dengan pistol Anda, Pak Ketua?" ledek Agam. Ia lalu duduk di sebuah meja, dan menyilangkan kaki.


"Pak Agam, LB pingsan," teriak seorang polisi.


"Pak Yudha, tolong bawa dia ke kamar hotel depan rumah sakit," titah Agam. Ia melihat Linda dengan sudut matanya.


"Siap, Pak." Pak Yudha faham. Artinya, dia harus segera memesan kamar untuk Linda dan Agam.


"Siapa yang berani main belakang dan menipuku?!" teriak ketua BRN.


"Tidak ada yang menipu Anda, Pak Ketua. Saya hanya mendapat dukungan," kata Agam.


"Maksud kamu?!" Ketua BRN naik pitam, ia mencengkram kerah baju Agam.


Vano, Pak Yudha dan dokter Cepy tersenyum puas.


"Apa Anda tidak sadar kalau banyak anggota BRN yang ingin melengserkan Anda?" bisik Agam.


"Apa?!" Pak Ketua mendorong keras dada Pak Dirut, hingga Agam mundur beberapa langkah.


"Rupanya kekuatanmu berkurang ya, Maga!"


"Hahaha, tidak. Justru saya makin kuat. Tadi hanya pura-pura," ledek Agam.


Bersamaan dengan itu tim kepolisian dari badan intelijen tiba-tiba datang dan mengepung ketua BRN.


"Wah, ada apa ini?" kata Agam, ia sepertinya kembali pura-pura. Pura-pura tidak tahu.


"Atas perintah siapa kalian ke sini?!" teriak ketua BRN.


"Maaf Pak Ketua, kami ke sini untuk menangkap Anda," terang salah satu dari mereka.


"Apa?! Atas dasar apa kalian menangkapku?! Siapa yang memerintah kalian?!"


"Kami ke sini atas perintah presiden. Anda diduga telah menjadi dalang penculikan dan menyalahi wewenang."


"Apa?! Tidak mungkin!" sanggahnya.


"Mungkin, dong, saya saksi kuncinya," timpal Agam.


"Maga! Kamu!" Ketua BRN mengeratkan gigi saat tangannya diborgol.


"Hahaha, hanya istri saya yang bisa mengalahkan dan menggulingkan saya. Jangan bermimpi!" ketus Agam sambil berlalu. Namun membalikan badan lagi untuk memberikan hormat pada ketua BRN.


"Maga, awas kamu ya! Polisi, tolong tangkap LB juga! teriak ketua BRN.


"Magaaa! Aku tidak akan melupakan hari ini! Silahkan kamu tertawa sesuka hati, tapi itu tidak akan lama!" ancam ketua BRN.


"Oya!" teriak Agam bersamaan dengan diseretnya ketua BRN keluar dari ruangan.


Akhirnya berakhir jua ketegangan di malam itu. Namun sebagian petugas kepolisian masih berjaga-jaga. Tim kuasa hukum Agampun pulang satu persatu setelah Agam Ben Buana selesai memberikan pengarahan.


...❤...


...❤...


...❤...


Linda sudah siuman sedari tadi. Namun enggan membuka mata karena batinnya sedang dilanda kegundahan yang teramat mendalam.


"Huuu."


Kembali menangis karena memikirkan nasib sang suami. Linda tidak tahu apakah Agam selamat atau tidak. Momen terakhir yang ia ingat adalah ketika ketua BRN hendak menembak Agam. Pikiran Linda begitu kalut, hingga ia tak menyadari jika seseorang telah masuk ke kamarnya.


Sosok itu berjalan pelan mendekati Linda yang kebetulan memunggungi pintu masuk. Lalu naik ke tempat tidur dan menutup mata Linda dengan kedua telapak tangannya.


"Si-siapa kamu?! To-tolooong."


Linda kaget. Ia meraba jemari tangan sosok tersebut. Setelah tahu ini tangan siapa, tangis Linda kian menjadi. Tapi, ini tangis kebahagiaan. Segera membalikan badan dan memeluk sosok itu. Dunia Linda tak jadi kelam. Agam Ben Buana masih hidup. Pria itu masih bisa diraih dan dipeluknya.


"Pak ...," gumam Linda.


"Maaf karena sudah membuatmu khawatir." Agam menangkup wajah Linda. Menatap wajah cantik itu dengan penuh cinta.


"Ke-kenapa Pak Agam berani sekali melawan ketua BRN?"


"Sayang, ketidakadilan dan kesemena-menaan harus dilawan," sambil mengelus rambut Linda.


"Tapi tidak menantang maut dengan pistol, kan?" sela Linda.


"Hahaha, sayang ... saya tidak mungkin seceroboh itu."


"Bagaimana Bapak bisa lolos?" tanya Linda. Airmatanya masih berurai.


"Pistol itu tidak ada pelurunya sayang, hahaha."


"Tidak lucu! Bagaimana Bapak bisa tahu itu tak ada pelurunya?"


"Saya berkomplot dengan pengawal kepercayaan pak Ketua. Hebat, kan?"


"Apa?!"


"Ya sayang, jadi jangan khawatir lagi, oke?"


"Ba-bagaimana kalau pistol itu ternyata masih ada pelurunya? Tolong jangan gegabah lagi, Pak." Linda masih panik.


"Sayang, lihat ini." Pak Dirut melucuti pakaian atasnya. Linda melongo, pikirannya sudah mengarah ke hal yang bukan-bukan.


"Saya memakai kaos tahan peluru untuk jaga-jaga," jelas Agam.


"I-ini tahan peluru? Kok mirip kaos biasa? Aku tahunya rompi tahan peluru."


"Nah, inilah kehebatan BRN sayang. Selain punya rompi tahan peluru, kami juga punya kaosnya. Saya mantan anggota BRN, jadi saya memilikinya. Fasilitas kaos tahan peluru tetap jadi hak saya."


"Tapi Anda tetap gegabah, Pak. Pokoknya aku marah."


"Sayang, saya sudah selamat. Apa yang kamu takutkan, hmm?"


"Bagaima kalau pistol itu ada pelurunya dan ketua BRN menembak kepala Bapak?!"


"Tidak mungkin dia menembak kepala, El. Eksekusi mati yang dibolehkan untuk anggota BRN hanya ada dua. Tembak jantung dan suntik mati."


"A-apa?! Se-seram sekali."


Linda bergidik ketakutan. Pak Dirut segera menjalankan misi. Merebahkan Linda dan memeluknya. Lalu menyelimuti tubuh mereka.


"Di antara beragam cara hukuman mati, suntik mati adalah cara yang paling nyaman, sayang. Cara lain seperti tembak jantung, tembak kepala, penggal, dan gantung, meski lebih cepat tapi konon lebih menyakitkan."


Pak Dirut jadi punya bahan untuk membuat Linda semakin mengeratkan pelukannya. Agam Ben Buana sepertinya lupa kalau tulangnya ada yang retak.


"Lebih menyakitkan? Memangnya Bapak tahu? Wawancara pada siapa? Pada jenazah?"


"Hahaha, kesimpulan itu didapat berdasarkan hasil penelitian sayang."


"Iya aku tahu, tapi caranya bagaimana?"


"Para peneliti merekam ekpresi wajah detik-detik kematian mereka sayang. Hasilnya akan diteliti lagi oleh pakar ekpresi wajah. Lalu disimpulkan."


"Oh, begitu ya?" Alis Linda mengernyit.


"Tapi, walaupun nyaman, suntik mati justru membutuhkan waktu paling lama. Prosesnya pun tergolong paling rumit, harus melalui tiga tahap suntikan."


"Menarik, ayo jelaskan tahapan-tahapannya Pak."


"Oke, tenang saja, saya ahli kok dalam suntik menyuntik, hahaha."


"Apaan sih, Pak. Tak lucu tahu. Aku serius."


"Hahaha, begini sayang, suntikan pertama pada suntik mati itu mirip dengan pembiusan biasa. Hanya saja dosisnya jauh lebih tinggi. Bisa 8 sampai 20 kali lipat dari dosis bius biasa."


"Tahapan pertama ini merupakan tahapan paling penting. Sebab jika gagal, maka suntikan tahap kedua dan ketiga tidak akan terasa nyaman, malah justru sangat menyakitkan."


"Terus?"


Linda semakin penasaran, sampai tak menyadari kalau tangan Pak Dirut sudah berpindah haluan.


"Suntikan kedua diberikan dalam kondisi terhukum sudah pingsan total. Tujuannya untuk melemaskan otot, dan suntikan terakhir diberikan dengan tujuan untuk menghentikan fungsi jantung. Jadi, bila proses ini berjalan lancar, maka terhukum tidak akan merasa sakit sama sekali."


Linda mengangguk.


"Begitu ya? Oiya Pak. Kita pulang kapan? Aku rindu Keivel."


"Emm, oke kita akan pulang, tapi kita main suntik-suntikkan dulu ya sayang, saya dokternya. Hahaha."


"Apa?! Pak, lihat jam di dinding. Ini jam dua pagi, Pak."


"Memangnya kenapa kalau jam dua pagi? Justru lebih menyehatkan sayang." Sambil mengurung Linda.


"Maga, A-Anda tidak serius, kan?"


"Saya serius sayang. Sekalian mau melihat ekpresi kamu saat disuntik. Saya mau membuktikan teori pakar ekspresi wajah," bisiknya.


"Hah? Maga ... ko-konsep ini berbeda dengan teori suntik mati." Linda sedikit panik, namun saat Pak Dirut membungkamnya. Ia tak mampu berkutik. Spontan menerima, bahkan cenderung agresif.


"Pak, tu-tulang Anda retak. A-apa ini tidak akan bahaya?" tanya Linda saat Pak Dirut sejenak mengambil udara.


"Emm, saya akan menggunakan konsep pelan-pelan," jawabnya, lalu membopong Linda.


"Pak, turunkan! Anda sedang sakit, kita mau kemana?!" teriak Linda.


"Mau ke sofa sayang. Sofanya cantik, jadi saya mau menggunakannya sebagai media penelitian."


"Maga ...."


"Apa? Kamu juga pada dasarnya mau kan jadi objek penelitian saya?" kata Agam saat tangannya aktif melepas seluruh penghalang milik Linda.


Linda tak menjawab, namun pipinya terlihat merona, lalu Linda tersenyum saat melihat Agam kesulitan membuka sabuknya. Linda tahu jika Agam hanya pura-pura kesulitan.


"Bilang saja mau aku yang buka, kan?" tuduh Linda.


"A-apa? Ti-tidak sayang, tidak salah lagi. Hehehe."


Setelah puas saling mencumbu, maka terjadilah hal itu. Hal yang yang sama-sama mereka inginkan. Lagi, Pak Dirut kembali merasakan sensasi bercinta dengan seorang gadis. Linda Berliana Briliant kembali meracuni jiwa dan raga Pak Dirut dengan sesuatu yang sangat dahsyat.


Kamar mereka berubah panas.


...❤...


...❤...


...❤...


Berbeda sekali dengan kamar ruang ICU di mana Gama dirawat. Suasana di ruangan ini terlihat melankolis.


Tampak Gama tengah tertidur di pangkuan Freissya. Entah seperti apa kejadian ini bermula. Yang jelas, Gama terlihat lelap dan nyaman. Sedangkan Freissya tampak membelai rambut Gama yang mulai tubuh. Ya, pada operasi kedua, rambut Gama memang dibotaki.


Tes, air mata Freissya membasahi pipi Gama. Air mata itu mengalir pelan, hingga turun ke bibir Gama.


"Val ... silahkan kamu melupakan semuanya, tapi ... jika aku boleh meminta, tolong jangan melupakanku," lirih Freissya.


Mungkin karena terdorong perasaan sedih, Freissya tiba-tiba saja mendekatkan kepalanya pada wajah Gama sambil memejamkan mata.


Apa yang akan dilakukan Freissya?


Karena kesedihan itu, Freissyapun lupa jika ini di ruang perawatan khusus yang terpantau monitor. Wajah imut dan cantiknya semakin mendekat. Hanya berjarak satu centi dari wajah Gama.


Dan ....


"Haa ---." Freissya tersentak luar biasa. Gama tiba-tiba membuka mata, menarik tengkuknya, dan menyambar begitu saja bibir mungilnya.


Jedug, jantung Freissya terserang sindrom kaget. Freisya tersadar dan berusaha menolak, tapi ... semuanya sudah terlambat. Dan entah siapa pelakunya, layar monitor yang terpampang di bagian nurse station tiba-tiba mati. Layar itu seharusnya memantau seluruh aktivitas yang terjadi di ruangan Gama.


"Emmh." Gama dan Freissya masih saling terpaut.


Air mata Freissya menetes, pun dengan air mata Gama. Pemandangan ini terlihat mengharu-biru.


...~Tbc~...


...Hapunten terlambat mengintai, nyai sedang bongkaran rumah....


...🙏🙏🙏...