
"Karena setahu saya hanya bocahlah yang suka memasukkan sesuatu ke sembarang tempat. Adik saya saja pernah memasukkan gantungan kunci ke lubang hidungnya."
Agam masih mematung di ambang pintu, dan ucapan Linda masih terngiang, membuatnya mati kutu, malu, dan tersindir secara lahir dan batin.
Tapi kan aku melakukannya ke tempat yang seharusnya. Berarti tidak ke sembarang tempat dong. Argh! Aku bisa gila. Dia meracuni akal dan pikiranku. Keluh Agam.
"Pak Agam, Bapak menghalangi pintu, bisakah bergeser? Hehehe."
Entah sejak kapan Bagas ada di belakang Agam.
"Silahkan," kata Agam. Ia bahkan membukakan pintu untuk Bagas sampai-sampai Bagas melongo.
Petugas keamananpun turut termangu, terheran-heran.
Agam berjalan gontai menuju parkiran, menarik napas panjang untuk melupakan ucapan Linda. Harusnya ia bahagia karena proyek promosi ini berjalan lancar. Tapi, ia malah memikirkan sesuatu yang tidak-tidak.
.
.
.
Agam masih terdiam saat ia berada di dalam mobil. Bagas beberapa kali melirik pada Linda dan bertanya "Kenapa?" dengan gerakan bibir tanpa suara.
Lalu Linda menjawab dengan mengangkat bahunya yang berarti "Mana ku tahu."
"Pak Agam, kita mau kemana dulu?" tanya Bagas.
"Terserah," jawab Agam.
"El, mau kemana kita?" Akhirnya bertanya pada Linda.
"Pak Agam kita mau kemana? Apa boleh Bagas ke rumah Bapak?"
"Boleh," jawabnya. Lagi-lagi begitu singkat.
Linda tidak menyangka jika ucapannya akan berdampak sejauh itu pada Agam.
Apa aku keterlaluan? Perasaan aku hanya membahas ....
Dan Lindapun bersemu merah saat mengingat kembali ucapannya. Ada perasaan menyesal, tapi hanya sedikit.
"Bagas, kamu boleh ke rumah saya, tapi ingat ini rahasia. Kamu tidak boleh memberitahu siapapun keberadaan Linda, jika kamu melanggar, kamu saya bu ---."
"Jangan Pak, jangan bunuh saya."
"Maksud saya, kamu akan saya buang ke tempat sampah, terus didaur ulang menjadi manekin," kata Agam.
"Wah, hahaha seram sekali Pak." Ia tahu Agam tidak serius.
"Sudahlah, jalan." Pungkas Agam.
"El, alamatnya dong. Bagas memberikan ponsel pada Linda.
"Bagas, aku tidak sabar mau segera lusa. Bagaimna ya rasanya lihat diri sendiri iklan di TV?"
"Kamukan sering lihat diri kamu sendiri pas tayangan ulang berita atau saat jadi host acara komersil, ya biasa saja kali El rasanya."
"Iya sih, tapi ... lusa aku akan merasakan bahagia saat lihat iklan. Hehehe."
"Berisik," sela Agam.
Linda dan Bagas terkejut. Mereka akhirnya diam seribu bahasa. Hanya bisa menikmati padatnya lalu lintas jalanan menjelang malam.
Dan papan billboard di sisi lampu merah membuat Linda tak kuasa menahan senyum dan terkikik.
Papan itu bertuliskan, "Perusahaan Ekstraktif HGC Akan Segera Meluncurkan Produk Terbarunya dengan Menggandeng Bintang Baru sebagai Brand Ambassador."
"Wah, keren kamu, El. Setelah ayah dan ibumu tahu mereka juga pasti bahagia."
Seketika ucapan Bagas membuat senyuman Linda hilang. Kerinduan pada ayah, ibu dan adiknya kini menyeruak.
"Semoga seseorang bisa menepati janjinya untuk menemukan mereka dalam tiga hari," ucap Linda. Matanya mengerling ke arah Agam.
"Aku yakin mereka pergi pasti karena sebuah alasan," kata Bagas.
"Kalau mereka pulang ke kampung, kupikir tidak apa-apa, tapi ... aku khawatir pada kemungkinan lain."
"Jangan berprangsangka buruk, El. Berprasangkalah yang bail-baik saja, agar Tuhan kita merealisasikannya dengan hal yang baik-baik juga."
Agam menyimak dalam diamnya.
"Kalau ibu dan ayah pergi ke kampung, harusnya memberi pesan, setidaknya ada ucapan ke tetangga, ini tidak ada sama sekali." Matanya mulai berkaca-kaca. Kepalanya bersandar pada pintu mobil.
"Tenang saja, saya pasti menemukannya. Saya sudah mengirim orang ke kampung halamanmu untuk mengecek keberadaan mereka." Agam akhirnya bersuara juga.
"Benarkah?" Langsung mengusap airmatanya, senyumnya merekah sempurna.
"Wah, orang-orang Bapak berarti ke pulau dong ya? Widih hebat. Perjalanan darat ke kampung halaman LB kan bisa sampai tiga hari tiga malam itu juga kalau lancar." Kata Bagas.
"Jangan khawatir," matanya yang sayu itu melirik spion dan bersisatap dengan dengan Linda. Dan di luar dugaan Linda malah dadah-dadah pada Agam sambil mengatakan "Hai" dengan gerakan bibirnya.
Agam ingin melakukan hal yang sama, tapi rasanya seperti kekanak-kanakkan jika ia yang melakukannya. Lebih tepatnya malu pada Bagas.
***
"Wah, ini rumah Bapak?" Bagas ternganga.
"Tunggu saya buka dulu gerbangnya," ucap Agam.
"Eh, masa rumah semegah ini tidak ada penjaganya?" kata Bagas saat Agam sudah berada di luar.
"Penjaganya ada, tapi sedang jadi panitia pernikahan komisari HGC." Linda menjelaskan.
"Oiya, besok Tuan Besar Bahir Finley Haiden menikah. Kamu datang tidak El?"
"Saat acara petunangan, saya datang diajak pak Agam, tapi untuk acara pernikahnnya saya tidak tahu."
Dan Agam sudah berhasil membuka pintu. Mobil itu kemudian masuk menuju basement.
.
.
"Gama kemana Pak?" tanya Linda pada Agam saat mereka menuju lift.
"Dia di asrama sekolah. Mau persiapan ikut kejuaraan nasional."
"Cabang apa?" tanyanya lagi.
"Renang," kata Agam. Menjawab dengan malasnya.
"Wah, Gama hebat." Puji Linda.
Sementara Bagas sibuk mengamati kondisi di dalam lift yang bersih dan mengkilat hingga bayangan mereka tercermin dengan jelas.
"Saat seusia Gama, medali saya lebih banyak daripada dia. Termasuk dari cabang renang juga terangnya."
Linda terkejut, pria ini seperti sedang menyombongkan diri dan ingin dipuji juga.
Ting, lift terbuka mereka tiba di lantai satu.
"Saya tidak bertanya tentang Bapak," goda Linda.
"Kamu ---."
Agam menghela napas, andai tidak ada Bagas, mungkin wanita itu sudah ia himpit ke tembok, dipeluk erat dan dicum kembali telinganya seperti saat tadi di biro iklan.
"Wow, rumah ini sangat amazing." Bagas terpukau.
"Selesai shalat Isya, kita makan."
Agam berlalu menuju tangga meninggalkan Linda dan Bagas di lantai satu.
"El, cepat katakan sekarang, apa hubungan kamu dengan pak Agam?" Setelah Agam pergi, Bagas segera menintrogasi Linda.
"Bagas, aku akan katakan nanti kalau waktunya sudah tepat. Intinya kamu ikuti saja saran pak Agam untuk merahasiakan pada siapapun kalau aku dan dia tinggal bersama." Linda berbicara dengan suara pelan.
"El, apa kamu terlibat cinta satu malam?"
"A-apa?!" Mata Linda membulat.
"Ya, El. Seperti di novel-novel. Lihat kondisimu sekarang, kamu tinggal di rumah mewah bersama pria tampan dan kaya-raya, apalagi namamya kalau tidak ada apa-apa. Jujur padaku El, aku berjanji tidak akan membocorkan rahasia kamu pada orang lain."
"Kalian tidak shalat?"
Suara dari lantai dua menggema membuat keduanya terhenyak.
Bagas dan Linda lalu naik. Agam memperhatikan langkah Linda sampai wanita itu melewati anak tangga yang terakhir. Ia tidak ingin calon anaknya terluka.
.
.
"Wah, wah wah, pantas saja kamu betah tinggal di sini, El." Ketika sampai di mushola rumah itu Bagas belum berhenti berdecak kagum.
"Pak Agam, ayo jadi imam," Bagas mempersilahkan setelah mereka selesai berwudhu.
"Kamu saja, maaf bacaan saya tidak terlalu baik, saya tidak percaya diri."
Dengan jujur, Agam mengatakan jika dirinya belum layak untuk jadi imam. Padahal bacaan Agam lumayan bagus. Linda yang pernah bermakmum pada Agam hanya menunduk.
Agam hampir mendekati kriteria pria idamannya. Tapi, Linda sadar diri. Jika dirinya berada di samping Agam akibat kecelakaan, bukan karena cinta.
"Baiklah," Bagas maju ke depan.
***
Selesai shalat, mereka berkumpul di ruang makan. Ternyata, saat masih dalam perjalanan Agam sudah memesan makanan.
"Tunggu, tiga menit lagi." Ucapnya sambil sibuk mengupas buah untuk disajikan dalam bentuk jus.
Sambil memperhatikan Agam, batin Bagas menilai.
"Ting tong," bel berbunyi.
"Tunggu, saya ambil dulu pesanannya."
Seraya melepas celemek Agam berlalu. Sama sekali tidak seperti direktur utama. Pria itu tidak sungkan melakukan pekerjaan bak pelayan.
"El, aku terpesona. Dia idaman El. Aku saja yang laki-laki bisa sesuka ini sama pak Agam."
"Gila kamu ya, Gas!" Linda memukul kepala Bagas.
Mereka terdiam saat Agam datang.
"Bisa bantu saya menghidangkan?" tanyanya.
"Baik," Linda beranjak.
"Bukan Anda, saya bicara pada Bagas. Anda duduk saja," tegasnya.
"Oh, hehe. Siap Pak Agam." Dengan senang hati Bagas pun membantu.
Linda menatap kedua pria itu, sambil menikmati jus. Senang rasanya diperlakukan semanis ini.
"Masih mau minum jus? Nanti saya buatkan lagi," kata Agam saat melihat jus di gelas Linda tidak bersisa.
"Cu-cukup, Pak. Te-terima kasih," Linda gugup.
"Baiklah, mari kita makan. Oiya, maaf jika hidangannya kurang sesuai dengan selera kalian, terutama Bagas. Lain kali jika waktunya tidak sesibuk ini, saya bisa memasak dulu."
Dengan sopan dan ramah, Agam mempersilahkan agar Linda dan Bagas segera makan.
Merekapun makan tanpa suara. Bagas begitu lahap, sedangkan Linda hanya makan sedikit.
.
.
.
"Terima kasih jamuannya Pak Agam, saya mau segera pulang." Bagas berpamitan.
"Kenapa tidak menginap saja?"
"Ya, Bagas kamu menginap saja." Linda menimpali.
"Maaf, El, Pak Agam, saya tidak bisa. Di rumah, istri dan anak-anak saya sudah menunggu, hehehe."
"Telepon saja, Gas. Dini pasti memaklumi." Dini adalah nama istri Bagas.
"Tidal bisa El, lagipula Dini tadi kasih kabar kalau hari ini datang bulannya sudah selesai. Aku sudah menunggu malam ini selama 10 hari. Hahaha."
"Hahh?" Linda melongo. Kalau saja tidak ada Agam, ia pasti sudah menoyor kepala Bagas.
"Oh, hahaha. Kalau begitu cepatlah pulang."
Agam mengusir pria itu seperti tahu benar bagaimana rasanya menantikan momen yang dimaksud Bagas.
"Hahaha, terima kasih atas pengertiannya Pak Agam. Oiya, saya siap menerima tugas dari Bapak selama 24 jam. Apa besok ada tugas lain?"
"Besok kamu libur. Saya juga kan harus hadir di acara pernikahan komisaris. Salam untuk anak-anak kamu," kata Agam seraya mendorong bahu Bagas.
Agam mengantar Bagas sampai gerbang. Linda mengintip di balik tirai. Ia segera berlari saat Agam masuk.
Grep, Agam memegang tangannya.
"Bisa tidak kalau jalannya biasa saja?"
"Ma-maaf Pak."
Linda berjalan perlahan mengikuti langkah pria itu.
"Kamu jalan di depan." Ucap Agam saat mereka berada di depan tangga.
Linda menurut dan entah kenapa ia menjadi gugup saat menyadari jika Agam menguntitnya. Lagi, tangga ke empat menjadi biang kerok. Linda kembali tersandung.
Dan, sebelum ia terjatuh tubuhnya sudah terdekap nyaman di dada Agam.
"Kamu sengaja ya?" Agam kaget. Ia khawatir gagal saat menangkap Linda.
"Sengaja? Sembarangan." Linda menepis tangan Agam.
Lalu berlari cepat menaiki tangga.
"Linda! Hei! Jangan lari!"
Agam panik. Segera mengejar dan kembali meraih tangannya.
"Lepaskan!" teriak Linda.
"Tidak akan!" tegas Agam.
"Saya bisa menjaga diri saya, tolong Anda tidak perlu berlebihan."
"Bu Linda, dalam tubuh kamu ada anak saya. Kamu tahu hal itu, kan?"
"Ya saya saya tahu. Tapi tolong jangan terlalu berlebihan menjaga saya. Toh, yang Anda inginkan hanya bayi ini, kan?" kata Linda. Untuk kesekian kalinya ia menepis tangan Agam.
"Apa?!" Agam terkejut. Ia masih mencerna ucapan Linda.
BRUG, Linda menutup pintu kamarnya.
"Tolong jangan terlalu berlebihan menjaga saya. Toh yang Anda inginkan hanya bayi ini, kan?" Ucapan Linda terngiang.
Apa dia berpikir saya hanya menginginkan bayinya?
"Linda, buka pintunya kamu salah faham. Cepat buka pintunya kita harus berbicara," teriak Agam.
Tapi tidak ada jawaban.
Saya juga menginginkan kamu LB. Tapi ... kamukan sudah memiliki kekasih. Lirih Agam dalam batinnya.
.
.
"Huuks ...."
Di dalam kamar Linda menangis. Entah kenapa, saat menyadari kenyataan Agam hanya menginginkan bayinya, ia merasa sedih.
***
"Pak Agam, jika tidak keberatan, bisakah kita datang ke pesta pernikahan bersama-sama? Saya, Anda, dan putri saya."
Itulah isi pesan di ponsel Agam dari sebuah nomor bertuliskan nama "Pak Barata."
Agam yang tengah bersiap mengernyitkan alisnya. Ternyata pria bernama pak Barata serius ingin memperkenalkan putrinya. Agam menghela napas, karena jiwa dan raganya telah terikat oleh satu nama.
Linda Berliana.
Lalu ada pesan lagi dari nomor yang sama.
"Saya sudah berada di depan rumah Pak Agam. Bisakah kami masuk? Saya dan putri saya, sangat mengagumi Bapak. Pak Agam mau kan jadi menantu saya? Hahaha."
"APA?!"
Agam terperanjat, bersamaan dengan suara interkom yang berbunyi.
.
.
Di kamarnya Lindapun kaget.
Ia segera menyalakan monitor canggih di samping pintu yang terkoneksi dengan kamera pengintai yang berada di depan gerbang. Monitor itu bisa memperlihatkan siapa saja tamu yang datang.
DEG.
Jantung Linda meronta, ada desiran panas dan sedih di dadanya.
Terlihat jelas di monitor ada seorang pria yang tidak muda lagi tapi begitu tampan, gagah dan berwibawa.
Bersama dengan pria itu ada seorang wanita cantik dengan balutan gaun yang begitu indah tengah tersenyum elegan. Rambutnya tergerai rapi dengan sematan hiasan bros melati bertabur swarovski di telinganya.
Siapa mereka? Siapa wanita cantik itu?
Belum juga keterkejutannya hilang, gerbang rumah itu terbuka. Muncullah pria gagah nan tampan yang tidak lain adalah Agam Ben Buana. Agam menyambut mereka.
Anehnya Agam memberikan hormat prajurit pada pria itu. Bagitu hormatnya Agam pada pria itu.
Batin Linda tiba-tiba sakit saat melihat Agam dan wanita itu berjabat tangan. Agam menunduk, sedangkan wanita itu menatap lekat pada Agam.
Klik. Linda mematikan layar.
Tubuhnya merosot begitu saja di balik pintu, berselonjor dan menagis.
Ia mengusap perutnya dan bergumam, "Kenapa aku merasa sakit? Kenapa? Pak Agam ... siapa wanita itu ... siapa?" lirihnya.
Ia terisak dan menyesali sesuatu yang bersemi dan tumbuh di hatinya tanpa ia sadari.
"Pak Agam ... huuu ...." Lagi-lagi, ia tidak sadar memanggil nama pria itu.
Pria yang akhir-akhir ini sering hadir dalam mimpi indahnya.
❤❤ Bersambung ....
...___...
...Mohon vote nya jika berkenan, terima kasih 🥰...