AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Tidak Ada Kontak Fisik



Dan gigitan kasar Linda, malah dibalas lagi dengan gigitan lembut di bibir yang merah muda alami itu. Kali ini, bibir itu tanpa pewarna buatan. Asli, membuat Agam enggan melepasnya.


Mmm .... Rasanya semakin ---.


Batin Pak Dirut kacau-meracau. Lagi, bisikan setan meniupkan nasfu pada ubun-ubun dan telinganya. Tangan Pak Dirut tampak gemetar-gemetar, karena sedang menahanan asa untuk meraih benda indah itu. Indah tapi terlarang untuknya.


Akhirnya, Agam menautkan kedua tangannya. Tapi sayang, dia malah menautkannya pada tangan Linda. So, adegan itu terlihat semakin rawan bencana.


Linda terksiap. Belum bisa mengatakan apapun karena bibirnya tertutup rapat, terbungkam, tergembok, dan terkunci oleh sesuatu yang manis, lembut dan hangat. Tapi ... efeknya memabukkan dan mendosakan.


Linda menjambak rambut Agam lebih kuat lagi, tapi ya ... apa guna kekuatan Linda jika dibandingkan dengan Agam Ben Buana yang sudah terlatih.


"Emmh, emmh," gumam Linda.


Yang artinya lepaskan, lepaskan. Begitu kira-kira. Linda juga memukul-mukul bahu Agam.


Tapi, Pak Dirut susah dilepas. Malah semakin terpelosok dan terseok-seok saja.


Oh ... tidaaak, dia gila.


Linda mencari cara untuk kabur dari pertautan yang mendesirkan dan mendebarkan itu.


Ohh ... El ... Batin Pak Dirut.


Tidak ada cara lain untuk mengakhiri kemesuman yang tidak seharusnya ini kecuali dengan membuatnya kesal oleh sesuatu yang tidak disukainya.


Linda mengangkat jemarinya, bersiap untuk melakukan serangan alakadarnya. Yaitu ... mencakar pipi Agam.


Wajah tampannya jadi tergores dong?


Niatnya terurungkan bersamaan dengan Agam yang mengakhiri salah satu perbuatan dosa ini.


"Terima kasih," katanya. Sambil tersenyum dengan mata yang tidak lepas dari menatap bibir Linda.


Sama sekali tidak tampak ekspresi bersalah di mata Agam. Wajah pria itu justru memancarkan aura kebahagiaan di tengah kemarahan di hati Linda yang saat ini siap meledak.


"Kamu jahat Agam Ben Buana, jahaaat!" teriak Linda.


Seraya mendorong dada Agam dengan kedua telapak tangannya. Padahal, sudah mencurahkan segenap tenaga. Tapi Agam bergeming. Pria ini benar-benar kuat.


"Jahat?"


Malah tersenyum sambil menopang dagu. Menikmati yang cantik marah-marah itu mengasyikan juga pikirnya. Ditambah dengan dada Linda yang naik-turun karena amarah membuat pemandangan itu semakin sayang untuk dilewatkan.


"Berani sekali Pak Agam membohongiku dengan cara sekeji dan selicik itu! Aku pikir tadi itu sungguhan ..., huuuks." Tanginya pecah lagi.


"Hahaha."


Menyebalkan. Agam malah tertawa dengan gurihnya.


"Jangan sentuh aku!" pekiknya. Saat Agam mencoba mengelus bahunya.


"Ssshhh, Linda ...." Lirihnya.


"Kamu jahat! Kamu tega! Berani ya mempermainkan kematian dengan prank seperti itu! Niat sekali untuk membuatku mati berdiri! Huuu hwaaa haaa."


Linda menunjuk-nunjuk Agam dengan kemarahan yang meluap-luap. Ujung jemari telunjuknya hampir menempel di wajah Agam.


Namun yang dimarahi malam senyum-senyum sambil mengelus bibirnya sendiri. Mungkin, efek samping bibir Linda masih mempengaruhi kejiwaannya.


"Jahaaat, jahaaat! Kamu jahaaat! Huuuks."


Linda menonjok dada dan perut Agam bertubi-tubi, dan terus menangis.


"Maaf," kata Agam. Sambil menahan tangan Linda dan menarik wanita yang sedang marah itu ke dalam dekapannya.


"Saya melakukan ini karena pemikiran saya buntu. Saya hanya melakukan sedikit cara licik untuk membuatmu tetap bersama saya. Tolong mengertilah, El. Saya tidak mau berpisah dengan kamu lagi." Sambil mengelus rambut Linda.


"Kamu digigit nyamuk?" tambahnya. Jemarinya perlahan mengusap dua bintik merah pada dagu dan pipi Linda.


Linda masih terisak-isak. Ya, dia memang marah, tapi juga bahagia dan bersyukur setelah tahu jika peristiwa menegangkan itu hanya settingan.


"Prank dengan cara menjahili, mengelabui, atau membohongi itu ti-tidak baik, Pak .... Itu jahat." Sambil menatap Agam yang saat ini tengah mengecek bintik merah sisa gigitan nyamuk di tangannya.


"Pada dasarnya, prank untuk hiburan boleh-boleh saja, kan? Misalkan prank yang dilakukan dalam rangka membantu orang lain, seperti membayarkan utang atau memberi sedekah dengan cara menyamar agar tidak diketahui identitasnya. Tidak masalah bukan?" kata Agam.


Kini satu tangan Agam sibuk membuka tasnya seperti hendak mengambil sesuatu.


"Tapi ... yang dilakukan Pak Agam bukan prank yang baik, apalagi bermanfaat. Kalau aku punya penyakit jantung dan mati mendadak bagaimana?" kilahnya.


Linda cemberut, masih tidak terima dengan keisengan Agam. Ia melepaskan diri dari dekapan Agam, lalu mengusap airmatanya.


"Kata siapa tidak bermanfaat? Jangan sok tahu," katanya.


Ternyata benar Agam mengambil sesuatu. Sebuah salep kulit anti gigitan nyamuk. Dengan telaten, Agam mengolesi bintik merah di tangan dan pipi Linda dengan salep tersebut.


"Kalau prank dengan cara menipu dan berbohong, tentu saja tidak diperkenankan. Sebab, jelas-jelas perilaku itu berpotensi meresahkan dan merugikan orang lain. Apalagi sampai membahayakan nyawa, jelas tidak boleh," lanjut Agam.


"Dan yang tadi itu meresahkanku Pak," kata Linda. Dan ia pasrah saat Agam membuka auternya demi mencari bekas gigitan nyamuk di tempat yang lain


"Tapi El ... niat dan tujuan saya baik, demi kamu, demi keselamatan kamu dan calon anak kita. So, yang saya lakukan termasuk prank yang diperbolehkan."


Kembali menatap wajah Linda yang pada kenyataannya memang sangat sedap dipandang mata.


"Tapi ... itu melukai perasaanku, Pak. Kenapa niat sekali? Siapa mereka? Apa pembunuh bayaran?"


Linda masih kesal. Sekarang, ia menjauhkan tubuhnya dari Agam. Lalu membuat pembatas di antara mereka menggunakan tasnya dan tas milik Agam.


"Mulai sekarang, aku tidak mau kita ada kontak fisik. Bapak boleh melihatku, tapi tidak boleh menyentuhku lagi, titik." Ketusnya.


"Apa? El, tadi itu ide pengacara Vano. Sebenarnya bukan ide saya." Agam mulai beralibi. Mungkin merasa tidak sanggup jika tidak bisa menyentuh Linda sama sekali.


"Siapa itu Vano? Aku tidak mau tahu. Jangan begitu-begitu lagi," sambil memalingkan wajah. Marahnya masih di ubun-ubun. Entah sampai kapan kekesalan dan merasa ditipu itu hilang dari batinnya.


"Kalau hanya peluk, boleh kan?"


"Tidak."


"Bersalaman?" Agam menghela napas. Sedikit menyesal sudah mengikuti saran dari Vano.


"Salaman boleh, tapi tidak menyentuh. Titik."


"Apa?! El tapi tadi ... saat saya menciumu, kamu juga suka, kan?"


"Tidak, tidak suka. Itu perasaan Pak Agam saja," kilahnya sambil memunggungi Agam agar pipinya yang merona tidak terlihat.


Jujur, ya ia memang suka. Linda juga rindu dengan bibir tipis yang beraroma mint itu. Tapi ... mulai detik ini Linda berjanji akan menjaga jarak dari Agam.


Semoga aku kuat, batin Linda.


Pesona Agam memang dahsyat, pria itu seperti mengandung pemikat. Jujur, Linda telah terpikat dan terikat.


Ssstt .... Sebagai wanita yang pernah melakukan 'Skidipapap adigidaw aw aw' bersama Agam, Linda tentu faham benar bagaimana aw aw dan aduduhnya seorang Agam Ben Buana.


Linda beringsut, tubuhnya semakin mepet pada pintu mobil. Merasa sangat hina-dina dan rendah diri karena tiba-tiba terbesit keinginan untuk menikmati fisik Agam. Sebuah pikiran liar yang sangat-sangat membahayakan.


"Linda, ayo kita menikah," ajaknya. Tangan Agam kini mengulur mengusap puncak kepalanya.


"Pak, sudah saya katakan tidak ada kontak fisik!" bentaknya.


"Linda, saya hanya menyentuh rambut kamu, di rambut tidak ada aliran darah, tidak ada sistem syaraf. Tidak akan mendesirkan apapun," jelas Agam.


"Pokoknya, aku tidak mau disentuh, titik."


"Huhh, hhhh," keluh Agam, kesal. Ia mengepalkan tangannya.


"Anggap saja sebagai hukuman karena Bapak sudah membohongiku. Itu alasan satu. Alasan keduanya kerena tidak mau menambah dosa lagi," kata Linda. Lalu membalikkan badan, kini mereka berhadapan.


"Orang-orang itu sudah saya bayar. Tidak ada ruginya." Agam kembali beralasan.


"Aku yang rugi, Pak. Aku rugi karena kaget," sela Linda.


"Dan saya jadi rugi besar, masa salaman saja tidak boleh? Oh El ..., jangan begini. Oke, saya tidak akan mencium kamu lagi. Tapi tolong untuk peluk boleh ya ...."


"No," tegas Linda.


"Hmm, begini saja, besok kita pergi ke Pulau Jauh, saya akan mengikutsertakan dokter Fatimah agar selama di pesawat kandunganmu tetap terkontrol, bagaimana?"


"Apa? Ke Pulau Jauh?" Linda langsung duduk.


Ia menghela napas berat, seketika teringat akan surat itu. Surat dari ayahnya. Namun baru juga ia mengatakan sesuatu, Agam sudah terlebih dahulu menyodorkan ponsel padanya.


"Baca emailnya, ini hasil autopsi," kata Agam.


"A-apa?!" Tanganya gemetar saat hendak mengambil ponsel.


"Tenang dong, El." Timpal Agam.


Agam tersenyum karena merasa di atas angin. Tapi, bukan berarti dia tidak akan bertanggung jawab pada korban. Agam sudah menugaskan tim pengacarnya, Vano Rendra Resmara dan kawan-kawan untuk melakukan penyelidikan pada kasus itu dan bekerja sama dengan didektif swasta.


"Apa?! Ja-jadi kemungkinan pamanku masih hidup?"


Mata Linda berbinar bahagia, tapi tetap berurai air mata. Iapun kembali menangis, kali ini mungkin tangisan bahagia.


"Jadi, kamu setuju kan kalau kita pulang ke rumahmu?" desak Agam.


"Aku sedang berpikir untuk masalah itu. Paman ... paman di mana ya? Kok bisa mobil itu dibawa orang lain? Siapa pria itu?"


"Masih dalam tahap penyelidikan, El. Tapi menurut info yang saya dapatkan, mobil itu milik paman kamu."


"Ya, paman memang punya banyak mobil seperti itu."


"Banyak? Pamanmu kaya dong."


"Tidak juga, pamanku karyawan swasta di sebuah pabrik pengolahan minyak kelapa, tapi ... pamanku punya perkebunan kelapa," terang Linda.


"Kelapa sawit?" Agam jadi penasaran.


"Bukan, kelapa biasa Pak, yang pohonnya tinggi."


Linda kembali merebahkan tubuhnya, entah kenapa pinggangnya tiba-tiba merasa sakit. Hingga iapun meringis saat tubuhnya berhasil direbahkan.


"Kamu sakit?" tanya Agam.


"Ya, pingganggku linu. Saat mengamen kan berdiri terus."


"Mau saya pijat?"


"Tidak perlu Pak. Tidak ada kontak fisik dalam hal apapun."


"Ba-baiklah," jawab Agam dengan malasnya.


❤❤ Bersambung ....