AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Feel Crazy [Visual]



Linda terisak, ia bersimpuh di lantai seraya menangis meraung-ruang. Ia benar-benar merasa dikuliti, dipermalukan dan dijatuhkan harga dirinya.


"Kamu jahat! Sudah saya bilang saya percaya. Kenapa masih diputar ...? Huu huu huks ...."


"Linda, ma-maaf." Agam mendekat.


"Jangan dekati saya, jangan sentuh saya lagi. Titik. Anda yang suci tidak pantas dekat dengan saya yang munafik." Linda menepis tangan Agam.


"Saya berjanji akan menghancurkan vidio itu menjadi debu. Tadi ... saya pikir tidak akan berhenti di bagian itu. Tolong jangan menangis lagi, jika Anda merasa dipermalukan, jujur sayapun merasakan hal yang sama."


Saya juga merasa hina dan tak berharga diri lagi. Itulah salah satu alasan kenapa pada saat itu saya menusuk diri saya sendiri. Please ... saya kan sudah berjanji untuk memperbaiki semuanya. Tolong beri saya waktu dan kesempatan."


Agam mecoba tenang, padahal dalam hatinya ia juga merasa hancur. Ia menyesal telah mengatakan munafik pada Linda. Padahal, Agam sadar jika dirinya adalah biang keladi.


"Tinggalkan saya sendiri," Linda kembali menepis tangan Agam.


"Anda harus ikut, duduk di depan saya." Agam memaksa memegang tangan Linda.


"Kenapa harus? Lepaskan!" Linda kesal, ia berusaha melepaskan tangan Agam, tapi sia-sia saja.


"Saya tidak mungkin meninggalkan kamu di kamar ini. Bagaimana kalau kamu menyakiti calon anak saya. Ya, saya yakin Anda tidak akan melukainya. Tapi, saya harus tetap waspada dan antisipasi," ucap Agam.


Karena Linda kekeh, Agam terpaksa memompong Linda dan membawanya ke ruang kerja.


"Turunkan! Lepaskan! Kamu jahat!" Linda meronta dan memukuli Agam, tapi pria itu bergeming.


"Duduk di sini, lihat saat saya bekerja, jika Anda tidak menurut, saya akan sebar vidio tadi ke media sosial. Saya tarik ucapan saya yang tadi. Saya tidak akan menghancurkan vidio itu."


Agam akhirnya mengancam. Ya, tidak ada cara lain yang lebih paten kecuali alasan itu. Padahal, Agam tidak serius dengan ucapannya.


Bel berbunyi.


"Siapa?" tanya Agam. Linda masih terisak di kursinya.


"Saya Bagas, manajer pribadi LB, Pak."


"Apa?! Bagaaas." Justru Linda yang histeris. Ia berlari ke arah pintu.


Klik, Agam segera menekan tombol kunci otomatis.


"Buka pintunya!" teriak Linda. Ia menatap Agam yang tetap asyik mengecek berkas.


"Pak Agam Ben Buana buka pintunya! Bagas, ini aku, LB." Linda merebut mike interkom yang berada di hadapan Agam.


"LB?! Itu kamu." Suara Bagas terdengar gemetar seperti tak percaya.


Sekarang Agam mematikan mike interkom.


"Apa mau kamu, Agam Ben?! Semua sudah saya berikan sama kamu, karier saya, sahabat-sahabat saya, kemerdekaan saya, bahkan kehormatan saya sudah saya berikan!" tegas Linda dengan air mata berurai. Wanita itu rupanya hampir kehabisan stok kesabaran.


"Hahaha, Anda lucu ya kalau marah." Agam malah manatapnya sambil tersenyum.


"Kamu?!" benar, kesabaran Linda sudah hilang. Ia menarik dasi Agam. Lalu menjambak-jambak rambutnya yang rapi.


"Aduh, hei tolong tenang Bu Linda. Tapi, emm ... lumayan juga, setidaknya bisa mengurangi rasa pusing." Lagi-lagi Agam malah pasrah, ia hanya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Cepat buka pintunya saya mau bertemu Bagas." Masih menahan dasi Agam.


"Baik, tapi ada syaratnya," kata Agam. Ia lalu berdiri, menahan tangan Linda dan kembali menyeret Linda ke kursi semula.


"Syarat apa sih?" Linda menepis.


"Tolong kamu bersalaman biasa saja saat bertemu dengan Bagas. Jangan berpelukan. Walaupun dia sahabat baik kamu, tapi dia laki-laki normal. Saya sengaja menyuruh dia ke sini agar kamu senang. Kita akan ke biro iklan bersama-sama."


Linda hanya mengerutkan dahinya. Pria ini sangat aneh, kenapa dia bebas memeluknya, tapi orang lain tidak boleh? Padahal, jika dilihat dari sisi dosa ya sama saja. Agampun harusnya tidak boleh memeluknya.


"Kenapa?" iapun bertanya.


"Karena saya tidak suka, dan jika kamu melanggar, maka vidio itu ...."


"Baik, dasar egois!" bentak Linda.


"Oke," Agam lalu menekan tombol, dan pintupun terbuka.


Terbelalak mata Linda saat melihat sahabat sekaligus manajernya itu mematung di depan pintu. Linda melongo, begitupun dengan Bagas, mata Bagas berlinang.


"Ck ck ck, kalian cocok jadi pemain drama," ucap Agam. Tatapannya bergulir pada Linda dan Bagas.


"LB?" Bagas berhambur, berlari cepat, tentu saja untuk memeluk Linda, namun Linda malah menghindar dan bersembunyi di balik kursi.


"Bagas, tolong jangan memeluk aku, kita salaman saja. Oke?"


"Kenapa? Aku kangen sama kamu, kita harus cerita banyak. Linda, huu ... huu ... banyak kejadian yang aku lewati selama kamu hilang, dan aku hampir saja dicelakai seseorang, untungnya ada yang menyelamatkan."


"Pak Agam," ia membungkukkan badan pada Agam seraya tersenyum.


"Silahkan duduk," kata Agam dengan ramahnya.


"Terima kasih," kata Bagas.


Pria bernama Bagas itu berpenampilan sederhana, entah gaya rambutnya memang seperti itu, atau mungkin lupa disisir. Ia masih menatap Linda dengan tatapan khawatir dan panik.



"Silahkan kalian mengobrol," kata Agam.


"Pak Agam, kenapa Linda ada bersama Bapak? Apa dugaan saya benar? Bapak yang selama ini menyembunyikan LB, kan? Terus, yang mengirim uang tiap bulan ke rekening saya Bapak, kan? Dan yang menyelamatkan saya dari para penculik, orang-orang Pak Agam, kan?"


"Apa?!" Linda yang terkejut.


Sedangkan Agam diam-diam saja, kali ini tangannya fokus mengecek surel laporan kegiatan harian dari seluruh divisi HGC.


"Pak Agam, tolong jawab pertanyaan Bagas." Linda mendekati Agam dan menarik kembali dasi pria itu.


"LB, hei! Apa yang kamu lakukan?! Dia direktur HGC." Bagas segera menarik tangan Linda yang memegang dasi Agam.


"Singkirkan tangan kamu!" bentak Agam. Ia menghadang tangan Bagas.


"Ta-tapi, Pak." Bagas kebingungan, niatnya menolong tapi malah disalahkan.


"Cepat jawab!" kata Linda.


"LB, kamu tidak sopan sama Pak Agam." Lagi, Bagas mengingatkan.


"Bagas, kamu duduk saja. Teman kamu ini memang sangat menyukai dasi saya," sindir Agam.


"Pak Agam!" teriak Linda.


"Apa, apa. Ada apa Bu Linda?"


Bagas masih tak percaya, bahkan mengucek matanya berkali-kali.


"Jangan pura-pura tak mengerti." Ia kembali menjambak rambut Agam. Bagas makin kebingungan, ia menutup wajahnya dengan bantal sofa.


"Apa ini termasuk ngidam?" goda Agam sambil memegang tangan Linda.


"Apa?! Siapa yang ngidam?!" Bagas panik.


"Aarrgh," Linda berteriak kesal, dan ia juga aneh dengan perasaannya. Ia merasa puas setelah menjambak Agam. Linda akhirnya duduk di sisi Bagas dan mengatur napasnya.


"Kamu kerasukan setan apa, Lin? Kok galak begitu sama Pak Agam?"


"Diam! Bukan urusan kamu!" bentak Linda pada Bagas.


"Bagas," Agam memanggil.


"Ya, Pak." Langsung berdiri tegak menghadap Agam. Masalah dugaan kamu pada saya, semuanya benar."


"Wah, Pak Agam. Terima kasih." Ia berlari ke arah Agam dan memeluk pria itu.


"Lepas, jangan sentuh saya." Agam menongkah Bagas.


"Gara-gara kebaikan Bapak, anak istri saya dan keluarga saya selama 3 bulan ini sangat sejahtera. Sebelumnya saya sering berhutang." Bagas ternyata melankolis, ia terisak dan mengusap airmatanya.


"Berhutang? Bukankah kamu manajer LB? Otomatis dapat gaji dari LB, kan?" kata Agam dengan santainya.


"Saya tidak pernah digaji oleh LB, Pak."


"Enak saja! Saya tidak gaji kamu karena kamu punya hutang, huhh." Linda berdiri lalu meninju punggung Bagas.


"Aduh, kamu tidak berubah ya, Lin. Galak terus. Pak Agam, maafkan teman saya. Dia memang suka menyiksa sesama manusia."


"Bagus," kata Agam.


"Apa?! Saya bahkan pernah dibawa ke rumah sakit gara-gara dia memukul kepala saya dengan sepatu hak. Bagus dari mananya, Pak?"


"Hahh, separah itukah? Memangnya apa kesalahan kamu?" Agam kaget juga mendengarnya.


"Hehehe, saya menggadaikan mobil dan rumahnya. Tanpa sepengetahuan dia Pak."


"Wah, kalau saya adalah LB, kamu sudah saya bunuh." Agam tergelak.


"Saya percaya Pak Agam orang baik, mustahil membunuh saya. Oiya Pak, apa yang harus saya lakukan? Hamba akan melakukan titah apapun dari pangeran Agam," kata Bagas.


"Hahaha," Agam terpingkal.


"Bagas, kamu manajer pribadi saya, kan? Kenapa malah menawarkan bantuan pada dia?" Linda melotot pada Bagas.


"Tiga bulan ini saya digaji oleh Pak Agam, El. Jadi, bos saya sekarang adalah Pak Agam," terang Bagas.


"Bagas!" Linda marah. Ia hampir memukul Bagas, namun manajer mata duitannya itu malah bersembunyi di balik punggung Agam.


"Se-sebenarnya, di kota ini LB beli rumah untuk investasi Pak. Tapi saya gadaikan karena terdesak biaya pengobatan ayah saya. Saat itu, LB ada acara di luar kota. Jadi, saya memalsukan tanda tangannya."


"Sudahlah Bagas, tidak perlu membahas masalah itu. Maaf, waktu itu saya khilaf sampai memukul kepala kamu."


"Begitulah LB, Pak Agam. Walau dia galak tapi dia baik hati. Saya dan dia berteman baik dari masa sekolah. Karena hutang materi dan hutang budi LB sangat banyak, jadi saya memutuskan untuk menjadi manajer LB seumur hidup saya," terang Bagas.


"Berapa total hutang kamu sama LB?" Agam memutar kembali kursinya menghadap meja.


"Tidak perlu disebutkan Bagas, kamu bisa bayar dengan menyicil," kata Linda.


"Hmm, Bu Linda terlalu baik. Dan kamu," Agam menunjuk tepat pada Bagas.


"Kamu bisa dipenjara, ada banyak pasal yang kamu langgar. Ini sudah masuk ranah pidana. Ada unsur penipuan," terang Agam.


"Ampun, Pak Agam. Saya tahu saya salah. Tapi, tolong jangan laporakan saya." Bagas terlihat begitu memelas. Bagas sebenarnya tampan, andai saja rambutnya lebih rapi.


"Saya tidak akan melaporkan kamu, Bagas. Tidak apa-apa kamu berhutang, asalkan dibayar. Untuk Pak Agam jangan karena Anda merasa sangat kaya, malah jadi semena-mena pada Bagas," tegas Linda.


Linda sepertinya masih marah dan sedih setelah melihat vidio syur itu.


"Apa?! Siapa yang semena-mena?" Agam bingung, padahal niatnya adalah untuk membela Linda."


"Itu tadi mengancam Bagas?" matanya mengerling, menatap tajam. Tapi Agam membalas tatapan Linda dengan senyuman.


"Berapa hutang kamu sama Bu Linda?" ia bertanya lagi.


"Hampir 300 juta, hehehe ... sudah saya cicil sih, sisanya berapa lagi ya? Saya lupa Pak."


"Sisanya 291.465.300, aku selalu mencatat ya Bagas, jangan pura-pura lupa," sela Linda.


Agam tersenyum lagi, wanita ini semakin menarik pikirnya. Dengan polosnya mau-mau saja dimanfaatin oleh manajer pribadi yang berkedok sebagai teman dekat. Namun, setelah Agam tahu semua hal tentang Bagas, ia berpikir jika yang dilakukan Linda sudah tepat dan cukup terpuji.


Ya, Bagas adalah anak tertua di keluarganya, selain sudah menikah dan memiliki dua orang anak balita, Bagas juga memiliki empat orang adik usia sekolah. Ayahnya menderita gagal ginjal kronis dan harus cuci darah 3 kali dalam seminggu, ibunya memiliki penyakit darah tinggi, bekerja serabutan.


Orang tua Bagas adalah warga miskin yang tidak terdata atau mungkin belum terdata, atau korban salah data, sehingga tidak mendapatkan jaminan kesehatan gratis dan bantuan apapun dari pemerintah daerah maupun pusat.


Orang tua Bagaspun tidak mengikuti jaminan kesehatan mandiri dengan alasan takut tidak mampu membayar setiap bulannya. Bagas bahkan tidak tahu jika Agam tahu sedetail itu tentang dirinya.


"Saya akan membantu melunasi hutang kamu."


"Apa?!" Bagas terkejut.


"Tidak perlu," jawab Linda.


"Pak Agam, hati Anda sangat mulia," puji Bagas.


"Saya biasa saja, saya hanya tidak mau hutang-hutang kamu mempengaruhi kan--."


"Stop," sela Linda. Linda tidak mau Bagas tahu terlalu cepat. Ia akan menjelaskan masalahnya pada Bagas secara bertahap.


"Terima kasih Pak Agam, walau saya tidak tahu alasannya, tapi saya berjanji tidak akan mengecewakan Pak Agam. Saya juga akan mencicil bantuan dari Bapak setiap bulannya. Setidaknya, jika berhutang sama Pak Agam, mungkin tidak akan ditagih tiap hari."


"LB itu sebelum hilang kontak, selalu menagih hutang tiga kali dalam sehari. Setiap hari, sepanjang bulan. Satu tahun penuh tidak pernah terlewatkan satu haripun. Jadi, tiap akhir tahun sekurangnya ada sekitar 1095 pesan menagih hutang dari LB di ponsel saya."


"Bagas." Linda melotot.


"Apa?! Sesering itu? Hahaha," Agam tertawa renyah.


"Ahahaha, itu dipukul ratanya Pak, aslinya lebih dari itu. Ditambah setiap kali bertemu dengan LB, saya ditagih juga. Kan pusing Pak."


Dua manusia itu berbalas tawa, Linda mengepalkan tangan karena kesal. Dan tiba-tiba ia merasa lapar.


"Bagas cukup tertawanya, aku lapar. Tolong belikan makanan," sela Linda.


"Haha, nah seperti itulah LB kalau dia lapar Pak. Selanjutnya dia akan bilang, 'Bayar makannya sama uang kamu dulu ya Bagas, kan kamu punya hutang, nanti hutang kamu dikurangi.' Begitu, Pak."


Dan Agampun kembali tertawa, tapi langsung sadar akan sesuatu.


"Anda mau makan apa?" tanyanya.


"Bagas, aku mau menu kesukaanku ditambah sama rujak ya, yang pedas. Buah mangganya diperbanyak."


"Rujak? Ini belum jam sebelas lho El, yakin mau rujak?" Bagas termangu.


"Bagas, cepat belikan saja, apapun yang dia mau belikan. Pakai kartu ini." Agam mengeluarkan kartu serba guna berlogo HGC, berwarna gold.


"Wah, ini kartu multifungsi yang terkenal itu ya? Akhirnya, saya kesampaian juga memegang kartu ini." Ia beranjak.


"Silahkan kamu gunakan saja. Bisa membeli apapun, tapi hanya bisa digunakan di pusat toko dan perbelanjaan yang ada di gedung HGC." Agam yang tertunduk, tidak sadar jika Bagas telah pergi sebelum ia mengatakan apapun.


"Oiya --," Agam baru sadar saat melihat Linda menahan tawa, dan Bagas tidak tampak batang hidungnya.


"Kemana dia?"


"Sudah pergi dari tadi," jawab Linda.


"Ck, ck." Saya tak percaya dia bisa pergi secepat itu setelah mendapatkan kartu. Agam lalu berdiri dan duduk di samping Linda.


"Sudah saya bilang, jangan dekat-dekat," tegasnya. Linda bergeser, dan Agampun bergeser jua. Linda bergeser lagi, dan Agam melakukan hal yang sama. Begitu selanjutnya sampai Linda ada di ujung kursi.


"Maunya Anda apa sih?"


"Hanya mau dekat dengan anak saya," jawab Agam dengan santainya.


"Bukankah Anda sibuk?" bertanya sambil memalingkan wajah.


"Agenda saya hari ini hanya mengarahkan tugas pada pemimpin seluruh divisi serta divisi baru. Tugas ini sudah saya susun jauh-jauh hari. Jadi, tak perlu banyak waktu," pungkasnya.


"Divisi baru?"


"Ya, saya membentuk divisi baru untuk menjadikan HGC lebih baik lagi. Saya membentuk divisi perbaikan mutu pelayanan dan divisi kode etik."


"Apa?! Divisi kode etik?" Linda menautkan alis. Sebuah terobosan baru pikirnya.


"Divisi ini sengaja saya ajukan untuk membentuk suatu sistem norma, nilai, serta aturan profesional tertulis tegas. Menyatakan apa yang benar, dan baik, serta apa yang tidak benar dan tidak baik bagi semua orang yang terlibat dengan HGC tanpa terkecuali."


"Saya ingin HGC bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tidak ada dark money transaction, politik uang, skandal ****, dan kegiatan negatif lainnya. Selama ini sering terjadi kecurangan dan diduga ada money politic di bagian personalia," tegas Agam.


"Kalau tidak salah dengar, Anda tadi bilang skandal ****, kan?"


"Ya, betul." Ucap Agam.


"Apa vidio tadi tidak termasuk skandal ****? Justru Andalah di sini yang munafik, bukan saya." Linda ternyata masih dendam kesumat.


Agam menghembuskan napasnya. Mencoba mencari jawaban masuk akal untuk mengelak. Jujur, jika vidio dirinya dan Linda tersebar, bisa jadi kariernya akan tamat.


"Vidio itu terjadi sebelum saya jadi direktur utama," jawabnya dengan pipi sedikit memerah, Agam tahu jika jawabannya sangat konyol.


"Jadi, sebelum Anda jadi direktur utama, karyawan HGC boleh terlibat skandal apapun?"


"Emm, tentu saja tidak," kata Agam.


"Harusnya saya memiliki vidio itu untuk mengancam Anda." Linda mungkin baru terpikirkan.


"Harusnya sih ya, tapi ... saya tidak mengizinkan siapapun melihatnya kecuali kita," tegas Agam.


"Kita?"


"Ya kita, saya dan Anda. Ngomong-ngomong, vidio kita bagus juga ya. Saya tidak mengira jika hasilnya akan senatural itu. Saya baru sadar kalau Anda sangat ekspresif," kata Agam. Pria itu lalu mematikan laptop dan merapikan meja kerjanya.


"Diam! Jangan membahas itu lagi!" Linda kembali merasa terpojok dan dipermalukan.


"Tunggu," Agam tiba-tiba membalikan badan ke arah Linda mendekat dan memegang bahunya.


"Lepaskan! Sudah saya bilang jangan sentuh-sentuh." Linda panik, dari jarak sedekat ini, wajah Agam sangat aduduh.


"Saya mau memastikan sesuatu. Jika dalam vidio tadi kamu terlihat begitu natural, apa kamu juga menikmatinya?"


DEG, jantung Linda terlonjak.


"A-apa?" Linda kikuk.


"Tolong Anda jujur, apa kamu menikmatinya? Jujur ... sa-saya pribadi sangat sangat menik---."


"Tidak! Sa-saya tidak seperti itu," sela Linda. Ia mencoba mengelak.


"Hmm, saya pikir Anda juga menyukainya." Agam melepaskan tangannya dari bahu Linda, lalu duduk kembali di kursi dan merapikan kacamatanya.


"Ke-kenapa Anda berpikir saya menikmatinya?" dengan berat hati Linda menanyakan hal itu. Dan ia sendiri terkejut atas pertanyaan yang ia lontarkan.


"Jika Anda menikmatinya, setidaknya ... saya tidak akan merasa bersalah sebesar dan sesakit ini. Andai kamupun menyukainya, maka secara hukum kesalahan saya tidak berat. Jika kita melakukannya atas dasar suka sama suka, maka ... tidak berlaku lagi pasal pemerkosaan."


"Apa?! Jelas-jelas Anda memaksa saya, jangan berpikir macam-macam ya Pak Agam! Jika tadi saya terlihat natural, mungkin saja itu alamiah dan bisa terjadi pada setiap wanita. Intinya Anda tetap saja sudah memperkosa saya," tegas Linda.


"Oke, sepertinya saya memang harus memberanikan diri melihat vidio itu dari awal sampai akhir."


"Apa?! Tidak boleh, Pak." Sela Linda.


"Harus Bu, harus. Saya harus menganalisanya. Mungkin harus melibatkan pakar telematika juga," ujar Agam.


"Hahh?! Anda sudah gila rupanya ya." Linda kembali kesal.


"Sejak hari itu ..., sejak saya merasakan indahnya bercinta untuk pertamakalinya dengan Anda, saya memang mulai gila," tutur Agam seraya tersenyum dengan daun telinga yang memerah, bersamaan dengan kedatangan Bagas yang membawa dua buah goodie bag berukuran jumbo.


APA?! Batin Linda.


"I'm coming," seloroh Bagas.


❤❤ Bersambung ....