
Agam dan Linda berpindah tempat ke barisan kursi yang ada di pojokan agar tidak ada yang menyadari keberadaan Linda.
Hidangan menu di acara lamaran komisaris HGC benar-benar membuat Linda sangat
lahap. Ini kali pertamanya ia makan selahap itu, biasanya baru beberapa suap langsung mual dan pada akhirnya akan muntah.
Apakah keberadaan pria di sampingnya memperngaruhi seleranya? Entahlah.
"Mau saya ambilkan lagi?" tanya Agam.
Pria itu sudah makan dan mencuci tangan. Saat ini, ia sedang menuggu Linda yang masih mengunyah.
"Tidak perlu," jawabnya di sela-sela aktivitas mengunyahnya.
"Minumnya."
Agam menyodorkan gelas ke dua. Gelas pertama sudah habis, dan Agam inisiatif mengambilkannya lagi.
"Pak, saya mau itu," kata Linda saat ia tak sengaja melihat seorang ibu-ibu melintas membawa minuman bersoda berwarna merah terang menggoda.
"Tidak boleh," jawab Agam.
"Kenapa?"
"Wanita hamil tidak boleh meminum soda," jelas Agam.
"Sedikit saja Pak, boleh ya."
"Tidak," tegasnya.
Linda hanya bisa menghela napas, lalu menelan salivanya sendiri. Sungguh soda berwarna merah itu teramat menggodanya.
"Apa Anda benar-benar mau?"
Linda mengangguk, matanya berbinar.
"Tunggu saya ambil dulu."
Agam berlalu, lalu datang lagi membawa segelas soda yang diinginkan oleh Linda.
Agam duduk di samping Linda, Linda otomatis mengulurkan tangannya. Namun apa yang terjadi? Agam malah meminum soda itu untuk dirinya sendiri.
"Apa?!" mata Linda membulat sempurna.
"Saya mewakili Anda minum soda," kata Agam sambil tersenyum dan mengelap bibirnya dengan tissue.
Pria ini benar-benar kurang waras.
Gerutu Linda dalam hatinya.
"Saya mau segera pulang. Saya mau ketemu adik saya," ucapnya sambil meletakkan piring yang masih menyisakan makanan.
"Em, tunggu sampai rangkaian acaranya selesai, oke?" kata Agam.
Linda hanya mengangguk tak menjawab, ia masih kesal. Minuman soda yang merah meriah masih menari-nari di pelupuk matanya.
.
.
Acara lamaran sedang berlangsung.
"Ssstt, ssst," panggil Linda.
Ada hal yang ingin ia tanyakan pada Agam, tapi tak berani menyentuhnya.
"Anda memanggil saya?" Agam menoleh.
"Iya," kata Linda.
"Remaja cantik itu, apa istri Tuan Deanka?" tanya Linda.
"Apa?" kata Agam.
"Remaja cantik itu, apa dia istri Tuan Deanka?"
"Apa, Apa?" kata Agam. Ia sedikit mendekatkan telinganya ke arah Linda. Suasana memang riuh, Agam tidak bisa mendengar dengan jelas.
"Ish, Pak Agam, saya tanya remaja cantik itu, istri Tuan Deanka, bukan?" bisiknya.
Linda tak sadar jika apa yang ia lakukan membuat bulu kuduk Agam merinding.
Saat hembusan napas Linda melintasi telinganya, jantung Agam bereaksi.
"I-iya be-betul. Itu istri Tuan Deanka, lain kali saya akan kenalkan kamu sama dia. Namanya Nona Aiza Bahira."
Dengan jantung yang berdebar hebat, Agam pun berbisik pada Linda. Dengan santainya Linda malah mendekatkan telinganya pada Agam, ia sama sekali tidak menyangka jika ulahnya berdampak negatif pada jantung Agam.
"Saya tidak mau dikenalin Pak, malu. Saya hanya orang kecil. Saya juga konyol dan ceroboh," kata Linda sambil terus menatap remaja cantik yang dimaksudnya.
"Dia baik. Nanti saya ceritakan tentang mereka. Tentang Nona Aiza, Tuan Deanka, Tuan Bahir dan Nyonya Nara," kata Agam.
Untung saja suasana di ruangan itu kembali kondusif, jadi Agam dan Linda tidak perlu berbisik-bisik lagi.
"Hai bodoh," setelah acara selesai seseorang mendatangi Agam.
"Tu-tuan Muda?" Agam bersalaman dengannya.
Dan pria yang disebut Tuan Muda sama sekali tidak menoleh pada Linda. Tapi Tuan Muda itu berkata, "Apa kamu Linda? Jika ya, tolong hargai perasaan sahabat saya, atau kamu akan saya bunuh," terangnya sambil tertawa.
"A-pa?!" Linda menunduk.
"Tuan, Anda menakutinya. Bu Linda, maaf ... tidak perlu diambil hati. Tuan Muda hanya bercanda."
"Apa?! Sejak kapak dia jadi ibumu? Kamu panggil dia, ibu?! Ya Tuhan, kamu tidak waras, Gam." Tuan Muda itu memegang kening Agam.
"Tapi keningmu tidak panas, Gam." Ucapnya.
"Pak Agam, a-aku mau pulang." Linda beranjak, dan dia benar-benar ke luar dari ruangan itu.
"Hahaha, dia juga memanggilmu bapak? Ya Tuhan, seperti apa hubungan kalian?"
"Maafkan saya Tuan Muda, nanti saya jelaskan lagi pada Anda. Saya permisi." Agam menyusul Linda.
Tuan Muda itu hanya geleng-geleng kepala sambil bertolak pinggang, dan seorang gadis remaja yang disebut Agam bernama Aiza Bahira, menghampiri Tuan Muda itu lalu memeluknya.
"Sayang, kamu di sini? Aku mencarimu," katanya.
"Maaf baby ...."
Tuan Muda tersebut membalas memeluk remaja cantik itu, lalu menuntunnya untuk bergabung kembali dengan keluarga mereka.
***
"Bu Linda tunggu, jangan berjalan terlalu cepat, bagaimana kalau kamu jatuh?!"
Agam mengejar dan menghadangnya.
"Hei, ka-kamu menangis?"
Agam terkejut melihat air mata Linda berurai.
"Kamu kenapa?"
Agam meraih tangannya, tapi Linda menepis. Ia menarik pintu mobil, namun Agam belum membuka kuncinya.
"Kamu duduk di depan, oke?"
Linda diam saja, masih menunduk dan terisak.
"Masuk," ucap Agam, saat ia sudah membukakan pintu mobil bagian depan.
"Kenapa kamu harus menangis, hahh?" tangannya sibuk memakainkan sabuk pengaman untuk Linda dan untuk dirinya sendiri.
"Saya takut dibunuh sama tuan Deanka. Kok bisa ya Bapak berteman dengan dia."
"Hahaha," Agam tertawa renyah.
Linda menatapnya aneh tapi hanya sekilas, sebelum berpaling dengan segera dan mengusap airmatanya.
"Serius dia baik?" Linda masih tak percaya.
"Ya," jawab Agam.
Linda menghela napas.
"Akan saya ceritakan tentang mereka, mau siapa dulu? Nona Aiza, tuan Deanka, atau nyonya Nara?"
Agam kembali melajukan kemudi, tujuannya adalah menuju ke rumah Linda. Dia berpikir tidak ada salahnya juga berkunjung langsung untuk mengetahui kondisi orang tua Linda.
"Tidak perlu diceritakan Pak?"
"Lho, kenapa?"
"Karena sayanya pasti tidur, kalau mendengarkan cerita saya cepat ngantuk," jawabnya.
Linda menempelkan pipinya pada kaca mobil guna menatap pemandangan indah di luar sana. Padahal, pemandangan di sampingnya tak kalah indah. Namun sayang Linda tak menyadarinya.
"Oke," kata Agam.
"Tunggu, kenapa Pak Agam tahu arah ke rumah saya? Anda belum bertanya alamat rumah saya kan?" Linda mengernyit.
"Sa-saya tahu dari seseorang," katanya.
Agam berusaha tetap tenang. Sebenarnya iapun kaget dan baru sadar kalau ulahnya tentu sangat mencurigakan. Agam tahu alamat rumah Linda tentu saja dari kaki tangannya.
Selama ini, diam-diam Agam telah menyuruh orang-orangnya untuk menjaga dan memantau orang tua Linda. Bahkan ia juga sering menyuruh agar anak buahnya memborong buah dagangan ayah Berli.
"Siapa? Tahu dari siapa?" Linda semakin penasaran.
"Saya tidak mau menjawab."
"Pak Agam!" bentaknya.
"Hmm ...," Agam hanya menjawabnya dengan helaan napas.
"Maaf," sambungnya. Ucapan yang membuat Linda semakin kesal.
Akhirnya sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Tak ada suara apapun kecuali helaan napas keduanya, bahkan Agam tak menyalakan musik apapun di dalam mobilnya.
Namun saat mobil itu memasuki kawasan yang semakin dekat dengan rumahnya, air muka Linda berubah ceria. Ia bahkan beberapa kali becermin pada cermin kecil di dalam tasnya.
Sudah cantik, tak perlu bercermin, kata Agam dalam sanubarinya.
"Yeey, sebentar lagi bertemu sama Yolla dan Yolli," ujarnya.
Tiba-tiba Agam menghentikan mobilnya di sebuah toko boneka dan perlengkapan anak.
"Kenapa?" tanya Linda.
"Bukankah Anda mau membelikannya hadiah? Ayo kita turun dan beli sesuatu."
Agam keluar dari mobil, memakai topi dan masker lalu masuk ke dalam toko. Sedangkan Linda masih menatapnya keheranan.
"Seperti apa selera adikmu?" tanya Agam, saat Linda sudah menguntitnya di dalam toko.
"Apa saja boleh," ucapnya.
"Namanya juga dikasih, pasti mau-mau saja."
"Okay," kata Agam.
Agam mengambil dua buah boneka Minnie Mouse, dua buah selimut bermotif Litle Pony, dan dua buah lampu tidur berbentuk bola yang bertamburkan gliter bintang.
Sedangkan Linda membeli sesuatu yang langsung dibungkus oleh pelayan. Dia tidak jadi membeli boneka, pikirnya tidak perlu beli boneka lagi karena Agam sudah membelinya.
"Ini," Agam menyodorkan kartunya pada kasir.
"Bayar sama kado itu juga." Agam menunjuk kado yang dipegang Linda.
"Tidak perlu," tolaknya.
"Saya juga punya uang." Ia juga memberikan kartunya pada kasir.
"Hehe, pasangan yang unik," ucap kasir.
"Maaf ya, kami bukan pasangan," sanggah Linda.
"Oh, ma-maafkan saya Nona," kata kasir.
"Tidak apa-apa, tak masalah." Malah Agam yang menjawab.
"Ish," Linda segera pergi setelah berhasil membayar.
"Hei, tunggu." Agam menyusul dan merebut kado yang dibawa Linda.
"Wanita hamil dilarang membawa yang berat-berat."
"Tapi ini tidak berat," sangkal Linda.
"Sssttt, Anda dilarang cerewet, saya tidak mau anak saya cerewet kaya kamu," terang Agam santai.
Tapi ... kamu cantik, jika perempuan anakku akan secantik kamu atau ... kalaupun laki-laki pasti akan tampan juga kalau mirip kamu. Sambung Agam dalam benaknya.
Sekitar satu kilometer lagi untuk mencapai rumah Linda, Agam tiba-tiba menerima panggilan dari seseorang.
"Ya hallo," sapa Agam.
"Pak Agam, mohon maaf. Gawat Pak, gawat."
Suara di ujung telepon.
"Tolong tenang dulu, ada apa?" Agam memperlambat laju mobilnya.
"Pak orang tua LB tidak ada di rumahnya. Kedai buahnya juga kosong. Tidak menyisakan buah satu bijipun."
"Apa?!"
Agam terkejut, Linda hanya menolehnya tanpa ekspresi.
"Apa kamu sudah mencari kabar? Pada tetangganya mungkin."
Agam menghentikan mobilnya, lalu keluar agar Linda tidak curiga.
"Sudah Pak. Kata tetangganya sekitar jam dua pagi orang tua LB dijemput seseorang yang tidak mereka kenal. Terus jam tiga paginya seorang tetangga melihat mobil yang biasa menyetok buah-buahan dari desa ke kedai pak Berli kembali lagi. Mereka membawa kembali buah-buahannya. Artinya pak Berli tidak memberi kabar pada pemasok buah kalau mereka akan pergi."
"Cukup."
Agam menutup telepon. Alis indahnya bertemu, mencoba berpikir. Apa yang terjadi? Kenapa? Kenapa, saat ia ingin mengenal orang tua LB secara langsung, kejadian diluar dugaannya malah terjadi.
Ia masuk lagi ke dalam mobil dengan wajah murung, dan saat ia duduk di belakang kemudi, Linda berkata, "terima kasih, ya Pak. Saya bahagia karena Bapak memperbolehkan saya bertemu dengan keluarga saya."
Sambil membuka masker, Linda melemparkan senyum terbaiknya pada Agam. Agam mengerjap. Saat tersenyum, kecantikan Linda naik berkali lipat, namun sayang seribu sayang senyuman indah nan hangat itu mungkin akan segera lenyap saat Agam berkata jujur tentang orangtuanya.
Agampun membalas senyuman itu dengan senyumam termanisnya, keduanya kini saling menatap, ada getaran aneh yang saat ini menelisik hati Linda.
Kenapa senyumannya sangat tulus? Apa dia tidak sejahat yang aku pikirkan? Batin Linda.
❤❤ Bersambung ....
..._____...
Assalamu'alaikuum, my reader, senang rasanya nyai bisa kembali memantau aktivitas Pak Agam dan Bu Linda.
Alhamdulillah, nyai kemarin nyai sudah operasi. Lumayan lama, hampir 4 jam. Dokter sudah melakukan yang terbaik. Hasilnya nyai masih perlu operasi ulang.
Terima kasih atas doa dan dukungan my reader. Semua doa kebaikan pasti akan dibalas oleh kebaikan pula.
Puasanya pada lancar, kan? Nyai sih dah bolong nih, gara-gara sakit, hehehe 😁🤭
Tetap semangat, dan positif thinking.
Love you all. 🥰🥰
...-----...