
"Sialan-sialaaan!"
Ririn mengamuk di kamarnya. Mengacak seluruh barang yang sudah berjejer rapi.
"Bagaimana caranya aku menghancurkan si LB?" geramnya.
Dan kata-kata intimidasi dari seorang Agam membuatnya menyimpan kemarahan dan kesumat pada Agam juga.
Ya, dalam batin terdalamnya Ririn memang mendambakan seorang Agam, bahkan seluruh artis wanita yang berada di bawah naungan agensi HHP atau Haiden Home Pruduction mungkin merasakan hal yang sama dengan dirinya. Menyukai dan mengagumi Agam Ben Buana.
Tapi Agam begitu sulit untuk diraih, bahkan untuk dapat bersitatap dengan Agampun adalah hal yang langka. Sehingga banyak para aktris yang dengan sendirinya percaya jika Agam jeruk makan jeruk.
So, mereka hanya kagum, lalu melempar jauh-jauh perasaan ingin memiliki itu sampai ke antariksa.
"Rin, ayo bersiap. Jangan lupa, kitakan mau datang ke pernikahan komisaris," teriak Devi.
"Sebentar lagi aku juga siap. Kamu jangan banyak bicara ya, Dev!"
***
"Apa si LB akan datang?"
Setelah tiba area parkir HGC, Ririn mengendarkan pandangan mencari keberadaan Linda ataupun asisten yang merangkap sebagai manajer LB, Bagas.
"Artis bintang ikan HGC dan HHP pasti diundang, Rin. Kita lihat saja LB datang apa tidak." Seperti tuannya Devipun mencari-cari.
"Mobil TV KITA sih itu sudah terparkir, tapikan LB tidak ada hubungan lagi dengan TV KITA," kata Ririn yang saat ini sudah mulai melangkahkan kakinya di karpet merah, disambut kilatan kamera dan teriakan para penggemarnya.
Ririn memakai gaun panjang menjuntai berwarna hitam, bertabur gliter. Bagian punggungnya dibiarkan terbuka begitu saja. Terekspose gratis untuk dikonsumsi publik.
Karpet merah menuju area pelaminan sekejap berubah laksana panggung fashion show. Bertabur para bintang, konglomerat, dan penjabat teras.
Para tamu undangan datang dengan gaun terbaiknya. Bersama pasangan masing-masing ataupun menyendiri.
.
.
.
Sementara itu Mianita Indah Barata saat ini baru saja turun dari mobil Agam. Di area parkir, Agam mematung. Ia menyandarkan tubuhnya pada badan mobil sambil menatap gedung HGC seolah ingin mengukur ketinggiannya.
"Pak Agam, Pak."
Agam bahkan tak mengindahkan panggilan Mia. Mata Agam fokus pada tirai HGC yang mengingatkannya pada Linda.
LB, singkatan nama yang unik dan cantik, secantik wajah kamu, El ....
Serius, Pak Dirut sedang bucin sebucin-bucinnya. Ia tersenyum-senyum dalam kondisi masih menengadah.
"Pak," Mia menepuk bahu Agam.
"Tolong jangan menyentuh saya," ucap Agam. Ia mengusap-usap bahunya sampai mata Mia membeliak.
"Saya dokter lho Pak Agam, tangan saya bersih. Mungkin lebih bersih daripada artis-artis HGC." Mia mendengus kesal. Bibirnya mengerucut manja.
"Tunggu, kenapa Nona membawa-bawa nama artis HGC?" Merasa tak terima karena yang ia tahu tangan Linda begitu wangi dan bersih.
"Hehehe, kenapa saya memilih jadi dokter, karena saya tidak mau jadi artis. Padahal, banyak lho agensi yang meminang saya. Malah ada yang sampai datang ke rumah meminta bantuan ayah agar membujuk saya." Gayanya saat berbicara mengingatkan Agam pada nona Aiza.
Kalau nona Aiza pantas saja bebicara dengan gaya manja dan mendayu-dayu seperti itu, toh usianya masih 18 tahun. Lha ini? Usianya 26, pikir Agam.
"Silahkan Nona pergi duluan saja. Saya masih ingin di sini."
"Pak, kata ayah, saya dan Bapak harus melewati karpet merah bersama-sama. Bapak mau kan? Lagipula kalaupun Bapak berniat menikahi seseorang harusnya dibawa kesini dong orangnya."
"Cukup, Nona. Di sekitar karpet merah banyak wartawan, kalau saya datang bersama Nona, mereka bisa salah sangka," elak Agam. Nada bicara pria itu mulai meninggi.
"Tapi, Pak. Masa saya sendirian?"
"Nona to ---."
"Kalian sudah datang?"
Pak Barata sengaja mendatangi area parkir eksekutif untuk menyambut putrinya dan calon menantu idamannya. Entah menantunya siapa.
"Pak," Agam kembali melakukan hormat prajurit.
Mia bahagia, si anak ayah serasa mendapatkan angin segar, karena kemungkinan bisa melewati karpet merah bersama pria idamannya akan terwujud.
"Mari kita ke dalam bersama-sama," ajak Pak Barata. Sebuah kalimat yang sama sekali tidak diharapkan oleh Agam.
Dan lagi-lagi sebuah rangkulan dan tepukan di bahu yang dilakukan oleh Pak Barata membuatnya tidak bisa menolak.
"Baik," kata Agam.
Dan setelah beberapa langkah, Agam menautkan alis. Ada yang tidak beres, pikrnya.
Apakah Pak Barata menghipnotisku? Kenapa aku selalu mengiyakan? Tapi ... perlu dipastikan lebih lanjut.
Agam sepenuhnya sadar, namun sayangnya kakinya sudah menginjaki karpet merah, dan puluhan mata kamera telah membidiknya. Pak Barata berdiri di tengah-tengah, diapit oleh Agam dan Mia. Agam berdiri tegak, sedangkan Mia tampak melingkarkan tangan di lengan ayahnya.
'Chekrak, chekrek ....'
Suara blitz membahana. Mia dan Agam jadi sorotan.
Siapa wanita cantik itu?
Itu Pak Barata, kan? Kepala pengawal komisaris HGC.
Apa wanita itu calon Pak Agam?
Kalau tidak ada hubungan apa-apa, mereka tidak datang bersama kan?
Asumsi menyeruak dari awak media, untungnya dalam perhelatan pesta mewah itu para wartawan hanya diperkenankan mengambil gambar para tamu. Boleh wawancara itupun nanti setelah acara usai dan yang dibahas 'Harus' seputar pesta pernikahan saja.
Tidak ada cara lain saat kamera membidik kecuali tersenyum dan berpose, itu dilakukan Pak Barata dan Mia tapi tidak dengan Agam. Ia juga berpose sih, tapi posenya sangat dingin sedingin antartika.
Agam tidak sadar jika pose itu justru menambah aura kerupawanannya hingga para penggemarnya menggigil kedinginan.
***
Kehadiran Agam bersama kepala pengawal dan putrinya dilihat juga oleh Ririn dan seluruh pemiarsa N&T. Termasuk oleh wanita cantik yang saat ini tengah makan seorang diri di sebuah perpustakaan.
Selera makannya hilang seketika saat melihat pria yang telah menyuburkan rahimnya melenggang dengan wanita lain. Nasi serasa sekam dan ayam suir ini serasa serpihan kayu yang disangrai, kesat dan tentu saja tidak enak.
Linda meraih air minum, dan sungguh terasa sulit saat ia hendak menelannya. Parah, rasa yang bersemi ini semakin kuat saja setiap detiknya.
"Kamu lihat calon ayahmu? Dia bersama wanita lain," keluhnya pada sang perut yang saat ini ia buka lebar-lebar dengan mengangkat bajunya.
Ternyata ada kebiasaan lucu yang sering dilakukan Linda. Saat ia membaca, perutnya akan dibiarkan terbuka. Dan ia menghadapkan buku pada bagian perutnya.
Karena penat, dan kesal, Linda akhirnya berniat untuk berenang. Sesuai dengan pesan Agam, iapun menuju kolam renang yang ada di basement menggunakan lift.
Linda menggunakan baju renang yang tidak terbuka.
Bukan bi kini sih, tapi ... yang namanya baju renang ditambah pemakainya adalah new brand ambassador HGC yang cantik nan seksi, jadi ... baju itu tetap saja bisa membangunkan macan tidur. Begitulah kira-kira.
***
Seperti telah diseting, kursi eksekutifpun mengharuskan Agam untuk duduk bersama dengan pak Barata dan Mia.
"Pak, saya akan di sana," kata Agam ketika melihat bangku di barisan VVIP ada beberapa yang kosong.
"Pak sudah ada namanya, ini."
Pak Barata menujukkan papan nama berbentuk pelakat.
"Oh, baiklah saya akan duduk di sini."
.
.
.
Sementara itu disebuah ruangan pramusaji tampak ada seseorang yang terlihat kikuk dan kebingungan.
"Hei, kamu siapa?"
"Kak maaf, a-aku tersesat. Tadinya mau ke kamar mandi, bisa antar saya ke kamar mandi?"
"Cari petugas keamanan saja." Ucap wanita muda itu yang merupakan pramusaji.
"Maaf Kak, saya dari kampung, ke sini karena ikut dengan kakak saya yang kebetulan salah satu karyawan teladan di HGC." Di balik masker, matanya mengiba.
"Baiklah, saya antar, tapi sampai depan toilet saja ya."
"Ya Kak, terima kasih."
Wanita muda itu mengantar.
"Ini toil ---."
BUGH, seseorang tiba-tiba keluar dari salah satu ruangan kamar mandi dan memukul kepalanya dengan sebuah tas.
"Seret!" perintahnya.
Dan wanita yang tadi meminta diantar ke kamar mandi lansung menyeret dan membekap pramusaji itu ke dalam toilet.
Saat pramusaji mulai sadar ....
BUGH, kepalanya dipukul lagi dan iapun kembali pingsan.
"Cepat buka baju kamu, aku yang buka baju dia!"
"Oke."
Dan kejadian itu berlangsung cepat. Kini, wanita yang mengaku tersesat telah berganti baju dengan kostum pramusaji, dan pramusaji yang asli telah memakai kostum lain yang dibawa oleh si pemukul dan ditinggalkan begitu saja di dalam toilet.
"Lakukan tugas kamu dengan baik." Ia menepuk bahu pramusaji palsu.
"Sip," jawabnya dengan berbisik.
Sebentar lagi kamu akan malu, Agam Ben Buana. Sebuah pertunjukkan besar akan dipertontonkan.
.
.
.
"Selamat menikmati."
"Saya yang kesana ya," kata pramusaji palsu.
"Ya sudah, kamu saja."
"Siap."
Di bangku VVIP dan eksekutif, para tamu undangan memang akan dijamu secara spesial. Selain bisa menikmati prasmanan, mereka juga akan disuguhi minuman dan makanan secara langsung.
Setelah bersalaman dan mengucapkan selamat pada mempelai, Agam kembali duduk di bangku yang sama.
"Pak Agam saya menunggu Anda. Makan bersama yuk. Bapak mau menu dari negara mana?" tanya Mia.
"Saya tidak akan makan di sini. Mau di rumah saja," jawabnya.
"Emm, ya sudah saya juga tidak makan."
"Tolong ya Nona, jangan mengikuti saya, kalau Anda lapar ya makan saja," tegas Agam.
"Ih Bapak galak sekali, hehehe. Makin tampan tahu Pak, kalau Bapak galak."
Mia menopang dagu, sikutnya bertumpu pada meja, lalu menatap Agam dan terkagum-kagum seperti sedang melihat pemandangan.
"Nona, Anda jangan lancang ya."
Agam kesal. Sedang berpikir untuk segera meninggalkan pesta itu, namun ada seseorang yang harus ia temui dulu.
Dan disaat itulah pramusaji palsu datang membawa minuman dingin yang tampak menyegarkan.
"Selamat menikmati."
Agam yang sedang kesal, otomatis langsung mengambil minuman itu dan menguknya.
Yes, hampir habis.
Di bangku VVIP seseorang tengah memperhatikan Agam.
Sayangnya tidak bisa bawa HP. Andai saja ada HP, sudah aku rekam.
"Bapak mau pulang kapan?" tanya Mia.
"Secepatnya," jawab Agam singkat.
"Bagaimana kalau saya ikut pulang ke rumah Bapak? Saya tidak mungkin pulang barsama ayah. Hari ini jadwal ayah sangat padat, pasti tidak pulang ke rumah lagi."
"Hmm, maaf Nona. Anda pulang sendiri saja, lagipula Anda kan sudah dewasa," kata Agam sambil meneguk lagi sisa minuman yang tadi karena merasa kerongkongannya mengering hingga minuman itu tidak bersisa.
Yes, hampir habis. Efeknya pasti sangat dahsyat. Batin seseorang yang duduk di bangku VVIP.
Lima menit kemudian ....
Agam terkejut karena melihat ada Linda di sampingnya.
El ....
Hampir saja ia memanggil nama itu, namun tiba-tiba sadar jika yang ada di sampingnya adalah Mia bukan Linda.
"Pak Agam kenapa? Kok mukanya seperti memerah?" Mia menatap aneh.
Agam tidak menjawab. Ia menggaruk-garuk, tengkuknya yang terasa panas dan gatal.
Ada yang aneh, kenapa badanku jadi gerah? Perasaan saat awal aku datang, AC-nya dingin.
Agam mengatur napasnya karena merasakan jika jantungnya berdebar-debar.
"Saya permisi ke kamar mandi dulu," Agam berlalu.
Dan saat Agam berdiri, Mia melihat jika pria itu sedikit gontai.
"Pak, Anda baik-baik saja kan? Apa perlu saya temani? Wajah Bapak seperti orang sakit."
Mia yang merupakan dokter tentu saja bisa melihat kejanggalan pada wajah Agam.
"Anda jangan lancang ya Nona. Saya tidak apa-apa," ucap Agam dengan suara keras, hingga tamu lain yang berdekatan melirik, dan membungkukkan badan pada Agam.
"Maaf."
Mia tertunduk, lalu menatap punggung Agam yang menghilang di balik keramaian.
Agam berjalan cepat menuju toilet, dan seseorang menguntitnya dari belakang.
Agam segera masuk ke toilet pria, namun obrolan samar-samar dua orang di depan toilet wanita membuat keningnya mengkerut.
"Aku yakin aku dijebak. Tadi aku mengantar wanita yang tersesat, katanya mau ke toilet."
"Terus aku dipukul sampai pingsan. Bagaimana ini Mel?"
"Ya ampun Rita, kamu gimana sih? Untung saja aku ke toilet. Aku kaget, kok kamu tiduran di toilet dan pakai baju bagus?"
"Aku pingsan Mel, bukan tiduran."
"Begini saja Rit, kita rahasiakan saja kejadian ini. Kalau kita cerita sama supervisor, aku yakin dia akan marah. Syukur-syukur kalau kabarnya tidak sampai ke manajer, kalau sampai ke telinga manajer dan pak Barata, WO tempat kita bekerja bisa hancur, Rit."
"Baik, terima kasih ya Mel."
"Nah, sekarang karena bajumu sudah bagus, kamu cari pramusaji palsu itu."
Jantung Agam kian tak karuan, kejadian saat ia menenggak minuman itu terbesit lagi.
"Aku harus segera pergi dari sini, sebelum semuanya kacau. Aku pusing sekali ...." Gumam Agam.
ARGGHH.
Agam berjalan cepat dan sempoyongan menuju area parkiran.
Sial, aku meninggalkan kunci kantorku di rumah.
Awalnya Agam akan naik ke lantai 88. Agam kembali panik saat sadar jika ia tidak memegang posel. Saat memasuki gedung, seluruh ponsel memang disita. Bisa diambil lagi saat hendak pulang, tapi untuk ke ruang pengambilan Agam harus melewati keramaian.
Ia tidak mungkin melewati keramaian dalam kondisi seperti orang mabuk.
"Kurang ajar! Kali ini aku terjebak, dan sialnya ponselku ada di dalam, aku tidak bisa meminta bantuan siapapun," gerutunya saat sudah berada di dalam mobil.
"Arghh, aku mau buka baju dan otakku jadi mesum."
Agam memukul-mukul setir dan tangan kirinya mulai aktif membuka kancing jasnya tanpa bisa dikendalikan.
'Tok, tok.'
Petugas parkir mengetuk pintu.
'Srek.'
Agam membukanya sedikit.
"A-ada apa Pak?" Suaranya mulai gemetar.
"Mohon maaf Pak Dirut, peraturannya tidak boleh ada yang beristirahat di mobil saat acara masih berlangsung. Seluruh tamu undangan harus berada di dalam atau ...."
Petugas parkir tidak berani berucap.
"Atau meninggalkan gedung, kan? Baik, saya memang mau pergi."
Dan ....
'BRUUMM.'
Agam tancap gas, petugas parkir terkejut sampai jatuh ke lantai.
.
.
"Target sudah keluar dari gedung, kamu susul saja, nomor polisinya ...." Sekian-sekian. Kata si penguntit.
"Terima kasih, aku tidak sabar. Hahaha."
"Hehehe, selamat menikmati ya Roy, dan kawan-kawan, hahhaha. Jangan lupa vidio. Kalau kamu berhasil aku tambah lagi bayarannya."
"Siap bos, inisih misi paling menyenangkan."
"Aku yakin dia tidak akan kuat lama-lama menyetir mobil."
"Dasar licik! Hahaha. Aku dan teman-teman sudah bisa melihat mobilnya."
"Dari dulu aku memang ingin dia hancur." Penguntit mengakhiri panggilan, lalu iapun keluar dari kawasan HGC.
***
"Tidak bisa, aku tidak bisa menyetir dalam kondisi seperti ini."
Agam mulai merasakan jika pandangan matanya kabur, kepalanya teramat pusing, namun libidonya terus meningkat.
'CKIIIT.'
Agam menghadang seorang remaja wanita pejalan kaki.
"Aaaa," yang dihadang berteriak kaget.
Agam keluar dari mobil, tidak ada cara lain kecuali meminta bantuan seseorang.
"Bi-bisa pinjam ponselnya, sa-saya bayar." Dengan tatapan nanar Agam mengulurkan tangan dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan.
Remaja itu langsung memberikannnya tanpa basa-basi. Rupanya ia terhipnotis juga dengan pesona Agam.
***
"Bu Linda ... to-tolong sa-saya ... please .... Sa-saya berada di bahu jalan kilometer empat, gedung HGC. Gunakan mobil mana saja yang ada di parkiran. Help me, please ...."
"HAHHH?"
Linda yang baru saja selesai berenang, memukul pipinya beberapa kali setelah menerima panggilan dari nomor tidak dikenal.
"Apa ini lelucon? Kenapa dia pakai nomor baru?! Terus suaranya, kenapa gemetar begitu ya?"
Sambil mengeringkan rambutnya, Linda terus berpikir.
"Tolong, jangan ya? Aku bingung."
❤❤ Bersambung ....