AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Variety of Love [Bagian 2]



"Hoaam, ini baru namanya kerja, saat orang lain sudah banyak yang tidur, aku baru memulai pekerjaan," gumam Vano saat ia mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang dimaksud oleh Agam Ben Buana.


"Gila, LB aslinya cantik sekali, terus suara dan bentuk tubuhnya juga seksi. Tapi dia dan pak Agam memang serasi sih."


Vano menghela napas berat. Linda dan Agam memang serasi, tapi saat Vano teringat akan skandal awal mula pertemuan Agam dan LB, hatinya seolah ikut terbebani.


Selain alasan itu, ada alasan lain juga. Ada kasus lain yang sebenarnya tengah diselidikinya dan bersangkutan dengan Agam.


.


.


.


.


Suatu hari, atau tepatnya tiga hari setelah kejadian mobil kebakaran di jalur tol dalam kota yang menewaskan satu korban, firmanya didatangi pihak kepolisian untuk melakukan nota kerja sama terkait kasus tersebut.


Sebenarnya, nota kerja sama itu adalah hal yang lumrah. Pihak kepolisian melibatkan detektif swasta untuk mempercepat pemecahan beberapa kasus adalah hal yang biasa.


Namun apa yang didapatkan Vano dalam kasus ini membuatnya tercengang. Polisi menemukan proyektil asing pada ban mobil yang kebakaran tersebut. Setelah lama melakukan penyelidikan, polisi tidak bisa menyimpulkan identitas pemilik proyektil itu.


Dan apa yang ditemukan Vano?


Kemarin, setelah ia melakukan misi penyelamatkan Maga bersama tuan Deanka, dan dokter Cepy, Vano secara tidak sengaja melihat senjata dan proyektil peluru milik tuan Deanka. Ia terkejut karena kode senjata yang tersemat di sana identik dengan peluru yang tengah diselidikinya.


Lalu ia bertanya pada tuan Deanka.


"Tuan, darimana Anda mendapatkan peluru unik seperti ini?"


Lalu tuan Deanka menjawab ....


"Peluru ini hanya dimiliki olehku dan Maga."


Hanya itu jawaban yang ia dapatkan. Vano akhirnya diam-diam menyelediki TKP dan waktu kejadian kebakaran mobil tersebut dengan pergerakan tuan Deanka. Hasilnya, pada saat kejadian, tuan Deanka tidak keluar rumah. Alibi tuan Deanka kuat.


Lalu ia melanjutkan penyelidikan akan keberadaan Agam Ben Buana saat kecelakaan tunggal itu terjadi.


Hasilnya ....


Mencengangkan.


Mobil Agam Ben Buana yang ia kenali, jelas tertangkap kamera CCTV pengawas melintas di jalur tol dalam kota. Mobil itu melintas di tanggal dan waktu yang sama dengan kejadian kecelakaan tunggal dan kebakaran mobil tersebut.


Vano semakin kebingungan, apalagi di hari kejadian, ia mengingat jika Agam meneleponnya dan mengatakan ....


"Vano, di jalur tol dalam kota ada kecelakan mobil yang menyebabkan mobilnya terbakar. Kamu selidiki penyebab kebakaran mobil itu ya."


Pada saat itu, jelas Vano heran dan bertanya pada Agam.


"Untuk apa, Pak? Bukankah sudah ada yang menyelidiki kasus itu? Memangnya ada hubungan apa Bapak dan mobil itu?"


"Nomor polisi mobil itu berasal dari Pulau Jauh, LB berasal dari sana."


Jawaban Agam tentu sangat membingungkan. Dan Vano semakin bingung saat ia mengetahui fakta bahwa mobil itu ternyata milik seseorang bernama Setyadhi yang akhir-akhir ini diketahui sebagai pamannya LB.


Anehnya yang meninggal dalam kecelakaan itu adalah orang lain yang hingga saat ini belum diketahui identitasnya. Dan dari anak buah Agam bernama Yan Yan, Vano mendapatkan informasi kalau Agamlah yang memindahkan paman LB ke rumah The Number One.


"Kenapa pamannya LB sampai koma?" tanya Vano pada Yan Yan, tepatnya sekitar sebulan yang lalu.


"Pamannya LB adalah korban tabrak lari, dia jadi pasien terlantar yang dirawat di rumah sakit pemerintah, pak Agam memindahkannya agar paman LB mendapatkan penanganan dan perawatan yang lebih baik lagi," jawab Yan Yan pada saat itu.


"Hmm, semoga pamannya LB bisa bersaksi. Aku harus bertanya kenapa mobilnya dikemudikan oleh orang lain? Ini sedikit rumit. Apa pak Agam ada hubungannya dengan kecelakaan mobil itu? Lalu proyektil itu? Tidak mungkin proyektil peluru jatuh tiba-tiba jika tidak ditembakkan. Bisa juga sih, tapi ... apa iya pak Agam sengaja membuangnya?"


"Tapi jika benar itu milik pak Agam, kenapa pak Agam menembak mobil itu? Apa LB tahu masalah ini? Aaarrgggh!" teriak Vano sambil memukul setir.


Ia menambah kecepatan untuk segera sampai di rumah sakit The Number One.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Linda gugup, pria yang tadi sore sempat berubah menjadi bayi besar yang manja dan rewel itu akan datang lagi.


"Oh, tidaaak. Ya ampuuun, bagaimana ini? Bagaimana kalau dia mau jadi bayi lagi?"


Linda mundar-mundir, kesana kemari. Pipinya memerah, merona.


"Tunggu, diakan suamiku, kenapa aku harus gugup sih? Tenang Linda, tenaaang ... huuhhh ... huuft ...." Ia mengusap dadanya.


"Oiya, kata orang-orang, kalau mau bertemu suami itu harus cantik, dan seksi. Apa aku harus dandan cantik dan seksi juga?" Linda berpikir keras.


"Benar, aku tidak boleh memakai baju ini. Ini terlalu biasa. Setidaknya, aku bisa mendapatkan pahala dengan cara memanjakan mata suamiku. Kalau aku enak dipandang, dia pasti akan semakin mencintaiku."


Tanpa pikir panjang, dengan polosnya Linda segera mengganti bajunya dengan piyama tidur tanpa lengan yang belahan depannya sangat rendah. Panjangnya di atas lutut, bahkan bisa dikatakan sangat jauh dari lutut. Bahannya tipis menerawang, hingga detail siluet tubuhnya terlihat dengan jelas.


Lalu memakai serum wajah dan krim malam, memakai lip balm, menyisir rapi rambutnya kemudian digerai. Terakhir, ia menyemprotkan body spray cologne ke hampir seluruh tubuhnya.


Waw, Penampilan Linda sangat-sangat ... meresahkan.


Dia berpenampilan biasa saja sudah cukup membuat Agam Ben Buana tergila-gila. Apalagi kalau seperti ini? Tidak bisa dibayangkan, bagaimana reaksi pak Dirut saat melihat Linda?


'Tok, tok, tok.'


"El, buka pintunya."


Bayi besar akan datang. Linda terkejut. Segera mendekati pintu setelah memiliki keberanian. Linda berjalan dengan gugupnya, baju yang baru pertama kalinya ia pakai ini membuatnya malu dan tidak nyaman.


"Tunggu, Pak," sahutnya. Karena malu, Linda akhirnya melapisi baju itu dengan auter sebelum akhirnya membuka pintu.


Hmm, lumayan, tidak terlalu terbuka, batinnya.


"Apa yang membuatmu takut?"


Agam cepat-cepat masuk, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamarnya.


"Emm, i-itu Pak, aku nonton film," kata Linda. Ia menunduk sambil menunjuk televisi.


"Film? Film apa masksudmu? Saya tidak memiliki koleksi film. Kalau Gama mungkin punya. Nanti saya pinjam punya Gama."


"Te-terus, itu apa?" Linda menunjuk kaset DVD yang ia maksud.


Sementara Agam langsung memfokuskan pandangan pada Linda, ia sedikit heran karena Linda terus memegang auternya seolah menyembunyikan sesuatu.


"Oh, ini bukan film. Ini kaset dokumenter. Tapi, kalau kamu mau lihat tidak apa-apa, kok."


"A-apa? Ja-jadi yang tadi aku lihat bukan film?" Linda terkejut.


"Apa yang kamu lihat?" Agam menyalakan televisi. Lalu duduk di sofa.


"Ja-jangan diputar lagi Pak. Takuuut." Linda menutupi wajahnya dengan bantal sofa.


"Kamu melihat ini? Adegan di vidio ini memang tanpa rekayasa, tapi saya ada disini, kan? Saya baik-baik saja. Jadi, apa yang kamu takutkan? Mau nonton bersama?" ajaknya sambil meraih dan menarik tangan Linda untuk duduk di dekatnya.


"I-itu vidio apa sih? Apa ada hubungannya dengan BRN?"


"Betul, El. Ini saat sesi latihan fisik dan tes kejantanan."


"A-apa? Tes apa tadi? Tes kejantanan?"


"Anggota BRN harus sehat lahir batin, standarisasi tesnya di seluruh dunia sama, termasuk tes kejantanan," jelas Agam sambil mengulum senyumnya.


"Nah, dokter-dokter wanita itu yang nantinya akan memeriksa."


"Apa?!" Wajah Linda memerah.


"Kenapa?" tanya Agam.


"Bapak juga dicek?"


Agam mengangguk.


"Mengeceknya bagaimana?" Keingintahuan Linda membuat Agam gemas hingga mencubit pipinya.


"Kalau sehat berarti lolos sayang, kalau tidur saja, akan diperiksa lebih lanjut. Kenapa? Apa kamu cemburu?" goda Agam.


"A-apa? Ja-jadi Pak Agam juga dibangunkan? Sama dokter-dokter perempuan yang seksi itu?" Linda langsung cemberut.


"Hahaha, kalau iya bagaimana? Kamu marah?"


"Apa?! Tidak! Tidak marah," elaknya.


Katanya sih tidak marah, tapi Linda menepis tangan Agam, lalu bergeser menjauh. Wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan. Agam malah tersenyum-senyum.


Agam mendekat lagi sambil merangkul bahunya.


"Jangan cemburu dulu dong, akan saya jelaskan agar kamu tidak salah faham, oke?"


"Tidak, tidak oke! Sekarang aku tidak takut lagi. Pak Agam boleh pergi dari kamar ini," usirnya. Dan kembali menepis tangan Agam.


"Sayang ... itu protap, sudah peraturannya seperti itu, saya tidak bisa menolak," jelasnya.


"Peraturan sih peraturan, tapi kenapa harus memakai dokter wanita, kenapaaa?!" teriak Linda. Suara paraunya kian menggoda di telinga Agam manakala wanita itu berteriak.


"Hahaha, El, saya tidak diperiksa oleh dokter wanita, saya diperiksa oleh dokter laki-laki," kata Agam sambil menahan tangan Linda agar tidak menjauh lagi.


"Bohong! Itu buktinya banyak dokter perempuan."


"El, dengarkan saya dulu, kalau ada anggota yang tidak bereaksi saat diperiksa oleh dokter laki-laki, maka komandan akan menyarankan agar peserta tersebut diperiksa oleh dokter perempuan."


"Alasan!" timpal Linda.


"Hahaha, semarah itukah? Saya senang dicemburui, tapi saya serius sayang, saya tidak diperiksa oleh dokter perempuan."


"Bohong, aku tidak percaya."


"Baik, mau bukti? Ada vidionya. Filenya ada di laptop pribadi. Akan saya tunjukkan." Agam beranjak.


"Ja-jangan, ba-baik. Aku percaya," kata Linda.


Tidak mungkin kan harus melihat dokumentasinya? Yang benar saja, pikirnya.


"Apa kamu lapar?" tanya Agam.


"Tidak," jawab Linda singkat.


"Kamu adalah orang pertama yang melihat dokumentasi itu, di rumah ini tidak ada yang berani menyentuh barang-barang milik saya, termasuk Gama."


"Tidak apa-apa El. Apapun yang ada di kamar ini boleh kamu sentuh. Kamu juga boleh meminta apa saja yang kamu mau. Termasuk boleh menyentuh pemiliknya," kata Agam. Ia kembali mendekati Linda. Dan kali ini Linda tidak menghindar.


"Menyentuh pemiliknya? Maksudnya?" tanya Linda. Tangannya tidak henti memegang auter. Penyesalan memakai baju itu, baru saja muncul.


"Maksud saya, kamu boleh menyentuh seluruh bagian tubuh saya, begitupun sebaliknya. Mengerti?"


Linda hanya mengangguk sambil melempar senyum. Sebuah senyuman yang menggerakan naluri Agam untuk memeluknya.


"Kamu menggoda saya?"


Agam berlutut, lalu memeluk perut Linda dari depan. Otomatis kewangian istrinya langsung menusuk hidung.


"Hmm ... harum sekali sayang."


Lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Linda. Dan Linda selalu saja tak mampu mengabaikan. Tangannya langsung merayap membelai rambut Agam.


"Aku tidak menggoda, hanya senyum. Senyumkan ibadah," jelasnya.


"Kenapa memakai auter, hmm? Kenapa tidak memakai piyama tidur? Apa mau saya belikan lagi? Tulis semua model yang kamu suka, nanti Pak Yudha atau Bu Ira yang belanja."


"Ti-tidak perlu, Pak. Masih banyak baju yang belum sempat aku pakai, kalau beli lagi takut mubazir."


"Apa ini?"


Agam terkejut saat ia menyadari di balik auter istrinya ada piyama tipis.


"Pak Agam, em ... a-anu Pak. Ta-tadi gerah."


Linda gugup, apalagi saat Agam membuka kancing auternya yang berada di bagian perut. Agam mengerjap beberapa kali. Ia jelas melihat bagaimana putranya tersimpan nyaman di balik keindahan ini.


"Ya ampun sayang, kamu mau menyiksa saya lagi?" Agam geleng-geleng kepala, namun matanya tidak berpaling dari menatapnya.


"Tidak Pak, ti-tidak seperti itu. Supaya Bapak teralihkan, bagaimana kalau kita menonton?" ajak Linda.


"Em boleh, tapi saya nontonnya mau sambil memeluk kamu, boleh, kan? Atau sambil tiduran di pangkuan kamu."


"Boleh, kaset mana yang cocok untukku? Bapak yang pilihkan ya."


"Baik."


Agam beranjak untuk mengambil salah satu kaset yang menurutnya paling cocok.


"Nah, ini vidio saat para anggota dites secara akademik. Seluruh mata pelajaran diujikan dari yang dasar sampai yang terakhir tentang dunia perintelan."


"BRN dibentuk untuk apa sih, Pak? Bukannya kita memiliki satuan keamanan nasional? Dari darat, laut, dan udara bukannya sudah ada yang menjaganya?"


"Ya, benar sayang. Negara kita memang sudah memiliki sistem pertahanan, tapi mereka kan basicnya sebagai kekuatan utama. Nah, BRN itu dibentuk sebagai kekuatan pendukung."


"Seiring berjalannya waktu dan desas-desus persiapan perang dunia ke tiga, federasi keamanan dunia menjalankan sebuah misi merekrut masyarakat sipil yang sesuai kriteria untuk dididik dan dilatih ala militer sebagai kekuatan pendukung yang memiliki kemampuan khusus."


"Anggota BRN itu sebenarnya bisa dikatakan sebagai sistem kamuflase pertahanan negara."


"Apa ada kaitannya anggota BRN dengan masyarakat sipil yang ikut wajib militer?" tanya Linda sambil merebahkan kepala Agam di pangkuannya.


"Wajib militer setelah selesai tidak terikat, beda dengan BRN, anggotanya terus terikat dengan badan keamanan negara selama masa kontraknya belum berakhir."


"Oh, jadi Pak Agam dikontrak juga?"


"Saya bukan anggota BRN lagi, saya sudah mengajukan pengunduran diri. Sekarang sedang menunggu acc dari federasi BRN internasional." Entah disengaja atau tidak, Agam mulai membeberkan fakta itu pada Linda.


"Apa? Kenapa harus mengundurkan diri? Harusnya Bapak bangga, kan?" Linda menunduk untuk menatapnya.


"Saya melakukannya demi kamu, demi kebahagiaan kita," terangnya sambil memiringkan kepala, lalu menghidu keharuman dari tubuh Linda.


"Jika itu sudah menjadi keputusan Bapak, aku mendukung."


"Terima kasih sayang," ucap Agam sambil mengecup jemari Linda, dan matanya perlahan mulai terpejam.


Ya, Agam memang baru saja minum obat, dan salah satu obatnya mengandung chlorphenamine maleate yang mengakibatkan kantuk.


"Pak ...."


Linda memanggil perlahan. Tapi, tidak ada jawaban. Suaminya benar-benar tertidur di pangkuannya.


Linda memiringkan kepala Agam, ditatapnya lekat wajah pria itu, lalu berkata dalam hatinya ....


Kenapa kamu tampan sekali?


Lama ia menatap wajah tampan itu, ditelusurinya garis alis, mata, hidung, dan bibirnya.


Sampai kapan kita harus bersembunyi? Aku ingin seperti orang lain yang pergi tenang berjalan di dunia luar bersama pasangannya. Kapan ya?


Setelah kita mendapat restu dan menikah, kupikir jalan kita akan lebih mudah, tapi ... semuanya kembali sulit. Sebenarnya, aku tidak suka hidup terkurung seperti ini. Aku ingin bersosialisasi dan mengembangkan bakatku.


Tapi, karena aku mencintaimu, aku akan mengikuti kehedakmu, aku akan bersabar sampai hari bahagia itu tiba. Hari di mana aku dan kamu bisa berjalan tegak di hadapan orang lain tanpa merasa bersalah atau disalahkan.


Tidak terasa di tengah jeritan hatinya, air mata Linda menetes. Ia segera mengusapnya agar tidak jatuh ke wajah Agam.


Beberapa saat kemudian Lindapun mulai mengantuk. Perlahan ia juga terlelap dalam posisi duduk dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.


.


.


.


.


Setelah efek obatnya hilang, Agam membuka matanya, nyaman rasanya bersandar pada sesuatu yang empuk dan wangi. Ia bangun, dilihatnya Linda sudah tidur.


Ada perasaan menyesal, kenapa ia malah mempersulit ibu hamil? Harusnya Lindalah yang bersandar padanya. Dengan hati-hati, Agam memindahkan Linda ke tempat tidur.


Ia tersenyum karena tubuh istrinya terasa lebih berat dari terakhir ia mengangkatnya. Artinya anak merekapun berkembang dengan baik.


Setelah direbahkan, Agam lalu membuka auter Linda yang menurutnya sedikit mengganggu.


Deg, pria itu jelas menelan saliva saat melihat keindahan yang seolah tersaji untuknya.


Mata Agam tidak berpaling, sekujur tubuhnya berdesir, naluri liarnya bangkit seketika. Ya ampun, Pak Dirut kalang kabut. Ia pun berbaring di samping Linda. Menatap langit-langit sambil mengatur napas.


Tersentak jantung Agam saat Linda memeluknya, napas halus Linda menghangatkan tengkuknya. Jadi merinding si bulu roma.


Agam membalikan tubuh agar bisa berhadapan dengan Linda.


Lalu ....


Tanpa izin dan permisi, ia merenggut rasa lip balm itu dengan perlahan, menikmatinya dalam ketenangan, tanpa balasan, dan tanpa penolakan si pemiliknya.


Linda tetap terlelap saat tangan Pak Dirut mulai aktif. Kesana, kesini, dan kemari. Pun saat Pak Dirut memindahkan daerah jajahan ke tempat yang disukainya, Linda masih terlelap.


Namun saat Pak Dirut sedikit kasar karena merasa gemas. Linda bereaksi, ia melenguh dan sedikit meracau. Mata Linda perlahan terbuka ketika ia merasa sedikit kedinginan.


Terkejut saat ia menyadarinya. Namun belum juga Linda protes, Agam sudah membekap bibirnya dengan sesuatu yang tipis, merah, manis, dan lembut.


Linda enggan menolak, ia pasrah dan berusaha mengimbangi kemahiran Pak Dirut yang luar biasa itu.


Mereka saling menjalin dan memasrahkan diri dalam durasi yang cukup lama. Beberapa kali Linda menjerit karena tak kuasa mengimbangi perlakuan Pak Dirut yang lembut namum sangat kuat dan mendominasi.


"Sa-sayang i love you ...."


"I love you too, Ma-Maga ...."


Mereka saling mendamba. Hingga akhirnya keluarlah kalimat Agam yang teramat ambigu dan memanaskan telinga Linda.


"Sayang ...."


"I-iyahhh ...."


"Sa-saya ingin melihatnya, saya janji hanya melihatnya, se-serius, bo-boleh ya ...," ratapnya.


"Me-melihat? Me-melihat apa?" Linda bingung.


"Kamu tidak faham?"


Linda mengangguk. Jujur, memang belum faham.


Lalu dengan pipi dan telinga memerah, Agam membisikan sesuatu pada Linda.


"Saya ingin melihat ...."


Kalimat selanjutnya tidak terdengar, pastinya hanya terdengar oleh Linda.


"A-apa ...?" Linda syok.


"Please sayang ... saya janji hanya melihat saja. I won't touch it, just look at it, but up close, okay? (Saya tidak akan menyentuhnya, hanya melihatnya, tapi dari dekat, boleh?)"


Dan Linda belum menjawab, ia bingung sebingung-bingungnya.


"Jawab dong sayang, jangan diam saja," desak Agam.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Tidak, aku tidak mau melakukan somasi. Aku maunya Pak Dirut berterus terang ke publik! Sampai kapan dia akan kucing-kucingan seperti ini?! Putriku dari awal adalah korban!" teriak Ayah Berli yang saat ini sudah berhadapan dengan Vano. Paman Yordanpun turut serta.


"Pak Berli, somasi ini tujuannya untuk meredam berita itu. Dengan melakukan somasi, berita tentang LB tidak akan terus beredar," kata Paman Yordan. Sementara Vano masih menyimak.


"Dokter, dengar ya! Coba posisikan Anda sebagai aku. Dalam kasus ini, putriku selalu disudutkan! Dulu saat dia didemo, dengan lantangnya Linda mengatakan dia diperkosa karena kesalahannya. Putriku mengorbankan harga dirinya demi keponakan Anda. Putriku rela menanggung malu dan diperlonco publik demi menjaga nama baik keponakan Anda!"


"Putriku sudah dibutakan oleh cinta. Kalau saja tidak sayang dengan dia, aku juga tidak akan sudi merelakan dia untuk Dirut HGC!"


"Sekarang saat putriku difitnah, harusnya dia tidak bersembunyi lagi. Sekaranglah saatnya untuk dia jujur. Itu juga kalau dia memang benar mencintai putriku. Sekarang, aku jadi ragu. Aku menyesal merestui mereka."


Paman Berli dan Vano saling menatap.


"Jika pak Dirut tidak berani mengatakannya, biar aku saja yang menjelaskan semuanya pada media!" tegasnya.


Lalu Ayah Berli pergi dari ruangan itu dengan wajah memerah.


"Pak Berli, tunguuu," Paman Yordan mengejar disusul oleh pengacara Vano.


___


Next ....