AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Return Your Breath



Agam berada di alam bawah sadar. Di antara mimpi, terjaga, tidur, atau apalah namanya. Agam juga bingung.


Kadang tubuhnya berada di ambang sakit yang membuatnya gemetar dan menggigil. Namun sesekali ia juga terjebak dalam sensasi yang tiada batas, sulit diurai.


Dadanya terasa sakit dan sesak. Tapi juga ada gelenyar-gelenyar nikmat yang tidak bisa ia kendalikan. Agam juga merasa pusing, ini bukan lagi tujuh keliling, tapi berkeliling-keliling.


Di alam bawah sadarnya, ia bermimpi terjun dari heli menuju gedung HGC. Lalu mengadakan rapat terbatas yang ia sendiri tidak tahu maksud dan tujuannya.


"Fanny, tolong intruksikan kepada seluruh manajer divisi agar hari ini seluruh staf mendownload aplikasi Noveltoon atau Mangatoon," kata Agam.


"Hahh? Untuk apa, Pak?" Fanny sangat bingung.


"Saya juga tidak tahu. Setelah didownload, seluruh staf intruksikan untuk memberi vote pada novel berjudul AGAPE karya nyai ambu," terang Agam.


"Hahh?" Fanny semakin bingung.


"Lakukan saja Fanny. Vote itu hanya satu untuk satu karya. Hanya ada pada hari Senin," tegas Agam dalam mimpi aneh itu.


Mimpi teraneh seumur hidupnya.


.


.


.


Setelah mimpi aneh itu, Agam kembali meremang merasakan jika hidungnya mencium aroma tubuh yang sangat ia rindukan.


Sebuah leher jenjang yang mulus, dengan kulitnya yang halus nan wangi. Pemilik leher itu mendesah, tapi tidak berlangsung lama.


Saat tubuhnya nyaman, ia tiba-tiba merasa telinganya sangat sakit hingga iapun berteriak.


"Aaaaa."


Dan tubuhnya di dorong ke kursi entah oleh siapa. Lalu perasaan nikmat itu kembali muncul bersamaan dengan bayangan Linda, Linda, dan Linda.


Linda yang tengah memanjakan tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Kacau, benar-benar gila hingga membuatnya bahagia, mendesah-desah dan tersenyum-senyum.


"Pak Agam ...."


Ia sadar jika Linda memanggilnya sambil menepuk bahunya.


"Hmm."


Hanya kuasa menjawab dengan kata itu.


Agam kesakitan, mimpi ini terlalu nyata. Tubuh tingginya seolah tersungkur nyata ke atas lantai. Dadanya sampai sakit dan tulangnya melinu. Terasa real seperti bukan mimpi.


"Maafkan saya Pak Agam."


Suara itu terdengar asli, ia tahu jika itu suara Linda. Lalu Agam menjawab dalam hatinya.


"Aku telah menikmati milikmu yang berharga, dan aku juga telah memberikan millikku yang berharga hanya untuk kamu. Tidak ada yang perlu aku maafkan, tidak perlu meminta maaf."


Namun sekelebat Agam melihat ada sebuah danau di hadapannya.


Air danau itu begitu bening dan menyejukkan. Iapun melompat ke sana untuk menghilangkan dahaga dan merelaksasikan tubuhnya yang teramat lelah.


'BYURR.'


Agam memium air itu sebanyak-banyaknya. Berharap akan mendapatkan kesegeran, namun apa yang ia dapatkan berbanding terbalik dengan rasa yang ia alami saat ini.


Dadaku sesak, kepalaku sakiiit ....


Aku tidak bisa menggerakkan kakiku untuk berenang. Terasa berat, dan kaku.


Aku kenapa?


Tidaaak.


Aku kenapa?


Agam berusaha untuk berenang, namum semakin berusaha, ia malah semakin kesulitan hingga tubuhnya tenggelam ke dasar danau.


Tidaaak, apa aku akan mati?


Jangan, aku belum siap. Dosaku teramat banyak. Dan aku belum bertaubat. Tolong, tolong aku.


Aku belum siap untuk pergi. Aku ingin melihat bagaimana rupa calon anakku dan membesarkannya. Aku belum serius mengatakan pada Linda jika aku mencintainya.


Ibuuu ... tolong aku ....


Gama ... tolong Kakak ....


Pada akhirnya, Agampun pasrah manakala usahanya untuk berenang menuju daratan tidak membuahkan hasil.


Manusia hanya memiliki rencana. Hasil akhirnya akan tetap kembali kepada-Nya.


Tubuhnya tidak ada daya dan upaya. Tiba-tiba ia merasakan lehernya direngkuh oleh seseorang. Entah oleh siapa, Agam ingin tahu, tapi ... ia tidak memiliki kekuatan untuk membuka matanya.


Sosok yang merengkuhnya seperti berusaha keras untuk menolonganya, menarik tubuhnya dengan kekuatan yang begitu lemah. Agam sadar jika sosok itupun sama lemahnya dengan dirinya.


Tidak ada harapan, selain menggantungkannya kepada-Mu.


Agam pasrah saat sosok itu tiba-tiba memeluk lehernya. Agam lalu melupakan apapun.


Dan ....


Tiba-tiba sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh bibirnya. Terasa dingin, dan ini seperti sebuah bibir. Lalu sebuah tiupan napas berhembus hangat dari bibir sosok itu. Menelesik, memaksa masuk ke dalam mulutnya, ke rongga tenggorokan, dan terus ke sana hingga jantungnya terasa hangat dan seolah kembali berdetak.


Lalu, bibir yang lembut itu mengulum bibirnya, seolah penuh kerinduan dan cinta. Atau ... itu hanya perasaannya saja.


Agam ingin membalasnya dengan cara yang sama. Tapi ....


Gagal.


Karena sosok itu tiba-tiba melepas pagutannya dan menghilang entah kemana. Agam putuh asa, ingin mencari dan menemukannya. Tapi ....


Gagal lagi.


Tubuhnya malah terhempas dan kembali tenggelam ke dasar danau.


Tidak ....


Ini bukan danau.


Ini kolam renang.


Tanganku menyentuh lantai.


'Nit.'


'Nit.'


'Nit.'


'Nit.'


Agam mendengar bunyi.


Ting, mata pria itu terbuka.


Bunyi itu berasal dari sabuk. Sabuknya memang akan berbunyi dan menyala jika sudah terendam air melebihi batas waktu yang ditentukan.


Agam mengerjap.


Pria itu ....


SADAR.


Agam Ben Buana tersadar dari mabuk dan fantasinya.


Sadar penuhkah? Atau ... hanya setengah sadar? Entahlah.


Agam mengepakkan tangan dan kaki untuk berenang naik ke permukaan. Di sisi kolam renang, Agam memeluk gundukan tembok yang menjadi pembatas area kolam dan parkiran. Di tengah area itu ada taman kecil tanpa bunga. Hanya dihiasi oleh rumput hijau dan batu alam.


Agam menghirup oksigen dalam-dalam. Mengatur napasnya perlahan, untuk menenangkan pikirannya dan mengingat kembali apa yang telah terjadi. Jiwa dan raganya benar-benar lelah.


Jantungnya meronta tatkala melihat sebuah flat shoes berwarna coklat tergetak begitu saja di sisi kolam.


Hanya satu? Harusnya sepasang, kan?


Agam panik.


Ia panik karena tahu siapa pemilik dari flat shoes itu. Mata sayunya yang memikat langsung beredar. Pasangan flat shoes terlihat mengambang di tengah kolam renang.


"Linda," katanya.


Saat itu juga Agam melompat, berenang dan menyelam. Hatinya kacau dan galau. Pikiran negatif menyeruak, ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Linda dan calon buah hatinya.


Linda ....


Di sana, di dekat saluran pembuangan, wanita hamil itu tergeletak. Kondisinya begitu menyentuh dan menyayat hati.


Linda meringkuk dengan kedua tangan yang memeluk perutnya. Seperti sedang berusaha melindungi janin yang dikandungnya.


Hati Agam berdesir-desir. Secepatnya ia meraih tubuh tidak berdaya itu ke dalam dekapan. Memeluknya, dan membawanya ke permukaan dengan hati yang tak bisa diukur dan dideskripsikan lagi. Teramat khawatir.


.


.


.


Agam membaringkan tubuh Linda di atas rumput, jantungnya kian berdegup.


"Bu Linda ...." Lirihnya.


"Maafkan saya."


Pada saat seperti ini, langkah pertama yang dilakukan Agam harusnya adalah berteriak untuk meminta bantuan. Tapi, kondisinya tidak memungkinkan.


Agam lalu memeriksa apakah Linda masih bernapas atau tidak dengan mendekatkan telinganya ke mulut dan hidung Linda.


"Tidaaak," teriak Agam.


Panik karena tidak merasakan ada pergerakan udara di telinga maupun di pipinya. Artinya, Linda tidak bernapas.


Karena tidak bernapas, dengan tangan gemetar Agam memeriksa denyut nadi Linda selama 10 detik. Ia maraba nadi radialis yang berada di pergelangan tangan dan arteri karotis di leher Linda.


Ia tidak merasakan nadi Linda di kedua tempat tersebut.


Please ... please ... please ... kamu tidak boleh mati.


Entah semu atau tidak, mata Agam terlihat berkaca-kaca.


Karena Agam sudah terlatih, pria itu segera melakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) atau resusitasi jantung paru.


Agam menekan bagian tengah dada Linda yang sejajar dengan papil-la dengan kedua telapak tangannya yang saling tumpang tindih.


Ia mulai menekan dengan hati-hati, sebanyak 30 kali dengan rata-rata kecepatan sekitar 100 kali tekanan per menit, hingga ia berkeringat.


"Linda," sambil berhitung sesekali ia memanggil namanya.


Agam memeriksa kembali pernapasan Linda, dan Linda masih juga belum bernapas.


"Linda ... tolong sadarlah, jangan seperti ini."


Sejenak Agam memeluk kembali tubuh yang belum bernapas itu lalu menggerak-gerakkan pipinya sebelum akhirnya ia meciumi kening dan pipi Linda berulang-ulang.


Agam lalu menatap langit seraya berdoa dalam hati agar Linda bisa diselamatkan.


Di bagian kolam renang, basement itu memang didisain terbuka agar bisa memanfaatkan pencahayaan dari sinar matahari dan tentu saja untuk menyehatkan sirkulasi udara.


Langkah selanjutnya adalah membuka jalan napas.


Tanpa ragu, Agam mendongakkan kepala Linda dan mengangkat dagunya. Lalu memijat hidung Linda dan meniupkan udara ke mulut wanita itu dengan kecepatan tiupkan dua kali dalam satu detik.


Linda tidak merespon. Namun Agam tidak putus asa, ia terus melakukannya sampai siklus maksimal. Ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan.


Dan pada setengah siklus ketiga Agam memberikan bantuan napas, bibir Linda terasa hangat, dan wajah cantiknya yang tadi pucat pasi kembali memerah.


Agam bernapas lega, seulas senyum lekas tersungging.


"Uhhuuk, uhhuk," Linda terbatuk.


Dengan gerakan cepat, Agam segera memiringkan tubuh Linda ke posisi mantap atau istilah medisnya recovery position pasca resusitasi untuk menjaga jalan napas tetap terbuka, mengurangi risiko sumbatan jalan napas, dan mencegah aspirasi.


"Uhhuuk, uhhuk." Linda masih terbatuk.


Agam meraih satu tangan Linda, digenggamnya tangan itu, lalu dikecup beberapa kali.


"Alhamdulillah, akhirnya Anda sadar. Saya sangat bersyukur." Suara Agam gemetar.


"Pak Agam ...." Lirih Linda, ia meraih pipi Agam dan mengelusnya.


Agam menatapnya lekat, Linda membalas tatapan itu dengan lekat juga. Bibir Linda gemetar, beberapa detik kemudian airmatanya tumpah menganak sungai. Dengan cekatan Agam mengusap air mata Linda.


"Terima kasih karena Anda sudah sadar, jangan menangis," lirih Agam.


"A-apa Anda baik-baik saja?" tanya Linda.


"Seperti yang Anda lihat, saya baik-baik saja. Terima kasih karena Bu Linda mau menolong saya."


Dan secara naluriah, Agam membantu Linda untuk duduk, lalu memeluknya.


Linda terkejut, tubuhnya menjadi hangat, dan ia merasa bahagia.


Agam tersenyum, bahagia tiada terkira karena Linda berhasil diselamatkan. Lindapun tersenyum seraya menatap Agam yang berkeringat di wajah dan dadanya. Tanpa kaca mata, Agam labih tampan.


"Anda harus segera mendapat perawatan."


Tanpa menunggu jawaban, Agam memboyong Linda menuju lantai dua. Linda diam saja. Ia melingkarkan tangannya di leher Agam. Kejadian hari ini laksana mimpi, ia bingung harus dari mana memulai pembicaraan.


Agampun demikian, ia sadar sudah dijebak dan dicekoki obat. Sadar juga telah diculik para pria, tetapi detailnya ia tidak tahu. Perlu waktu untuk membuka rekaman pada sabuk canggihnya untuk mengetahui semuanya.


.


.


.


Di lift, Linda menatap Agam. Dari posisi ini, Agam begitu sedap dipandang. Sisi pria sejati dan perkasanya tampak jelas. Ada perasaan 'Gimana gitu ya' di hati Linda karena dibopong oleh pria tampan tanpa baju. Sangat aduduh.


Sementara Agam, rupanya sedikit grogi. Ia menengadahkan kepala menatap langit-langit lift. Jantungnya berzumba, tangan Linda menghangatkan tengkuk dan lehernya. Sangat aduhai.


.


.


.


"Apa perlu saya bantu bu-buka bajunya?"


Saat tiba di kamar Linda, ia tidak sadar mengatakan itu.


"A-apa? Ti-tidak perlu Pak. Saya bisa melakukannya sendiri."


"Baiklah, saya akan mendatangkan dokter Fatimah dan dokter pribadiku ke rumah ini."


"Do-dokter?"


"Iya, kondisi janin dalam rahim Anda harus dipastikan kesehatannya. Saya khawatir, tadikan Anda sempat tidak sadar. Selain itu kondisi saya juga harus diperiksa, saya merasa masih belum pulih."


Agam duduk di sisi tempat tidur dan memijat kepalanya.


"Apa yang Bapak rasakan? Apa saya bisa membantu?"


"Hahaha, yakin Anda ma membantu saya?"


"Akan saya coba, Pak."


Linda tersipu, teringat saat ia mencium Agam di dalam kolam. Dan Agampun tersenyum, ia teringat saat memberikan napas buatan pada Linda.


"Hahaha, kepala saya pusing Bu Linda, dan kepala yang lain ingin melakukan hal yang bukan-bukan. Uhuhuk, uhhuk." Diakhiri batuk terkekeh dan wajah tersipu.


"A-apa?!"


Spontan Linda menutup mulut, dan berlari ke kamar mandi. Tapi karena kondisinya belum stabil, Linda oleng dan terjatuh.


Terjatuh di dalam dekapan Agam.


"Hati-hati dong Bu Linda," Agam khawatir.


"Saya pernah menjadi anggota tim darurat 911 saat masih kuliah S1 dan S2. Anggap saja saya sedang menolong. Saya akan membantu mengganti baju Bu Linda sebelum dokter Fatimah dan dokter Ceppy datang ke rumah ini."


"A-apa?! Ta-tapi Pak."


Linda memeluk tubuhnya. Area sekitar tempat tidur terlihat basah. Basah oleh baju Agam dan Linda.


"Walaupun Anda menolak saya akan memaksa. Di dalam tubuh Bu Linda ada darah daging saya, jadi ... saya mohon, oke?"


"Ta-tapi, Pak ...."


"Sssttt."


Agam menempelkan jari telunjuknya di bibir Linda. Lalu perlahan merebahkan Linda.


"Pak ...." Linda masih ragu.


Agam menatapnya sambil tersenyum.


"A-apa Bapak da-dapat dipercaya?" tanya Linda saat tangan Agam sudah berada di atas kancing short shirt-nya. Siap membuka.


"Mu-mungkin bisa," jawab Agam.


'Klak.'


Kancing pertama berhasil dibuka. Linda berdegup, Agam mengurung tubuhnya. Dan saat ini tangan pria itu sudah berada di kancing nomor tiga.


Ini tidak seperti seorang petugas 911 yang sedang menyelamatkan korban, tapi ... mirip dengan adegan pria yang akan .... Akan ini, dan akan itu.


Linda tidak protes. Ia memejamkan mata kala seluruh kancing bajunya sudah terbuka.


"Bi-bisa bangun?"


Suara Agam gemetar. Ia benar-benar membuka baju Linda. Linda lalu menutupi tubuhnya.


"Pak Agam, saya rasa cu-cukup. Yang lainnya biar sa-saya saja yang buka."


"Baik, Anda buka sendiri. Tapi saya tetap di sini. Saya harus memastikan Anda baik-baik saja. Oiya itu ada susu kotak. Anda minum ya." Menusuknya dan memberikan pada Linda.


"Gunakan selimut ini untuk penghalang, Anda cepat buka roknya dan se-semuanya. Saya akan menyiapkan baju ganti."


Agam gugup. Linda kikuk.


"Uhhh," keluh Linda.


"Kenapa?" tanya Agam yang tengah membelakangi.


"Risleting roknya ma-macet Pak. Sa-saya kesulitan. Sepertinya slip. Aduh, aduh ...." Keluhnya lagi.


Dengan ringan hati, Agam balik badan. Linda terlihat bergerak-gerak seperti berguling-guling di bawah selimut.


Lalu keluarlah kepalanya sebatas leher mengintip Agam. Seperti kura-kura yang keluar dari cangkangnya.


"Bi-bisa bantu sa-saya?" tanyanya dengan wajah memerah.


"Apa?!"


"Sa-saya kesulitan Pak, risletingnya a-ada di belakang, dan slip." Kepalanya kembali bersembunyi.


Agam menghela napas.


Jikapun terjadi sesuatu, ini gara-gara kamu ya Bu Linda, kamu yang memintanya. Bukan aku.


Agam merangkak linglung dan masuk ke dalam selimut. Agam dan Linda mengambil risiko yang sebenarnya sangat berbahaya.


Kenapa?


Karena, pengaruh obat itu belum sepenuhnya hilang dari tubuh Agam.


Karena, "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan melainkan ketiganya adalah setan."


Atau ada yang mengatakan seperti ini, "Tidaklah seorang laki-laki yang menyepi atau berduaan dengan seorang wanita, kecuali yang ketiga dari keduanya adalah setan."


❤❤ Bersambung ....