AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
The Jealousy [Visual]



"Jangan bergerak," bisik Agam.


Posisi mereka berada diantara mobil yang terparkir, berjongkok. Agam di belakang, Linda di depan.


"Pak, apa-apaan sih, jangan bisik-bisik, geli tahu," keluh Linda seraya bergidik.


"Apa?"


Agam malah pura-pura tidak mendengar, hari libur minggu ini sungguh mengasyikan. Bisa main petak umpet bersama wanita yang dicintai membuat hatinya senang.


"Pak Agam cukup, situasinya sudah kondusif, ayo kita ke sana lagi, Pak. Aku mau menemui para penggemarku."


"Jangan, El. Saya tidak mau kulitmu terkena gas air mata." Kali ini malah memeluk Linda.


"Pak Agam! Aku tidak suka ya Bapak cari-cari kesempatan seperti ini." Ia menarik tangan Agam yang sudah berada di pingganngnya.


Sementara sayup-sayup keributan masih terdengar. Polisi sepertinya tengah mengatur masa dan para wartawan.


"Para wartawan tolong berada di depan pagar, dan pendemo di luar pagar. Jadi para pendemo ada di belakang wartawan ya," seru polisi.


"Pak, mana LB nya? Kita ingin bertemu, Pak. Kita ingin memberi dukungan." Teriakan dari kubu pro LB.


"Ya, Pak. Dia juga belum selesai bicara, kita memerlukan keterangan lebih lanjut mengenai identitas pria yang telah memperkosanya," teriak seorang wartawan.


"Pak, aku mau ke sana," kata Linda.


"Oke, tapi kamu jangan berpenampilan segemas ini, oke?"


Karena kondisi kondusif, Linda dan Agam berdiri di sisi mobil, kali ini tidak lagi bersembunyi.


"Apa?! Menggemaskan dari mananya? Kenapa memangnya kalau aku seperti ini?"


"El, sudah jangan banyak protes, di mobil saya ada jaket, kamu pakai jaket saya. Gerai juga rambut kamu." Agam sibuk membuka kunciran rambut Linda, berikut akesorisnya.


Lalu ia mengambil jaket warna biru dongker untuk dipakaikan pada Linda.


"Pak, gerah," keluhnya.


"El, patuhlah, oke?"


"Pak, serius gerah, panas. Lho, masa harus pakai syal juga?" Linda gelisah.


Sedangkan matanya sibuk memantau area sekitar. Memastikan jika kebersamaannya dengan Agam tidak dicurigai.


"El, lebih baik kamu yang gerah dan panas daripada pria-pria itu. Kamu cantik, pendukung kamu yang tadi menerobos pria semua. Saya tidak bisa membiarkan kamu terbuka."


"Oke, oke. Oiya Pak, aku biasa saja. Di mata Bapak aku cantik karena Bapak menyukaiku."


Agam menghela napas, memandang wajah bening itu seraya tersenyum.


"Apa kamu memiliki ilmu pemikat?"


"Apa?! Ya, tidak lah Pak."


"Apa kamu menyantet saya?"


"Apa? Pak Agam, istighfar Pak .... Ilmu santet dan perdukunan itu musyrik. Dosa besar yang tidak akan diampuni karena menyekutukan makhluk lain selain Tuhan kita," tegasnya. Matanya mendelik.


"Ya, saya tahu. Saya berbicara seperti ini karena kamu di mata saya teramat cantik. Tidak tahan saya, El. Kamu bertambah cantik setiap harinya."


"Pak Agam tidak lucu, deh. Gombal Bapak tuh. Aku pergi ya. Bapak lihat dari jauh saja, jangan sampai ada yang mencurigai kita."


"Baiklah, hati-hati ya cantik. Oiya El, saya tidak menggombal, kamu memang cantik," puji Agam.


Sambil meremas rambutnya sendiri. Sadar jika ia telah terpikat dan terjerat. Agam bahkan tidak akan marah jika ada yang mengatakan padanya sudah gila karena LB.


***


"Apa tadi? Cantik? Kemarin-kemarin dia juga bilang sayang. Semua pria mungkin akan seperti itu jika ada maunya. Suka berlebihan," gumam Linda saat ia berjalan sendiri untuk menemui petugas kepolisian.


Sementara Agam masuk ke dalam mobilnya. Lalu menyalakan ponsel untuk menyaksikan live streaming demo yang sempat ricuh itu.


"Mencintai artis ternyata sedikit rumit, kamu milikku Linda, aarrghh," geramnya saat melihat Linda digandeng polisi.


"Berani sekali polisi itu memegang tangan calon istriku!" Agam memukul setir.


Pria itu mulai posesif setelah melihat tatapan para pria pada Linda.


Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Agam yakin ia tidak akan ikhlas merelakan kemolekan Linda untuk dikonsumsi publik.


"Kalau kamu sudah menjadi istriku, kamu tidak perlu melakukan apapun, El. Kamu hanya boleh bernyanyi dan menari untukku. Aku saja yang mencari uang."


Kini Agampun mulai berbicara seorang diri, apa ketularan dari bibir LB? Eh, entahlah.


Rasanya tidak bisa jika pria itu berdiam diri. Benar, Agam harus ke sana. Ke area di mana Linda berada. Pria itu bergegas. Berdalih ada perlu dengan pihak kepolisian saat ada staf yang bertanya padanya.


"Mau ke mana, Pak? Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau menanyakan kronologi bentroknya masa, dan mau melihat sejauh mana kerusakan akibat bentrokan itu," dalihnya.


Ia menjawab sambil melangkah cepat menuju halaman utama HGC Tower.


.


.


.


.


Agam mulai mendengar bagaimana para pria itu meneriaki nama LB, dan memuji kecantikannya. Tersentak jantungnya manakala ia melihat beberapa penggemar membawa bucket bunga untuk Linda.


Dengan senyum sumringahnya, Linda menerima bunga itu. Ada banyak bunga yang disodorkan kepadanya, tapi Linda hanya mengambil dua bucket.


"Lihat ke kita Nona LB. Pose-pose," teriak kameramen, entah dari media mana.


Ada puluhan juru kamera. Kini, LB tengah tersenyum pada kamera yang berada di depannya. Setelah sebelumnya berpose sambil berputar perlahan agar seluruh mata kamera bisa membidiknya.



"LB cantiiik," teriakan itu adalah kalimat yang paling sering digaungkan.


DEG, Linda tiba-tiba kaget.


Bukan teriakan cantik itu yang membuatnya kaget, tapi ... pria di jarak lima meter itu.


Kenapa Pak Agam ikut ke sini, sih? Untuk apa coba? Aku kan jadi gugup, batinnya.


Sementara para pendemo yang kontra LB, kini hanya bisa terdiam. Posisi mereka terhalang oleh barisan para wartawan. Selain itu, volume pendemo juga sedikit berkurang setelah gas air mata ditembakkan.


Agenda LB saat ini adalah bertemu fans dan awak media. Ia terus diapit sampai tiba di podium, dan Agam berdiri di sisi lain. Tengah berbincang dengan seorang polisi.


"Langsung saja, Nona El." kata polisi yang mengapitnya.


"Terima kasih atas kehadiran fansku, aku terharu mendapat dukungan dari kalian. Sungguh, ini menjadi imum penguat untukku. Hampir saja aku berburuk sangka karena merasa sangat dibenci," terangnya.


"Aku berdoa untuk semua pendukungku, dan yang membenciku, semoga sehat selalu, dilancarkan rizkinya dan berada dalam lindungan-Nya."


"Aamiin."


Seruan itu menggema dari arah pendemo dan wartawan.


"Nona, El. Jika Anda diboikot, bagaimana kehidupan Anda kedepannya?"


Seorang wartawan langsung mengajukan pertanyaan.


"Em, kalau aku tidak ada pekerjaan lain, rencananya mau pulang ke kampung halaman dan jadi pedagang buah seperti ayahku. Kalau ada waktu senggang, aku mau membuat channel YT. Rencananya mau cover lagu," jawabnya sambil tersenyum.


Senyuman yang mengakibatkan kepala Dirut HGC berdenyut karena tiba-tiba pening.


"Kenapa, Pak?" tanya polisi pada Agam yang tiba-tiba memijat keningnya.


"Saya sedikit keracunan," jawab Agam asal.


"Keracunan?! Gas air mata?" Polisi disampingnya terkejut.


"Hahaha, bukan Pak. Saya keracuan bunga. Suatu hari saya pernah menyesap sekuntum bunga, dan setelah itu saya keracunan sampai saat ini," bisik Agam.


"Wah, bunga apa tuh, Pak? Bahaya lho, apa bunganya sudah diuji lab?"


"Bunga desa," jawab Agam.


"Apa?! Ahhahha." Polisi itu tergelak.


Dan keduanya tertawa bersama, mata mereka fokus ke depan. Memandang bintang cantik yang tengah menjawab pertanyaan.


"Kira-kira siapa ya Pak yang memperkosa LB? Saya mengutuk dia. Tapi, dia beruntung sekali. Hehehe, melihat LB seelok ini saya jadi penasaran dengan pelaku."


Gluk. Agam menelan saliva.


Pelakunya ada di sini, di sampingmu. Bahkan bahu kita saling menempel. Mungkin itu yang dipikirkan Agam saat ini. Agam hanya tersenyum kecut.


Dan LB, saat ini sedang menjawab pertanyaan ke tiga tentang ... siapa dia? Siapakah pria yang ia caci-maki, yang ia ludahi, hingga memperkosanya?


"Mohon maaf, aku tentu saja tidak akan mengatakannya, ini adalah rahasia di antara kami berdua," jawabnya.


"Latar belakang pria itu dong Nona, LB. Bisa disebutkan?"


"Kalau Anda jadi diboikot dan HGC membatalkan kontrak, apa benar stasiun TV KITA akan kembali merekrut Anda?"


"Benarkah Anda akan membuat album?"


Pertaanyan terus bergulir seiring dengan hujaman sorot kilat kamera yang menshainingkan wajah cantiknya. Linda belum memakai kaca mata lagi sejak kabur dari mansion.


"Latar belakangnya sangat baik, itu saja sih. Masalah TV KITA yang akan merekrutku lagi, hal itu sama sekali tidak aku ketahui. Malah aku baru dengar sekarang dari rekan-rekan media. Kalau memang infonya benar, akan aku pertimbangkan," jawabnya. Lalu mata Linda melirik ke sana.


Ke mana dia?


Agam tidak ada di tempat semula. Yes, kepercayaan diri Linda bertambah. Tadi saat ada Agam, jujur ia gugup. Tatapan Agam itu seolah mengandung sihir.


Saat bertatap dengan mata sayunya, hati Linda seakan melemas. Jadi ingin memberikan apapun yang ia miliki pada pria berbahaya itu.


.


.


.


.


Kenapa Agam Ben Buana berbahaya?


Linda sudah tahu jawabannya. Ya, benar.


"Mari kita bocorkan saja rahasia besar tentang seorang Agam Ben Buana sekarang juga."


Agam Ben Buana adalah anggota bagian sipil Badan Rahasia Negara. Dia direkrut oleh tim rahasia. Tim itu adalah tim rahasia dari negara ini, dan tim lain yang berasal dari berbagai negara.


Artinya, badan ini memiliki jaringan internasional. Konon, Badan Rahasia Negara adalah duplikasi rahasia dari Badan Intelijen Negara.


Ssstt ....


Ini sangat rahasia. Tolong jangan mengatakannya pada siapapun, atau ... nyawamu menjadi taruhannya.


Ihhh, menyeramakan.


Linda bergidik ngeri. Ia larut dalam lamunan tentang misteri terselubung di balik sosok Agam Ben Buana. Bisa-bisanya ia jadi calon istri pria itu.


Linda jadi teringat saat ia pertama kalinya sadar jika Agam adalah anggotan badan itu, ia hampir pingsan. Pantas saja kalau dia bisa meretas, menguasai lima bahasa asing, pandai menembak dan mahir bela diri.


Dan satu hal lagi ....


Pipi Linda tiba-tiba merona. Menurut Linda, pria itu pandai juga dalam hal .... Untuk masalah ini hanya Linda yang tahu.


"Nona LB, Nona LB."


Linda mengerjap dan tersadar saat beberapa orang wartawan memanggilnya. Seberapa lama ia melamun? Entahlah.


"Ada yang perlu aku jawab lagi?" tanyanya.


"Album," celoteh seorang wartawan.


"Tapi katanya Anda sudah rekaman di studio pak Abun SS," sela wartawan lain.


"Oh, hehehe. Itu bukan rekaman, itu hanya tes vokal. Ya, awalnya memang ada rencana untuk proyek single lagu. Tapi proyek itu gagal karena satu dan lain hal."


Para wartawan saling menatap dan mengangguk, keterangan Linda sudah mereka dokumentasikan.


Lalu ada wartawan dari luar negeri, ia bertanya menggunakan bahasa negaranya. Sial, itu bukan bahasa asing yang dikuasai Linda. Bahasa apa itu?


"Essayer d'expliquer les produits HGC qui seront boycottés? Ne vous sentez-vous pas coupable d'avoir fait baisser le stock de HGC?"


"Apa?! Aduh, hehehe, mohon maaf saya tidak tahu maksudnya. Can you speaking ...? tanya Linda.


"Je veux te séduire parce que tu es belle alors je veux juste utiliser la langue de mon pays," tambah wartawan asing itu.


(Aku ingin menggodamu karena kamu cantik, jadi mau pakai bahasa negaraku saja).


"Tolong, ada yang bisa membantuku menjadi translator?"


Semua menggeleng, dan pria di ujung sana mengeraskan lehernya saat wartawan itu mengatakan kalimat kedua. Ya, dia adalah Agam. Marah besar pastinya ketika ia tahu wanitanya sedang digoda.


"Fanny, saya akan jadi translator untuk dia. Ayo dampingi saya naik ke podium," ucapnya.


"Apa?! Tidak perlu Pak."


"Fanny," sentaknya.


"Wartawan asing itu bertanya tentang saham dan produk HGC, tentu saja saya juga berhak memberikan pendapat."


Tanpa menunggu jawaban Fanny, Agam bergegas.


.


.


.


.


"Saya bisa menjadi translator."


Agam mengangkat tangan saat posisinya sudah dekat dengan podium.


"Pak Dirut?" Semuanya terkejut.


Tidak terkecuali Linda, namun ekspresi Linda berubah sinis saat melihat Agam membantu Fanny menaiki dua anak tangga menuju podium.


"Ehem, begini Nona, dia mengatakan ... coba jelaskan tentang produk HGC yang akan diboikot, apa kamu tidak merasa bersalah telah menyebabkan saham HGC menurun?" katanya.


"Wah Pak Dirut hebat ya, bisa mengerti bahasa itu." Bisik-bisik para staf.


"Aku mengutuk keras orang-orang berani memboikot produk HGC hanya gara-gara aku. Aku pikir mereka bodoh. Berani sekali memboikot produk anak bangsa, di tengah menjamurnya produk asing."


"Betul-betul," teriak pro LB yang berasal dari kalangan pengrajin.


"Je condamne fermement les personnes qui osent boycotter les produits HGC juste à cause de moi. Je pensais qu'ils étaient stupides. Comment osez-vous boycotter les produits des enfants de la nation, au milieu de la prolifération des produits étrangers," kata Agam.


Membuat semuanya terpukau pada kemampuan Pak Dirut.


"Hello, untuk kalian yang mau memboikot produk HGC, khususnya yang aku iklankan, apa kalian tahu dari mana produk itu berasal? Bagaimana produk itu dibuat? Siapa yang terlibat dalam pembuatan produk itu?"


"Produk ini adalah faktualisasi bagaimana HGC dan masyarakat mengambil peran dalam pengurangan dan penanganan sampah di negara ini, khususnya sampah yang ada kedalaman laut," kata Linda.


Ia berbicara cepat dan tegas. Seperti tidak memberi kesempatan pada Agam untuk menterjemaahkan.


"Melalui produk ini, HGC sedang mengajarkan pada masyarakat bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun menjadi tanggung jawab kita bersama."


Hening ....


Ucapan Linda seolah menohok hati para haters.


"Keberhasilan HGC dalam membuat sistem pengelolaan sampah yang berhasil guna dan berdaya guna harusnya merubah mindset dan perubahan pola pikir agar kita bisa lebih peka terhadap lingkungan. Kalian yang mau memboikot berarti miskin pola pikir."


"Wah ...." LB FANS CLUB terpukau.


Ya ampun, dia cantik dan cerdas. Batin Agam, lalu ia mentranslate lagi dengan lantangnya.


"Terima kasih," ucap Linda pada Agam tanpa menoleh.


"Sekali lagi, jika kalian ingin boikot, boikot aku saja, jangan produk HGC-nya."


Sejenak ia melirik pada Agam yang diapit Fanny dan staf sekretarisnya, batin Linda kembali gelisah. Lalu ia kembali berargumentasi.


"Apa yang dilakukan HGC dalam pengelolaan sampah harusnya diapresiasi dan didukung."


"Karena selain mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan sampah, melalui produk ini HGC juga telah berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat yang terlibat dalam produksi."


"Tolong berpikir, jangan bodoh dan jangan mau dibodohi," tegasnya.


Matanya sedikit memicing ke arah Pak Dirut. Agam hanya mengulum senyum.


Ia tahu betul kalau Linda cemburu, bahkan sedari tadi saat ia meraih tangan Fanny, ternyata Agam sudah bisa membaca gelagat Linda.


Selesai Agam menterjemahkan, Linda lanjut ke masalah saham.


"Aku tidak merasa bersalah kalaupun saham HGC anjlok. Karena penyebabnya bukanlah aku. Penyebabnya ya kalian-kalian yang mau memboikot. Selebihnya untuk masalah saham, silahkan tanyakan saja pada pak Dirut," ketusnya.


Linda berubah jutek, orang berpikir ia marah pada hatersnya. Padahal, Linda cemburu. Maunya Linda, Agam tidak dekat-dekat dengan staf wanitanya.


Linda pergi begitu saja saat Agam masih memberikan pemaparan.


Kepergian Linda dielukan, diiringi tepuk tangan dari para fansnya, serta senyuman getir dari para hatersnya.


Agam tidak fokus saat memberikan pemaparan karena melihat Linda pergi.


Ingin segera mengakhiri sesi wawancara ini, namun masih banyak poin yang harus ia sampaikan pada media.


Terpaksa membiarkan Linda, ia yakin dapat menemukan wanita itu setelah sesi ini usai.


***


Linda melangkah tidak tentu arah di lorong HGC. Terbesit keinginan ingin memiliki tempat tinggal, tapi ... saat ini ia tidak memiliki apapun.


Bahkan tasnya yang berisi perlengkapan pembelian Bagas, ada di dalam mobil Agam.


Linda akhirnya masuk ke toilet wanita. Kondisinya sepi. Ia menyalakan keran air, lalu ... menangis. Entah apa yang ia tangisi. Iapun bingung.


"Ayah ... ibu ...." Lirihnya.


"Aku merindukan kalian, apa kalian melihat penampilanku?"


Linda duduk di toilet sambil memeluk bucket bunga. Kembali menangis sampai semidu-semidu.


'Tok, tok, tok.' Pintu kamar diketuk.


"Ya tunggu," sahut Linda.


Ia bergegas keluar.


"Kenapa lama sekali?" protesnya.


"Pak Agam? Sejak kapan Bapak di sini?"


Linda kaget melihat Agam sudah berada di depan pintu kamar mandi.


"Sejak kapannya tidak penting," tegasnya.


Tangannya sigap merebut bucket bunga dari tangan Linda lalu membuangnya cepat ke tempat sampah.


"Pak, kenapa di buang?!"


Linda beranjak untuk mengambilnya.


"Jangan."


Sebelum bunga itu berhasil diraih, tangannya sudah ditahan oleh Agam.


"Ini bungaku Pak, bunganya cantik sekali. Bapak tidak berhak membuang barang milikku. Kenapa Bapak tidak menghargainya?"


Lindak kesal. Semakin marah saat Agam benar-benar menginjak bunga cantik itu.


"Saya akan membeli yang lebih cantik dan lebih mahal dari bunga itu."


Sambil menarik tangan Linda menuju area parkiran melalui jalur khusus yang steril dari pengunjung lain.


"Pak Agam jahat," keluhnya.


"Huukkss ....."


Linda masih terisak-isak saat sudah berada di dalam mobil.


"Maaf, untuk bunganya. Saya cemburu El, saya tidak mau kamu menerima bunga dari laki-laki lain selain dari saya."


"Sama bunga saja Bapak cemburu, padahal bunga yang aku pegang hanya tumbuhan. Bukan manusia yang bisa bersolek, menggoda, dan berdandan seksi, seperti sekretaris dan staf Bapak," tegas Linda.


Ia memalingkan wajah keluar jendela. Matahari kian terik, bayangan mobil yang bergerak melewati jalan raya itu tampak tegak lurus.


"Kamu cemburu?" tanya Agam, sambil meraih tangan Linda dan meletakkan di dadanya.


Linda ingin menolak, tapi tangan Agam terlalu kuat.


"Kita impas, kita sama-sama cemburu. Maafkan saya ya. Saya hanya berniat menolong. Tadi ... anak tangganya licin, sepatu Fanny berhak tinggi, kalau dia jatuh, bisa jadi menimpa saya."


"Sedangkan saya tidak mau tertimpa oleh tubuh wanita manapun selain tubuh kamu, hehehe," katanya.


Linda menunduk saja.


.


.


.


Namun beberapa saat kemudian. Iapun terpaksa berbicara, karena Agam tidak melepaskan tangannya.


Agam terus menciumi tangan Linda dan meminta maaf.


"Maaf, El. Di hati saya hanya ada kamu, jangan marah, oke?"


"El, maafkan saya dong. Please ...."


"El, jangan marah. Jangan menunduk terus, El ...."


Sambil menyetir dengan satu tangan, bibirnya terus mengoceh.


"Ki-kita mau ke mana, Pak?"


"Kita mau ke rumah sakit."


"Rumah sakit?"


"Apa kamu sudah memaafkan saya?" tanyanya lagi.


"Belum," jawab Linda.


"Hmm, apa dengan menciumi tanganmu tidak cukup?" Agam menghela napas.


"El, apa saya harus mencium bibirmu dulu baru kamu bisa memaafkan saya?" tanya Agam.


Sambil menepikan mobil di sebuah taman kota.


"A-a-apa?" Linda kaget.


___


Jika di bab ini, nyai mampu mengetik 2750 kata, maka pembaca akan mampu menulis di kolom komentar berapa kata ya?


Percayalah, nyai sangat suka jika ada komentar. Laksana penyemangat untuk terus memantau Agam-Linda dan menuliskan di bab selanjutnya.


Satu kata saja sudah membuat nyai bahagia, kok. Terima kasih, hehehe ....