
Linda juga mengangguk saat dokter Fatimah menatapnya. Padahal, hatinya begitu bingung dan tidak faham.
Bahkan saat dirinya sampai di lift yang menuju lobi, ia masih kebingungan.
Linda terkejut ketika sampai di pintu keluar. Ia yang sedang mematung harus menahan teriakan ketika seseorang menariknya ke dalam mobil sport.
.
.
.
'Klik.'
Pintu mobil terkunci di saat Linda masih mengatur napasnya karena kaget. Dan baru juga Linda akan menyapa si pengemudi, mobil itu sudah melesat dengan kecepatan tinggi.
"Aaaa! Kamu bisa membunuh janinku, Tuaaan! Hentikaaan," teriaknya.
Linda memegang handle, matanya terpejam.
"Aku bahkan belum memakai sabuk pengaman," kata Linda.
Sambil melirik ke arah si pengemudi yang tiada lain adalah Deanka Kavindra Byantara.
"Anda, Tuan Deanka, kan?" Sambil berusaha memakai sabuk pengaman, Linda memberanikan diri untuk bertanya.
"Bukan," jawabnya singkat.
"Apa? Tapi kok mirip? Jangan membohongiku, walau Anda memakai masker aku tahu."
Linda mengusap dadanya saat mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang dan ia berhasil memakai sabuk pengaman.
"Jangan bawel! Aku tidak suka! Jangan banyak tanya karena aku tidak akan menjawab, kalau saja kamu bukan wanita yang dicintai Maga, aku tidak akan mau membawamu ke dalam mobil pribadiku," ketusnya.
"Maga lagi, Maga lagi, Maga itu siapa, Tuan?"
"Sudah aku bilang jangan bertanya, dan jangan melihatku. Karena seseksi dan secantik apapun kamu, aku tidak suka. Wanita yang aku suka hanya Aiza. Istriku, wanita tercantikku," jawabnya.
"Maaf ya Tuan. Aku hanya bertanya. Tidak usah melantur kemana-mana. Lagipula aku tidak mungkin suka sama pria beristri." Linda cemberut kesal.
"Ya, aku tahu. Kamu menolak pinangan Rufino Pederik, kan? Nah, aku keponakannya dia."
"Aku tidak bertanya, tidak usah membahas itu," kata Linda.
"Hmm, mari kita bicara serius. Kita akan menuju ke tempat rahasia, milik pacar kamu."
"Maksudnya?" Linda semakin bingung.
"Maaf jika sikapku kasar, aku baru sadar kalau kamu juga sedang hamil sama seperti istriku."
"Emm, jadi begini, Maga adalah Agam Ben Buana, itu nama legal dia sebagai anggota BRN, oiy ---."
"Apa?!" Linda menutup mulutnya.
"Diam! Aku belum selesai bicara!" bentaknya.
Linda spontan mengatupkan bibir.
"Oiya di tempat yang akan kita kunjungi, jangan sekali-kali menyebut nama Agam ataupun namaku, karena aku juga memiliki nama lain dan ---."
"Apa?! Jadi Tuan ju ---."
"Diaaam! Siapa yang menyuruhmu bicara, hahh?" bentaknya lagi. Sementara mata hazelnya tetap fokus pada jalanan.
"Ma-maaf, Tuan. Jadi begitu? Apa yang terjadi dengan dia, Tuan? Dia baik-baik saja, kan? Kalau begitu tolong cepat-cepat bawa mobilnya. Aku ingin segera bertemu."
Walaupun Deanka melarangnya untuk berbicara, tapi Linda teramat khawatir.
"Hmm, kali ini kamu aku maafkan karena sedang hamil. Agam hampir mati ---."
"Apa?!"
Mata Linda membelalak. Dan lima detik kemudian Linda sudah berkaca-kaca.
"Hei, tidak perlu panik! Tidak perlu menangis! Dia tidak mati, aku hanya mengatakan hampir mati. Berhenti menangis atau kamu tidak akan bertemu dengannya lagi," ancamnya.
"Huuks, ba-baiklah ...." Lirih Linda. Ia menangis dalam diamnya.
"Agam tertembak di ---."
"Apa?! Huuu ...."
"Ya Tuhan, aku bisa gila kalau lama-lama berbicara dengan kamu. Diaaam! Agam hanya tertembak di kakinya. Dia berenang jauh dan terdampar di pantai perairan Laut Tenggara, tapi timku sudah berhasil menyelamatkannya. Sekarang mau dilakukan operasi darurat pengangkatan proyektil peluru."
"Aku sengaja membawamu menemuinya agar kamu tahu sisi lain dari kehidupan dia. Agam sangat mencintai kamu, aku tidak mau jika suatu hari kamu menyesal, menyakitinya, lalu meninggalkannya."
"Ja-jadi ... aku ke sini bukan karena pak Agam menyuruh Tuan?" Linda menoleh sambil mengusap airmatanya.
"Bukan, ini inisiatifku sendiri, aku tidak mau dia menyembunyikan apapun dari kamu. Aku tidak mau kerumitan cinta yang dulu dialami aku dan Aiza terjadi pula padamu dan Agam."
Deanka menghela napas.
"Dulu ... karena aku banyak merahasiakan banyak hal dari Aiza, perjalanan cintaku dan Aiza menjadi rumit dan sulit," tambahnya lagi.
"Tapi ... Tuan dan nona sudah bahagia, kan sekarang?"
"Emm, kebahagiaan itu tercipta saat kita bersukur. Aku dan Aiza bahagia karena kita selalu bersyukur dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang lebih membutuhkan."
"Bagiku, Agam bisa dikatakan sebagai separuh jantungku. Aku banyak berhutang nyawa pada dia, jika saja aku tidak mengenal dia, mungkin ... hari ini aku sudah tidak ada di dunia ini, atau ... ada tapi mendekam di rumah sakit jiwa."
"Agam itu malaikat penolongku selain ayah Bahir. Melalui pelantara dia, Tuhan menolongku," pungkasnya.
"Ya, aku sudah pernah mendengar cerita tentang Anda dan nona. Oiya Tuan, kita mau ke rumah sakit?" tanya Linda.
"Bukan, kita akan ke sebuah tempat. Sebentar lagi sampai. Ingat pesanku, jangan banyak bicara, jangan melepas masker kamu jika tidak ada perintah."
"Ba-baik," Linda tetap mengiyakan walaupun dirinya bingung.
"Bagus, orang-orang disana seluruhnya memakai head mask. Kamu jangan kaget, jangan takut. Mereka baik, kok."
"Apa aku harus memakai head mask juga?" tanya Linda.
"Hahaha, tidak perlu, pakai masker biasa saja. Sebenarnya kalaupun mereka tahu kalau kamu adalah LB. Tidak ada masalah juga sih."
"Oiya Tuan, kenapa mereka harus bersembunyi-sembunyi? Memangnya sesama anggota BRN tidak boleh saling mengenal?" tanya Linda. Dan matanya mengernyit saat mobil itu tiba-tiba masuk ke sebuah taman.
...*...
...*...
...*...
...*...
Deanka mengatakan akan segera tiba. Tapi, ia tidak melihat bangunan apapun di sekitaran.
"Jangan berasumsi dan banyak bertanya, ini bukan markas BRN, orang-orang yang ada di sana bukan anggota BRN. Aku dengar dari Agam kalau kamu tahu tentang keanggotaan Agam di BRN, itulah alasan kenapa aku berani membawa kamu ke tempat rahasia ini."
"Lalu, markas apa?"
"Sudahlah, diam. Kita akan sampai."
Linda semakin bingung saat mobil itu berhenti di sebuah tanaman bunga yang merambat pada sebuah pagar bambu berukuran tinggi sekitar dua meter dan lebar lima meter.
Lalu Deanka berbicara pada alat komunikasi yang terpasang di dashboard.
"Aku datang," katanya.
Dan rumput hijau di hadapan pagar bunga yang merambat itu tiba-tiba bergeser lambat dan terangkat ke atas.
Linda terkejut.
Terlihatlah lorong nan luas di baliknya. Mobil Deanka melesat ke dalam sana. Tempat ini adalah sebuah ruangan rahasia, entah milik siapa.
Sebuah ruang bawah tanah yang berukuran sangat besar. Dari dindingnya, Linda yakin jika tempat rahasia ini sudah dibangun sejak puluhan tahun yang lalu, namun ada beberapa bagian yang sepertinya telah direnovasi.
Penerangannya sangat bagus. Intinya, mirip dengan lintasan atau keadaan di stasiun kereta api bawah tanah. Bedanya, di sini sepi.
.
.
.
.
"Waaah, luar biasa," decak Linda.
"Sssstt," sela Deanka.
Kiri kanan lintasan ruangan itu terdiri dari ruangan bersekat dengan kaca buram. Jadi, aktivitas di baliknya sama sekali tidak terlihat.
"Kok sepi ya, Tuan?"
"Karena semuanya sudah diseting otomatis," jawabnya.
Lalu salah satu ruangan kaca itu terbuka, dan mobil Deanka masuk ke dalam.
Setelah turun dari mobil mereka melewati lorong dan masuk ke sebuah ruangan yang mirip dengan klinik.
Beberapa orang menyambut, dua orang pria, dan satu orang berperawakam wanita. Mereka berkomunikasi dengan Deanka menggunakan bahasa isyarat. Linda tidak mengerti.
Dan Linda hampir pingsan saat melihat bed yang di atasnya telah terbaring Agam Ben Buana.
Pria itu Terpasang infus dua jalur dengan darah berlumuran di kakinya.
Hanya Agam di ruangan itu yang tidak memakai masker, wajah Agam pucat pasi, dengan bibir yang perlahan gemetar seperti tengah demam atau kedinginan.
Agam tidak memakai baju, hanya memakai boxer warna putih, dan dalaman warna biru merk ternama yang mengintip dan terlihat bagian atasnya.
"PAK!?" Linda panik.
Langsung menghampiri Agam, dan membangunkannya.
"Pak A ---." Lalu ingat amanat Deanka.
"Mmm-Ma-ga, Maga," Linda memeluk bahunya.
"Tolong jelaskan! Kenapa dia seperti ini?! Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?! Apa kalian sengaja ingin membuatnya mati?!" teriak Linda dengan air mata berurai.
Yang merasa bahunya dipeluk, langsung merespon. Alangkah terkejutnya Agam saat menyadari keberadaan Linda.
"El? Ke-kenapa di sini?"
Agam tercengang, namun saat tahu ada Deanka, ia jadi faham kenapa Linda bisa ke tempat ini.
"Kalian di luar dulu ya," perintah Deanka pada para pria yang mengelilingi.
"Dia sok jagoan! Menyelinap ke kapal musuh seorang diri saat kakinya sudah tertembak. Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit. Alasannya agar identitasnya sebagai anggota BRN tidak diketahui oleh orang yang tidak bertanggung jawab," terang Deanka sambil meletakan telapak tangannya di kening Agam.
"Kenapa dari pihak BRN tidak mau menolongnya? Harusnya dia dibawa ke rumah sakit khusus untuk para anggota BRN, kan?" Linda masih bertanya dengan nada tinggi.
"El, saya baik-baik saja. Tuan, kenapa membawa dia ke sini?" Agam menatap Linda lalu mengusap airmatanya.
"Dia keras kepala, Linda. Kata dokter dia demam. Dia tidak bisa dibawa ke sana karena dia sendiri yang memaksa menyelinap tanpa izin dari komandan. Peraturannya seperti itu."
"Kenapa tidak adil sekali? Pak ... huuu ...." Linda menangis di sisi bed.
"Huh, manis sekali. Kamu tidak tahu saja kalau sebelum ke sini aku dan Aiza .... Emm, sudahlah."
Deanka mengepalkan tangannya. Ia khawatir Aiza merajuk, padahal tadi sebelum ditinggalkan, Deanka melihat dengan jelas dan faham jika istrinya sedang *****.
"Oiya nona Aiza bagaimana, Tuan? Maaf aku baru ingat. Aku tidak sengaja," kata Linda.
"Hahaha, dia baik-baik saja. Sangat baik, kulitnya sobek, tapi kata dokter tidak perlu dijahit. Lukanya kecil, kok." Terang Deanka.
Lalu Deanka membantu Agam untuk bersandar.
"Kamu itu sedang sakit, Maga. Kok berani sekali ikut operasi."
"Karena saya ingin memastikan kalau calon mertua saya baik-baik saja, Tuan. Ayahnya Linda ada di kapal yang dibajak."
"Jadi ayah dan Hikam ada di kapal itu?"
"Ya El," jawab Agam sambil meringis.
"Ya ampun, Pak. Terus bagaimana keadaan mereka sekarang?"
"Mereka baik-baik saja, saya sudah menyuruh seseorang untuk mengawasi."
"Terima kasih," ucap Linda.
"Tapi, apa tidak apa-apa kalau Bapak di sini saja?"
"Hmm, tidak apa-apa. Jam 8 malam saya ada rapat penting dengan klien untuk membahas rencana penanaman pohon mangrove (pohon bakau) di kawasan pantai pusat kota. Jadi, saya harus operasi darurat sekarang juga," terangnya.
"Apa tidak bisa diundur, Pak?"
"Tidak bisa, El. Kalau saya ketahuan sakit karena tertembak, mereka bisa curiga. Keanggotaan saya sebagai BRN kan sangat rahasia."
.
.
.
.
Belum juga Linda menanyakan hal lain, dua orang pria masuk.
"Tuan, obat anastesinya hanya ada setengah dosis, bagaimana? Tapi kita memiliki obat pembaal lokal lidocain," kata seseorang pada Deanka.
"Lho, kok bisa kekurangan? Bukannya sediaan kita banyak?" Deanka marah.
"Ada, Tuan. Tapi yang banyak itu sudah expired."
"Tidak apa-apa, lakukan saja. Gunakan lidocain," sahut Agam.
"Apa?!"
Deanka dan Aiza terkejut. Pun dengan dua orang tadi.
"Kamu yakin?"
Deanka memastikan. Sedangkan Linda hanya bisa melongo.
"Saya yakin, Dok. Lagipula di ruangan ini ada sumber kekuatan, dia." Kata Agam sambil melirik pada Linda.
"Hahaha," yang di ruangan itu tergelak kecuali Linda tentunya.
"Baik, lakukan sekarang. Hahaha, dia itu kuat, Dok. Aku yakin pasti bisa," kata Deanka.
Kemudian Agam berbaring lagi.
"Dok, apa tidak bisa kalau beli dulu obat biusnya?" Linda khawatir.
"Maunya kami begitu, Nona. Tapi waktu kami di tempat ini dibatasi. Jika beli dulu, operasi daruratnya bisa gagal dan terntunda. Selain itu, kondisi Pak Agam juga sedang demam, bius umum tidak dianjurkan untuk pasien-pasien demam," terang dokter yang mana dia juga memakai head mask.
"Betul, operasi darurat dengan bius lokal lidocain efeknya lebih aman, tapi ... sedikit sakit. Lidocain hanya mengurangi sakitnya saja. Bagaimana, Maga? Siap?" tambah yang lainnya. Kemungkinan dia dokter juga. Saat ini tengah mendesinfeksi kaki Agam dengan betadine.
"Siap," kata Agam. Matanya tidak berpaling dari menoleh Linda.
"Bulu kaki di sekitar lukanya harus kita weksing dulu ya, Pak. Agar tidak mengganggu proses pengangkatan proyektil."
"Terserah," kata Agam.
Jumlah petugas medisnya ada tiga orang, diantara mereka ada yang memanggil Agam dengan 'Maga,' ada juga yang 'Bapak.'
"Aaaa," teriak Agam ketika bulu kakinya diwaksing.
"Hahaha," disambut tawa puas dari Deanka.
Tim medis menahan tawa, dan Linda mengusap-usap pipi Agam.
"Terima kasih," kata Agam sambil menahan tangan Linda yang menempel di pipinya.
"Sekarang kita akan masuk ke tahap injeksi lidocain dan insisi jaringan. Mohon tarik napas, ini sakit," terang dokter.
"Hmm, baiklah. El kamu jangan mengintip kalau takut, oke?"
"Tidak, Pak. Aku tidak akan mengintip."
Linda menatapnya mata sayu yang indah itu. Airmatanya tidak tertahan lagi. Ia merasa miris pada risiko dan keberanian Agam. Demi integritasnya sebagai anggota BRN, Agam rela kesakitan.
"Aaarrggh ...." Rintih Agam saat lidocain disuntikkan.
Lalu bisturi tajam menyobek bagian betis kirinya. Ya, Agam tertembak di daerah itu.
Agam memegang tangan Linda. Bibirnya digigit kuat untuk menahan sakit. Matanya berkedip-kedip, sesekali menutup rapat.
"Sabar ya, Pak ...." Linda menyemangati.
Sementara Deanka terlihat berlalu dari ruangan itu karena ada panggilan telepon.
Dan Agam semakin mengerang kesakitan saat dokter mengorek-ngorek, dan mengoyak bagian dalam dari epidermis dan endodermis kulitnya untuk mencari keberadaan proyektil.
"Lumayan dalam Pak. Maaf ya sedikit lagi. Pangkal proyektilnya sudah tampak."
"El," panggil Agam dengan suara lirih.
"Iya Pak," bisik Linda.
"Lakukan sesuatu agar saya tidak terlalu kesakitan, please ...," bujuknya.
"Apa? Apa yang harus aku lakukan?"
Linda bingung, tangan Agam berkeringat, dan wajahnya memerah acap kali menahan rasa sakit ketika pinset medis mengorek dan menusuk jaringan kulitnya.
Namun Agam pantang mengeluh pada dokter, ia hanya berani mengeluh pada Linda. Ia kembali menggigit bibirnya agar tidak berteriak.
"Anggap saja sedang merasakan sakitnya melahirkan, Pak. Dulu aku juga sakit sekali," bisik Linda.
"A-apa?" Agam tersenyum ketir. Jadi malu saat mengeluh lagi.
"Pak, proyektilnya sudah kami dapatkan," kata dokter.
Lalu terdengar suara 'Trek' saat proyektil itu diletakkan di bengkok medis.
"Hmm," Agam bisa bernapas lega begitupun dengan Linda.
"Sekarang proses jahitnya. Nah, ini lebih sakit," terang dokter.
Dan ....
"AAA," spontan Agam berteriak saat tusukan pertama jarum jahit menembus kulitnya.
Serius, Linda tidak tega. Tapi ... apa yang harus dilakukan?
"El, serius ini sakiiit ...," keluhnya.
"Emm, sabar Pak. Sabar. Anggap sedang melahirkan." Suara Linda lumayan kencang hingga dokter mendengarnya.
"Melahirkan lebih sakit dari ini, ini tidak seberapa," sahut dokter.
"Be-berapa jahitan lagi, Dok?" tanya Agam dengan bibir gemetar. Bibirnya tampak bengkak dan memerah.
"Empat jahitan lagi," jawab dokter.
"Sabar Pak, sabar." Linda kembali mengingatkan.
Dan tusukan teramat menyakitkan itu kembali datang.
Serius, Agam sangat kesakitan. Ya, lidocain memang tidak terabsorbsi di jaringan kulit bagian luar. Itulah alasan kenapa Agam merasa sakit.
Tidak bisa, aku tidak tahan. Ini menyakitkan. Batinnya.
Dan saat tusukan selanjutnya kembali menikam, dengan gerakan cepat Agam menarik tengkuk Linda untuk mecium bibir milik si seksi itu.
Ditariknya masker penghalang itu, dan ....
"Mmmph ..."
Mata Linda membulat. Bibirnya seolah tertarik ke dalam pusaran medan magnet.
Untung saja dokter tidak melihat karena ada sekat penghalang. Dan Agam tidak melepaskan Linda hingga jahitan keempat berakhir. Mata Agam terpejam saat ia beraksi dengan mahirnya.
Terima kasih sudah membawa dia ke sini, Tuan Muda.
Batin Agam bergumam saat merasakan tusukan itu tidak lagi menyakitkan karena otak Agam sudah terpusatkan pada rasa lain dengan sensasi yang terasa manis, hangat dan nikmat.
Rasa yang faktanya memang memiliki efek membiuskan dan membuatnya nyaman.
Dan Deanka yang baru saja masuk langsung membalikan badan di ambang pintu. Baru kali ini ia melihat Agam Ben Buana semesum itu.
Ya ampun Agam, kamu gila. Rutuknya dalam hati sambil mengerjapkan mata.
Namun sedetik kemudian ia tersenyum, dan mengendap perlahan ke arah dokter.
"Sssstttt," ucapnya perlahan pada tim dokter yang baru saja akan mengatakan pada Agam jika prosedur operasi darurat telah usai.
"Why?" Seseorang dokter bertanya pelan.
Lalu Deanka nenyatukan dan mematukkan kedua ujung jari tangannya untuk membuat gerakan kissing process.
Tim dokter terkejut, bersamaan dengan suara Linda yang terbatuk-batuk. Lalu terdengar suara Agam.
"Terima kasih, ma-maaf sayang ... saya terpaksa," suara Agam.
"Pak Agam nakal! Kenapa haru begitu, sih? Aku marah," suara Linda.
"Ini sifatnya drurat, El." Kilah Agam.
"Hahaha," tawa Deanka pecah. Disusul kemudian tawa dari tim dokter.
Tirai terbuka.
Dan terciduklah Agam yang sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Dan Linda yang cepat-cepat berdiri dan berlari dari ruangan itu dengan wajah merona.
---
...Vote jika berkenan, terima vote. Eh, maksudnya terima kasih....