
Linda memulung plastik yang tergeletak itu dengan hati yang teramat hancur, bagaimana mungkin ia bisa bersama dengan orang yang diduga menjadi penyebab kematian pamannya.
Terlalu menyakitkan untuk dipaksakan bersama dengan pria itu sebelum Linda tahu kebenarannya. Ia butuh waktu untuk mengambil keputusan yang tepat. Linda tidak mau mendurhakai dan melukai perasaan pamannya jika terus bersama Agam.
Ya, Agam memang belum tentu bersalah, tapi ... apa pantas seorang ponakan merahasiakan sebuah fakta?
Fakta yang bisa jadi adalah kunci terungkapnya kasus kebakaran tersebut.
Linda memeluk bungkusan makanan itu di dadanya, hatinya begitu sakit dan dilema.
"Pamaaan, maafkan aku. Aku sangat mencintai dia, paman. Dia adalah ayah dari anak yang sedang aku kandung saat ini. Aku tidak bisa menuduh dan menyalahkan dia sebelum ada keputusan dari kepolisian."
"Aku tidak bisa memenjarakan dia paman, keberadaan dia sangat penting untuk HGC dan ratusan ribu karyawannya. Nama baik dia harus dijaga demi kestabilan HGC dan kesejahteraan seluruh karyawannya. Aku tidak bisa egois, paman. Pak Agam sedang berjuang demi keadilan sosial dengan caranya sendiri."
"Sekarang aku faham, kenapa dia banyak musuhnya. Dia sedang melawan perusahaan asing yang ingin melakukan akuisisi dan invasi terhadap HGC, serta sedang sedang melawan kebijakan pemerintah tentang undang-undang itu. Paman adalah karyawan, andai paman tahu apa yang sedang diperjuangkan oleh pak Agam, paman juga pasti pasti akan menyukainya."
"Hanya dengan cara ini aku membuktikan rasa hormat dan sayangku pada paman. Yaitu ... dengan cara menjauhi pak Agam sampai semuanya terungkap, atau sampai waktu yang aku sendiri tidak tahu sampai kapannya."
Linda berbicara seorag diri, seperti orang yang kurang waras.
Dengan tangan gemetar ia membuka makanan itu. Ada dua porsi nasi merah, sayur sup organik, dua porsi jus buah naga organik, dua porsi ayam kukus, dan kacang polong oven. Yang tercecer ternyata hanya salad buahnya.
"Pak Agam ...."
Linda kembali menangis, makanan ini ada dua porsi, itu artinya ... Agam pun belum makan dan kemungkinan ingin makan berdua bersamanya.
"Kami sudah mengusir pria itu Nona LB." Polisi tadi datang lagi.
"Di mana dia sekarang, Bu?"
Linda ternyata tidak bisa berbohong pada hatinya. Ia khawatir pada Agam, apalagi saat tahu jika Agam belum makan.
"Ada di mobilnya, Nona. Katanya, dia akan menunggu sampai Nona LB pulang."
"Apa?! Oiya Bu, bolehkan aku menitip pesan?"
"Boleh, Nona. Pesan apa?"
"Tolong berikan makanan ini pada fans tadi. Katakan terima kasih. Dan satu hal lagi, katakan jika aku sudah mengambil bagianku dan akan memakannya."
"Baik, Nona. Tidak perlu sungkan."
Polisi itu meraih kantung plastik yang diulurkan Linda dan berlalu lagi meninggalkan Linda sendirian.
Setelah mencuci tangan, Linda kemudian memakan paket makanan pembelian Agam dengan perasaan campur aduk. Sedih, sakit, dan rindu.
Baru saja berpisah kurang dari sepuluh menit, kerinduannya pada Agam sudah membuncah.
"Kita makan ya sayang .... Ini pemberian papa kamu," gumamnya sambil mengusap perutnya.
Linda makan sambil menangis.
~Beberapa saat kemudian~
Petugas polisi yang tadi, kembali mendatangi Linda. Dia membawa dua buah tas untuk Linda.
"Nona, ini dari fans Anda. Katanya barang ini hadiah untuk Anda." Menyerahkannya pada Linda.
"Terima kasih Bu," sahut Linda.
Linda meraih tas itu. Yang tidak lain adalah tas berisi ponsel dan perlengkapan dari Yohan, serta tas lain yang di dalamnya berisi dompet dan ponsel pemberian dari Agam.
Ada banyak panggilan tidak terjawab dari Yohan, dan ada belasan pesan dari Agam.
"Tiba-tiba Yohan menanggilnya lagi.
"Lica, ada di mana kamu sekarang? Mau dijempuat jam berapa? Pokoknya, jam setengah sebelas malam, kamu harus sudah berada di Haiden's Mansion. Aku tidak mau tahu."
Yohan menutup panggilan sebelum Linda mengatakan apapun. Lalu ia membaca pesan dari Agam.
"Kamu sudah makan, kan?"
"Kamu boleh membenci saya, tapi tolong jangan mendiamkan saya seperti ini, mari kita bicara, El."
"Saya akan menunggu kamu sampai kamu keluar. Kamu harus pulang ke mansion agar Yohan tidak curiga. Saya akan mengantar kamu. Saya juga akan menginap di mansion, saya memiliki unit juga di mansion itu."
"Oiya, bagaimana makananya? Enak, kan? Suka? Saya juga sudah makan. Tapi tidak banyak karena terus memikirkan kamu dan merindukan kamu. Mari kita bicara untuk masalah ini. Jika memang kamu ingin saya jujur pada polisi, oke akan saya lakukan sekarang juga."
"Saya sudah siap menanggung risikonya, walaupun saya tahu ini terlalu dini."
Setelah membaca pesan itu, Linda kemudian menelepon Agam. Pada dering pertama langsung diangkat.
"Hallo, Assa ---."
"Pak Agam, kalau Anda memang mencintai saya, tolong jangan mengatakan apapun pada polisi. Seperti analisa Pak Agam sebelumnya, kita tunggu saja hasil akhir penyelidikan diputuskan."
"Tapi, El .... Saya tidak mau kamu ma ---."
"Aku tidak marah, Pak. Aku hanya perlu waktu untuk mengambil keputusan. Kalau Pak Agam mencintaiku, tolong hargai keputusannku, tolong ... untuk sementara waktu, sebaiknya ... kita tidak saling bertemu."
"Sampai kapan, El? Tolong jangan menyiksaku seperti ini. Saya tidak sanggup lagi berpisah denganmu, El."
"Mari bicara setelah hasil autopsi keluar, dan aku mengurus kepulangan jenazah pamanku ke Pulau Jauh."
"El, biarkan saya yang mengurusnya, saya akan mengantarkan jenazahnya sekalian saya melamar kamu. Boleh? Kamu tetap di sini, El. Ku mohon El, serahkan semua urusan pada saya. Kamu tidak perlu melakukan apapun, kamu sedang hamil. Kamu tidak boleh kecapekan. Saya memohon atas nama ayah dari anak yang kamu kandung."
"Jika saya harus membuktikan cinta saya ke kamu, maka buktikan juga cintamu pada saya, El."
"Aku juga mencintai Pak Agam, tapi aku bingung, aku merasa berdosa pada pamanku karena menutupi fakta itu pada polisi, tapi ... aku juga tidak mau melibatkan Pak Agam ke dalam masalah ini."
"Linda, saya akan tetap menuggu kamu di parkiran rumah sakit ini sampai kapanpun. Sampai kamu mau keluar menemui saya dan kita bicara. Ayo kita hadapi semua ini bersama-sama, El."
"Pak Agam pulang saja, sebentar lagi aku mau dijemput oleh orang suruhannya tuan Yohan. Pulanglah Pak, besok Bapak mau kerja, kan?"
"Tidak mau, El. Saya akan tetap di sini, katakan saja pada Yohan, kamu akan pulang bersama saya. Katakan juga kalau saya akan berinvestasi di perusahaan dia."
"Apa? Tolong jangan gegabah, Linda. Kita ikuti dulu permainan dia, oke? Dia manusia nekad Linda, saya tidak mau kamu terlibat masalah dengan pria itu."
"Mari kita bicara Linda, kalau kamu tidak mau keluar, menit ini juga saya akan mengatakan semua nya pada polisi kalau saya memperkosa kamu, dan saya menembak ban mobil paman kamu."
Linda panik, ternyata Agam nekad.
"Jangan seperti itu, Pak. Ka-kalau Bapak senekad itu, bagaimana dengan HGC? Bukankah Bapak akan memperjuangkan hak para buruh dan melindungi HGC dari invasi Asing?"
"Saya tidak peduli Linda, saya tidak peduli lagi dengan karir saya. Mungkin ... dengan saya hancur dan dibenci oleh semua orang, kamu akan merasa puas dan bahagia. Saya serius dengan kata-kata saya Bu Linda Berliana."
"A-apa?! Pak Agam, Anda tidak serius, kan? Halo, halooo," Linda semakin panik, Agam memutus panggilan secara sepihak.
Linda bergegas, ia memindahkan barang-barang yang ada di dalam tas yang terpasang kamera pada tas lama pemberian Agam, lalu meninggalkan tas selempang yang berkamera mikro itu di ruang tunggu rumah sakit tersebut.
"Dia nekad sekali," gumamnya.
"Nona LB, mau kemana?" Di koridor ia dicegat oleh polisi wanita.
"Hasil autopsinya adanya kapan, Bu? Apa saya boleh pulang dulu?" tanya Linda.
"Tentu saja boleh, Bu LB, hehehe. Aduh maaf ya, kalau saya si lebih suka memanggil Bu LB. Hasil autopsi kemungkinan besok pagi selesai," terang polisi wanita yang lainnya.
"Tidak apa-apa, Bu. Baik, kalau begitu saya pulang dulu."
Linda berjalan cepat di koridor, ia tidak ingin Agam nekad mempermalukan dirinya sendiri di hadapan publik. Tangan Linda terlihat sibuk pada ponselnya. Ia akan menghubungi Yohan.
"Halo Tuan Yo, aku tidak perlu dijemput, aku mau pulang diantar oleh Pak Agam."
"Apa?! Diantar? Hahaha, bagus. Lanjutkan, Lica. Pastikan dia mau berinvestasi di perusahaan rekamanku."
Linda segera menutup panggilan, lama-lama berbicara dengan Yohan berdasarkan pengalaman sebelumnya, ia sering mual.
"Bu LB, mau pulang sekarang?" Seorang polisi muda menguntit.
"I-iya, Pak."
"Apa boleh saya meminta tanda tangan?" Sambil menyodorkan buku catatan.
"Boleh," langsung membubuhkan tanda tangan dengan terburu-buru.
.
.
.
Di parkiran, Agam sudah menunggu, ia menyandarkan tubuhnya pada badan mobil, masih memakai masker.
"Linda," panggilnya. Hendak meraih tangan Linda tapi ditepis.
"El ... jangan menyiksa saya, tolong, please ...."
Si tampan merengek sambil menguntit Linda yang langsung berjalan menuju pintu sisi samping kemudi.
"El," menghalangi Linda yang hendak membuka pintu mobil.
"Pak Agam, katanya mau mengantarku ke mansion, kan? Ya sudah, yuk." Ajaknya. Tanpa mau menoleh pada Agam. Niatnya sih ingin belajar untuk menghindari Agam.
"Baik, tapi malam ini kita harus tetap bicara." Ia membukakan pintu untuk Linda.
"Linda, tadi kamu tidak serius, kan? Kamu tidak serius ingin berpisah, kan?" Agam memulai pembicaraan setelah mereka berada di dalam mobil, dan Agam melajukan kemudi.
"Aku serius Pak Agam, setidaknya sampai hasil penyelidikan itu selesai."
"Jika hasilnya terbukti saya bersalah, apa kamu mau memafkan saya? Apa ini alasan kamu ingin kita pisah?" desaknya.
"Pak Agam, aku juga bingung, untuk saat ini ... tolong jangan memaksaku. Aku ingin berpikir sejenak, berdoa, lalu mengikuti kata hatiku." Linda tertunduk.
"Ya sudah begini saja Linda, sekarang tolong katakan apa yang kamu inginkan, dan apa yang harus saya lakukan," kata Agam sambil membuka sedikit kaca mobil dan menengadahkan telapak tangannya menghadap ke udara.
"Sepertinya akan hujan, gerimis," gumamnya. Lalu menyalakan wiper saat hujan mulai melebat.
"Kamu kedinginan?" tanyanya.
"Tidak," jawab Linda, kaku.
~Sepanjang perjalanan hanya diisi keheningan~
"Pak Agam, kenapa jauh sekali? Kenapa belum sampai ke mansion?" Linda keheranan.
"Memangnya siapa yang akan membawa ke mansion?" Agam membuka maskernya dan tertawa Licik seperti penjahat.
"Ha ha ha ha," terbahak.
"Pak Agam?!" Linda kaget.
"Jika si Yohan saja bisa menculik kamu, apalagi saya, LB," katanya.
"Pak Agam, jangan bercanda! Ini serius mau kemana kita, Pak? Ini juga bukan arah menuju rumah Pak Agam. Pak, tolong jangan membuat saya bingung," keluhnya.
"Setelah kita tiba di tempat yang saya maksud, maka kamu tidak akan bingung lagi," kata Agam. .
Agam memperlambat laju kemudi, karena hujan semakin deras, dan jarak pandang mulai terbatas.
'DUAR.' Terdengar suara petir yang memekik telinga.
Kilatan petir itu sejenak menerangi jalan dan membuka jarak pandang.
Astagfirullahaladzim.
Agam dan Linda spontan saling menggenggam.
❤❤ Bersambung ....