
Gama membuka matanya. Menatap sekeliling dan bingung. Awalnya, ia berpikir sudah mati, tapi ... sepertinya belum mati. Gama berada di sebuah kamar mewah nan megah.
Gama mengernyitkan alisnya, sedang mengingat kembali kejadian yang telah ia lalui.
Tadi, entah di jam berapa, Gama ingat jika ia berhasil mematikan timer bom. Namun saat timer itu mati, Gama tiba-tiba pusing, berkunang-kunang dan pingsan.
"Apa aku pingsan karena kelelahan berpikir mematikan timer bom? Ini gila, kenapa aku jadi terlibat dengan BRN?" keluhnya. Ia memasygul kuat rambutnya sendiri.
Lalu kaget sendiri karena rambutnya sudah basah dan wangi shampo. Gama mencium tangan dan tubuhnya. Benar saja, wangi juga.
"S i a l! Siapa yang memandikanku?" gumamnya. Berdiri, mondar-mandir di kamar super besar itu sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Ia melotot menatap pantulan dirinya di depan cermin besar yang ada di kamar itu. Gama sudah memakai setelan rapi. Dasi, sabuk, dan lain-lain. Tak main-main, baju yang ia kenakanpun branded. Gama tahu benar kisaran harganya.
Mata Gama membeliak. Saat ia mengecek baju terdalamnya, ternyata sudah diganti juga.
"Gila, dari mana mereka tahu ukurannya? Terus HP-ku, tasku, di mana?" keluhnya.
Gama mengelilingi kamar itu untuk mencari pintu keluar, tapi tidak ditemukan.
"Tempat macam apa ini?" tanyanya pada diri sendiri.
"Ini adalah kamar spesial untuk Sultan Yasa."
Kalimat itu berasal dari interkom. Sepertinya bukan suara manusia, tapi mesin. Mirip suara robot. Lurus tanpa intonasi.
"Heh, aku mau keluar! Aku mau pulang! Kenapa aku dikurung?!" teriaknya.
"Anda tidak dikurung, Anda sedang kami layani, Anda adalah calon anggota BRN yang sangat spesial. Anda sangat berharga bagi BRN. Anda, Anda, Anda."
Entah error atau apalah, bunyi mesin itu terdengar aneh. Mengulang kata 'Anda' berulang-ulang.
"Anda m e s u m." Lanjut mesin itu.
"APA?! K u r a n g a j a r kamu!" teriak Gama.
"Ha ha ha," interkom tertawa.
"Diam kamu! Oiya, bagaimana kamu bisa tahu kalau aku sering dipanggil Sultan Yasa, hah?!"
"Karena BRN kepo. Kepo, kepo, kepo," katanya.
"Aku bisa gila kalau tinggal di kamar ini terus, aku mau pulang! Tunjukkan pintunya!" Gama berteriak lagi.
"Ini adalah kamar milik Sultan Yasa, silahkan berkenalan dulu dengan kamar ini. Mulai hari ini, Anda berada di bawah pengawasan kami. Apa yang Anda lakukan akan kami pantau."
"Tidak mau! Aku bukan boneka kalian! Aku tidak mau hidup diatur-atur seperti ini!"
"Aku bukan boneka-boneka, aku bukan boneka." Mesin itu malah bernyanyi.
"Aaargh!"
Gama berteriak putus asa. Berharap jika ini hanyalah mimpi.
"Cukup main-mainnya mesin b o d o h! Sekarang keluarkan aku dari kamar ini!"
"Anda bisa keluar dan bebas, tapi Anda harus mengikuti perintah kami."
"Tak sudi!" kata Gama.
"Pasti sudi," timpal mesin.
"TIDAK AKAN!" tegas Gama.
"Pasti akan," jawab mesin.
"S I A L!" umpat Gama.
"Anda saja yang s i a l, kami tidak. Ha ha ha ha."
"AAAA," Gama berguling-guling di lantai saking putus asanya.
"Sultan Yasa, tolong jangan berguling-guling di lantai, baju Anda mahal."
"Aku tidak peduli!" jawab Gama. Masih berguling.
"Sebentar lagi Anda akan peduli."
"Tidak!" bentak Gama.
"Apa ini yang Anda pedulikan?" tanya mesin.
'Tring.'
Salah satu layar monitor di ruangan itu menyala.
Deg.
Gama melotot.
"I-ICE ...."
Layar itu menampilkan slide kebersamaannya dengan Freissya. Di kafe, minimarket, dan di apotik.
"K u r a n g a j a r! Jangan melibatkan dia!" kata Gama.
"Baik, kami akan menjaga gadis itu, asalkan Sultan Yasa mengikuti perintah kami."
"Kalian jahat!" teriak Gama.
"Kami tidak jahat, hanya sedikit menakutkan dan menyebalkan."
"Baik, aku akan patuh, tapi ingat jangan coba-coba menyakiti gadis itu."
"Tidak akan, kami tidak akan menyakitinya."
Lalu pintu kamar terbuka otomatis. Terlihat ada lorong menuju pintu keluar. Ada mobil dan motor mewah di setiap sisi lorong itu.
"Sultan Yasa bebas menggunakan kendaraan manapun, silahkan nikmati fasilitas yang kami sediakan dengan sewajarnya. Akan ada hukuman jika Anda menggunakannya untuk kejahatan."
Gama menghelas napas. Kembali larut dalam kebingungan. Bingung sebingung-bingungnya.
"Apa Anda bingung? tanya mesin itu.
"Ya," jawab Gama.
"Sama, kami juga bingung," kata mesin itu.
"Dasar mesin gila! Siapa yang memprogram kamu?!"
"Maga, Maga, Maga," jawabnya.
"Apa?!" Gama melongo.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Tangan Linda gemetar kala membuka satu persatu-persatu kancing piyama milik Agam.
"Gugup, lagi?" Agam tersenyum.
"Ta-takut Keivel bangun," elaknya. Kini mengikuti Agam. Memanggil putranya dengan nama Keivel.
"Kamu seksi," bisik Agam. Sekarang tangan Pak Dirut mulai berjalan. Membuka piyama Linda.
"P-Pak Agam juga seksi," cicit Linda. Serius, semakin bawah, tangannya semakin gemetar.
"Call me, Maga," bisik Agam. Sambil menghimpit tubuh Linda hingga tak ada ruang untuk bergerak.
"Mm-Maga, pintu kamar mandinya kita buka, ya. Kalau Keivel nangis ---."
"Oke, saya faham," sela Agam. Lalu menarik handle, membuka pintu kamar, tapi hanya sedikit.
"Sayang ...." Agam memangku Linda, lalu meletakan istrinya itu di sisi wastafel.
Linda gugup, menggigit ujung kuku telunjuknya saat Agam membuka piyamanya. Agam menelan saliva kala melihat keelokan itu. Linda menunduk, takut terjadi apa-apa, takut Pak Dirut melampaui batas.
Agam mengelus plester tahan air yang menutupi bekas luka operasi pasca SC. Lalu dikecupnya. Pria itu berlutut demi mengecupi seluruh bagian di daerah itu.
"Pak ... stop," Linda memegang bahu Agam.
"Kenapa, sayang?"
"Ge ---geli," ucap Linda.
"Ini latihan sayang, kedepannya, kamu akan terbiasa, ini tidak seberapa, nanti akan lebih dari ini." Sambil menyeringai penuh kemenangan.
Agam kemudian berdiri, menangkup pipi Linda dengan kedua tangannya, lalu menciumnya perlahan dari mulai puncak kepala, kening, kelopak mata, hidung, pipi, hingga akhirnya berlabuh di sana.
Linda jadi bingung, dalam hal ini, siapasih yang sebenarnya akan dimanjakan?
Agam memagutnya dengan sedikit kasar. Hasratnya kian memuncak. Siapa sih yang tidak tergoda jika bentukannya semolek dan seindah ini?
"Uhhh ... uhmm ...." Linda kewalahan mengimbanginya.
Belum juga Linda protes, Agam sudah membopong tubuhnya menuju bathup tanpa melepas pertautan itu.
Tanpa menurunkan tubuh Linda, tangan Agam begitu mahir menyalakan air hangat untuk mereka berendam.
Harusnya aku mengatakan kalau plesternya anti air. Rutuk Linda dalam batinnya.
"I love you ...."
Ucap Agam saat membawa tubuh Linda berendam. Linda mengalungkan tangannya. Bersembunyi di balik tengkuk Agam dan memejamkan mata. Serius, ia takut plester penutup lukanya terbuka. Secara, ini baru pertama kalinya terendam air.
Tapi ... rasa takutnya terkalahkan oleh rasa itu. Rasa ingin mengabdikan diri pada pria ini. Linda harus menunjukkan rasa cintanya pada Agam. Terlebih saat ini, Agam tengah berada di dekatnya, memeluknya, menguasai sekaligus berkuasa atas raganya.
"I love you too," ucap Linda.
Suamiku.
"Ss-sayang ... ayo ...," bisik Agam.
Dengan tangan gemetar, Linda meraih shower puff, Agam menumpahkan sabunnya, tanpa mengalihkan pandangan dari Linda. Linda mulai mengusapkan shower puff itu ke dada Agam.
"Ini pertama kalinya saya dimandikan istri, jadi gugup," kata Agam.
"A-aku juga baru pertama kali me-memandikan ma-manusia dewasa," terang Linda.
Linda kian kikuk, apalagi saat Pak Dirut melepaskan bagian itu.
Melepaskan apa? Entahlah.
Dan percayalah, Agam juga rupanya sama gugupnya. Jelas sekali telinga putihnya memerah sempurna.
"Ti-tirainya," kata Linda.
Ya, bathup super besar itu memang dilengkapi dengan tirai penutup. Tak mau berdebat, Agam segera menarik tirai. So, aktivitas di baliknya tidak terlihat lagi. Hanya saja, kata hati Linda dan Agam masih terdengar jelas.
"Keivel, help Mom, please .... Cepat bangun sayang ... Mom takuuut ...."
"Emh .... Uhh ..." Kata hati Pak Dirut.
Lalu ....
Hening ....
Hanya terdengar gemiricik air keran yang mengaliri bathup.
Tunggu, terdengar suara Pak Dirut.
Tapi ... seperti tercekat dan tertahan. Lalu terdengar napas Linda dan gumamannya. Tapi ... entah mengatakan apa.
"Mmm ... slowly sa-sayang ...." Itu suara Pak Dirut. Tidak diragukan lagi.
Selanjutnya ....
Linda juga bersuara. Suaranya terdengar sangat manja dan s e k s i.
Lantas ... Pak Dirut mengerang dan merintih halus. Apa yang terjadi? Mungkinkah Pak Dirut sedang kesakitan? Entahlah.
Lalu ....
Skip.
.
.
.
.
Tepat pada pukul Pukul 03.04 waktu setempat, Agam membopong Linda keluar dari kamar mandi. Bak bayi, tubuh Linda terbungkus handuk putih sebatas dada hingga lutut. Dan Pak Dirut hanya terlilit handuk putih yang menutupi bagian antara pusar dan lututnya.
Serius, handuk yang dikenakan Pak Dirut terlihat kekecilan. Agam dan Linda tersenyum saat melihat Alf masih terlelap.
Agam membaringkan Linda. Mengecup bibirnya lalu mengatakan ....
"Kamu tetap di sini, saya akan mengambil baju kamu. Jangan bergerak, bayi besar," kata Agam.
"Yang bayi besar itu Pak Agam, bukan aku," protesnya.
Agam hanya senyum-senyum, bergegas membuka nakas, mencari baju untuk Linda.
"Saya yang pakaikan."
"Tidak perlu, Pak. Aku bisa sendiri."
Linda mengambil pakaian itu dari tangan Agam dan berjalan seorang diri menuju ruang ganti.
"Sayang, tidak perlu sembunyi. Saya sudah melihat 90 persennya, masih malu juga?" tanya Agam. Pria itu malah menyusul ke ruang ganti.
"Pak Agam, gantian dong, kenapa Anda masuk?" Linda protes lagi.
"Wah, ruang ganti ini lumayan juga, nanti kita coba di sini ya, sayang."
"Pak Agam, awas!" usir Linda. Serius, ia kedinginan. Ingin segera memakai baju.
Agam bersikukuh, malah disengajakan memaksa membantu Linda memakai bajunya.
"Aaaa, Maga jangan," teriaknya.
"Sayang, tenang dong, kamu bisa membangunkan Keivel."
Karena Linda meronta, handuk Pak Dirut akhirnya terdampak. Handuk yang kekecilan itu jatuh ke lantai.
"Aaaa."
Linda berteriak lagi sambil menutup matanya yang kembali ternoda oleh sesuatu yang sebenarnya halal bagi Linda.
Pak Dirut gelagapan, rupanya dia malu dan terkejut juga. Segera meraih handuk itu dan memakainya lagi. Tapi ... yang terbangun kembali karena tersentuh Linda tidak dapat dipungkiri, pun tidak dapat disembunyikan.
Linda menyadari keadaan itu, pipinya merona, apakah harus ada reka ulang? Pikirnya.
"Sayang sa ---."
"Pak Ag ---."
Agam dan Linda berbicara serempak. Bibir mereka hendak berucap lagi, tapi ... tangisan di dalam inkubator menggagalkan rencana. Spontan keduanya keluar dari ruang ganti. Menghampiri bayi Alf sambil tersenyum.
Malam ini, Agam dan Linda merasa sangat bahagia. Mereka melewati malam bersama untuk pertama kalinya sebagai keluarga kecil. Agam telaten mengganti pampers dan pandai menenangkan bayi Alf.
Linda bangga, Agam benar-benar suami idaman.
Saat Adzan Subuh berkumandang, Agam masih memangku dan meninabobokan bayi Alf. Pak Dirut sama sekali belum beristirahat.
Pun dengan Linda. Sekarang, ia sedang memompa ASI untuk cadangan. Sambil memompa, Linda terkantuk-kantuk. ASI-nya hampir tumpah. Untungnya ada Agam yang mengingatkannya.
"Setiap tetesan ASI dari kamu akan dinilai sebagai satu pahala. Semangat ya sayang," gumam Agam sambil menatap Linda.
Dan saat menatap bayinya, Alf sudah tertidur. Agam meletakkannya di inkubator. Lalu menghampiri Linda yang ketiduran.