AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kacau Meracau [Bagian 3] [Warning!!!]



Kamar villa yang berada di lereng gunung itu menjadi saksi bisu bagaimana Agam Ben Buana merayakan gelora cinta dan hasratnya dengan begitu menggebu setelah hiatus dalam waktu yang lama.


Hingga ia tidak sadar jika tubuh seksi nan cantik yang kini menjadi candunya itu telah terkulai lemah tidak berdaya. Bahkan telah kehilangan rasa dan kesadarannya.


Agam Ben Buana tentu saja tidak menyadarinya.


Kenapa?


Karena mata sayunya tengah terpejam, namun bibir merah alami dan rongga mulutnya yang beraroma mint itu tampak terbuka. Sedang mengatur resonansi napasnya yang tak beraturan. Menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.


Dia yang gagah nan tampan itu masih berpacu dengan waktu, masih terjerat sang pemikat, tengah terseok-seok dan terhanyut dalam rasa nikmat yang mengikat.


Luar biasa, dalam keadaan pingsan saja tubuh Linda masih bisa mengimbangi kegilaan dan kekuatan Agam Ben Buana. Tubuhnya tetap menjerat erat.


Entah prosedur medis seperti apa yang telah dilakukan oleh dokter Fatimah dan timnya. Prosedur ini jelas sangat berbahaya jika dilakukan pada sembarangan wanita lalu digunakan untuk tindak kejahatan. Serius, rasa yang diberikan Linda benar-benar tak biasa dan sangat luar biasa.


Pada akhirnya, sekuat apapun tubuh manusia, pasti akan mencapai titik lelahnya jua. Pun demikian dengan Agam Ben Buana, setelah sekian lamanya menjelajahi nirwana dengan kecepatan tinggi, ia merasakan juga bagaimana rasanya terhempas nikmat ke permukaan bumi, melewati pusaran awan yang melenakan, meninggalkan jeratan labirin keajaiban.


Tersungkurlah sudah tubuh proporsional itu di sisi Linda, setelah menumpahkan segenap rasa, asa, cinta, kehangatan dan kerinduannya di dalam sana. Kulit halusnya mengkilat dihiasi peluh. Namun dalam kelelahan itu, batinnya tidak henti memuji serta bersyukur atas seluruh kenikmatan dan kesenangan ini.


Setelah napasnya mulai tenang, Agam membalikkan perlahan tubuh Linda yang tertelungkup pasrah. Diterlentangkannya dengan hati-hati. Dibawa ke dalam dekapannya yang berbulir dan basah. Dikecupnya puncak kepala Linda seraya melantunkan doa. Lalu mengucapkan terima kasih dengan setulusnya.


"Terima kasih sayang," ucapnya. Namun yang didekap tidak berkutik. Tidak ada respon pun pergerakan.


"Linda ...," panggilnya. Menggoyang lembut bahu indahnya. Tapi ... sama, Linda bergeming.


Pak Dirut mulai panik. Ia meletakan jari telunjuk di ujung hidung Linda, meraba nadinya, memegang lehernya. Kemudian ia sadar jika sang istri ... pingsan. Sama persis dengan peristiwa di hari itu.


Terkejut pastinya. Agam bangkit, tergesa memakai piyama bagian bawahnya, lalu mengambil kotak obat. Ia mengolesi hidung dan leher Linda dengan minyak hangat.


"Sayang ... maaf," sesalnya. Lalu mengecup bibir Linda yang terlihat membengkak karena ulahnya.


Kemudian membuat susu hangat yang tersedia di kamar itu. Membuka kulkas untuk mengambil camilan kering. Pak Dirut terlihat sibuk.


Dulu Linda pingsan, sekarang juga pingsan. Kenapa ya?


Agam bertanya pada dirinya sendiri. Mungkin belum sadar jika Linda pingsan karena tidak sanggup mengimbangi lamanya durasi Pak Dirut yang berbeda dari manusia pada umumnya.


Ssst, ini rahasia ya.


"El, sadar sayang, saya sudah selesai," lirihnya. Agam merangkul tubuh polos itu lalu diletakan di pangkuannya.


Berdesir hatinya tatkala melihat noda merah itu tercecer di sprei dan bagian tubuh Linda.


"Maaf sayang."


Kembali mengecup kening Linda. Dan Agam terkejut karena darah suci yang keluar dari sana jumlahnya lebih banyak dari waktu itu. Agam khawatir, terpikirkan untuk segera konsultasi dengan dokter Fatimah.


"Uhhuk," Linda siuman.


"El? Ayo minum susu dulu sayang," Agam merangkul leher Linda, lalu memberinya susu hangat. Linda meminumnya, tapi hanya sedikit.


"Apa yang dirasa sayang? Maaf ya," lagi-lagi meminta maaf.


"Sakiiit, perih ...," keluh Linda sambil menatap langit-langit.


Masih tidak percaya jika kesuciannya telah direnggut untuk kedua kalinya oleh pria yang sama. Pria yang merusaknya, memperbaikinya, lalu mengoyak dan merusaknya lagi.


"Besok pagi saya akan konsultasikan pada dokter Fatimah, sabar ya sayang. Kalau perlu saya akan menyuruh dokter Fatimah datang ke sini dengan timnya untuk memeriksa kamu."


"Ti-tidak perlu berlebihan Pak, aku baik-baik saja."


"Baiklah, sekarang kamu minum susunya lagi ya, setelah itu akan saya obati."


"Hah, a-apa yang diobati, Pak? Linda kaget.


"Milik kamu lah sayang. Milik kamu yang indah itu," bisiknya.


"A-apa? Ti-tidak perlu Pak, aku baik-baik saja, nanti juga sembuh kok. Aku hanya lelah, butuh istirahat," tolaknya.


"Sayang dengar ya, tubuhmu ini milik saya, aset saya juga. Tempat pariwisata saya ada di kamu. Salah satu sumber kesenangan dan kenikmatan saya ada di tubuh kamu. Saya bahkan sudah mengasuransikan semua bagian dari tubuh kamu. Dan bagian ini adalah yang termahal," jelasnya sambil menyentuh bagian termahal yang ia maksud.


"Awh ...."


Linda spontan memekik, sembari merinding, merasa jika kalimat Agam terlalu berlebihan


"Begitu juga dengan tubuh saya, El. Saya juga ada asuransinya."


"Huft."


Linda hanya bisa menghela napas. Ternyata seperti ini rasanya menikah dengan pria kaya-raya.


"Oiya sayang, apa kamu lapar? Selain camilan ini, apa kamu menginginkan sesuatu?" tanyanya sambil tak henti membelai rambut Linda.


"Tidak Pak .... Aku hanya ingin istirahat," lirihnya. Matanya mulai terpejam.


"Tidak mandi dulu sayang?" tanya Agam sambil merapikan rambut Linda yang berantakan.


"A-aku lelah Pak Agam, se-serius. Paling ... nanti bangun sebelum Subuh ya."


"El, apa kamu sangat tersiksa?"


"Tidak Pak, cukup ... kenapa membahas itu? A-aku tidak merasa tersiksa cuma lelah saja."


"Sayang, ini serius. Kamu puas, tidak? Tolong jawab jujur, karena kalau kamu tidak puas, itu artinya saya sudah berlaku tidak adil. Maksud saya tidak adil dalam memenuhi kebutuhan biologis kamu. Nafkah saya untuk kamu selain lahiriah kan ada batiniah juga sayang."


Serumit ini ternyata pola pikir seorang Agam Ben Buana, Linda kembali menghela napas. Bingung, mau menjawab apa ya?


"Kalaupun kamu tidak puas, saya bisa mengulanginya lagi, El."


"A-apa? Eh tu-tunggu Pak," yang awalnya mau diam saja jadi terperanjat. Mengangkat kepalanya.


"Pu-puas Pak, aku puas, tapi ---."


"Tapi apa, El? Kenapa kamu sampai pingsan sayang? Apa saya terlalu kasar? Tolong jelaskan, saya bahkan tidak tahu kamu pingsan sejak kapan. Saya merasa bersalah, El," keluhnya.


Tuh, kan?


Jadi istri Agam itu rumit, salah bicara sedikit bisa berakibat fatal. Linda kembali bingung. Mau mengatakan jika kekuatan Agam terlalu lama, tapi ... ragu.


Linda takut Agam tersinggung. Akhirnya, Linda berkata ....


"Emm, tapi ... tadi aku tiba-tiba pusing, Pak. Pingsan, deh. Hehehe, mungkin saking terlenanya." Semoga, tawa dan guyonan ini bisa menenangkan hati suaminya. Linda berharap seperti itu.


"Kamu pusing?" Agam menautkan alisnya.


"Kalau kamu tiba-tiba pusing bisa jadi kamu dehidrasi sayang. Mungkin kamu tidak cukup minum sebelum kita melakukannya. Atau kamu menahan lapar? Kelaparan bisa menyebabkan penurunan kadar glukosa darah, bisa menyebabkan kamu pusing, goyah, sampai pingsan. Tunggu ya sayang, saya pesan makanan dulu."


Agam beranjak, meletakan kepala Linda pada bantal.


Ya ampun, aku kan tidak lapar, hanya kelelahan. Batin Linda.


"Pak, aku tidak lapar."


"Ssstt, jangan banyak bicara sayang, bicara juga bisa menyebabkan kamu kelelahan," protesnya.


"Tadi kan aku sudah makan malam, Pak."


"Sayang, bisa diam tidak? Pokoknya kamu harus makan. Saya tidak jadi memesan. Saya akan masak sendiri untuk kamu. Tunggu ya," tegasnya. Mengoceh, tangannya sibuk mengganti piyamanya dengan t-shirt dan celana santai.


Linda mengintip dari balik selimut, perasaannya berdebar-debar, takut akan ada serangan susulan.


"Aaa, memalukan sekali. Kenapa sampai pingsan, sih?" teriak Linda, pelan. Saat Agam telah pergi.


"Ya ampun, apa aku tadi seperti kupu-kupu malam?" gumamnya, malu. Bersembunyi di bawah bantal.


"Tunggu, dia bukan robot, kan? Kenapa kuat sekali? Ya ampun, aku seperti bercinta dengan mesin, sekujur tubuhku terasa remuk," rutuknya.


"Hoaam," lelah yang bercampur kantuk kembali datang. Linda terlelap, masih dalam keadaan polos dan berdarah.


Namun, lima detik kemudian Linda membuka kembali matanya. Bukan membuka sih, lebih tempatnya melotot.


"Tunggu, dia tidak di dalam, kan?" Matanya membelalak.


"Pak Agam tidak memakai pengaman, aku juga tidak meminum pil kontrasepsi. Tidaaak, bagaimana ini?" Linda kalang-kabut.


Perlahan beranjak, niatnya ingin menyusul Agam. Tapi ....


"Uhh ...."


Linda kembali meringis. Efek sampingnya terasa lagi. Namun Linda tetap memaksakan diri, ia tidak ingin terpuruk seperti ini. Berusaha lagi, dan lagi. Hingga akhirnya berhasil turun dari tempat tidur, kemudian berjalan bak anak pinguin menuju kamar mandi.


Setibanya di kamar mandi, langsung menyiapkan air hangat untuk berendam. Setelah suhunya pas, Linda menaburkan sabun aroma yang berbusa dan kelopak bunga warni-warni ke atasnya.


.


.


"El, sayang."


Pak Dirut memanggil istrinya. Celingak-celinguk mencari Linda sambil membawa baki berisi menu hasil karyanya.


Agam meletakan baki itu di atas nakas. Ia tahu kalau Linda berada di kamar mandi. Pak Dirut tersenyum simpul, lalu menyusulnya. Pintu kamar mandi tidak dikunci, senyumnya semakin melebar. Segera masuk ke sana dan menutup pintunya rapat-rapat.


Deg, Agam terkejut, pemandangan di sana membuatnya kembali berhasrat. Seketika on go in.


Ada bidadari tertidur di bathup. Gayanya sangat menggemaskan. Bersandar anggun pada bibir bathup. Sikutnya dijadikan bantalan, kaki indahnya muncul ke permukaan, berselonjor. Bidadari itu cantik dan seksi.


Yakin Pak Dirut tidak akan tergoda?


Linda, oh Linda, kamu cari mati. Bisa-bisanya ketiduran dalam keadaan seperti itu.


Tanpa permisi, tidak perlu basa-basa basi. Agam menghempas seluruh penghalang, dan ke sana, ke dalam bathup pastinya. Lalu meraih dengan lembut bidadari itu ke pangkuan. Menyandarkan di didanya, membelai dan menciumi kulit mulusnya.


Sang bidadari tersadar, spontan beteriak.


Tapi ... terlambat. Agam telah terlebih dahulu membungkam bibirnya. Bidadari lemas, aroma mint itu membuatnya tak berdaya dan tunduk.


Skip.


Bunyi air di dalam bathyup kini bersahutan dengan suara kecapan dan kecupan itu. Rintihan Linda dan d e s a h a n nya, serta erangan Pak Dirut, menjadi bukti nyata jika mereka sedang ... dimabuk cinta.


Tapi ... ada satu hal yang membuat Pak Dirut bingung dan terkesima.


Apa itu?


Pak Dirut kembali kesulitan meraihnya. Ini serius. Ia harus merelakan kembali bahunya digigit Linda. Rasa yang tadi tercipta seolah terulang kembali.


"Huuks ... a-ampun Pak ... ma-masih sa-sakiiit, kumohon ... jangan dilanjutkan," rintihnya.


Linda berurai air mata, ia memeluk tubuh Agam erat-erat. Posisi mereka berdapan, sangat intim.


"Emm???"


Agam bingung, dilema tingkat dewa. Tapi ... Pak Dirut sangat penasaran dan mau. Ingin mengulang rasa yang dahsyat itu, lagi ... lagi ... dan lagi.


Skip.


...❤...


...❤...


...❤...


"Lapor Sultan Yasa, ada yang ingin bertemu dengan Anda," kata seorang polisi saat Gama tengah membaca buku di perpustakaan sekolahnya.


"Memangnya aku boleh bertemu dengan siapapun?" Matanya tetap fokus pada buku.


"Boleh, tapi tentu saja harus ada di bawah pantauan kami," jelasnya.


"Siapa sih? Paling juga temanku, kan?" Masih fokus pada buku.


"Sepertinya bukan teman sekolah Anda Sultan Yasa, dia tidak memakai seragam sekolah seperti Anda. Tapi jika dilihat dari penampilan dan wajahnya, saya yakin dia juga masih sekolah, wajahnya cantik dan imut. Em, seperti boneka," terang polisi itu.


"A-apa?"


Seketika, buku ensiklopedia yang sedang dibacannya terhempas ke lantai. Segera diambil oleh polisi yang lainnya.


"Ya benar Sultan, bagaimana? Apa Anda mau menemuinya? Kami beri waktu lima menit."


"Hmm, aku sebenarnya malas. Tapi, ya sudahlah, aku penasaran." Gama beranjak. Lalu melangkah santai. Tiga orang polisi menguntit.


"Kalian mengikutiku?"


"Ya Sultan Yasa, kami khawatir pada keselamatan Anda. Kami harus menjaga Anda."


"Itu dia, di sana."


Seorang polisi menunjuk bangku yang berada di luar gerbang sekolah. Terlihatlah gadis yang dimaksud.


Deg, jantung Gama bergejolak. Tapi, ia berusaha tenang. Ia sudah menduga jika yang ingin menemuinya adalah Freissya.


Langkahnya kian dekat saja. Semakin dekat pada gadis yang telah memberinya pengalaman terindah. Gadis yang membuatnya dewasa sebelum waktunya.


Freissya sedang menunduk, menatap kosong pada tas yang ada di pangkuannya.


I-Ice, kau kah itu? Aku merindukanmu, batin Gama.


Dia semakin cantik saja.


Ingin rasanya memeluk gadis menggemaskan itu saat ini juga, tapi ... itu tidak mungkin.


"Nona," panggil salah satu polisi.


"Y-ya?" Freissya yang tengah melamun terkejut. Spontan berdiri.


Deg, jantung Freissya berdegup. Sosok yang ia benci tapi ia rindukan itu sudah ada di hadapannya, sedang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


V-Val, panggilnya dalam hati.


Freissya hanya mampu menatap mata dingin itu tanpa mampu mengatakan apapun.


"Cepat katakan, ada apa Nona? Jangan sampai Anda mengganggu kegiatan sekolah Sultan Yasa." Polisi memperingati.


"P-Pak polisi, a-aku ingin berbicara empat mata dengannya. A-apa boleh? Di-dia temanku," jelas Freissya.


"Apa kamu bilang?! Teman? Aku tidak merasa memiliki teman seperti dia! Aku tidak mengenal dia, Pak," tegas Gama.


Freissya terhenyak. Ia telah memprediksi akan seperti ini. Gama yang sekarang bukanlah Gama yang ia kenal dulu. Gama telah berubah dan melupakan dirinya. Melupakan semua hal yang telah terjadi. Melupakan jua malam panas itu.


Freissya menunduk, memegang dadanya. Airmatanya menggenang, hampir terjatuh, tapi ... ia tahan.


Maafkan aku Ice, di depan mereka, aku harus berpura-pura tidak mengenalmu. Ini demi kenyamanan dan keselamatan kamu, batin Gama.


"Kalau begitu, Anda boleh pergi, Nona." Polisi mengusir.


"Ba-baik Pak, a-aku akan pergi, ta-tapi ... a-aku mau melaporkan ini pada Bapak." Freissya menyerahkan tas yang dipegangnya pada polisi.


"Apa ini, Nona?" Polisi mengecek. Gama memalingkan wajah.


"Ta-tadi, saat aku duduk di sini, aku melihat tas ini terjatuh dari salah satu pengendara motor yang melintas." Freissya berbohong.


"Aku permisi," lanjutnya. Lalu beranjak dan sejenak melirik pada Gama dengan sudut matanya saat tubuh mereka berpapasan.


Val ....


Ice ....


Dua sejoli itu saling memanggil di dalam hati mereka masing-masing.


"Pak, kita pergi!" teriak Gama. Melangkah cepat. Menjauh. Tidak ingin berlama-lama menyakiti perasaan Freissya.


"Pak, aku mau ke kamar mandi." Gama berlari dan menghilang dari pandangan Freissya dan polisi.


.


.


"Bagaimana, Nona?" tanya Pak Widi saat Freissya kembali ke dalam mobil.


"Baik-baik saja," jawabnya lemah. Sedang berusaha keras menahan tangis.


Freissya tahu diri jika Gama bukan miliknya. Tapi, saat Gama benar-benar melupakannya. Batinnya merasa sakit.


Sepanjang perjalanan, Freissya melamun. Membayangkan kembali bagaimana tatapan yang dulu sangat hangat dan bersahaja itu, tiba-tiba berubah dingin dan tak bersahabat.


...❤...


...❤...


...❤...


"Sultan Yasa? Apa Anda sudah selesai?" teriak polisi yang saat ini tengah berdiri di pintu masuk toilet pria.


Tidak ada sahutan.


"Maaf, apa tadi kamu melihat Sultan Yasa masuk ke kamar mandi?" tanya polisi tersebut pada salah satu siswa.


"Saya dari tadi di sini Pak, dan tidak melihat dia," jawabnya.


"A-APA?!" Pak Polisi terkejut.


"Segera aktifkan tracking system location! Saya kehilangan Sultan Yasa!" teriak polisi itu, ia berbicara pada earphone-nya. Lalu datang dua orang polisi lain dengan wajah panik.


"Kacau! Gawat! Ini gawat, tracking system location milik Sultan Yasa tidak terdeksi!" Suara di balik earphone.


"A-APA?! Tidak mungkin!"


Wajah mereka memucat.


...~Tbc~...