AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Spesial; Val & Ice



"Tugasku apa, Bu? Mohon bimbingannya," ujar Freissya setibanya di ruang pemulihan kelas presiden. Ini adalah hari pertama ia bekerja sebagai suster yang diperbantukan.


"Langsung ke kamar nomor 001 saja Suster Frei," kata ibu kepala ruangan.


"Di sana ada mentor yang akan menjelaskan tugas-tugas kamu," tambahnya.


"Baik, Bu."


Freissya bergegas tanpa ada rasa curiga jika kamar yang dimaksud adalah kamar tempat Gama dirawat.


"Nona Ice," panggil Pak Yudha. Freissya tentu saja melongo kebingungan.


"Kenapa Bapak ada di sini?" tanya Freissya sambil menatap kamar nomor 001.


"Ini kamar Gama, Nona Ice. Anda ke sini untuk merawat Gama, dua hari ini dia tidak mau makan, kondisinya sehat sih, tapi harus dipaksa untuk makan. Setiap akan disuntikpun harus diikat," jelas Pak Yudha dengan wajah memelas.


"A-apa?!"


Freissya kaget. Dengan gerakan cepat ia segera membuka pintu kamar tersebut. Langsung berlari masuk ke kamar seraya menangis.


Dilihatnya pria yang ia rindukan itu tengah menatap ke balkon dengan tatapan kosong. Dari sudut mata Gama bederai air mata. Entah apa yang terjadi pada Gama, wajahnya menunjukkan kesedihan yang teramat mendalam.


"Val," tanpa peduli dengan keadaan sekitar dimana tim dokter dan suster berada di ruangan itu, Freissya segera berlari memeluk Gama, menangis dan meminta maaf.


"Maaf ya, aku tidak akan meninggalkanmu lagi," lirih Freissya.


Gama bergeming, tetap menatap balkon dengan air mata yang kian deras. Entah perasaan seperti apa yang dirasakan Gama saat ini.


"Val, aku di sini, kamu lihat aku ya ...." Freissya mengguncang bahu Gama. Mencoba menyadarkan Gama akan keberadaannya.


Lalu Gamapun menggulirkan bola mata menatap Freissya. Kemudian bibir merahnya yang terlihat kering itu berucap ....


"I-Ibu ...," sambil membelai pipi Freissya. Pak Yudha tertunduk sedih, ternyata Gama merindukan ibundanya.


"Val."


Freissya dan Gama berpelukan lagi. Tim medis tak ada yang bicara. Seorang dokter lalu memerintahkan ahli gizi untuk menyiapkan menu bagi Gama.


Setelah menu itu siap, mereka memberikannya pada Freissya. Ajaib, saat Freissya yang menyuapi, Gama mau membuka mulutnya. Namun Gama terus memanggil Freissya dengan sebutan 'ibu.'


Walaupun belum banyak makanan yang ia konsumsi, namun perkembangan Gama bisa dikategorikan luar biasa setelah kehadiran Freissya di sisinya. Tim dokterpun merasa sedikit lega. Andai dari awal mereka tahu tentang hubungan Gama dan Suster Freissya, mungkin keadaan Gama saat ini pasti akan lebih baik.


Kini, hanya ada Freissya dan Gama yang ada di ruangan itu. Setelah ada Freissya, Pak Yudhapun pergi entah kemana. Freissya tahu jika di ruangan ini tidak ada CCTV pemantau, jadi iapun merasa lebih leluasa dalam memperlakukan Gama.


"Val, sekarang waktunya mandi, mandi yuk!" ajak Freissya.


"Aku sudah mandi," kata Gama.


"Iya, pagi-pagi sudah, tapi mandi sore belum, kan?"


"Oiya, ya. O-okay," jawab Gama. Kemudian Freissya memapah Gama menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Gama pasrah saat Freissya membuka bajunya dan menyabuninya.


"Val, untuk tubuh bagian bawahnya, kamu bersihkan sendiri, ya."


"No," tolak Gama.


"Val, aku tidak bisa melakukannya, kecuali kamu sama sekali tak berdaya."


Freissya berlalu. Ia meninggalkan Gama di kamar mandi seorang diri. Lalu menunggunya di depan pintu. Saat Freissya menunggu, tak terdengar suara air sedikitpun. Suasana di kamar mandi tetap sepi.


"Val? Sudah belum?"


Friessya memanggilnya. Tapi tetap tidak ada jawaban. Sambil menghela napas, Freissya terpaksa masuk kembali ke kamar mandi. Dilihatnya Gama masih seperti posisi semula. Memegang gayung, matanya menatap kosong pada bak mandi dan tak melakukan apapun.


"Val, sampai kapan kamu akan seperti ini?"


Freissya memegang bahu Gama, dan ....


'Byuuur.' Gama malah mengguyur Freissya.


"Val, kenapa kamu mengguyurku? Aku jadi basah, kan?" Freissya cemberut. Bajunya basah kuyup.


"Kamu juga harus mandi," kata Gama. Gama menarik Freissya ke pangkuannya, lalu bersiap membuka baju Freissya.


"Val! Ja-jangan!" bentak Freissya. Ia berdiri dan menatap tajam pada Gama.


"Ibu, kenapa kamu galak sekali?" Gama menatap Friessya, airmatanya kembali menetes.


"Val, aku bukan ibu kamu, aku Freissya."


"Freissya? Freissya siapa?" Gama menatap dalam pada Freissya.


"A-aku teman kamu, Val. Apa kamu ingat? Kita pernah ...." Freissya tidak kuasa melanjutkan kalimatnya. Airmatanya terlanjur menyesakkan dada.


"Pernah apa? Say to me," desak Gama. Tatapan robotnya hilang. Mata Gama fokus pada Freissya dengan tatapan normal.


"A-aku ... Freissya Shaenette Leteshia, a-apa kamu ingat?" Freissya menangkup pipi Gama, menatap pria itu dengan tatapan sendu.


"A-aku tidak ingat," kilah Gama.


"Val, mata kamu sudah sembuh, aku bahagia. Pak Agam pasti senang melihat kamu yang seperti ini, huuu, Val ...." Freissya memeluk Gama.


"Pak Agam, siapa pak Agam? Tunggu, aku merasa pernah mendengar nama itu. Dan tolong jangan memelukku, aku sudah menikah," tegas Gama. Perlahan Gama menepis rangkulan Freissya.


"Su-sudah menikah?" Freissya merenung.


"Ya, aku ingat sudah menikah dengan seorang wanita, kita melakukan malam pertama di dalam mobil. Tapi aku lupa wajah dan namanya. Apa kamu bisa membantu?" tanya Gama.


"Val ... kamu hampir pulih, bicaramu lancar. Aku bahagia." Freissya kembali memeluk Gama karena merasa terharu.


"Cukup! Kamu cepat panggilkan istriku ke sini! Kamu pasti tahu tentang istriku, kan?"


"Val, kamu belum menikah, kamu belum punya istri." Freissya menyangkal memori Gama.


"Pembohong kamu! Minggir!" Gama berdiri lalu mendorong bahu Freissya hingga bersimpuh di lantai.


"Val ... apa kamu ingat dengan wanita bernama Ice?"


"A-apa katamu?!"


Gama yang hendak keluar dari kamar mandi menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan dan menghampiri Freissya.


"Ka-kamu tahu dengan wanita bernama Ice? Di mana dia sekarang?! Di mana?! Jawab! Sekarang a-aku ingat, nama istriku itu Ice. Aku yakin," katanya.


"A-apa? Val, a-aku Ice, ta-tapi aku bukan istri kamu."


"Ice? Kk-kamu Ice? Istriku? Kamu istriku? Ya ampun Ice, kamu kemana saja? Kenapa kamu membiarkanku kesepian dan menunggu? Oh my Ice ...." Gama meraih tubuh Freissya dan memeluknya erat-erat.


"Ice, ke-kenapa kamu meninggalkanku? Aku merindukanmu. Beraninya kamu menyia-nyiakan suami kamu. Aku sangat merindukanmu."


Gama memangku Freissya, meletakan Freissya di toilet duduk dan mengekangnya. Ia menahan tangan Freissya sembari menciumi leher gadis itu.


"V-Val, apa yang kamu lakukan? Emmh, ***, le-lepaskan, Val!"


Freissya berusaha meminta tolong dengan cara meraih tombol darurat yang ada di sampingnya. Tombol itu tersambung ke bagian nurse station. Tapi ia gagal meraihnya karena tangan Gama sudah mengusai.


"Val, no! Val ... no! Tolong, to ---."


Teriakan Freissya terhambat. Bibirnya telah dibungkam oleh bibir Gama yang sejatinya sedang dilanda dahaga.


"Mmmh ... mmmh." Val ... jangan ....


Freissya hanya bisa meratap di dalam hati. Sebab tubuhnya telah berada di bawah penguasaan Gama. Bibirnyapun tak lagi patuh pada pada dirinya. Lama terjalin, ia akhirnya goyah jua. Keimanannya rontok, terkalahkan oleh nafsu dan kerinduan pada pria ini.


Perlahan, Freissya memeluk leher Gama, ia memperdalam jalinan itu hingga napas keduanya terengah-engah.


Gama kian menjadi, ia yang merasa jika Freissya adalah Ice atau istrinya, tentu saja tidak akan merasa cukup sampai di sini. Tangan Gama mulai menggurita, merambah bagian-bagian penting yang dimiliki Freissya. Freissya mulai terbuai, gadis itu melenguh pelan dengan suara tertahan-tahan.


Tatapan keduanya nanar, Freissya mematung, ia menatap wajah tampan Gama dan pasrah saat Gama meletakkan tubuhnya di sisi wastafel. Freissya membiarkan tangan Gama berulah sesuka hati. Freissya memejamkan mata, airmatanya bederai.


Apa ia harus membiarkan perbuatan hina ini demi mendapatkan restu dari orangtuanya?


Saat Freissya meminta kedua orangtuanya untuk melupakan dendam di masa lalu dan memaafkan keluarga Agam Ben Buana, bapak Freissya malah berkata ....


"Sampai matipun, bapak tidak akan pernah memaafkan keluarga Agam Ben Buana!"


Sebagai putrinya, Freissya tidak ingin dendam kesumat itu dibawa oleh bapaknya hingga ke liang lahat. Lalu ia berpikir ....


Apa dengan memiliki keturunan dari keluarga Agam Ben Buana perseteruan itu akan berakhir?


Freissya tahu ini adalah cara yang salah, tapi ... ia tidak memiliki cara lain untuk menyadarkan keluarganya bahwa kejadian di masa lalu itu sama sekali bukanlah kesalahan Agam Ben Buana.


"Huuks."


Freissya menangis di dada Gama saat tubuhnya dibawa keluar oleh Gama menuju tempat tidur. Setelah merebahkan Freissya, Gama mengunci kamar dan kembali mengusai tubuh Freissya.


"Kenapa kamu menangis? Apa kamu tidak rindu dengan suamimu?"


"Rindu, Val .... Aku sangat merindukan kamu," ungkap Freissya seraya membantu Gama melepas celana pasien yang dipakai oleh Gama.


"Ice, baju kamu basah, buka sekarang ya, istriku."


Freissya mengangguk pelan. Ia sudah siap dengan segenap risiko apapun yang akan diterimanya setelah rencana ini berhasil. Biarpuan terusir dari rumahnya, ataupun akan dicap sebagai suster gila, ia sudah siap dengan segala risikonya.


"Ice ... kamu memang benar istriku, a-aku ingat dengan tanda lahir ini," lirih Gama dengan suara gemetar saat ia mencumbu bagian tubuh Freissya dan melihat tanda lahir tersebut.


Freissya tidak mengatakan apapun, hanya bisa menangis dan menggigit bibirnya kuat-kuat saat ribuan kupu-kupu itu datang menyerang sekujur tubuhnya.


Ia membelai lembut rambut Gama yang sudah tumbuh sekitar 1-2 cm dengan perasaan kalut dan juga takut. Ia takut jika Gama telah sadar sepenuhnya pria ini akan menyalahkannya.


"Val ... se-sebenarnya ... a-aku mencintai kamu ...," bisik Freissya kala ia bangun sejenak untuk mencium telinga Gama.


"Kamu istriku Ice, kamu memang harus mencintaiku."


"Val, maafkan aku jika suatu saat kamu menyadari bahwa aku telah membohongi kamu."


"Ssst, a-aku sudah tidak ta-tahan, bi-bisakah kamu diam saja?" desak Gama.


Wajah Gama sudah memerah. Respon tubuhnya tidak seperti orang yang baru saja pulih. Bagi orang biasa, bisa jadi tidak akan bisa seperti itu, tapi Gama itu adiknya Agam Ben Buana. Melihat bagaimana perkasanya Agam Ben Buana, ya wajar kalau adiknyapun tidak beda jauh.


"Val, a-aku jahat," sebelum hal itu terjadi, Freissya menahan tubuh Gama dan mengatakan kalimat itu.


"Mm-maksud kamu?"


"A-aku ingin memiliki keturunan dari kamu, Val ...," ungkap Freissya sambil menangis dan menutup matanya.


"Kenapa kamu harus mengatakan itu, Ice? Kitakan pasangan suami-istri, a-aku juga ingin memiliki keturunan yang lahir dari rahim kamu," tegas Gama.


"V-Val, tunggu, ki-kita sebenarnya belum menikah."


"Omong kosong!" Sambil menindih Freissya.


"Val, se-serius, pernikahan i-itu hanya halusinasi kamu saat koma, percaya padaku, Val."


"Tidak, Ice! Kamu istriku, aku merindukanmu." Gama memaksa, ia menarik penghalang terakhir milik Freissya.


"Val, ja-jangan, Val .... A-aku memang menginginkan ini, ta-tapi bukan dengan cara seperti ini."


Pada akhirnya Freissya menolak dan mengurungkan niatnya. Tapi api itu sudah kepalang berkobar. Freissya sudah menyalakan api tersebut saat mereka berada di kamar mandi.


"Tidak Ice, aku yakin kamu istriku, dari sekian banyak memori tentangku, yang kuingat hanya pernikahan kita," tegasnya seraya menghimpit Freissya.


Lalu Gama melakukannya dengan tangan gemetar, perlahan dan juga kesulitan. Freissya terus berusaha menolak dan meronta, tapi Freissya sepertinya melupakan bel emergency. Usaha Freissya sia-sia. Kini, tubuhnya telah terkontaminasi benda asing. Freissya terhenyak. Ia menjerit pelan.


"***, Val, huuuks ...."


.


Pada akhirnya Freissyapun memeluk Gama, tak mampu lagi menolak karena pada dasarnya ia juga sangat merindukan pria ini. Namun cara mereka mengungkap kerinduan itu sungguh di luar batas dan melanggar seluruh norma yang ada.


Adegan dewasa yang tak patut itu berlangsung dengan dramatis. Freissya tak henti menangis di tengah kegiatan itu. Ia sadar ini salah, ia mengakui jika dirinya begitu munafik dan hina.


Tapi tidak dengan Gama, ia begitu menikmati dan mensyukurinya karena ia yakin jika yang ia renggut saat ini adalah haknya.


Ia tak peduli dengan tangisan Freissya. Toh, yang menangis hanya bibir Freissya, sementara tubuh Freissya jelas sekali sangat welcome dan menginginkannya.


"Tidak perlu pura-pura menangis, aku tahu kalau kamu juga menikmatinya. Ya, kan?" bisik Gama.


"Dengan kamu menangis, aku jadi semakin bergairah," bisiknya lagi.


"***, Val ... huuuks, cu-cukup, ce-cepat selesaikan, ka-kalau ada dokter bagaimana?"


"Kan pintunya sudah dikunci, istriku," katanya.


Aktivitas tak layak itu berlangsung lumayan lama, Gama mengeksplorasi seluruh sudut ruangan kelas presiden itu tanpa ada jeda. Mereka terjerembab dan terlena.


Freissya pasrah, ia mengikuti kehendak Gama tanpa perlawanan sedikitpun. Jika dulu mereka melakukannya karena pengaruh obat, sekarang mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.


...JANGAN DITIRU!!!...


...~Tbc~...


..."Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk."...