AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Menantikan Kembalinya Mahkota dan Menunggu Kedatangan Ayah



Linda gugup, di balik masker pipinya merona. Sementara Agam hanya senyum-senyum. Agam membuka maskernya. Langsung meraih tangan yang menyapanya sambil membungkukkan badan, bersalaman dengan ramahnya.


"Peluk-pelukan, kok di sini? Kalian ya."


"Ma-maaf, Dok," kata Linda.


Ia juga melakukan hal yang sama seperti Agam. Menyalami dokter tersebut.


"Kita ke ruangan saya yuk," ajaknya.


"Baik."


Agam lalu menggenggam tangan Linda, menguntit dokter tersebut.


"Dokter Fatimah kerja di sini juga?" bisik Linda.


"Ya, dia bekerja di tiga tempat, di sini, di rumah sakit pemerintah, dan satu lagi di kliniknya."


"Mau apa ya, Pak?"


"Sudah ikuti saja, setelah ini selesai baru kita ke ruangan paman Setya, oke?" kata Agam.


Linda mengangguk.


Kini, mereka sudah berada di sebuah ruangan nyaman yang dihiasi oleh beberapa pot tanaman bunga hidup berwarna cerah.


"Duduk," kata dokter Fatimah.


"Baik," jawab Agam dan Linda serempak.


"Saya sudah lihat penampilan Nona LB, saya terpukau, sekaligus marah." Dokter Fatimah memulai percakapan.


"Lho, kok marah, Dok?" Agam mengernyit.


"Ya saya marah, bisa-bisanya Nona LB ikhlas diperkosa, hahaha, kalian pasangan aneh dan unik," dokter Fatimah sampai geleng-geleng kepala.


Linda, menunduk. Malu sekaligus juga bingung mau menjelaskan apa pada dokter Fatimah, intinya ya begitulah. Faktanya, Linda memang jatuh cinta pada Agam seiring dengan bergulirnya waktu.


"Mungkin seperti ini suratan takdir cinta kami, Dok. Tapi ... saya berjanji akan memperbaikinya. Saya bahkan sudah berjanji akan memperbaiki mahkotnya," terang Agam. Telinga Agam sedikit memerah. Mungkin malu juga saat jujur tentang 'Memperbaiki mahkota.'


"Apa?! Sampai sejauh itu? Maksudnya, mahkota ---." Mata dokter Fatimah membulat.


"Benar, Dok. Saya serius," tegas Agam. Linda diam saja.


"Nona LB setuju?" tanya dokter Fatimah pada Linda. Dan Linda masih bungkam.


"Hehehe, diam bisa berarti ya. Wah, ini kasus langka," sambung dokter Fatimah.


"Oiya begini Pak Agam, Nona Linda, selagi ada di sini dan kebetulan kita bertemu, saya akan menjelaskan diagnosa medis yang menyangkut kehamilan Nona LB."


"Apa?!"


Agam langsung kaget. Ia khawatir calon buah hatinya kenapa-napa.


"Tenang dulu Pak Agam. Ini bukan masalah serius sih, tapi kalau tidak terdekti sejak dini, efeknya memang akan fatal pada saat proses persalinan."


"Tentang apa, Dok?" Linda baru berani bersuara.


"Ini tentang pemeriksaan panggul itu Nona, setelah dilakukan USG panggul saat Anda keguguran itu, saya mendiagnosa Nona LB mengalami CPD, istilah awamnya panggul sempit, jadi Nona LB tidak bisa melahirkan pervaginam," terang dokter Fatimah.


"A-apa?!" Agam terkejut.


Setahu Agam, jika lahiran dengan cara operasi, maka jumlah anak akan terbatas hanya sekitar 3 atau 4 saja, itu juga jika kondisi rahim pasca operasi dalam keadaan normal.


Jika pada kehamilan berikutnya segmen bawah rahim menipis, maka kemunginan dokter hanya akan menyarankan dua anak saja. Padahal, ia sudah merencanakan ingin memiliki banyak anak.


"Iya, Pak. Itu saja sih yang ingin saya terangkan. Apa sekarang ada keluhan?" tanya dokter pada Linda.


"Tidak ada, Dok."


"Oiya, di ruangan ini ada dopler, coba kita dengarkan denyut jantungnya."


"Wah, ya Dok. Saya juga mau dengar," kata Agam. Matanya berbinar.


"Ini bisa langsung saja, cara penggunaanya mudah, sambil duduk juga biasa."


Dokter Fatimah menyerahkan alat mungil itu pada Linda dan menjelaskan cara penggunaannya.


"Oiya Pak Agam, karena Nona LB tidak bisa lahir pervaginam, saya rasa prosedur operasi hymenoplasty itu bisa dilakukan lebih cepat, jadi Pak Agam tidak harus menunggu Nona LB melahirkan dulu," terang dokter Fatimah sambil menahan tawa karena wajah pasangan serasi dihadapannya itu saat ini tengah merona merah.


"Ti-tidak perlu operasi," cicit Linda. Suara Linda hampir tidak terdengar.


Kalau dipikir-pikir, untuk apa juga operasi? Toh, yang akan menikah dengannya adalah pria yang sama, pria yang dulu merusak mahkotanya. Mungkin, Linda berpikir ke arah situ.


Tapi, pria di samping Linda, justru bersikeras.


"El, mungkin kamu berpikir ini lucu atau bahkan perbuatan sia-sia dan percuma, tapi El ... satu hal yang harus kamu tahu, dari awal saya ingin memperbaikinya. Agar nanti saat kamu menikah, suami sah kamu tetap bisa menikmati kekuncupan kamu. Hahaha, benar begitu kan, Dok?" tanya Agam.


"Tepat," kata Dokter Fatimah.


Tapi, bukannya calon suaminya, kamu? Apa ada orang lain? Lanjut dokter Fatimah dalam hatinya.


Ingin menanyakan langsung pada Agam, tapi itu tidak etis. Toh, ia hanya dokter, apapun yang ingin dilakukan pasien, selama tidak bertentangan atau membahayakan kesehatan, maka itu adalah hak pasien sepenuhnya.


Dia gila, bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu. Padahalkan, calon suamiku itu kamu Agam Ben Buana. Batin Linda.


Hahaha, aku dapat dobel jackpot. It's about coincidence and the luck. Batin Agam.


Dan lamunan Agam terbuyarkan oleh suara ....


'Jdug, jdug, jdug ....' Dari alat bernama dopler itu.


Segera pria itu mendekati Linda dan menempelkan telinga di perut Linda.


"Denyut jantungnya dalam batas normal," kata dokter Fatimah.


Linda dan Agam saling berpandangan dan tersenyum bersama.


"Oiya untuk masalah operasi itu, mau dilakukan di mana, Pak?" tanya dokter Fatimah.


"Operasi SC di mana saja, Dok. Yang terpenting ibu dan bayinya sehat. Untuk operasi mahkota itu, saya maunya di luar negeri," kata Agam.


Linda kembali diam seribu bahasa, serius, Linda sangat-sangat MA-LU.


"Untuk apa ke luar negeri, Pak? Kalau sumber daya manusia di negara ada, kenapa harus ke sana?" sela dokter Fatimah.


"Betul juga, emm ... begini saja, apa dokter Fatimah ada rekomendasi?" tanya Agam. Suaranya pelan, hampir berbisik, tapi Linda masih dapat medengarnya.


"Hahaha, ada kok, dokternya kebetulan wanita, sudah mendapat lisensi juga untuk masalah itu, telah melakukan prosedur hymenoplasty ratusan kali," terangnya.


Dokter Fatimah beranjak, ia mengambil sesuatu dari atas lemari, lalu memberikannya pada Agam.


"Apa?! Jadi, Anda bisa melakukannya?" Agam tekejut setelah menerima pelakat itu dari dokter Fatimah.


"Bisa, dong." Sambil mengerling ke arah Linda yang kian menunduk saja.


"Kapan Dokter ada waktu?" tanya Agam.


Sebuah pertanyaan yang membuat jantung Linda meronta. Gugup, dan kalang kabut.


Apa ia harus menolak prosedur itu? Atau tetap menjalaninya? Linda bingung.


Tapi, di dalam hatinya yang terdalam iapun tidak bisa membohongi dirinya. Linda ingin menyerahkan mahkotanya pada dia yang halal, pada imamnya, pada suaminya.


Jadi ... Linda memutuskan untuk menyetujui keinginan Agam.


"Hari ini kosong," kata Dokter Fatimah.


"El ...," Agam memanggilnya.


"I-i-iya," Linda kikuk.


"Apa kamu mau kalau prosedurnya dilakukan hari ini? Sebelum ayahmu datang," kata Agam.


"A-apa? Emm ... bb-boleh, tapi ... aku ingin privasiku terjamin, identitasku dirahasiakan."


Linda dan Agam saling menatap, lalu menunduk bersamaan.


"Baik, Pak Agam dan Nona lanjutkan saja kegiatannya, saya dan tim akan segera bersiap, untuk masalah pendaftaran dan ruangan, nanti staf saya yang akan mengurusnya," jelas dokter Fatimah.


"Saya mau ruangan terbaik, dan prosedur terbaik. Oiya, seluruh yang terlibat dalam prosedur itu harus dokter atau perawat perempuan. Saya akan membuat berita kalau LB sedang istirahat di rumah sakit ini," terang Agam.


"Ya, Pak. Nanti kalau ada wartawan yang bertanya, saya siap jadi juru bicara, saya akan jelaskan kalau Nona LB perlu istirahat dan bedrest. Dan pada kenyatannya setelah prosedur itu memang harus istirahat dan bedrest minimal selama 24 jam," terang dokter Fatimah.


Linda menghela napas, tidak menyangka jika ia akan mendapatkan mahkotanya kembali secepat ini. Hatinya berdegup-degup, malu dan gugup terus menyelimuti relung hatinya.


.


.


.


.


Pun saat ia keluar dari ruangan dokter Fatimah, Linda masih saja gugup.


"Tangan kamu dingin," kata Agam. Ia menggenggam tangan yang dingin itu erat-erat.


"Aku takut Pak dan malu ...."


"Akan dibius, tidak akan sakit, tidak perlu malu," bisik Agam.


"Pak ... biayanya mahal sekali, apa tidak usah saja?" tanya Linda.


Saat ini mereka ada di dalam lift.


"Tidak perlu dipikirkan, lagipula hasilnya untuk saya juga, kan?" bisik Agam. Pipi pria itu merona. Bibirnya sedari tadi tersenyum tipis-tipis.


"Iissh, Pak Agam," dengus Linda, sambil mencubit punggung tangan Agam.


"Saat ayahmu datang, saya jadi bisa menjelaskan juga kalau saya sudah memperbaikinya. Nah, itu ruangan ICU-nya, paman Setyadhi ada di sana." Saat keluar dari lift, Agam menunjuk ke salah satu ruangan.


Tanpa bisa dicegah, Linda langsung berlari ke sana.


"Pamaaan," teriaknya. Agam mengejar.


"Maaf, ini siapa?" Petugas ICU menghadang Linda.


"Aku LB, pasien atas nama M. Setyadhi adalah pamanku," sambil membuka masker.


"Hahhh? LB?! Masuk, silahkan."


Sedangkan Agam hanya bisa melihat di kaca pembatas.


Linda melangkah gontai. Hatinya kian pilu. Ia memasuki ruangan itu menuju bed yang ditunjukkan oleh petugas. Letaknya berada di ruangan baris kedua.


Aroma rumah sakit mulai tercium, bunyi monitor bersahutan, suara pasien yang mengorok terdengar sayup-sayup. Linda juga melihat beberapa pasien yang koma.


Ada juga suster yang sibuk memantau pasien. Saat Linda melintas mereka seperti terkejut, namun kembali pada aktivitasnya melayani pasien, seolah tidak peduli dengan keberadaan Linda.


"Ini ruangannya," kata suster.


Deg, jantungnya berdegup.


"Paman?"


Ia langsung bersimpuh di samping bed itu, benar saja pria itu adalah pamannya, tidak diragukan lagi.


Paman Setyadi ternyata seorang pria tampan. Kulitnya kuning langsat, berjenggot, tapi tidak berkumis. Raut wajahya tegas, dengan alis yang hitam tebal dan rapi. Hidungnya lancip, ada titik tanda lahir atau tahi lalat di bawah mata kirinya.


Kepalanya masih diperban oleh kassa steril. Monitor dan alat lainnya masih terpasang, termasuk NGT (Nasogastric Tube) untuk intake nutrisi langsung ke dalam lambungnya.


"Maafkan Linda, Paman ... ini Linda. Paman cepat sadar ya ... huuu ...." Linda memeluk bahu pria itu. Ia terus terisak.


"Bagaimana kondisi terakhirnya, Dok?" tanya Linda setelah ia puas melepas rindu dengan menangis dan memeluk bahu pamannya.


"Sejauh ini membaik, Nona. Dari rekam medis sebelumnya disimpulkan jika pasien membaik. Sudah bisa bernapas spontan tanpa bantuan alat intubasi, dan saat kita berikan diit cair, respon lambungnyapun bagus. Residu lambungnya normal," jelas dokter.


"Terima kasih, Dok. Apa akan ada tindakan lain?" tanyanya lagi.


"Ada, masih harus CT Scan, rontgen, dan pemeriksaan lab rutin. Jika dalam tiga hari ini belum bangun, akan dipertimbangkan untuk operasi ulang. Yang mengalami cidera dan trauma otak kirinya," terangnya lagi.


"Baik Dok, lakukan yang terbaik, semoga bisa segera sadar."


Setelah lama berbincang, Linda akhirnya berpamitan. Dan petugas ICU tampak berfoto dulu dengan Linda sebelum Linda meninggalkan ruangan itu.


Agam juga menjenguk Paman Setyadhi setelah Linda. Agam menatap pria itu seraya memanjatkan doa-doa yang ia bisa demi kebaikan dan kesembuhan Paman Setyadhi.


***


"Pak, ruangannya mewah sekali."


Linda tercengang saat ia berada di ruang perawatan miliknya. Di ruangan ini, ia akan menunggu jadwal operasi itu sekaligus akan melakukan pemulihan pasca operasi.


"Biasa saja," kata Agam.


Ia merebahkan tubuhnya di sofa.


"Pak ... terima kasih," ucapnya. Sambil mendekat ke arah Agam.


"Untuk?" Agam menoleh.


"Untuk semuanya. Oiya Pak, kapan ayahku tiba di sini?"


"Kata anak buah saya dua hari lagi. Ayahmu menolak naik pesawat. Dan ayahmu ... Aaargh." Agam malah meremas rambutnya.


"Ayahku kenapa, Pak?"


"Ayahmu membawa pria bernama Hikam itu," terangnya.


"A-apa?!" Linda terhenyak.


"Kata anak buahku, pria itu tampan dan sopan. Aaarrghh, saya benci. Benciiii," teriak Agam.


"Pak Agam, jangan berteriak, ini di rumah sakit." Linda melotot ke arahnya.


"Saya takut El, saya takut pernikahan kita gagal, saya takut ...." Agam duduk, lalu menarik Linda ke atas pangkuannya.


"Ahhh, Pak Agam! Jangan seperti ini. Aku tidak nyaman," keluhnya.


"Linda ..., kamu mencintai saya, kan?"


"I-iya, Pak." Berusaha melepaskan diri dari dekapan Agam, tapi sulit.


"Tolong jangan bergerak, saya hanya ingin memeluk kamu." Sambil menciumi tengkuk Linda yang posisinya membelekangi Agam.


"Emm, Pak ... jangan ... jangan ...."


Linda kian memucat, apalagi saat ia merasakan ada sesuatu yang aneh di daerah itu. Sesuatu yang tadinya tidak ada, namun perlahan mengada-ada, sesuatu yang tumbuh dan berkembang pesat, seolah ingin turut serta mendapat perhatian seperti pemiliknya.


"Pak Agam ... lepaskan!"


Posisi Linda yang berada di pangkuan Agam, benar-benar membuat Linda tidak nyaman.


"El ... uhhh ... saya ...^₩€$*£#^¥^."


Entahlah Agam berbicara apa. Linda tidak faham, bahkan nyaipun tidak mengerti.


"Pak ... Agam, k-kalau Ba-Bapak seperti ini, emhh ... a-aku emmh ... akan mempertimbangkan ahh ... untuk me-menikah de-dengan Hikam," lirihnya. Sambil memasygul kasar rambut Agam.


Tapi Agam seolah tidak mendengar ancaman Linda.


"Saya marah, apa kamu tahu, hahh? Kamu tadi berfoto dengan banyak dokter dan perawat pria tanpa seizin saya."


Agam masih mendekap Linda, lalu menggigit pundak yang indah itu. Perlahan-lahan sih, tapi ... tetap saja membuat Linda menjerit.


"Aaaaahh," teriak Linda. Bersamaan dengan bunyi interkom berkali-kali.


"Kami tim dokter, izin masuk," seru seseorang dari luar.