
Kondisi saat ini masih gelap gulita, entah kapan Gama akan menyalakan kembali lampunya.
"Pak Agam? Sa-saya gerah, apa bisa Bapak tidak memeluk saya terlalu kuat?"
"Apa?! Anda yang memeluk saya terlebih dahulu. Anda yang mencari gara-gara bukan saya." Agam melepaskan rangkulannya. Lalu dengan gerakan cepat membopong Linda tanpa basa-basi.
"Pak Agam, kena --?"
"Diam! Saya akan membawa kamu ke tempat tidur. Saya harus menyalakan gensetnya. Ini aneh, biasanya ada pembetaritahuan dahulu kalau ada pemadaman."
Agam berjalan tak tentu arah, ia tidak peduli lagi jikapun ada kemungkinan ia menginjak serpihan kaca. Kamar yang ditempati Linda memang luas.
"Pak Agam hati-hati, bagaimana kalau Bapak menginjak serpihan lagi?"
"Tolong ya Bu Linda, jangan banyak bicara. Saya sedang konsentrasi mencari tempat tidur. Saya tidak menyangka bisa tersesat di kamar saya sendiri."
"Bapak bisa turunkan saya? Saya bisa mencarinya sendiri. Saya merasa kita hanya berputar-putar."
"Saya khawatir sama anak saya, bukan kamu. Bisa diam tidak."
"Coba Bapak melangkah ke sebelah timur, nah di sebelah timur itu letak tempat tidurnya, kamar mandi ada di arah barat daya. Lemari pakaian ada di selatan."
"Bisa diam tidak?! Kamu bawel sekali! Saya juga tahu arah mata anginnya. Tapi saya tidak tahu sedang menghadap kemana sekarang ini." Karena kesal, Agam membekap sejenak mulut Linda dengan telapak tangannya. Lalu kembali membopongnya.
TRING, lampu menyala.
Habis gelap terbitlah terang benderang. Agam dan Linda terkejut. Mata keduanya saling mengerjap dan menatap. Linda bisa melihat bagaimana pria yang sedang membopongnya begitu tampan, sedangkan Agam bisa melihat kembali jika Linda begitu cantik dan seksi dengan baju itu.
Mereka saling memandang, seakan lupa jika lampu telah menyala. Posisi mereka ada di depan pintu kamar mandi.
"Bi-bisa turunkan saya?" tanya Linda.
"Bisa," jawabnya dengan cepat.
Linda terkejut melihat darah berceceran membentuk tanda jejak dari setiap langkah kaki Agam saat mencari tempat tidur.
"Pak Agam, Anda terluka." Linda menahan tangan Agam yang hendak pergi.
"Tidak apa-apa, ini luka kecil." Ia menepis tangan Linda.
"Pak Agam, saya tahu Anda hanya peduli dengan anak yang saya kandung. Tapi tolong jangan seperti ini. Anda terluka gara-gara saya, izinkan saya untuk membantu mengobatinya. Anda juga jangan berpikir jika saya peduli, saya melakukan ini atas dasar kemanusiaan." Ia menahan tangan Agam.
Agam terdiam, lalu menatap sisa-sisa kekacauan, yang terjatuh ke lantai ternyata gelas air minum. Syukurlah, nasi gorengnya utuh, dan tentu saja masih bisa dimakan.
"Saya akan membereskan pecahan kaca dulu," ucapnya.
Agam bersikeras melepaskan tangan Linda. Saat Agam melangkah, Linda bisa melihat dengan jelas jika darah di kaki Agam masih menetes dan meninggalkan jejak.
"Kalau Anda seperti ini, saya tidak mau jadi bintang iklan HGC, saya menolak!" teriak Linda.
Dia berani juga.
Agam mengepalkan tangannya. Tapi kali ini ia terpaksa harus mengalah, sebab dratf profil Linda telah ia serahkan ke biro iklan yang selama ini bertanggung jawab atas seluruh kegiatan periklanan di HGC.
Biro iklan HGC adalah sebuah perusahaan yang sebenarnya masih memiliki hubungan dengannya. Ya, organisasi independen itu didirikan oleh Agam atas saran dari Tuan Muda Deanka. Alasannya, tentu saja untuk menekan biaya pemasaran agar tidak harus menyewa biro iklan lain saat HGC akan melakukan promosi.
Biro iklan inilah yang nantinya akan mengurus atau membantu pengiklanan produk HGC. Mereka akan menangani seluruh perumusan rencana periklanan, membuat rancangan iklan, menyiapkan materi iklan hingga mengurus pemasangan iklan di media massa atau media periklanan lainnya.
"Baik, Anda menang," kata Agam.
Linda tersenyum. Baru kali ini ia merasa menang atas semua keegoisan dan prilaku sok kuat pria itu. Tapi memang kuat sih, buktinya dia tidak mengaduh padahal telapak kakinya berdarah-darah.
"Ya, saya tahu Anda sangat kuat, tapi kulit Anda bukan terbuat dari baja atau besi, kan? Pak Agam masih bisa terluka." Linda lalu mengambil sandal dan diberikan pada Agam.
"Pakai ini dulu Pak, duduk di kursi itu. Saya yang akan merapikan semua kekacauan ini."
"Kakimu? Hati-hati, kamu bisa terlu --."
"Ssst, saya sudah memakai sandal juga, Bapak tenang saja, kegiatan ini tidak akan membahayakan kandungan." Linda menyela ucapan Agam.
"Saya juga bisa menyapu, Pak. Tapi jujur, saya tidak begitu menyukai kegiatan bersih-bersih."
"Huh, dasar jorok. Anda bahkan bangga dengan kejorokan, ckckc. Benar-benar ya, semua orang sudah tertipu." Agam geleng-geleng kepala.
"Siapa yang tertipu? Saya tidak pernah menipu siapun," ungkapnya saat tangannya mulai sibuk menyapu serpihan kaca dan memasukannya ke dalam spade.
"Jangan langsung membuangnya ke tempat sampah, harus dimasukkan ke plastik dulu, jangan sampai sampah kita melukai tangan para pemulung atau pengumpul sampah," kata Agam.
"Iya Pak Agam, saya faham."
Linda mengambil plastik di salah satu kotak, lalu bersimpuh guna memasukkan ujung spade pada plastik, dan dengan polosnya Linda mengambil sisa kaca yang tertinggal di lantai dengan tangannya.
"Linda, jangan!" teriak Agam.
"Awhhh."
Telambat, serpihan kaca itu telah melukai telunjuknya. Linda meringis saat melihat darah muncul dari ujung jarinya.
"Dasar bodoh."
Agam beranjak, ia berlutut. Secepatnya meraih tangan Linda dan menghisap kuat jari yang terluka tersebut.
"Pak?" Linda terkejut, ia bisa merasakan jika mulut pria itu hangat dan lembut. Agam melakukannya berulang-ulang.
Setelah dikira cukup, Agam menghentikan antivitasnya. Linda kikuk, ia terburu-buru beranjak untuk mengambil kotak P3K yang ada di kamar itu. Namun sayang, kotaknya di luar jangkauan. Ada di sekat nakas yang paling tinggi.
"Biar saya ambilkan," Agam meraihnya dan menyerahkan pada Linda.
"Terima kasih," ucap Linda dengan gugup, masih terbayang bagaimana tadi Agam menghisap jarinya dan saat itu jantungnya berdegup cepat.
Kenapa? Aku kenapa? Linda memegang dadanya.
"Kalau Anda melamun, saya pergi," ucapan itu mengagetkannya.
"I-ya Pak. Saya akan bantu obati. Bapak duduk lagi ya." Linda mencoba mengurai kepanikan dengan berbicara.
Agam mengulum senyum, ia tahu jika Linda gugup. Terlihat jelas pipi wanita ini merona. Agam duduk kembali pada kursi. Ia jadi penasaran, seberapa jauh wanita ini bisa mengobati luka?
Setelah mencuci tangan, Linda bersimpuh di dekat kaki Agam.
"Maaf ya Pak." Ia memegang kaki Agam untuk memeriksa sumber lukanya, dan ....
"Aaaa," Linda malah berteriak.
"Hei, kenapa?" Agam jadi terkejut.
"A-ada ka-kaca yang tertinggal di telapak kaki Bapak, uuhhh." Ia menatap Agam, dan ia sendiri yang meringis.
"Hahaha, siapa sebenarnya yang terluka? Kenapa Anda yang kesakitan. Kalau benar-benar mau membantu saya, cepat gunakan pinset itu, lalu cabut kacanya," kata Agam.
"A-apa? Terus, kalau Bapak kesakitan bagaimana? Kalau darahnya semakin banyak bagaimana?" ia menatap khawatir.
"Hmm, makanya jangan sok jadi pahlawan, sini biar saya yang lakukan." Agam meraih pinset. Linda memegang tangannya.
"Bu Linda, ada apalagi?"
"Hati-hati Pak, itu pasti sakit."
"Saya lebih sakit saat tahu jika Anda telah memiliki kekasih," ucap Agam spontan.
"Apa?!" Linda melongo.
"Lupakan saja," timpal Agam.
Ia bersiap akan mengambil pecahan kaca itu, panjangnya sekitar 2,5 cm, namun untuk kedalamannya menancap belum bisa dipastikan ukurannya.
"Pantas saja, saat saya berjalan terasa menusuk-nusuk," gumamnya.
"Pak hati-hati ... ini pasti sakit. Uuhhh ...." Linda merasa ngilu.
Apa?! Apa yang mereka lakukan? Gama yang baru saja tiba dari basement dan mengintip di balik pintu megernyitkan alisnya.
Sementara di dalam kamar, Agam segera mencapit ujung pecahan kaca itu dengan pinset.
"Ahhh ... aarrgghh ...," Agam mengerang saat perlahan mulai mencabutnya.
APA?! Tidak mungkin kan?" Gama menutup mulutnya.
"Pak Agam, saya saja yang lakukan," kata Linda.
"Ka-kamu berani?"
Linda mengangguk.
"Baik, Anda cabut sekaligus ya, semoga tidak terlalu sakit."
"Oke, mata Bapak pejamkan saja."
"Tidak, aku ingin melihatnya. Semoga darah yang keluar tidak terlalu banyak. Anda saja yang tutup mata," kata Agam.
Astaghfirullah, apa yang mereka bahas?
Gama mengeraskan rahangnya. Ia tidak berharap jika keusilannya mematikan lampu akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.
"Uhhh ... cepaaat," kata Agam.
"Ta-tapi Pak, saya takut. Sama Bapak saja ya."
"Ya ampun Bu Lindaaa," tanpa ragu lagi Agam mencabutnya bersamaan dengan erangan kesakitannya, dan Lindapun turut berteriak karena merasa kaget dan ngilu.
BRAK, pintu terbuka.
"GAMA?!" kata Agam dan Linda serempak.
"Kak Agam?!"
Untuk mengurangi rasa bersalahnya karena berpikir yang bukan-bukan, Gama segera bersimpuh di kaki Agam dan melakukan gerakan cepat merawat luka. Ia dep darah yang keluar menggunakan kasa steril, membersihkannya dengan antiseptik, lalu membungkusnya dengan kasa yang dililitkan dan diplester.
"Selesai," ucapnya.
"Gama, yang memadamkan listrik bukan kamu kan?"
"Apa?! Aku? Tidak mungkin," ucapnya sambil mencuci tangan di wastafel yang ada di kamar tersebut.
"Oke, besok Kakak mau protes sama perusahaan listrik, kok bisa pemadaman tanpa pemberitahuan," kata Agam.
"Ya, protes saja sana. Eh, ada nasi goreng, enak nih." Dengan mimik tanpa ekspresi Gama mengambil satu piring nasi goreng dan membawanya keluar dari kamar.
"Gama, tungguuu." Agam tahu itu nasi goreng jatahnya.
"Pak Agam, biarkan saja, kan ini masih ada. Banyak lagi. Bagaimana kalau Bapak makan yang ini saja?"
"Untuk kamu?"
"Kan ini banyak."
"Saya makannnya banyak," kata Agam.
"Pak Agam, ayolah," bujuknya.
Linda mendorong punggung Agam untuk duduk di kursi.
"Bu Linda, tolong jangan terlalu baik. Saya bisa salah sangka."
"Pak Agam bicara apa sih? Saya tidak mengerti, aaa," kata Linda. Ia menyodorkan satu sendok suapan ke bibir Agam.
"Kamu?!" Agam terkejut.
Wanita ini kenapa? Apa salah minum obat? Dia mau menyuapiku?
"Pak Agam tidak mau?"
"Saya mau." Ia mengcengkram tangan Linda dan mengarahkan untuk menyuapinya.
Linda tersenyum dan berkata, "Hehehe, Bapak baru kali ini ya disuapi wanita cantik?"
"Apa?!" Agam spontan berhenti mengunyah.
"Saya sering disuapi ibu," katanya.
"Hahaha, berarti Pak Agam anak ibu dong, wah saya tak menyangka."
"Bu Linda," bentaknya.
"Ya, kenapa Pak? Oiya, nasi gorengnya enak sekali. Tidak terlalu gurih, tidak berminyak, dan rasa bumbunya sangat pas."
Linda mengacungkan jempolnya. Ia tak melihat saat mata Agam membulat, karena baru sadar jika ternyata mereka telah satu sendok, satu piring, satu suapan.
"Kamu memakai sendok bekas saya?" tanya Agam.
"Emm, ma-maaf kalau Bapak tidak nyaman, saya akan ke dapur dan mengambil sendok lain," Linda kembali gugup. Ia berdiri dan membungkukkan badan memberi hormat pada Agam.
"Tidak perlu mengambil sendok lagi, saya tidak apa-apa kok. Justru kalau kamu tidak nyaman, saya yang seharusnya meminta maaf. Aaaa," ucap Agam.
Karena Linda yang memulai, Agam berpikir tidak ada salahnya jika iapun menyuapi Linda. Dengan bibir gemetar Linda membuka mulutnya, sambil memejamkan mata.
"Maaf untuk suapan yang tadi, tidak perlu takut, kali ini saya akan menyuapinya perlahan-lahan," kata Agam.
Lindapun membuka matanya sambil tersenyum. Lalu mengunyah kembali nasi goreng itu dengan gaya yang elegan.
Apa ini bisa disebut makan cantik? Batin Agam bergumam saat ia mencuri pandang pada wanita itu.
Waktu berlalu begitu saja, Agam menyuapi Linda seraya menikmati kecantikannya. Dan iapun menyuap untuk dirinya sendiri. Hanya ada suara sendok membentur piring saat kejadian itu berlangsung. Linda dan Agam sama-sama berhati-hati agar kecapan mereka tidak menimbulkan suara.
"Cepat tidur, saya lihat tadi kamu menguap. Oiya, tolong tidurnya duduk ya. Kan baru selesai makan," kata Agam saat nasi goreng di piring itu hanya menyisakan beberapa butir nasi saja.
"Baik, Pak. Terima kasih. Saya mau gosok gigi dulu." Linda berdiri.
"Oiya, besok kamu bisa bertemu dengan Bagas."
"Apa?! Sungguh?!"
"Iya, saya sudah menyuruh seseorang untuk menghubungi Bagas agar bisa menemuimu di biro iklan."
"Horee, terima kasih Pak." Linda meraih tangan Agam dan menciumnya.
"Besok berias biasa saja, di biro iklan sudah ada orang yang akan meyiapkan semuanya. Semoga kerjasama kita berjalan lancar."
Agam kembali meraih tangan Linda. Linda berpikir untuk bersalaman, ternyata dugaannya salah.
"Jarimu sudah tidak sakit, kan?" tanya Agam.
"Tidak apa-apa Pak. Ini hanya luka yang sangat kecil. Saya justru khawatir dengan luka Bapak. Yakin besok Bapak mau ke HGC?"
"Emm, besok saya harus tetap bekerja, saya tidak ingin melewatkan sesuatu."
"Melewatkan apa?" tanya Linda.
"Saya tidak mau melewatkan penampilan perdana kamu saat syuting iklan."
"Apa?!" Linda mengerjap.
"Saya permisi, setelah shalat Subuh dan sarapan, kita berangkat. Anda jangan kesiangan ya. Besok Anda akan muncul ke publik untuk pertama kalinya setelah dinyatakan hilang. Akan ada banyak media. Oiya, saya juga sudah mengundang media asing untuk menyaksikan lounching produk ini. Jika mereka meminta tanggapan Anda mengenai produk, Anda harus siap."
"Apa?! Pak Agam, kok saya jadi ragu dan gugup. Apa dari TV KITA akan hadir juga?"
"Kemungkinan iya."
"Hahhh?! Pak ... saya khawatir," rengeknya.
"Tidak perlu takut dan khawatir pada apapun. Ingat! Ada saya. Saya akan melindungi kamu. Ingat! Di tubuh kamu ada anak saya. Saya tidak akan membahayakan dan mempermalukan calon anak saya hanya gara-gara iklan ini," tegasnya.
Linda menatap mata Agam. Ucapan pria itu menenangkan batinnya. Ia bisa melihat jika mata pria ini begitu tulus. Tatapannya sangat berbeda dengan tatapan di hari itu. Dulu, mata Agam sangat beringas, berkabut nafsu dan kobaran amarah. Kini, mata itu begitu sayu, indah, dan menenangkan.
"Baik, terima kasih Pak. Saya akan berusaha." Linda menunduk, lalu masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru.
Di balik pintu kamar mandi ia mematung, memegang dadanya dan menatap langit-langit.
Angga ..., apa posisimu di hatiku sudah tergantikan? Ratapnya dalam hati.
Linda mengelus perutnya.
Tapi ... dia hanya peduli dengan calon anaknya. Aku tidak boleh terlena dengan kebaikannya. Setelah perjanjian kita selesai, aku harus pergi jauh dari pria itu dan menata kembali karirku.
Ada perasaan sedih di hati Linda saat ia menyimpulkan jika Agam hanya mengingkan janin yang dikandungnya.
Aku hanya presenter biasa. Tidak mungkin dia menyukaiku. Dulu, hari itu ... dia memang pernah mengajakku untuk menikah. Tapi ... sampai saat ini, dia tidak pernah membahas masalah itu lagi. Mungkin memang benar, jika dia hanya menginginkan anaknya. Bukan mengingikan aku. Kenapa aku sedih? sejak awal, pertemuanku dengan dia hanya sebuah kesalahan.
Linda mencoba menguatkan perasaannya sambil menatap bayangan perutnya di cermin. Ya, perutnya yang dulu rata kini terlihat padat dan berisi. Sepintas memang tidak akan ada yang menyadari jika ia tengah berbadan dua, tapi ... sebagai pemilik dari perut itu Linda tahu jika tubuhnya telah membesar.
Sesuai dengan permintaan Agam, iapun bersandar pada beberapa bantal yang diletakkan di punggungnya. Batinnya berusaha menepis semua perlakuan manis Agam terhadapnya. Ia juga mengingat kembali ucapan Agam tentang kekasih.
Apa dia sudah tahu kalau aku memiliki pacar? Hmm, sebenarnya aku dan Angga ... aku sendiri tidak tahu hubungan seperti apa yang aku jalani bersama dia.
Pak Agam, sama seperti Anda, aku juga ingin bertemu dengan Angga dan memperjelas semuanya. Angga pasti tidak mau menerimaku dalam kondisi seperti ini. Aku harus mengakhiri hubunganku dengan Angga. Tapi caranya bagaimana? Aku bahkan hilang kontak dengan dia.
Tunggu, jika aku memberikan data pribadi Angga pada pak Agam, pak Agam mungkin saja bisa mengetahui keberadaan Angga.
Linda lalu mengambil ponsel dan mengetik pesan untuk Agam.
"Pak Agam ingin bertemu dengan pacar saya kan? Namanya Angga Raya Permana, usianya 31 tahun, lulusan Sparkle Generation University tahun 2012. Sekarang sedang kuliah di luar negeri tepatnya di London. Saya sudah kehilangan kontak dengan dia selama satu tahun. Bisakah Bapak menemukan dia? Saya juga ingin bertemu dengan dia."
"Apa dia gila?! Berani sekali menyuruhku untuk mempertemukan dia dengan laki-laki itu. Kamu benar-benar tidak menghargai perasaannku. Aarghh!"
Di kamarnya Agam kembali meradang, hampir saja menyerang samsak lagi, namun urung karena sadar diri jika hari ini schedule-nya sangat padat.
Lalu iapun membalas pesan dari Linda.
"Oke, saya bisa mempertemukan kamu dengan dia. Sekarang Anda tinggal pilih, mau bertemu dengannya dalam keadaan dia masih hidup? Atau saya bunuh dulu si Angga itu?! "
"Apa?! Pak Agam tidak serius kan?" Balasan dari Linda.
"Apa kamu tahu alamat akun media sosialnya?"
"Tentu saja saya tahu, tapi dia bukan tipe orang yang aktif di medsos."
"Saya tidak bertanya tentang hal itu. Aktif atau tidak bukan urusan saya. Cepat kirimkan."
"@rayangga_p."
"Apa dia tampan?"
Di kamarnya, Linda mengernyit saat membaca pesan dari Agam.
"Tentu saja," balasnya.
"Apa dia bisa bela diri seperti direktur utama HGC? Apa dia kaya-raya? Apa dia menguasai empat bahasa asing? Apa kamu sangat mencintai dia? Apa kelebihan dia hingga kamu jatuh cinta dengan pria itu?!"
Tidak ada balasan lagi dari Linda, Agam menatap layar dengan amarah yang menggebu. Sedangkan di kamarnya, Linda ternyata sudah tertidur.
Agam menghela napas panjang, mencoba menghilangkan kegundahannya dengan memejamkan mata. Ada waktu satu setengah jam lagi sebelum adzan Subuh berkumandang.
❤❤ Bersambung ....