AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
The Complicated Love



Kalut, carut-marut, gelisah, gundah, galau, bingung, takut, khawatir, dan semua hal yang berhubungan dengan kegamangan hati kini menyatu di dalam hati Agam. Memenuhi ruang kalbu dan menyesakan rongga dadanya.


"Tunggu, Pak Agam, Anda mau kemana?"


Dua petugas kemanan mengejar Agam, mereka panik karena Agam keluar dari ruangan itu dengan wajah yang memerah.


"Bapak, tidak apa-apa? Apa Bapak sakit?" Masih mengejar.


"Iya, saya sakit. Kamu tolong katakan pada bu Fanny kalau saya tiba-tiba sakit."


Agam menghentikan langkahnya dan berbicara tanpa membalikan badan.


"Perlu kami antar ke klinik HGC?"


"Tidak perlu, saya akan berobat dengan dokter pribadi saya. Tolong suruh bu Fanny untuk mengurus surat sakit saya. Oiya, tolong bebaskan pria bernama Bagas itu. Tapi sebelum dipulangkan tolong bawa dulu ke klinik HGC. Luka-luka di wajahnya harus diobati." Agam kemudian berlari kembali menuju are parkiran.


"Baik, Pak." Sahut petugas keamanan, saat Agam sudah menghilang dari pandangan mereka.


"Pak Agam?!"


Suara diparkiran itu mengejutkan Agam.


"Pak Yudha?! Kenapa Bapak ada di sini? Sayakan belum mengatakan untuk dijemput." Agam keheranan.


Awalnya, Agam akan pulang menggunakan mobil Tuan Muda Deanka yang tersimpan di HGC.


"Saat Bapak menyuruh saya pulang, saya melihat raut wajah Bapak kurang sehat, jadi saya memutuskan untuk menginap di HGC juga."


"Apa?! Ya ampun Pak." Agam tersenyum hambar.


"Saya mengkhawatirkan Pak Agam."


"Tidak tidur di mobil, kan?" tanya Agam saat ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru.


"Tidak dong, Pak. Saya tidur nyaman di ruangan supir pribadi. Ruangan bekas pak Juan, hehehe." Sambil memasang sabuk pengaman lalu menyalakan kemudi.


"Ya, di HGC memang ada fasilitas untuk Pak Yudha juga."


Walaupun Agam sudah berusaha untuk tidak panik, faktanya tetap saja tidak bisa.


Tangan Agam gemetar saat memasukkan kabel charger pada konektor ponselnya. Pak Yudha bingung tapi tidak berani bertanya.


"Sekarang pak Juannya kemana, Pak?"


Akhirnya hanya berani bertanya tentang hal itu. Hal yang sebenarnya sangat tidak penting, dan saat ini mobil yang ia kemudikan sudah keluar dari kawasan HGC.


"Pak Juan masih jadi supir Tuan Muda, sekarang merangkap sebagai asisten juga," jawab Agam.


Wajahnya terlihat berkeringat. Agam membuka kaca mata dan mengambil tissue untuk mengelapnya.


"Oh," kata Pak Yudha sambil melirik pada Agam yang sedang menyalakan ponselnya. Padahal kapasitas baterai di layar masih satu persen.


"Tolong lebih cepat ya Pak. Saya ingin segera sampai ke rumah," kata Agam saat ponselnya menyala.


Tangannya kembali gemetar, manakala melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab. Ya, ada dari Bagas, dan ada dari dia si pencuri hatinya. Linda Berliana.


Ada pesan dari Bagas, dan panggilan dari bu Ira.


Semakin tak menentu hatinya saat matanya menangkap ada pesan dari si pencuri itu. Pencuri cantik yang selalu membuat tubuhnya menghangat, saat dia berada di dekatnya.


"Pak Agam, Bapak tidak pulang?" Pukul 20.49.


"Sibuk ya?" Pukul 20.51.


"Pak, saya ingin mengatakan sesuatu yang penting, bolehkah saya menelepon Bapak?" Pukul 22.01.


"Maaf kalau saya lancang." Pukul 23.04.


"Pak Agam ... saya mau bicara." Pukul 23.11.


"Pak Agam, maafkan saya sudah berani kirim pesan di jam semalam ini." Pukul 00.04.


"Selamat istirahat, ya Pak. Saya sedang menulis surat untuk Bapak, hehehe. Saya serius, lho." Pesan terakhir 00.32.


Linda ....


"Cepat Pak Yudha! Cepat!!"


Pak Yudha terkejut. Baru kali ini Agam membentaknya. Ia melirik lagi pada Agam. Pria itu telihat sedang menunduk, dan meletakkan ponsel di dadanya.


"Baik, Pak." Sahut Pak Yudha. Iapun menambah kecepatan.


.


.


.


Agam menghelas napas berkali-kali seraya berpikir keras untuk mengambil langkah selanjutnya. Penyesalan di dadanya menggunung. Andai saja ia sedikit bersabar dan mau memegang ponselnya, mungkin tidak akan sesakit dan semenyesal ini.


"Pak Agam, Linda sudah memutuskan hubungan dengan Angga secara sepihak. Dia mengatakan sudah tidak nyaman. Dia sebenarnya sudah ingin putus dari tahun lalu, tapi baru ada kesempatan kemarin."


"Terus, saya tanya apa gara-gara Pak Agam?Dia langsung marah, katanya tolong jangan bawa-bawa Pak Agam dalam masalah ini."


"Saya tanya lagi, apa Pak Agam pernah meniduri kamu? Dia semakin marah, tapi langsung menangis. Puncak kemarahannya pada saya adalah saat saya spontan menuduh dia sebagai wanita bayaran Bapak."


"Dia sangat marah, saya menyesal Pak Agam, saya mohon maaf. Dia mengatakan ucapan saya sangat menyakiti perasaannya."


"Dia lalu berteriak pada saya, katanya dia memang wanita hina. Dia lalu jujur kalau dia dan Bapak memang sudah tidur bersama. Katanya, El sengaja menggoda Bapak dengan cara menjebak Pak Agam. Dia juga mengatakan kalau Bapak pria baik."


"Pak Agam, saya tidak tahu kebenarannya seperti apa, tapi tolong ...., tolong jaga Linda, Pak. Di kota ini dia tidak punya siapa-siapa lagi. Dia dan orang tuanya perantau, pindah ke kota ini sejak Linda usia 12 tahun untuk mengadu nasib."


"Dia wanita baik, Pak. Dia cerdas dan multitalenta. Saya enam tahun satu sekolah dan satu kelas degannya. Dia pandai bernyanyi, berakting, dan sering menjuarai lomba fesyen show tingkat sekolah."


"Dia memang bercita-cita ingin menjadi artis. Cita-cita yang ditentang oleh orang tuanya, karena image artis di kampung halamannya sering diidentikkan dengan hal-hal yang tidak baik."


Ucapan Bagas terngiang kembali di telinganya, dan ada satu lagi ucapan Bagas yang memporak-porandakan hati Agam.


"Pak Agam, mohon maaf jika saya salah. Saya melihat ada cinta di mata LB untuk Bapak."


"Saat saya berkunjung ke rumah Bapak, saya memergoki LB menatap punggung Pak Agam waktu Pak Agam menaiki tangga sambil tersenyum-senyum."


"Saya tidak bisa memastikan perasaan seperti apa yang dirasakan Pak Agam pada LB. Tapi tolong Pak ... jika Bapak tidak menyukai LB, tolong lepaskan dia."


"Jangan mengekangnya seperti itu, jangan pula memberikan harapan pada dia. Tapi, jika Bapak menyukai LB, tolong cepat katakan padanya. Semoga saja belum terlambat."


"Walaupun urakan, barbar, dan sedit jorok, dia itu sebenarnya polos Pak. Laki-laki yang dekat dengan dia hanya saya dan Angga."


"Saat dia berani dekat dengan laki-laki, artinya laki-laki itu memiliki nilai di hatinya. Saya sebagai sahabat baiknya. Lalu Angga sebagai kekasihnya. Lalu Pak Agam sebagai apa? Tolong pikirkan baik-baik Pak."


"AARGH," teriak Agam. Sampai-sampai Pak Yudha terlonjak.


Lalu ia menghubungi seseorang. "Mister X."


"Tolong retas data manifest penerbangan hari ini, please."


Sekarang giliran tangan Pak Yudha yang gemetar, ia ketakutan dengan ucapan Agam, untungnya suara mister X tidak bisa didengar oleh Pak Yudha.


"Apa Bapak sudah gila?! Berbahaya Pak! Meretas data penerbangan bisa mempengaruhi sistem di menara pusat kontrol. Saya tidak mau mengambil risiko dan membahayakan penumpang lain."


"Astaghfirullaah, maafkan aku X. Aku sedang panik, sampai melupakan hal itu."


"Memangnya ada apa? Tolong Anda tenang Pak. Apa yang bisa saya bantu."


"Tolong lacak manifest penerbangan tartas 201, kemungkinan dia ke luar negeri."


"Tartas 201 ponselnya sudah terpasang cip pelacak, Pak. Anda tidak perlu khawatir. Jika ponselnya sudah aktif, kita bisa langsung mengetahui titik koordinatnya."


"Ponselnya mati, X. Sedangkan aku ingin data dia secepatnya. Bisa kamu kirimkan rekaman gambar CCTV bandara? Dari jam 6 pagi sampai saat ini ya."


"Oh, ya ampun saya sudah menduga Anda dan tartas 201 memiliki hubungan, hahaha."


"X, tolong! Ini masalah serius, aku tidak sedang main-main. Bisa-bisanya kamu tertawa di atas penderitaanku. Bisa tidak?! Cepaaat!" teriak Agam.


"Oke, untuk rekaman CCTV bandara saya bisa memberikannya, ini mudah dan tidak perlu peretasan."


Panggilan terputus.


***


Di depan gerbang Bu Ira sudah berdiri dengan wajah cemas.


"Pak Agam, huuu." Langsung menangis dan memegang tangan Agam.


"Katakan," kata Agam sambil menepis tangan Bu Ira dan berjalan cepat menuju lift. Pak Yudha memarkirkan mobil.


"Saat saya ke kamarnya, nona Linda tidak ada. Saya sudah mencari kemana-mana tapi tidak ada juga. Saya menelepon Bapak, HP Bapak tidak aktif."


"Saya telepon pak Yudha, tapi pak Yudha malah marah, katanya Bapak sedang memimpin rapat, dan Bapak tidak boleh diganggu. Saya belum sempat mengatakan tentang nona Linda pada pak Yudha." Bu Ira terisak, berbicara sambil mengekori Agam.


"Semalam nona Linda menunggu Bapak pulang. Jam 11 malam saya lihat nona masih duduk di kursi yang ada di halaman rumah ini, dan sa-saya lihat no-nona Linda menangis Pak. Jam setengah 12 malam, nona baru mau ke dalam rumah setelah saya bujuk berkali-kali. Dan nona ... nona ...."


Agam mematung. Kaki dan tubuhnya seakan tercekal. Saat ini, ia dan Bu Ira sudah berada di depan kamar Linda.


"Dan, nona apa? Ce-cepat katakan Bu ...."


Agam mengatupkan bibirnya, menahan gejolak rasa yang seolah mencabik-cabik jiwa dan raganya.


"Nona ... maksud saya ... saya memergoki nona Linda memeluk bingkai foto Bapak sambil menangis, dan ... dan nona mengatakan sesuatu."


"A-apa yang dia katakan?"


Agam menatap tajam pada Bu Ira, rongga dadanya turun-naik, napasnya saling memburu.


"No-Nona mengatakan akan menghapus nama bapak dari lubuk hatinya."


DEG.


Jantung Agam serasa tersengat listrik.


Tidaaak, teriaknya dalam hati.


Tolong jangan melakukan itu, ratapnya.


"Tolong lanjutkan saja pekerjaan Ibu," kata Agam. Kalimat halus yang artinya mengusir Bu Ira.


"Ba-baik, Pak." Bu Ira Berlalu.


"Terima kasih informasinya Bu," kata Agam. Sesaat sebelum kakinya melangkah menuju kamar Linda, menutup pintu kamar, dan menguncinya.


.


.


.


'Bruk.'


Agam menjatuhkan tubuhnya hingga bersimpuh di lantai kamar. Mau mengejar Linda ke bandara pun sia-sia.


Saat ini sudah menunjukkan pukul 14.08 waktu setempat. Berarti, ia hanya perlu bersabar untuk menunggu ponsel Linda kembali aktif.


Mata Agam mengitari kamar itu. Ia membuka kacamatanya. Aroma Linda di kamar itu masih terasa. Kamar itu menjadi lebih bersih, dan rapi.


"Kenapa kamu meninggalkan aku ...? Kamu melanggar perjanjian kita. Aku tidak mengatakan perasaanku karena kamu sudah memiliki kekasih. Aku juga melihat bagaimana kamu memeluk mesra pria itu. Aku tidak ingin melukai perasaanmu dan kekasihmu, Linda ...."


"Aku merasa tidak percaya diri dan tidak pantas untuk kamu. Secara aku adalah pria bejad yang telah memperkosa kamu. Kenapa aku ingin mengembalikan kesucianmu? Karena aku ingin kamu kembali bahagia. Kamu kembali bersama Angga dan aku akan mengurus anakku."


"Sungguh Linda ..., sejak pertama kali aku melihatmu secara langsung di acara preskon itu, jantungku sudah berdegup. Tapi saat itu aku tidak yakin jika perasaan itu adalah cinta."


"Maafkan aku Linda ...."


Agam berbicara seorang diri, ia meratapi kepergian Linda dan melakukan pembelaan untuk dirinya sendiri.


Agam hanya berharap agar Linda kembali bahagia, tapi cara yang ia lakukan ternyata menjadi buah simalakama.


Awalnya ia ingin belajar mencintai Linda tanpa harus memilikinya. Namun kian hari, cintanya pada wanita itu kian bertambah.


Agam mencoba menguatkan tubuhnya untuk berdiri, dan tatapannya terkunci pada selembar kertas yang dilipat rapi dan diletakkan di atas meja.


Ia meraihnya dengan tangan gemetar. Seorang Agam Ben Buana ternyata sangat lemah dalam urusan asmara.


Agam duduk perlahan di kursi, memakai kembali kacamatanya, dan mulai membuka surat itu.


...___...


...Assalamu'alaikum, Wr.Wb...


Untuk


Pak Agam Ben Buana.


...Semoga saat membaca surat ini, Bapak ada dalam keadaan sehat....


...Aamiin....


...Pak Agam,...


...sebenarnya ... ada banyak kata yang ingin saya sampaikan untuk Bapak....


...Tapi ......


...saya bingung harus memulainya dari mana dan pasti akan bingung juga untuk mengakhirinya....


...Pak Agam,...


...tidak ada kata yang pantas saya ucapkan untuk saat ini, kecuali kata maaf, maaf, dan maaf. Serta kata terima kasih, terima kasih, dan terima kasih....


...Maaf telah merepotkan Bapak selama 4 bulan ini. Maaf jika keberadaan saya di rumah ini banyak menimbulkan masalah dan membatasi ruang gerak Bapak untuk berinteraksi dengan dunia luar....


...Maaf kan saya yang rewel, maafkan saya yang sering mengotori baju Bapak dengan muntahan. Maafkan saya yang sangat menyukai masakan Bapak....


...Maafkan saya .......


...Tolong sampaikan salam saya untuk ibu, dan sampaikan maaf juga dari saya untuk Gama. Saat Bapak sering menginap di HGC, entah kenapa saya sering menangis malam-malam dan mengganggu Gama....


...Terima kasih atas fasilitas mewah di rumah ini, saya juga menikmati kebaikan semua orang di rumah ini, dan yang tidak bisa saya lupakan adalah ... kembali lagi, masakan Bapak. Hehehe....


...Kenapa saya memilih pergi dari rumah ini? Alasanya sangat banyak....


...Pertama,...


...saya tidak ingin terjebak terlalu lama dengan perasaan saya. Setelah saya pikir-pikir, saya yakin bisa menjaga kehamilan ini tanpa bantuan dari Bapak....


...Bapak tidak perlu khawatir, uang dari kontrak iklan itu jumlahnya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saya dan calon bayi-bayi saya....


...Kedua,...


...saya tidak ingin terpisah dari bayi-bayi saya. Dalam kontrak itu tertulis Bapak akan mengambil bayi saya....


...Apa Bapak tahu?...


...Poin itu ... menyakiti perasaan saya. Sama seperti wanita yang lain, saya juga tidak ingin terpisah dengan anak-anak saya....


...Ketiga,...


...kebersamaan saya dan Bapak ternyata memunculkan asumsi negatif yang melukai hati saya. Saya tidak ingin orang-orang memandang rendah pada saya karena dekat dengan Pak Agam....


...Ada yang menilai jika saya telah memanfaatkan tubuh saya demi popularitas dengan cara menggoda Pak Agam. Ada yang juga yang mengatakan jika saya menjadi bintang HGC karena main belakang....


...Pak Agam ......


...saya tidak terima dengan tuduhan-tuduhan itu. Saya juga tidak ingin citra Bapak buruk gara-gara keberadaan saya di sisi Bapak....


...Saya tidak akan mengatakan pada siapapun ayah biologis dari anak-anak ini. Saya akan merahasiakannya....


...Saya akan menganggap jika pertemuan saya dan Bapak adalah sebuah mimpi indah yang tidak akan pernah saya lupakan sampai kapanpun....


...Saya bahagia bisa mengenal Bapak, terima kasih untuk semua hal yang telah Bapak berikan untuk saya, sampai-sampai saya berpikir jika Bapak menyukai saya. Hehehe, padahal ......


...Bapak kan hanya menyukai bayi saya....


...Maaf jika saya telah salah faham. Saya telah mengartikan kebaikan Bapak secara berlebihan....


...Pak Agam ......


...saya akan pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya, saya gugup Pak .......


...Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan, mohon maaf jika selama kita bersama ada kata atau prilaku saya yang melukai perasaan Bapak....


...Terutama ......


...tolong maafkan saya untuk saat itu. Saat dimana saya menghina dan mencaci Bapak dengan kata-kata keji....


...Saya sudah mengikhlaskan tubuh dan kesucian saya untuk Pak Agam....


...Anggap saja sebagai ungkapan permintaan maaf karena saya telah melukai, menyakiti dan memfitnah Bapak....


...Selamat tinggal Pak Agam .......


...Wasalamu'alaikuum, Wr. Wb....


...---...


❤❤ Bersambung ....