
Debarannya terasa nyata, hari yang dinantikan itu tiba jua. Namun di balik kebahagiaan ini, hati Yohan nyatanya merana.
Ia merindukan mendiang ibundanya. Ia juga menantikan kehadiran ayahandanya, dan ia ingin mendengar bagaimana adik perempuan satu-satunya yang sangat ia cinta memuji penampilan dan ketampanannya. Tapi, apa yang ada di benaknya hanyalah angan semata.
Faktanya, mereka tak ada di sisinya. Yang menjadi pendampingnya saat ini justru adalah orang-orang yang dulu sangat ia benci. Mereka adalah, tuan Bahir Finley Haiden, nyonya Nara, Aiza Bahira, dan tuan Deanka Kavindra Byantara.
"Banyak berdoa, supaya tenang."
Nyonya Nara mengusap lembut bahunya sambil menggendong seorang balita di pangkuannya. Balita ini adalah adik kandung nona Aiza. Ya, setelah menikah kembali dengan tuan Bahir setelah puluhan tahun berpisah, mereka kembali dianugrahi momongan.
"Terima kasih Nyonya Nara," ucap Yohan seraya memaksakan diri untuk tersenyum demi menghilangkan kegugupan dan berbagai rasa yang saat ini tengah menyelimuti relung hatinya.
"Ya sudah, saya tingga dulu ya Tuan, putriku sepertinya mau minum susu," nyonya Narapun berlalu. Ia pergi ke kamar yang diperuntukkan untuknya.
Yohan memang menyewa hotel terbaik di Pulau Jauh untuk merayakan perhelatan akbar pernikahannya bersama Seani Benazir Imshana atau Yohan biasa memanggilnya dengan nama 'Sea.'
Gadis yang dulu pernah menjadi korban keberutalannya itu, kini sudah menjelma menjadi gadis berusia 20 tahun yang cantik jelita dan baru saja lulus sekolah menengah atas. Awalnya, pernikahan ini akan dilakasankan setelah Sea lulus kuliah, namun tanpa Yohan memintanya, suatu hari Sea pernah berkata ....
"Kenapa Tuan Yo selalu melihatku dari kejauhan? Kenapa selalu menghidariku? Kenapa Tuan seolah tak menginginkanku lagi? Bukankah kita pasangan kekasih? Kurasa, duduk berhadapan tak masalah 'kok. Asalkan, kita tak melakukan hal-hal yang dilarang agama."
"Bukannya aku tak mau dekat-dekat kamu, Sea. Masalahnya adalah, saat dekat kamu, jiwa nakalku selalu meronta. Padahal, di dada ini sudah ada iman, tapi aku selalu ingin memakan kamu."
"Memakanku?"
"Ya Sea, dan aku baru bisa memakan kamu setelah kita menikah."
"Ya sudah, kita cepat nikah saja, Kak."
"Sungguh?!"
Saat itu, Yohan sampai menjatuhkan gelas yang dipegangnya karena terkesima dengan ajakan Sea.
"Aku sungguhan, Tuan. Aku serius. Yuk kita menikah setelah acara kelulusan sekolahku."
"Siap," tegas Yohan.
...❤...
...❤...
...❤...
Sejak hari itulah Yohan mempersiapkan semua ini. Lalu apa yang ia persiapkan, kini sudah ada di depan matanya. Sebuah pelaminan megah yang menjadi impiannya.
Walau ia tak didampingi keluarga inti, tapi Yohan bersyukur karena masih ada keluarga yang memedulikannya saat ia harus melewati masa-masa sulit pasca keluar dari penjara dan nyaris bangkrut.
Kini, bibir merahnya itu tersenyum bangga. Ia sedang menatap ke arah sana, ke para pria tampan nan gagah yang saat ini tengah bersiap untuk mendampinginya menuju area akad nikah. Ada sang pemeran utama Agam Ben Buana, tuan muda Deanka, pengacara Vano, dan sahabat barunya. Yaitu, beberapa orang pemuda yang berasal dari Organisasi Ukhuwah Mualaf Muda.
...❤...
...❤...
...❤...
Sementara Sea, gadis itu kini tengah harap-harap cemas. Statusnya yang sebatang kara, membuatnya harus berusaha keras untuk menahan kepiluan yang menyesakkan dadanya.
Ya, hari ini ia memang dikelilingi orang-orang baik yang menyayanginya, namun mimpinya untuk bertemu orang tua kandungnya, hingga saat inipun belum terlaksana.
"Kamu cantik sekali, Nak."
Bu Rossa yang merupakan kepala panti asuhan tempat Sea diasuh dan dibesarkan, begitu terpukau melihat kecantikan Sea.
"Bu, aku ...." Mata gadis itu berkaca-kaca.
"Sshh, jangan nangis 'dong, nanti kalau riasannya luntur bagaimana?"
Bu Rossa mengusap air mata di sudut mata Sea. Gadis malang yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri.
Sebenarnya, bu Rossa pernah ingin menolak pinangan Yohan setelah ia tahu jika calon suami Sea adalah keturunan darah biru garis keras dari klan Haiden.
Namun, ketika Yohan datang secara pribadi, lalu berkata jujur bahwa ia pernah merenggut kesucian Sea secara paksa, bu Rossapun berubah pikiran. Bu Rossa merasa jika Yohan memang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan cara menjaga Sea seumur hidupnya.
"Ibu akan memaafkan kamu dengan syarat kamu benar-benar bertaubat dan membuktikan pada Ibu jika kamu tulus mencintai Sea dengan segenap jiwa dan raga kamu."
"Aku berjanji Bu. Aku akan menjaga dan mencintai Sea hingga akhir hayatku," jawab Yohan kala itu seraya menangis sambil memeluk kaki bu Rossa tanpa bisa dicegah.
"Kenapa Bu? Tadi, Ibu melarangku menangis. Eh, sekarang malah Ibu yang menangis," protes Sea.
"Ibu menangis karena bahagia, Nak. Ibu tak menyangka pernikahan kamu akan semegah ini. Bahkan akan dihadiri oleh orang-orang hebat dan terkenal."
"Semua ini hanya titipan Bu. Allah menitipkan semua ini pada tuan Yohan. Aku sebenarnya tak mengharapkan resepsi semewah ini, tapi ... dia berkata ingin membuat momen ini jadi lebih berkesan karena hanya akan dilakukan sekali seumur hidupnya."
"Ya, Ibu faham maksud tuan Yo. Ya sudah, Ibu mau menemui LB dan keluarganya dulu ya, Nak. Kamu tetap di sini. Setelah ijab kabul selesai, kamu akan digiring ke area akad oleh LB, nona Aiza, suster Freissya, Ibu, dan teman-teman panti asuhan. Selesai tanda tangan surat nikah, kamu dan dan tuan Yo akan diarak ke pelaminan didampingi bridesmaid dan groomsmen."
"Baik, Bu." Sea mengangguk.
Senyum manis tersungging dari bibir Sea kala anak-anak panti asuhan yang sudah didandani sedemikian rupa menghampirinya sambil membawa bucket bunga yang senada dengan busana mereka.
...❤...
...❤...
...❤...
Saat ini tengah berlangsung prosesi ijab kabul. Prosesi ini berlangsung khidmat dan tertutup dari media. Media hanya diperkenankan meliput saat kedua mempelai telah berada di pelaminan.
Wali Sea diwakili oleh wali hakim. Tuan Bahir Finley Haiden dan ayah Berli menjadi saksi pernikahan.
Di kursi barisan VVIP, tampak bridesmaid dan groomsmen yang tampil memukau bak dewa dan dewi kayangan.
"Sah."
Terdengar suara itu dari area tertutup yang dihalangi oleh partise super tinggi. Lalu partise itu bergeser, dan doa setelah akad nikahpun dilantunkan.
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih; Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya."
"Aamiin."
Kata itu menggema di seluruh sudut ruangan. Tamu undangan yang sudah hadir mengamini doa tersebut.
...❤...
...❤...
...❤...
Di sudut lain, petugas keamanan gedung tampak sibuk mengatur posisi awak media yang akan meliput acara ini. Bridesmaid dan groomsmen siap melaksanakan tugasnya.
Gedung inipun dilengkapi dengan area bermain dan tempat penitipan anak cuma-cuma yang diperuntukkan bagi tamu undangan yang membawa balita atau anak-anak.
Keivel tampak berada di area bermain. Bocah itu sedang bermain perosotan yang nantinya akan meluncur ke kolam bola warna-warni. Pergerakan Keivel tentu saja tak luput dari pantauan mata Enda dan Maxim. Sementara Aidan dan Ariella sepertinya tak ikut serta.
...❤...
...❤...
...❤...
Musik pengiring mulai mengalun mengiringi kedatangan mempelai wanita. Sea berjalan angggun didampingi pengiring tanpa berani mengangkat kepalanya. Ia terlalu gugup. Apalagi saat ia dititah untuk bersalaman dengan Yohan yang mulai detik ini telah sah menjadi suaminya.
Tangan Sea gemetar saat menerima uluran tangan Yohan. Ia mencium tangan yang dulu pernah melukainya itu dengan perasaan yang sulit didefinisikan.
Bahagia? Ya, Sea bahagia.
Tapi di lubuk hati terdalamnya, ia khawatir jika di masa depan, pria ini akan mengkhianatinya dan kembali terjun ke dua gelap yang telah membesarkan nama Yohan. Sea menghela napas, berusaha membuang jauh perasangka buruk itu.
"Sea ...."
Suara Yohan terdengar parau. Ia mengecup tangan istrinya seraya meneteskan air mata. Lalu mata merekapun bertemu pandang. Yohan adalah orang pertama yang tak kuasa membendung kerinduan pada gadis itu. Ia ingin segera memeluk Sea. Tapi ....
"Kedua mempelai akan bergandengan tangan berjalan menuju pelaminan," seru pemandu acara.
"Silahkan menunjukkan surat nikah ke hadapan media, media sudah diperbolehkan meliput," tambahnya.
Lalu, semburat kamerapun menghujam. Yohan melindungi mata Sea dengan telapak tangannya agar Sea tak kesilauan.
"Katakan sesuatu Tuan Yo," kata salah satu wartawan.
"Aku bahagia, mohon doanya agar pernikahan ini sakinnah mawaddah warohmah. Itu saja," ucap Yohan singkat.
"Apa ayah Anda mengetahui pernikahan ini?" celetuk yang lainnya.
"Aku tak mau menjawab pertanyaan itu. Tak masalah, kan?" Raut wajah Yohan berubah muram.
"Tolong bertanya tentang pernikahan saja! Jika tidak, silahkan keluar dari ruangan ini!"
Suara itu membuat semuanya bungkam. Bahkan musik pengiringpun sampai berhenti. Wartawan yang berulah langsung ciut. Wibawa si pemilik suara tak terbantahkan.
"K-kami mohon maaf Pak Agam." Wartawan tersebut tertunduk. Yang lainnya bergeming.
Musik mengalun kembali saat Agam memberi perintah. Begitulah Agam, tuan Deanka sampai geleng-geleng kepala. Mantan sekretarisnya itu memang luar biasa.
Linda tersenyum simpul, ketegasan Agam di hadapan media, ternyata berbanding terbalik dengan kemanjaannya saat di tempat tidur. Eh, Linda tersipu sendiri. Ia malu karena jadi memikirkan hal yang tidak-tidak. Lalu ia terkejut karena namanya dipanggil pembawa acara.
Segera tersadar jika hari ini dirinya didapuk menjadi artis utama yang akan menyanyikan beberapa buah lagu.
Saat Linda naik ke podium, pengawal Agam langsung begerak. Mata elang pak Dirutpun langsung tertuju pada Linda. Ia tak mau ada hal sekecil apapun yang bisa membahayakan istrinya.
...❤...
...❤...
...❤...
Di pelaminan, Yohan dan Sea tampak serasi. Hari ini, mereka adalah raja dan ratunya. Tamu undangan mulai menyapa. Berbaris rapi untuk bersalaman dan mengucapkan selamat pada Yohan dan Sea. Tamu spesial dari keluarga besar AGAPE-pun tampak hadir.
"Tuan, jangan memelukku terus, gerah," tutur Sea. Ia menepis tangan kiri Yohan yang sedari tadi melingkar di pinggangnya.
"Tubuhmu sudah menjadi miliku," bisik Yohan. Malah mendekap pinggang ramping Sea kian erat. Sea akhirnya pasrah. Ia enggan protes lagi.
Saat para tamu lengah, tangan Yohan bahkan merambah ke bagian lain, merayap pelan di balik bunga-bunga yang menghiasi gaun pengantin milik Sea.
"Tu-Tuan, jangan," tolak Sea.
"Maaf, ya ampun, aku berharap acaranya cepat selesai." Yohan menghentikan tangan jahilnya.
"Itu LB mau nyanyi Tuan." Pandangan Sea teralih ke podium megah di hadapannya.
Ya, Linda tengah bersiap. Kamera wartawan tak boleh menyala. Hanya kamera khusus dari pihak WO yang boleh merekam Linda. Kamera ponselpun tak diperkenankan membidik Linda. Pak Dirut benar-benar protektif.
Tamu undangan bahkan tak berani beteriak saat Linda mulai bernyanyi. Padahal, mereka ingin sekali memotret Linda untuk mengabadikan momen ini.
Menyanyikan sebuah lagu yang tengah mendunia. 'RIP, Love' yang dipopulerkan oleh penyanyi bernama Faouzia.
"Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. R.I.P. love."
Tamu VVIP dari keluarga besar AGAPE tak bisa menyembunyikan kebahagian, mereka menggerakan badan tipis-tipis saat Linda mulai berdendang. Yang lainpun ikut bergoyang samar. Sekadar menggerakkan jari telunjuk dan mengangguk perlahan.
"Oh no, think I did it again (think I did it again). And it kills me to see you like this, like this. Should've known from the moment we met (the moment we met). I'd rip your heart right outta your chest, ayy.
Swore I learned from the last time. Dressed in black I guess I lied. Warned you, God knows that. I tried. I told you. I told you."
"Man down, man down. Oh, another one down for me. Said you'd die for love. But I never loved you, sorry. So long, you're gone. It hurts to see. Said you'd die for us. So now R.I.P. love."
Lalu pengacara Vano naik ke panggung bersama sang istri. Sekretaris Aulia dan Vano tak segan untuk berdansa. Lindapun bernyanyi sambil menahan tawa melihat ulah keduanya.
Di sana, pak Dirut cemberut. Ia sudah mewanti-wanti Linda agar tak menari apa lagi menampilkan kemahirannya dalam hal belly dance. Linda boleh bernyanyi, tapi harus diam di tempat alias duduk.
"Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. R.I.P. love. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. R.I.P. love."
Tak ada kata lain kecuali patuh. Ya, Linda bernyanyi sambil duduk.
"Suara kamu saja bisa mengundang nafsu sayang, apa lagi kalau sampai kamu menari. Saya izinkan kamu menyanyikan beberapa lagu. Tapi ingat, tak boleh sambil menggerakan badan. Keseksian kamu hanya milik saya. Kamu itu milik Agam Ben Buana." Seperti itulah kira-kira amanat pak Dirut pada Linda.
Selain Vano, kini tuan Deankapun tak mau kalah. Ia menarik Aiza untuk naik ke panggung. Tamu undangan mulai begemuruh, mereka terpukau dengan gerakan dansa elegan yang ditampilkan tuan Deanka dan Aiza. Sementara Agam masih memantau, tak sedikitpun begerak dari tempat duduknya.
"Untuk kedua mempelai, silahkan naik ke panggung pentas," seru Linda.
Hal itu membuat tamu undangan bersorak-sorai. Sea jadi panik. Ia yang notabene adalah gadis pemalu, langsung demam panggung. Tangannya mengerat di bahu sang suami.
"Ada aku. Jangan takut, hari ini kita bintangnya," kata Yohan. Ia lantas memangku Sea. Membawa istri cantiknya itu ke atas panggung.
Lalu memeluk Sea dan membimbingnya untuk berdansa. Yolla dan Yolli beraksi. Mereka menerbangkan percaan mahkota bunga ke arah pengantin. Kemudian menyuruh Yohan dan Sea untuk melemparkan bucket ke para tamu yang berkumpul di depan panggung karena ingin melihat Linda dari jarak yang lebih dekat.
Saat bucket melayang, seorang pria menyambarnya. Siapakah dia? Entahlah. Yang jelas, dia tampak senang karena berhasil mendapatkan bunga tersebut.
...❤...
...❤...
...❤...
Kemeriahan acara berlanjut, tamu undangan terus berdatangan. Mereka turut bersuka cita atas pernikahan 'casanova insyaf,' Yohan Nevan Haiden dan gadis yang menjadi 'pembuka pintu hidayah untuk Yohan.' Yaitu, Seani Benazir Imshana.
...❤...
...❤...
...❤...
Setelah acara pemotretan bersama mempelai selesai, Freissya segera berlari ke kamar mandi. Sedari tadi, ia ternyata sudah menahan diri agar tidak muntah.
Di kamar mandi, ia memuntahkan semua menu yang tadi sempat dinikmatinya.
"Aku kenapa?" lirihnya pelan.
Freissya duduk di toilet seraya mengangkat tinggi-tinggi gaun bridesmainnya. Alisnya bertautan. Karena sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai mahasiswi baru, ia sampai melupakan satu hal.
"Tunggu, a-apa bulan ini aku belum datang bulan?"
Matanya mengerjap. Sedang mengingat-ingat. Lalu ia tak sabar untuk segera membeli tespek dan mengeceknya besok pagi.
"Mungkinkah aku ...?"
Ia bahkan belum berani mengucap kata keramat itu. Namun berharap agar hal yang dinantikan itu segera tiba. Ia ingin memiliki Gama junior yang bisa dijadikan pengobat rindu kala ia merindukan sosok Gama.
"Val ...."
Dalam kesendirian, ia memanggil nama Gama. Suaminya itu belum memberi kabar akan menemuinya lagi. Terakhir pertemuan dengannya adalah bulan lalu. Itupun tak sempat mengobrol banyak. Setelah menyalurkan hasrat biologisnya, Gama lekas pergi.
...❤...
...❤...
...❤...
Seluruh rangkaian acara resepsi pernikahan Yohan dan Sea telah usai. Tamu undangan sudah kembali ke rumah masing-masing. WO sibuk membereskan dekorasi, merapikan, serta membersihkan sisa-sisa acara.
Keluarga besar Agam Ben Buana dan keluarga Haidenpun telah terbang kembali ke pusat kota menggunakan jet pribadi.
...❤...
...❤...
...❤...
"So beautiful," seru Keivel.
Ia tengah mengintip keindahan malam daerah Pulau Jauh dari ketinggian. Bocah tampan itu, kini sudah bisa melafalkan huruf 'L' dan 'R.'
"Cantik, indah, dan istimewa," sahut Agam.
Namun bukan pemandangan yang ia lihat, melainkan wajah Linda. Linda memukul bahu Agam. Padahal ada Freissya, Enda, Maxim, dan pengawal lainnya, tapi suaminya itu tak malu melontarkan pujian untuk menyanjungnya.
Rute Pulau Jauh ke Pusat Kota adalah 2 jam 47 menit.
"Pak, aku kamar dulu, mau pumping," ucap Linda. Lalu beranjak menuju ke kamar yang tersedia di jet super mewah ini.
"Saya ikut," ucap Agam.
"Apa?" Linda kaget.
"Kei tak ikut. Tetap di sini bersama Kak Enda dan Kak Maxim." Ucapan Keivel membuat pak Dirut tersenyum bahagia.
Segera menguntit Linda menuju kamar yang letaknya di belakang kabin.
...❤...
...❤...
...❤...
"Wah, enak 'nih," pak Dirut merebahkan dirinya di tempat tidur, ia terlentang. Linda pura-pura cuek, asyik pumping.
"Sayang, ehm, ehm." Pak Dirut berdeham.
Lalu ia menelepon Enda untuk memastikan agar Keivel tak memasuki kamar ini. Linda sebenarnya faham. Namun sedikit takut dan ragu. Apa lagi saat ia melihat keluar. Jelas sekali tengah berada di ketinggian entah berapa feet.
"Sayang, pompa ASI-nya sudah, kan?"
"Ya, Pak. Su-sudah."
"Mari bersenang-senang sayang," bisik Agam sambil memeluk Linda dan menciumi ceruknya. Tangan pak Dirutpun tak terkendali. Jemarinya menjalar dan menjamah.
"Pak ..., emh ---."
"Boleh beteriak 'kok sayang. Kamar ini ada peredam suaranya."
Lagi, pak Dirut berbisik di sela kenakalannya. Ia sedang bermain-main dengan tubuh Linda. Hal yang dilakukan Agam membuat sekujur tubuh Linda gemetaran. Namun ia tak mampu menolaknya.
Sesekali, jemari Linda dengan cat kuku berwarna-warni itu menjambak rambut Agam. Semakin Linda menggelinjang, Agam semakin riang. Lalu Agam tersenyum puas saat menyadari jika tubuh Linda telah mencapai titik itu.
Ia segera memosisikan Linda. Tubuh molek yang pasrah itu dihadapkan ke kaca pesawat. Hingga Linda bisa melihat kerlipan bintang dan awan putih yang menggelap karena diselimuti sang malam.
"Berdoa dulu dan sabar ya sayang .... Nanti akan ada turbulensi," goda Agam.
"Ya ...," jawab Linda.
Alih-alih melihat pemandangan angkasa, ia lebih suka terjaga untuk menatap ketampanan di depan mata.
Lalu terisak perlahan saat sesuatu yang menakjubkan itu lambat-laun menguasai tubuhnya. Bibir pak Dirut membungkamnya agar tangisan Linda tak berlarut-larut.
Jarum jam berputar, sang waktu mengiringi. Hingga akhirnya ... Lindapun tersenyum dan melenguh pelan saat turbulensi yang dimaksud Agam mulai menyerang dan mengguncang tubuhnya.
Pak Dirutpun tersenyum. Ini adalah pengalaman perdananya. Sensasi bercinta di atas ketinggian ternyata sangat luar biasa. Agam merasa jika saat ini, ia adalah pria paling bahagia di dunia.
...❤...
...❤...
...❤...
Ternyata, yang tengah meraih kenikmatan surgawi itu bukan hanya Agam dan Linda saja. Di titik koordinat yang lain, tuan Deanka dan Aizapun sedang melakukannya.
Vano dan Aulia? Entahlah.
Mereka lebih memilih pulang melalui jalur laut menggunakan kapal pesiar karena ingin mengeksplor keindahan laut kepulauan Pulau Jauh.
...❤...
...❤...
...❤...
Apa kabar pengantin baru?
Yohan dan Sea sedang terbaring di kamar hotel tempat mereka melangsungkan resepsi. Seusai shalat Isya berjama'ah, Sea terkapar. Ia terlelap karena kelelahan.
Yohanpun sebenarnya sama lelahnya. Namun faktanya, ada bagian tubuhnya yang sepertinya tak mengenal lelah. Ia menatap gelisah tubuh Sea. Rasanya ingin segera menerkamnya. Tapi ia tak tega dan merasa kasihan. Akhirnya, hanya bisa menatap dan mengelusnya.
Lucunya, tidurnya Sea ternyata urakan. Ia beberapa kali menendang aset milik Yohan.
"Aduh, ahh, auh," pekit Yohan. Yang tak tahu duduk perkaranya, pasti akan berpikir yang tidak-tidak.
Lalu entah di jam berapa, Sea terbangun. Melihat ada pria tidur di sampingnya, Sea terkejut. Dalam keadaan belum sadar sepenuhnya, iapun memukuli Yohan dengan bantal sambil beteriak.
"Siapa kamu?! Pergi kamu! Pergiii!"
"Se-Sea? Ini aku, Yohan Nevan Haiden, suami kamu," tegas Yohan sembari mencekal tangan Sea.
"Sua ---."
Kalimat Sea tercekal, sebab Yohan telah melahap bibirnya.
Akhirnya .... Yohan is back.
Semoga Sea diberikan kesabaran dan kekuatan.
...~belum TAMAT~...