
"Ada apa malam-malam begini, Nona? Ini sudah jam tidur."
"Pak Widi, tolong berikan ini pada tuan Val, katakan aku tidak ingin memegang ini lagi, Bapak juga tidak perlu antar jemput aku lagi," kata Freissya.
Ia dan pengemudi taksi yang dipanggil Pak Widi sedang mengobrol di ujung gang menuju rumah Freissya.
"Apa ini Nona Ice? Apa ini barang berharga?"
"Sangat Pak, ini sangat berharga. Ini kartu tanpa batas milik tuan Val."
"Waduh Nona, sepertinya saya tidak bisa mengikuti keinginan Nona." Pak Widi menyerahkan kembali tas kecil itu pada Freissya.
"Ke-kenpa, Pak?"
"Nona, akhir-akhir ini, saya jarang berkomunikasi dengan tuan Val. Dia sulit dihubungi. Nomornya jarang aktif. Saya pikir ganti nomor, tapi sepertinya memiliki nomor baru. Kemarin saya juga ingin berbicara dengannya. Kebetulan nomornya aktif, tapi sayangnya tidak diangkat."
"Begitu ya? Apa dia jadi melanjutkan sekolah dan kuliah di luar negeri?" tanya Freissya.
"Sepertinya tidak Nona, Senin lalu saya masih melihatnya memakai baju sekolah. Tuan Val sekarang dikawal ketat, Nona. Saya tidak tahu alasannya kenapa, tapi yang mengawalnya polisi."
"Hahh, polisi?" Freissya keheranan.
"Saya tidak tahu hubungan Nona dan tuan Val seperti apa, tapi saya akan tetap menjalankan tugas saya selama 4 tahun itu. Saya tidak bisa berhenti bekerja untuk Nona."
"Tapi Pak, aku tidak nyaman."
"Tolong kasihani saya Nona Ice, saya hanya supir, jika saya makan gaji buta, saya takut jatuhnya rizki saya tidak halal lagi. Saya tidak ingin memberi nafkan pada anak istri saya dari uang yang tidak halal."
Freissya menghela napas.
"Bapak bisa mengembalikan uang dari tuan Val, kan?"
"Nah, itu dia masalahnya Nona, uang dari tuan Val sebagian besarnya sudah saya gunakan untuk bayar hutang dan modal usaha. Tolong maklumi keadaan saya Nona. Saya ingin tetap antar jemput Nona atau keluarga Nona kemanapun."
Freissya merenung.
"Pak, begini saja, apa Bapak tahu rumah tuan Val di mana?"
"Aduh maaf Nona, saya tidak tahu. Saya hanya ditransfer uang untuk bekerja selama 4 tahun dan nomor teleponnya. Itu saja."
"Apa Bapak ada ide agar aku bisa bertemu dengannya?"
"Coba saja Nona Ice telepon dulu."
"Aku sudah sering menghubunginya Pak, tapi nomorku sepertinya diblock."
"Hmm, bagaimana ya? Oiya, begini saja, Nona. Kapan Anda libur kerja? Saya antar ke sekolahnya saja. Saya pernah melihat tuan Val memakai seragam sekolah. Jadi saya tahu dia sekolah di mana."
"Berati besok ya Pak. Kebetulan besok aku dinas siang."
"Siap Nona."
Setelah mendapatkan solusi menemukan Gama, Freissya dan Pak Widi pun berpisah.
Freissya melamun sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Kakinya terhenti di tempat dimana ia dan Gama dihadang seekor ular. Air mata Freissya meleleh. Ia tiba-tiba merindukan moment itu.
Namun setelah ia tahu Gama memblock nomornya, Freissya jadi sadar kalau Gama sudah melupakannya. Freissya juga pernah menelepon Gama memakai nomor temannya dan mengirim pesan. Tapi ... Gama tidak pernah merespon.
"Huuu," Freissya menangis di tepi jalan.
Secepat itukah kamu melupakan aku, Val? Secepat itukah kamu melupakan apa yang telah kita lalui?
Freissya terisak. Ia kembali sadar, jika dirinya dan Gamayasa Val Buana tidak ditakdirkan untuk bersama.
...❤...
...❤...
...❤...
Di keremangan malam ia melamun, bersandar pada sebuah pohon seraya menatap sang rembulan. Ia membuka topinya, rambutnya yang kecoklatan melambai-lambai tertiup angin.
"Senja, kamu di mana?" lirihnya.
Setelah mencari Senja ke tempat pengungsian, Mister X tetap tidak menemukan gadis itu. Iapun sudah mencari ke kantor polisi terdekat, tapi nihil. Senja tidak ada di sana.
Tapi, dalam kamus hidupnya tidak ada kata putus asa. Mister X kembali ke lokasi kejadian untuk mendapatkan info terbaru. Kembali mengayuh sepedanya dengan gaya yang tak biasa.
Setibanya di sana, ia langsung berjalan menuju titik lokasi. Tujuannya adalah menemukan bapak-bapak yang sempat ia temui. Kali ini akan menanyakan keberadaan kerabat Senja. Masih berharap Senja selamat dan aman bersama kerabatnya.
Deg, jantungnya berdentum.
"Se-Senja," gumamnya.
Ia mengerjapkan mata, takut pada kenyataan jika yang dilihatnya adalah semu. Tapi ... bukan. Ini fakta. Gadis bernama Senja yang ia temui saat senja dan hujan rintik itu ada di depan matanya. Berada sekitar lima meter dari jarak ia berdiri.
Senja sedang menatap hampa ke sana. Ke puing-puing yang tidak lagi berbentuk. Airmatanya berurai, ia memegang ranting pohon sebagai pengganti tongkat tuna netranya.
Perlahan, Mister X mendekat, duduk di sampingnya dan menatapnya. Hatinya teramat bahagia karena gadis ini masih ada dan bernyawa.
"Nenek, kenapa meninggalkan Zora? Zora tidak mau tinggal bersama paman, paman pernah menjahati Zora, Nek. Tapi ... jika tidak bersama paman, aku harus tinggal bersama siapa? Nenek ... harusnya Nenek tidak mendorongku keluar, harusnya aku dan Nenek pergi bersama. Nenek, aku merasa dunia ini menjahatiku. Dunia tidak adil dalam memperlakukanku, hanya karena kita miskin dan aku tidak sempurna."
Nenek, jika saja aku boleh meminta, aku ingin pergi juga bersama Nenek. Aku yakin kehidupan kita di sisi-Nya akan lebih baik daripada di dunia ini. Huuu huuu ..., Nenek ...."
Senja terisak. Ujarannya begitu memilukan. Getaran kesedihan gadis itu seakan dirasakan juga oleh Mister X.
"Zora? Apa namamu Zora?" Suara berat itu terdengar lagi.
"I-iya, aku Zora, siapa kamu? Kenapa bisa tahu namaku?"
"Aku adiknya bu Miss, apa kamu mengenalnya?"
"I-iya, dia pernah menolongku, bu Miss juga pernah mengantarku pulang."
"Begini, emm ... aku disuruh kakaku untuk membawamu ke rumah. Kakakku mengkhawatirkanmu setelah tahu kalau pemukiman ini kebakaran."
"Ma-maaf, aku tidak bisa ikut bersamamu."
"Kenapa?" tanya Mister X.
"Aku tidak bisa percaya begitu saja, kecuali bu Miss langsung yang menemuiku, maaf ya," katanya.
"Baik, aku akan menelepon kakakku."
...❤...
...❤...
...❤...
Malam ini sepertinya akan menjadi malam terpanjang untuk Linda dan Agam.
Linda menutupi wajah cantiknya dengan kedua telapak tangan. Ia tak mampu berucap, hanya bisa menyerah dan pasrah pada keadaan. Telah tersihir sepenuhnya oleh pesona Agam Ben Buana.
Hormon estrogen, dan progesteronnya perlahan meningkat, membuat adrenalinnya berpacu hingga merubahnya menjadi sosok Linda yang berbeda dari biasanya.
Linda menggigit telapak tangannya berkali-kali, berusaha untuk tetap waras, dan anggun. Ia tidak ingin Agam melihat dirinya yang kacau dan memalukan seperti ini.
Tapi ... itu hanya ekspektasi Linda. Pada kenyataannya, ia tetap kalah. Kalah oleh zat endorfin atau zat kimia otak yang kian meningkat, menyerang, dan menjadi bomerang bagi tubuhnya.
"So beautiful, i call it a miracle," bisik Agam. Saat ia kembali menyematkan tanda cinta di leher Linda.
"I can't bear to ruin it, it's too beautiful, baby (saya tidak tega merusaknya, ini terlalu indah, sayang)," bisiknya lagi.
Linda masih mengatur napasnya yang tak karuan. Ia baru saja melewati batas rasa senangnya yang tak terdefinisikan. Sehingga secara natural detak jantungnya pun memilih untuk memompa darah ke seluruh tubuhnya dengan cara yang lebih cepat.
Agam merangkum wajah Linda yang memerah, menatapnya lekat-lekat seraya tersenyum.
Telinga Pak Dirut memerah, kembali terngiang bagaimana d e s a h a n manja itu lolos begitu saja dari bibir Linda.
"A-anda ja-jahat," lirih Linda, menutup wajahnya yang merona.
"Jahat? Saya hanya melakukan yang seharusnya. Saya boleh melakukan apapun selagi itu tidak bertentangan, dan boleh mendatangi kamu dari arah manapun, kecuali dari arah yang diharamkan," bisik Agam.
Lalu ... tanpa bisa dicegah, Agam kembali ke sini dan ke sana, menikmatinya, dan mempermainkannya sesuka hati.
Hmmh .... Ahh .... Cu-cukup Maga, hentikan ....
Batin Linda ingin menolak, tapi ... tidak dengan tubuhnya.
Perasaan senang dan rileks itu muncul kembali. Spontan Linda memasygul rambut indah Pak Dirut dan kembali meracau, Linda seolah telah kehilangan separuh rasa malunya.
Agam hanya tersenyum, bahagia rasanya melihat Linda yang seperti ini. Agam menikmatinya acap kali Linda tersenggal-senggal, merintih hingga beteriak. Suara istrinya terdengar begitu merdu dan seksi.
Agam menyukainya, apalagi saat tubuh seksi nan cantik itu bergetar hebat, menegang, dan mengelepar tak terkendali. Agam puas, ia mempermainkanya berkali-kali hingga Linda lemas dan terkulai.
Entah itu yang keberapa kalinya. Hanya Agam yang tahu. Agam meraih seluruh getarannya. Menyambutnya dengan riang gembira, dengan cara yang sangat manis dan romantis.
.
.
"Lagi?" tanyanya.
"Cu-cukup Pak, a-aku lelah."
Tubuh yang polos itu beringsut. Menarik diri dari pangkuan Agam. Lalu terjatuh lemah menimpa ratusan kelopak bunga mawar. Agam memeluk punggungnya. Lalu mengecup punggung Linda yang bekeringat itu.
"Ini baru pemanasan sayang, kita belum bersatu dan menyatu. Saya bahkan belum membuka baju saya." Agam membalikan tubuh Linda. Lalu melahap seluruh peluh yang mengkristal di kelopak netra nan bening itu.
"Ce-cepat lakukan Pak .... Jangan menyiksaku lagi," ratapnya. Lalu dengan tangan gemetar Linda membuka kancing piyama milik Pak Dirut.
"Tenangkan dirimu sayang, saya tidak akan membunuhmu." Agam memegang tangan Linda.
"A-aku takut, Pak."
"Pfft, saya merasa tubuhmu sudah siap sayang, tidak akan sakit, emm ... semua akan nikmat pada waktunya, jadi ... tenang ya sayang," bisik Agam. Pak Dirut meyakinkan, mata sayunya menatap Linda.
Linda mengangguk pelan.
"Mau posisi seperti apa, hmm?"
"A-apapun, te-terserah Pak Agam sa-saja," cicitnya. Mata Linda terpejam kuat, tak sanggup melihat lama-lama penampakan yang mengerikan itu.
"Baiklah, berdoa ya sayang ...."
"Hmm."
Linda mengangguk lagi. Tangannya memegang sprei. Matanya masih terpejam. Serius, ia ketakutan. Dari awal sudah pesimis, pasti tidak akan berhasil.
"Kita pakai selimut ya sayang?"
"Kenapa harus pakai selimut, Pak? A-aku gerah," rengeknya.
"Sayang ... kegiatan ini bukan hanya untuk mencapai kesenangan dan kenikmatan semata, tapi juga untuk mendapatkan pahala. Nah, agar pahalanya maksimal, kita harus melakukannya sesuai dengan yang disunnahkan," terang Agam sambil mengecup kening Linda.
Kemudian menarik pernel tipis yang berada di atas bedcover. Alhasil, kelopak bunga mawar yang berada di atasnya berhamburan dan berserakan ke lantai.
"Ta-tapi, Pak .... Aku tidak mau memakai selimut. Kita berbeda pendapat dalam hal ini. Yang aku tahu ada hadist yang mengatakan, 'Janganlah kamu b e r t e l a n j a n g karena ada malaikat yang senantiasa tidak berpisah denganmu kecuali diwaktu buang air dan ketika seorang laki-laki menyetubuhi istrinya. Karena itu, hendaklah kamu merasa malu dan hormatilah mereka.' Artinya, saat kita berduaan dan berada di ruangan tertutup kita boleh sama-sama polos, kan?"
Si cantik mendebat, padahal Pak Dirut sudah tidak kuat. Telah tersiksa sedari tadi. Agam menghela napas, mencoba tenang dan berusaha menyimak.
"Jadi, saat berhubungan, pasangan suami istri itu diperbolehkan tanpa mengenakan sehelai benangpun. Tapi ya sebaiknya tidak sepenuhnya polos," jelas Linda.
"Ya sudah kalau kamu tidak nyaman."
Agam mengalah. Tak sabaran rasanya ingin merenggut mahkota yang memukau itu. Saking indahnya, sampai-sampai Pak Dirut tidak tega merusaknya.
Perlahan membuka selimut yang tadi telah diraih. Tapi tidak seluruhya.
"I-ya Pak, kekasih-Nya juga kan diriwayatkan sering mandi bersama dengan istrinya," si cantik masih mengemukakan pendapat. Padahal sejatinya, ia sedang berusaha meredam ketakutan.
"Ya sayang, saya tahu, tapi bagaimana detail cara Beliau mandi kita harus banyak belajar lagi pada ahlinya. Kita memohon saja kepada-Nya agar mengampuni kehilafan, ketidaktahuan dan kesalahan kita, lalu mengganti sedikit kebaikan kita dengan pahala yang berlimpah. Niat kita kan mau beribadah, ya kan?" tegas Agam sambil memposisikan diri, dan membuat wajah Linda pucat pasi.
"Ya Pak .... Sesungguhnya, a-amal itu tergantung dengan niat, a-aku sudah tahu." Kembali memejamkan mata, tapi bibirnya gemetar.
"Sayang please jangan tegang, rileks, oke?"
Setelah mengecup puncak kepala dan kening Linda, Agam lalu melafalkan doa. Linda mengikutinya, bibirnya berkamit. Dadanya naik turun karena tegang.
Dag.
Dug.
Jedag jedug tidak beraturan.
"Aaaa," teriak Linda.
"Ss-sayang, hei, saya belum melakukan apapun." Agam kaget, titik fokusnya buyar.
"Huuu ... aku takut, Pak ...." Belum apa-apa Linda sudah berurai air mata.
"Ya ampun sayang .... Baiklah agar kamu lebih tenang, kita pemanasan lagi ya."
"Ta-tapi kan ta-tadi sudah berkali-kali Pak."
"Tak masalah sayang. El, ketika seorang suami melakukan hubungan badan tanpa pemanasan, maka itu bisa diartikan sebagai kekejaman. Nabi kita pernah bersabda bahwa salah satu di antara tiga orang yang dianggap kejam adalah orang yang berhubungan badan dengan istrinya tanpa melakukan foreplay," jelas Agam sambil tersenyum.
"Ya ampun, terima kasih Maga ...."
Linda mencium tangan Agam, ia terharu karena Agam begitu lembut dan sabar menghadapi dirinya.
"Sama-sama sayang, ayo buka dong cantik, saya sudah melihatnya. Kenapa ditutup lagi?"
"A-aku ma-malu Pak ...."
"Tidak perlu malu sayang. Emm, saya pernah mendengar pada sebuah kajian, katanya ... wanita terbaik di antara kamu adalah wanita yang membuang rasa malunya ketika sedang polos atau tanpa sehelai benangpun saat berada di depan suaminya dan kemudian menempatkan kembali rasa malunya setelah memakai kembali pakaiannya. Begitu, kamu mengerti maksud saya?"
Linda mengangguk pelan, pipinya kembali merona kala Agam memuja tubuhnya.
Agam sangat luar biasa, memberikan pengalaman pada Linda dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Lalu memusatkan pemujaan di daerah sini dan sana.
Linda kembali lemas dan meremang, kewarasannya seakan hilang seketika saat rasa itu datang menerjang. Beteriak tak karuan, meronta, dan menggigil. Dalam hal ini Pak Dirut benar-benar sangat pandai dan nackal.
Apa yang dilakukan Agam membuat pembuluh darah milik Linda melebar hingga tubuhnya memerah dan terasa lebih hangat. Otot dasar panggul, abdomen, dan betisnya berkontraksi hebat. Hingga akhirnya si cantik mengiba, dan memohon jua. Wajahnya jelas sekali tengah menginginkan sesuatu yang lebih dari ini. Agam mengusap bibirnya.
"Yakin?" bisik Agam. Kembali memastikan dan memposisikan.
"I-ya, ya-yakin," jawabnya. Pasrah dan membuka diri. Menerima dan rileks. Agam melafalkan kembali doa itu dengan khusyuk.
Lalu menuju ke sana dengan perlahan, dengan dada yang bergemuruh, dengan irama jantung yang tak karuan, dengan tangan yang gemetar, dengan cinta dan ketulusan. Dengan berjuta rasa yang tak mampu terucap.
Dan ....
"AKHH ...."
Respon Linda membuat Agam gelagapan. Lagi-lagi wanita itu memekik sambil menutup wajahnya.
"Sayang .... Sa-saya ---." Entahlah Pak Dirut mau mengatakan apa. Yang jelas 'si dia' sedang berusaha.
"AWHH ...." Keluh Linda.
Agam bingung, sejenak mematung, ini sangat luar biasa. Ia tidak bisa berhenti. Mencoba lebih jauh lagi, ia mengindahkan rintihan Linda. Tapi ... ini sangat ... sulit.
"Maga ... sa-sakiiit ...," rintih Linda. Sambil memegang lengan kokoh Agam, berharap mendapat kekuatan ekstra.
"Sa-sabar ya sayang ... sa-saya sedang berusaha."
Keringat dingin mulai mengalir dari pelipis Agam. Ingin sekali menggapainya dengan kekuatan yang ia miliki, tapi ... Agam tidak ingin menyakiti Linda.
"Huuu ...."
Linda mulai menangis, Agam berdebar-debar. Memagut bibir Linda untuk mengurangi penderitaannya.
"Sayang ... maaf ... sa-saya kesulitan, apa boleh kalau saya sedikit memaksa?"
"Hah? Dipaksa? Ti-tidak mau, Pak. Sudah a-aku bilang, kan? Ini tidak akan cukup, huuu ...." Linda menangis sambil memukuli dada Agam. Ini menyakitkan, terasa perih.
Pak Dirut kebingungan.
"Terus maunya bagaimana sayang? A-apa harus saya sudahi?" Agam mulai putus asa.
"Ja-jangan," kata Linda. Mungkin pada dasarnya Linda juga penasaran.
Ucapan Linda laksana semangat, tanpa sadar Pak Dirut menggunakan sedikit kekuatannya. Catat ya, hanya sedikit. Linda tentu saja langsung beteriak histeris. Memeluk Agam dan bersembunyi di balik dadanya.
"Huuuks, ss-sakit Pak, cukup ... jangan dilanjutkan," ratapnya.
"Arrgh, ini pasti gara-gara dokter Fatimah," rutuk Agam. Lalu mencium wajah Linda dan meminta maaf.
"Maaf ya sayang ..., malam ini kita sudahi saja."
Dengan berat hati Agam menghentikannya. Menarik selimut, merebahkan diri di sisi Linda dan mendekapnya.
"Aku juga minta ma-maaf ...." Linda mengelus wajah Agam, tatapannya dipenuhi penyesalan.
"Hmm," gumam Agam, bingung. Tidak mungkin kan ia bisa tidur dalam kondisi seperti ini?
"Pak Agam, a-aku ada ide," lirih Linda.
"Ide?"
"I-ya, em ... emm ...." Linda malu-malu.
"Katakan sayang, ide apa?"
"Bagaimana ka-kalau a-aku yang memimpin, P-Pak Agam di-diam saja," kata Linda.
Setelah itu, ia langsung menutupi wajahnya dengan selimut. Linda merasakan malu hingga ubun-ubunnya.
"Apa?! Hahaha, ide bagus sayang."
Lalu dengan gerakan cepat, Pak Dirut menarik tubuh Linda dan meletakan tubuh istri seksinya itu di dadanya.
Linda terkejut, tapi ... dia sendiri yang telah menabuh genderang perang.
"Cepat lakukan sayang," desaknya. Pak Dirut pasrah. Tangannya memegang pinggang Linda di kedua sisi.
Linda mengatur napas, sedang mengumpulkan keberanian. Lalu meluruskan niat.
Melayani suami demi mendapat pahala dan rindho-Nya.
Kemudian memulai aksinya, memuja dan mencumbu tubuh idaman yang proporsional itu dengan teliti dan hati-hati. Tubuh yang seyogyanya adalah idaman seluruh wanita di dunia.
Linda adalah pemenang, dia adalah istri sah dari Agam Ben Buana. Jika ada banyak wanita di luaran sana yang begitu menginginkan Agam, bukankah sudah seharusnya Linda menjaga posisinya dan membuat Pak Dirut semakin terjerat?
Benar, malam ini, Linda berjanji tidak akan mengecewakan Agam Ben Buana. Jikapun ia harus kesakitan, Linda akan ikhlas.
Kini, giliran Pak Dirut yang meremang. Linda menggila, Pak Dirut menggelora.
.
.
Hingga akhirnya ... Agam Ben Buana kehilangan kendali. Mata sayunya berubah bak singa yang lapar. Napasnya menderu bak genderang yang ditabuh.
Ia membalikkan posisi, membanting dan menghempaskan Linda, lalu menindih dan mencekal tangannya.
"Pak Agam?"
"Mm-maaf sayang, saya tidak sanggup lagi."
"La-lakukan sesukamu, Maga ...." Linda menyerah.
"Ji-jika sa-saya sedikit ka-kasar, tolong maafkan saya sa-sayang."
Linda mengangguk lemah.
"Sa-saya hanya manusia biasa sayang," ucapnya.
Setelah berdoa untuk yang ketiga kalinya. Agam kembali berusaha, dan percayalah, itu tidak semudah membalikan telapak tangan.
Hasil karya dokter Fatimah sungguh luar biasa. Agam berjanji akan memberikan hadiah pada dokter Fatimah sebagai ungkapan terima kasih.
Agam melakukannya seraya membekap yang merah merekah itu dengan bibirnya. Berharap bisa mengurangi rasa sakit itu.
Teriakan Lindapun tercekal, tubuh Linda merinding, bergetar hebat. Kukunya yang berwarna pelangi itu menancap kuat pada punggung kokoh milik Agam.
Air mata Linda meleleh perlahan seiring dengan lelehan darah segar yang menetes dari sana. Air mata Linda membasahi pipinya, pun dengan darah suci itu. Kini menetes perlahan jua membasahi sprei yang putih itu.
Agam mematung, rasa ini benar-benar membunuhnya. Menghancurkan seluruh belenggu yang selama ini mengikat n a f s u nya. Menyihir dan mengendalikan jiwa dan raganya. Hingga tanpa sadar Pak Dirut bergerak perlahan dan terlena. Terjerat, dan terjerembab di sana. Terjebak dalam kehangatan dan segenap rasanya.
Rintihan dan pekikan Linda seolah tidak lagi didengarnya. Enggan terganggu oleh hal sekecil atau sebesar apapun. Ia tak menggubris dan peduli lagi pada sekitarnya. Bahkan tidak peduli pada dirinya sendiri.
Agam membiarkan Linda mencakar punggungnya, menjambak rambutnya, bahkan menggigit bahunya hingga berdarah.
"Huuu, hentikan ... Maga, please ...."
"Maaf sayang, sa-saya tidak bisa."
Agam mengindahkan Linda, terus merenggut dan meraih. Ia tengah menguapkan cinta dan kerinduan yang selama ini seolah terhibernasi. Hingga lenguhan syhadu keluar juga dari bibir yang beraroma mint itu. Ia memanggil nama Linda berulang-ulang. Ia begitu memuja dan mendamba tubuh istrinya.
"Ohh, sa-sayang ...."
"Ohh, Lindaku ...."
"Berlianaku ...."
"ARGH!!! Bri-li-ant ...."
Penantian panjang itu akhirnya tergenggam jua. Rasa dan asa yang dulu ia rindukan telah tercipta. Tapi ... rasa ini teramat dahsyat, lebih dahsyat dari sebelumnya. Berkali lipat sensasi dan nikmatnya. Sungguh ....
"A-apa ka-kamu sedang menyihirku?" tanya Agam.
"Bu-bukan, a-aku istrimu, bukan penyihir." Lirih Linda di dalam ketidakberdayaannya.
.
.
Dan si cantik yang tadi menangis, meronta dan marah itupun, pada akhirnya menjinak jua. Seiring berjalan lamanya waktu, seiring terbentuknya rasa itu. Linda mulai terbuai. Lenguhan indah keluar dari bibirnya, dari d e s a h a n halus, hingga teriakan yang memanaskan birahi. Linda menikmati setiap desirannya, pun dengan Agam Ben Buana.
Mereka tengah membaurkan asa dan rasa. Asa untuk mendapatkan pahala, dan sebuah rasa yang berawal dari cinta. Bercampur menjadi satu membentuk jalinan tubuh dan tali kasih yang memabukkan dan candu.
Agam kacau.
Linda meracau.
Agam memuja.
Linda mendamba.
Agam berpacu.
Linda terpukau dan terpaku.
Tubuh Linda mulai panas dingin, dan lelah, tapi ... Pak Dirut belum memperlihatkan tanda-tanda akan mengakhirinya.
Si cantik tak sanggup lagi menahan gejolak dan gelora itu. Ini terlalu kuat dan menggebu. Tubuh elok nan seksi itu mulai melemah dan ....
Pingsan.
Linda pingsan saat Agam Ben Buana justru sedang mencapai nirwana.
.
.
.
.
Selamat ya Pak Dirut.
Untuk Linda, semoga baik-baik saja.
Lelah, ini 3094 kata, yang tidak komen, super tega. Hehehe, guyon ya, jangan diambil hati.
...~Tbc~...