
Pagi ini, seorang gadis cantik duduk di sebuah batu karang. Ia menjuntaikan kakinya di atas buih ombak kecil. Digerakannya kaki yang tak beralas itu hingga menyibakan cipratan air. Matanya terpejam rapat. Sedang membayangkan, seperti apakah keindahan laut itu?
Selama ini, ia hanya bisa mendengar cerita dari mulut ke mulut jika laut itu sangat luas, tampak kebiruan dan indah. Ia sebenarnya tak merasa puas dengan jawaban itu. Sebab ia tak tahu, seperti apakah luas itu? Seperti apakah biru itu? Dan ... seperti apakah indah itu?
Setelah lima bulan lamanya tinggal di kawasan suku adat Waroulat, Senja akhirnya merasa kerasan. Ia tinggal di rumah yang disebut Mister X sebagai rumah impian masa kecil nona Aiza. Di sini, ia dilayani oleh seorang wanita baik bernama bu Lela dan putri bu Lela yang juga sama baiknya.
"Senja," panggil seseorang.
"Bu Lela?"
Senja menoleh. Wanita bernama bu Lela mendekati Senja dan segera mengulurkan tangan pada gadis itu.
"Cepat pulang, Exam dapat ikan kesukaan kamu," jelasnya.
"Benarkah?" Senja sumringah.
"Benar, hari ini tangkapan ikannya sangat banyak. Sebagian lagi katanya sudah dijual ke kongsi ikan. Semenjak tinggal di sini, Exam jadi nelayan paling tampan se-Waroulaut. Padahal dia selalu memakai masker, tapi warga di sini sering memuji ketampanannya," jelas bu Lela.
Saat ini, ia sedang menuntun Senja melintasi hamparan pasir putih menuju rumah milik nona Aiza.
Usut punya usut, Mister X telah menyewa rumah tersebut sampai dengan waktu yang ia sendiri tak memiliki kepastian entah sampai kapannya.
"Kamu pernah lihat Exam buka masker? Kamu 'kan pacarnya. Pernah kali ya?" Tanpa sadar bu Lela menanyakan hal itu pada Senja.
"Hahaha," Senja malah tertawa. Dan saat itulah bu Lela menyadari kesalahannya.
"Oh, ya ampun Nak, Ibu memang sering lupa kalau kamu tak bisa melihat, maaf ya," sambil mengusap pundak Senja.
"Tak apa-apa, Bu," jawab Senja seraya tersenyum.
"Oiya Senja, Ibu sebenarnya heran pada Exam, awalnya Ibu sempat berpikir kalau dia itu jahat. Ibu kira dia tak mengenal tuan Deanka. Makanya Ibu sempat menolak saat Exam mengatakan mau menyewa rumah nona Aiza."
"Hmm, jangankan Ibu, aku juga sempat mengira kalau dia jahat. Dia dan kakaknya malah pernah membohongiku kalau kak Exam itu gendut. Aku baru yakin kalau dia tidak gendut saat ibu menjelaskannya."
"Ya ampun, oiya, Ibu sebenarnya penasaran dengan kehidupan kalian berdua. Tapi Ibu tak berani bertanya. Exam juga selalu mengalihkan pembicaraan saat Ibu mau bertanya tentang asal-usulnya. Dia juga selalu mencari ikan dan ke dermaga di malam hari. Jadi banyak warga sini yang tak mengenal dan menyadari keberadaannya."
"Kak Exam memang tak bisa melaut sore atau pagi, Bu. Kan dia harus bekerja."
"Ya juga 'sih. Pekerjaan apa ya? Perasaan di depan komputer terus, apa dia tidak pernah pusing?"
Senja hanya tersenyum, kekasihnya memang misterius, tapi Senja sangat mencintainya. Dan keberadaan bu Lela di tengah-tengah mereka nyatanya telah membawa dampak yang sangat positif. Sebab, Senja dan Exam tak pernah melakukan kontak bibir lagi setelah keduanya tinggal di rumah tersebut.
Terakhir melakukannya ya lima bulan yang lalu, tepatnya di sebuah penginapan yang disebut Senja sebagai penginapan angker. Tanpa sadar, Senja mengusap bibirnya. Tiba-tiba merindukan bibir Mister X.
"Senja?"
Bu Lela keheranan karena gadis itu tersenyum sambil mengusap bibirnya.
"Ya Bu, hahaha." Senja malu sendiri dengan apa yang baru saja ia pikirkan.
Bu Lela menutup mulutnya. Mister X ternyata menyusul. Pria itu memberi isyarat pada bu Lela agar melepaskan tangan Senja. Maksudnya agar dirinya bisa mengambil alih.
"Bu Lela, Bu, Bu Lela," panggil Senja. Ia kaget karena tangannya tak ada yang memegang lagi.
Lalu Mister X kembali memberi isyarat pada bu Lela agar pergi dengan mengibaskan tangannya. Bu Lela mengangguk. Setelah bu Lela menjauh, Mister X menarik tangan Senja.
"Emm, Bu Lela?"
Senja merasa aneh karena tangan yang memegangnya terasa lebih lebar, hangat, dan halus. Mister X tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan lanjut membawa Senja namun bukan ke rumah, malah membawa gadis itu ke tepi pantai.
"K-Kak Exam?"
Senja akhirnya sadar jika yang bersamanya adalah Mister X saat ia merasakan telapak kakinya kembali menyentuh air laut.
Setelah sampai di sisi pantai, tanpa mengatakan apapun, Mister X segera memeluk punggung Senja. Ia benar-benar merindukan gadisnya. Sebab selama ini, Senja selalu berada di bawah pengawasan bu Lela.
"Kak ...."
Selanjutnya Senja hanya membisu, jantungnya berdegup seiring dengan hangatnya dekapan Mister X yang mendesirkan tubuhnya, dan hembusan angin laut yang membelai rambutnya.
"Kamu semakin cantik," bisik Mister X.
"Hahh? Be-benarkah? Emm ... Kak, jangan peluk terus, a-aku tak nyaman," keluhnya.
"Tapi aku merindukanmu, Senja. Bayangkan, kamu selalu berada di bawah ketiak bu Lela. Bu Lela sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk dekat-dekat kamu."
"Kak, bu Lela melakukannya pasti karena punya alasan. Mungkin agar kita tak sampai melanggar hukum adat suku Waroulat. Kakak masih ingat dengan cerita nona Aiza dan tuan Deanka yang menikah karena melanggar hukum adat suku Waroulaut?"
"Ya, aku tahu 'sih. Tapi, apa kita langgar saja supaya dinikahkan secara agama dan adat oleh Tetua? Hahaha."
"Ish, tidak mau, Kak." Senja melepaskan diri dari dekapan Mister X. Namun Mister X kembali mendekapnya.
"Apa kamu tahu? Aku rindu mencium bibir kamu," bisik Mister X.
"A-apa? Ke-kenapa bicaranya frontal sekali?" Senja gugup. Jadi malu sendiri, sebab yang ia inginkan ternyata diinginkan juga oleh Mister X.
"Apa kamu tidak mau? Kita lakukan yuk! Aku tahu di dekat sini ada tempat yang aman dan tersembunyi. Tempatnya menyerupai goa, terhalang karang besar juga, ke sana yuk!" ajak Mister X.
"A-apa?! Ya ampun, apa K-Kak Exam baru saja mengajakku ke jalan yang sesat?" Senja membelalak.
"Ayo dong Senja," bujuk Mister X.
Di balik masker ia menggigit bibirnya karena terlalu menginginkan bibir Senja yang tampak ranum dan merah delima itu.
"A-aku tak mau Kak." Entah alasannya apa, kali ini, gadis itu menolak dengan lantangnya.
Lalu Senja berlari ke sembarang arah. Mister X mengejarnya. Jadilah mereka saling kejar-mengejar. Mister X pura-pura kesulitan mengejar Senja hingga gadis itupun kelelahan. Langkah Senjapun goyah, namun sebelum tubuhnya terhempas ke pasir, Mister X menangkapnya.
"Kena kau," kata Mister X.
"Huhh, a-aku lelah sekali, Kak. Kenapa tak menangkapku sedari tadi?" Sambil melingkarkan tangan di leher Mister X. Kepalanya disadarkan di lengan yang terlihat kuat itu.
"Kamu juga tak mengatakan dari tadi kalau kamu kelelahan." Sambil membawa Senja ke rumah impian nona Aiza.
"Kukira Kak Exam memahami perasaanku."
"Maaf ya. Oiya, lain kali, kalau kamu pergi ke pantai, jangan pergi sendirian, selalu ajak dan bu Lela, oke?"
"Aku juga bersama bu Lela kok, Kak. Tadi ditinggal sendirian karena bu Lelanya mau ke toilet."
"Baik, kali ini aku memaafkanmu. Oiya, kita sudah sampai."
Mister X meletakkan Senja di halaman rumah, tepatnya di atas rumput hias yang menghampar luas menghiasi halamam rumah tersebut.
"Kak, kok aku seperti menginjak rumput di halaman rumah? Di goa juga ada rumput seperti ini?"
"Hahaha, dasar gadis nakal," seru Mister X sambil menyentil pelan kening Senja.
Ia tak menyangka jika kekasihnya yang masih sangat remaja itu ternyata berharap dan menduga akan dibawa ke goa kecil yang berada balik batu karang.
"Kamu mau juga ya?" bisik Mister X. Wajahnya sedikit merona karena ia sadar jika Senja jadi seperti ini akibat terkontaminasi olehnya.
"Cepat, bakar ikannya sudah matang," seru bu Lela yang tiba-tiba melongo dari balik jendela.
"Baik, Bu," sahut Senja dan Mister X secara bersamaan.
Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam rumah. Sekilas terlihat seperti kakak beradik. Bu Lela tersenyum, melihat Senja dan Mister X, ia jadi teringat pada nyonya muda Aiza dan tuan muda Deanka.
Sesampainya di ruang makan, setelah mencuci tangan, Mister X langsung membuangi tulang ikan yang berada di piring Senja.
Rutinitas tersebut selalu ia lakukan acap kali gadis itu akan makan dengan menu ikan-ikanan. Atau Mister X mencicipi makanan yang akan dimakan Senja guna memastikan kalau makanan itu tidak pedas. Ternyata, Senja tidak suka dengan makanan yang pedas-pedas. Atau, Mister X akan meniupi makanan untuk Senja yang sekiranya masih panas.
Saat makan berlangsung, bu Lela sering mencuri pandang pada Mister X. Sejak lima bulan yang lalu Mister X dan Senja datang ke sini, bu Lela memang sering berdecak kagum dan merasa aneh dengan Mister X. Cara makan Mister jelas sangat berbeda dengan cara makan kaum bangsawan pada umumnya.
Mister X selalu menundukkan kepala, namun punggungnya tetap tegak lurus. Tak berbicara saat makan, dan selalu meletakkan atau menghamparkan lap tangan segi empat di pangkuannya. Mister X juga selalu menyediakan mangkuk kecil berisi air mentah untuk mencuci tangan, namun setelahnya, ia akan cuci tangan kembali di wastafel.
Bahkan cara minumnyapun berbeda. Padahal yang diminum hanya air putih, tapi Mister X tampak seperti sedang meminum air yang sangat luar biasa istimewa.
Saat Senja selesai makan, Mister X membantu Senja mencuci tangan. Kasih sayangnya terhadap Senja begitu dalam. Selain telah jatuh hati pada gadis ini, faktanya Mister X memang tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang gadis yatim piatu.
...***...
Lalu di suatu hari, saat matahari hendak menelusup ke ufuk barat, saat gelombang laut tengah mengambing pelan sang ombak, Senja dan Mister X duduk di bawah nyiur kecil. Angin senja membelai rambut keduanya.
Pandangan mereka terlihat fokus ke sana. Ke titik-titik noktah kecil yang menghiasi hamparan samudra. Ya, titik itu adalah perahu nelayan yang sedang melaut. Walaupun faktanya, yang terlihat oleh Senja hanyalah kegelap-gulitaan.
"Senja," ucap Mister X lirih. Sambil meraih tangan Senja.
"Ya Kak, kenapa?"
"Aku baru saja mendapat kabar dari mata-mata pak Agam kalau ayahandaku sakit parah, jadi ...." Mister X tak melanjutkan kalimatnya.
"Sakit? Lantas?"
"Sebenarnya, ada banyak orang yang bisa mengurus ayahandaku. Tapi, menurut informasi mata-mata itu, ayahanda selalu memanggil namaku dan memintaku kembali. Padahal, beliau sendiri yang memintaku pergi jauh dan mengasingkan diri."
"Senja, aku tak mampu pergi tanpa kamu. Aku tak bisa meninggalkan kamu." Sambil mencium punggung tangan Senja.
"Lalu?" Senja melongo. Jujur, ia bingung harus mengatakan apa.
"Aku ingin membawamu ke negaraku. Apa kamu mau ikut?"
"A-apa? Ta-tapi, Kak ---."
"Senja, di negara ini, kamu memang masih memiliki keluarga, tapi paman kamu jahat," sela Mister X.
"Ya, Kak. Aku tahu kalau pamanku memang jahat. Tapi, kalau aku ikut, aku takut tak bisa menyesuaikan diri. 'Kan ada yang mengatakan, daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri," jelas Senja.
"Senja, aku sudah berjanji pada nenekmu, padamu, dan pada diriku sendiri kalau aku akan membahagiaan kamu dan akan membuatmu bisa melihat dunia ini. Dan aku memiliki ide cemerlang untuk menunaikan janjiku itu."
Mister X terlihat serius. Menatap wajah Senja dalam-dalam.
"Ide? Ide apa, Kak?"
"Senja, mari kita menikah," ajak Mister X tanpa basa-basi.
"A-apa?!" Gadis itu terkejut maksimal.
"Aku serius Senja, kalau kamu setuju, aku bisa membawa pamanku untuk datang ke sini dan menjadi wali nikah. Setelah kita sah menikah, aku akan membawamu ke negaraku."
"Apa?!" Senja semakin terbengong-bengong.
"Jangan khawatir pada pamanmu. Asalkan ada uang, maka semua urusan dengan dia akan berjalan lancar. Oiya, aku juga bisa menjamin kehidupan seluruh keponakanmu. Akan kupastikan mereka aman, hidup layak, dan mendapat pendidikan yang baik," terangnya.
"Emm, a-aku bingung, Kak. Untuk saat ini, aku benar-benar tak bisa menjawab dan tak bisa memberi keputusan."
"Kenapa? Kamu mencintaiku, kan?"
"Ya Kak. Cinta 'sih, tapi ... kata bu Lela kehidupan rumah tangga itu rumit. Aku pernah mengobrol masalah rumah tangga sama bu Lela. Dia juga memberitahu alasannya tak menikah lagi setelah suaminya meninggal."
"Senja, aku tak punya banyak waktu. Aku akan menunggumu sampai besok pagi," desaknya.
"Sesingkat itu?"
"Ya Senja, dan kamu jangan mengira kalau aku main-main. Aku serius ingin menjadikan kamu sebagai permaisuriku."
"Permaisuri? Hahaha, Kak Exam lucu."
"Aku tak bercanda Senja." Seraya mencubit pipi gadis itu.
"Aduh, sakit tahu, Kak. Ehm, aku juga sebenarnya semakin ke sini semakin ragu." Senja menunduk.
"Ragu? Maksud kamu?"
"Kak, maaf ya, selama lima bulan ini, aku sering tanya-tanya sosok Kak Exam pada bu Lela. Kata bu Lela, Kakak itu tampan, pandai berbahasa asing, pandai menggunakan komputer, pandai menembak, berenang, berkuda dan juga pandai memasak."
"Terus? Masalahnya apa?" sela Mister X.
"Aku ragu kalau aku adalah jodohnya Kak Exam. Aku banyak kekurangannya, Kak. Selain buta, aku juga miskin dan tak berpendidikan. Bagaimana kalau keluarga Kakak tak menerimaku?"
"Senja, wanita yang akan aku nikahi adalah wanita yang kucintai. Aku bebas memilih siapapun, percaya padaku, Senja. Pokoknya, cepat beri jawaban. Aku tak ingin mendengar alasan apapun, tak ada protes, tak ada tapi-tapian," tegas Mister X sambil merangkul dan menekan pelan bahu Senja agar bersandar di lengannya.
"Senja," panggilnya.
"Ya," jawab Senja.
"Selama berada di Waraulaut, saat hari menjelang senja, aku selalu merasa lebih bahagia. Karena di saat bersamaan, aku bisa melihat dua keindahan sekaligus. Pertama, keindahan suasana senja di pesisir pantai, dan yang kedua, keindahan Senjaku, kekasihku," jelasnya. Mengecup puncak kepala Senja.
"Terima kasih atas rayuannya. Oiya Kak, selain alasan tadi, aku juga takut terhadap hal lain," tambah Senja.
"Takut apalagi? Tujuh belas tahun itu sudah bisa menikah, kok. Kamu sudah dapat kartu identitas, kan? Nah, itu artinya kamu sudah dewasa."
"Bu-bukan masalah sudah 17 tahunnya, Kak. A-aku takut masalah malam pertamanya," ucap Senja malu-malu.
"A-apa?" Wajah Mister X jadi terasa panas setelah mendengar ucapan Senja.
"Kata temanku yang bekerja di toko bunga, setelah melakukan malam pertama, dia masuk rumah sakit akibat perdarahan hebat. Sampai dirawat juga Kak. Awalnya, karena malu, temanku tak mau ke rumah sakit. Eh, perdarahannya malah semakin banyak sampai dia anemia. Aku takut seperti itu."
Mister X melongo, matanya mengerjap. Malam pertama seperti apa pikirnya sampai bisa semengerikan itu.
"Gila, pasti ada yang salah," gumam Mister X.
"Ya 'kan? Kak Exam saja kaget, apalagi aku?"
"Jangan mengkhawatirkan masalah itu, aku janji tidak akan melakukannya sebelum kamu siap. Lagipula, saat kamu sudah sah menjadi istriku, aku dan kamu harus menjalani banyak ritual dan upacara. Dalam hal ini, kapan aku melakukan malam pertamapun ada aturannya. Aku tidak bisa berkehendak sesuka hatiku," jelas Mister X.
"Hmm, aku pikir-pikir lagi ya, Kak."
Senja menghela napas. Ia sebenarnya tak faham maksud Mister X. Tapi enggan bertanya lebih jauh lagi.
...~Tbc~...