AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Tentang Maga dan BRN



Sebelumnya,


"Kak Dean, cukup ... kakiku sudah sembuh tidak perlu ditiupi. Tidak perlu mengancam pak Agam. Aku tidak marah pada kak Linda, ini hanya kecelakaan, tidak disengaja."


Terdengar sebuah percakapan di salah satu kamar rawat inap termewah di salah satu rumah sakit milik keluarga Haiden.


"Benar sudah sembuh?" tanya pria yang saat ini tengah berlutut sambil memegang kaki wanita muda itu.


Mereka adalah Aiza Bahira dan Deanka Kavindra Byantara. Setelah kaki Aiza terkena serpihan kaca, ia ternyata dirawat di rumah sakit. Sebenarnya perawatan di rumahpun bisa dilakukan.


Tapi ... begitulah Deanka. Ia sangat overprotektif terhadap istrinya. Selain overprotektif dan posesif, sisi gelap dari sahabat sekaligus mantan bos Agam Ben Buana ini adalah sedikit berlebihan dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis.


Objeknya tentu saja 'HANYA' istri tercintanya yang cantik, imut dan lucu. Aiza Bahira.


Awalnya, Aizapun kaget dengan prilaku itu, ia bahkan sempat berkonsultasi dengan dokter Fatimah karena ketakutan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Aiza jadi terbiasa, bahkan seolah tertular dengan candunya.


Seperti halnya siang ini, setelah Aiza memilih pulang paksa dari rumah sakit karena merasa baik-baik saja, ia dan Deanka langsung menuju kamar pribadi setibanya di rumah mereka.


"Nona, Tuan Muda, apa tidak makan siang dulu?" tanya seorang pelayan ketika melihat Aiza dan Deanka bergegas menuju lift.


"Tidak," jawab keduanya serempak dengan langkah kaki cepat.


Para pelayannya hanya mengangguk, mempersilahkan, lalu saling menatap satu sama lain.


Setibanya di dalam lift tubuh mereka langsung merapat. Deanka segera melahap yang berwarna merah muda dengan napas tidak beraturan.


"K-Kak, sabar ... sebentar lagi kita sampai kok," ucap Aiza setelah dirinya bisa bernapas lega.


"Za, sudah dua hari selama di rumah sakit kita tidak melakukannya. Ya wajar dong kalau aku tidak sabaran, hahaha," katanya sambil tergelak dan kembali memagut. Tangan kirinya mencekal kedua tangan Aiza, sementara tangan kanannya sudah berkelana ke sana ke mari.


Deanka sedang membuka, menarik, melepas dan melakukan apapun yang ia inginkan.


"Umhh ... emmh ... sa-sayang ...." Rintih Aiza.


Wanita muda yang tengah hamil itu tampak pasrah manakala Deanka merengkuhnya ke dalam pangkuan, menautkan bibir mereka sambil berjalan cepat menuju kamar.


Setibannya di kamar, gelora itu kian membara, tangan Aiza mulai merayap untuk membuka kemeja Deanka saat pria itu membaringkannya di tempat tidur dengan perlahan.


Dan Deanka juga sibuk membuka apa saja yang melekat di tubuh Aiza. Keduanya saling menatap. Tatapan berkabut yang dipenuhi kerinduan, gairah dan cinta.


Aiza mengusap rahang tegas milik Deanka bersamaan dengan Deanka yang mengusap tubuhnya.


Deanka lalu melakukan semua hal manis dan romantis agar tubuh Aiza benar-benar siap menerima luapan hasratnya yang selalu saja menggebu dan tak terbantahkan.


Jangan ditanya bagaimana respon Aiza. Intinya, wanita muda itu begitu menikmatinya, hingga sekujur tubuhnya merinding roma, meremang dan menggelinjang beberapa kali.


Sementara bibir mungilnya terus meracau. Awalnya hanya sebuah cicitan malu sambil menutup mulut dan wajahnya yang merona. Namun lama kelamaan berubah menjadi teriakan indah yang memantik hasrat serta mengusik jiwa dan raga Deanka.


Hingga pria itu tidak sabar untuk segera merenggutnya, dan menikmati kedahsyatannya.


Diciumnya puncak kepala Aiza seraya berdoa, lalu ia mencium perut Aiza seraya meminta izin pada calon buah hati mereka.


Namun ... saat Deanka akan melepas pakaian terakhirnya, panggilan penting itu masuk. Sebuah panggilan rahasia yang terlarang untuk diabaikan.


"ARGH!" teriak Deanka kesal. Tapi ini wajib diterima.


"Im so sorry, baby, wait a moment (maafkan aku baby, tunggu sebentar)," ucapnya.


Aiza mengangguk, dan menatapnya nanar.


Ini memalukan.


Di saat tubuhnya jelas-jelas sudah menuntut, tapi Deanka malah menjauh dan berbicara serius pada salah satu ponsel yang sebelumnya jarang ia gunakan.


"Kak Dean ...," panggilnya.


Aiza merasa tidak nyaman, sekujur tubuhnya sudah terlanjur dimanjakan. Hingga akhirnya ... ia sangat-sangat menginginkan 'Itu.'


Namun yang dipanggil seolah tidak mendengar.


Deanka malah sibuk memakai kembali bajunya, meraih cepat jaketnya, sebuah tas kecil, pistol, masker dan kaca mata.


Bahkan Deanka memakai sepatu dengan gerakan paling cepat dibanding cara sebelum-sebelumnya.


"Kak Dean ... mau ke mana? Setidaknya bicara dulu, jawab dulu, jangan mengabaikanku ...." Aiza sedikit marah dan kesal.


Diraihnya selimut untuk menutupi tubunya lalu mendekat pada Deanka yang hendak beranjak.


"Im sorry baby. I have to help Maga (maafkan aku baby. Aku harus menolong Maga)."


Deanka berlalu cepat setelah setelah mencium kening Aiza.


"Maga? Maga siapa?" tanya Aiza.


Namun Deanka tidak menjawab karena tubuhnya telah terlebih dahulu menghilang di balik pintu kamar.


"Aaaa," kini Aiza berteriak kesal.


Ia naik ke tempat tidur sambil merutuki dirinya sendiri.


Akhirnya, ia masuk ke kamar mandi untuk berendam.


Semoga dengan berendam, keinginan kuat untuk dijamah itu menghilang dengan sendirinya.


"Aaaa, memalukaaan, kak Dean jahaaat," teriaknya lagi sambil mengguyur tubuhnya dengan air hangat.


Sementara itu Deanka yang sudah berada di mobil sportnya, terdengar sedang menelepon seseorang sambil melesatkan mobilnya dengan cepat.


...*...


...*...


...*...


...*...


Saat ini,


"Hallo, are you Maga's girl friend?"


"Maga? Siapa Maga? Tolong jangan membuatku bingung. Kamu penipu ya, aku mau menutup teleponnya," kata Linda.


Alis indahnya bertautan karena mengira panggilan salah sambung.


"Hei kamu! Jangan ditutup! Atau kamu mau mati, hahh?"


Ucapan pria di balik ponselnya membuat mata Linda melotot.


"Hei! Siapa kamu?! Berani ya mengancamku!" Linda benar-benar mematikan panggilan.


Namun Linda terkejut saat mendapati nomor tersebut mengirim pesan yang membuatnya berdiri dari duduknya.


"Aku adalah orang yang tahu rahasia tentang kamu. Kata kunci; Green Seroja, ABB memperkosa kamu, dan kamu adalah wanita aneh yang mencintai pemerkosamu."


"Apa?!" Linda terhenyak.


Lalu ia menelepon balik nomor itu.


"Hallo, kamu siapa? Jangan macam-macam ya!" ancamnya.


"Kamu di mana? Akan aku jemput, cepat katakan! Kita harus pergi ke suatu tempat. Kalau kamu tidak menurut, kamu akan menyesal seumur hidup kamu."


"Tapi, aku sedang ada di rumah sakit."


Linda jadi panik. Orang yang meneleponnya pasti tidak main-main. Pikirannya berputar menduga-duga, siapa gerangan orang yang mengetahui rahasia besarnya?


DEG. Linda tersadar, ia menelan saliva dengan susah-payah.


"Tu-Tuan Deanka?" panggilnya.


"Aku sudah tahu posisimu! Bersiaplah, dalam waktu 7 menit kamu harus berada di pintu keluar rumah sakit."


Panggilan terputus saat Linda masih terbengong-bengong. Padahal, Linda baru saja akan menanyakan tentang Agam.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin bisa langsung keluar dari rumah sakit dalam waktu 7 menit. Belum mengurus biaya administrasi, belum diizinkan pulang dan kalaupun boleh pulang, mau dibayar pakai apa? Aku tidak punya uang sepeserpun. Aaaa, bagaimana ini?" teriaknya.


Sebenarnya Linda sudah tidak diinfus, namun kepulangan Linda ditunda. Kata dokter Fatimah, baru boleh pulang setelah Agam memperbolehkannya.


"Benar, aku harus menghubungi dokter Fatimah." Linda ada ide.


Dengan tangan gemetar, ibu hamil yang tubuhnya seksi itu menelepon dokter Fatimah.


"Dok, aku mau bicara, penting. Bisa tidak dokter ke kamar perawatan? Sekarang ya, Dok?" harapnya.


"Baik," sahut dokter Fatimah di ujung telepon.


Dan di menit ke dua dokter Fatimahpun datang.


"Ada apa?"


Ia sedikit terengah karena berlari setelah mendengar suara panik dari Linda.


"Dok, ini sulit dijelaskan aku ditelepon seseorang untuk ikut dengannya." Sambil memegang tangan dokter Fatimah.


"Lho? Sama siapa? Wartawan?" Dokter Fatimah kebingungan.


"Sepertinya tuan Deanka," sambil menundukkan wajah penuh kecemasan.


"Apa? Deanka Kavindra Byantara?" Mata dokter Fatimah melotot.


"Ya, Dok. Dia mengetahui rahasiaku, dan menyebut nama seseoang," tambah Linda.


"Cepat pergi!" tegas dokter Fatimah.


"Apa?!" Linda kembali kaget.


"Cepat ikuti perintahnya!" bujuk dokter Fatimah dengan nada suara mengusir.


"Tapi, Dok. Bagaimana dengan status pasienku? Aku kan belum pulang dari rumah sakit ini."


"Jangan dipikirkan, saya yang urus. Lagipula uang perawatan, biaya operasi dan lain-lainnya sudah dibereskan oleh pak Agam. Dia sudah mentransfer seluruh biaya dan meminta saya mengurusnya. Cepat pergi," serunya.


Dokter Fatimah bahkan membantu Linda memakai masker.


"Anda telah memilih mencintai Agam Ben Buana. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, Anda pasti akan terlibat juga dengan tuan Deanka atau keluarga Haiden yang lainnya. Saya, dokter Rama, dan dokter Cepy adalah dokter pribadi keluarga Haiden. Saya memiliki banyak informasi tentang mereka yang mungkin belum diketahui oleh Nona LB."


"Ba-baik, Dok. Aku permisi.


Dokter Fatimah mengangguk, ia berharap semoga Linda dan janinnya selalu baik-baik saja.