
~Sepuluh Bulan Kemudian~
"Saat melakukan shalat pertama, aku merasa dekat dekat dengan Allah. Rasanya Allah ada di sisiku. Setelah aku shalat, aku benar-benar merasa damai. Dulu, hatiku sering merasa kosong tapi setelah shalat, aku merasa lebih tenang, dan yakin jika rasa seperti inilah yang aku cari selama ini."
"Aku merasa sangat yakin jika pegangan hidupku baik saat badai, saat hujan, maupun saat cerah, tempat berpegangnya kehidupanku hanya pada Allah," jelas Yohan.
Ia sedang mengisi sebuah acara kajian Islam untuk sesi berbagi cerita dengan mualaf. Pak Widipun hadir di tempat ini, ia melihat Yohan dari kejauhan. Tepatnya dari lantai dua gedung tersebut.
Mualafnya Yohan tentu saja menggegerkan publik. Siapa 'sih yang tak mengenalnya? Sebelum diberitakan bangkrut, dipenjara, dan mualafnya Yohan Nevan Haiden, ia jelas-jelas adalah casanova yang terkenal sebagai maniak. Namun faktanya, Allah telah memilih Yohan untuk mendapatkan hidayah.
"Aku tak menyangka sahabat-sahabat di ruangan ini mau menerimaku. Ini sebuah kebanggan. Terus terang, aku sangat malu dan merasa rendah diri. Kalian tahu kisah kelam dan masa laluku, tapi ... kalian tak jijik saat melihatku," ungkapnya seraya menunduk. Di sana, bola mata pak Widi berkaca-kaca. Ia bahagia dengan Yohan yang sekarang.
"Apa motiviasi Tuan Yo hingga memutuskan untuk menjadi mualaf? Saya pernah mendengar kabar burung jika Tuan melakukannya demi mendapatkan seorang wanita dan tak benar-benar ingin masuk Islam. Mohon berkenan untuk menjelaskannya," tanya pemandu acara. Dia merupakan seorang artis terkenal yang tergabung dalam klub artis hijrah.
"Jujur, motivasi awalnya memang karena wanita. Tapi sekarang aku sadar kalau wanita itu adalah pelantara yang dikirim Allah untuk menjadikanku seperti sekarang ini. Karena sering mendengar dia membaca Al-Qur'an dan melihat dia shalat, aku jadi tertarik untuk mempelajari tentang Islam."
"Setelah aku pelajari, aku jatuh pada kesimpulan jika Islam adalah satu-satunya agama yang mengatur segala aspek kehidupan. Bukan hanya dalam hal ibadah saja, namun Islam telah mengatur penganutnya mulai dari kehidupan sehari-hari, hubungan manusia dengan diri sendiri, sesama manusia, alam semesta, dan manusia dengan Tuhannya. Bahkan sampai cara minum, meludah, dan memotong kukupun ada aturannya. Itulah salah satu alasan yang membuatku yakin."
"Selain itu, apa yang tertera dalam Al-Qur'an aku meyakini begitu sempurna. Banyak hal di dalamnya bisa dibuktikan kebenarannya melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa kini. Di saat para ilmuwan menemukan fakta baru tentang langit dan alam semesta, ternyata ... puluhan ribu tahun yang lalu, Allah telah menjelaskan fakta tersebut pada Al-Qur'an melalui rasul-Nya."
"Padahal, aku baru mempelajarinya, tapi apa yang kudapatkan sudah membuatku takjub. Dan masih ada banyak hal yang sama sekali belum aku ketahui tentang keistimewaan agama ini. Jadi, aku mohon bimbingannya dan mohon dimaklumi jika apa yang kukatakan barusan ada yang keliru," jelas Yohan sambil membungkukkan badannya. Lalu para hadirin berdecak kagum dan tersenyum.
.
Yohan kemudian mengikuti acara tausiyah hingga selesai. Pak Widi setia mendampingi. Saat acara usai, beberapa hadirin terlihat mendatangi Yohan untuk sekedar menyalami dan menyapa pria itu. Rata-rata dari mereka berkata ....
"MasyaaAllah, tabarokallah, walhamdulillah, selamat datang saudaraku, semoga engkau istiqomah."
Yohan terharu, ia merasa baru kali ini diperlakukan seistimewa ini. Lalu tiba-tiba, punggung pria itu ada yang memeluk. Jelas Yohan kaget. Saat membalikan badan, yang memeluknya ternyata adalah tuan Deanka yang memang rutin mengikuti pengajian di sela kesibukannya.
"Deanka, kamu mengagetkanku!" sentaknya sambil membalas memeluk Deanka. Tepatnya menghimpit tubuh Deanka hingga pria yang bernetra hazel itu mengeluh.
"Aduh, sakit, Yo!" bentak Deanka. Lalu mereka tersenyum bersama. Hubungan keduanya benar-benar telah membaik.
"Dirut di mana?" tanya Yohan.
"Hahaha, Agam ada di halaman masjid. Sedang mengasuh Keivel. Balita itu terus berulah, tak mau diam. Seperti tak ada capeknya. Kata Agam, Keivel memasukkan sandal jama'ah ke tempat sampah," jelas Deanka sambil berjalan beringan bersama Yohan menuju ke suatu tempat yang telah disediakan oleh panitia.
"LB-nya ikut, kan?" Yohan bertanya lagi.
"Sepertinya tak ikut, pasti karena sibuk dengan bayi kembarnya," jawab Deanka.
"Hahaha, oiya, aku lupa. Agam beruntung ya, Dean? Masih muda sudah punya anak tiga. 'Lah aku, menikahpun belum," gumam Yohan.
"Sabar, kamu hanya menunggu Seanya siap, kan?"
"Ya, dia ingin lulus sekolah dulu. Sekarang masih kelas dua sekolah menengah atas. Rasanya tak sabar, dan semakin besar, Sea semakin cantik saja. Oiya, kenapa kamu tak membawa anak kamu. Hingga saat ini, aku bahkan belum tahu nama anak kamu." Yohan menatap heran pada Deanka.
"Demi keselamatan dia, aku dan ayah Bahir sepakat untuk merahasiakan identitas anakku. Aku dan ayah tak ingin tragedi tajuk rencana Bukan Darah Biru terulang kembali," jawab Deanka sambil tersenyum.
"Hmm, aku mengerti. Anak kamu boy or girl?"
"Rahasia," jawab Deanka singkat.
"Hahaha." Keduanya tertawa.
Dari area ini, mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana seorang Agam Ben Buana harus menundukkan kepala dan meminta maaf pada jamaah yang sandalnya dimasukkan ke tong sampah oleh Keivel dan belum sempat diambil oleh panitia. Kendatipun sudah diambil, mereka harus memilah kembali pasangan sandal tersebut.
Tadi, ceritanya, saat Agam dan pak Yudha melaksanakan shalat sunat, Keivel masih ada di samping Agam, saat Agam dan pak Yudha khusyuk, balita itu berjalan ke halaman tanpa disadari oleh sipapaun.
Dua bulan lagi, Keivel akan berusia dua tahun, namun bocah itu sudah memiliki pola pikir bak anak lima tahun. Bicaranyapun sudah lancar, hanya saja, huruf L dan R-nya masih diucapkan dengan huruf W.
Jadi, saat Keivel mengatakan 'mobil,' maka akan menjadi 'mobiw.' Buah 'apel' akan jadi buah 'apew.'
Biasanya, Agam membawa Maxim dan Enda juga, namun hari ini, entah kenapa pengawalnya itu tak ada di tempat.
.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap pak Dirut, kalimat itu ia ucapkan berulang-ulang.
"Tak apa-apa, Pak. Namanya juga anak-anak," jawab seorang bapak-bapak.
"Yes, im so sowwy (sorry)," sela Keivel.
Bocah gemas itu sedang berdiri sambil memeluk tiang masjid. Kepalanya mengintip, sebagai bukti jika ia menyesali perbuatannya. Sontak jama'ah menoleh ke asal suara. Langsung tersenyum saat melihat pelakunya adalah balita yang begitu tampan dan menggemaskan. Bibirnya tipis dan berwarna kemerahan, matanya bulat, lensa matanya coklat terang, rambutnya hitam pekat, berkilau, dan bergelombang indah.
"Jangan dilakukan lagi, oke?"
Agam menghampiri putranya, lalu menarik tangan Keivel untuk dibawa menghadap ke kerumunan jama'ah.
"Kei, benaw-benaw menyesaw (benar-benar menyesal). Kei tak sengaja," katanya sambil membungkukkan badan.
"Tak sengaja?" Agam mengernyitkan alisnya.
"Tak apa-apa, Pak. Kami sudah maafkan dan memaklumi," sahut seorang jama'ah.
.
Setelah masalah sandal selesai, Agam menuntun putranya untuk menemui Yohan dan Deanka.
"Pawen bewum (Paren belum) memaafkan Kei?" tanya Keivel.
"Sudah," jawab Agam sambil mencium pipi putranya.
"Apa Kei memawukan Pawen (memalukan Paren)?"
"Tidak," Agam menggelengkan kepalanya.
"Awe (are) you okay, Paw? I wook (look) you so sad,' duga Keivel.
"No," jawab Agam singkat. Pada akhirnya, Agam lebih sering mengatakan yes dan no untuk menjawab pertanyaan putranya.
"Hewo (helo), Tuan Deanka, hewo (helo) Tuan Yo," sapa Keivel pada Yohan dan Deanka.
"Oh, ya ampun, Gam. Anak kamu lucu sekali." Deanka merasa gemas. Keivel langsung dipangku, diangkat ke udara sambil diputar.
"Yes, go go go! Kei suka bewputaw-putaw (berputar-putar)," selorohnya.
"Hahaha, kamu pusing ya, Gam?" ledek Yohan.
"Saya bukan pusing karena Keivel," jawab Agam.
"Lantas, apa yang membuatmu pusing?" tanya Yohan.
Saat ini, mereka sudah duduk di sebuah kursi yang melingkar. Keivel langsung asyik memainkan dasi Deanka. Tangan Deanka sedang diikat oleh dasi tersebut. Bocah itu sudah pandai mengikat.
"Pusing karena kangen bercinta," bisik Agam di telinga Yohan.
"Haish, kamu 'tuh ya!" Yohan memukul bahu Agam.
"Ahh, auh," pekik Yohan. Yang dipikul Agam, tapi ia yang kesakitan saat tangannya menghantam bahu Agam.
"Gila! Apa kamu semakin kuat?" Yohan meringis. Ia meniup tangannya berulang-ulang.
"Mungkin," jawab Agam singkat.
"Tolong, tolong," pekik Deanka yang sedang berpura-pura diculik oleh Keivel. Bocah itu tersenyum puas saat melihat Deanka meladeni ulahnya.
"Kei sudah dapat izin dawi (dari) Tuan Deanka untuk mewakukan (melakukan) ini, Paw tak boweh (boleh) mencegah Kei," celotehnya.
"Benar, lakukan sesuka hatimu, Kei," bela Deanka.
"Baiklah," Agam mengalah.
"Ngomong-ngomong, lusa, kita jadi 'kan datang bersama-sama ke pernikahannya pengacara Vano?" tanya Yohan.
"InsyaaAllah," jawab Agam dan Deanka serempak.
"Paw, kapan Kei bisa menikah?" tanya Keivel. Agam melongo. Deanka dan Yohan terbahak-bahak.
"Kalau sudah dewasa, Kei," jawab Agam.
"Apa Tuan Yohan tewmasuk (termasuk) manusia dewasa? Tapi, kata Paw Tuan Yohan bewum (belum) menikah, kan?"
"Tidak semua orang dewasa sudah menikah," tambah Agam.
"Oh, i see," Keivel mengangguk.
"Untuk apa owang (orang) dewasa menikah?"
Keivel bertanya lagi. Deanka dan Yohan menahan tawa, mereka puas melihat Agam kepayahan. Hanya Keivel yang bisa membuat seorang Agam garuk-garuk kepala padahal tidak gatal.
"Jawaban atas pertanyaan kamu, Paren tunda dulu ya. Jawabannya besok saja. Besok Paren akan mendatangkan guru les untuk kamu. Jadi, mulai besok Keivel boleh bertanya hal apapun pada guru les Keivel jika merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan dan Paren ataupun dari Momca."
"Ihh, Paw and Mom tak asyik. Kei tak suka guwu wes (guru les)," protesnya.
Bibir Keivel mencucu. Pipinya membulat. Lucu sekali, gigi Deanka sampai gemeretak karena tak kuasa ingin mencubit atau kalau bisa menggigit pipi Keivel.
"Ya ampun, aku tak bisa membayangkan akan jadi seperti apa dia di masa depan," sela Yohan.
"InsyaaAllah akan jadi generasi penerus untuk agama dan bangsa, aamiin," sahut Agam.
"Apa itu genewasi (generasi), Paw?" Keivel menutkan alisnya sambil berlari ke pangkuan Yohan. Yohan menyambutnya lalu mencubit pelan pipi Keivel.
"Generasi adalah sekelompok orang yang memiliki kesamaan tahun lahir, umur, lokasi dan juga pengalaman historis atau kejadian-kejadian dalam individu tersebut yang sama yang memiliki pengaruh signifikan dalam fase pertumbuhan mereka," jelas Yohan.
"Ehmm, apa itu histowis (historis)? Apa itu signifikan? Apa itu fase?" Menatap Yohan.
"Hahaha, tanggung jawab Yo. Harusnya kamu tak menjawabnya." Deanka terkekeh.
"Gam, tolong, aku menyerah sama anak kamu. Ampun 'deh," kata Yohan sambil membuat gerakan menyatukan telapak tangan di atas kepala.
"Tuan Yo, payah," ledek Keivel.
"Kei, nanti pertanyaannya dijawab di rumah ya. Sekarang kita pulang. Tuan Yo, Tuan Dean, maaf ya, saya tak ikut acara sampai selesai. Saya sudah janji pada Linda mau pulang sebelum Asar," kata Agam sambil melambaikan tangan pada pak Yudha yang tengah asyik mengobrol dengan pak Widi.
"Sip, tak masalah," kata Yohan.
"Ya, tak apa-apa, sampaikan salam dariku untuk bu Nadia, Linda, dan bayi kembarmu."
"Kenapa tak ada sawam (salam) untuk Kei? Kei mau sawam (salam) juga," protes Keivel. Mungkin merasa iri karena adik kembarnya mendapat salam dari Deanka.
"Hahaha, baiklah, sampaikan salam juga untuk anak sulungmu, Keivel." Lalu Deanka mengambil sesuatu dari dompetnya. Ia hendak memberikan uang jajan pada Keivel.
"No, Key don't like money. Tuan bewikan (berikan) saja money itu pada yang w**ebih (lebih) membutuhkan," tolak Keivel.
"Oh, ya ampun, Gam. Kamu kasih makan apa anakmu ini? Terus, yang kamu butuhkan apa, Kei?" Deanka geleng-geleng kepala.
"Anak seusia Kei, hanya pewwu (perlu) kasih sayang dan bewmain (bermain) bewsama (bersama) semua owang (orang) yang disukai anak tewsebut (tersebut) tewutama (terutama) bewmain (bermain) dengan kedua owan**g (orang) tuanya," jelas Keivel. Dia berbicara sambil melipat tangan di dada dan bertumpang kaki.
Pak Yudha langsung tepuk tangan, begitupun dengan yang lainnya. Agam tersenyum bangga.
...❤...
...❤...
...❤...
"Kapan pulangnya? Aku rindu ...," lirih Freissya. Di kamarnya ia sedang menerima telepon dari Gama. Airmatanya bederai.
"Sabar, Ice, sama ... aku juga rindu, tapi ... ini demi tugas negara." Di sana suara Gamapun terdengar lirih.
"Aku ingin melihat wajah kamu, apa belum boleh pegang ponsel?"
"Ya Ice, belum boleh. Ini juga aku telepon kamu meminjam ponsel komandan yang tipenya sangat jadul."
"Huuu." Freissya malah menangis.
"Kenapa menangis?"
"Apa boleh aku menyusulmu?"
"Tidak bisa honey."
"Huuu, aku kangen berat, Val."
"Sama honey, aku juga sudah tak tahan. Rasanya seperti di ujung tanduk," keluh Gama.
"Issh, yang di otak kamu pasti adegan mesum," ketus Freissya.
"Kalau ya memangnya kenapa? Berfantasi dengan istri sendiri boleh-boleh saja, kan?" kilah Gama.
"Issh, Val! Kamu menyebalkan! Dan itu membuatku semakin rindu."
"Hahaha, oiya apa kamu belum postif dua?"
"Bagaimana mau positif dua? Kamu baru menyentuhku sekali, kan? Rahimku perlu disiram berkali-kali supaya subur."
"Hmm, benar juga. Oiya, apa kamu sudah menemui kak Linda? Sudah melihat bayi kembarnya? Aku juga merindukan ponakan-ponakanku."
"Sudah Val, bersama pak Agam, aku bahkan mendampingi saat kak Linda di-SC. Bayinya lucu-lucu. Cantik dan tampan. Bayi yang laki-laki mirip kak Linda. Bayi yang perempuan mirip Keivel. Kadang mirip pak Agam. Wajahnya masih berubah-ubah."
"Oh, ya ampun. Pasti gemas sekali. Aku ingin membelikan bandana untuk ponakan cantikku."
"Sudah, Val. Aku sudah membeli kado yang isinya bandana. Oiya, Keivel semakin menakjubkan. Dia sudah bisa berenang dan punya guru les pribadi di usia sekecil itu. Aku benar-benar heran. Dia bahkan sudah bisa melukis. Hasil lukisannya membuatku malu, Val. Dia berbakat sekali. Kata pak Agam, lukisan Keivel sudah mempunyai nilai jual. Bulan depan, pak Agam mau membangun galeri kecil untuk Keivel. Ck ck ck," decak Freissya.
"Alhamdulillah, aku bahagia mendengarnya."
"Lukisan perdana Keivel sudah ada yang mau membeli dengan harga ratusan juta, tapi sama pak Agam masih belum boleh diperjualbelikan."
"Luar biasa," puji Gama.
"Oiya honey, aku mau kamu melakukan sesuatu?" pinta Gama.
"Sesuatu? Apa itu?"
"Emm ... sssttt jangan keras-keras, pakai headset ya."
"Mau apa 'sih, Val?" Alis Freissya mengernyit, lalu sibuk mencari headset.
...~Tbc~...