
Linda's POV
Kadang aku merasa dunia ini tidak adil terhadapku. Memangnya kenapa kalau aku mau menjadi artis?
Apa itu salah?
Toh, aku merasa jika aku bisa. Tapi kata ayah dan ibuku dunia artis itu kelabu dan semu. Dari awal ayah dan ibu memang melarangku menjadi artis.
Motivasiku untuk menjadi artis adalah saat aku kecil.
Aku ingat jika surau yang dibangun di kampungku katanya 90 persennya didonasi oleh seorang artis terkenal di negara ini. Dia penyanyi, lagu-lagunya hits, dan ada beberapa lagunya yang aku hafal dan sering aku nyanyikan di kamar mandi.
Kata Bagas suaraku merdu. Ya, aku memang pernah menjuarai kompetensi bernyanyi. Waktu kecil, aku masih ingat sering bernyanyi bersama teman-temanku di tepi sungai sambil menghadap ngarai. Panggungnya sebuah batu besar.
Yang jadi penontonnya tentu saja teman-temanku. Mereka berendam dan berenang di sungai sambil menontonku. Itu pada zaman aku sekolah dasar.
"Lica, kamu memang cocok jadi artis, suara kamu bagus, kamu juga cantik Li, seperti orang kota. Hahaha."
Di sambut gelak-tawa oleh teman-temanku yang lain.
"Sudahlah Lica kalau kamu besar, jadi artis saja, kamu merantau saja ke kota, siapa tahu lagi mujur, ya kan teman-teman?"
Lica itu nama sematan dari teman-temanku, singkatan dari Linda cantik. Menggelikan sih, tapi lucu juga.
"Ya, setuju-setuju," sahut yang lain.
"Eh, kalian serius aku cocok jadi artis?" tanyaku.
Saat itu pipiku memerah, hidungku sampai mengembang karena teman-temanku terus mengelu-elukan dan memujiku. Bibirku mesem-mesem.
"Serius Li, ngaca dong Li, kamu itu cantik. Beda kamu tuh dengan kita-kita, kamu tinggi, kulit kamu juga mulus, katanya itu modal dasar jadi artis. Nilai kesenian kamupun bagus."
"Iya Lica. Enak Li, jadi artis kan bisa masuk TV, dan terkenal di mana-mana."
Seperti itulah kira-kira mereka memujiku saat aku kecil.
Pujian itu tidak datang sekali, tapi berkali-kali, bahkan setiap mereka bertemu denganku mereka selalu mengatakan, "Widih, calon artis nih."
Dulu aku tidak tahu jika definisi artis itu ternyata sangat luas. Yang aku tahu, asalkan terkenal dan masuk TV ya ... artis.
Aku ingat suatu hari selepas bermain di sungai, aku berdiri menghadap tebing, lalu berteriak sambil menutup telingaku agar suaraku lebih keras.
"Akuuu."
Teriakkanku langsung disambut oleh gema suaraku sendiri
"Akuw kuw kuw kuw ...."
Aku cekikikan karena merasa senang dengan suara gema itu. Kalau suara pantulnya datang sebelum suara asli namanya gaung. Kata guruku begitu.
"Akuuu."
"Akuw kuw kuw kuw ...."
"Mauuu."
"Mawu wuw wuw ...."
"Jadiii."
"Jadii diy diy ...."
"Artiiis."
"Artiiis tis tis tis ...."
"Terkenaaal."
"Terkenal nal nal ...."
"Aku juga mau menikah dengan orang kaya dan ganteng," teriakku pada saat itu.
Jika mengenang masa kecil, rasanya aku ingin kembali lagi menjadi anak kecil, tanpa beban, tanpa masalah, tanpa dosa.
Bebanku hanya ada dua, PR dan takut dimarahi ibu kalau melakukan kesalahan.
Seulas bibirku tersenyum mengenang masa-masa itu.
.
.
.
Namun ....
Senyumku langsung sirna saat aku sadar jika aku baru saja mengalami hal yang paling mengerikan dalam hidupku.
Sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku baru saja keguguran.
Dan itu ....
Sangat, sangat, menyakitkan.
Rasa sakit itu teramat parah saat aku sadar akan statusku. Ya aku lajang. Lebih sakit lagi saat aku tahu ... jika ibu dan ayahku pulang ke kampung karena merasa tertekan. Tertekan karena ulahku.
Senyumanku langsung merubah menjadi deraian air mata yang menganak sungai. Aku sampai tersedu-sedu, entah sudah berapa liter air mata yang aku tumpahkan.
Saat ku ingin mengusap air mataku, tanganku terasa sulit digerakan. Aku membuka mata, dan ternyata ... tangan pria itu menggenggamku.
Selesai shalat Subuh, dia kembali menemaniku. Kepalanya bersandar pada bed pasien dan dia tertidur. Pastinya dia juga lelah karena semalaman terus memaniku.
Aku menatapnya, bibirnya masih bengkak dan merah. Semakin aku menatapnya, hatiku semakin berdesir, dia sangat tampan.
Perlahan aku memiringkan badanku agar bisa membelai rambutnya. Kulihat lehernya memerah, dan lecet mungkin sisa-sisa cakarku. Saat aku kesakitan karena kontraksi aku mencengkram lehernya, lebih dari sekedar mencengkram, aku mencekiknya, hehehe. Aku jadi tersenyum mengingatnya.
"Linda ..., sa-saya se-sedikit sesak, bisa tidak kalau peluk saja? Ja-jangan mencekikku," keluhnya pada saat itu.
Sekarang, dia selalu mengatakan anak kita, dan memanggilku kamu.
"Saya menyukai kamu."
Aku hampir tidak percaya kata-kata itu terucap dari bibirnya.
"Saya merasa kamu menerima saya."
Ucapan Pak Agam yang itu membuat pipiku memerah.
Walaupun aku mengatakan "Saya tidak merasa menerima," tapi ... tadi kita ... aku bahkan memberi ruang padanya dan aku membalasnya. Ya ampun, malu sekali.
Rasanya bahkan masih terasa. Dia gila dan mahir sekali dalam hal itu. Aku bergidik, tapi ... aku suka. Ya ampun, aku memukul kepalaku sendiri.
Tadinya aku mau diam saja dan pura-pura polos, ditambah aku juga kan lelah baru saja keguguran. Eh, kenyataanya aku malah ... terkesan agresif. Semoga saja Pak Agam tidak menyadarinya.
Untungnya bidan magang itu datang di waktu yang tepat.
Akupun tertidur lagi. Berada di dekatnya, aku merasa nyaman.
Beberapa saat kemudian, dalam tidurku aku mendengar suara percakapan.
Aku yakin itu suara bidan Rani dan bidan magang itu.
Tapi ... aku terlalu lelah, jadi ... saat mereka mengobrol, aku tetap menutup mataku. Walupun mereka berbicara pelan, tapi ... aku mendengarnya.
"Kata bidan Lia, kamu membuat status tentang LB di medsos kamu, apa benar?"
Aku terkejut, berarti ... mereka sedang membicarakanku.
"I-iya Kak. Maaf ...."
"Memang apa yang kamu tulis sampai bidan Lia marah?"
"Su-sudah dihapus kok, Kak."
"Iya kamu sudah hapus tapi kan pasti sudah ada yang membacanya."
"I-iya Kak. Maaf ...."
"Jawab dulu, memang apa yang kamu tulis? Soalnya bidan Lia tidak mau memberi tahu."
"A-aku bilang aku sangat senang karena bertemu pasien yang mirip sekali dengan LB, begitu, Kak."
"Hanya itu?!"
"Iya, Kak."
"Tadi bilang apa bidan Lia sama kamu?"
"Bidan Lia marah karena alamat klinik dokter Fatimah ketag. Aku tidak sadar tag lokasi, Kak. Aku tidak sengaja, itu otomatis."
Serius, percakapan itu membuatku tidak tenang. Jantungku kembali berdebar.
"Kamu tahu kesalahan kamu?"
"Ta-tahu, Kak."
"Apa?"
"Di hari pertama magang, a-aku sudah diberitahu oleh dokter Fatimah agar tidak membuat status tentang pasien di medsos apapun, apalagi jika pasien itu memikili hubungan dengan petinggi HGC, atau keluarga Haiden."
"Nah, itu kamu tahu. Kamu tahu kan kalau pasiennya sepupu Pak Agam Dirut HGC?"
"I-iya, Kak."
"Terus kenapa kamu melanggar?"
"A-aku fans LB, kak. Aku terlalu senang melihat orang yang mirip dengan LB."
Dan saat aku ingin membuka mataku, aku mendengar bidan Rani dan bidan magang itu berteriak.
Tapi ... belum sempat tahu apa yang terjadi, mata dan mulutku sudah ada yang membekap.
Toloooong, pak Agaaam ... tolong akuuu ....
Aku hanya bisa beteriak dalam hati dan menangis, karena mulutku sudah tersumpal kain.
Cobaan apa lagi ini? Ya Rabb ... sungguh aku tidak mengerti kenapa ujian ini terus-menerus menghampiriku.
"Karena kamu berjasa, aku tidak akan menyakiti kamu! Hahaha." Kata seorang pria, di tengah jerit-tangis kesakitan bidan Rani.
"Aaargh ... a-ampun sa-sakiiit ...." Rintihan bidan Rani menyesakkan dadaku.
"Kak Rani, huuu huu ..., kalian jahat! Kalian siapaa?!"
Aku berusaha meronta, tapi tidak bisa. mereka mengikat kaki dan tanganku. Biadab! Siapa sebenarnya mereka ini? Apa salahku?
Apa mereka musuhku? Atau musuh Pak Agam?
Toloooong ....
Aku terus meronta saat tubuhku terasa melayang ke udara karena dibopong oleh seseorang.
Walaupun orang-orang di sekitarku terdengar kasar, tapi ... aku tidak mendengar sepatah katapun dari orang yang mengangkatku.
Siapa dia? Bajunya wangi sekali, tapi aku tidak suka dengan wangi ini, aku suka dengan wanginya pak Agam.
Pak Agam, maafkan aku ... aku takut jika hari ini adalah hari pertemuan terakhir kita. Terima kasih karena telah mendampingiku melewati proses kelahiran janin kita.
Semua kenangan indah yang sudah terjadi di antara kita akan selalu aku kenang. Aku tahu, jika hubungan kita adalah sebuah kesalahan, tapi ... aku mencintai kamu pak Agam.
Terima kasih, karena ternyata kamu juga mencintaiku, hanya saja ... aku masih belum tahu kenapa kamu terlambat mengatakannya?
.
.
.
Saat ini aku hanya bisa pasrah, apapun yang akan terjadi ... aku serahkan kepada-Mu, Wahai Sang Pemilik alam semesta.
"Masuk!"
Aku mendengar bentakan dari seseorang saat tubuhku dibaringkan di sebuah mobil. Aku tahu itu mobil karena mendengar suara mesinnya.
"Huuu ...."
Ternyata itu suara bidan magang. Kasihan sekali, dia yang tidak tahu apa-apa harus terlibat masalah gara-gara aku.
Mobil ini melaju dengan kencangnya. Sepanjang perjalanan aku terus berdoa untuk keselamatanku dan bayiku. Aku sangat ketakutan, tubuhku merinding dan menggigil. Karena sepanjang perjalanan itu ... seseorang terus membelai rambutku seperti penuh kasih sayang.
Dia juga menyeka airmataku dan mengusap pipiku dengan lembut, tapi ... dia sama sekali tidak berbicara.
Lalu mobil itu berhenti entah di mana.
"Ini rumah kamu, kan?!"
"I-iya Pak ...."
"Kamu tahu artinya?!"
"Ti-tidak tahu, Pak."
"Dasar bodoh!! Artinya, kami tahu asal-usul kamu dan keluarga kamu. Jadi, kalau kamu sampai membocorkan kejadian ini, maka keluarga kamu yang akan kami habisi! Faham!?"
"I-iya, fa-faham, Pak ...."
"Sekarang pulang kamu ke rumahmu dan bawa uang ini!"
"A-aku tidak mau uang, Pak ...."
"Ini uang imbalan karena kamu berjasa. Dua jam yang lalu kamu membuat status tentang LB, kan?"
"Apa?!"
"Sudahlah, pergi dan bersenang-senanglah dengan uang itu!"
'BRUK.'
Terdengar suara pintu mobil yang ditutup kuat-kuat. Lalu aku merasakan jika tanganku sedang ditensi.
"Hasilnya dalam batas normal Tuan," katanya. Itu suara wanita. Aku semakin bingung, oleh siapa aku diculik?
Pak Agam ... aku takut ... mereka siapa?
Pak Agam ... apa kita tidak ditakdirkan untuk bersama?
Kenapa saat aku tahu kamu menyukaiku, malah terjadi kejadian seperti ini.
"Dok, kata Tuan, beri dia obat penenang yang aman untuk wanita hamil."
"Baik."
Apa?! Berarti yang tadi memeriksaku dokter.
Aku semakin ketakutan.
Para penculik ini tahu kalau aku sedang hamil.
Ya Rab, jangan biarkan mereka menyakitiku dan anakku.
Infus di kedua tanganku memang tidak dilepas. Aku lalu merasakan vena di tanganku terasa perih dan dingin. Artinya ... obat bius yang mereka maksud sedang disuntikkan.
Bayangan wajah ayah dan ibu, meremang di benakku, Yolla dan Yolly kurasakan sedang melukis wajahku dengan lispstik.
Detik ini juga, aku merasa menyesal telah menjadi penyiar di TV KITA, aku menyesal tidak patuh pada ayah dan ibu, aku menyesal sudah menerima tawaran menjadi MC di beberapa stasiun televisi, aku menyesal menjadi brans ambassador HGC. Aku menyesal menjadi terkenal.
Tapi ....
Aku tidak menyesali pertemuanku denganmu, pak Agam ....
Lalu ....
Aku merasa tubuhku sedikit pusing, ringan, lemas, mengantuk, nyaman, dan ... aku lupa. Aku melupakan semuanya.
***
Klinik Dokter Fatimah
Dokter Fatimah sudah melakukan laporan dugaan penganiyayaan oleh orang tidak dikenal terhadap karyawannya.
Bidan Rani sebagai korban, tidak dapat dimintai keterangan karena pasca ditemukan terkapar oleh Agam, ia langsung dilarikan ke rumah sakit.
Bidan Lia baralibi sedang melakukan pemeriksaan pada pasein lain. Petugas keamanan sedang berada di kamar mandi. Bidan magang mengaku pulang duluan dan sudah izin kepada bidan Rani dengan alasan sakit.
Sedangkan untuk keberadaan pasien bernana Bulinda, dokter Fatimah secara pribadi telah merahasiakannya. Bahkan dokter Fatimah sendiri yang merusak CCTV di pintu masuk untuk melindungi Agam dan Linda.
Sejak awal ia sudah diberitahu oleh Tuan Muda Deanka jika menjadi dokter kandungan pribadi untuk Keluarga Tuan Bahir dan Agam Ben Buana bukanlah hal yang mudah.
"Dokter tahu tentang aku, HGC dan keluarga Haiden, kan? Cepat atau lambat, Anda bisa saja akan berhadapan pada kondisi sulit saat melayani pasien yang memiliki hubungan dengan aku, HGC atau dengan Agam."
Jelas Tuan Muda Deanka saat ia menandatangani kontrak persetujuan untuk menjadi dokter kandungan pribadi.
"Mungkin, hal seperti inilah yang dimaksud oleh Tuan Muda Deanka," gumam dokter Fatimah sambil menatap kepergian Agam yang menyetir mobil sambil menggedong janin di dadanya.
***
Rumah Agam Ben Buana
"AARGH."
Agam berteriak sekuat tenaga, ia baru saja tiba dari klinik dokter Fatimah, ia belum berani turun dari mobilnya saat Pak Yudha mengetuk kaca mobil.
"Pak Agam, Pak, Anda kenapa? Apa yang Anda bawa? Pak, Bapak kenapa?" tanya Pak Yudha sambil mengintip ke dalam mobil dan menatap sebuah gendongan kecil yang melingkar di leher Agam.
Agam melambaikan tangan yang berati tidak mau diganggu. Pak Yudha pun mundur dan menjauh.
Agam membuka perlahan gendongannya dengan hati yang teramat sakit. Dipeluk dan diciumnya kain pembungkus itu dengan bibir mengatup, ia sedang menahan gejolak rasa yang menyesakkan dada.
Agam ingin menangis dan menjerit, seraya mengadu pada Yang Maha Kuasa untuk protes akan takdirnya.
"My little boy, maaf ... papa kehilangan jejak mama kamu. Ponselnya tertinggal, jadi ... untuk sementara Papa belum bisa melacak keberadaannya."
"Sekarang Papa akan fokus dulu mengebumikan kamu secara layak. Kamu jangan sedih, Papa sudah menyuruh orang-orang Papa untuk mencari mama."
"My little boy, hari ini rencananya aku mau melamar mama kamu, tapi ... kejadian ini di luar dugaan Papa."
Linda ... hal yang paling aku sesali saat ini adalah ... pertemuan kita.
Jika saja kamu tidak bertemu denganku, mungkin ... kamu tidak akan menderita seperti ini. Aku ingin membahagiakan kamu Linda, aku ingin menebus semua dosa-dosaku.
Apa guna semua hal yang aku miliki, jika pada akhirnya aku harus menderita seperti ini.
Tuan Deanka ... nona Aiza ..., apa aku boleh meminta bantuan kalian? Aku butuh teman untuk berbicara.
Tapi ... kalian berdua baru saja berbahagia. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kalian dengan masalahku.
Agam meratapi nasibnya sambil memeluk bungkusan jenazah janin kecil itu. Dunia Agam seolah gelap-gulita.
Ia lalu menghubungi bu Nadia untuk mengabarkan masalah ini, namun ... di luar jangkauan.
Kemudian menghubungi Gama, sang adik. Tapi ponsel Gama tidak aktif. Setelah menghubungi gurunya, ia diberitahu jika Gama memang tidak diperbolehkan membawa ponsel ke tempat latihan. Jika sesuai agenda, Gama akan pulang 4 hari lagi.
.
.
.
Akhirnya ... Agam menceritakan tentang rahasia bungkusan kecil itu pada Pak Yudha dan Bu Ira. Dua orang yang telah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.
Pak Yudha terhenyak dan tak kuasa menahan tangis, sementara Bu Ira tentu saja meraung-raung sambil memanggil-manggil nama Linda.
***
Di Sebuah Mansion
Linda membuka matanya perlahan, lalu mengedarkan pandangan. Ia berada di sebuah kamar mewah. Tangannya masih terpasang infus dua line. Kedua kakinya terikat pada sisi tempat tidur. Cekalan di tangan, dan bekapan di mulutnya sudah dilepaskan.
"Aku di mana? Aku takuuut ..., pak Agam ... tolong ...." Lirihnya.
Linda terdiam dan mengatupkan bibirnya saat pintu kamar mewah itu perlahan terbuka dan seseorang masuk. Matanya membulat dan tubuhnya lemas saat ia mengetahui sosok itu.
"K-kamu?!! K-kenapa? Kenapa kamu menculikku?!" teriaknya.
❤❤ Bersambung ....