AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Maga, Gama, dan Freissya



"Lama sekali kamu Freissya ya ampun, sini obatnya."


Mamanya Freissya berang melihat putri sulungnya datang terlambat.


"Apotik yang di pinggir jalannya tutup Ma, aku ke apotik jauh depan rumah sakit," kata Freissya.


"Mama telepon kamu, eh kamu ketinggalan ya ponselnya."


"Heheheh, iya lupa Ma. Ya udah Ma, aku ke kamar dulu ya. Kalau adik demam dan rewel lagi bangunin Eissya ya. Kita gantian jaga mereka."


"Adik kamu baik kok, kalaupun lagi demam tidak rewel seperti kamu," ucap Mamanya Freissya sambil berlalu ke kamar membawa obat.


Freissya menghentikan langkahnya sebelum masuk ke kamar, ia teringat harus membuang sapu tangan milik bocah bongsor itu ke tempat sampah sesuai perintahnya.


"Sapu tangannya lembut sekali, bagus juga. Kok aku jadi sayang membuangnya. Apa aku cuci saja terus aku simpan?"


Di depan tempat sampah Freissya merenung. Ditelitinya sapu tangan warna abu-abu bergaris putih itu dengan seksama. Sedikit terkejut saat ia membalikkan ke sisi yang lainnya. Terlihatlah merk yang tertera di sana. Merk tekenal yang sudah tidak asing di telinga.


Ah, paling juga kw, ucap Freissya dalam hati.


Tapi mobilnya keren. Bisa jadi asli, kan?


Akhirnya Freissya memutuskan untuk mencucinya saja.


"Itu sapu tangan dari kakakku, sangat spesial. Dia membelinya di luar negeri."


Kalau spesial kenapa boleh dibuang?


Freissya mengingat kembali ucapan Gama. Karena penasaran, sebelum mencucinya Freissya berselancar ke mesin pencarian untuk mengetahui ciri-ciri sapu tangan asli merk brand tersebut.


Bibir mungilnya berdecak saat ia mendapatkan kesimpulan kalau sapu tangan itu asli. Lalu mulutnya terbuka dan menganga saat tahu harganya.


Sapu tangan ini bisa membeli enam sepeda miliknya.


"What's, dua belas juta?!" pekiknya sambil tersentak kaget.


"Ya Tuhan, orang kaya itu sebelas dua belas dengan orang gila dalam hal membeli barang. Kenapa untuk beli sapu tangan saja mahal sekali?"


Freissya sampai mengatur napas karena kaget.


"Dan orang kaya itu cepat besarnya. Dia tinggi sekali, badannnya juga terlihat dewasa, kupikir dia dewasa, atau minimal anak kuliahan, eh tahunya usia kita hanya selisih satu tahun."


"Terpaksa aku harus mengembalikan sapu tangan ini. Tapi ... kemana aku mengembalikannya? Nama dia saja aku tidak tahu."


Freissya menautkan alisnya. Tring, tiba-tiba ada ide.


Ya, Freissya bisa mengecek alamat pada register pasien milik artis LB saat artis itu dirawat di ruang ICU.


Freissya berpikir jika LB dan remaja bongsor itu pasti memiliki hubungan. Bisa jadi saudara LB atau saudara pria tampan yang ingin menikahi LB di ruang ICU.


"Suster cantik, boleh tidak aku ikut masuk? Aku dari jauh saja, aku hanya ingin memotret, dia kakakku satu-satunya. Aku mau melihat moment terpenting dalam hidupnya."


Suara Gama yang maskulin kembali terdengar ditelinganya. Freissya sampai mengedikkan bahu agar suara Gama tidak terngiang.


"Ada dua kemungkinan, kalau bukan adiknya LB, berarti dia adalah adik dari pria itu."


.


.


.


.


"Eissya," suara panggilan dari arah dapur mengagetkannya.


"Ya, Pak," jawabnya.


Setelah melempar sapu tangan ke keranjang cucian ia bergegas menemui ayahnya yang ia panggil 'Bapak.'


"Ada apa, Pak?"


"Bantu Bapak tangkap dua ayam lagi. Barusan ada orderan lagi," kata ayah Freissya.


"Siap," kata Freissya.


Gadis itu sigap mengganti baju, lekas membuka pintu yang ada di belakang dapur. Ternyata di belakang rumahnya terdapat lahan terbuka yang cukup luas. Di sana terdapat sekitar sepuluh kandang ayam.


Kalau dilihat dari warna ayam yang tertidur di kandang, bisa dipastikan jika ayah Freissya adalah peternak ayam kampung.


Di setiap pojok bangunan kandang terlihat ada ayam-ayam yang sedang mengerami telurnya di sarang buatan. Sarang itu terbuat dari anyaman bambu berbentuk bakul nasi.


Bau khas bulu ayam dan kotoran ayam langsung menyengat saat Freissya membuka pintu.


"Nah, begini dong Pak, aku lebih suka menangkap ayam pada malam hari. Kalau siang hari mereka liar. Lebih sulit di tangkap," katanya.


"Besok kamu libur, kan?"


"Ya," jawabnya sambil memasukan tangan ke dalam pintu kandang untuk mengambil ayam.


"Kewoook, kewoook," teriak ayam.


Mungkin dia kaget saat ditangkap. Tapi setelah itu, si ayam tampak tersenyum.


Kenapa ayam tersenyum?


Karena dia tahu bahwa sebentar lagi dia akan menyempurnakan ibadahnya. Konon, seluruh binatang yang halal dimakan, termasuk ayam, akan bersyukur saat mereka tahu akan dipotong dan dimakan manusia.


"Yang ini?" tanya Freissya.


Ia mengangkat ayam tinggi-tinggi untuk diperlihatkan pada ayahnya yang saat ini sedang memasukkan sesuatu berbentuk tanah menggunakan cangkul ke dalam karung berukuran sedang.


"Em, jangan yang itu Eissya, itu kurang besar. Cari yang beratnya kira-kiran 2 kilogram."


"Oke."


Ayam yang tadi tersenyum diletakan kembali. Si ayam tampak murung, mungkin dia sedih karena penyermpurnaan ibadahnya kepada Sang Maga Pencipta akan tertunda.


"Kewook, kewoook," ayam pengganti berteriak riang gembira.


Disahut oleh suara berkotek-kotek ayam yang lainnya. Bisa jadi mereka tengah mengatakan selamat pada dua ayam yang terpilih. Namun di salah satu sarang, seekor ayam betina tampak berurai air mata.


Ayam betina itu menatap dua ayam jago yang dimasukan ke dalam keranjang oleh Freissya. Mungkin ... telur yang sedang ia erami adalah bakal anak-anak dari ayam jantan itu. Entahlah.


"Mau diantar kemana, Pak?" tanya Freissya.


"Ayam itu nanti akan ada yang jemput. Tidak perlu kamu antar. Cepat mandi saja. Besok jam 9 nan kamu bantu Bapak mengantar pupuk ini ke perkebunan sayur organik tuan Lin."


"Sip," tegasnya.


Ternyata, selain menjual ayam kampung, ayah Freissya juga mensuplai pupuk kompos yang merupakan salah satu jenis pupuk organik ke beberapa perkebunan organik. Bahan bakunya tentu saja berasal dari penguraian kotoran ayam kampung yang ia miliki.


Luar biasa. Bisnis ayah Freissya mungkin jarang diminati di era digital seperti saat ini. Perlu diacungi jempol.


.


.


.


.


Freissya merebahkan diri, lega rasanya saat tubuhnya bertemu dengan peraduan. Tadi saat mandi, sapu tangan milik Gama telah ia cuci. Sekarang sedang diangin-angin dengan cara digantungkan dekat kipas angin.


Rencananya besok pagi setelah disetrika akan dikembalikan. Menurut info yang ia dapatkan dari temannya di ruang VVIP, LB masih dirawat. Artinya, ia dapat mengembalikan sapu tangan milik remaja aneh itu melalui LB.


Awalnya, ia akan mengantarkannya langsung ke rumahnya. Tapi setelah dipikir-pikir, Freissya merasa malu jika sampai datang ke rumah remaja bongsor itu.


...*...


...*...


...*...


...*...


Pertarungan lima lawan satu masih berlangsung di salah satu ruangan khusus kantor pusat BRN. Serius, pria yang paling tampan itu sangat sulit dilumpuhkan. Padahal, dari telinganya sudah mengalir perlahan ... darah segar.


Pertarugan ini terjadi antara tangan kosong dan tangan kosong.


Ya, Pak Wakil ingin melihat seberapa pantas seorang Maga dianakemaskan oleh Pak Ketua. Sejak Maga resmi bergabung, Pak Ketua dinilai olehnya telah bekerja tidak profesional dengan menganakemaskan Maga.


Dulu, saat berita tentang Agam Ben Buana diduga h o m o menyebar, hampir seluruh elit BRN sepakat untuk membunuh Maga. Dan pada saat itu Pak Ketualah yang pasang badan.


"Saya yakin ini fitnah, mari kita cek keaslian vidio dan gambar yang beredar di publik. Jika kalian tetap memaksa ingin membunuhnya, maka sertakan saya juga. Bunuh saya juga," ucap Pak Ketua BRN pada saat itu.


Mata Pak Wakil menatap tajam pada Maga yang saat ini telah berhasil melumpuhkan dua anggota hingga terkapar di lantai, tidak berkutik.


Tiga anggota lagi kembali menyerang Maga dari tiga arah mata angin. Akhirnya merekapun tersulut emosi dan api amarah saat sadar jika yang mereka serang saat ini adalah Maga.


Maga yang konon katanya dianakemaskan oleh Pak Ketua. Maga juga digosipkan sebagai penerima bonus bulanan terbesar dibanding dengan anggota lainnya.


Mereka sadar sedang menyerang pria yang menguasai banyak bahasa asing, dan piawai membaca kode rahasia. Sebuah kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki oleh anggota lain.


"Ki-kita ini kawan, tolong hentikan, saya tidak ingin melukai kalian," pekik Maga saat ada kesempatan untuk bicara.


'Bugh.'


Sebuah tendangan kuat menghantam perut Maga, Maga menangkap kaki anggota yang menendangnya dengan satu tangan, lalu dihentak ke belakang, hingga menimbulkan bunyi ....


'Krtak.'


Disusul erangan anggota itu yang kesakitan, ia terjugkal tertelungkup, dan tidak bangun lagi. So, tinggal dua anggota lagi yang saat ini masih gigih menyerang.


"Kalian payah," teriak Pak Wakil.


"Saya akan bertindak," teriaknya lagi


Pak Wakil berlari ke arah pusat kendali, ia menyalakan layar pusat kontrol dan menyalakan program rahasia yang hanya bisa diakses olehnya dan Pak Ketua dan dirinya.


"Aaaa," tiba-tiba Maga berteriak saat chip di belakang telinganya menyala.


Rupanya dengan kekuasaannya, untuk melumpuhkan Maga, Pak Wakil menyerang chip yang tertanam di belakang telinga Maga.


Maga mundur dan oleng, tak ayal serangan dua anggota BRN yang masih tersisa tidak terelakan lagi.


'Bug bug.'


Tendangan dan tinju mereka mendarat di tubuh Maga yang goyah. Sebuah kesempatan emas, melihat Maga lemas, merekapun melancarkan serangan membabi-buta.


"He-hentikan, cu-cukup ...," lirih Maga lemah saat ia merasakan tubuhnya seolah disetrum dan ditusuk-tusuk dengan ritme yang cepat dan teratur.


Tangannya terangkat keratas, ia menatap mata dua anggota yang menyerannya seolah memelas. Dan merekapun kaget saat melihat chip kendali di telinga Maga menyala dan berwarna merah.


Artinya, saat ini tubuh Maga sedang diserang oleh sistem kendali yang menyakitkan. Dulu saat alat itu ditanam, seluruh anggota pernah diuji dan merasakan satu sengatan listrik yang menyakitkan. Uji itu dilakukan untuk untuk mengaktifkan kendali dan singkronisasi chip.


"Stop," ucap salah satu anggota yang menyerang kala melihat tubuh Gama melengking, dan ambruk menghantam lantai. Maga jatuh dengan posisi terlentang.


Bibir merahnya bergerak perlahan, entah megatakan apa, pria itu tidak bisa mengeluarkan suara. Ya, serangan pada sistem itu ternyata membuatnya tidak bisa bersuara.


"Bukankah ini pelanggaran? Kenapa chipnya diaktivasi?"


Anggota BRN itu tampak heran dan kebingungan.


"Saya yang melakukannya," terdengar suara Pak Wakil, namun keberadaannya tidak terlihat.


"Mohon maaf Pak Wakil, ke-kenapa Maga disiksa seperti ini? Bu-bukankah ini pelanggaran?" ucap salah satu dari mereka.


"Saya memiliki wewenang untuk melakuan ini, cepat bawa Maga ke ruang introgasi. Atau chip kalian akan diaktivasi juga," perintah Pak Wakil.


Maga pasrah saat ia didudukkan di sebuah kursi besi, lalu secara otomatis kursi itu memborgol kaki dan tangannya.


Mata Maga berkaca-kaca, ia tidak menyangka jika Pak Wakil akan melakukan cara licik untuk menyerangnya. Maga memejamkan matanya guna menahan rasa sakit yang menyiksa dengan cara membayangkan saat-saat indah di mana ia dan Linda bercumbu.


Maga membayangkan wajah cantiknya, tubuh seksinya, dan suaranya yang meresahkan.


Linda ... my wife my everything ..., i love you my dear ..., aku ikhlas disakiti seperti ini demi kamu sayang ... demi kebahagiaan kita, rintihnya dalam hati.


Ibu ... Gama ... aku menyayangi kalian. Salah satu alasan kenapa aku memutuskan untuk bergabung dengan BRN adalah kalian. Aku ingin membahagiakan kalian dengan harta yang berlimpah.


Tubuh Maga gemetar saat chip itu kembali menghantarkan listrik ke seluruh tubuhnya. Rasanya teramat sangat menyakitkan.


Hingga akhirnya tubuh Maga menyerah dan pria itu ... tak sadarkan diri.


Kepalanya tekulai, tertunduk dan tidak bergerak. Namun ujung rambut indahnya perlahan menari karena tertiup hembusan udara yang berasal dari AC.


Dua anggota BRN menatapnya. Lalu tiga lagi yang tadi knock out oleh Maga, tampak mendekat sambil terhuyung-huyung, ada juga yang terhuyung sambil menyeret kakinya. Serangan Maga ternyata berdampak cukup fatal.


"Maga pingsan."


"Kita tidak bisa melakukan apapun, kita hanya bawahan yang menjalankan perintah. Semoga kita tidak disanksi karena telibat dengan masalah ini."


"Saya yakin Pak Wakil tidak berniat membunuhnya. Buktinya dia menyuruh kita melepas senjata saat menyerang Maga."


"Ya benar," sahut anggota yang kakinya diseret.


"Tapi penyiksaan ini rasanya pasti lebih menyakitkan daripada mati mendadak dengan cara ditembak," sahut yang lain.


Mereka mengelilingi Maga, lalu terdengar langkah kaki seseorang. Mereka diam seribu bahasa dan mematung saat tahu yang datang adalah Pak Wakil.


Pak Wakil mendekati Maga ia menjambak rambut pria itu untuk menengadahkan kepalanya. Ditatapnya wajah yang tampan itu sambil mengeraskan rahang.


"Kenapa kamu tidak memakai sabuk ajaibmu, hahh?" tanyanya.


"Saya sebenarnya ingin tahu bagaimana sabukmu itu bisa menolong kamu."


"Sabuk?" gumam salah satu anggota BRN. Mereka tidak faham.


Tenyata sabuk detektor multifungsi milik Maga tidak ada hubungannya dengan BRN.


"Ambilkan air," printah Pak Wakil.


Lalu seseorang dengan berjalan tertatih mengambilkan air mineral.


'Chuuur ....'


Maga disiram perlahan. Rambut yang dikagumi Linda itu basah kuyup. Tidak memerlukan waktu lama, Magapun membuka matanya, terbatuk-batuk, lalu menatap nanar ke depan.


"Pak Wakil?" sapa Maga, bibir merahya sedikit memucat.


"Cepat katakan apa kesalahan kamu?"


'PLAK.'


Sambil menampar Maga, ia bertanya. Dan tamparan itu tidak sekali dua kali, bertubi-tubi di pipi dan hidung Maga. Hingga akhirnya bibir yang terlihat menggoda itupun ... pecah dan berdarah.


"CUKUP!" teriak seseorang.


Dan semuanya sontak terkejut. Seorang pria bertubuh tinggi tiba-tiba datang sambil mengokang senjata. Semuanya tentu tahu siapa dia.


Dia adalah menantu sekaligus putra adopsi konglomerat super kaya-raya Bahir Finley Haiden.


"Tuan Deanka?!"


Mereka terperanjat. Ya sama seperti Maga, Deanka Kavindra Byantara adalah anggota BRN, nama resminya di BRN tetap 'Deanka.' Tidak diketahui kenapa Deanka tidak memakai atau memiliki nama samaran.


"Jangan ikut campur, Tuan! Anda boleh sangat kaya dan berkuasa, tapi di BRN Anda tetap bawahan saya," tegas Pak Wakil.


"Baik, asal Anda lepaskan dia. Maka urusan kita selesai."


Deanka mendekat sambil menondongkan senjata ke berbagai arah. Melihat Maga tidak berdaya, ia tidak terima.


"Tu--Tuan ...." Lirih Maga. Ia melirik sejenak lalu kembali terkulai.


"Kenapa dia bisa seperti ini?!"


Deanka jelas tahu kemampuan Maga. Maga bukan orang yang mudah ditaklukan. Bahkan dia pribadi selama mengenal Maga tidak pernah bisa mengalahkannya.


"Saya tidak akan melepaskan dia, Tuan. Dia mau mengundurkan diri tanpa memberitahu kesalahannya. Tuan Muda jangan ikut campur, atau saya juga akan mengaktifkan navigasi sistem yang ada di bawah telinga Anda," tegasnya.


"Apa?! Berarti Pak Wakil menyiksa Maga? Kurang ajar!"


Deanka tidak bisa mengendalikan diri, ia meloncat dan menendang perut Pak Wakil, lalu menodongkan senjata tepat di kepalanya.


"Apa mau mu Pak tua?! Mau keluar atau lanjut bekerja di BRN adalah hak setiap anggota! Kamu tidak berhak sewenang-wenang seperti ini!"


Tangan Deanka sudah melayang hendak berkenalan dengan wajah Pak Wakil, namun segera dilerai oleh lima anggota BRN yang lain.


"Jangan gegabah Tuan, jika Pak Wakil nekat, dia bisa membunuh kita dalam satu kali enter."


"Diam kalian! Sekarang bantu aku keluarkan Maga dari sini atau kita mati bersama," ancam Deanka.


Deanka juga bukan sembarang orang, sama seperti Maga, kemampuan bela dirinya tidak bisa dianggap remeh. Ditambah dengan keberadaan senjata laras panjang miliknya tentu saja sudah cukup membuat lima anggota BRN mengalah.


"Lepaskan saya Tuan, Anda akan dihukum karena melakukan kekerasan dan pelanggaran," ucap Pak Wakil.


"Yang melanggar justru Anda."


'BUGGH.'


Deanka memukul titik lemah di belakang leher Pak Wakil hingga pria itu tersungkur, dan seketika tidak bangun lagi.


"Tu-Tuan An ---."


"Diam!" bentak Deanka pada salah satu anggota


'DOR.'


'DOR.'


Deanka menembak pengkait borgol yang mengikat tangan dan kaki Maga.


"Cepat bawa Maga keluar!" perintah Deanka.


"Tapi Tuan, kami takut mati." Mereka malah mematung sambil mengangkat tangan.


"Tidak akan, saya jamin. Sekarang cepat berikan barcode keanggotaan milik kalian. Aku akan meretas chip milik kita. Cepat!"


"Maksudnya?"


"Saya mahir di bidang peretasan, cepat! Sebelum Pak Wakil terbangun," desak Deanka.


"Tapi Tuan, kami tidak berani memberikannya."


"HHH, kalian bagaimana sih? Apa kalian meragukan kemampuanku?! Dengar ya, aku juga takut mati mendadak, istriku sedang hamil, istriku cantik, lucu, pintar, pandai memasak, dan mahir memuaskanku. Tidak mungkin aku rela terbunuh sia-sia dan meninggalkan dia. Cepaaat!"


Mereka saling menatap, lalu akhirnya mengangguk setuju.


"Kamu masukan Maga ke dalam mobil ambulance yang ada di luar markas. Jika ada yang bertanya, katakan pada para penjaga kalau Maga terkena radiation system error, cepat!"


"Baik, Tuan."


Setelah barcode dipidai, Deanka masuk ke ruang kendali, sementara lima anggota BRN bahu-membahu mengangkat Maga yang kembali lemas dan pingsan. Sementara dari hidung Maga masih mengeluarkan darah segar.


...*...


...*...


...*...


...*...


Linda gelisah, hampir semalam ia tidak bisa tidur. Bahkan tensi darahnya kembali naik saat suster melakukan pemeriksaan pada pukul lima pagi.


Selain memikirkan Agam, Linda juga merasa terganggu dengan suara dengkuran Gama. Tidak kencang memang, tapi lumayan mengganggunya.


Linda bahkan tidak menyangka jika pria semanis, tampan, dan serapi Gama tidurnya mendengkur.


Dia berbeda sekali dengan kamu, kamu tidur seperti orang mati. Bibir Gama menganga saat tidur, sementara kamu tertutup rapat. Batin Linda.


Melihat Gama tidur di sofa, Linda jadi semakin merindukan Agam.


"Haduuuh, orang ganteng mendengurnya lucu ya, hihihi, tetap ganteng."


Bu Ira terkikik saat melintas di depan Gama.


"Ssstt, diam Bu Ira, jangang keras-keras, biarkan dia tidur saja, hari ini kan kalender merah, dia libur sekolah." Pak Yudha memperingatkan.


"Sudah shalat Subuh belum? Jangan sampai kesiangan, nanti pak Agam marah," kata Bu Ira.


"Sudah, tadi barengan dengan saya di mushola rumah sakit, biarkan saja, nanti kalau lapar dia juga pasti bangun," terang Pak Yudha.


Lalu ....


'Ding.'


'Dong.'


'Ding.'


'Dong.'


Bel berbunyi, Bu Ira membuka pintu, tampak seorang gadis cantik berusia sekitar 17 tahunan mematung di depan pintu. Ya, dari sudut pandang Bu Ira, gadis itu terlihat sangat muda dan belia.


"Maaf, apa ini kamar LB?" tanya gadis itu.


"Iya benar, fansnya? duga Bu Ira.


"Em, bu-bukan Bu, a-aku mau ada perlu, tidak perlu khawatir, aku masih karyawan di rumah sakit ini, aku yang merawat LB saat LB di ICU," terang Freissya saat mendapati tatapan menyelidik dari Bu Ira.


"Siapa?" Pak Yudha datang.


"Ini katanya ada perlu sama LB."


Pak Yudha menatap Freissya.


"Oh, Anda ---." Pak Yudha sedikit mengingat.


"Benar, Pak. Aku suster di ruang ICU."


"Ooh, ya betul. Saya lupa-lupa ingat. Masuk, masuk. Anda imut sekali, terus pakai baju bebas, jadi Bapak lupa. Maaf ya, Sus."


Pak Yudha mempersilahkan Freissya masuk.


'DEG.'


Freissya terkejut, jantungnya tiba-tiba bergemuruh. Ia melihat dari dekat remaja bongsor itu sedang tidur dan mendengkur di sofa.


"Silahkan duduk Sus," kata Pak Yudha.


Dan Freissya benar-benar duduk menghadap Gama yang mendengkur dengan bibir menganga. Mata Freissya mengerjap-ngerjap.


Entah apa jadinya jika Gama bangun, lalu melihat Ice ada di sampingnya.


___


Next ....