AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Terjebak



Aduh, bagaimana ini? Aku harus balas apa?


Freissya dilema. Karena tidak biasa berbohong, ia kebingungan. Masih merenung saat ponselnya berbunyi. Gio menelepon, mungkin karena terlalu lama menunggu jawaban dari Ice.


"Ya, Kak," sapa Freissya.


"Frei, kok lama sekali balasnya? Sibuk? Aku jemput kamu ya sayang. Ini sedang siap-siap."


Freissya kemudian menjauh, ia tidak ingin perbincangannya mengganggu pasien. Bergegas ke ruang ganti.


"Emm, a-a-anu Kak, emm ... Kakak tidak perlu jemput ya, aku ---."


"Kenapa? Kok kamu seperti gugup, sih? Frei, kamu tidak menyembunyikan sesuatu, kan?" selidik Gio.


"K-Kak, be-begini, a-aku ma-mau dijemput teman. Eh, emm ... maksudnya mau bareng teman, Kak. Jadi, Kakak tidak perlu jemput. Tidak apa-apa, kan?"


"Mau bareng siapa?"


"Teman, Kak. Temanku."


"Teman seruangan? Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki, Kak. Tidak apa-apa, kan?"


"Syaaa," seseorang tiba-tiba memanggil.


"Sayang ---."


"Kak, sudah dulu ya. Aku dipanggil, mungkin ada pasien gawat."


Freissya cepat-cepat mengakhiri panggilan. Jemarinya yang menurut Gama sangat lembut itu terlihat gemetar. Freissya rupanya benar-benar ketakutan. Khawatir Gama dan Gio menjemputnya secara bersamaan.


"Sya, infus pasien nomor bed 6 ya. Tadi kita sudah mencoba, tapi tidak berhasil. Siapa tahu sama kamu berhasil."


Ternyata, ada juga yang memanggil 'Sya' pada Freissya.


"Baik, Kak," jawabnya.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Di dalam lift, Freissya kembai bimbang. Ia memandangi helm lucu itu dengan rasa yang tak menentu. Semoga Gio tidak memaksa menjemput, harapnya.


Kini, kakinya melangkah menuju pintu keluar rumah sakit bersamaan dengan kaki-kaki yang lain. Suasana hilir-mudik di pagi ini, terasa tidak biasa. Freissya berulang kali menghela napas sambil sesekali melirik kiri kanan.


Saking takutnya, sampai merasa jika dirinya sedang diintai.


Greb, seseorang menarik tangannya. Ia terkejut. Baru tersadar saat sepatunya menginjak rumput taman yang berada di setiap sisi jalur pintu keluar.


"Sehat?" tanya pria yang masih memegang tangannya.


"Se-sehat, ka-katanya mau menunggu di depan, kan?" Sambil menatapnya.


Pria itu berkeringat, memakai setelan baju olah raga yang modis dan pas. Dada bidangnya masih terlihat kembang-kempis, sepertinya ia benar-benar baru selesai berlari.


"Aku tidak sabar ingin ketemu kamu, Ice. Hahaha." Posisi masih memegang tangan Freissya.


"Val, lepaskan tanganku, tidak boleh seperti ini, aku malu. Takut terlihat temanku," Freissya menepis tangan Gama.


"Oke, berarti kalau di luar rumah sakit boleh dong," godanya. Sekarang, Gama membuntuti Freissya menuju pintu keluar.


"Mana motornya? Harus cepat pulang. Aku ngantuk." Matanya beredar mencari keberadaan motor Gama.


"Kita tidak naik motor, naik mobil ya."


"A-apa? Val, kamu bagaimana sih? Terus apa gunanya helm ini?" Freissya langsung cemberut, kesal.


"Ice, jangan seperti itu wajahnya, kamu sadar tidak sih? Kamu itu seperti bayi, menggemaskan," kata Gama. Ia mengambil helm yang dipeluk Freissya.


"Issh," dengus Freissya. Terpaksa mengikuti langkah Gama.


"Kalau kita naik motor, aku khawatir Ice. Bagaimana kalau kamu mengantuk dan ketiduran di motor? Bahaya, kan? Apalagi kamu kan pasti tidak mau pegangan."


Freissya diam saja. Ia malas meladeni, selain itu, ia juga ada perasaan bersalah pada Gio.


"Ini mobilnya, mobil temanku, aku pinjam untuk sementara waktu. Maaf, mobilnya tidak sebagus punyaku," katanya.


Gama membuka pintu depan, Freissya masuk dengan malasnya. Gama menyusul, lalu membantu memasangkan sabuk pengaman pada Freissya.


"Aku gerah, sebentar ya." Gama membuka baju olahraganya.


"Aaaa," teriak Freissya. Ia menutup matanya.


"Kenapa?" Gama bingung.


"Kamu membuka baju sembarangan, Val! Cepat pakai lagi!" titah Freissya. Ia benar-benar geram.


Mataku ternoda, batin Freissya.


"Hahaha, mau ganti baju, Ice. Yang ini basah dengan keringat, aku tidak nyaman. Tapi, sudah bawa baju ganti, kok," katanya.


"Cepat! Sudah belum?" tanya Freissya, masih menutup matanya.


"Hahaha, sudah Ice."


Gama menarik tangan Freissya yang mentupi matanya. Entah kenapa, ia jadi suka memegang tangan Freissya. Lagi, Freissya menepis.


"Kamu tidak sekolah?" tanya Freissya saat Gama melajukan kemudi.


"Untuk sementara, aku belajar secara virtual," jawab Gama.


"Oh, hoaam ...." Freissya menguap. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Kalau ngantuk tidur saja Ice. Setelah sampai, nanti aku bangunkan."


"Tidak, aku takut kemu membawaku ke tempat lain," katanya.


"Hahaha, tidak mungkin Ice. Aku tidak sejahat itu."


Beberapa kali Gama mencuri pandang dari spion dan melirik. Tampak jelas jika netra sebening embun pagi itu tengah menahan kantuk. Gama tersenyum kecil saat Freissya menutup matanya dalam beberapa detik.


Aroma lavender yang merelaksasi, dan hembusan AC mobil, membuat Freissya harus berusaha keras untuk tetap terjaga.


.


.


.


.


Satu menit berlalu, aman. Freissya masih bisa melihat hiruk-pikuk aktivitas jalanan.


Menit kedua, ia mulai oleng, beberapa kali mengerjap namun terpejam lagi dan lagi. Semalaman, ia memang tidur barang semenitpun.


Dan ....


Menjelang menit ke lima, sepasang netranya telah terpejam sempurna, bibir merah delima yang tampak natural itu perlahan menganga jua. Mulai terdengar hembusan napas halus yang membuat Gama tersenyum, menepikan mobil, dan memandanginya dengan seksama.


Kepala Freissya yang menengadah membuat Gama bisa melihat dengan jelas keindahan leher jenjangnya yang terlihat bergaris-garis. Pasti akan menyenangkan bila ia bisa memasang kalung terindah di daerah itu.


Ice, kenapa? Kenapa kamu harus milik orang lain? Sebelum janur kuning melengkung, apa aku masih bisa memiliki kamu?


Hati Gama meracau, lalu mengambil ponsel untuk memotret. Entah berapa kali ia memotret. Bahkan, iapun berselfie. Ada pose dimana Gama memajukan bibir seolah hendak mencium pipi Freissya.


Setelah puas memandangi dan memotret, Gama kembali melajukan kemudi, sengaja dengan kecepatan lamban agar puas berlama-lama bersamanya. Bersama kekasih orang lain.


Karena semalam telah berputar-putar di daerah itu, Gama jadi hafal jalur tikus yang bisa dilewati untuk mencapai rumah Freissya. Padahal, jalur biasa lebih nyaman dan dekat. Tidak ada motif lain, yang ada di pikiran Gama hanyalah ingin lebih lama lagi bersama Ice.


Ia tidak berpikir jauh ke depan jika apa yang dilakukannya bisa membuat bapak dan mama Freissya menjadi cemas.


Tepat di jalur yang sepi, Gama tersentak kaget. Ia tiba-tiba dihadang oleh tiga buah motor. Spontan mengerem mendadak. Karena terbuai oleh pesona Freissya, Gama sampai tak sadar sejak kapan motor-motor itu mengikutinya.


"Keluar kamu, keluar!" teriak salah satu pengemudi. Mereka tidak melepas helm.


Freissya terbangun, dan kaget. Matanya membulat. Ia masih mengumpulkan jiwanya yang tercecer karena tertidur saat Gama membuka pintu mobil.


"Hei, siapa kalian?! Ini mobil sahabatku, jangan dirusak!" teriak Gama saat salah satu dari mereka memukul spion kiri hingga pecah.


'BRAK.'


Kaca spion pecah, Freissya berteriak.


"Vaaal!" teriaknya sambil menutup telinga, ia ketakutan.


Lalu dua orang menyerang Gama tanpa basa-basi. Gama kaget, namun tidak bisa menghindar lagi. Terpaksa meladeni walau batinnya penasaran.


Siapakah mereka?


Terjadilah duel dua lawan satu. Pantang bagi Gama untuk menyerah. Satu orang lagi yang tadi merusak spion hanya jadi penonton.


Kesadaran Freissya telah kembali seutuhnya. Melihat pertarungan itu dan menyadari berada di jalur yang bukan biasanya, Freissya tentu saja kesal pada Gama.


Kenapa Val membawanya ke jalur ini?


Lalu, siapakah mereka?


Kenapa Val diserang?


Freissya segera keluar dari mobil dan berteriak ketika ia mengenali salah satu dari kawanan penyerang itu.


"Kak Gio, hentikan, Kak!" teriaknya.


Ternyata yang jadi penonton adalah Gio. Walapun memakai helm dan membawa motor yang berbeda, Freissya tetap mengenalinya.


Dan Gama lengah kala mendengar teriakan Freissya.


'BUGH.'


Sasaran empuk bagi penyerang. Gama terpental. Beberapa tendangan mendarat di punggungnya.


"Sialan," geram Gama. Saat hendak bangkit, punggungnya sudah terlebih dahulu diinjak.


"Kamu berani sekarang ya, Frei!" bentak Gio. Ia menarik kasar tangan Freissya.


"Kak, aku akan jelaskan, mari bicara," kata Freissya.


Mata Freissya melirik pada Gama yang tertelungkup, Gama tidak melawan lagi saat tahu jika para penyerangnya adalah kawanan dokter Gio, atau bisa jadi orang sewaannya.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan! Aku menguntit kamu Frei! Lihat, dia membawamu ke jalur sepi. Tujuannya apa coba? Dia pasti berencana melecehkan kamu!" teriak Gio.


Ia masih memegang kuat tangan Freissya, matanya memerah, seolah ingin menelan Freissya bulat-bulat.


"Hei, jangan salah faham, aku tidak ada maksud jahat," kata Gama.


'BUGH.'


"Diam kamu!" sentak Gio. Bersamaan dengan tendangan yang kembali mendarat di punggung Gama.


"Kak, aku tadi ketiduran, tidak tahu kalau dia membawaku ke jalur ini," kata Freissya. Airmatanya mulai menetes.


"Dokter Gio!"


Gama tidak terima juga berlama-lama melihat Freissya dituduh dan tertekan. Ia bangkit dan melepaskan diri dari cekalan mereka. Lalu mendekat ke arah Freissya sambil menendang dua orang pria yang tadi menginjaknya.


"Apa?!" bentak Gio.


"Jangan nodai profesi kamu! Sikap kamu sama sekali tidak mencerminkan kalau kamu seorang dokter, miris!" tegas Gama.


"Aku hanya ingin menjaga apa yang jadi milikku! Ngaca kamu bajingan! Kalau kamu anak baik, pasti tidak akan berani semena-mena membawa kekasih orang lain! Faham!" teriak Gio sambil menarik Freissya ke dalam dekapannya.


"Kak Gio, jangan memarahi dia. Biar bagaimanapun, dia pernah menjadi pasien Kakak," ujarnya sambil terisak.


Freissya juga sebenarnya ingin marah pada Gama, tapi ... ia takut. Untuk saat ini, ia hanya bisa berusaha meredam kemarahan Gio.


"Kamu membela dia?! Frei sadar! Jelas-jelas dia mencurigakan dan aneh!"


"Demi Tuhan, aku tidak ada niat jahat," bantah Gama.


"Mana ada maling ngaku! Hei kalian, cepat hajar lagi," titah Gio pada temannya.


"Kak, jangan, kumohooon."


Freissya memeluk Gio. Jelas, ia tidak ingin kekasihnya bermasalah dengan antek Haiden.


"Cepat! Kenapa kalian diam saja!" teriak Gio.


"Kak, dia adiknya Dirut HGC," bisik Freissya. Ia terpaksa mengatakan rahasia itu karena tidak memiliki ide lain.


"Apa?!" Gio tercengang.


"Hentikan!" teriak Gio saat kawannya hendak menyerang Gama.


Sesuai arahan, mereka tidak jadi menyerang dan mundur. Gama merasa aneh. Tapi tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi. Gama sadar akan kesalahannya. Jika ia adalah dokter Gio, iapun pasti akan melakukan hal yang sama.


Dan alam seolah berpihak pada Gama, tiba-tiba ....


'DUAR DUAR.'


Suara petir menggelegar, cuaca tiba-tiba mendung. Semuanya terkejut.


"Aku titip kekasihku, sepertinya akan turun hujan. Aku memaafkan kamu dan memaklumi Freissya. Tapi, ini untuk terakhir kalinya kamu jalan bareng dia." Gio menuntun Freissya dan membuka pintu mobil.


'Tik tik tik.'


Rintik hujan mulai berdatangan.


Aku tidak boleh sembarangan. Ucapan Frei perlu dipastikan dulu kebenarannya. Aku harus menyelidiki dia. Batin Gio.


Ia dan Gama saling bertatapan. Dan Gama mulai curiga dengan tatapan itu.


"Aku akan membawanya pulang, tidak perlu khawatir, aku sahabatnya sekaligus pasiennya. Maksudku, kekasihmu adalah suster pribadiku," tegas Gama sesaat sebelum masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.


"Kurang ajar!" gumam Gio saat ia pergi dari tempat itu ke arah yang berlawanan.


.


.


.


.


"Maaf," kata Freissya.


"Untuk?" tanya Gama. Matanya tetap fokus pada jalanan.


"Untuk kejadian tadi. Aku yang salah, harusnya aku jujur kalau mau pulang bareng kamu," ungkapnya sembari menunduk.


"Emm, tak masalah Ice. Lagipula aku baik-baik saja, kok. Justru akulah sumber masalahnya."


"Oiya, kenapa kamu lewat sini? Kan jadi lebih jauh."


"Karena aku ingin berlama-lama dengan kamu, tak apa-apa, kan?"


Dasar buaya, dia jujur sekali.


"Ya, tidak apa-apa Val," terpaksa mengiyakan.


Lalu sekilas Gama melihat pergelangan tangan Freissya memerah. Spontan ia menepikan mobil.


"Ice, tangan kamu." Meraih tangan Freissya.


"Val?"


"Apa ini gara-gara pacar kamu?!" bentaknya.


"Val? I-iya, ta-tadi kak Gio tidak sengaja, kan lagi emosi," kilahnya. Berusaha menarik tangannya tapi sulit.


"Ice dengar ya, ini lecet. Kulit lapisan epidermis kamu sampai mengelupas. Lihat Ice, kekasih kamu kasar!"


Terlihat jelas raut kecemasan di wajah Gama, Freissya terdiam.


"Maaf."


Ucapan itu menjadi kata satu-satunya yang diucapkan Gama sebelum ia menjilat lecet di pergelangan tangan gadis itu. Freissya kaget. Jantungnya berdegup, ia membalas tatapan Gama yang mendominasi.


"Ibuku suka melakukan itu saat aku terluka," ucapnya. Tanpa melepas tangan Freissya, dan tanpa berpaling dari menatap wajah manisnya.


"I-Ice ...."


Perlahan, Gama mendekatkan kepalanya pada wajah Freissya. Gadis itu seolah tersihir, ia masih menatap Gama dengan kedipan mata yang semakin melambat. Gama tersenyum, fokus netranya terpusat pada titik indah yang berwarna merah delima.


Gemericik hujan seakan menjadi penghantar saat wajah Gama kian mendekat dan tangannya yang lain perlahan melepas sabuk pengaman miliknya.


"VV-Val ...." Lirih Freissya, mencoba menetralkan diri.


"Ice ... pria itu kasar, dia tempramental. Bagiku, sehelai rambutmupun sangat berharga, aku ingin menggantikan posisi dia, apa bisa?" Gama semakin mendekat, ia membelai lembut rambut Freissya.


"Mm-maksud ka-kamu?"


Tangan Freissya gemetar, ia sudah menduga jika Gama menyimpan rasa kepadanya.


"Aku menyukai kamu, Ice ...."


Gama mengungkapkan perasaannya.


"Aku tidak ingin hanya jadi teman, aku ingin menjadi kekasihmu." Kali ini, Gama mengelus pipi Freissya.


"Val ... mm-maaf ... kalaupun aku belum memiliki kekasih, aku tidak bisa menerima kamu."


"Hahh? Ke-kenapa, Ice? Kenapa?"


"Pokoknya tidak bisa, Val."


"Katakan alasannya Ice ...." Gama berbicara sambil menangkup pipi Freissya dengan kedua tangannya.


"Ka-karena status kita berbeda," terang Freissya.


"Apa?"


Gama megerutkan dahi, lalu melepaskan Freissya.


"Apa ada hubungannya dengan statusku sebagai adiknya Dirut HGC?" selidiknya.


Freissya terdiam.


"Aku keluar dulu," kata Gama.


"Val, hujan deras, jangan keluar." Freissya kaget saat Gama membuka pintu mobil.


"Tidak perlu pura-pura peduli padaku, Ice, aku hanya ingin menenangkan diri sebentar."


Gama benar-benar keluar, ia berjongkok di tepi jalan menghadap tebing tinggi yang dibatasi pagar pembatas. Tubuhnya langsung basah kuyup.


Freissya terkejut. Ia tidak menyangka Gama akan senekad itu. Mata Freissya beredar mencari keberadaan payung, tapi tidak ada.


Di lihatnya lagi ke arah Gama berada. Ia melihat Gama menundukkan kepala di antara dua lututnya, lalu berteriak. Teriakannya tidak terdengar karena hujan sangat deras. Lalu Gama menunduk lagi, pundak Gama terlihat bergerak-gerak seperti tengah menangis.


"Huuu .... Kenapa nasibku seperti ini? Aku seperti anak yang terbuang. Ibu sudah lama tidak menghubungiku dan tidak bisa dihubungi. Kak Agam, pak Yudha, sejak semalam tidak bisa dihubungi. Nomor bu Irapun tidak aktif. Mereka kemana? Apa kakak ingin membuangku?" gumam Gama.


Benar saja, Gama sedang menangisi nasibnya.


"Val ...." Suara Freissya.


"Ice? Kenapa ikut turun?"


Gama kaget, Freissya sudah berdiri di sampingnya dan basah kuyup. Gadis itu menatapnya, memeluk lengannya sendiri dan menggigil.


"Kamu gila ya?! Kenapa mengikutiku?!"


Gama menyeret Freissya ke dalam mobil.


"Val, kamu menangis?" Freissya malah menatap mata Gama yang memerah.


"Cepat masuk," kata Gama.


"Tidak, aku tidak mau masuk kalau kamu masih di luar," tolak Freissya.


"Keras kepala! Kalau kamu sakit bagaimana?"


"Kamu juga masuk dong, Val."


"Baik," tegasnya.


Kini, keduanya sudah kembali berada di dalam mobil, sama-sama basah kuyup, sama-sama menggigil karena kedinginan.


"Emm ... maaf, kamu jadi basah. Harus mencari toko baju, kita tidak bisa basah-basahan seperti ini." Gama bersiap melajukan kemudi, tapi ....


Mesin mobil tiba-tiba mati.


"Sial!" Gama memukul kemudi.


"Ke-kenapa, Val?"


"Mesinnya mati."


"A-apa?!" Freissya kaget.


Lalu keduanya serentak mengambil ponsel masing-masing untuk meminta bantuan.


"Ponselku lowbath," ucap keduanya secara bersamaan.


"Apa?!"


Sama-sama kaget, sementara tubuh keduanya semakin menggigil. Dan kebetulan, kendaraan lainpun tidak ada yang melintas.


"Emm, Ice a-aku ada ide. Tapi kamu jangan marah. Setidaknya, cara ini bisa menghangatkan tubuh kita. Kita lakukan sampai hujan reda dan atau sampai ada mobil yang melintas."


"A-apa? Val, kk-kamu mau apa?" Freissya kaget karena Gama kembali membuka bajunya.