
Hujan mereda, suara gemuruh tergantikan oleh sendaunya semilir angin. Matahari mengintip kembali. Menyibakan awan mendung dan menggantinya dengan seberkas cahaya.
Pepohonan bergoyang, meneteskan kepingan basah dan embun di ujung dedaunan. Burung kecil menciap-ciap, mematuk sarang menanti sang induk pulang.
Mobil berwarna putih itu masih terparkir dengan mesin menyala. Burung kolibri tampak hinggap di atapnya, lalu mengepakkan sayap dan pergi menjauh saat terkagetkan oleh teriakan dari dalam mobil.
.
.
.
.
"Aaaa," teriak Freissya.
Terkejut bukan kepalang saat ia terbangun dalam keadaan tengah memeluk tubuh Gama yang polos, maksudnya tubuh bagian atas ya, jangan salah persepsi.
"I-Ice? Ssst ... kamu berisik."
Gama malah meletakan telunjuk di bibir Freissya, dan kembali memejamkan mata. Tadi, ia juga akhirnya ikut tertidur di dalam mobil.
"VAL!" teriak Freissya.
"Apa? Apa cantik?" godanya. Lalu perlahan bangun dan tersenyum-senyum.
"Apa kamu gila?! Kamu menipuku?! Ini mobilnya nyala! Tadi kamu bilang mogok, kan?!"
Ia menepis tangan Gama sambil sibuk mengecek tubuhnya. Freissya takut ada yang terbuka atau berubah posisi.
"Tadi memang mogok, sekarang sudah nyala lagi. Saat kamu tidur, aku memperbaikinya."
Tipu muslihat kedua dijalankan, apakah Freissya akan percaya?
"Bohong! Kamu pasti bohong!" Ternyata gadis itu tidak percaya.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Hoam, Ice tidur lagi yuk, aku masih ngantuk."
"Val, cukup! Aku tidak mau ditipu lagi, lihat ini sudah jam sebelas siang, bagaimana kalau bapak dan mamaku marah?! Aku mau pulang, mau jalan kaki."
Freissya sepertinya marah besar, ia berusaha membuka pintu mobil.
"Ice, tenang. Aku akan tanggung jawab, nanti aku yang jelaskan pada bapak dan mamamu. Baik, kita pulang ya."
Gama mengembalikan posisi kursi, lalu kembali ke depan kemudi, ia memakai baju sebelum menyalakan kemudi. Baju yang setengah basah setengah kering. Istilah lainnya masih basah tapi hampir kering.
Freissya cemberut maksimal, bibirnya mencucu. Kesal, marah, dan merasa tertipu. Tapi, ia juga sedikit percaya kalau mobil itu kembali menyala saat ia tertidur.
.
.
.
.
Mobil itu sudah melaju. Freissya tetap di kursi belakang, dan tengah merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya ia memeluk pria. Padahal, Giopun yang kekasihnya tidak pernah dipeluk sedekat itu.
Tadi, pipinya bahkan menempel di dada Gama. Benar-benar gila dan memalukan, pikirnya.
"Aaaa."
Lagi, ia berteriak. Hingga Gama terlonjak kaget. Namun bibir buaya itu terlihat menyeringai.
Yakin, sedang membayangkan kejadian tadi. Teringat saat Freissya mendekat dan memeluknya tanpa sadar. Lalu ia mencium pipi dan kening Freissya karena gemas.
Kini sudah memasuki jalur yang ramai, Gama membelokkan kemudi ke sebuah tempat.
"Kok ke sini?" Freissya protes.
"Temanku ulang tahun, aku mau memberinya hadiah. Kamu ikut pilihkan ya," ucapnya saat ia memarkirkan mobil.
"Val, aku mau langsung pulang, aku lapar. Bapak dan mama pasti khawatir," tegasnya.
"Tenang, aku sudah kirim pesan ke bu Mara kalau aku dan kamu ada acara."
"Maksudnya, kamu kan susterku, Ice. Mama dan bapak kamu pasti faham. Aku menyuruh bu Mara untuk mengatakan kalau kamu mengantarku check up."
"Kamu berbohong, Val." Freissya semakin kesal.
"Iya, berbohong. Hahaha, jangan ditiru ya," ucapnya. Kemudian turun dan membuka pintu mobil untuk Freissya.
"Kita makan dulu, kamu lapar, kan? Aku juga lapar." Mengulurkan tangan.
"Issh, tidak perlu. Aku bisa sendiri," tolaknya.
"Mari makan di kafetaria itu," ajak Gama. Wajahnya sumringah.
Freissya terkejut, kafetaria yang ditunjuk Gama adalah kafetaria yang pernah ia cita-citakan untuk dikunjungi. Jadi bingung antara mau bersyukur atau terus kesal pada Gama.
Kebingungannya kabur saat tangan Gama menggenggamnya. Ingin ditepis tapi terasa kuat sekali.
"Sebentar saja, boleh ya. Aku baru saja putus dari semua kekasihku, Ice. Anggap saja kamu sedang menghiburku. Menghibur seseorang bisa dapat pahala, lho." Ujarnya.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Freissya diam saja, tapi tidak menolak, sedikit membelalak saat tiba di dalamnya. Kalimat cocok untuk desain interior kafetaria itu adalah ... megah dam estetik.
"Selamat datang, silahkan."
Rupanya pelayan di kafetaria ini mengenal Gama. Mengerling pada Freissya, seragam putih-putihnya sedikit membingunkan. Untungnya Freissya sudah mengganti bajunya. Tidak tersemat logo rumah sakit pemerintah tempatnya bekerja.
"Ini suster pribadiku," kata Gama.
"Oh, saya kira pacar barunya," sahut pelayan tersebut.
Gama membawa Freissya ke ruangan khusus. Gadis itu ketakutan, tangannya dingin.
"Val," pekiknya merasa tidak nyaman.
"Kenapa?"
"Aku mau makan di ruangan yang depan saja, di sana ramai, jangan ke sini."
"Tenang saja, kan ada aku. Nah di sini tempatnya."
Mereka sudah sampai di ruangan khusus yang dimaksud.
Singkat cerita, Gama dan Freissya makan siang bersama. Freissya lebih sering menunduk dan fokus pada makanan. Sedangkan Gama, menikmati menu sambil menatap pada Freissya pastinya.
Baru kali ini ia merasa sangat bahagia. Spontan tangannya mengelus rambut Freissya.
"Val? Kenapa?" tanyanya.
"Kalau aku bukan adiknya Agam Ben Buana, terus kamu belum punya kekasih, apa kamu mau jadi pacarku?" tanyanya.
"Hahh?" Freissya menautkan alisnya.
"Bagaimana?" Gama sangat butuh jawaban.
"Aku tidak bisa jawab. Val, kamu memiliki semuanya, pasti ada banyak wanita yang ingin jadi kekasihmu," katanya.
"Tapi ... aku sukanya sama kamu Ice." Lagi, Gama mengusap rambut Freissya.
"Cukup, Val." Ujarnya. Suapannya terhenti.
"Mm-ma-maaf Ice, maaf. Silahkan lanjutkan makannya. Maafkan aku, oke?" kata Gama. Ia lalu fokus menyantap makanannya.
"Ice, maafkan atas perasaanku yang salah ini. Aku mencintai kamu, padahal kamu sudah memiliki kekasih dan tentu saja tidak menyukaiku. Aku sebenarnya ingin bebas dari perasaan ini. Aku tidak mau mencintai kamu, tapi sulit. Aku bingung."
Gama kembali bercerita usai mereka makan. Freissya sesekali mencuri pandang.
"Begini, aku sudah memutuskan untuk melupakanmu, aku mau menuruti keinginan kakakku melanjutkan sekolah dan kuliah di luar negeri. Semoga setelah di sana ... aku bisa melupakanmu. Hari ini adalah hari terakhir kebersamaan kita, kamu mau menemaniku, kan? Besok aku pergi."
Freissya menunduk, entah kenapa ada perasaan yang mengganjal di benaknya saat tahu Gama akan pergi. Tiba-tiba merasa iba, dan ....
Dan ada perasaan apa ya? Freissya bingung. Tapi sekali lagi, ia sadar diri dengan perbedaan mereka.
"Kalau itu keputusanmu, aku mendukung."
"Kamu mendukung?"
Gama sedih. Sebenarnya, ia ingin Freissya melarangnya.
Tapi ... siapa dia?
Di mata Freissya, dia hanyalah seorang bocah nakal dan play boy yang memaksanya untuk menjadi teman.
"Baik, aku hari ini aku akan menemanimu, tapi ... aku harus menelepon mama dulu, aku takut mereka khawatir," lanjut Freissya.
"Terima kasih, Ice. Ini pakai saja ponselku." Menyodorkan ponsel miliknya.
"Ponselmu tidak mati?" Kaget. Mata beningnya sampai melotot.
"Tidak, aku menipumu, maaf ya."
"Dasar nakal!" ucap Freissya. Ia spontan memukul bahu Gama.
"M-maaf Val." Lalu diusapnya.
"Tidak apa-apa Ice, tapi sedikit sakit."
"Benarkah?" Freissya menyesali.
"Hahaha, tapi bohong," goda Gama.
Keduanya kemudian tergelak.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Gama dan Freissya sudah berada di butik. Karena didesak, Freissya akhirnya mau mengganti bajunya dengan baju pembelian Gama. Lalu mereka memilih berbagai gaun, dan sepatu yang katanya sih untuk hadiah teman Gama.
"Serius teman kamu badan dan sepatunya seukuran aku?"
Freissya menaruh curiga. Sebab apa yang dipilih Gama disesuakan dengan ukuran tubuhnya.
"Serius Ice. Dia seperti kamu."
Gama berbicara seraya terus menatap Ice yang tampak cantik dengan gaun barunya. Penampilannya begitu menggemaskan. Freissya membiarkan Gama terus menatapnya, ia juga tidak menolak saat Gama menyematkan pita hiasan rambut dan bandana lucu di kepalanya.
"Aaarrghh, kamu lucu," kata Gama.
"Hahaha, kamu juga."
Freissya berjinjit saat iseng memasang bandana pada di kepala Gama. Gama menuduk.
Lalu mereka becermin bersama dan tertawa.
Biasanya tidak tertawa, gadis ini mungkin pacar sungguhannya. Batin pemilik butik.
Ia sudah tahu jika Gama sering membawa wanita dan berbelanja di butiknya. Wanitanya bermacam-macam. Selalu berubah setiap harinya. Namun ia baru melihat keceriaan Gama pada hari ini.
.
.
.
.
Acara belanja usai. Semuanya telah dimasukkan ke dalam bagasi.
"Mau kemana lagi kita?" tanya Freissya.
"Hari ini ada undangan ulang tahun temanku, kamu mau menemani?"
"Boleh, tapi jangan sampai kemalaman ya Val. Aku tidak boleh pulang malam lebih dari jam delapan."
"Baik, kita asal datang saja. Tempat acaranya tidak terlalu jauh kok. Kafe dekat pantai kota. Kamu tahu, kan?"
"Oh, disitu? Ya, aku tahu."
"Terima kasih Ice. Sekarang kita pulang ya. Selepas Maghrib, aku menunggumu di halaman depan."
Gama tersenyum bahagia. Ia pikir, walaupun akan berpisah dengan Freissya, tapi setidaknya, mereka bisa bersama untuk terakhir kalinya.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Dan kalimat Gama setibanya di rumah, membuat Freissya terkejut.
"Ice, baju yang kita pilih tadi untuk kamu."
"A-apa?! Tapi Val, aku ti ---."
"Sssst, yang warna biru muda pakai untuk ke pesta ya, kita akan memakai baju senada," ucapnya.
Tanpa menunggu jawaban, Gama bergegas cepat membawa belanjaan dan meletakannya di teras rumah Freissya.
"Anggap ini kenang-kenangan dariku. Jangan menolak," tegasnya.
Freissya hanya bisa menghela napas dan menatap kepergian Gama dengan perasaan bingung.
.
.
.
.
Waktu yang dinantikanpun tiba. Gama sudah menunggunya di halaman depan rumah bu Mara. Sangat tampan dengan setelan jas berkelas miliknya. Mimiknya menegang saat melihat kedatangan yang ditunggu.
Luar biasa. Freissya begitu cantik menawan, ia berjalan dengan sedikit kaku. Maklum baru pertama kalinya memakai gaun seindah ini.
"Wah, beautiful," puji Gama.
"Bajunya yang cantik, bukan aku," kilah Freissya, ia tersipu.
Lalu mereka menyusuri gang menuju mobil teman Gama yang terparkir di area khusus parkir milik warga sekitar. Beruntung jalanan sepi. Jadi, tidak menjadi pusat perhatian.
"Kamu bilang apa sama bapak dan mama kamu?"
"Emm, bilang diundang ke acara ulang tahun temannya teman pasienku, aku tidak berbohong."
Mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kalau sama dokter Gio, kamu katakan apa?"
"Aku mengatakan hal yang sama."
Aku mengatakan pada kak Gio kalau setelah malam ini, aku dan kamu tidak akan bertemu lagi, batin Freissya.
"Pacarmu setuju?"
Freissya mengangguk.
Ya, kak Gio setuju. Karena setelah ini, kamu tidak akan menggangguku lagi. Freissya melamun.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
~Tiba di tempat acara~
"Megah sekali Val, aku malu."
"Tidak malu, Ice. Kamu cantik, tidak-tidak kamu tercantik.
"Selamat datang sultan Yasa, wah gandengan baru nih."
Ternyata nama panggilan Gama adalah sultan Yasa.
Gama langsung disambut teman-temannya. Gama tidak melepas tangan Freissya, gadis itu tidak berani mengangkat kepala. Ia kikuk dengan suasana yang menurutnya terlalu gelamor.
"Anak mana, sultan Yas?"
"Dia temanku, jangan ada yang menyentuhnya," ucap Gama saat ia membawa Freissya memasuki ruangan.
Lalu Gama atau yang dipanggil Yasa dikerumuni oleh sekitar delapan orang wanita.
"Kalian?" Gama kaget.
"Yasa, jadi gadis ini yang membuatmu memutuskan hubungan denganku?!" teriak salah satu dari mereka.
"Yasa, bajingan kamu ya, kamu pacaran sama Monik juga?!"
"Yasa! Kamu juga menembakku? Siapa pacarmu sebenarnya?"
Para gadis itu ribut.
"Hahaha," Gama menjawab dengan tawa.
"Hei tenang, ini acaraku! Jangan ada yang berani ribut di sini! Jangan mengganggu sultan Yasa dan temannya! Dia tamu spesial di sini," ujar seorang pria muda tampan yang diduga sebagai pemilik acara. Sepertinya dia yang berulang tahun.
"Teo, kamu bagaimana sih? Adik kamu juga pernah disakitin sama si sultan, kan?" ucap gadis yang lain.
"Ya, aku tahu. Tapi sultan Yasa telah memberiku hadiah spesial dan meminta maaf," jelasnya.
"Memangnya apa yang dia kasih, Kak? Aku masih menyukai sultan Yasa."
Adik pria yang bernama Teo merajuk. Bergelayut di bahu kakaknya sambil menatap sinis pada Freissya yang masih menunduk.
"Lei, dana acara ulang tahun ini sepenuhnya dari sultan Yasa. Bukan dari mody ataupun dady. Jadi, kalian-kalian tolong ya, hormatlah pada sultan kita."
Gama menyeringai, melipat tangan di dada dan mengangkat kedua alisnya saat decak kagum dan pujian terlontar dari mulut teman-temannya.
"WOW, Yasa benar-benar sultan."
Mereka bertepuk tangan, lalu menggiring Gama dan Freissya ke kursi utama.
Namun tak luput dari tatapan kecewa para gadis dan tatapan iri dari lima orang pria seusia Gama yang sedari tadi duduk berkelompok.
.
.
.
.
"Aku sebal! Dia sok kaya, anak siapa sih dia? Anak pejabat negara?!" tanya salah seorang pria dari kelompok itu.
"Hei, kamu kan yang sekelas, harusnya tahu dong dia anak siapa?" bisik yang lain.
"Nah, itu dia masalahnya. Jati diri dia seolah ditutupi. Aku pernah menyelinap ke ruang arsip siswa, anehnya milik si Yasa tidak ada berkasnya hanya ada mapnya saja."
"Kemungkinannya dia anak mafia," ujar yang lain.
"Ssstt, sudah-sudah. Jangan sampai ada yang mencurigai kita, kita kan tamu undangan, bersikaplah seperti tamu yang lain. Fokus pada misi awal kita untuk menghabisi si sultan."
"Benar, setelah ini dia akan malu atau bisa jadi dikeluarkan dari sekolah."
"Ya, aku juga dendam dengan dia. Hanya dengan bersatu seperti ini kita bisa membalas dendam."
"Masih sakit rasanya saat pacarku memutuskanku dan esoknya pacaran sama si sultan buaya itu."
"Nasib kita sama, aku juga dicampakkan kekasihku gara-gara si Yasa."
"Adikku hampir minum racun serangga gara-gara diputuskan si Yasa."
"Kali ini kita pasti berhasil, kebetulan dia meminjam mobil si Gifka. Si Gifka kan polos, jadi saat aku memasang kamera di mobilnya dia tidak curiga."
"Bagus."
Mereka melakukan 'Tos.'
"Kalau aku membenci dia karena papaku selalu membandingkan aku dan si Yasa, papaku wali kelas si Yasa. Katanya, dia ingin memiliki anak yang jenius seperti si Yasa, dia selalu memuji si Yasa di depanku, aku muak!"
Seperti itulah desas-desus obrolan mereka.
Obrolan selanjutnya tidak terdengar sebab acara segera dimulai. Suasana menjadi riuh ramai, membingungkan, dan menyamarkan pendengaran.
.
.
.
.
Waktu terus bergulir, acara semakin meriah. Irama musik terus mengalun. Acara itu akan berlangsung hingga tengah malam atau menjelang pergantian tanggal.
"Val, ki-kita pulang yuk. Sudah hampir jam delapan malam."
Freissya menarik baju Gama.
"Baiklah, aku izin pulang dulu pada Teo, kamu tunggu sebentar.
"Ya," kata Freissya sambil meneguk habis es jeruk yang terhidang di hadapannya.
Ia sudah berjanji pada bapak dan mama akan pulang paling lambat jam setengah 9 malam.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
~Di jalan raya~
"Huhh, Ice aku tidak bisa konsentrasi menyetir," keluh Gama. Ia gelisah, wajahnya memerah.
Freissya terdiam, gadis itu fokus menatap laut yang terbentang di sisi kirinya. Tangannya sibuk mengibas-ngibas.
Kenapa ya?
"Val, a-aku gerah sekali, kok badanku panas, ini aneh." Melirik, ternyata wajah Freissyapun memerah.
Gama memperlambat laju kemudi.
"Aku pusing Ice, kita lambat saja, ya."
"Val, a-aku gerah sekali, bisa tidak kaca mobilnya dibuka?"
Freissya bingung, wajah Gama terlihat menggoda.
Kenapa?
Ada apa ini?
"Ja-jangan Ice, angin laut lumayan besar, aku takut kamu masuk angin. Ahhh, siaaal, aku pusing."
.
.
.
.
Gama menepikan mobil di bahu jalan. Berjarak kurang lebih lima meter dari bibir pantai.
"Ya Val, kalau pusing jangan dipaksakan," lirih Freissya ia menggigit bibirnya.
"Perasaanku tidak enak," Gama mengatur napas.
"Ya Val, aku juga, bagaimana kalau kita keluar dulu?" tawar Freissya.
"Ide bagus," Gama melepas sabuk pengaman, namun ia melihat Freissya kesulitan melepas sabuk.
"Biar aku bantu," ucap Gama.
Ia mendekat untuk membantu melepas sabuk pengaman milik Freissya. Dan pada saat inilah hal tidak diduga terjadi.
"Kk-Kak Gio?" ucap Freissya. Ia merangkul leher Gama.
DEG.
Gama kaget. Jantungnya hampir meloncat. Ia menyadari sesuatu.
"I-Ice, aku Valyasa. Gamayasa Val Buana, bukan Gio."
Suara Gama gemetar, ia sedang menahan gejolak aneh yang mengalir cepat dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Emmhh ... Val? Eh, Kak Gio ... a-aku kenapah ...?"
Freisya menatap nanar pada Gama, bibirnya terus digigit-gigit.
Tangan Freissya bergerak sendiri membuka ikatan gaun berbentuk pita yang berjejer indah di bagian depan gaunnya. Sungguh pemandangan yang membahayakan.
"Ice sadar, a-aku akan ambil air, ada di bagasi. Sepertinya ada yang sengaja mengerjaiku."
Gama masih waras, namun tatapan matanya sudah tidak fokus, sama nanarnya seperti netra Freissya.
"Gio, kok kamu tampan sekali sih? A-aku baru sadar, hahaha."
Freissya tertawa sambil merangkul kembali bahu Gama, dan kali ini lebih parah dari sebelumnya. Freissya menciumi leher Gama bertepatan dangan sabuk pengamannya yang berhasil dilepas.
"Hhhh, emmh ... I-Ice, sadar Ice ... a-aku Val, a-aku bu ---."
Kalimat Gama tercekal seketika kala Freissya memejamkan mata, mendekatkan wajah ke hadapannya, sementara bibir merahnya yang mungil itu dimajukan.
"I-Ice ...."
Gama menelan saliva sambil menangkup wajah gadis itu.
Dan ....
"Kiss me please ...."
Rayuan maut itu terlontar lancar dari bibir Freissya. Dan tangan gadis itu perlahan menelusuri dada Gama yang retraksi.
Semoga Gama masih waras, tapi .... Sepertinya tidak lagi.
Saat ini, Gama sudah tak mampu lagi menolak. Akal sehatnya hilang, iapun memejamkan mata dan meraih yang merah delima itu dengan lembut, namun tiba-tiba rakus kala hasrat tak terkendali itu kembali mempengaruhi jiwa dan raganya.
.
.
.
.
Terciptalah sebuah adegan yang tidak seharusnya, kedua insan yang sama-sama masih belia itu larut dalam ranumnya cinta, lalu terseok dan terombang-ambing oleh rasa yang menuntut dan candu.
"Aku Gama Yasa Val Buana, bukan Gio, i-ingat namaku Ice," ucap Gama saat gadis itu bergelayut di dadanya.
Wajah keduanya sudah memerah. Sama-sama merasakan panas, sama-sama terjerat hasrat, dan sama-sama lepas kendali. Kehilangan akal sehat, pun rasa malu.
Sungguh biadab orang yang telah menjebak keduanya.
Gama membuka bajunya, pun dengan Freissya, gadis itu telah berubah. Lalu Gama merobek kasar gaun Freissya.
Kursi mobil telah bersandar, dan gadis itu telah berada di bawah kungkungan Gama dengan ekpresi yang aduhai.
Matanya mengiba, seolah sedang berkata 'Ayolah segera.' Dan tatapan Gama seolah berkata 'Baiklah.'
"Ice ...."
Gama sadar jika gadis ini adalah Ice, namun tidak sadar kalau yang dilakukannya adalah cara yang menyesatkan.
"K-kamu ... kamu siapa?" Freissya mabuk.
Ia menatap lekat wajah Gama. Air mata gadis itu mengalir. Di alam bawah sadarnya, batin sucinya mungkin saja menolak adegan ini. Tapi sayang, tubuh manusia terbatas. Sulit untuk melawan efek sedatif apalagi dalam dosis tinggi.
"A-aku Gamayasa Val Buana ...," geramnya.
Gamapun menatap wajah Freissya lekat-lekat, matanya berkaca-kaca, ada linangan bening di sudut mata Gama.
Di alam bawah sadarnya ia sedang berusaha untuk menolak gelora itu, tapi sayang .... efek sedatif dan bunga indah yang kuncup itu telah menghilangkan sisi baiknya.
Dalam diam, mereka perlahan berkelana. Menjelma menjadi pria dan wanita dewasa yang terjerumus dahaga. Bermain peran perdana, menyalurkan asa dan cinta yang tidak biasa.
Tidak ada lagi kata bantahan, tidak ada lagi kemarahan. Yang ada hanya deru napas yang menguasai. Kemudian terpejam bersama dan melenguh bersama saat keduanya mendapatkan rasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
.
.
.
.
Angin laut berhembus ke darat, saat teriakan Freissya menggama. Maksudnya menggema.
Freissya seperti kesakitan, gadis itu memekik dan mengaduh. Suara Gama belum terdengar lagi. Entah apa yang terjadi di dalam mobil itu.
Lalu ... suara rintih dan tangis kian jelas terdengar. Seolah berpadu dengan deburan ombak kecil yang menggiring riak ke tepi pantai.
Sayup terdengar suara erangan yang konsisten dan bersinergi dengan d e s a h a n nan halus.
Saat kilatan cahaya meteorit melintas, tampak jelas ada jemari putih lentik yang tengah mencengkram kuat ujung kursi. Lalu sebuah tangan berbulu halus menangkupnya, seolah tengah memberi kekuatan pada si pemilik jemari lentik.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Apa yang terjadi?
Gama, Freissya, apa yang sedang kalian lakukan?
Gemuruh ombak terus terdengar, berbagai jenis mobil melintas cepat di jalur ini. Namun mobil putih yang terparkir itu seolah tidak terganggu.
Lagi, Buana yang lain telah mengoyak mahkota suci yang tidak berdosa.
Kini, ice itu telah mencair dan bersatu padu dengan peluhnya.
Gama telah melewati batas terlarang dari nilai hidupnya. Padahal, ia sudah berjanji pada Agam tidak akan melewati batas yang dilarang agama.
Apa yang dilalukan kakaknya pada LB adalah hal yang paling ia benci.
Dan suatu hari Gama pernah berkata ....
"Aku rela mati di tangan Kakak jika berani melakukan 'itu.' Aku memang punya banyak kekasih, Kak. Tapi, hanya untuk main-main dan menghabiskan uang jajan. Serius, hal yang aku lakukan hanya memeluk saja."
"Bohong!" teriak Agam.
"Demi Tuhan, akupun hanya berani mencium keningnya, Kak."
"Baik, Kakak percaya. Jika suatu hari kamu melanggar kamu akan Kakak bunuh."
"Oya? Bukankah Kakak juga melanggar? Apa harus aku yang membunuh Kakak?"
"Kakak akan terbunuh dengan sendirinya, tanpa mengotori tanganmu."
Ingatan itu kembali saat tubuh Gama ambruk di atas tubuh Freissya yang tidak berdaya. Gadis itu tertidur, wajahnya memucat.
DEG.
Gama tersadar. Ribuan gada menghantam dadanya, tapi ... terlambat.
Apa yang sudah aku lakukan? Teriaknya dalam hati.
"I-Ice," gumamnya, lalu mengangkat tubuhnya.
Ia menatap gadis itu. Gaunnya sudah terkoyak. Bagian tubuh Freissya terekspose. Tubuh Gama gemetar saat memandangi tubuhnya sendiri.
Tidaaak ....
Gama langsung menangis saat melihat ceceran darah segar mengotori tubuh bagian bawah milik Freissya dan juga miliknya. Bahkan mengotori gaun dan kursi.
Aaaaarrgghh ....
"Ibu ... Kak Agam ... maafkan aku .... Huuu ...."
Gama putus asa. Ia mendekap tubuh Freissya di dadanya.
"I-Ice im so sorry ... sorry Ice, maafkan aku Ice .... Ma-maaf ...."
Ia yang setengah polos memeluk Freissya sambil menangis.
Dan mata jelinya terbelalak saat menyadari ada sebuah benda mencurigakan terpasang pada lampu di atap mobil tersebut.
KURANG AJAR!!
Gama sadar jika ia telah dijebak, dan Ice adalah korbannya. Tidak, ia dan Ice adalah korban. Jika sudah seperti ini, siapakah yang paling patut disalahkan?