
Karena signal di dalam ruang perawatan kurang baik, Pak Yudha dan yang lainnya sama sekali tidak ada yang menyadari jika Linda sedang live streaming.
Mereka fokus pada bayi. Sedang menonton aksi dokter Rita memandikan bayi dengan air hangat yang sudah dicampurkan dengan minyak aroma bunga setaman.
Dan Linda masih live streaming.
"Sesuatu yang benar tidak akan selamanya benar, dan sesuatu yang salah tidak akan selamanya salah."
"Persepsi tentang salah dan benar adalah sebuah pandangan, karena pada hakikatnya manusia tidak ada yang selalu benar dan tidak ada yang selalu salah."
"Tapi ... ada manusia yang berusaha untuk menjadi benar, ada yang malas memperbaiki diri, dan ada juga manusia yang menunda untuk memperbaiki dirinya dan berlindung di bawah kalimat 'Aku belum dapat hidayah.' Atau 'Ah nanti saja taubatnya, toh aku masih muda.' Seperti itulah manusia, termasuk aku."
"Tapi ... aku ingin memperbaiki diriku. Ya, aku bukan orang suci, jujur dalam hal ibadah saja aku belum bisa khusyuk, tapi ... a-aku merasa tidak pernah merugikan kalian. Walaupun kalian memfitnahku, bahkan memakiku dengan kata-kata binatang, tapi ... aku tidak peduli. Aku hanya membacanya, menyimpannya di dalam hati, dan berharap agar umpatan yang menyakitkan itu menghilang dengan sendirinya."
"Huuks, manusia itu tempatnya khilaf dan dosa. Kecuali kekasih-Nya. Dan a-aku ... aku adalah manusia yang sedang berusaha untuk menjadi benar. Seperti halnya kalian, aku juga punya hati dan pikiran yang bisa aku gunakan untuk merubah sebuah kesalahan menjadi kebenaran, entah itu dengan prilaku, kata maaf, ataupun dengan mengakui kesalahan."
Suara Linda semakin gemetar dan lirih. Cuping hidungnya sampai memerah.
"Kejujuranku terasa bagaikan pisau yang tajam dan melukaiku. Saat aku tidak jujur di mata kalian aku sudah pasti salah, dan saat aku jujurpun tetap saja salah. Apa yang kalian inginkan? Apa kalian ingin melihatku mati?"
"Percayalah, aku bahkan pernah hampir mati dan ingin bunuh diri. Aku mengalami eklampsi dalam kehamilan. Apa kalian tahu? Salah satu penyebab eklampsiku adalah karena aku stres memikirkan hujatan dan cemoohan kalian."
"Bahkan orang tuaku terusir dari kediamannya gara-gara diolok setiap hari. Demi Tuhanku, aku tidak pernah menjual diriku pada siapapun. Ya, aku memang sering mengadakan pertemuan dengan para pejabat dan pesohor, tapi ... aku tidak melakukan hal lain kecuali kerja, kerja dan kerja."
"Satu hal lagi, ini aku khususkan untuk Anda yang cantik Nyonya Clara Mahcota, dan Anda yang terhormat lagi kaya-kaya tuan Rufino Pederik."
"Nyonya Clara, aku tidak pernah tidur dengan suami Anda. Dan untuk Anda Tuan Rufino, kenapa Anda begitu gigih ingin menjadikanku istri? Kenapa? Tolong hentikan semuanya, Tuan. Aku sudah menikah, suamiku adalah Agam Ben Buana."
"Sekali lagi, aku mohon maaf. Tuhan saja mau memaafkan dosa kita. Lalu, kenapa kalian tidak bisa memaafkanku?"
Publik tercengang, pengakuan Linda begitu mengejutkan. Clara Mahcota dan Rufino Federik terseret. Dalam hal ini, Linda otomatis telah membawa nama keluarga Haiden.
Kenapa?
Karena Rufino Pederik adalah paman tuan Deanka, dan Clara Mahcota adalah sepupu tuan Yohan Nevan Haiden.
Live streaming Linda langsung memuncaki tranding topik. Media menyoroti, para wartawan dan tim redaksi mendadak sibuk. Saham perusahaan milik keluarga Haiden mulai merosot.
Tunggu, bagaiama dengan saham HGC?
Dalam pemantauan layar canggih milik Mister X, saham HGC di menit ini merangkak naik.
"Luar biasa," ucap salah seorang jaringan anonymous yang saat ini tengah duduk menghadap layar utama milik Mister X.
"Tunjukan kemampuan dan pesona Anda, Nyonya Buana," ujar Mister X.
"She is Briliant, are you sure?" tanya temannya.
"Yes, dan dia memiliki informasi yang kita butuhkan," jawab Mister X.
"Hahaha, Buana dan Briliant sepertinya memang ditakdirkan untuk bersama. Tuhan Maha Adil.
"Ya, kamu benar, banyak yang mengatakan jika pasangan kita adalah cerminan dari diri kita sendiri," kata Mister X.
"Nomor pak Yudha, pak Berli dan dokter Rita tidak aktif, Pak."
Vano yang panik terus menghubungi nama-nama yang baru disebutkannya itu dengan wajah memucat.
"Pak Yudhaaa, awas Anda ya!" geram Agam, bahkan giginyapun sampai gemeretak. Pak Yudha biasanya cepat tanggap, baru kali benar-benar lalai.
"Sabar Pak, mereka tidak salah, ini salah signal."
"Diam kamu, Vano! Diam!" Agam kesal. Tapi tangannya sibuk menghubungi siapapun di sana, di Pulau Jauh.
Tapi, ya begitulah faktanya. Semuanya di luar jangkauan. Agam sampai mencoba menghubungi nomor rumah sakit, tapi apa yang didapat?
Semua di luar jangkauan. Seolah signal di sana hanya milik Linda seorang.
"Kurang ajar! Beraninyaaa," umpatnya lagi. Agam menyadari sesuatu. Vano kebingungan.
"Hahaha, pak Buana pasti sedang marah besar," Mister menyeringai.
"Apa yang kamu lakukan X?" tanya temannya.
"Saya mengganggu jaringan tower yang paling dekat dengan rumah sakit, tapi tenang saja, tidak akan mempengaruhi pelayanan publik, kok," ujarnya.
"Oh, baguslah. Sekali-kali kita mengerjai pak Buana. Salahnya sendiri tidak jujur pada kita kalau dia memperkosa LB. Ya, walaupun kita sudah curiga sih."
"Sudahlah, misi anonymous tidak ada hubungannya dengan tindakan asusila seseorang. Biarlah itu menjadi tanggung jawab pak Buana dengan Tuhannya," sahut Mister X sambil merapikan maskernya.
Ia dan temannya sama-sama misterius. Yang terlihat hanya telinganya. Kaca mata hitam, masker hitam, topi yang hampir menutupi wajah, sarung tangan, dan hoodie longgar adalah ciri khas busana mereka.
Agam Ben Buana tahu ada peran anonymous yang mempengaruhi jaringan selulernya. Bukan Agam Ben Buana namanya kalau tidak ada ide. Jika signal milik Linda sangat baik, itu artinya ... saat ia menghubungi Linda pasti tidak akan ada masalah, bukan?
"Terima kasih atas dukungan orang-orang baik yang menyayangiku, aku ...."
Linda tercekal, seseorang menghubunginya.
Deg, Linda terhenyak. Bukan Linda saja, tapi ... seluruh viewersnya.
Pak Agam Calling ....
Sebuah nama kontak yang terdengar kaku dan aneh di telinga siapapun. Sontak ribuan pesan reaksi membanjiri kolom komentar.
"Katanya suami? Kok kontaknya bapak? Hahaha, sudahlah El ... jujur saja kalau kamu sebenarnya sengaja menggoda pak Agam, kan?"
"Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga."
"Harta, tahta dan Linda."
"Enak ya jadi orang cantik. Buka dikit, jos. Hahaha."
"Terlihat berkilau di luar, dalamnya kita tidak tahu. Hahaha, hanya Dirut HGC yang tahu."
"Jangan dengarkan yang membencimu, mereka itu iri."
"LB, aku mencintaimu, aku mendukungmu."
Itulah salah satu isi kolom dari komentar, tidak bisa dibaca semuanya, terlalu buanyak.
Linda menjeda live. Lalu menerima panggilan.
"Ha-halo," sapanya.
"Kamu tidak menghargai saya, LB. Saya kecewa."
Kalimat Agam merontokkan nyali Linda.
"Pak ... aku melakukannya demi Anda."
"Demi saya? Setidaknya kamu izin dulu, LB. Kamu istri saya, faham? Apa kamu sadar, baju kamu terbuka? Dan jutaan orang melihat kamu. Kamu seperti j a l a n g sungguhan!" bentak Agam.
"A-APA?! Pak Agam ... Anda katakan apa tadi? To-tolong ulangi lagi."
"Lupakan, saya kecewa." Agam yang murka menutup panggilan secara sepihak.
"Huuu ... huuu ... dia tadi mengatakan .... A-apa aku salah dengar? Huuu ... huuu .... Kenapa sakit sekali? Kamu menyakitiku Agam Ben Buana, huukks ...." Linda tidak percaya, batinnya terhunus.
"Kamu seperti j a l a n g sungguhan."
"Kamu seperti j a l a n g sungguhan."
"Kamu seperti j a l a n g sungguhan."
Terngiang dan mengoyak relung hatinya.
"LB," teriak suster yang tadi mengantar, ia kembali ke atap tanpa menunggu instruksi Linda. Pikirnya, Linda sudah terlalu lama berjemur.
"Suster ...," lirih Linda. Ia mengakhiri live streaming.
Kemarahan Agam membuatnya tidak bisa berpikir jernih lagi. Badannya lemas seketika. Padahal, ia sudah percaya diri bisa menangani Agam. Tapi ... kenapa jadi begini?
Linda terkulai, ia pingsan.
"Tolong, tolong, tolooong," teriak suster. Sambil menahan tubuh Linda, suster itu menelepon temannya.
"Pak Agam, Anda berlebihan. Bagaimana kalau Linda sedih dengan kata-kata itu?" protes Vano.
"Kamu mengemudi saja, jangan ikut-campur masalah rumah tangga saya!"
"Pak, dengar ya, saya pengaraca Anda. Artinya, saya juga berhak memberikan pendapat."
"Saya cemburu Vano. Cemburu! Kamu lihat akun pengikutnya? Rata-rata pria!" teriaknya.
"Pak, LB itu artis. Itu konsekuensinya. Cepat minta maaf pada LB, atau hubungan Anda dan dia akan bermasalah."
"Vano, dia yang salah, dia tidak izin."
"Pak, adakalanya seorang istri mengambil keputusan sendiri. Pak Agam harus melihat sisi positifnya."
"Saya marah, saya kesal, saya cemburu, titik," tegasnya.
"Hmm, ya terserah Anda kalau tidak mau minta maaf. Saya hanya memberi saran. Siap-siap saja, Pak. Kalendar masa nifasnya feeling saya akan bertambah panjang, bukan 40 hari lagi. Bisa jadi 4 bulan atau lebih dari itu."
"Apa katamu?" Agam melotot, rambut Vano dijambak dari belakang.
"Awh awh, lepaskan Pak. Saya sedang mengemudi, bahaya."
Agam melepaskan rambut Vano. Ia menarik napas dalam-dalam. Tiba-tiba merasa menyesal. Ucapan Vano benar. Kata-katanya pada Linda sangat keterlaluan.
Astaghfirullaah ....
Maafkan saya, Linda. Ternyata, saat kita cemburu dan marah, yang mengendalikan syaraf pengucapan bukan lagi otak apalagi, tapi ... emosi dan hawa n a f s u.