
"Nah, ini rumahnya, tidak bagus sih. Tapi dari sini, jika kamu ingin bekerja di toko bunga jaraknya lebih dekat," ujar Mister X dengan suara palsunya.
"Kenapa Ibu baik sekali? Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan Ibu?"
Senja menatap hampa sosok di hadapannya. Di balik maskernya Mister X tersenyum. Hatinya hangat. Setelah sekian lama berdampingan dengan kucing hitam dan komputer, kehadiran Senja pasti akan memberikan suasana baru.
Tidak, dia tidak akan menjahati gadis ini. Di rumah rahasinya ada tiga kamar. Satu kamar bisa digunakan untuk Senja.
"Mari masuk," ajaknya.
Memegang tangan Senja, Mister X menggunakan sarung tangan agar Senja tidak curiga dan bertanya lagi tentang tangannya yang lebar.
"Hmm, wangi melati," ucap Senja.
"Ya, Ibu memang senang menanam bunga."
"Bu, bagaimana kalau aku memanggil bibi saja, kurasa suara Ibu terdengar terlalu muda kalau dipanggil ibu."
"Oh, terserah kamu saja. Oiya, apa aku boleh memanggilmu Senja?"
"Hahh, sejak kapan Bibi tahu namaku ada Senjanya?"
Mister X menghela napas, sadar telah melakukan kesalahan.
Hampir saja.
"Ada serpihan kartu pengenal yang aku temukan di sisa-sisa kebakaran, di nama kamu ada Senjanya."
"Oh, hehehe, iya ada. Tapi, aku biasa dipanggil Zora, kalau Bibi mau memanggilku Senja, ya tak masalah," jelasnya.
"Baik, sekarang mari kita room tour rumah ini."
"Bi tunggu, aku kan tidak memiliki baju, sepertinya aku harus kembali ke pengungsian untuk meminta baju bekas."
"Oh, tidak perlu Senja. Em, Ibu ... eh maksudnya Bibi juga kan punya banyak baju yang bisa kamu gunakan."
"Ya ampun, Bibi baik sekali."
"Nah, mari ke kamar kamu, Bibi sudah memasang tali penunjuk jarak, kalaupun kamu tidak menggunakan tongkat, asalkan memegang tali ini, kamu tidak akan tersesat."
Mister X mengarahkan tali pada tangan Senja.
"Coba lurus ke depan, lalu belok kanan. Nah, ini kamar kamu."
"Wah, sepertinya lapang, aku merasa tidak pengap," ujar Senja. Lalu duduk di sisi tempat tidur.
"Oiya Bi, bagaimana dengan adik Bibi? Apa dia tinggal di sini? Terus, kalau ada dia selagi Bibi tidak ada, bagaimana? Aku takut," katanya.
"Tenang saja, adiknya Bibi jarang ke sini, kok. Oiya, Bibi juga kan kerjanya di rumah, Bibi bisnis online, jadi kamu tidak perlu takut," kata Mister X. Di balik masker bibirnya tersenyum.
"Kalau kamar mandi, di mana?"
"Seluruh kamar di rumah ini dilengkapi kamar mandi."
"Oh, ya ampun, terima kasih Bibi."
"Untuk makan, Bibi akan menyiapkan semuamya. Di rumah ini, kamu cukup menemani Bibi saja, setuju?"
"Untuk sementara aku setuju Bi, aku akan menunggu di sini sampai pemerintah merenovasi pemukiman kami dengan rumah yang baru. Aku juga akan memberikan uang hasil kerjaku pada Bibi," lirih Senja. Air mata gadis itu mengalir. Mungkin, ia teringat kembali pada neneknnya.
"Jangan bersedih, nenekmu insyaaAllah syahid," kata Mister X.
"Aamiin," gumam Senja.
"Sekarang istirahat ya, ini sudah malam," bujuknya.
"Terima kasih Bibi." Senja meraba tempat tidur lalu merebahkan diri.
Mister X kembali ke depan komputer, misi kali ini adalah membobol situs BRN. Tujuannya untuk menunjukkan pada dunia jika BRN memiliki peraturan yang tidak manusiawi. Ia melakukan ini untuk mendukung langkah Agam Ben Buana.
Menjelang tengah malam, Mister ke kamarya untuk istirahat. Kamar ia dan Senja berdekatan. Saat tidur, ternyata ... ia melepas seluruh atribut yang menjadi ciri khasnya.
Sayangnya, saat ia melepas masker, posisinya membelakangi dan langsung masuk ke kamar mandi. Punggungnya tegap, lebar, dan indah, mirip dengan punggung pak Dirut.
...❤...
...❤...
...❤...
"Tuan Yohan sekarang berubah, dia jarang kumpul-kumpul lagi dengan kita, kesurupan apa sih dia?!" Seorang pemuda, di sebuah klub malam tengah merutuki Yohan.
"Ya benar, dia tidak asyik lagi, apa karena dia sudah miskin?" ucap yang lain.
"Tidak, dia tidak miskin, mana ada orang miskin membeli heli baru."
"What!! Kamu serius?!"
"Seriuslah, dia sekarang fokus jadi pilot penerbangan komersil."
"G i l a! Kenapa dia tidak merayakan barang barunya bersama kita?!"
"Nah itu dia yang membuat aku muak. Dia sekarang malah dekat dengan Dirut HGC, kabarnya dia beberapa kali menjadi pilot untuk Dirut HGC."
"Wah, wah, wah, ini sih tidak bisa dibiarkan, secara kita teman dia dari kecil."
"Sekarang kamu coba kamu telepon dia, suruh dia datang ke sini, kita siapkan minuman dan wanita, hahaha."
"Siap, jika dia tidak datang, kita ancam saja kalau pertemanan kita dan dia cukup sampai di sini. Biar bagaimanapun, saat dia keluar dari penjara, kita yang memberinya dukungan. Ya, walaupun tidak maksimal sih."
Sekitar lima belas menit mereka menunggu, akhirnya Yohan datang juga bersama supirnya. Seperti biasa, Yohan akan menyuruh supirnya menunggu di dalam mobil.
Minuman dan wanita bayaran sudah disiapkan untuk menyambut kedatangan Yohan. Tiga orang wanita muda, berpenampilan super seksi. Melihat kedatangan Yohan, jiwa j a l a n g mereka meronta.
"Tuan Yohan? Anda kemana saja? Kami merindukan Anda," ujar wanita muda bergaun merah.
"Aku sibuk," jawab Yohan, dingin.
Lalu menyalami teman-temannya. Kemudian duduk di kursi kosong. Ketiga wanita itu langsung menyerbu. Ada yang memijat pundak Yohan, ada juga yang langsung duduk di pangkuan Yohan.
"Saya merindukan permainan Anda yang dahsyat itu, Tuan," kata si gaun biru.
"Maaf jangan sentuh aku! Pergi!" Yohan menggedikkan bahu dan menggerakkan kakinya.
"Hahaha, luar biasa perubahan kamu, Tuan. Apa kamu akan segera mati?" ledek temannya.
"Diam kalian, aku ke sini karena tidak ingin persahabatan kita terputus, sekarang katakan ada perlu apa kalian menyuruhku ke sini? Mau uang? Nanti aku berikan," kata Yohan, ia seperti tidak nyaman berlama-lama di tempat ini.
"Pertama, aku mau menanyakan janji Tuan tentang studio rekaman itu. Kapan Anda akan meliris LB jadi penyanyi kita?"
"Mario, dengar ya, aku sudah mengatakan padamu, LB menolak kerja sama itu. Dia sudah menikah dengan Agam Ben Buana, kurasa dia tidak butuh uang lagi," terang Yohan.
"Hahaha, sejak kapan Anda jadi pecundang, Tuan?" ledek yang lain.
"Cukup! Kalian mau apa?! Katakan, cepat! Ini sudah malam!" teriak Yohan, ia mulai tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Tenang dong friend, sebenarnya kami tidak ingin apa-apa sih, hanya ingin menyenangkan Anda, Tuan. Lihatlah wanita-wanita cantik itu. Kami sudah membayarnya, khusus untuk Anda, Tuan. Hahaha."
Mereka tertawa.
"Cukup, kalau itu alasannya aku pergi!" Yohan berdiri.
"Hei, jangan buru-buru Tuan." Dua orang mencekal tangan Yohan.
"Kami tahu Anda jatuh miskin, Tuan. Maka dari itu kami sudah membokingkan wanita-wanita itu untuk Anda."
"APA?! Kalian merendahkanku?!"
Yohan menepis tangan temannya, lalu menendang minuman yang ada di hadapannya.
'Prang.' Botol minuman di meja pecah membasahi sepatu teman Yohan.
"Anda tidak menghargai persahabatan kita, Tuan! Hajar dia!" teriak pria yang dipanggil Yohan sebagai Mario.
"K u r a n g a j a r! Kalian menghabiskan waktu saja!" geram Yohan, segera pasang kuda-kuda.
"Mario tunggu, apa yakin kita akan menghabisi dia? Dia keluarga Haiden."
"Halah, tidak perlu peduli, dia itu sudah hampir dibuang dari keluarga Haiden, papanya saja masih buron membawa uang negara! Seraaang!" teriak Mario.
"Maju kalian!" Yohan sesumbar.
Terjadilah perkelahian tidak seimbang lima lawan satu, sontak menjadi pusat perhatian pengunjung yang lain. Keributan tidak terelakan.
"Tolong-tolong," para wanita berhamburan meminta tolong.
'Prak.'
Sebuah botol minuman yang terbuat dari kaca mengenai kepala Yohan, Yohan tidak bisa menghindar karena kalah jumlah.
'Syurr.'
Darah segar mengalir dari kepala Yohan, tapi Yohan sama sekali tidak mengeluh, apalagi meminta tolong. Ia masih aktif menyerang dan menendang apa saja, membabi buta.
"Hentikaaan," teriak seorang wanita seksi. Ia menyadari yang berdarah-darah itu adalah Yohan Nevan Haiden, pria yang pernah ia nikmati permainannya juga uangnya.
Namun teriakannya tidak digubris oleh siapapun. Perkelahian tidak seimbang itu seolah dijadikan ajang pertunjukkan. Tidak ada satupun yang berani melerai.
Lagipula, siapa sih yang berani melerai? Mereka adalah penguasa di klub itu. Kumpulan kasanova kaya-raya. Ada juga yang berasal dari keluarga penguasa.
Dan saat ini Yohan kian tersisih, kedua tangan dan kakinya dicekal. Lalu seorang pria memaksa Yohan untuk meminum minuman keras. Yohan sudah berusaha menolak, tapi ia kalah ya, ia kalah jumlah.
Mulut Yohan dipaksa terbuka, lalu mereka menenggaki minuman, memaksa. Sambil menendang perut dan punggung Yohan, kondisi Yohan sangat memprihatinkan.
Hentikaan, kalian sahabatku, kan? Ratap Yohan dalam hati.
"Rasakan Tuan, hahaha."
"Coba Anda tidak menolak kami."
Yohan mendengar ejekan dan hinaan itu saat ia berusaha mengelak.
Papa .... Mama ....
Tak sadar, Yohan memanggil nama mereka dalam batinnya.
Dunia dan sekitarnya seolah tidak ada lagi mendukungnya. Tubuh Yohan kian lemah dan terpuruk. Ia juga sudah mulai pusing dan berkunang-kunang.
"Cepat, Pak!"
Ternyata wanita yang tadi beteriak meminta bantuan pada supir Yohan untuk masuk ke klub dan menolong Yohan. Syukurlah, karena pernah ke apartemen Yohan, wanita itu masih hafal mobil Yohan, dan mengenali supirnya.
"Cukuup!" teriak Pak Supir.
"Hahaha, tidak perlu ikut campur, Pak!" ucap Mario.
"Tuan Mario, kalau Anda tidak menghentikannya, saya akan lapor polisi dan membawa media ke sini. Apa Anda tidak malu dengan jabatan ayah Anda?" Ternyata supir Yohan dan pria bernama Mario itu rupanya sudah saling mengenal.
"B r e n g s e k kamu! Teman-teman, stop!" teriaknya. Ancaman supir Yohan lumayan ampuh.
Lalu tubuh Yohan dirangkul dan diseret oleh Pak Supir untuk dibawa keluar dari klub. Para wanita yang merasa iba akhirnya membantu Pak Supir hingga Yohan yang pingsan berhasil dimasukan ke dalam mobil.
"Terima kasih, Nona," kata Pak Supir pada wanita yang pertama kali memberitahu keadaan Yohan.
"Sama-sama Pak, Tuan Yohan pernah membantu saya, apa yang saya lakukan sebenarnya tidak seberapa jika dibanding dengan kebaikan dia," ucapnya. Entah kebaikan seperti apa yang dimaksud wanita itu.
Ia melambaikan tangan saat mobil Yohan melesat meninggalkan klub malam.
...❤...
...❤...
...❤...
"Kasihan sekali Anda Tuan Yo, di saat Anda ingin berubah jadi orang baik, semesta seolah tidak mendukungmu," gumam Pak Supir saat ia menyeret tubuh Yohan menuju unit apartemennya.
"Nona Sea, Nona Sea," teriaknya.
Karena sudah malam, Sea tidak menyahut, mungkin sudah tidur. Asisten perempuanpun kalau malam tidak ada di apartemen. Dia hanya bekerja sampai jam 9 malam.
Pak Supir kesulitan, Yohan sepertinya mulai mabuk.
'Brugh.'
Pak Supir mendorong tubuh Yohan ke sofa, lalu membersihkan darah di wajah Yohan dengan tissue basah. Ada memar di pipi Yohan, bibirnya pecah.
Dan di saat itulah Sea yang sepertinya hendak mengambil air minum tiba di ruangan itu.
"Nona Sea? Kebetulan Anda datang, Tuan Yohan terkena musibah," jelas Pak Supir.
"A-apa? Di-dia kenapa?" Sea gugup. Memegang tumbler dengan tangan gemtar.
Dan saat Sea belum mendapatkan jawaban, Pak Supir malah berkata ....
"Nona Sea, tolong jaga dan obati Tuan ya, saya harus pergi, ada yang perlu saya kerjakan," katanya. Berlalu.
"Ta-tapi Pak .... A-aku tidak mau sendirian," Sea terlihat ketakutan.
"Permisi, Nona."
Pak Supir seolah tidak peduli, ia meninggalkan Sea dengan terburu-buru. Sepertinya memang ada hal yang mendesak dan harus segera diselesaikan.
Sea termangu, menatap tubuh Yohan yang tidak berdaya. Melihat keadaan Yohan, Sea yakin jika pria itu baru saja minum-minum dan berkelahi.
Namun gumaman yang keluar dari bibir Yohan membuatnya perlahan-lahan mendekati Yohan.
"Tu-Tuhan ... aku ingin menjadi manusia yang lebih baik, apa Kau tidak mengizinkan itu?"
Sea kian mendekat, mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Yohan.
"Huuu Mama .... Maafkan aku Ma ...," racaunya. Mata Yohan terpejam. Air mata mengembang di sudut matanya.
"Papa ... a-aku membutuhkamu, Pa ...."
"Tuhan ... a-aku kesepian .... Tuhan .... Huuu." Tangan Yohan terulur. Ada banyak lecet dan memar di lengannya.
"Mama ... kau kah itu?"
Bibir Yohan tiba-tiba tersenyum. Sea mundur sesaat lalu maju lagi.
"Mama ... a-apa kalau aku mati, a-aku akan bahagia? A-apa di sana a-aku akan memiliki teman yang tulus? Mama ... tolong jawab Ma ... kenapa Mama diam saja?"
'Tes.' Air mata Yohan menetes.
Sea terenyuh. Meraih tangan Yohan yang terulur. Tak disangka, Yohan menarik tangan Sea, lalu memeluk Sea.
"Mama ... kenapa Mama baru datang? Aku merindukanmu, Ma ...."
Kepala Yohan berlindung di dada Sea. Entah atas dasar apa tangan kanan Sea tiba-tiba memeluk punggung Yohan. Sea menepuk-tepuk punggung Yohan bak seorang ibu yang tengah menidurkan putranya.
...❤...
...❤...
...❤...
Rupanya, ruang perawatan itu tidak menjadi penghalang bagi Pak Dirut untuk menggoda Linda. Entah apa yang dilakukan oleh Agam di balik selimut itu. Motifnya pijat tambah-tambah agar Linda cepat pulih. Saat ini, Linda tengah menutup mulutnya sambil membelalakan mata.
"Bersuara saja sayang, tidak perlu ditahan-tahan," goda Agam, yang sedang berperan jadi tukang pijat.
"Cu-cukup Pak ... terima kasih," ucap Linda sambil mengatur napasnya. Agam Ben Buana benar jahil pikirnya. Pijat tambah-tambah benar-benar membahayakan jika tidak dilakukan pada pasangan halal.
"Tapi saya belum puas sayang, saya belum mendegar d e s a h a n kamu," katanya.
"Pak Agam, please ...."
Linda memohon.
Tapi ... ya begitulah. Pada akhirnya, hormon mendominasi. Secara fisologis tubuh Linda terlena jua.
Perlahan tapi pasti rintihan Linda mulai terdengar. Tidak sampai terdengar keluar ruangan. Namun ... cukup jelas terdengar sampai ke kamar mandi yang letaknya memang berdekatan dengan tempat tidur.
Linda meracaukan nama seseorang dalam setiap desahannya.
Maga, Maga siapa? Yuli keheranan.
Di kamar mandi, telinga Yuli memanas, ia menangis, menutup telinganya, lalu menyalakan keran air agar sura Linda tidak terdengar. Suhu di kamar semakin dingin, berbanding terbalik dengan dadanya yang panas.
Pak Dirut mengakhiri pijat tambah-tambahnya setelah melihat Linda lemas.
"Bagaimana, suka kan?"
Agam keluar dari selimut, lalu mengelap keringat di pelipis Linda dengan bibirnya.
"Hmm, asin," keluh Agam.
"Maga, emh ... nakal sekali sih, si-siapa suruh memakan keringatku!" Linda memukuli bahu Agam.
"Hahaha, bukan keringat kamu saja yang aku makan, sayang," bisik Agam. Linda merona.
Lalu ponsel Agam menyala, ada panggilan dari Vano. Pak Dirut segera mengangkatnya.
"Vano, ada apa? Malam-malam begini kok menelepon sih?"
"Pak Agam, saya mau melaporkan berita penting, tuan Yohan dikeroyok, saya sudah mendapatkan vidio pengeroyokan itu. Kita beruntung Pak. Supir tuan Yohan mau diajak kerja sama."
"Berani sekali mereka mengeroyok Yohan!"
"Ya Pak, dan berita baiknya, tuan Mario disinyalir adalah dalangnya."
"Memangnya ada hubungan apa antara saya dengan tuan Mario?" tanya Agam.
"Pak Agam, tuan Mario adalah putra politisi yang melaporkan Briliant. Laporan selesai."
"Apa?!" Agam terhenyak, langsung sumringah.
Linda menguping, meletakkan kepalanya di dada Agam, tubuh setengah polosnya masih tertutup selimut.
"Ada apa, Pak?" Linda mau tahu.
"Vano dapat tangkapan besar sayang."
"Tangkapan apa sih?"
"Nanti kamu juga tahu."
"Aku kan mau tahu sekarang, Pak."
"Oke, saya akan beri tahu, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa, Pak? Aku sedang sakit, jangan aneh-aneh ya," protesnya.
"Tadikan kamu sudah saya puaskan, gantian dong sayang," bisik Agam.
"Hah? A-apa?"
"Ini malam Jum'at sayang, pahalanya berkali lipat lho. Emm, katanya ... waktu paling baik untuk hubungan suami istri adalah hari Jum'at atau di malam Jumat. Orang yang melakukan hubungan suami istri di hari Jum'at, akan mendapatkan dua pahala, yaitu pahala mandi Jum'at dan pahala mandi istrinya," jelas Agam.
"Oh, begitu ya?" Linda mengulum senyum.
...~Tbc~...