
"Cepat! Amankan!" teriak seseorang, entah siapa.
Lalu seorang pria tegap belari cepat, membuka jasnya untuk menutupi kepala Agam.
"Siapa dia?"
"Kenapa ditutupi?!"
"Siapa laki-laki yang melindungi LB?!"
"Apa aku salah lihat ya? Kok dari tingginya seperti Pak Agam?"
"Ah, ngaco saja kamu, tuh. Mana mau Pak Agam dengan artis murahan seperti dia."
"Woy, LB bicara kamu binal!"
"Jangan lari dari kita!"
"Pecundang kamu!"
Teriakan intimidasi itu terus berlanjut saat Linda dan Agam diseret perlahan oleh petugas keamananan menuju lobi HGC.
Sebenarya ini hari libur. Aktivitas perkantoran di HGC untuk hari Sabtu dan Minggu memang diliburkan, namun karena HGC merangkap sebagai tower serbaguna, jadi aktivitas lainnya seperti mall, taman hiburan, spa, hotel, dan kegiatan di fasilitas lainnya tetap berjalan seperti biasa.
Dan yel-yel penghinaan untuk Linda terus berbunyi dari barisan depan. Dari sekelompok wanita seksi yang memakai baju ala-ala Sales Promotion Girl.
"L, untuk LOL, B, untuk Binal. LB!"
"L, untuk LOL, B, untuk Binal. LB!"
"L, untuk LOL, B, untuk Binal. LB!"
Agam terus memeluk Linda, telinganya panas mendengar teriakan cacian dan penghinaan itu.
Sungguh ia tidak terima. Ingin mengatakan semuanya, namun kembali lagi pada kekhawatiran akan satu hal. Yaitu, ia takut Linda nekad meninggalkannya lagi jika ia tidak mengikuti keinginannya.
Terlepas dari itu, ya Linda benar. Agam adalah anggota rahasia dari kalangan sipil dari sebuah badan penting di negara ini. Satu hal fatal dari keanggotaan di badan tersebut adalah anggotanya bisa dibunuh secara tiba-tiba jika melakukan kesalahan.
Kenapa harus dibunuh? Karena setiap anggota memiliki peran penting menyimpan rahasia besar yang berhubungan dengan keamanan negara, informasi penting, dan jaringan kejahatan di negara tersebut.
Melakukan kesalahan fatal dan membocorkan informasi, adalah hal yang terlarang bagi setiap anggota. Jika mereka melanggar, artinya ... anggota itu sudah berani menukar kesalahannya dengan nyawa mereka.
"Injakan kakimu ke atas kaki saya," kata Agam. Saat Linda kesulitan untuk berjalan mundur.
"Apa?" Linda sejenak menengadahkan kepalanya.
"Lakukan saja, cepat."
"Ba-baik."
Kaki yang menggunakan flate shoes itu kini berada di atas sepatu pantofel mahal keluaran teranyar.
Tap, tap, tap, Agam melangkah cepat dengan membawa Linda di kakinya. Sementara pria yang tadi menutupi Agam dengan jasnya pergi begitu saja setelah Agam mencapai lobi dan disambut petugas keamanan serta staf. Dan jas itu kini dipegang oleh Agam.
"Pak Agam?"
Seorang petugas entah dari bagian apa terlihat panik melihat bos mereka dipenuhi telur pecah di rambut dan punggungnya.
"Gara-gara aku, Kak. Maaf ... tadi tak sengaja. Mereka jadi melempar ke Pak Agam," jelas Linda.
Petugas wanita itu diam saja, tatapannya pada Linda teramat sinis.
"Di mana Bu Fanny?" tanya Agam pada wanita itu saat ia membuka jasnya, menyisakan kemeja.
"Bu Fanny sedang menuju ke sini, Pak." Ternyata wanita itu adalah staf sekretaris, bawahan Fanny.
"Untung saja bukan telur busuk, Pak. Saya kira telur busuk, tapi Bapak jadi bau amis begini," ucap wanita itu saat meraih jas kotor milik Agam dan jas dari pria misterius.
"Pak Agam," teriak Fanny yang baru saja datang.
Mata Fanny benar-benar membulat melihat dua kuning telur ada di kepala Agam, lalu putih telurnya meleleh ke wajah Agam.
"Ini pasti gara-gara kamu!" bentaknya pada Linda yang tengah menunduk.
"Sudahlah Fanny, tidak perlu memarahi LB. Ini salah saya. Lagipula telurnya tidak busuk kok, jadi bagus untuk kesehatan rambut dan wajah saya," terang Agam sambil meraih tissue wajah yang disodorkan Fanny.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini juga kali, Pak. Ayo saya bantu keramasi, biar cepat kita ke salon itu saja." Fanny menujuk ke area barbershop yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Tidak perlu, Fanny. Kamu hadapi dulu masa, katakan saja saya akan menemui mereka sekitar tiga puluh menit lagi. Saya akan membersihkan sendiri rambut saya," terangnya sambil berjalan cepat menuju lobi.
"Tapi, Pak ---."
"Fanny," sentaknya. Mata sayunya memicing.
"Baik, Pak." Fanny bergegas.
"Kamu. LB! Ikut saya!" bentak Agam pada Linda.
"Pak Agam, kenapa LB tidak ikut dengan saya saja? Kan bisa langsung memberikan keterangan," Fanny berbalik. Menghentikan langkahnya.
"Tidak, dia harus saya beri pelajaran dulu," tegas Agam. Bersamaan dengan itu, ia menarik cepat tangan Linda menuju lift.
Para staf dan Fanny hanya bisa melongo menatap kepergian Agam dan Linda yang menghilang saat pintu lift tertutup.
"Apa saya lucu?" tanya Agam di dalam lift karena Linda terus menatapnya.
"Tidak, Pak. Hanya saja, saya menyesal sampai Bapak harus terkena telur-telur itu." Langsung menunduk lagi.
"Haha, ini hanya telur. Masalah cetek," terang Agam.
Hidungnya terlihat kembang-kempis menghidui aroma amis khas telur mentah.
"Saat ini saya jadi punya empat telur," candanya saat pintu lift terbuka di lantai 88, sambil mengulum senyum.
"Apa?" Linda lambat dalam hal ini.
"Hahaha," Agam tergelak. Untungnya area itu sepi, karena aktivitas perkantoran sedang libur.
"Ya, dua telur di kepala saya, dan dua lagi di ---." Tidak lanjut berucap. Jemarinya sibuk menekan pin nomor untuk membuka pintu ruangannya.
"Oh ...." Linda merona.
"Kamu faham?" Agam semakin berani.
"Ti-tidak," jawab Linda cepat saat mereka sudah masuk ke dalam ruangan.
"Hahaha, jangan pura-pura," katanya sambil berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membesihkan rambutnya.
"Pak Agam, tunggu." Linda menahan Agam di ambang pintu kamar mandi.
"Kenapa?" Agam menatapnya lekat.
"Biar aku saja yang bantu bersihkan, biar lebih cepat di wastafel saja," kata Linda.
"Emm ...." Agam berpikir.
"Boleh," lanjutnya.
"Tapi saya ambil dulu shamponya, tunggu ya."
Linda mengangguk.
Di area pantry, Linda melihat ada wastafel berdiri yang tidak menempel ke dinding. Sip, di wastafel ini ia bisa membersihkan kepala Agam seperti di salon-salon.
Lalu Linda meletakan satu kursi di depan wastafel itu.
"Saya duduk di situ?" tanya Agam. Tangannya memegang shampo, wajahnya terlihat berseri. Mimpi apa semalam? Kok tiba-tiba mau dikeramasi bidadari? Pikirnya.
"Ya, Pak." Jawab Linda.
"Oke, kalau tahu kamu mau membersihkan, saya akan minta waktu dua jam," katanya. Saat ia duduk dan Linda membantu merebahkan kepalanya pada bingkai wastafel.
"Hmm, perdana saya dikeramasi wanita."
Bibir Agam terus mengoceh, matanya terpejam seiring dengan kucuran air yang membasahi kepala, terasa dingin saat air itu menyentuh kulit kepalanya.
"Aku juga baru pertama kali mengeramasi pria selain ayah," ucap Linda saat tangannya mulai bergerak perlahan membersihkan telur yang terasa lengket tapi juga licin.
Linda serius membersihkan, sementara Agam pura-pura tidur ayam. Walaupun matanya terlihat terpejam, tapi sebenarnya ia sedang menikmati wajah cantik Linda dari jarak yang teramat dekat.
Agam berusaha tenang, jujur ia ingin menikmati bibir yang tampak ranum itu dengan posisi sekarang. Seperti di drama-drama.
Gluk, spontan ia menelan saliva, dan Linda kaget. Ia melihat dengan jelas jakun pria itu bergerak. Linda jadi gugup.
"K-kenapa?" tanya Agam.
"Kenapa?" Linda jadi bingung. Kenapa Agam bertanya kenapa? Bukankah mata pria itu terpejam?
"Pak Agam pura-pura tidur ya?" Ia tersadar.
Linda menaburi shampo pada rambut Agam dengan bibir mengerucut.
"Iya, tepat sekali, saya memang pura-pura, kan mau melihat pemandangan cantik," godanya.
"Sudah hampir selesai," kata Linda. Tanpa menggubris ucapan Agam.
"Harus ikhlas lho mengeramasi calon suami itu, masa cemberut?" gumamnya.
"Awh, awhh, uhh ... El ... ma-mata saya ---." Agam mengaduh, ia bangun. Mata kirinya terkena cairan shampo. Terasa perih dan panas.
"Pak, maaf. Aduh tidak sengaja Pak." Linda panik, malah mundar-mandir tanpa tujuan.
"Tidak apa-apa," Agam berjalan cepat dengan menutup satu matanya menuju dispenser. Berniat untuk mencuci matanya.
"Aku bantu, Pak." Linda meraih cangkir dan mengisinya.
Lagi, Linda merasa bersalah. Tadi pagi ia mencelakai nona Aiza, sekarang mata Agam menjadi korban. Terlinat mata Agam merah. Setelah itu, Agam memilih membersihkan sendiri rambutnya di kamar mandi.
Linda melamun, ia berpikir, Agam menolak dibantu lagi, karena ia tidak becus. Padahal, Agam menolak karena ingin menghindari pesona Linda.
Beberapa saat kemudian Agam keluar dari kamar mandi, rambutnya sudah bersih, hanya saja masih basah.
Priai itu beranjak ke ka kamar untuk mengeringkan rambutnya.
'Wwwrrr.'
Linda mendengar jelas suara hairdryer dari arah kamar.
.
.
.
.
Kini saatnya tiba, dua puluh lima menit telah berlalu. Agam sudah bersiap. Ia tidak memakai kemeja dan dasi lagi. Agam menggunakan casul denim berbahan levis.
Pun dengan Linda. Sepuluh menit yang lalu, Linda meminta pada Agam untuk melihat data proses pengolahan produk HGC yang diiklankan oleh Linda.
Linda juga meminta izin pada Agam untuk berdandan, penampilan Linda saat ini terlihat menggemaskan. Dia mangikat rambutnya tinggi-tinggi, lalu menggunakan hiasan rambut warna-warni.
Agam tidak menyangka jika Linda akan tampil segilrly dan seimut itu. Linda bahkan menghiasi leher indahnya dengan sebuah kalung berwarna hitam. Padahal awalnya Linda hanya berpenampilan sesimpel ini, tapi ya ... tetap saja cantik. Artis gitu lho, ya wajar kalau dia cantik.
Dan sampai saat ini, Linda masih berkutat di depan laptop milik Agam. Ia terlihat memindahkan beberapa file pada flashdisk. Agam memperhatikanya. Jadi tersenyum bibir Agam membayangkan jika Linda adalah sekretaris pribadinya.
Sekretaris tercantik, terseksi, dan tergemas yang pernah aku lihat, gumamnya dalam hati. Saat Linda telah menyelesaikan aktivitasnya.
"Aku sudah siap, Pak. Oiya Pak, bisakah aku menelepon Bagas untuk datang ke sini?"
"Lupakan pria itu," ucap Agam saat tangannya siap membuka pintu, untuk menemui para pendemo.
"Lho, kenapa Pak? Dia manajer pribadi aku. Setidaknya saat aku memberikan kesaksian, ada orang yang mendampingiku selain Pak Agam."
"El, dia jahat. Bagas sudah menjahati kamu, menipu kamu, istrinya juga jahat. Lupakan dia, mana ada teman semacam itu." Wajah Agam terlihat marah, di dalam lift ia bahkan menghentakkan kakinya karena emosi.
"Tapi Pak, yang kurang baik istrinya, Bagas baik."
"Saya tidak peduli, saya sudah menyiapkan pengacara untuk kamu agar uang-uang kamu yang berada pada Bagas bisa segera dikembalikan. Kamu bisa menyita rumahnya, El."
"Apa?! Pak Agam, tidak perlu seperti itu, itu jahat sekali. Aku tidak mau Bagas dan anak istrinya menderita."
"Linda, dengar ya." Agam mendekat. Lalu mengurung Linda hingga wanita itu terhimpit di antara lift dan tubuh Agam.
"Pak? Ja-jangan ...." Linda kaget karena Agam mendekati lehernya. Spontan Linda memejamkan mata.
Agam tersenyum. Linda sendiri yang mengatakan tidak ingin ada kontak fisik. Tapi apa yang dilakukan Linda saat ini seperti memperbolehkannya untuk memagut yang merah delima itu.
"Kamu baik sekali, oke ... saya tidak akan menganggu Bagas, tapi ... akan memberi sedikit pelajaran pada istrinya," bisiknya.
Ternyata Agam hanya ingin berbisik, tidak ada maksud lain.
"A-apa?" Linda bersemu merah.
Dan keduanya akhirnya terkikik. Linda memukul bahu Agam, sementara Agam dengan gerakan cepat mengecup pipi Linda.
"Mmmuach." Sampai terdengar jelas.
"Pak Agam?" Linda kembali memukulnya. Wajahnya semakin merona.
Lalu keduanya pura-pura menjadi pribadi yang berselisih satu sama lain saat lift tiba di lobi dan mereka disambut oleh staf serta beberapa orang dari pihak kepolisian dan petugas keamanan.
"Pak Agam," Fany dan stafnya langsung menguntit, sementara Linda berjalan perlahan dan diapit oleh petugas kepolisian.
.
.
.
.
Demo itu sepertinya telah mendapat surat izin dari petugas yang bersangkutan, hal itu terbukti dari antusiame petugas saat pimpinan pendemo mengadakan orasi. Mereka sibuk memberi intruksi Agar para pendemo bersikap tenang.
"Harap semuanya tenang," kata pemimpin mereka saat Agam dan Linda memasuki podium orasi.
"LB, cantik sekaliii," teriak seseorang dari arah kerumunan pendemo.
"WOY, provokator tuh! Dia pro LB. TANGKAAAP!" teriakan lagi dari arah yang sama.
"Wah, dia nih!" Lalu terjadilah keributan dan keriuhan.
Masa di depan sana terlihat terseok-seok, dan mereka jelas tengah megejar seseorang yang meneriaki LB cantik.
"WOY, TENANG WOY!" teriak ketua pendemo.
"KALAU TIDAK KONDUSIF KAMI AKAN MENGGUNAKAN GAS AIR MATA," ujar petugas kepolisian.
Dan si provokator tidak ditemukan entah kemana.
"Hallo semuanyaaa," sapa seseorang.
Suara serak seksi itu mengagetkan seluruh yang hadir, mengalihkan keributan, memfokuskan pandangan dan memerah padamkan wajah-wajah iri dari para wanita seksi yang ada di bagian depan.
Bahkan Agam sampai berdebar. Langsung traveling dan mengingat lagi pada saat suara itu merintih-rintih merdu di bawah cekalannya.
Gila, dia benar-benar racun dunia. Kamu tidak bisa dibiarkan. Tanpa diketahui sipapun tangan Agam mengepal.
Cemburu luar biasa saat wanitanya menjadi pusat perhatian.
"Binaaal," teriak wanita di bagian depan, memecah keheningan.
"Terima kasih atas perhatiaanya," ucap Linda. Sambil melempar senyum pada wanita yang meneriakinya. Seorang petugas polisi terlihat mengatur volume mikrofon yang digunakan Linda.
Saatnya Linda menampilkan kemampuan intertrainernya. Ia sudah siap dibully dan dipermalukan. Setelah ini, apapun hasilnya Linda akan pasrah.
Linda tampil percaya diri, ia spontan melirik ke kiri di mana Agam berada. Eh, Pak Dirut yang gagah itu, ternyata sedang melirik ke kanan untuk menatapnya. Sejenak merekapun bersitatap, Agam mengulum senyum.
"Kita mulai saja, siapa yang akan memberikan keterangan terlebih dahulu?" tanya pembawa acara, dan ucapan itu mengagetkan yang sedang berpandangan.
"Em, hm ehemm, saya dahulu," kata Agam. Berdeham beberapa kali untuk menenangkan batinnya.
Agam mengalihkan pandangan dari Linda, lalu menatap para pendemo yang rata-rata terdiri dari kaula muda. Agam mengucap salam sambil melemparkan senyum, senyumkan ibadah pikirnya.
"Aaah, Pak Dirut, ganteng sekali sih," celoteh cewek di bagian depan.
"Kokoh banget badannya, aduh, terlihat kuat ya?" bisik seseorang pada temannya.
"Heh, aku baru sadar, Pak Agam ternyata tak kalah tampan dari tuan Deanka."
"Kamu kemana saja sih? Dia memang gagah dan tampan dari dulu tahu." Bisik-bisik.
"Sayang dia tidak suka wanita." Masih berbisik.
"Sssttt, itu fitnah. Dia normal kok. Konon sengaja difintah oleh rival HGC."
Para wanita muda itu berhenti berbisik-bisik saat Agam Ben Buana mulai berbicara.
"Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih atas kedatangan calon istri saya di tempat ini," katanya.
"APA?!"
"HAHH?"
"WHATS?"
Semuanya terkejut.
JEDUG.
Jantung Linda meronta.
❤❤ Bersambung ....