
Pria yang dari arah manapun terlihat tampan itu masih lekat memandangi sang rembulan saat Gama sang adik terus mengusap bahu kokohnya.
Maxim dan Enda sedang beradu asap, Hikam memainkan ponsel, Pak Yudha duduk setia di sisi Agam.
"Kak, aku baru melihat Kakak menangis. Tapi, aku juga sedih sih melihat kakak ipar, aku kira kakak ipar epilepsi," ucap Gama.
"Ssstt."
Pak Yudha menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Berharap Gama bisa diam, tidak menambah beban di hati Agam.
"Okay."
Gama membuat gerakan seolah merisleting bibirnya.
"Pak, Yudha," panggil Agam.
"I-iya, a-ada apa, Pak?"
"Tolong mintakan rokok pada Maxim, saya mau merokok," katanya. Sementara tatapannya masih fokus pada rembulan.
"Kak, jangan. Nanti ibu marah. Ibu kan melarang kita merokok, Kak Agam juga selalu mengingatkanku untuk tidak merokok, bagaimana sih? Konsisten dong, Kak." Gama keheranan.
"Pak Yudha, cepat."
Seolah tidak peduli dengan ucapan Gama, Agam tetap meminta rokok.
"Baik, Pak."
Pak Yudha bergegas. Ia tahu Agam stres berat. So, ia tidak bisa menolak.
.
.
.
"Apa?! Big boss mau merokok? Jangan Pak, kenapa kami menjauh? Karena beliau alergi asap rokok, pernah kami merokok di dekatnya, Pak Agam langsung batuk-batuk, bahkan sampai muntah." Maxim menolak permintaan Pak Yudha.
"Lha, terus bagaimana, dong? Dia stres berat, Max."
"Kasihan big boss kita, hmm ... semoga pacar bos selamat ya, ngeri banget kalau sampai kenapa-napa. Gila, cantik sekali dia, paket lengkap, seksi pula."
"Ya, Max. Kamu dengar suaranya tidak, sih? Ngeri juga, parau-parau gimana gitu ya. Oh, God she so georgeous," decak Enda.
"Cukup!"
'PLAK.'
'PLAK.'
Pak Yudha mendaratkan tamparan kuat di pipi Enda dan Maxim. Mereka meringis.
"Kalian jangan lancang, ya!"
Sambil merebut rokok dan pemantik dari tangan Enda.
"Ma-maaf, Pak. Tolong jangan diadukan pada bos," ratap Enda saat Pak Yudha berlalu.
"Ini rokoknya."
Pak Yudha menyodorkan rokok pada Agam.
Tanpa ragu, Agam mengambilnya, meletakan di bibirnya, lalu Pak Yudha menekan pemantik untuk membantu menyalakan rokok.
Dan benar saja, satu hisapan rokok dengan penyaring itu, sudah cukup membuat Agam terbatuk-batuk.
"Uhhhuk, uhhhuk, uhhhuk."
Agam terus batuk tanpa henti, hingga matanya memerah dan berair. Namun Agam seolah kehilangan kendali, ia tetap memegang rokok itu dan akan menghisapnya lagi, padahal jelas-jelas ia masih batuk.
"Kak Agam! Cukup! Bukan seperti ini caranya menghilangkan stres!" Gama marah.
'PLAK.'
Kali ini Gama hilang kesabaran, ia menampar Agam, lalu merebut rokok itu dan menginjaknya hingga hancur.
Maxim, Enda, dan Pak Yudha, untuk sementara hanya bisa menyimak, begitupun dengan Hikam.
"Hoek ...."
Lalu Agam muntah-muntah, padahal tidak ada yang dimuntahkan.
"Pak ...."
Pak Yudha mendekat dan memijat pundaknya.
Agam terus memuntahkan angin, ia berjongkok sambil memegang perutnya.
"Kak ...."
Gama memeluk punggungnya.
"Kakak ipar pasti baik-baik saja, tolong jangan seperti ini. Kakak harus kuat."
Gama terisak di balik punggung Agam. Baru kali ini ia melihat kakaknya tidak berdaya seperti ini.
"Kamu lemah ternyata, Linda tidak pantas mendapatkan pria lemah," Hikam memperkeruh keadaan.
"APA KATAMU!"
Pak Dirut murka. Ia berdiri, dan ....
Dengan satu putaran badan, Agam menendang perut Hikam tanpa bisa dicegah oleh siapapun, hingga Hikam terjungkal dari bangku taman dengan posisi kepala di kaki, kaki di kepala.
"Hahahah, rasakan! Enak bukan," ledek Enda, dan Maxim pun ikut tergelak.
"Kak, cukup!"
Gama memeluk Agam yang akan kembali menyerang Hikam sambil terus terbatuk-batuk.
Dan saat Hikam hendak membalas perbuatan Agam, Ayah Berli datang bersama Paman Yordan.
"Pa-Paman, bagaimana keadaannya?"
Agam menepis Gama dan segera menghampiri pamannya.
"Uhhuhuk, uhhuk."
"Kamu kenapa?" tanya Paman Yordan.
"Kak Agam tadi memaksa merokok, padahal alergi asap rokok," terang Gama.
Ayah Berli menatap Agam dengan tatapan lekat, seolah kembali memastikan jika pria itu memang layak untuk putrinya.
"Ya ampun, kok kamu nekad sih, Ben? Enda, cepat belikan minuman teh hijau," perintah Paman Yordan.
"Baik," Enda bergegas.
"Mari kita duduk di sana," ajak Paman Yordan sambil menunjuk ke bangku taman yang posisinya melingkar.
"Kata Pak Yudha, kamu ada rapat penting, kan? Cepat pergi Ben, HGC butuh kamu."
"Paman, apa yang Paman pikirkan?! Uhhuk, uhhuk, saya tidak mungkin pergi sebelum melihat kondisinya."
Agam berteriak, bahkan sampai menunjuk-nunjuk Paman Yordan karena kesal.
"Apa? Benarkah?"
Agam menatap tajam pada Ayah Berli, seolah ingin menelisik kebenaran dari ucapan Ayah Berli. Ayah Berli membalas tatapan Agam, dan ia menjadi yang terlebih dahulu berpaling karena mata Agam begitu mendominasi.
"Saya mau melihatnya sebelum rapat. Max, saya mau masker dan kaca mata. Cepat," katanya.
"Ben, duduk dulu. Tolong tarik napas, tenang dan dengarkan dulu penjelasan Paman. Kata dokter, Linda tidak boleh diganggu siapapun, tensi darahnya masih tinggi, Linda harus benar-benar tenang dan cukup istirahat," jelas Paman Yordan.
"Terus, kenapa saya tidak boleh melihatnya, Paman?"
"Tidak Ben, tidak sekarang. Linda sudah tertangani, sekarang kamu fokus dulu menangani masalah kamu karena setelah kamu selesai rapat, kita akan ada acara penting."
"Tidak bisa Paman, saya tidak bisa ke HGC sebelum melihatnya, setidaknya saya harus menanyakan kondisinya pada dokter yang menangani." Agam bersikukuh.
"Ben!" bentak Paman Yordan dengan suara keras.
"APA!"
Suara Agam tidak kalah keras.
"Malam ini, Paman dan Pak Berli sepakat menikahkan kamu dan Linda."
"APA?!" kata Agam dan Hikam serempak.
Enda dan Maxim saling menatap, lalu tersenyum. Pak Yudha dan Gama menyatukan kedua tangan mereka, tos high five.
"Ayah, Ayah tidak serius, kan?"
Hikam langsung memegang tangan Ayah Berli. Ucapan Paman Yordan teramat menyakitinya. Bagaimana mungkin kesempatan untuk mendapatakan wanita berparas bidadari itu hilang dalam sekejap?
Tidak ini tidak boleh terjadi.
"Ayah serius, Hikam," jawab Ayah Berli.
Mata Ayah Berli tidak menatap Hikam, ia sedang menatap Agam yang saat ini tengah memeluk Paman Yordan karena terharu.
"Paman, ini bukan mimpi, kan? Saya akan menikah? Tolong katakan sekali lagi."
Agam masih tidak percaya dengan kenyataan membahagiakan ini.
"Benar, Ben. Paman serius, ayo peluk calon mertua kamu, minta maaf dan berterimakasihlah padanya," bujuk Paman Yordan dengan suara lirih.
Akhirnya, dengan segenap keberanian dan keharuannya, Agam mendekati Ayah Berli. Dengan terbata-bata, ia mengatakan ....
"Ayah, terima kasih. Saya akan menjaga Linda dengan segenap jiwa dan raga saya. Saya juga mohon maaf atas semua kesalahan, dosa, dan kehilafan saya di masa lalu."
pAgam berdiri mematung dan menunduk di hadapan Ayah Berli.
Mendengar suara Agam, Hikam mundur. Penyesalan yang menggunung kini telah mengganggu relung hatinya.
Andai saja ia menolak pergi ke kota, mungkin ... ia tidak akan bertemu paras Linda secara langsung, tidak akan melihat kecantikannya dari dekat, hingga akhirnya cinta lamanya bersemi kembali, dan teramat sangat menginginkan Linda.
Ya, mungkin sama seperti halnya Angga, Hikampun menginginkan kemolekan Linda. Benar, bisa jadi seperti itu.
"Ayah, aku pergi dulu, lanjutkan saja."
Hikam membalikan badan, dan saat berpapasan dengan Agam, ia berbisik ....
"Selamat, kamu beruntung. Tapi ingat, keberuntungan selalu berpasangan dengan kemalangan. Hati-hati."
Entah apa maksud dari ucapan Hikam, Agam tidak peduli. Ia masih masih menunduk, menunggu respon Ayah Berli.
"Hikam, kamu mau ke mana?" Ayah Berli memanggil Hikam.
"Mau ke mini market itu, Yah." Jawab Hikam tanpa menoleh.
"Oh," Ayah Berli membiarkan Hikam pergi, lalu menatap Agam.
"Pak, ini minumannya."
Enda datang membawa minuman teh hijau, segera diteguk Agam untuk menetralisir pengaruh alergi asap rokok sesuai arahan Paman Yordan.
"Kemarilah," kata Ayah Berli.
Dan Agam mendekat dengan gugupnya. Serius, Agam berpikir lebih baik jadi pembicara di forum internasinal, daripada harus berinteraksi dengan calon mertua yang notabene pernah membencinya.
"Ya Ayah."
Kepalanya semakin menunduk saja saat berada di jarak terdekat dengan Ayah Berli, hingga dagunya bersentuhan dengan dada.
Taman rumah sakit, semilir angin malam dan indahnya sang rembulan, menjadi saksi bisu bagaimana seorang Agam benar-benar kikuk dan kaku.
"Aku merestui Anda menikahi putriku, yang penting kalian halal dulu, menikahlah secara agama malam ini juga. Setelah itu, barulah Anda mengurus semuanya."
Ayah Berli berbicara sambil berurai air mata, menepuk bahu Agam, lalu terpekur di kursi taman menatap rumput hijau yang berwarna kekuningan karena terbiaskan cahaya lampu.
"Te-terima kasih, Ayah ...."
Agam bersimpuh santun, ia berlutut lalu meraih tangan Ayah Berli dan menciumnya seraya bertanya ....
"Berapa mahar yang Ayah minta?" ucapnya.
Ayah Berli memegang tangan Agam cukup lama, tangan Agam terasa lembut, namun begitu dingin dan berkeringat. Ayah Berli jadi tahu jika Agam benar-benar gugup.
"Sebenarnya, aku tidak memerlukan banyak mahar, semampu dan seikhlas Anda saja. Tapi, jika saya tidak sebutkan, aku khawatir Anda akan memberikannya secara berlebihan. Jadi, cukup seperangkat alat shalat saja, dan 9,7 gram emas murni," jawab Ayah Berli.
"Ba-baik," kata Agam sambil tersenyum.
Lalu tanpa diduga oleh Agam, Ayah Berli, tiba-tiba memeluk bahunya, dan menangis. Agam jadi bingung, namun ia tidak berani bertanya lagi.
Agam kian bingung saat ia juga melihat Paman Yordan tertunduk lesu sambil mengucek matanya.
Apa Paman juga menangis? Kenapa? Ada apa?
Agam bertanya dalam batinnya, namun sukacita karena akan segera menikahi Linda meleburkan semua gundah-gulananya.
Setelah Ayah Berli melepaskan dekapannya, Agam langsung bersemangat.
"Pak Yudha, antar saya ke HGC sekarang."
"Baik."
Pak Yudha bersiap.
"Gama, mau bantu Kakak?"
"Siap."
Gama memberi hormat.
"Emm, selagi Kakak rapat, kamu bantu carikan maharnya. Bisa?"
"Siap, Kak. Nanti aku minta bantuan seseorang, hehehe. Boleh, kan?" tanya Gama sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Kali ini ada toleransi, boleh," kata Agam.
"Tugas kami apa, bos?" tanya Maxim.
"Kamu temani Gama. Enda, kamu di sini saja, temani Paman dan Ayah."
"Baik, bos."
Enda dan Maxim serempak mengangguk, sambil menatap kepergian Agam bersama Pak Yudha.