AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Hasil Autopsi



Pagi yang cerah, matahari telah menyingsingkan sinarnya, cahayanya menghangatkan, dan angin yang semilir menyejukkan. Udara di kota ini terasa lebih baik jika di pagi hari. Sebab pada pagi hari, volume kendaraan belum banyak.


Berbekal masker pemberian Bagas, Linda akan memulai hidupnya. Dia mengganti pakaiannya di kamar mandi mushola. Semalam, ia tidur di emperan mushola. Di beberapa bagian tangan dan wajahnya tampak ada bintik kemerahan akibat gigitan nyamuk.


Linda tidak memakai kaca mata, hanya masker dan topi yang melindungi kecantikan dan identitasnya, rambutnya digerai. Ia berpikir untuk segera mengamen. Sebab pagi itu, ususnya mulai melilit karena kelaparan.


"Di mana aku mulai mengamen ya?" Di sisi jalan ia kebingungan.


Yang ada dalam jangkauan matanya hanya ruko yang masih tutup, dan rumah warga yang tampak sepi. Lalu ada beberapa gerobak dagangan yang menjajakan makanan khas pagi-pagi. Ada bubur ayam, nasi kuning, bubur kacang hijau, dan lainnya.


Rasa laparnya semakin menjadi saat posisinya kian mendekati gerobak-gerobak itu, pasti nikmat rasanya memakan bubur kacang hijau selagi hangat dengan campuran santan yang terlihat kental dan mengepul.


"Mau beli?" tanya pedagang bubur kacang padanya.


Linda menggeleng, hanya bisa menelan saliva yang tiba-tiba memenuhi rongga mulutnya. Tiga gerobak makanan ia lewati dengan perasaan yang sama. Perasaan ingin menikmatinya.


Bagas, apa kamu sudah masak? Aku lapar.


Jeritnya dalam hati, sambil menatap ke arah rumah Bagas yang berjarak kurang lebih 1,5 kilo meter dari tempatnya berdiri.


Linda bingung, tidak tega rasanya jika tiba-tiba bernyanyi di tempat itu. Akhirnya, ia kembali menyusuri trototoar mengikuti langkah kakinya.


Matanya yang berair itu melirik kiri dan kanan untuk menemukan benda yang nantinya bisa ia gunakan sebagai instrumen atau musik pengiring saat ia bernyanyi. Tidak bisa didefinisikan betapa sakit dan sedihnya perasaan ia saat ini.


Tapi, Linda berusaha tegar. Sebab ia tahu jika dari awal ia memang sudah salah. Salah mengambil keputusan.


Lalu dilihatnya ada sebuah kaleng kecil yang tergeletak, diraihnya perlahan sambil menepikan tasnya.


Lalu diambilnya sebuah ranting pohon berkuran sebesar jemari.


'Tong, tong, tong.'


Linda mengetes bunyinya. Sip, instrumen yang ia butuhkan telah ditemukan. Sekarang, tinggal mencari lokasi yang tepat untuk ia mengais rezeki.


Lalu ada sebuah bus melintas. Ya, ia tahu kalau mengamen bisa dilakukan di dalam bus. Bismillaah, sambil membawa tasnya, ia menaiki bus itu dengan sedikit ketakutan karena ini untuk pertama kalinya.


"Mau kemana?" tanya kernet, menatap penampilan Linda, baru kali ini pikirnya ada penumpang semodis dan secerah itu.


"Ma-mau mengamen, Pak ...? A-apa boleh?" tanyanya. Dengan terbata-bata dan ragu.


"A-apa?"


Sontak kernet terkejut, pun dengan pengemudi dan penumpang. Dia cantik, dengan baju yang jelas terlihat mahal. Yakin mau mengamen? Mungkin mereka berpikir seperti itu.


"Ma-maaf, ka-kalau tidak boleh a-aku turun lagi." Linda membalikan badan, karena merasa tidak enak dengan tatapan mereka.


"Bo-boleh, kok. Boleh. Anak baru ya? Kita baru lihat," kata kernet. Saling melirik dengan pengemudi.


"Di sini bawaan siapa?" Kernet bertanya lagi saat Linda duduk sejenak karena ada kursi yang kosong.


"Bawaan? Maksudnya?" Linda tidak mengerti.


"Bos kamu siapa?" Jangan sampai tidak punya bos. Bisa bahaya lho," terang pengemudi saat mobil bus itu mulai melaju.


"Oh, aku kira bisa langsung saja, Pak."


"Tidak bisa, Nona. Harus ada izin dulu dengan yang punya kawasan di sini."


"Kalau begitu, aku mau turun di sini," kata Linda.


"Tidak perlu Nona, ayo nyanyi saja, selagi belum ada pengamen yang lain, selagi masih pagi," kata kernet.


"Baik, terima kasih Pak." Linda berdiri di depan, ia menggulirkan pandangan pada seluruh penumpang.


"Ma-maaf menganggu perjalanannya, aku butuh uang untuk membeli sarapan, aku sedang hamil muda. Jadi, tidak bisa menahan lapar. Hehehe." Ia berusaha menghibur dirinya.


"Maaf, mungkin banyak yang penasaran kenapa aku mengamen, alasannya karena aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan lain, aku tidak pandai mencuci piring, mencuci baju, apalagi memasak," terangnya.


"Nyanyi, nyayi, nyanyi."


Terdengar seruan dari penumpang di barisan paling belakang. Linda tidak bisa melihatnya dengan jelas karena tidak memakai kaca mata. Namun suara itu berhasil membangkitkan kepercayaan dirinya.


"Mau requst? Aku akan bernyanyi sesuai permintaan. Maaf tidak bisa membuka masker, sedang sedikit flu," dalihnya.


Para penumpang bergumaman, lalu seseorang menyebutkan judul lagu lama. Sebuah lagu asing lawas yang mendunia. Yakin, yang meyahut itu seorang mahasiswa, dari penampilannya sih begitu. Memakai kaca mata, dengan tas rangsel dan laptop di pangkuannya.


"Oke," kata Linda.


"Bantu tepuk tangan bisa?" tambahnya.


Ia tidak menyangka jika lagu perdananya akan seberat itu. Ini sih lagu konser pikirnya. Tapi, bukan multitalenta namanya jika Linda tidak bisa melakukan apa-apa.


Oke, aku pasti bisa. Batin Linda saat mulai memfokuskan konsentrasi untuk bernyanyi. Pada lagu ini, kaleng dan rantingnya tidak digunakan.


Ada sebagian tatapan tegang dan meremehkan. Yakin bisa nyanyi lagu itu? Ya sih, cantik. Tapi ... yakin bisa bernyanyi? Seperti itu kemungkinan batin-batin dari tatapan meremehkan itu.


Lagu itu berjudul My Heart Will Go On dirilis pada tahun 1997 dan menjadi Best Original Song dalam Oscar 1997. Dipopulerkan oleh Celine Dion.


🎶 "Every night in my dreams


I see you. I feel you.


That is how I know you go on."


Uhh, seluruh penumpang termangu, suara Linda begitu halus dan merdu. Fix, yang membawa ponsel langsung membidikan kamera mereka, merekam.


🎶 "Far across the distance


And spaces between us


You have come to show you go on."


Pak supir melambatkan laju kemudi, sang kernet beralih ke kursi penumpang, dan iapun mulai merekam. Lalu tibalah suara lengkingan. Nada tinggi yang menyayatkan hati. Para penumpang seolah menahan napas, begitu menikmati dan menghayati. Oh, siapakah pengamen berbakat ini?


🎶 "Near, far, wherever you are


I believe that the heart does go on


Once more you open the door


And you're here in my heart


And my heart will go on and on."


Mereka terbawa suasana, ditambah pengamen itu terlihat seperti menangis dengan suara sedikit bergetar.


🎶 "Love can touch us one time


And last for a lifetime


And never let go till we're gone."


🎶 "Love was when I loved you


One true time I hold to


In my life we'll always go on."


🎶 "Near, far, wherever you are


I believe that the heart does go on


Once more you open the door


And you're here in my heart


And my heart will go on and on."


Para penumpang berdiri seolah memberi semangat pada Linda. Tepukan tangan berirama lambat mengalun. Layaknya sebuah mini konser, pengamen yang satu ini sangat berbeda. She's so amazing. Suaranya enak didengar, parasnya enak dilihat. Perpecto.


🎶 "You're here, there's nothing I fear,


And I know that my heart will go on


We'll stay forever this way


You are safe in my heart


And my heart will go on and on."


Diakhiri tepuk tangan dan standing applause, mereka puas dan terpesona. Linda membungkukkan badan, dan rizki dari langit kini menghampirinya. Satu persatu penumpang maju ke depan dan memasukan uang lembaran pada tas Linda yang terbuka.


Linda tidak berkeliling seperti pengamen lain. Melihat antusiasme para penumpang, ucapan terima kasih terus terucap dari bibirnya.


"Kamu hebat."


"Kamu berbakat."


"Kamu calon penyanyi besar."


"Saya sudah merekam kamu, mau kita viralkan di medsos."


Kata-kata dari para penumpang itu membuat Linda sedikit bahagia.


"Pak, ini untuk Bapak."


Linda memberikan beberapa lembar uang hasil mengamen pada kernet sebelum akhirnya ia memutuskan turun dari bus itu di sebuah persimpangan jalan.


Kepergian Linda ditatap kagum oleh para penumpang. Pengalaman pertama bagi mereka melihat pengamen sehebat dan sedramatis itu.


Alhamdulillaah.


Bibir indah wanita itu kini tengah mengunyah perlahan menikmati makan pagi menjelang siang di sebuah warung kecil di sisi jalan. Ia duduk paling pojok menghadap rawa-rawa yang berada di bagian belakang warung tersebut.


Rawa-rawa itu dipenuhi oleh tanaman gangang air dan eceng gondok. Menghijau sejauh mata memandang. Linda bahkan baru tahu jika di daerah ini ada rawa seluas itu.


Setelah makan, Linda berniat akan menuju Rumah Sakit Pusat Sektor Angkatan Darat.


***


Agam menghempaskan tubuhnya ke sofa setelah menyelesaikan tugas-tugasnya. Agenda rapat telah selesai. Walaupun hatinya gundah, tapi setidaknya ia lebih tenang saat tahu jika Linda berada bersama Bagas.


Lalu ponsel milik Linda berdering. Terkejut mata sayu itu melihat nama yang tertera.


RSP Sektor Angkatan Darat Calling ....


"Hallo, bisa berbicara dengan nona LB?"


"Ya saya calon suaminya, ada apa?"


"Calon suami? Oh, begini Pak, hasil autopsi korban yang diduga tuan M. Setyadhi, sudah selesai, kami sudah mengirim email ke akun nona LB namun belum ada respon."


"Selesai? Hasilnya bagaimana, Pak?"


"Begini, silahkan Bapak konfirmasi saja pada nona LB untuk mengecek emailnya. Terima kasih."


Panggilan terputus.


Dengan perasaan tidak menentu, Agam membuka email di ponsel itu.


"Hasil pidai organ berdasarkan sampel pada liver dan DNA, korban dinyatakan TIDAK identik 99,9 persen dengan sidik jari pada kartu identitas milik M. Setyadhi."


"Simpulan I: Korban 99,9 persen BUKAN M. Styadhi."


"Untuk sementara, identitas korban belum diketahui, perlu uji sampel ulang dengan mencocokkan DNA korban dan keluarga."


"Simpulah II: M. Setyadhi diduga terlibat dalam kasus kebakaran ini."


"Simpulan III: Penyebab kebakaran masih tahap penyelidikan."


Alhamdulillaah.


Bahagia tiada terkira saat Agam tahu hasilnya. Kemungkinan, paman Linda yang asli masih hidup. Tapi, kemanakah paman Linda yang asli?


Dengan wajah bahagia, Agam bergegas. Ia berniat untuk ke rumah Bagas menit ini juga.


"Pak Yudha, saya mau diantar ke suatu tempat," kata Agam saat telah berada di dalam mobilnya.


"Siap," sahut Pak Yudha seraya memberi hormat. Bahagia hatinya manakala bibir Agam tersenyum lagi.


Agam bahkan bersiul-siul saat mobil itu meninggalkan gedung HGC dan mulai melesat di jalan raya. Agam juga terlihat beberapa kali becermin pada kaca spion yang berada di dalam mobil.


"Sudah tampan, Pak. Tidak ada celah kejelekan setitikpun," puji Pak Yudha.


"Ah, Bapak bisa saja." Tersenyum lagi.


"Mau bertemu nona Linda ya?" Tebakan jitu dari Pak Yudha.


"Kok, tahu?" sahut Agam.


"Di kening Pak Agam tertulis huruf L dan B."


"Apa? Hahaha," Agam tertawa lepas.


"Oiya Pak, selain ayahnya, siapa saja yang bisa menjadi wali nikah?"


"Hahhh?" Pak Yudha jelas kaget, tapi lanjut menjawab sesuai kapasitasnya.


"Yang saya tahu sih ada urutannya. Dimulai dari ayah, kakek, saudara laki-laki seayah seibu atau kandung, saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, paman sekandung, paman seayah, anak laki-laki dari paman sekandung, anak laki-laki dari paman seayah, dan wali hakim."


"Bisakah saya menikahi seorang wanita tanpa izin pada ayahnya? Tapi yang jadi wali nikahnya paman calon istri saya, apa pernikahan itu sah?"


"Apa?!" Pak Yudha semakin kaget.


"Aduh, langsung tanya pada guru spiritual Pak Agam saja, saya tidak punya pengetahuan sampai sana, Pak. Setahu saya, selagi ayahnya masih ada, kenapa walinya harus pamannya? Harus jelas dulu alasannya."


"Kalau alasannya karena sudah tidak tahan bagaimana?"


"Apa?! Ti-tidak tahan a-pa?" Pak Yudha sampai gelagapan.


"Aish, Pak Yudha bagaimana sih? Ya sudah, setelah urusan yang ini selesai, antar saya ke rumah guru spiritual."


"Ba-baik, Pak."


***


"Linda, Linda," teriak Agam. Sama sekali tidak sabaran, sampai lupa mengucap salam.


"P-Pak Agam?"


Bagas lemas melihat Agam. Lutut kokohnya bahkan seperti tidak bertulang.


"Panggilkan LB, saya tidak butuh kamu, saya butuh LB. Panggilkan dia sekarang. Cepaaat!" teriaknya.


"M-maaf, Pak .... El su-sudah pergi. Katanya tuan Yohan mau memberikan tasnya."


"Apa?! Kamu yakin? Bagaimana caranya Yohan memberitahu Linda? Linda tidak memegang ponsel, kan? Yohan menelepon kamu? Atau Yohan tahu rumah kamu?" Agam keheranan.


"A-anu Pak ...." Bagas gugup.


"Katakan Bagas! Kamu tidak mengusirnya, kan?! Saya akan telepon Yohan. Awas kalau kamu berbohong!" Wajah dan telinga Agam sudah memerah.


"Pak Agam." Bagas secepatnya memeluk kaki Agam sebelum Agam berhasil menelepon.


"Apa-apaan kamu?! Jangan gila Bagas! Lepaskan!" Agam menepis Bagas, tapi Bagas bersikeras. Pria itu malah menangis.


Pak Yudha segera turun dari mobil dan menarik bahu Bagas.


"Ada apa Pi?" Istri Bagas muncul.


"PP-Pak Agam?!" Lani lebih gugup dari Bagas.


"Kamu tahu LB?! Di mana dia, hahh? Seharusnya ada di rumah kalian, kan?" Menatap tajam pada Lani.


"D-dia me-memaksa pergi dari rumah ini, Pak. Kami sudah melarangnya, ta-tapi dia memaksa." Wah, ternyata wanita ini pandai berbohong juga.


"Apa benar seperti itu?!" Sekarang mencengkram kerah baju Bagas.


"A-ampuuun, Pak ... ampuuun."


"Ya, Pak ... dia memang pergi dengan alasan tuan Yohan," kata Bagas.


"Ini aneh. Berarti Linda hanya memberi alasan asal. Katakan yang sebenarnya!" Agam tidak tenang, gaya Haidenya keluarlah sudah.


Ia menodongkan senjata, tepat pada pelipis Bagas.


"Katakan yang sebenarnya!" teriaknya.


"Jangaaan," teriak Lani ia memeluk Bagas.


"Huuu ... huuu ... saya ti-tidak mengusir LB, ha-hanya saja saya ti-tidak suka LB menginap di rumah kami, huuu .... Tolong jangan membunuh suami saya, Pak ...." Lani terpaksa jujur.


"Apa?!"


'BRUGH.'


Bagas dan Lani tersungkur ke tanah karena Agam mendorong mereka.


"Kalian tidak tahu diri! Kalian tidak berprikemanusiaan! Bukankah rumah ini juga berasal dari pinjaman Bank atas nama LB?! Dan kalian juga masih berhutang banyak pada dia. Ingat! Saya pastikan malam ini adalah malam terakhir kalian menginap di rumah ini! Segera kemasi barang-barang kalian!"


"A-apa?! Maafkan saya, Pak. Saya bersalah," ratap Lani.


"Kamu juga Bagas. Kamu jahat! Tega sekali kamu! Padahal Lindaku sudah sangat baik menolongmu dan keluargamu. Dia meminjamimu uang tanpa bunga dan kamu bisa membayarnya kapan saja. Tapi di saat Linda membutuhkan bantuan, kamu menghianatinya.


Tubuh Agam gemetar karena marah.


"Saya akan melaporkan kamu telah menipu LB. Beraninya kamu menyakiti wanitaku, calon istri saya."


'DOR.'


Agam menembak pot bunga yang terbuat dari tanah liat. Lalu bergegas pergi dengan wajah merah padam.


Lani pingsan.


Lindaku? Wanitaku? Calon istri saya? Batin Pak Yudha.


"Ma-mau kemana ki-kita, Pak?" tanya Pak Yudha.


"Rumah Sakit Pusat Sektor Angkatan Darat," jawabnya ketus.


❤❤ Bersambung ....