
Gadis tuna netra itu dibawa ke sebuah banguan kosong yang sepertinya telah lama tidak dihuni.
Bangunan tersebut berada di tengah kota, di antara gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
Gadis itu belum sadar, ia dibaringkan di sebuah sofa bekas yang kotor dan lusuh.
"Ck ck ck, benar-benar gadis yang sangat cantik. Apa yakin kita akan menikmatinya berdua saja?" tanya si badan besar.
"Maksud kamu?"
"Bagaimana kalau kita jual saja? Dilelang, tapi kita harus cek dulu dia masih gadis atau tidak," ungkap si tinggi kurus.
"Halah, ini barang bagus, kita beruntung kalau dapat dia," tolak si badan besar.
"Hei, berpikir dong! Kalau kita jual, kita bisa untung lebih besar," si tinggi kurus bersikukuh.
"Ya sudah, cepat periksa kegadisannya, kalau masih gadis kita jual, kalau bekas kita cicipi," pada akhirnya si tubuh besar patuh juga pada si kurus.
"Hahaha."
Para pria biadab itu tertawa bersama.
"Hahaha, aku mau memfoto bagian itu." Si kurus mengambil ponsel dari tasnya.
Tapi ...
'KRAK.'
Tiba-tiba terdengar suara patahan ranting yang terinjak.
"Siapa di sana?!"
Mereka kaget, mengedarkan pandangan.
Lalu ....
'Syuuung.'
'Tak.'
Satu busur panah berukuran kecil mengenai leher si kurus. Menancap sempurna. Si kurus tersungkur. Si badan besar bengong.
'Syuuung.'
'Tak.'
Busur yang sama menancap juga di leher si badan besar saat ia masih ada dalam mode kaget karena kawannya tersungkur.
'GEDEBUGH.'
Suara si badan besar menghantam lantai. Mereka tak sadarkan diri. Sepertinya busur kecil itu mengandung obat bius.
Siapakah yang menyerang jambret-jambret itu?
Tidak ada sosok lain yang muncul di area itu. Kecuali mereka dan gadis itu yang saat ini mulai tersadar. Dia celingak-celinguk, meraba sana-sini dengan raut wajah kebingungan.
Kemudian ....
"Tolooong, tolooong," teriaknya.
Mencoba berdiri dan berjalan tanpa arah tujuan. Hanya ada kegelapan di balik netranya, airmatanya berurai. Ia menangis terisak-isak.
"A-aku di mana? Nenek ... tolong aku ...," lirihnya.
"Ehhem, ehhem. Nona, Anda baik-baik saja, kan?"
Terdengar suara perempuan namun sosoknya belum terlihat.
Gadis itu terkejut. Dalam ketakutan, ia menautkan alisnya. Merasa pernah mendengar suara itu. Tapi, di mana ya?
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Tidak terasa, lima hari berlalu pasca lahirnya sang perwaris generasi ke empat Haiden Group Corporation.
Seluruh media, baik cetak, elektronik, maupun online, bungkam.
Tidak ada yang berani mewartakan tentang sang pewaris. Tuan Bahir sengaja menyembunyikan cucu pertamanya dari publik karena alasan keamanan.
.
.
.
.
"H-26."
Agam mencatatnya seraya menghela napas. Rutinitasnya di HGC kembali menjadi hal yang membosankan. Sudah lima hari lamanya ia memendam rasa rindu nan menggebu.
Di hari ketiga, pernah berencana untuk pulang ke Pulau Jauh, tapi ... cuaca buruk. Tidak ada satupun penerbangan yang diperbolehkan ke sana.
Pada hari kedua, ia dan Gama bertengkar hebat.
Agam marah karena Gama diketahui telah menandatangani surat keputusan BRN dan bersedia menjadi calon anggota yang akan ditrainig dalam batas waktu tertentu.
"Kenapa kamu tanda tangan, hahh?" tanya Agam saat itu.
"Cukup Kak, aku malas berdebat. Aku sudah dewasa dan bisa menentukan pilihan. Keputusan itu murni pilihanku. Dalam hal ini Paman Yordanpun tidak bersalah. Aku bersedia menjadi anggota BRN. Titik," teriak Gama.
"Gama! Kamu tidak tahu bahayanya. Selagi kamu dalam masa percobaan, tolong lakukan banyak pelanggaran, usahakan jangan sampai ke tahap pelantikan. Kakak tidak mau masa depan kamu dikorbankan."
"Kak Agam, dengar ya! Apa yang aku lakukan adalah bentuk dari bela negara, tidak ada yang salah dengan keputusannku. Kalaupun di masa depan waktuku terganggu karena BRN, ya itu sudah menjadi tanggung jawabku. Bukankah kepentingan negara harus lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi atau golongan?" tegas Gama.
"Ya, Kakak tahu. Tapi ... ada peraturan BRN yang sangat memberatkan dan tidak manusiawi. Saat ini kamu mungkin belum tahu, tapi ... percayalah sama Kakak. Kamu akan menyesal dikemudian hari."
"Tidak akan! Aku tidak akan menyesal! Kalau Kakak memanggilku hanya untuk membahas nasalah ini, aku kira sudah cukup! Aku pergi."
"Gama! Tunggu! Apa kamu mau tambahan uang jajan dan bulanan? Berapa maumu?" Agam melobi.
"Hahaha, aku bukan anak kecil lagi, Kak! Aku tidak butuh! Jikapun Kakak tidak memberikannya, aku tidak akan miskin dan kekurangan. BRN sudah memberiku uang jajan dan fasilitas mewah," jelasnya sambil berlalu.
Akhirnya, untuk sementara waktu, Agam memutuskan mengikuti alur yang diinginkan BRN, namun niatnya untuk melaporkan peraturan yang memberatkan itu tidak dapat diurungkan.
.
.
.
.
Setiap pagi dan sebelum tidur tidak pernah absen melakukan vidio call untuk melihat bayi Alf dan tentu saja untuk melihat Linda yang di mata Agam kian hari kian memesona saja.
Secara diam-diam, Agam selalu meminta dokter Rita untuk mengirim foto Linda.
Ada hal yang membuat Agam tersenyum. Kata dokter Rita, saat Agam berencana pulang, Linda mendadak berdandan cantik.
Ini adalah foto yang di ambil pada hari itu. Namun sayangnya, Agam tidak jadi pulang karena cuaca buruk.
Kata dokter Rita, Linda langsung ke kamarnya saat tahu dirinya tidak jadi pulang. Agam bahagia. Artinya, Linda merindukannya.
"Oh, senangnya," gumam Agam sambil berguling-guling di kamarnya. Ternyata kerinduannya pada Linda tidak bertepuk sebelah tangan.
Bibirnya tipisnya kembali tersenyum manakala melihat si buah hati yang kian hari kian besar dan sehat saja. Pada usianya yang baru memasuki 14 hari. Bayi Keivel Agler Alf B. Buana sudah tampak seperti bayi pada umumnya.
Info terbarunya, mulai hari ini sudah diperbolehkan tidur di tempat tidur bayi, bukan di inkubator lagi.
Pipi bayi Alf membuat Agam gemas hingga menggigit bibirnya sendiri.
Memandang foto bayi Alf membuatnya bersemangat untuk berperan sebagai seorang ayah. Saat melihat foto Lindapun demikian, Agam bersemangat.
Semangat menanti masa nifas.
"Hahaha."
Pak Dirut terbahak mentertawakan pikirannya yang melanglang buana sesuai dengan namanya. Entah apa yang dipikirkan pria itu, pundaknya sampai bergerak-gerak karena tertawa.
Berdebar jantungnya saat ingin melakukan panggilan pada Linda.
Sedikit gugup, sebab seharian ini tidak mengabari. Agam sangat sibuk. HGC ada program baru pasca lahirnya sang pewaris generasi keempat.
Pada dering kedua Linda mengangkatnya. Tapi, diam saja.
"Assalamu'alaikuum," ucap Agam.
"Wa'alaikumussalaam," jawab Linda, lirih.
"Be-belum tidur?" tanya Agam, kaku.
"Kalau Keivel? Apa sudah tidur?"
"Tidak tahu," jawab Linda. Terdengar sedikit ketus.
"Kok tidak tahu? Memangnya kapan kamu terakhir melihatnya?"
"Melihat Keivel baru saja," kata Linda.
"Oh, kok bisa tidak tahu Keivel sudah tidur apa belum?" Agam tersenyum. Sengaja menggoda Linda.
"Setelah aku beri ASI, aku langsung ke kamarku," tegas Linda.
"Oh, kenapa Keivel tidak tidur bersama kamu, hmm?" Semakin gemas dengan nada suara Linda.
"Hari ini Keivel perdana tidak pakai inkubator, perlu pemantauan khusus, tidak boleh tidur denganku," jawab Linda.
"Oke, boleh tidak kalau saya memintamu memfoto Keivel? Terus kirimkan ke saya ya. Saya sangat merindukan Keivel," kata Agam. Sengaja tidak mengatakan merindukan Linda. Ingin tahu respon istrinya.
"Baik," Linda patuh.
"Hahaha, maaf sayang, foto Keivelnya tidak jadi, saya mau mengobrol dengan momcanya Keivel."
"Tidak bisa, momcanya Keivel ngantuk, mau tidur," kata Linda.
"Apa? Serius? Tolong katakan padanya saya mau bicara." Dari tiduran, Agam langsung duduk mendengar kalimat Linda.
"Katanya tidak bisa, sudah dulu ya, aku juga ngantuk."
"El, tunggu, kamu marah?" Agam berdebar. Takut Linda benar-benar marah.
"Tidak, aku tidak marah. Untuk apa marah? Tidak ada gunanya," tegas Linda.
"El, a-apa kamu tidak merindukan saya? Maaf sayang, saya tidak bisa pulang kan karena cuaca buruk. Kalau saya memaksa pulang, apa kamu tidak khawatir saya kenapa-napa?"
"Ya aku tahu, sudah ah. Lagipula, Pak Agam tidak merindukan aku," kata Linda. Semakin ketus.
"Emm, bagaimana ya? Setelah ada Keivel, saya lebih merindukan Keivel?" candanya. Menutup mulut menahan tawa.
"A-apa?" Di sana suara Linda terdengar gemetar.
"Sudah ya, a-aku mengantuk."
Serius, Agam mendengar isakan halus. Apa Linda menangis? Apa candaannya keterlaluan?
"Sayang ... kamu tidak menangis, kan?"
"Ti-dak," lirih Linda.
"El," Agam menghela napas sejenak.
"Maaf ya sayang, sebenarnya saya hanya bercanda, saya sangat merindukan kamu. Minggu depan saya usahakan untuk pulang. Minggu ini belum bisa pulang karena saya harus hadir di acara lelang. Hasil lelang ini diperuntukkan bagi anak yatim-piatu, saya harus hadir."
"Ya, Pak. Tidak apa-apa."
"Sabar ya sayang, setelah acara aqiqah, kita tidak akan terpisah oleh jarak lagi. Oiya, untuk acara aqiqah, saya sudah serahkan semuanya pada Aqiqah Organizer terbaik yang ada di Pulau Jauh. Jadi, kamu, ayah dan ibumu hanya perlu duduk manis."
"Jangan kecapekan ya sayang, kamu harus mempersiapkan tubuhmu untuk malam pertama kita," goda Agam.
Tidak ada jawaban.
"El?"
"Hmmh ...," suara Linda terdengar serak, semakin seksi saja.
"Kamu tidur?" tanya Agam.
"I-iyaahh ...."
Serius, suara Linda terdengar seperti m e n d e s a h. Pak Dirut gagal fokus.
"Sayang? Ha-halo ...." Agam mengusap dadanya.
"Kenapaahh?" tanya Linda.
Agam mengerjap. Bertanya dalam hati. Apakah ia yang mesumemble, ataukah Linda yang sengaja menggodanya?
"El, ki-kita vidio call ya sayang, saya ingin melihat kamu, saya ...."
Pak Dirut kalang kabut, cukup mendengar suara seksi Linda, tubuhnya sudah bereaksi.
"Tidak mau ...," jawab Linda.
Waduh!
Agam garuk-garuk kepala.
"S-sa-sayang please ... VC ya," memohon dengan sangat.
"Ini sudah malam, Pak. Aku ngantuk."
"El, ka-kamu tega sayang ...." Keluh Agam.
"Tega? Maksudnya?"
"Sayang ... saya hanya boleh melakukan 'itu' dengan satu cara, yaitu dengan bantuan kamu. Selain itu, hukumnya terlarang. Kamu faham maksud saya?"
Walaupun malu, Agam akhirnya jujur jua.
"A-apa? Emm ... a-aku pi-pikir-pikir dulu ya Pak ...," kata Linda. Di sana, Linda pasti terkejut.
"Sayang ... mata zinanya melihat, telinga zinanya mendengar, lidah zinanya berbicara, tangan zinanya memegang, kaki zinanya melangkah, dan hati zinanya gairah dan bayangan pikiran kotor. Sementara organ intim akan membenarkan atau mendustakan terjadinya zina yang sesungguhnya."
"Emm," Linda ragu.
"Sayang ... kita pasangan halal. Asalkan tanpa menggunakan peran anggota tubuh untuk mencapai 'itu,' tidak terlarang. Saya hanya membayangkan kamu, sayang. Dan sebaliknya, kamu juga boleh membayangkan saya."
"Uhhuk, uhhuk."
Linda terbatuk. Pasti keheranan mengetahui jika suaminya memiliki pemahaman sedetail itu.
"Sayang, ketika melakukanya, kita juga harus memastikan jika suara kita aman dari indera orang lain. Aman dari gangguan anak-anak, aman dari keterlibatan orang tua, aman dari telinga tetangga, dan sebagainya, hehehe. Kunci pintunya ya sayang. Takut dokter Rita masuk," goda Agam.
"Hahh, Pak Agam be-benar-benar mau?" Linda masih belum percaya.
"Tentu saja mau sayang, sa-sangat-sangat mau."
"Pak Agam, mm-maaf, tapi ... jika salah satu diantara kita tidak bisa mencapai 'itu' hanya dengan suara atau membayangkan pasangannya, ba-bagaimana?"
Dengan suara gemetar Linda memberanikan diri untuk bertanya. Percayalah, di Pulau Jauh sana pipi Linda begitu merona.
Awalnya Linda tidak pernah memikirkan hal itu, tapi ... penjelasan dari Agam membuatnya sadar jika dalam urusan ini ada banyak hal yang belum ia ketahui.
"Jika tidak tercapai, maka tidak boleh dipaksakan dengan menggunakan anggota tubuh atau alat apapun. Dan jika dikhawatikan salah satu akan melakukan cara manual, maka kegiatan ini harus dihindari. Setahu saya seperti itu sa-sayang," jelas Agam.
"Emm, a-aku belum terlalu faham," sahut Linda.
"Jadi begini sayang, sesuatu yang halal bisa menjadi terlarang ketika hal itu malah menjerumuskan pelakunya kepada perbuatan yang diharamkan," pungkas Agam.
Karena sudah menggebu, Agam segera melakuan VC. Di sana, Linda gugup.
Angkat, jangan, angkat, jangan.
Linda dilema. Menjadi istri Agam tidak semudah membalikan telapak tangan. Tidak akan ada yang kuat, biarlah Linda saja.
Karena tak kunjung diangkat, Agam menelepon lagi. Dering pertama langsung diterima Linda.
"Kenapa, sayang? Kamu menolak. Jika ya, tidak apa-apa El, saya tidak akan memaksa kamu," kata Agam.
"Mmm, ma-maaf ya Pak, bu-bukannya aku tidak mau, tapi ...."
"Kenapa sayang?"
"Yolla dan Yolli ada di kamar kita, baru saja diantar ke sini oleh ibu. Katanya supaya aku ada yang menemani."
"Apa?!"
Gagal lah sudah, Pak Dirut, menjatuhkan tubuh perlahan di sudut kamarnya.
"Akaaa, Akaaa, punggungku gatal, garuk dong."
Linda tidak berbohong, itu suara adik iparnya. Kalau bukan Yolla, ya Yolli.
"Maaf ya Pak ..."
"Tidak apa-apa sayang, tidak perlu khawatir."
Agam pura-pura tegar. Padahal dalam batinnya tengah berteriak.
Aaargh! Yolla, Yolli, kalian pengganggu.
"Sekali lagi, maaf ya, Pak."
"Tidak masalah, El. Bisa di lain waktu. Selamat istirahat ya sayang, semoga mimpi indah."
Dengan berat hati, Agam harus mengakhiri panggilan.