
'Gluk gluk gluk.'
Suara air yang ditelan Agam bahkan sampai terdengar oleh wanita paruh baya bernama Bu Tati
"Pelan-pelan, Pak." Bu Tati sampai mengingatkan.
Sementara itu dua orang pelayan muda, Yanti dan Reni menatap Agam dengan ternganga. Bagaimana tidak? Ada yang ganteng lagi gagah minum tergesa sampai berantakan, hingga kemeja di bagian dadanyapun basah.
Namun keterngangaan mereka usai, manakala Noza Aiza datang sambil menggandeng Linda, dan di sebelah Nona Aiza ada Tuan Deanka.
"Kak Yanti, Kak Reni, perkenalkan ini Kak Linda, mulai hari ini Kak Linda atau Kak LB adalah Kakak perempuanku, jika ada yang berani menyakiti Kak Linda, siapapun itu, termasuk kucing ataupun rumput-rumput liar, maka akan berhadapan denganku," terangnya sambil mendudukan Linda di sebuah kursi.
Linda terkejut, Nona Aiza seperti tahu jika kedua pelayan ini kemarin bersikap aneh kepadanya. Tapi, dari mana dia tahu? Bukankah kemarin ia tidak bertemu dengan Nona Aiza?
Seperti sadar akan kesalahannya, Reni dan Yanti menunduk. Memainkan ujung baju, dengan tangan yang gemetar.
"Mari semuanya sarapan bersama," ajak Nona itu lagi saat Agam sedang sibuk melap kemejanya, dan Linda menatap pada Agam penuh tanda tanya.
"Ka-kami sudah sarapan, Nona." Kata Yanti dan Reni serempak.
"Ibu juga sudah," kata Bu Tati.
Mereka bertiga kemudian menunduk dan berpamitan meninggalkan area meja makan yang megah itu.
"Kak Linda, ayo dicicipi. Ini, ini, ini, dan yang itu aku yang masak lho," selorohnya.
"Pak Dirut pimpin doa," kata tuan Deanka.
"Ba-baik Tuan," Agam gugup.
Posisi duduk menghadap Linda mengingatkannya pada kata-kata yang tadi. Yang diucapkan Nona Aiza.
"Kenapa bajumu? Ganti, nanti pakai bajuku saja," kata Tuan Deanka saat Agam telah usai memimpin doa sebelum makan.
"Tadi-- tadi tidak sengaja kebasahan." Tangan Agam yang hendak mengambil nasi terlihat gemetar.
"Hei Pak Dirut come on, ada apa dengan tanganmu?" Tuan Denka terus menyelidik.
"Kak Dean, biarkan Pak Agam, mau tangannya gemetar ataupun mau koprol tidak masalah, yang penting tidak mengganggu aktivitas sarapan ini," kata Nona Aiza.
Linda mengulum senyum, benar ternyata Nona Aiza itu baik dan lucu.
"Baby, aku hanya aneh saja dengan dia, jangan katakan kamu masih ingat pole dance itu, Gam."
"A-apa, uhhuk, uhhuk," Agam yang sedang mengunyah batuk dan tersedak.
"Wah, hahaha, sudah aku duga, Gam. Kamu mesum. Otakmu kotor." Sambil menerima suapan dari Nona Aiza, Tuan Denka terus meledek Agam.
Dan Lindapun jadi kikuk. Ia makan sambil menunduk. Menunduk sedikit lagi, wajah Linda mungkin akan terbenam pada kuah yang ada di piringnya.
"Kak Dean, cukup." Yang sedang menyuapi sedikit marah.
"Jangan cuci tangan ya Kak, yang mesum itu bukan Pak Agam, tapi Kak Dean, huhh," tuduhnya. Sambil meraih cepat buah anggur yang ada di hadapannya.
"Hahaha, tapi kamu suka kan, baby. Katamu jika tidak bercinta sebelum tidur kamu jadi insomnia, ya kan?"
"Kak Dean, ya ampun. Sebal, sebal. Kak, tidak boleh cerita masalah seperti ini pada siapapun, tahu tidak sih?"
Agam dan Linda kini bersitatap, mereka spontan tersenyum merasa lucu dengan pasangan ini. Lalu kembali melanjutkan suapan berikutnya. Rasanya pas, Nona Aiza memang pandai memasak.
"Aku juga mau anggur," kata Tuan Deanka.
"Nih," Nona Aiza mengambil satu tangkai dan memberikannya.
"No, bukan yang itu. Aku maunya yang ada di mulut kamu, Za."
"Hahh, apa?" Mata Nona Aiza membulat.
Agam dan Linda langsung meraih air minum secara bersamaan. Bersamaan dengan adegan Tuan Deanka menarik tengkuk Nona Aiza, dan saat ini, ia tengah berusaha mengambil anggur dari Nona Aiza.
"Emm ... mmm ... hmm ...."
Suara Nona Aiza dan kecapan erotis Tuan Muda jelas menusuk telinga Agam dan Linda.
Yakin akan tetap terdengar walaupun Agam dan Linda menutup telinga. Namun mereka juga tidak bisa menghindar sebab makanannya belum habis. Tidak mungkin juga meninggalkan menu senikmat ini.
Akhinya Linda dan Agam hanya bisa pasrah dan menahan napas, menikmati makanan sambil pura-pura tidak mendengar dan tidak melihat.
'Ting ting ting.'
Pertautan itu berakhir saat Nona Aiza memukul piring dengan sendok. Menyisakan napas Nona Muda yang megap-megap dan Tuan Muda yang berdecak.
"Ahh, nikmat sekali," katanya. Sambil mengecup tangan Nona Aiza.
"Huft ...." Agam dan Linda bernapas lega.
"Kak Dean jahat, kenapa selalu begini? Tidak tahu tempat," rajuknya.
"Hahaha, maaf Za ... aku sengaja sih. Supaya Pak Dirut terinspirasi dan cepat menikah."
Ya tapi tidak di meja maka juga kali. Batin Agam dan Linda.
"Kak Dean itu kebiasaan. Maaf ya Kak Linda, Pak Agam, maafkan kesilapan kami," kata Nona Aiza.
"Tidak apa-apa Nona," ucap Linda dan Agam serempak.
"Oiya Kak Linda, Pak Agam, kenapa semalam tidak jadi menginap?"
"Emm ---." Linda tidak bisa menjawab.
"Karena tidak jadi saja Nona. Kami jadi tidak menginap," kata Agam. Ia hampir menghabiskan makannya. Tinggal tiga suapan kira-kira.
"Alasan macam apa itu? Tidak masuk akal," sela Tuan Deanka.
"Malam kamarin, apa Kak Linda dan Pak Agam sempat naik ke lantai tiga?"
"Sempat," jawab Linda.
"Tidak," jawab Agam.
Mereka menjawab secara bersamaan.
"A-apa?" Wajah Nona Aiza bersemu merah, sekelebat Nona itu melihat Agam mengedipkan mata pada Linda.
"Maksudku tidak sempat, Nona," ralat Linda.
"Hahaha, sempat juga tidak apa-apa," sela Deanka.
"Kak Dean!" bentaknya.
"Kalian tidak mendengar itu kan?" tanya si Tuan Muda.
"Uhuuuk." Linda dan Agam tersedak bersamaan.
Ahirnya merekapun tergelak, saat Agam berkata jujur sudah sempat naik ke lantai tiga dan mendengar semuanya.
"Tuh, kan Kak Dean, aku kata juga apa?!" Nona Aiza marah. Ia mencuci piring dengan bibir mengerucut.
"Hahahah, ya aku juga minta maaf ya Pak Dirut, awalnya aku dan Aiza hanya main pijat-pijatan sambil menungu kamu, eh kebablasan jadi pijat tambah-tambah," terangnya.
Mereka sudah selesai makan. Linda kaget karena Nona Aiza merapikan meja dan mencuci piring. Iapun inisiatif beranjak untuk membantu.
"Ada yang bisa aku kerjakan, Nona?" Ia mendekati Aiza dengan ragu.
Mau apa dia? Mau cuci piring? Memangnya bisa? Agam menatap khawatir.
"Tidak perlu Kak, Kak Linda duduk saja."
"Biar aku bantu Nona," Linda mengambil sarung tangan cuci piring yang lain dan memakainya.
"Tidak perlu," kata Nona Aiza.
Tapi Linda memaksa karena merasa tidak enak. Linda yang tidak bisa mencuci piring tidak tahu jika sarung tangan itu bekas pakai yang masih licin karena sabun.
'PRAK.'
Piring yang diambil Linda jatuh pecah ke lantai. Seiring dengan teriakan Nona Aiza yang terkejut dan kesakitan karena pecahan piring itu mengenai telapak kakinya.
"Aaaah," pekiknya.
"Aiza!"
"Nona!"
Tuan Deanka dan Agam berlari mendekat. Kaget mereka melihat kaki Nona Aiza berdarah. Pun dengan Linda sebagai orang yang merasa bersalah.
"Nona ... maafkan aku."
Linda langsung bersimpuh di lantai, menunduk dan gemetar. Apalagi saat bersitatap dengan mata hazel itu. Tuan Deanka tidak mengatakan apapun, namun tatapannya pada Linda seperti tatapan pembunuh dengan rahang mengeras.
"Tuan Muda, saya minta maaf."
Agam mengejar Tuan Deanka yang berlari membopong Nona Aiza entah ke ruangan mana. Ia bahkan tidak sempat melihat Linda yang menatap punggungnya sambil menangis.
"Huuu, sakiiiit, Kak." Terdengar sayup-sayup rintihan Nona Aiza.
"Juaan kita ke rumah sakit, sekaraaang!" Terdengar juga teriakan tuan Deanka.
"Perlu saya antar? Terdengar suara kepanikan orang yang ia cintai.
"Tidak perlu, Gam. Kamu urus saja artis itu dan selesaikan masalahmu! Tapi ingat kalau terjadi apa-apa dengan Aiza, aku akan menuntut dia, tidak peduli kalaupun dia kekasihmu!"
Suara itu hilang dari pendengarannya seiring dengan derap langkah kaki yang mendekat ke arahnya.
Para pelayan itu.
Mereka langsung membersihkan serpihan piring tanpa mengatakan apapun kecuali tatapan sinis pada wanita cantik yang masih bersimpuh itu.
"Maaf, aku tidak tahu kalau sarung tangannya licin," lirihnya.
"El, maaf ...." Agam mengulurkan tangannya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" Agam menarik Linda. Terkejut mata pria itu. Ternyata lutut Lindapun terkena serpihan dan terluka.
"Aku tidak apa-apa," katanya.
"Jangan marah, jangan sedih, nona pasti baik-baik saja." Agam memaksa membopong Linda.
Setelah meletakan Linda di kursi, Agam meminta kotak P3K pada pelayan.
Linda tekejut saat Agam terlebih dahulu menjilat luka di lututnya sebelum melakukan desinfeksi.
"Ssshh, Pak Agam? Jorok, ih." Mau menolak tapi Agam menahan kakinya. Linda terpaksa pasrah.
"Saya mengikuti cara ibu saya. Ibu suka menjilat luka saya kalau saya jatuh," terangnya. Lalu membalut luka parut di lutut Linda dengan hati-hati.
"Parutnya kecil kok, nanti juga mulus lagi," kata Agam.
"Kenapa semua laki-laki suka yang mulus sih?" keluh Linda.
Agam hanya tersenyum-senyum mendengar ucapan Linda.
Ya, tidak munafik, ia juga suka dengan yang mulus. Dan Agam tahu jika wanita di hadapannya sangat mulus dan terawat, dengan hyperpigmentasi kulit berwarna merah muda di beberapa bagian tubuhnya.
Seketika pipi Agam merona sambil menatap Linda. Entah apa yang dipikirkan pria itu, hanya Buana yang tahu.
"Kenapa?" tanya Linda.
"Em, ti-tidak, tidak apa-apa," jawabnya.
Setelah itu, Agam kemudian membawa Linda ke sebuah ruangan berisi pakaian pria. Berupa etalase panjang yang di dalamnya berisi setelan dan tuxedo. Ada banyak sekali baju pria di ruagan ini, lebih tepatnya seperti etalase toko.
"Pak, aku khawatir dengan nona. Aku memang jarang mencuci dan melakukan pekerjaan rumah. Pulang sekolah, setelas les aku biasanya jaga kedai buah. Dan saat diterima di TV KITA, aku makan di luar. Baju-bajuku di loundry, aku hanya mencuci dalaman saja," terangnya.
"Tidak apa-apa, saya tidak masalah kamu tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah," kata Agam saat ia sudah berhasil menemukan baju yang cocok.
"Bapak sudah biasa meminjam baju tuan Deanka?"
"Hahaha, bukan biasa-biasa lagi, dia bahkan pernah memakai dalaman saya, kami bersahabat."
"Aku harus minta maaf pada nona, aku menyesal."
"Tenang saja, saya yang bertanggung jawab. Kamu tidak sengaja. Itu kecelakaan."
Agam telah usai dengan setelannya. Terlihat gagah dan tampan sudah pasti. Ya, Agam memang cocok memakai baju warna apapun.
"Sekarang kita ke HGC," ajaknya.
"Pak, dasinya, aku bantu betulkan." Linda berjinjit. Agam memalingkan wajah. Berlama menatap Linda, jujur ia tidak tahan.
"Terima kasih," ucap Agam.
"Sama-sama."
***
"Pak, kita harus mengatur strategi sebelum menemui pendemo."
Agam dan Linda tengah dalam perjalanan menuju HGC.
"Ya, terserah kamu, saya mau lihat sehebat apa seorang Linda."
"Kita coba dulu Pak, aku juga kurang yakin sih, hanya saja aku tidak terima kalau mereka sampai memboikot produk HGC. Kenapa tidak aku saja yang diboikot?"
"Hmm." Gumam Agam.
"Saat tiba di HCG, seperti kata tuan Deanka, Anda harus berakting marah dan kecewa. Katakan saja, kalau aku sudah menipu HGC dan melanggar kontrak."
"Hmm."
"Pokoknya Bapak harus berakting seolah kecewa. Selebihnya biar aku yang berbicara pada para pendemo itu. Oke?"
"Hmm."
"Ihhh, Pak Agam katakan iya dong, apa tidak bisa?"
"Ya, El." Kata Agam.
"Begitu dong, terlihat lebih tampan kalau Bapak ramah."
"Tampan?" Baru kali ini ia mendengar Linda memujinya. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Oiya Pak, ada info apa? Katakan sekarang."
"Anak buah saya menemukan pasien yang wajahnya mirip dengan paman kamu."
"Apa? Benarkah?! Di mana Pak?"
"Ada di sebuah rumah sakit, masih satu kepulauan dengan kota ini, namun berada di luar kota."
"Pak, setelah masalah HGC selesai ayo ke sana aku mau lihat."
"Tapikan kita mau ke Pulau Jauh, El."
"Pak, kita harus memastikan dia pamanku atau bukan. Kalau pasien itu benar paman, ada baiknya kita bawa pulang. Bagaimana kondisinya, Pak?"
"Kata anak buah saya, kemungkinan dia korban tabrak lari, sekarang ada di ruang ICU sebuah rumah sakit milik pemerintah daerah. Kondisinya dalam keadaan koma. Untuk administrasinya sejauh ini termasuk kategori pasien terlantar," jelas Agam panjang lebar.
"Ya ampun, semoga bukan pamanku," lirihnya.
***
Di halaman utama gedung HGC tampak ramai, ada sekitar 300 san pendemo yang memadati area dengan membawa baliho dan spanduk pencekalan berisi pesan untu HGC dan artis LB.
Ambulance dan barakuda bahkan sudah berbaris rapi. Petugas keamanan dan kepolisian tampak berjaga di beberapa sudut.
Di bagian depan barisan pendemo, tampak sekelompok wanita-wanita modis dan cantik.
"Boikot LB."
"Boikot HGC."
"Boikot LB."
"Boikot HGC."
Terdengar teriakan dari para pendemo. Sementara itu, spanduk umpatan berkibar-kibar.
"LB Artis Murahan."
"LB Binal."
"LB Penipu."
"LB Pemabuk."
"Boikot Produk HGC yang bintangi LB."
Lalu ada yel-yel menyudutkan dari barisan paling depan. Mereka menari sambil meneriaki yel-yel itu.
"L, untuk LOL, B, untuk Binal. LB!"
"L, untuk LOL, B, untuk Binal. LB!"
"L, untuk LOL, B, untuk Binal. LB!"
Sebegitu bencikah mereka pada Linda Berliana?
.
.
.
Agam mematung di area parkiran. Petugas sedang mengatur masa agar Agam dan Linda bisa memasuki area masa yang tengah berorasi.
Demo ini seperti sengaja digerakkan dengan misi untuk menjatuhkan HGC melalui LB. Jelas sekali menggaungkan produk baru HGC yang digadangkan oleh Agam untuk diboikot.
Kini petugas dibagi menjadi dua kubu, untuk mendampingi Linda dan mendampingi Agam.
"Itu LB!" teriak seseorang dari barisan pendemo.
"Berani sekali dia mendatangi kita, tebal sekali wajahnya!"
"Dia merasa paling cantik!"
Umpatan demi umpatan terus terlontar. Linda menahan seluruh penghinaan itu di lubuk hatinya. Hari ini, ia berjanji tidak akan menangis. Setelah ini usai, Linda berharap ia tidak harus menyembunyikan kehamilannya lagi.
Nanun saat Linda melintas, sebuah telur busuk tiba-tiba terbang ke arahnya. Tidak, tidak hanya sebuah. Itu banyak. Linda mematung, ia siap jikapun telur busuk itu menghujani tubuhnya.
'Prak, prak, prak.'
Telur busuk itu pecah, dan berbau pastinya. Namun apa yang terjadi? Linda tidak merasakan bau telur itu, yang ia rasakan adalah sebuah dakapan hangat dada seseorang yang mewangi.
Dia yang mendekap Linda melindungi tubuhnya dari telur-telur busuk itu. Para pelaku kaget. Mereka terkejut saat sadar jika telur-telur busuk itu mendarat di punggung dan rambut seseorang, bukan LB.
Linda tak kuasa untuk tidak menangis, ia melihat jika rambut indah milik pria ini dipenuhi telur busuk.
Sesuci apakah mereka? Mengapa tega sekali menghakiminya dengan cara sekeji ini.
"Huuu ...." Linda menangis di dalam dekapannya.
"Saya tidak bisa melihat kamu dihinakan, walaupun hanya sekedar berakting, saya tidak sanggup untuk tidak peduli dengan kamu, El. Pada kenyataannya, memang saya yang layak dilempari telur busuk, bukan kamu."
❤❤ Bersambung ....