
"B r e n g s e k !" umpat Agam.
Di parkiran rumah sakit, di dalam mobilnya tubuh Agam gemetar karena teramat 'MARAH.'
Ada pesan dari Angga yang berisi foto-foto syur tubuh Angga. Isi pesannya begitu menyakitkan dan mendidihkan otak Agam.
"Ayo bandingkan sayang, kamu pasti lebih suka milikku, daripada milik dia, kan? Aku perjaka, sedangkan dia? Kamu tidak tahu seberapa banyak pria atau wanita yang pernah tidur dengan dia."
"Oke, dia bisa menyangkal terhadap vidio yang kemarin, tapi untuk vidio yang dia sembunyikan, apa kamu tahu? Agam Ben Buana itu tidak sebaik yang kamu pikirkan, Linda. Dia penjahat k e l a m i n. Dia antek Haiden, semua keluarga Haiden rata-rata gila ****. Dia dan keluarga Haiden tidak akan beda jauh."
Angga juga mengirim beberapa link berita lama yang berisi tentang fitnah-fitnah keji hubungannya dengan tuan Deanka.
"Waktumu hanya sampai malam ini sayang. Jika malam ini kamu tidak datang, maka besok aku akan bertindak. Lihatlah dengan suka cita bagaimana Dirut HCG yang sok tampan dan sombong itu akan merasakan kehancurannya."
Agam lalu membuka pesan lainnya dengan wajah merah padam.
Kenapa Agam bisa membuka ponsel Linda? nyai juga tidak tahu. Mungkin ada trik khusus atau cara rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun kecuali anggota BRN.
Agam membaca pesan dari Angga sebelum Linda mengalami kejang atau eklampsia.
"Lihatlah, betapa bejadnya pria yang kamu dambakan."
"Aku tahu kamu meninggalkan aku pasti karena lebih memilih hidup bergelimang harta dengan pria itu. Jangan kamu kira aku tidak tahu."
"Aku bukan orang bodoh yang bisa dibohongi. Oke, publik tahunya kamu diperkosa oleh seseorang yang kamu akui sebagai orang baik. Tapi, sekali lagi aku tidak bisa dibohongi."
"Aku kecewa padamu, Linda. Aku masih terima kamu memutuskan aku secara sepihak, tapi aku tidak terima kamu menjadi j a l a n g untuk pemuas k e l a m i n Dirut HGC."
"Berarti istriku bisa separah itu salah satunya karena pesan dari kamu k e p a r a t. Aku harus membunuhmu Angga," geramnya dengan gigi gemeretak.
"Untuk apa kamu terlahir cantik kalau tidak bermoral? Kamu hamil karena sengaja jual diri, kan? Kamu dan Agam Ben Buana kumpul kebo, kan? Aku sebenarnya tidak tahan untuk segera membongkar skandal kamu dan Dirut HGC ke publik dan media."
"Tapi, aku tidak tega, aku tidak mau kamu bersedih, atau kandunganmu terganggu. Kenapa aku masih tutup mulut? Karena aku masih mencintai kamu, Linda."
"Linda, aku akan merahasiakan skandal kumpul kebomu dengan Agam Ben Buana, tapi ... aku memiliki syarat."
"Aku menginginkan tubuh kamu, Linda. Ya, silahkan kamu hujat aku karena mengatakan hal gila ini. Tapi serius Linda. Aku juga ingin menikmati bagaimana rasanya tubuh kamu."
"Aku tidak peduli kalaupun kamu bekas dia. Kamu harus tahu, aku tidak pernah melakukan itu. Dan aku hanya ingin melakukannya dengan kamu."
"Mari betemu besok, di hotel X-Sotic, kita habiskan malam bersama ya sayang .... Aku merindukan kamu. Aku akan melepas keperjakaanku hanya untuk kamu. Aku tidak bisa melupakan kamu, sampai kapanpun kamu adalah kekasihku."
"Jika kamu tidak mengikuti keinginanku, pilihannya ada dua, aku akan membongkar skandal kamu dan Agam Ben Buana ke publik, atau ... aku mati saja."
.
.
.
.
Hanya foto ini saja yang sopan, selebihnya ... vulgar.
Agam akan menjadikan foto-foto itu sebagai barang bukti jika Angga telah dengan sengaja menyebarluaskan konten p o r n o g r a f i. Selain itu, Angga juga telah melakukan pelecehan verbal pada Linda.
Siapa yang tidak akan marah jika istrinya diperlakukan seperti itu?
Ditambah, Angga juga sudah memfitnahnya dengan menyebarkan berita palsu tentang dirinya.
"Yang akan hancur itu kamu Rangga Raya Permana, bukan aku," gumam Agam sambil melesatkan mobilnya membelah arus malam menuju firma hukum.
Ya, ia harus berkonsultasi dengan Vano untuk masalah ini. Agam akan melakukan langkah preventif untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan kalah dari Angga.
Maksud kalah di sini adalah ....
Jika Angga mengungkap ke publik ia dan Linda kumpul kebo hingga hamil, maka pihak yang dirugikan dan tersudutkan adalah Linda.
Kenapa?
Karena sebelumnya Linda telah memberikan penyataan pada publik jika ia diperkosa karena menghina dan memfitnah seseorang. Keterangan kontras ini tentu saja akan membingungkan publik.
Dan pada akhirnya, opini publik pasti akan terbentuk dengan sendirinya jika Linda hanya berdalih dan beralibi dengan cara membohongi publik dari prilaku kumpul kebonya.
Agam tidak ingin itu terjadi, ia tidak ingin asumsi publik membuat istrinya kembali tertekan, dan stres hingga membahayakan keselamatan Linda dan calon putranya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu tesakiti lagi, El. Kamu harus bahagia, begitupun dengan aku. Aku juga ingin bahagia."
Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Agam untuk keluar dari situasi sulit ini?
Agam teringat pada nasihat pamam Yordan, dan berniat untuk segera mengikuti saran pamannya tersebut.
"Begini, saran Paman, kamu mundur saja dari BRN. Paman khawatir skandal kamu dengan Linda terendus elit BRN. Bahaya, Ben. Anggota BRN kan dilarang melakukan kejahatan, harus steril dari seluruh tidak pidana."
" ... tapi BRN sangat kejam. Masa anggota yang melakukan tindak pidana harus dilenyapkan? Sedangkan anggota BRN kan manusia, bukan para malaikat. Namanya manusia, suatu ketika pasti melakukan kesalahan. Sama halnya seperti kasus yang menimpa kamu."
Jadi, untuk terlepas dari konflik ini, salah satu usaha Agam adalah harus segera mengambil surat resmi pengunduran dirinya dari pengacara Vano. Surat itu harus diserahkan kepada kepala elit BRN sebelum Angga menjalankan misinya.
"Malam ini, aku harus benar-benar pergi dari BRN. Sebenarnya, aku berat melepas keanggotaan ini, tapi ... aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri," gumamnya dengan mata yang mulai menerawang.
Terkenang kembali bagaimana sulit dan melelahkannya saat ia melewati masa seleksi sebagai anggota BRN. Banyak calon anggota yang gugur karena tiba-tiba menjadi gila, sakit, dan mengundurkan diri dengan sendirinya karena merasa tidak sanggup.
Ada juga anggota yang menggugugurkan diri di tahap terakhir setelah mereka mendengarkan kalimat pengukuhan dari sang komandan tertinggi.
"Seluruh anggota BRN harus berpedoman pada kitab kepercayaan masing-masing, dasar negara, dan lima pedoman ajaran dakwah yaitu Moh Limo."
"Pertama, Moh Main yang berarti tidak bermain judi, seperti bermain kartu atau bermain apapun yang mempertaruhkan uang. Kedua, Moh Ngombe, berarti tidak meminum minuman yang memabukkan seperti arak dan khamr."
"Ketiga, Moh Maling, berarti tidak mencuri barang orang lain yang bukan menjadi haknya. Keempat, Moh Madat, berarti tidak menggunakan barang yang menyebabkan candu, seperti g a n j a, n a r k o b a, napza, dan lain-lain."
"Yang terakhir *Moh Mado**n*. Artinya, tidak bermain wanita, dalam artian tidak melakukan zina atau percumbuan terhadap lawan jenis yang bukan istrinya, apalagi sampai memperkosa. Fahaaam?"
"Siap!"
Teriakan 'Siap' dari seluruh anggota BRN, seolah kembali memekik telinga Agam.
"Maga, tolong kamu katakan hukuman bagi anggta BRN yang melanggar salah satu dari *Moh Lim**o*."
"Dipecat secara tidak hormat, atau dilenyapkan," teriak Maga pada saat itu.
Dan ternyata, Maga malah melanggarnya. Dengan sadar dan tanpa pengaruh obat apapun ia mengambil paksa kehormatan seorang wanita. Hanya karena merasa sakit, dan ....
Dan aku melakukannya karena nafsu. Aku tidak bisa menahan diri melihat keindahan kamu.
Seketika penyesalan itu kembali menghujam. Agam larut dalam lamunan sepanjang jalan. Untung saja hari sudah malam, dan jalanan sepi.
Harapannya, saat Angga memiliki kesempatan membeberkan skandalnya dengan Linda, Agam bisa membela diri dan membela Linda. Bisa berbicara lantang untuk mengakui kesalahnnya, dan ia tidak akan ditekan oleh elit BRN apalagi sampai dilenyapkan.
...*...
...*...
...*...
...*...
Pengacara Vano Rendra Resmara terlihat gelisah, ia baru saja membatalkan pertemuannya dengan Ani, kekasih gelapnya.
Terlibat sebagai salah satu pengacara anggota BRN tentu saja bukan hal yang mudah. Malam ini, ia sengaja menginap di firma untuk menyelesaikan tugasnya.
Di firma ini, selain tuan Deanka, hanya Vano seorang yang mengetahui indentitas Agam sebagai Maga.
Wajah Vano mulai menegang saat orang yang ditakuti, disegani, sekaligus dihormatinya benar-benar berada di depan matanya. Agam baru saja tiba di firma dengan wajah yang dingin. Sedingin antartika.
Vano mengatur napasnya. Ia sebenarnya sudah mempersiapkan materi sedari tadi. Namun tetap saja, aura, karisma, dan wibawa seorang Agam Ben Buana tidak terbantahkan.
"Sudah kamu siapkan?" tanya Agam to the point.
"Sudah, Pak. Silahkan dicek dulu. Jika ada yang salah, bisa langsung diperbaiki," jawab Vano.
Agam mengambilnya, ia mengecek sambil mengerutkan dahi. Vano mengambil air mineral untuk Agam dan juga untuknya.
"Saya rasa sudah benar, saya percaya sama kamu, Vano. Lagipula saya tidak bisa berpikir jernih. Dari markas BRN, saya berniat untuk membunuh seseorang," tegas Agam seraya meneguk air mineral dengan urat tangan yang menyembul.
"A-apa? Apa saya salah dengar?"
Mata Vano membeliak, ia menelan air mineral miliknya dengan susah payah.
"Kamu tidak salah dengar," kata Agam sambil melempar ponsel milik Linda ke hadapan Vano.
Sigap, Vano menangkapnya.
"Cek semuanya, rekam, perbanyak, dan siapkan draft laporannya."
Vano masih bingung.
"Mantannya LB berulah," lanjut Agam.
Barulah Vano mengerti, Vano mengeceknya dengan seksama.
"Dia yang akan saya bunuh, membunuh untuk menjaga kehormatan itu boleh, bukan?"
"Pak Agam, tolong tenang, banyak pendapat untuk masalah itu. Tapi, tolong jangan mengambil risiko dan membahayakan diri Anda."
Vano mencoba menenangkan, Vanopun lalu bersiap untuk mendampingi Agam. Ia merasa tidak bisa membiarkan Agam pergi ke markas BRN tanpa pendampingan.
"Saya akan ikut, Pak."
"Jangan, berbahaya. Kamu pulang saja. Saya bisa sendiri," tolaknya sambil bersiap.
"Baik, saya akan menguntit dari jauh, Pak."
"Tidak, Vano. Ini terlalu berbahaya. Kamu bukan anggota BRN. Jangan melibatkan diri, ini masalah saya."
"Tapi, Pak."
Vano menyusul saat Agam bergegas.
"Vano, ikuti perintah saya, atau saya akan membuat surat rekomendasi agar kamu dipecat," bentaknya.
"Ba-baik, Pak. Saya akan tetap di firma," ujar Vano.
Ia menatap kepergian Agam dengan perasaan bingung dan khawatir. Ya, yang boleh masuk ke markas BRN pastinya hanya para anggotanya.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" Vano dilema.
Ia lalu memeriksa kembali ponsel Linda untuk menemukan sedikit jawaban.
...*...
...*...
...*...
...*...
Malam terus beranjak, suara gemericik hujan di malam ini terdengar melenakan. Apalagi jika melewati malam dan hujan bersama dengan pasangan halal di sebuah peraduan nan indah. Kasur yang empuk, dan istri yang elok rupawan.
Deskripsi itu rupanya sangat cocok disematkan pada pasagan halal Tuan Muda Deanka dan Nona Aiza.
Malam ini, seperti biasanya mereka tengah melakukan olah raga bersama. Olah raga yang menggelorakan asa dan rasa. Olah raga yang rasanya laksana menaiki puncak nirwana.
Ya, rutinitas bercinta itu, dipopulerkan oleh Deanka dengan istilah olah raga yang menyehatkan dan bernilai ibadah.
Deanka dan Aiza sedang melakukan sebuah ritual biologis dan hormonal yang dilakukan untuk meraih kesenangan duniawi.
Deanka selalu menggila. Dan Aiza sang istri selalu pasrah dan menerima. Hebatnya, Aiza mampu mengimbangi Deanka dengan sejuta pesona dan kepolosannya.
Setelah mereka bersama-sama meraihnya. Barulah keduanya bernapas lega, saling menatap penuh kekaguman, saling melempar senyum, saling mengusap peluh di wajah masing-masing, lalu menyatakan cinta.
.
.
.
.
"Hmm ... lega rasanya, beban hidupku menguap, Za. Mau coba lagi? Kamu sepertinya masih kuat baby," goda Deanka.
Ia sedang memeluk tubuh Aiza yang bersandar lelah di dadanya.
"Malam ini cukup Kak .... Aku lelah ...." Ucap Aiza sambil mengelus tangan Deanka yang menangkup perutnya.
"Oke, terima kasih untuk malam ini istriku. Kamu semakin mahir, belajar dari mana? Tidak melihat film, kan?" tanya Deanka sambil mencubit pipi Aiza.
"Tidaklah sayang, aku tidak pernah melihat film dewasa, kan dosa Kak. Aku sempat penasaran sih, tapi kalau dipikir-pikir lagi memang tidak ada gunanya. Mengotori otak, hati dan mata, ya kan?"
"Benar baby, tapi kulihat kamu suka baca novel online, apa belajar dari situ? Hehehe." Sambil mengecupi rambut Aiza.
"Ih, Kak Dean apaan sih? Aku bacanya yang tidak vulgar kok, Kak. Yang menurutku masih wajar," ucapnya sambil tersenyum.
Lalu ponsel Deanka di atas nakas menyala. Tapi diabaikan.
"Kak, tidak diangkat?"
"Tidak perlu, baby. Iseng sekali menelepon jam 12 malam, heran deh."
Tapi panggilan itu tidak berhenti.
"Sayang, jangan-jangan penting, aku ambilkan ya."
Aiza menggulung tubuh polosnya menggunakan selimut, lalu berjalan menuju nakas seperti pinguin. Terlihat lucu, hingga Deankapun tergelak.
"Hahaha, kenapa jalannya seperti itu? Lucu Za."
"Emm ..., masih terasa sakit sayang," jawab Aiza, pipinya langsung merona.
"Oh, maaf ya baby, aku kan masih dalam masa pertumbuhan, otomatis senjataku juga ikut tumbuh dan berkembang setiap harinya. Kamu harap maklum ya, hahahah."
"Apa? Sudah ah, tidak lucu tahu, Kak."
Aiza mengulum senyum sambil menyerahkan gawai pada Deanka.
Suaminya memang seperti itu semenjak menikah, Deanka sering melucu. Leluconnya sering garing, bahkan tidak lucu sama sekali, namun Aiza akan tetap tertawa untuk membuat Deanka senang.
"Vano? Ada apa dia malam-malam menelepon?"
"Telepon balik sayang, takut ada apa-apa," perintah Aiza sambil menciumi dada Deanka.
...*...
...*...
...*...
...*...
Maga, dia akan memasuki sebuah ruangan rahasia super canggih dengan penjagaan berlapis.
Di bagian depan, Maga melakukan pengecekan identitas. Setelah data sesuai, lanjut pengecekan barang bawaan. Ia masuk ke ruangan super sempit. Di ruangan ini, Maga bahkan harus melepas seluruh pakaian luarnya. Setelah yang tersisa hanya pakaian dalam, tubuhnya lalu dipidai oleh sensor otomatis.
'Niiit.'
Ada yang berbunyi dan menyala di bagian bawah telinga Maga, tapi ... itu tidak jadi masalah. Kemungkinan benda itu adalah chip khusus yang sengaja dipasang di tubuh Maga oleh BRN.
"The system is protected, please continue."
Terdengar kalimat itu dari layar monitor. Tidak ada manusia di mesin pemidai ini, semuanya telah menggunakan Robotic System.
Maga meraih bajunya untuk digunakan kembali, dan tangannya sejenak mematung manakala melihat tanda merah terukir indah di kemejanya yang berwarna putih.
Lalu teringatlah saat itu .... Saat Linda mengecup bahu dan lehernya. Pasti yang merah ini, lipstik Linda.
Kemudian Maga memasuki lorong sempit yang dindingnya terbuat dari kaca. Tepat di depan pintu masuk, Maga melakukan pemidaian iris dan sidik jari.
Pintu logam berwarna silver itu kemudian terbuka di sisi kiri dan kanannya seperti lift. Maga kemudian masuk.
Ruangan tersebut ternyata sangat luas. Mirip dengan ruang rapat parlemen. Ada kursi, komputer, alat komunikasi, dan nama di setiap mejanya.
'MAGA.'
Tertulis nama itu di salah satu kursi terdepan. Maga segera duduk di sana dan nenyalakan layar komputer. Ia berbicara dengan bahasa asing pada mikorofon. Hanya ada Maga di ruangan itu.
Inti dari kalimat Maga adalah ... ia ingin bertemu pimpinan untuk memberikan surat pengunduran diri sebagai anggota BRN.
Maga berkata ....
"Saya sebenarnya nyaman di organisasi ini, saya bangga menjadi bagian dari BRN, namun peraturan di dalamnya membuat saya sulit bergerak. Ruang gerak saya seolah terhimpit oleh sesuatu yang harus terlihat sempurna dan sesuai aturan. Di BRN, saya kesulitan menjadi makhluk sosial."
"Padahal manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Sejak lahir sampai masuk liang kubur, manusia selalu membutuhkan kehadiran orang lain selain dirinya. Jika manusia tidak berhubungan atau berinteraksi dengan sesama manusia lainnya, maka orang tersebut belum bisa dikatakan manusia," jelas Maga.
"Saya ingin bertemu pimpinan pagi ini juga, saya memohon dengan sangat," lanjutnya.
Matanya fokus menatap layar monitor, menunggu jawaban. Dan setelah menunggu sekitar 15 menit, seseorang datang.
"Pak Wakil?" sapa Agam.
Mereka bersalaman. Pak Wakil diam saja, wajahnya tampak tidak senang, bermuram durja. Tatapannya pada Maga sangat tidak bersahabat.
"Maaf Pak, Pak Ketua di mana?" tanya Agam seraya menunduk.
"Apa alasan kamu mengundurkan diri? Katakan."
Pak Wakil menatap Maga dalam-dalam. Sementara tangan kanannya sudah memegang pistol yang siap diletupkan kapan saja.
"Ini privasi saya, saya berhak memilih hidup saya sendiri. Ini surat pengundurannya, sampaikan salam saya pada ketua, permisi."
"Maga!" sentak Pak Wakil.
"Permisi, saya harus pergi."
"Maga, apa kamu tidak mempertimbangkannya lagi?"
"Ini hasil pertimbangan saya, tekad saya sudah bulat."
"Katakan apa kesalahanmu, Maga? Jujur pada saya, dan mari kita membuat kepakatan, BRN sangat butuh kamu," bujuk Pak Wakil.
"Kesalahan saya tidak bisa ditutupi Pak Wakil. Demi menjaga integritas dan kepercayaan anggota lain, langkah saya mengundurkan diri sudah sangat tepat, permisi."
"Maga, tunggu. Katakan, kesalahan apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin menghianati kami dan menjual informasi, hahh?"
Pak Wakil bertanya sambil menodongkan senjata tepat di belakang kepala Agam.
"Jujur, atau kepalamu yang berharga ini saya kasih sedikit pelajaran!" ancam Pak Wakil.
Maga membalikan badan, lalu mengarahkan tangan Pak Wakil ke pelipisnya.
"Jika Pak Wakil ingin membunuh saya, silahkan. Tapi ... jangan sekarang."
"Kenapa?!" sentak Pak Wakil.
"Karena sebelum saya dibunuh, saya ingin membunuh seseorang dulu."
"Apa?!"
"Saya serius," tegas Maga.
"Dasar keras kepala!"
Lalu Pak Wakil menekan salah satu tombol yang menempel di dinding. Tiga detik kemudian beberapa orang dengan senjata lengkap datang mengahadap.
"Tangkap dia!" perintah Pak Wakil sambil menunjuk pada Maga.
Orang-orang itu keheranan, mereka melongo, dan salah satu dari mereka bertanya ....
"Maksud Bapak, kami harus menangkap Maga?"
"Siapa lagi kalau bukan dia?! Tangkap dan siksa dia sampai dia mau mengakui kesalahannya."
"Siap!" tegas mereka serempak.
Dan Maga alias Agam Ben Buana sudah bersiap, pria itu sudah pasang kuda-kuda dengan pandangan yang beredar.
"Mari bertarung secara ksatria," tantang Agam saat orang bersenjata lengkap itu bergerak serempak dan mengepungnya.
Next