AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kejutan dari Briliant



"Aka kenapa sih? Aka gatal-gatal juga?" tanya salah satu adik kembarnya.


Mungkin merasa aneh karena Linda terlihat gelisah. Posisi tidurnya berubah-ubah, dan sesekali merutukan sesuatu yang belum mereka fahami.


"Tidak kok, tidak ada yang gatal, Aka hanya kelelahan saja, kan tadi baru selesai ngasih ASI ke Keivel," jawab Linda. Ia berusaha tenang. Tapi ... suara Agam di pusat kota sana terus terngiang-ngiang.


"Sayang ... saya hanya boleh melakukan 'itu' dengan satu cara, yaitu dengan bantuan kamu. Selain itu, hukumnya terlarang. Kamu faham maksud saya?"


Linda menutup telinganya dengan guling. Mencoba menetralisir suara yang macho itu agar menghilang dari angannya.


"Aka, hei!"


"Apa sih, Yolla."


Ternyata yang protes itu Yolla, berarti yang sedang asyik minum susu dot sambil tiduran adalah Yolli.


"Kalau m e s u m itu apa, sih? Aka tadi teriak 'Dasar m e s u m!' Nah, artinya m e s u m apa?" tanya Yolla.


"A-apa? Yolla, Aka tidak merasa mengatakan itu. Kamu pasti salah dengar. Aka tadi teriak 'Dasar dimsum' bukan m e s u m. Aka mau makan dimsum. Hmm, pasti enak."


"Yolli, kamu tadi dengar apa? Dimsum apa m e s u m?" Yolla meminta pendapat pada saudarinya.


Waduh, dasar bocah. Linda gusar.


"Emm, aku tidak tahu, kan lagi minum susu. Kata ibu, kalau lagi minum susu harus konsentrasi supaya tidak tersendak," jawab Yolli.


Selamat, selamaaat, Linda girang.


"Lebih baik kita cepat tidur yuk. Oiya, kalau susunya sudah habis, kalian gosok gigi dulu ya," Linda mengalihkan tema. Berharap Yolla melupakannya dan tidak bertanya tentang pengertian m e s u m lagi.


"Kenyang, ya sudah aku mau gosok gigi," kata Yolli.


"Aku juga," timpal Yolla.


Linda mengantar kedua adik kembarnya.


DEG.


Setibanya di kamar mandi, Linda malah mengingat kembali adegan panasnya bersama pak Dirut.


Wastefel itu, bathup itu, sabun itu, dan sikat gigi milik Agam, kembali melayangkan pikirannya ke arah sana. Ke alam khayal yang meresahkan.


Jadi rindu ... jadi mau ....


"Aaaargh," teriak Linda.


"Aka! Kenapa?!" Yolla Yolli protes.


"Hahaha, oh, tadi itu Aka olah raga mulut agar rahang Aka semakin kencang," kilahnya.


"Aku juga mau teriak ah."


"Aku juga."


Bocah-bocah itu ingin meniru Linda.


"Yolla, Yolli, teriakan tadi hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa, kalian belum disarankan. Kan, rahangnya juga masih dalam masa pertumbuhan," jelas Linda.


Bicara dengan kedua adiknya memang harus pintar berdalih dan berkilah karena seusia Yolla dan Yolli, tingkat keingintahuannya sangat tinggi.


Tapi, Linda tahu jika semakin banyak pertanyaan dari mereka, maka semakin bermanfaat pula bagi tumbuh kembangnya.


Balita yang banyak bertanya dan cerewet akan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan anak sebayanya yang pendiam.


Selain itu, ketika tumbuh dewasa, kemampuan sosial balita yang banyak bertanya dan cerewet akan lebih baik, percaya diri dalam berdiskusi, dan mampu menyampaikan pendapat secara lugas.


Beberapa penelitian bahkan menyebutkan bahwa balita yang banyak bertanya dan cerewet akan lebih sukses di dunia pekerjaan.


Manfaat lain dari balita yang banyak bertanya dan cerewet adalah ... si anak akan lebih memungkinkan menjadi orang tua yang baik di masa depan.


"Aka, melamun?"


Salah satu adiknya menarik tangan Linda. Tuh kan, tidak bisa membedakan mereka lagi.


"Tidak melamun, kok," sanggah Linda.


"Ya sudah, sekarang kita tidur ya."


Linda menuntun keduanya. Baju tidur mereka sama percis, benar-benar tidak dapat dibedakan.


.


.


.


.


Setelah Yolla dan Yolli terlelap, Linda memberanikan diri mengirim pesan pada Agam.


Malu sebenarnya, tapi ... sebagai seorang istri Linda harus memastikan kalau Agam baik-baik saja.


"Sudah tidur?" Pesan terkirim.


Dua menit menunggu jawaban, tapi tidak ada balasan apapun, belum dibaca juga. Linda mengirim pesan lagi.


"Nyenyak ya, Pak? Syukurlah kalau Bapak sudah tidur. Semoga mimpi indah."


Linda merebahkan diri. Serius, ia sangat merindukan Agam Ben Buana. Kelembutan dan belaian Agam begitu melenakan. Tapi, Agam juga terkadang berubah menjadi sedikit kasar.


Linda mengusap bagian tubuh yang sebelumnya sempat memar akibat ulah Agam. Sudah sembuh sih, tapi ... sensasinya seolah masih terasa hingga saat ini.


Ya ampun, kenapa aku jadi begini sih? Linda merutuki dirinya sendiri.


Lalu berjalan ke arah nakas, mengambil salah satu parfum yang biasa digunakan oleh Agam. Disemprotkan ke bajunya, kemudian dihidu. Semoga bisa mengobati kerinduannya.


Lalu memperhatikan satu persatu kosmetik milik Agam yang sudah disiapkan oleh pak Yudha. Sedang mencari tahu, apakah ada mouth parfum beraroma mint yang segar itu?


Tapi, tidak ditemukan. Lantas, yang menyebabkan mulut pak Dirut selalu wangi padahal bangun baru tidur itu, apa?


Aku harus tahu, kenapa dia wangi terus? Linda menautkan alisnya.


Pernah suatu pagi sebelum shalat Subuh, Linda bangun terlebih dahulu. Karena lapar, Linda memakan biskuit gandum dan air putih. Lalu ia iseng mendekati Agam. Tidur di dadanya dan mengelus rahangnya.


Lalu Agam bangun dan bertanya.


"Kenapa, sayang?" Sambil menarik Linda ke dalam dekapannya.


Saat Agam mencium tengkuk dan pipinya, Linda mencium aroma mint itu berhembus dan begitu menyegarkan.


"Dia pakai apa sih?" Serius, Linda masih penasaran.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


7 Jam yang Lalu


"Terima kasih sudah menolongku, ibu baik sekali," ucap gadis tuna netra itu pada pria misterius yang mengiringnya di sebuah jalan setapak.


Jalan itu berada di depan bangunan tua. Menuju ke jalan utama yang merupakan jalan raya.


"Kebetulan aku melihat Nona saat dibawa oleh para penjahat itu, maaf aku sedikit terlambat, aku mencari tongkat Nona dulu," dalihnya sambil memalingkan wajah dari menatap lekukan tubuh gadis itu.


Gadis itu berjalan di depannya, ia akan mengarahkan jika gadis itu salah melangkah. Sebenarnya, ingin sekali menuntun tangannya, tapi ... ia merasa belum saatnya dan tidak elok juga jika tiba-tiba menyentuhnya.


Ia belum mengenalnya lebih jauh, namun mata indah dan parasnya telah berhasil mendesirkan jiwanya yang telah lama membeku. Ada harapan baru untuk menjadi pria normal seperti laki-laki pada umumnya setelah melihat gadis ini.


Lagi, alasan itu menjadi salah satu penyebab, di hadapan gadis ini, ia merasa nyaman. Kenapa? Karena tidak perlu repot-repot menyembunyikan identitasnya.


"Hati-hati."


Mister X menahan tongkatnya. Hampir saja tongkat gadis itu memasuki lubang kecil.


"Terima kasih," katanya.


Tibalah mereka di sisi jalan raya.


"Kita akan menunggu mobil bus, aku akan mengantar Nona pulang," katanya.


"Terima kasih, Bu. Aku tidak bisa membayangkan kalau Ibu tidak menolongku. Oiya, bagaimana nasib penjahat-jahat itu?" tanyanya.


"Mereka baik-baik saja, Nona."


"Mungkin mereka merasa kasihan padaku, jadi aku dibebaskan."


Mister X tersnyum.


"Ya, bisa jadi seprti itu," katanya. Mencuri pandang.


Kamu seindah Senja. Sesuai dengan namamu. Pujinya dalam hati.


Lalu mobil bus yang dinanti melintas. Mister X menyetopnya.


Saat gadis itu hendak naik, terpaksa ia meraih tangannya untuk memasuki bus agar tidak tersandung.


DEG, ada yang berdegup saat telapak tangan mereka bersentuhan. Gadis itu mematung sejenak. Entah mengapa, ia merasa tangan ibu-ibu yang menolongnya terasa begitu lebar. Tapi ... lembut.


Artinya, ibu ini bukan pekerja berat. Mungkin seorang pekerja kantoran, pikirnya.


Mister X menuntun sampai ke kursi kosong. Awalnya tidak ingin duduk di samping gadis itu, tapi ... jika duduk berjauhan, gadis itu pasti akan merasa heran.


Mobil itu kosong, jarak Mister X berjauhan dari penumpang lain. Artinya, Mister X aman dari orang-orang yang mungkin mencurigainya karena bersuara perempuan tapi laki-laki.


"Oiya, kita belum berkenalan." Gadis itu mengulurkan tangan.


Dengan sedikit ragu, tangan Mister X meraihnya. Mereka bersalaman.


"Namaku Zora," katanya. Tersenyum, menatap hampa.


Aku ingin memanggilmu Senja.


"Nama Ibu siapa?"


Gadis itu bertanya karena pemilik tangan lebar namun lembut ini tidak menjawabnya.


"Aku ---."


Bingung, Mister X berpikir keras. Menyebutkan nama atau identitas adalah hal terlarang.


"Aku Miss, ya panggil saja aku Miss. Cara menulisnya double S." Nama yang pikir Mister X. Tapi, ya sudahlah.


"Miss? Miss apa?" tanyanya lagi.


Miss you, batin Mister X.


"Missalnya, hahaha."


"Oh, aku kira Missteri," canda gadis itu.


Keduanya tergelak.


"Karena Ibu tidak menyebut nama panjang Ibu, berarti aku juga tidak akan memberitahu nama panjangku," katanya.


Quitta Senja Izora, aku sudah tahu nama panjangmu. Batin Mister X.


"Kalau aku mau tahu, bagaimana?" tanya Mister X.


"Mau tahu nama panjangku?"


"Ya," Mister X menganggkuk.


"Nama panjangku Zoraaaaa," jawabnya.


"Hahaha."


"Oiya Nona, ini tas Anda," mengalungkas tas milik gadis itu.


"Ya ampun, senangnya, terima kasih, Bu." Meraba, dan meraih tangan Mister X. Lalu diciumnya, seperti cium tangannya seorang adik pada kakaknya.


Mister X terhenyak, bibir lembut gadis ini sempat melintas di punggung tangannya. Mister X merinding. Ia tidak mungkin terus berpura-pura, cepat atau lambat, ia harus menemui gadis ini sebagai seorang pria sejati.


Perjalanan yang ditempuh lumayan jauh, langit yang mendung mulai menumpahkan airnya, hujan mulai melebat, mobil bus melaju melambat.


Cuaca semakin dingin. Ditambah suhu ruangan yang terpengaruhi AC. Mister membuka hoodie yang menjadi ciri khasnya. Lalu menutupi tubuh Senja yang mulai menggigil. Ya, kita panggil saja dia ... Senja.


"Jaket Ibu seperti jaket pria, terima kasih Bu," ucapnya.


"Sama-sama," kata Mister X.


Kini, tampaklah sudah lengan kokoh milik si pria misterius itu. Dia menggunakan kaus panjang berwarna hitam. Saat ia melipat kedua tangannya di dada, otot biceps dan tricepsnya tercetak dengan sempurna. Indah sekali, Mister X pasti rajin mengolah tubuhnya.


"Ibu tidak kedinginan?" tanya Senja.


"Tidak, Nona. Badanku besar, cadangan lemaknya lebih banyak daripada Anda, hehehe."


Lagi, Mister X tertawa lepas. Untung saja data manipulasi suaranya selalu on. Jika tidak, Senja bisa ketakutan.


Satu jam berlalu, senja meredup menjadi malam, dan Senja yang cantik meredupkan matannya. Netra gelapnya menyelami kegelapan lebih dalam lagi. Ya, Senja tertidur. Ia menyadarkan kepalanya ke kaca mobil.


Namun saat rute yang dilewati sedikit menikung, kepalanya Senja terkulai jua ke bahu si ibu palsu.


JEDUG, Mister X mematung. Baru pertama kalinya ada lawan jenis bersandar di pundaknya. Bahkan kekasihnya yang telah tiadapun tidak pernah besandar seperti ini.


Mister X menghela napas, posisi tegap siaga. Tidak ingin mengganggu sang Senja dari tidur lelapnya.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Dua Minggu Kemudian


"Pak Dirut saya mohon, saya ingin bertemu dengan LB," ratap kepala bagian penyiaran stasiun TV KITA, Pak Hendrik.


"Ada masalah apa Anda ingin bertemu istri saya?"


Agam bergeming, tetap duduk di kursinya dengan wajah sedingin antartika. Pak Hendrik ternyata telah mengagendakan pertemuan dengannya jauh-jauh hari.


"Saya ingin bicara dengan LB, ada masalah penting yang harus kami selesaikan Pak. Saya mohon. Jikapun kami harus membayar LB, tolong sebutkan saja berapa kisaran harganya? Jika kami mampu, maka akan kami sediakan," ungkapnya. Ia berlutut menghadap Agam dengan banyak berkas di tangannya.


"Anda sangat tebal muka, Pak Hendrik! Apa kamu berpikir saya tidak tahu kalau Anda adalah dalang yang menjual berita pernikahan siri saya dengan LB?! Berapa juta yang kamu dapatkan dari menjual berita-berita tentang saya, hahh?!" bentak Agam.


Agam melangkah, meraih map yang dipegang oleh Pak Hendrik, lalu dihamburkannya ke udara. Berkas itu beterbangan, beserakan, bececeran di lantai.


"A-apa?! S-saya ...." Pak Hendrik gugup. Lututnya gemetar.


"Masih tidak mau mengaku?!" tanya Agam sambil menarik dasi Pak Hendrik dan menghempaskannya ke lantai.


'Bruk.' Pak Hendrik tersungkur.


"Pak Agam, ampuuun Pak."


Tanpa pikir panjang, saking ketakutannya, pria paruh baya itu memeluk kaki Agam dan menangis.


"Lepas!" teriak Agam, menghentakkan kakinya.


Agam sebenarnya bukan orang yang kasar apalagi pada orang yang lebih senior darinya. Tapi, sikap Pak Hendrik sudah ketelaluan, ia menculik ayah mertuanya, mengadakan perjanjian dengan ayah Berli, lalu pura-pura tidak terlibat atau cuci tangan saat berita tentang pemerkosa LB di ekspose ke khalayak.


Pak Hendrik menelepon ayah Berli dan mengatakan bukan dia yang membocorkan berita itu, padahal fakta yang ditemukan oleh mata-mata yang bekerja untuk Agam, pria inilah biang keroknya.


"Tolong maafkan saya Pak, saya akan mengembalikan uang keuntungan itu pada Bapak dan Linda," ratapnya.


"Enak saja! Tidak segampang itu pria licik!" teriak Agam.


Agam duduk, mengusap dada, lalu meminum air putih yang disediakan di mejanya. Mencoba meredamkan emosi yang menyulut sekujur tubuh. Ingin rasanya membenturkan kepala tamu di depannya hingga penyok dan berbentuk segi empat, tapi ... itu tidak mungkin.


"La-lalu a-apa yang harus saya lakukan agar Anda memaafkan saya?" tanya Pak Hendrik dengan tubuh yang masih gemetar.


Di saku celana Agam jelas sekali ada pistol. Dalam bayangannya, Pak Hendrik mengira jika Agam Ben Buana akan membunuhnya.


"Saya tidak akan membunuh atau menyeret Anda ke meja hijau, tapi ada tiga syarat yang harus dipenuhi," tegas Agam.


"Terima kasih, Pak. Katakan saja, a-apa syaratnya."


"Pertama, jangan pernah melibatkan nama LB ataupun Briliant lagi. Keterlibatan dia pada wawancara ilegal itu harus dirahasiakan. Enak sekali Anda menggunakan istri saya sebagai umpan!"


"Anda mengirim istri saya untuk melakukan wawancara ilegal dengan para petinggi negara karena pihak TV KITA tidak mau terlibat masalah hukum, kan?"


"Apa Anda tahu? Sekarang istri saya terancam keselamatannya gara-gara telah melakukan wawancara ilegal itu. Istri saya dikambinghitamkam oleh kalian, kalian biadab!!"


Agam kembali naik pitam. Menggebrak meja hingga terdengar bunyi 'KRAK'. Meja itu sepertinya akan retak. Tapi tidak apa-apa ya, kan bisa diganti dengan meja baru.


"P-Pak ... dalam wawancara itu, identitas LB adalah Briliant, bukan LB. Saat itu, kami juga merubah penampilan wajahnya dengan riasan khusus. LB juga memakai wig. Saat kejadian itu, Pak Agam dan LB belum memiliki hubungan apa-apa."


"Diam kamu! Diaaam! Beraninya kamu berkilah. Jelas-jelas istri saya ada dalam bahaya karena ulah kamu! Briliant menjadi target pembunuhan, apa kamu tahu, hahh? Saat mereka tahu jika Briliant itu adalah LB, apa kamu mau bertanggung jawab?!" teriak Agam.


Lalu mengusir pria itu agar tidak terjadi apa-apa padanya. Agam takut tidak bisa mengendalikan diri dan menembak Pak Hendrik.


"PERGI DARI RUANGAN SAYA! PERGIII!!" teriaknya lagi.


Pak Hendrik melotot, karena panik, ia keluar dari ruangan itu dengan cara yang aneh. Berguling-guling, merangkak, lalu bersalto. Padahal, berjalan dengan cara biasa akan lebih efektif dan tidak merepotkan.


Agam melongo melihat ulah Pak Hendrik.


"Aarghh." Agam resah.


.


.


.


.


Agam segera melampiaskan kemarahannya dengan menyerang samsak membabi buta.


Ia baru saja mendapat info rahasia jika satu tahun yang lalu, istrinya dengan identitas sebagai Briliant menyelinap ke sebuah tempat dan melakukan wawancara secara ilegal. Ada banyak info penting yang telah dikumpulkan oleh Briliant.


Agam yakin jika Linda sengaja dijadikan tumbal. Tujuannya yaitu, saat narasumber menyadarinya, maka pihak yang disalahkan hanya Briliant, yang lainnya cuci tangan.


Masalah terbesar saat ini adalah ... ia mendapat informasi dari pengacara Vano jika tim ditektif di firma, baru saja mendapatkan klien yang meminta untuk menemukan keberadaan Briliant atau menangkapnya dalam keadaan hidup-hidup.


Klien itu membeberkan fakta jika Briliant telah menipu, serta melakukan wawancara dan liputan secara ilegal.


Setelah kemarahannya mereda, Agam mengambil ponselnya.


Cara lain yang ampuh untuk menguapkan kegundahannya adalah ... dengan menelepon si dia. Mendengar suara khasnya yang seksi, dan menggodanya.


Tiga kali berdering tapi tidak diangkat, terpaksa menelon dokter Rita untuk mendapatkan kepastian.


"Hallo, ya Pak Agam, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin bicara dengan Linda, saya sudah telepon tapi tidak diangkat, tolong lihat ke kamarnya," perintah Agam.


"Baik, Pak."


"Cepat, Anda ke kamarnya sekarang, teleponnya jangan ditutup."


"Ya, Pak."


"Hallo," Agam tidak sabaran.


"Pak, ini saya sudah di depan kamar Bu LB, pintunya tidak dikunci."


"Cepat lihat, dong. Kalau terjadi sesuatu pada Linda, saya akan menghukum kalian semua!" bentak Agam.


"Bu LB, Bu LB." Terdengar suara dokter Rita memanggil Linda.


"Pak, maaf, ini saya sudah intip, ternyata Bu LB sedang shalat Dzuhur. Pantas saja tidak ada sahutan," terang dokter Rita.


"A-APA?!"


Agam terkejut. Ponsel yang digenggamnya sampai terjatuh.


"Hallo, hallo, holla." Dokter Rita masih tersambung.


Agam segera meraih ponselnya dan menutup panggilan. Cepat-cepat mengambil tasnya dan meraih buku saku.


"H-12."


Masih ada 12 hari lagi sebelum hari keempat puluh. Artinya, Linda telah bersuci di hari ke 28 periode masa nifasnya.


"Briliant, awas kamu ya, apa kamu sengaja membiarkan aku menunggu sampai hari keempat puluh?" geramnya.


Setelah itu Agam tampak sangat bersemangat.


"Aulia, ke ruangan saya, sekarang," titahnya. Berbicara melalui telepon paralel.


"Ada apa, Pak?"


Aulia sudah ada di hadapan Agam, menunduk patuh. Tidak berani menatapnya lagi setelah mendapat ancaman dari pengacara Vano.


"Kamu atur ulang jadwal rapat, semuanya majukan. Besok, tiga agenda rapat harus selesai sebelum Ashar."


"Lusa, saya akan cuti, kamu urus surat cutinya ya."


"Ba-baik, Pak."


Aulia balik badan hendak kembali ke ruangannya.


"Em, Aulia, tunggu," panggilnya.


"Ya, Pak." Berbalik lagi. Tangan Aulia gemetar, ia takut ada kesalahan yang tidak disadarinya.


"Kamu reservasi tempat makan yang paling mewah ya."


"Baik, Pak. U-untuk kapan dan berapa orang, Pak?" tanya Aulia.


"Waktunya untuk malam ini. Kamu hitung saja staf sekretaris dan Dirut ada berapa?"


"Ma-maksud Bapak?"


"Malam ini saya ingin mentraktir kalian, kita makan malam bersama, boleh membawa anggota keluarga," jelas Agam.


"A-apa? Be-benarkah?" Aulia ragu.


"Kamu membantah saya?!" bentak Agam.


"Ti-tidak Pak."


"Anggota keluarga yang boleh dibawa tidak dibatasi, berapapun boleh," tambahnya.


"Ba-baik, Pak."


Aulia tiba-tiba melepas high heelsnya, lalu berlari tunggang-langgang meninggalkan Agam. Untungnya Aulia masih waras, tidak berguling atau merangkak, apalagi bersalto seperti pak Hendrik.


"Hahaha."


Pak Dirut tertawa bahagia sambil memutar cepat kursi kerjanya. Wajahnya merona.


Im coming soon my dear.


...~Tbc~...