
Hujan semakin membesar dan deras. Jalanan sangat sepi, hari hampir menjelang tengah malam. Tertera di layar kecil pada dashboard menunjukkan pukul 23.49 PM.
Hujan pada malam ini disertai dengan petir dan hembusan angin yang cukup kencang.
Mobil mewah itu melaju lambat. Jarak pandang benar-benar terbatas akibat derasnya curah hujan dan kabut yang mulai menebal karena semakin mendinginnya cuaca.
"Maaf ya ... kamu takut?"
Agam meraih tangan yang gemetar itu untuk ditiupnya. Telapak tangan itu terasa dingin.
"Pak, kita mau kemana sih? Apa yakin perjalanannya mau dilanjutkan dengan kondisi cuaca seburuk ini?"
Linda khawatir, panik, dan semakin kedinginan. Bibirnya sesekali gemetar dan giginya gemeretak.
"El, tolong matikan ponsel kamu, punya saya juga mau dimatikan." Tangannya berusaha meraih tas miliknya.
"Biar aku bantu," Linda mengambil tas Agam, untuk menonaktifkan ponselnya.
"Pin?" tanyanya. Layar ponsel Agam masih terkunci.
"LB."
"Apa," kata Linda.
"Pinnya Pak, apa?"
"LB." Sahut Agam.
"Ya?" sahut Linda.
"Haha, Bu Linda bertanya pinnya, kan? Nah, itu tadi pinnya LB."
"Apa? Oh." Baru sadar. Langsung mengetik sambil tersenyum.
"Salah, Pak." Wajahnya kesal.
"Kamu menulis apa?" Agam sejenak melirik.
"LB, L dan B."
"No," sela Agam.
"Harusnya i, el, bi, and ai," terangnya. Ia mengeja menggunakan bahasa asing.
"Oke," Linda mengangguk. Lalu mulai mengetik lagi.
"Pak, masih salah," ia kesal.
"Ck ck, apa yang kamu tulis?" Sambil menyipitkan mata. Serius ia tidak bisa melihat jalanan. Jalur tol ini, benar-benar berkabut.
"E, L, B, dan I," kata Linda. Mengeja dengan bahasa negaranya.
"Hahaha, salah. Harusnya kamu tulis apa yang saya katakan tadi 'i el bi ai.'
"Ya ampun Pak Agam, ribet sekali," dengusnya kesal.
Setelah berhasil, segera mematikan ponsel miliknya juga.
"Kenapa harus dimatikan, Pak? Apa karena taku tersambar petir?" tanya Linda.
"Hahaha, itu mitos sayang. Bermain ponsel saat ada petir tidak berbahaya jika digunakan tanpa mencolokkan kabel charger ke ponsel yang digunakan. Karena petir hanya akan menyambar atau mengalir pada arus listrik," terang Agam.
"Hahh? A-apa?!"
Linda terkejut. Bukan terkejut karena keterangan Agam tentang petir, tapi ... tentang satu kata itu. "Sayang."
Apa Agam sadar mengucapkannya?
Atau ... hanya spontanitas?
Entahlah.
"Emm, terus a-alasannya apa?" Yang dipanggil sayang jadi gugup. Pipinya merona.
"Agar tidak ada orang lain yang mengganggu kita, El." Jawabnya.
Oh, berarti Pak Dirut spontan, sebab kata "Sayang" itu tidak muncul lagi.
Wah, wah, wah, artinya ... rasa sayang Agam untuk Linda sudah mengalir di sistem peredaran darahnya.
Linda diam saja, masih memikirkan kata sayang itu. Terdengar begitu seksi dan romantis saat Agam mengucapkannya.
Namun tiba-tiba ... ia teringat kembali akan sosok yang terbujur kaku di dalam kantung jenazah, paman terbaiknya, yang diduga meninggal karena menderita luka bakar 99 persen.
Seketika itu, Linda merasa sakit. Lebih sakit hatinya saat ia tidak berdaya untuk mengatakan kebenaran itu pada polisi. Kenapa? Karena ia teramat mencintai, mengasihi, dan menyayangi Agam.
"Aduh, hujannya semakin besar, kita akan berteduh dulu, tapi kita cari jalur yang bebas pohon rindang dan tidak dekat dengan sumber listrik," kata Agam.
Pria itu mengamati sekitar, memicingkan matanya pelik-pelik sebab lampu jalan tol pada saat ini seperti tidak berpungsi karena kabut semakin menebal.
"Bisa bantu saya? Kamukan ada di sisi kiri, tolong carikan tempat pas untuk kita menepi." Melirik pada Linda.
"Bai-baik, Pak." Linda mulai mengamati.
"Stop, itu Pak, di situ saja."
"Oiya pas, kamu pintar." Perlahan menepikan kemudi.
"Pak, jalur tolnya sepi sekali, seram."
Linda mengintip di balik kaca, tampak di sisi kirinya perkebunan bambu. Hanya itu saja yang dapat ia lihat. Selebihnya hanya gelap-gulita.
Mobil sudah menepi, Agam menghela napas. Lalu menyandarkan kursi ke posisi terlentang dan ia marangkak ke kursi bagian tengah. Linda hanya melirik tanpa mau berkomentar apapun.
Agam mengatur dua kursi tengah di mobil mewahnya menjadi posisi ternyaman untuk merebahkan tubuh, lalu meletakkan bantal kecil di atasnya yang ia ambil dari kursi baris paling belakang.
"Ayo kita istirahat dulu. Agam merebahkan diri di kursi sisi kanan, lalu menepukkan tangan pada kursi sebelahnya. Bermaksud untuk mengajak Linda istirahat.
"Aku ke situ?" Linda ragu.
Agam mengangguk.
"Jangan takut, saya bisa menahan diri," tegas Agam. Padahal dalam batinnya ia tidak yakin bisa menahan diri. Pesona Linda terlalu aduhay di matanya.
"Ba-baiklah," walau ragu ia menurut.
Agam membantu Linda saat ia berpindah tempat, dan tragedi mengejutkan terjadi. Ujung gaun Linda tersangkut rem tangan saat ia melangkah. Karena gugup, Agam menarik gaun itu secara paksa.
'Srrwaaak.'
Maka ... robeklah sudah gaun indah itu sampai batas paha. Lalu tereksposlah keindahan yang hakiki itu. Agam melongo sambil mengerjapkan mata.
"Aaaa, Pak Agam!"
Agam baru memalingkan wajah saat mendengar Linda berteriak.
"Maaf, maaf. Pa-pakai i-ini."
Agam membuka jasnya. Ia segera menutupi salah satu sumber godan itu secepat kilat, sambil melonggarkan dasinya karena merasa tercekik dan tersedak oleh air liurnya sendiri.
Keduanya sama-sama mengatur napas saat posisi mereka telah rebahan. Jarak kursi Agam dan Linda sekitar tiga jengkal.
Dan keduanya sama-sama tahu jika kursi pada mobil ini sebenarnya bisa dirapatkan dan bisa menjadi tempat tidur yang layak dan nyaman.
'DUARR.'
Petir kembali berbunyi. Linda tersentak kaget, pun dengan Agam. Linda memeluk tubuhnya.
"Kamu kedinginan?"
"I-iya," cicitnya. Suara Linda hampir tidak terdengar.
"Maaf, di mobil yang ini tidak ada selimut. Bukan mobil yang biasa dipakai, oiya saya akan nyalakan dulu penghangatnya."
Linda hanya mengangguk.
"Em, mungkin saya kurang faham, atau penghangatnya rusak. Perasaan tidak ada hangat-hangatnya," gerutu Agam saat ia kembali merebahkan diri.
"Ti-tidak apa-apa, Pak." Kata Linda
"Linda ...."
"Ya ...."
"Alasannya banyak Pak. Alasan utamanya adalah karena aku tidak mau kesaksian Bapak diketahui calon anak kita di masa mendatang. Sekarang era digital, Pak. Rekam jejak digital pastinya bisa diakses oleh siapun di masa mendatang."
"Aku tidak mau jika anak ini merasa dikucikan, atau menanggung rasa malu karena memiliki ayah yang pernah memperkosa. Untuk masalah paman, kita bahas setelah ada kesimpulan dari polisi saja," ucap Linda lirih seraya mengelus perutnya.
Deg.
Ucapan Linda membuat perasaan Agam berdesir. Di tengah dinginnya cuaca, Agam merasa hatinya menghangat.
"Terima kasih Linda, terima kasih karena telah memikirkan masa depan anak kita sampai sejauh itu." Spontan tangan Agam mengelus pipi Linda.
Lalu Agam terkejut.
"El, pipimu dingin sekali, padahal ACnya sudah kecil," Agam sedikit panik.
"Masa? Tapi perutku hangat," kata Linda.
"Oya?"
Agam jadi penasaran, ingin membuktikannya. Lalu terbesitlah ide spontanitas yang terbesit begitu saja.
"Linda ...."
"Ya ...."
"Boleh saya mengusap calon anak saya?"
"A-apa?" Linda kikuk.
"Sa-saya ma-mau mmm ... me-me ... me-mengelus pe-perut kamu, a-apa boleh?" Agam juga gugup, ia spontan meraih dan menggigit dasinya karena merasa malu, dan satu hal lagi, ia takut Linda menolak.
"A-apa? Apa sangat mau?" Linda malah bertanya.
Agam mengangguk.
"Bo-boleh, Pak ...." Linda sampai kaget dengan jawabannya sendiri, dan jantungnya seolah sesak saat Agam mengatakan ....
"Terima kasih," sambil menggeser kursi menjadi rapat, dan tangan yang dulu teramat nakal dan sadis itu bergerak perlahan menuju perutnya, menyingkap gaunnya, dan menangkup tangan Linda yang sudah berada di sana sedari tadi.
"Pak ...." Lirihnya. Dadanya turun-naik karena napasnya seakan tercekal.
"Oiya, benar ... di-disini ha-hangat dan ... le-lembut." Lirih Agam. Perlahan ia menarik tangan Linda, dan saat ini ... hanya ada tangannya di perut itu.
'DUARRR DUARR.'
Petir kembali memekik telinga. Dan bahayanya Linda yang kaget spontan membalikkan badan ke sisi Agam, lalu memeluk pria itu.
Deg.
Kutub utara dan selatan bertemu, positif dan negatif menempel. Dalam teori magnetik, jika kutub utara dan selatan bertemu, maka akan terjadi gaya tarik menarik.
Serta dalam teori batu baterai, jika positif ditempelkan pada negatif, maka batu baterai akan menghasilkan energi kalor atau panas dan bisa menyala.
"Ka-kamu takut?" tanya Agam.
"I-iyahhh ...." Entah kenapa suara Linda jadi terdengar seperti menggoda di telinga Agam.
"Sa-saya peluk kamu yahhh ...."
Dan suara Agampun terdengar menggoda di telinga Linda.
"A-apa nyaman?" tanya Agam saat Linda sudah berada dalam dekapannya.
"Hem emh ...." Linda mengangguk perlahan.
"Benar, kamu sangat hangat," tangan Agam ternyata masih bersemayam di perut Linda. Sedang memberikan sentuhan-sentuhan kecil nan lembut yang membuat Linda merasa tidak karuan.
"Pak ...." Ia menelusupkan kepalanya pada dada Agam yang hangat. Terdengar jelas jika ritme jantung pria itu ... tidak stabil.
"Perut kamu hangat, tidak seperti perut saya, perut saya dingin," kata Agam.
Linda diam saja, kondisi ini sulit dihindari.
"Mau pegang perut saya?" tanya Agam. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak patut dan tidak penting untuk ditanyakan.
Bahayanya, Linda malah mengganguk setuju.
Tidaaak, aku kenapaa? Elak Linda dalam batinnya.
"Si-silahkan se-sentuh saja," kata Agam.
Dan tangan Linda perlahan bergerak ke sana. Tapi ... gagal menyentuh perut Agam. Kenapa? Karena kemeja pria itu masih rapi dan dimasukkan ke dalam celana kerjanya.
Menyadari hal itu, Agam lalu mengatakan sesuatu.
"Baiklah, a-akan saya buka kancing baju saya untuk kamu. A-atau ... ma-maukah kamu membukanya sendiri?" tanya Agam sambil mencium puncak kepala Linda.
"A-apahhh ...?"
Linda jelas menautkan alisnya, tapi ... tangan yang telah berada di bagian perut Agam perlahan tapi pasti telah berhasil membuka satu kancing.
"Linda ... sa-saya ... menginginkan kka-kamu ...." Ucap Agam, saat Linda telah berhasil membuka seluruh kancing baju miliknya. Lucunya, dasinya masih terpasang. Napas Agam menderu-deru, wajahnya memerah.
"Pak ... ta-tapi ... itu dosa besar."
Linda mengelus dada Agam yang indah, lalu ... menciumnya perlahan dan ... terisak-isak.
"Maafkan saya Linda ... saya tahu ini dosa besar, tapi ... saya benar-benar mengingkannya saya merindukan kamu ... saya jahat ... saya pecundang."
Perlahan Agam menengadahkan kepala Linda, lalu menelusuri wajah elok itu dengan tangannya. Dan saat ini tangannya tengah mengusap-usap bibir Linda, ingin segera menyesap keranuman itu, tapi ... pemilik bibir itu masih menangis.
"Pak Agam ... aku bukan jalang ... aku hanya wanita yang kurang iman, aku mencintai Pak Agam, tapi ... aku tidak mau mengulang dosa itu untuk yang kedua kalinya."
"Ya Linda, saya minta maaf. Saya menyesal telah mengatakannya."
Agam memeluk Linda, lalu mencium tangan Linda sebagai permintaan maaf.
"Pak Agam, aku memiliki permintaan terakhir, aku telah memikirnya ...." Linda menangkup wajah Agam.
"Apa ... maksud kamu? Kenapa mengatakan permintaan terakhir?" Bibir Agam gemetar, manik matanya berkaca-kaca.
"Pak Agam maafkan aku .... Anggap saja yang aku lakukan ini sebagai bukti kalau aku ... aku sangat mencintai Pak Agam. Apa yang akan aku lakukan adalah yang terbaik untuk Pak Agam dan HGC, untuk aku dan bayi kita, dan terbaik juga untuk orang-orang yang aku cintai. Terutama untuk ibuku, ayahku dan keluargaku."
"Apa yang akan kamu lakukan Lindaaa? Apa kamu tidak ingin tahu kemana aku akan membawamu?" Agam menatap Linda putus asa.
"Pak Agam ... aku sangat mencintai Pak Agam, aku melakukan ini demi kebaikan kita. Pak Agam mencintaiku juga, kan?"
"Ya Linda tentu saja."
"Kalau Bapak mencitaiku, maka ... Bapak harus mengikuti keinginanku," ucap Linda lirih, sebelum akhirnya Linda melingkarkan tangan di leher Agam, memejamkan matanya, lalu perlahan mencium bibir Agam sambil berurai air mata.
Agam terkejut, spontan iapun memejamkan mata seraya merengkuh pinggang Linda. Ada yang menetes dari sudut mata pria itu.
Apa yang kamu inginkan Linda? Kenapa kamu tega menukar perasaannku dengan cara harus mengikuti keinginanmu?
Batin Agam bergejolak di tengah aktivitas itu.
Sayang seribu sayang, kecupan yang awalnya lembut itu, perlahan berubah menjadi sebuah bola api yang semakin panas dan siap meledak kapan saja.
Mampukah Agam dan Linda menjinakan bola api itu? Entahlah.
.
.
.
Mobil mewah itu masih menyala dan menepi. Tidak terlihat aktivitas apapun jika dilihat dari luar karena kaca mobil berwarna gelap, dan tirai warna navy itu menutup seluruh celah.
Hujan masih berlanjut, namun gelegar petir sudah tidak terdengar lagi. Angin yang tadi kencang, kini mulai ramah. Berubah menjadi semilir yang menyejukkan namun bisa menggigilkan tubuh hingga tulang belulang.
Mobil mewah itu masih menepi di sana saat hujan sudah mereda, dan kabut telah pergi. Bahkan, saat air hujan telah menjadi embun pada semua ujung daun pohon bambu, mobil itu masih terparkir. Dan kedipan dari lampu sennya menjadi pertanda jika mesin mobil itu dalam keadaan menyala.
❤❤ Bersambung ....