
"Ahh, mantap. Kamu sangat manis, lembut dan membuatku terbangun hampir sepanjang malam." Suaranya nyaring, cocok menjadi penyiar radio.
Dari arah ini, pria itu hanya tampak punggungnya saja. Terlihat kokoh, dan bidang. Dari bentuk punggungnyasih ... dia pasti gagah dan tampan.
"Kamu mau?"
Dia terdengar bertanya, tapi entah pada siapa.
"Tidak mau? Ya sudah. Untukku saja." Dia menjawab sendiri pertanyaannya.
"Ahhh, nikmat." Terdengar lagi suara desahannya.
"Kamu jangan menatapku seperti itu," katanya.
"Meoong." Suara kuncing.
Oh, ternyata pria itu sedang berbicara dengan kucingnya.
"Hmm ... aku suka dengan kopi ini."
Oh, ternyata pria itu sedang menikmati kopi.
Dari ruangan itu keluarlah seekor kucing warna hitam dengan ekornya yang panjang. Disusul dengan pria tadi.
Seorang pria yang berpenampilan misterius. Berhoodie hitam, berkacamata hitam, memakai masker hitam, dan memakai topi hitam yang ujungnya ditarik maksimal ke depan hingga wajahnya tertutup sempurna.
Oh no.
Segera berjalan cepat ke arah monitor.
"The belt 054D6 is in danger."
"Non-user fingerprint detected."
Oh, damn it.
"Apa dia mau pamer kalau sabuknya sedang dibuka orang lain?! Gila kamu ya, Pak!" dengusnya.
Ia hendak mematikan layar, namun urung kala matanya menemukan kejanggalan. Titik koordinat dari sabuk itu menunjukkan berada di sebuah jalan raya, dan bergerak dengan cepat.
"Gila, pak Buana melakukannya di dalam mobil?"
Ia sepertinya tengah berpikir. Andai wajahnya tidak tertutup mungkin sudah terlihat bagaimana pria itu menautkan alisnya.
Oh no.
Ia terkejut sempurna. Saat menyalakan salah satu layar dan menemukan kejanggalan lain. Ada tiga titik di monitor yang mendeteksi kemungkinan keberadaan Agam Ben Buana.
HGC.
Kantor Dinas Perhubungan.
Jalan raya.
"Kenapa seluruh cip pelacak menyala di tempat yang berjauhan?"
Pria misterius itu segera melakukan analisa pencitraan jarak jauh melalui monitornya.
Suara keybord berdecit dan bergesekan kala tangan terampilnya yang menggunakan sarung tangan itu mengetik dengan mahir. Sepuluh jari tanpa kendala dengan mata fokus pada layar. Pergerakan jarinya super cepat. It's amazing.
Dan ....
Enter.
Sebuah data pada layar membuatnya terkejut dan berdiri.
Buana's phone at HGC.
(HP-nya Buana berada di HGC)
Buanas's car in the City Transportation Department.
(Mobilnya Buana berada di Dinas Perhubungan Kota).
Buana's belt in the car.
(Sabuknya Buana berada di dalam mobil).
Pria misterius itu sampai mengangkat ujung topinya untuk memastikan kebenaran informasi yang tertulis di layar.
Damn it.
Ia memukul kuat meja kerjanya hingga kucing yang tengah bergelayut di kakinya berteriak, kaget dan terlonjak.
"WREOONG ARRR WRAWWRR." Suara kucing.
Pria misterius itu mengambil ponsel bututnya, lalu memanggil nomor yang bertuliskan nama, "Call Center Dishub Kota."
Sebelum mengatakan apapun, ia memasukkan sesuatu ke dalam maskernya.
****
"Widih, mobil keren nih. Siapa punya?" Beberapa petugas di kantor Dishub Kota mengamati mobil Agam.
Lalu seseorang dari ruangan call center menghampiri.
"Pak Wora," teriaknya.
"Ada apa?" kata Pak Wora.
"Ada wanita menelepon menanyakan pemilik mobil itu Pak," terangnya.
"Ya ampun, padahal tadi sudah saya jelaskan."
"Lebih baik bicara lagi Pak. Katanya ingin bertanya kenapa mobil ini diderek."
"Ih, merepotkan." Pak Wora begegas menuju ruang call center.
"Hallo." Suara seorang wanita di ujung telepon.
"Nona, saya tegaskan lagi ya, jangan menyulitkan petugas. Kan saya sudah katakan pada Nona kalau pemilik mobil ini dibawa oleh teman-temanya. Temannya bawa mobil juga, ada beberapa orang, semuanya laki-laki," terang Pak Wora, dan ia menutup telepon secara sepihak. Pak Wora menduga penelepon ini adalah wanita yang tadi bertanya dan membawa mobil mewah.
***
Setelah melakukan panggilan ke call center Dishub kota, pria misterius ini kembali merenung. Belum juga ia bisa mengurai benang kusut ini, kini ada signal lain yang menyala dan menunjukkan keberadaan Agam.
Signal itu berasal dari titik koordinat yang berada di kawasan sekitaran HGC. Ia kembali melakukan analisa dengan tangan yang bergerak super cepat pada keyboard dan sibuk mengawasi layar sana dan layar sini, lalu ia melakukan beberapa panggilan telepon dengan suara yang berbeda-beda.
Siapa yang membawa mobil sport pak Buana keluar? Siapa wanita yang menanyakan pak Buana?
Batin pria ini terus bertanya-tanya.
DEG.
Baru teringat pada kejadian beberapa waktu yang lalu jika Agam pernah menyuruhnya meretas akun media sosial dan nomor ponsel milik seorang penyiar wanita TV KITA yang saat ini sudah menjadi brand ambassador HGC.
Wanita cantik yang saat proyek iklan itu tampil berdua bersama Agam di hadapan publik.
LB? Mungkinkah?
Kembali ia sibuk berkutat dengan komputernya.
Dan ....
Enter.
Ditemukanlah data jika nomor telepon yang sudah ia retas saat ini berada di titik koordinat yang sama dengan mobil mewah milik Agam.
Kembali tangannya mengambil ponsel butut, lalu memanggil nomor yang ia simpan dengan nama, "Tartas Nomor 201."
Tartas adalah kepanjangan dari Target Retas.
Fix, aku harus menghubungi target retas nomor 201.
***
"Pak Agam, maafkan aku Pak. Aku kebingungan," keluh Linda yang saat ini masih merenung di dalam mobil. Dan ia terkejut saat ada nomor privat memanggilnya.
"Siapa ya? Nomor privat? Angkat jangan ya?"
Karena penasaran Lindapun menerimanya. Namun ia diam saja untuk menunggu si penelepon berbicara terlebih dahulu.
"Hallo 201?"
Terdengar suara pria tua sepertinya kakek-kakek.
"Apa?! 201?! Siapa ini? Kakek, sepertinya Anda salah sambung."
Dan Linda menutup panggilan yang menurutnya sangat aneh itu. Lalu ada panggilan kedua, kali ini dari sebuah nomor aneh yang ia sendiri baru pertama kali melihatnya. Terdiri dari 7 angka dan dua huruf.
Sangat aneh bukan?
Seperti halnya tadi, ia menerimanya tapi diam saja untuk menunggu si penelepon berbicara terlebih dahulu.
"Saya adalah sahabatnya pak Agam, tolong Anda datang ke lokasi yang akan saya kirimkan." Kali ini terdengar suara wanita.
"Hei kamu siapa?"
"Saya adalah saya, Anda dilarang bertanya."
"Hei, kamu aneh sekali. Nonormu juga aneh. Apa kamu penipu?" teriak Linda.
"Saya tidak suka dibentak, tolong Anda lakukan saja perintah saya atau kebobrokan Anda akan saya bongkar ke publik."
Linda tentu saja semakin kebingungan.
"Hei siapa kamu?! Kenapa juga aku harus mengikuti perintahmu, hahhh?! Apa kamu pacar pak Agam?!" teriak Linda.
"Ha ha ha haha, saya tidak menyukai pria saya menyukai wanita, dan Anda termasuk wanita tipe yang ingin saya miliki."
"Apa?!" Mata Linda membeliak.
"Sudahlah Nona, jangan berdebat cepat ikuti saja perintah saya. Anda LB kan? Anda tinggal di ..., umur Anda ..., nama orang tua Anda ..., Anda alumni ..., manager Anda ---."
"Stop! Kenapa kamu tahu tentang aku?!"
"Anda cerewet sekali, begini saja, kalau Anda masih ingin hidup, ikuti perintah saya."
"Apa?!"
"Kita akan menolong pak Buana bersama-sama?"
"Maksudmu menolong pak Agam, kan?"
"Betul."
"Kenapa tidak bilang dari tadi?!"
"Karena Anda sangat bawel. Ini tidak main-main kita serius dari sekarang."
"Katamu mau menolong bersama-samakan? Kamu ada di mana?!" Linda semakin pusing saja.
"Jangan bertanya lagi, cepat lajukan kemudi, lalu ambil earphone berwarna putih yang ada di laci dashboard. Saya akan mengalihkan komunikasi."
Panggilan berakhir.
Linda melongo, ia bingung sebingung-bingungnya. Segera mengambil earphone yang dimaksud dan memasangkan di telinganya.
"Hallo."
Terkoneksi dengan sebuah suara pria dewasa.
"Hei siapa kamu?!" Kembali terkejut entah yang keberapa kali.
"Hehehe, maaf tadi itu suara sahabat saya." Terdengar suara wanita yang identik dengan suara penelepon.
"Siap?"
"Siap apa dulu?" Linda kembali bingung.
"Ayo lajukan kemudi dengan kecepatan sebisa Anda. Target kita adalah hotel Hip Hip Hore."
"Untuk apa kita kesana?"
Linda mulai melajukan kemudi, dengan perasaan campur aduk. Kehidupan sosok Agam Ben Buana ternyata membuatnya bingung dan pusing tujuh keliling.
"Pak Buana ada di sana."
"Hahh, kenapa dia ada di hotel?"
"Saya malas menjawab. Nanti Anda juga akan faham."
"Apa pak Agam diculik? Apa kamu gila?! Bagaimana caranya aku menolong dia hanya dengan bicara dengan kamu," protes Linda.
"Tenang, Anda tidak sendiri. Ada orang lain juga yang akan membantu kita. Misi Anda hanya membawa pak Buana dari hotel itu."
Lagi, Linda teramat bingung. Tapi, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali patuh pada suara wanita di balik earphone itu.
***
Agam tidak sadarkan diri saat dirinya dibopong oleh empat orang pria bejat melewati lift barang. Sepertinya keberadaan mereka di hotel ini sudah diatur, sebab kawanan itu langsung masuk ke dalam hotel tanpa melewati pintu resepsionis.
'BRUGH.'
Tubuh Agam yang lemah dilemparkan ke tempat tidur, lalu keempat orang lelaki itupun bersiap, Ada yang beranjak ke kamar mandi. Ada yang menyiapkan minuman terlarang, ada juga yang membuka jendela kamar lalu menghisap rokok sambil menatap view kota.
Sementara pria bernama Roy, tengah menelusuri wajah Agam dengan tatapan nanar, sambil bergumam.
"Kali ini kamu akan merasakan bagaimana indahnya duniaku. Semua salahmu Agam Ben Buana. Kamu telah berani ikut campur dengan duniaku. Kamu sudah menculik kekasihku." Rahang Roy mengeras.
"Kamu sangat tampan, kamu akan aku nodai, dan akan aku pastikan kamu tidak akan bisa lari lagi dari duniaku."
"Kamu masih dendam?" tanya Max yang baru saja tiba dari kamar mandi. Pria itu hanya memakai handuk.
"Ya dendamlah. Gara-gara dia aku dan Bram tidak jadi menikah di luar negeri. Dan setelah direhabilitasi di yayasan milik dia, Bramku berubah, dia menghidariku dan memutuskan hubungan denganku. Kabar terbarunga Bram akan menikah dengan teman kakaknya. Aku sakit hati."
"Aaaa," teriak Roy.
"Ahahaha, sabar Roy, malam ini mari kita balaskan dendammu. Agar pria ini tahu diri dan tahu rasanya. Hahaha."
Kedua manusia iblis itu tertawa renyah, sangat kencang hingga tawa itu membangunkan Agam.
Agam membuka matanya perlahan, dan percayalah jika pria ini belum waras. Agam kembali tersenyum-senyum dengan tatapan menerawang.
"Mari kita eksekusi sekarang. Siapkan kameranya," kata Roy. Dan pria yang sedang merokok bersiap.
Ia mengatur posisi tripod lalu meletakkan salah satu ponsel, menu kamera on, tapi tombol rekam belum diklik.
Keempat pria itu lalu memakai topeng fullhead yang biasa dipakaikan oleh polisi kepada para tersangka untuk merahasiakan identitas mereka. Istilah lainnya masker maling.
"Kamera play saat dia diguyur minuman ya, oke?" Roy mengangkat jempol.
.
.
.
Di tempat lain diwaktu yang bersamaan, masih di area sekitar hotel Hip Hip Hore.
Serang pria berpenampilan sederhana dan dua orang pria lain masuk ke dalam hotel. Saat salah satu dari mereka check-in, dua lagi seperti tengah mengawasi.
Selesai check-in mereka bergegas. Anehnya setelah memesan satu kamar, mereka berpencar entah kemana, dan ketiganya terlihat berjalan cepat sambil menekan sesuatu di telinga mereka.
Apakah alat komunikasi?
Entahlah.
.
.
.
'Cuuur ....'
Tubuh Agam yang aduduh itu mulai disiram oleh minuam keras berwarna merah keunguan. Suhunya yang dingin spontan membuat Agam membalikan badannya. Kini, ia tertelungkup dengan tangan masih terikat.
"Kembalikan ke posisi semula, buka sabuknya." Printah Roy.
"Bos sulit bos," keluh Max.
"Coba deh kamu yang buka kalau tidak percaya."
"Ah, kalian ini! Minggir!" Roy mendekat.
"Wow," decaknya saat matanya melihat sesuatu yang ia inginkan.
"Iya, ini sulit dibuka." Roy baru percaya.
"Kita gunting saja celananya tanpa melepas sabuknya." Roy memberi saran.
.
.
.
"Signal terdeksi di lantai 16 kamar nomor BB42." Kata pria yang tadi check-in. Pria itu berada di sudut lorong lantai 15.
"Sudah berada di depan kamar? Bagus, eksekusi sekarang. Kalau mereka licik, kita main licik juga. Saya ke lokasi juga."
Ia sibuk memainkan ponsel, tampilan di layar ponselnya tidak terdeteksi.
"Jika di dalam mencurigakan, gunakan obat bius aersol. Jangan lupakan maskermu. Jangan sampai kamu ikut terbius," katanya lagi sambil melangkah menuju lantai 16 melewati tangga.
Sementara itu di depan kamar BB42 lantai 16.
"Room service, dessert box, teriak seorang pria di depan pintu kamar itu.
~Di dalam kamar~
"Ada yang pesan?" tanya Roy.
Semua menggeleng.
"Tidak ada."
"Mungkin gratis."
"Abaikan. Mana guntingnya?!"
"Kita tidak punya gunting Roy, adanya gunting kuku."
"Dessert box, double paket." Terdengar lagi teriakan dari luar.
"Sialan mengganggu saja. Satu orang ke sana, ambil paketnya, lalu mintakan gunting. Gila ini sabuk apa sih?" geram Roy.
Dan di saat yang diperintah Roy membuka pintu. Dua orang di balik pintu masuk dan salah satunya memiting kepala si rambut coklat.
"Siapa kalian?! Lepaskan!"
'BAM.'
Pintu kamar BB42 tertutup.
Yang di dalam terkejut bukan kepalang melihat teman mereka tertangkap. Dan dua orang yang datang dari luar terlihat terkerjut juga saat melihat kondisi Agam yang menyedihkan.
Agam tertelungkup, tangannya diikat lakban. Tidak memakai baju. Dan saat ini punggunggunya sedang disiram dengan minuman keras. Lalu sebuah kamera ponsel mahal tengah merekam.
Satu dari mereka sedang mengendusi telinga Agam penuh gairah. Biadab.
"Keparaaat! Kalian lebih menjijikkan dari binatang!"
Pria yang sebelumnya berjalan di lorong lantai 15 melompat tanpa basa-basi ke atas tempat tidur. Langsung menyerang dengan menendang membabi buta.
"Lepaskan Pak Agam, atau kepala teman kalian akan meledak!" teriak yang memiting kepala si rambut coklat.
Sambil menyerang pria itu juga menekan earphone-nya dan berbicara, "Lantai 16 BB42 valid, diduga akan pesta pisang," katanya.
"Ada miras, dan senjata api," tambahnya.
"Kurang ajar!! Enak saja mau mengambil buruan kami! Dengan siapa kamu bicara?!"
"Bukan urusan kalian bang sat!!"
Roy geram, ia balik menendang pria yang naik ke tempat tidur, maka dimulailah pertarungan itu. Baku-hantam tidak terelakan. Salah satu komplotan penjahat berlari ke koper dan ternyata mereka juga memiliki senjata api.
Lalu melompat tempat tidur dan menodongkan senjata ke kepala Agam.
"Aku juga akan meledakkan kepala dia!"
Penolong Agam terkejut, ia mundur lalu berdiri di sisi temannya.
"Bagaimana ini?" Berbisik.
"Kita ulur waktu dulu." Berbisik.
"Mari kita duel saja, aku tidak akan menggunakan senjata, dan kalian juga tidak boleh menggunakan senjata."
Penolong Agam mencoba melobi, jangan sampai misi mereka gagal dan Agam terluka apalagi kehilangan nyawa.
.
.
.
Di waktu yang bersamaan Lindapun sudah tiba di parkiaran hotel Hip Hip Hore.
"Sekarang kamu turun lalu katakan pada petugas yang di depan pintu itu bahwa di lantai 16 kamar BB42 ada pesta pisang."
"Petugas yang mana? Mereka ada dua. Yang kiri atau kanan?" Linda panik.
"Hei, saya tidak tahu yang kiri atau kanan, saya hanya mendapat informasi jika di pintu masuk ada seorang polisi. Kamu lihat saja uniformnya."
"Aku bingung, baju mereka sama, dua-duanya seperti polisi, penglihatanku samar kalau dari jauh. Aku minus." Terang Linda.
"Seragam mereka sama?! Hmm, ya sudah kamu turun saja. Bicaralah saja pada keduanya. Fokuskan pembicaraan pada yang bajunya bertuliskan polisi. Lalu kamu kembali lagi ke mobil."
Linda segera turun. Jantugnya berdebar dan berdegup.
Pesta pisang? Terngiang.
"Sampai jumpa 201," kata wanita yang berkomunikasi dengan LB.
"Hei, tunggu." Teriak Linda, tapi panggilan telah terputus.
"Apa?!"
Polisi dan petugas keamanan terkejut saat mendapat info dari Linda. Karena penasaran merekapun bergegas ke sana. Linda kembali ke dalam mobil.
Terkejut Linda saat di sisi lain hotel itu ada sosok yang sepertinya pria tengah turun dari puncak tertinggi hotel Hip Hip Hore menuju ke salah satu kamar menggunakan tali pengaman lengkap. Full body harness safety.
"Hah, apa-apaan dia? Kok acara panjat-panjat seperti ini hanya sendirian? Hmm, mungkin sedang membut konten," gumam Linda.
.
.
.
'BRAK.'
Pintu kamar lantai 16 BB42 terbuka. Ternyata keterangan wanita yang memakai masker itu bukan isapan jempol.
"Angkat tangan! Saya polisi! Jatuhkan senjata!"
Yang sedang adu jotos di kamar itu terkejut. Sepontan angkat tangan. Kondisi kamar berantakan. Properti kamar rusak berat.
'BRAK.'
Suasana menegangkan bertambah. Ketika seorang pria menendang kuat jendela hotel dari arah balkon tanpa kesulitan karena sebelumnya pintu itu memang telah terbuka.
Pria itu melompat masuk.
"Saya membawa peledak!" teriak pria itu. Sambil mengangkat baju dan menujukkan bom yang sudah diseting. Tertulis jelas.
02:39
02:38
02:37
Dan seterusnya timer pada bom itu menghitung mundur.
Sontak semuanya terkejut dan memucat. Hanya Agam seorang yang tersenyum-tersenyum dan saat ini pria mabuk itu sedang berusaha melepas sabuknya.
Namun sabuk itu bukan sembarang sabuk. Karena mabuk, Agampun kesulitan membukanya.
"Siapa kamu?! Tolong katakan apa maumu?!" teriak polisi.
"Saya mau pria itu." Dia menjunjuk pada Agam.
"Apa?!" Roy terkejut.
"Kalau kalian tidak menyerahkan dia, artinya kita semua akan mati bersama-sama di kamar ini," tegasnya.
02.25
02.24
02.23
Timer pada bom terus berjalan dengan bunyi khasnya.
'Tin.'
'Tin.'
'Tin.'
"Ambil saja, ambil," teriak pria penolong Agam yang bibirnya sudah pecah terkena serangan.
"Ya Pak daripada kita semua celaka," timpal temannya.
"Minggir! Atau saya langsung meledakkan diri.
Pria itupun diberi jalan. Polisi tidak ada pilihan lain. Pun dengan Roy dan kawan-kawan. Mereka terpaksa melepaskan Agam dengan berat hati.
Agam diseret ke arah balkon. Lalu di pasangkan full body harness safety di pinggangnya dengan gerakan cepat dan trampil pria yang si pembawa bom.
Dan ....
SYUUNG.
Agam dibawa melompat, dari ketinggian lantai 16 diantara keterngangaan para pria yang berada di kamar tersebut.
.
.
.
"APA?!"
Linda yang sedang menonton pertunjukkan konten terkejut manakala fokus yang sedang ia amati terjun cepat dari sebuah kamar dan membawa seseorang.
Semakin membeliak matanya kala pria yang ia maksud menginjakan kaki di taman kecil sisi hotel dan melambaikan tangan ke arahnya.
Belum sembuh kagetnya, matanya hampir loncat saat sadar jika pria yang dibawa pria itu adalah Agam Ben Buana.
Tanpa berpikir lagi, Linda keluar dari mobil dan membantu pria itu menyeret Agam untuk dimasukkan ke dalam mobil.
"Cepat bawa dia pulang," perintah pria itu sambil menggunting lakban yang mengikat tangan Agam.
Dan sebelum Linda mengatakan apapun, pria itu telah menghilang di antara mobil-mobil yang terparkir.
'DOR.'
Terdengar suara tembakan dari salah satu kamar. Spontan Linda injak gas dan melesat cepat meninggalkan hotel Hip Hip Hore serta menabrak palang pintu mesin parkir.
.
.
.
"Pak Agam sadar! Anda membuat saya tidak konsentrasi!"
Linda menggerutu karena sedari tadi Agam terus saja berusaha membuka sabuk.
"Hmm ...."
Agam membuka mata, tatapan nanarnya jatuh pada Linda yang tengah menyetir. Dan pria mabuk itu langsung memeluk Linda.
"Aaaa, tidaaak, lepaskaaan!"
"Pak Agam ini bahaya, saya sedang menyetir!"
'Ckiiit.'
Linda akhirnya menepikan mobil.
"Pak! Le-lepaskan!" teriaknya.
Karena tadi belum sempat terpasang sabuk pengaman, Agam bebas bergerak. Linda berusaha meronta dan menepis Agam.
"A-aku ... ingin ... be-ber-cinta," gumam Agam, matanya setengah terbuka.
"With you, El ...."
"Apa?!" Linda melongo.
"Pak sa-sadar! Pak! Tolooong! Tolooong!" teriak Linda.
❤❤ Bersambung ....