AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Hari Pertama Menjadi Suami [Visual dan Gif]



Acara ijab kabul yang mengharu-biru itu telah usai. Selepas itu, mereka kemudian melaksanakan shalat malam berjamaah.


Maxim dan Enda telah memesan hotel di samping rumah sakit untuk mereka beristirahat.


Dan Agam menolak pergi ke hotel, ia memilih pergi ke rumah sakit untuk menunggu Linda.


"Ayah dan Paman saja yang ke hotel, saya yang menemani Linda," ucapnya.


"Apa perlu saya temani?" tanya Maxim.


"Tidak perlu."


"Pak Dirut, biar aku saja yang menunggu Linda."


"Tidak Ayah, sekarang saya yang harus menjaganya. Ayah istirahat saja. Gama, kamu juga cepat ke hotel, besok kamu sekolah, kan?"


"Ya, Kak." Gama mengangguk.


Akhirnya, di depan rumah sakit mereka berpisah. Paman Yordan, Ayah Berli, Gama, Enda dan Maxim bergegas ke hotel.


"Kalian dulua saja," Gama menghentikan langkahnya tepat di sebuah kedai pedagang kaki lima yang menjual makanan.


"Saya kawal," tawar Maxim.


"Ya, kata Pak Agam, Anda harus segera ke hotel, kan?" timpal Enda.


Sementara Paman Yordan dan Ayah Berli telah berjalan di depan.


"Tidak perlu, aku sendiri saja. Aku sudah besar, sudah punya kartu indentitas, tidak perlu kalian. Pergi, pergi," usirnya.


Gama mendorong bahu Maxim dan Enda dengan kedua tangannya.


"Baiklah, kami menunggu di hotel."


Enda dan Maxim akhirnya mengalah.


Setelah Maxim dan Enda menjauh, Gama bergegas ke dalam kedai.



Di dalam kedai, ia duduk di bangku paling pojok. Matanya segera fokus pada seseorang yang sedang makan dengan terburu-buru sambil menerima telepon.


"A-apa? Ada pasien baru lagi? Ya ampun, aku baru makan dua suap," keluhnya dengan suara yang kurang jelas karena mulut mungilnya penuh dengan nasi.


"Pak, sisanya boleh dibungkus tidak? Aku belum selesai makan," katanya lagi, lalu minum dengan terburu-buru.


"Boleh," jawab pedagang yang saat ini tengah sibuk melayani pelanggan lain.


"Pak, cepat dibungkus, aku mau segera ke ruangan."


Ia tampak kesal.


"Aduh Suster, maaf ini sayanya lagi subuk, sama Suster saja, dibungkus sendiri ya," ucap pedagang yang memang sedang sibuk membulak-balik nasi goreng di dalam wajan.


"Aduh Bapak, ya sudah aku bungkus deh."


Ia terpaksa membungkusnya dengan terburu-buru.


Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.


Makanannya malah tumpah ke tanah saat ia membungkusnya.


"Aduuuh," keluhnya sambil menepuk kening.


Lalu disambut tawa oleh para pengunjung yang lain.


"Hahaha, pesan lagi saja Sus," ucap seseorang.


Dan dia diam saja. Ya, dia adalah suster Freissya. Gama berhenti di kedai itu karena melihat keberadaannya.


"Mau dibuatkan lagi?" tanya pedagang.


"Tidak perlu, Pak. Ini saya mau bayar saja."


Freissya membayar dengan uang satu lembar berwarna merah.


"Aduh, Sus. Belum ada receh. Uang pas saja." Pedagang menolak uang dari Freissya.


"Pak, aku hanya punya ini, ini satu-satunya, hanya ada selembar," kata Freissya.


Freissya sampai memperlihatkan isi dompetnya untuk membuktikan jika ia serius tidak punya receh.


"Begini saja, Suster tukarkan dulu saja ke pedagang yang lain."


"Ya ampun, Pak. Aku sedang buru-buru."


"Lha, terus bagaimana dong?"


Pedagang itu cuek saja, kali ini ia fokus mengocok telur.


Gama yang terkikik sedari tadi akhirnya menghampiri.


"Pak, ini temanku. Ini aku yang bayar. Tidak perlu dikembalian."


Gama memberikan uang satu lembar berwarna biru pada pedagang, lalu tanpa ragu, dan permisi, ia menarik tangan Freissya yang masih melongo untuk keluar dari kedai.


"K-kamu? Le-lepas! Kamu tidak sopan!" bentak Freissya saat mereka sudah berada di luar kedai.


"Hahaha, harusnya kamu berterimakasih. Aku sudah menolong kamu lho," kata Gama tanpa melepaskan tangan Freissya.


"Aku tidak meminta kamu menolongku. Cepat lepaskan! Aku mau kerja."


Freissya berusaha keras melepaskan tanganya tapi tidak berhasil.


"Oke, aku akan lepaskan tapi jawab dulu pertanyaanku, siapa namamu?"


Namun apa jawaban yang didapat Gama?


"Tolong, tolooong, aku mau diculiiik," teriak Freissya.


"Apa?!"


Gama kaget, semakin kaget lagi saat orang-orang berdatangan.


Namun bukan Gama namanya kalau tidak bisa mengelak.


"Jangan percaya, aku bukan penculik. Lihat baik-baik wajahku. Suster ini pacarku. Dia marah karena tidak mau putus, dia terlalu mencintaiku, dia posesif," kata Gama.


"Apa katamu?!" Freissya melotot.


Orang-orang yang datang menatap Gama. Dan mereka berlalu lagi sambil mengatakan ....


"Oh ..."


"Sedang tidak akur, ck ck ck," dasar anak muda," ucap salah satu dari mereka.


"Kamu menyebalkan!" ucap Freissya.


Lalu dengan kekuatan penuh Freissya menggigit tangan Gama.


"Aaaah," teriak Gama.


"Rasakan! Hahaha, sakit, kan? Makanya jangan tidak sopan! Memangnya kamu siapa? Huuh, blwee, blwee," ledek Freissya yang tertawa puas melihat Gama kesakitan sambil menjulurkan lidahnya.


Bekas gigitan gigi Freissya tampak melingkar di pergelangan tangan Gama.


Belum juga Gama mengatakan apa-apa karena masih meringis, Freissya tiba-tiba melemparkan uang satu lembar miliknya yang berwarna merah tepat ke hadapan wajah Gama.


"Nih, uang kamu yang tadi aku kembalikan. Tidak perlu dikembalian," ketusnya.


"Dasar suster sadis! Suster macam apa kamu, hah?! Aku tidak butuh uang itu, aku kaya-raya, aku sultan, bahkan aku punya pulau pribadi, apa kamu tahu?"


"Mau kamu kaya, mau kamu miskin, mau kamu punya kelainan, atau mau kamu matipun, aku tidak peduli!"


Lalu Freissya pergi dengan badan tegak meninggalkan Gama sambil merapikan auter yang menutupi seragamnya.


"Hei, tungguuu. Kalau kamu yang mati duluan bagaimana?" teriak Gama.


"Yang cepat mati biasanya orang kaya, karena jantungan dan lelah memikirkan harta." Sahut Freissya, suaranya sayup-sayup karena ia semakin menjauh.


"Awas kamu ya! Aku pastikan kamu akan menyesali ucapanmu."


Gama akan mengejar, namun baru juga akan melangkahkan kaki, tangan kiri dan kanannya sudah dipegang seseorang.


"Maxim? Enda?" Gama kaget.


"Waktunya sudah habis," tegas Enda.


Lalu mereka menyeret Gama menuju hotel.


"Aaaa, kalian gila ya! Lepaaas!" teriaknya.


"No," tegas Enda.


"El ... bangun sayang ...," lirihnya.


Setelah melaksanakan ibadah shalat Subuh, Agam kembali ke ruang ICU, ia diperbolehkan mendampingi Linda. Kata dokter, saat adzan Subuh berkumandang, Linda siuman.


"Saat siuman, LB langsung menangis," terang dokter."


Lalu dokter itu pergi meninggalkan Agam dan menutup tirai pembatas.


"Alhamdulillah, k-kamu tadi sudah sadar? Terima kasih Yaa Allah .... El ... saya di sini."


Agam meraih tangan Linda, meletakan di dadanya, lalu dikecup beberapa kali.


"El, banguun," panggilnya lagi. Ia berbisik hingga bibirnya menempel di telinga Linda.


'Cup.'


Ia mengecup telinga Linda. Lalu sedikit memanfaatkan kesempatan yang ada dengan cara mengecup perlahan leher Linda. Tepatnya di bawah telinga.


Ingin melanjutkan mengecupi seluruh tubuhnya, tapi untuk saat ini belum memungkinkan.


Linda tetap diam, matanya terpejam rapat. Agam menatap lekat wajahnya.


Dan Agam terkejut saat melihat ada air mata yang mengalir dari dari sudut mata istrinya.


"Linda ....?"


Perlahan, dan hati-hati Agam membalikan kepala Linda.


Deg.


Jantung Agam seolah mendapatkan kembali kekuatannya. Dadanya yang tadi sesak seakan tiba-tiba mendapatkan oksigen murni yang membuatnya bisa bernapas dengan lapang dan lega.


"Ka-kamu sudah sadar?"


Kedua mata Linda yang membuka perlahan, bersitatap dengannya.


"Linda ...."


Agam tak kuasa menahan gejolak rasa, ia meraih tubuh Linda dan memeluknya. Dan Agam terhenyak saat Linda berkata lirih ....


"Lepas ... aku membenci kamu ...."


"El?"


Agam melepaskan dekapannya. Ia terkejut mendengar ucapan Linda. Belum lagi kagetnya hilang, Linda malah meraung dan memarahinya dengan suara lirih.


"Huuu ... kamu jahat ... mulai detik ini kita putus saja. Jangan dekat-dekat aku lagi, huuu .... Dokter, dokter ...," panggilnya.


Dokterpun tiba.


"LB sadar, merapat ke bed lima ya," kata suster.


"Pak, Anda di luar dulu, kita mau memeriksanya," ucap dokter.


"Ba-baik," Agam undur.


Dokter dan suster lalu memeriksa Linda.


"Jangan menangis, Anda tidak boleh stres. Nanti, setelah Anda tenang, saya akan menjelaskan sesuatu," terang dokter.


Sementara di ruang transit, Agam merenung, ia memikirkan ucapan Linda.


Kenapa Linda berkata seperti itu? Ini aneh, pasti ada sebabnya.


Alis Agam bertautan. Ia lalu menghubungi paman Yordan untuk mengabari jika Linda sudah sadar.


Tunggu, alisnya kembali mengernyit.


Lalu Agam menelepon bu Ira.


"Hallo, ini siapa ya? Pagi-pagi kok sudah ganggu," kata Bu Ira.


"Bu, ini saya, Agam, sa ---."


"Pak Agam? Oh, ya ampun, maaf Pak. Maaf, Ibu tidak tahu."


"Santai saja Bu, ponsel saya hilang. Ini nomor baru saya."


"Oh, ada apa, Pak? Bagaimana kabar LB? Sudah sadar, kan?"


"Alhamdulillah, sudah sadar Bu."


"Alhamdulillah, Ibu senang sekali."


"Ya, Bu. Mohon doanya supaya bayinya bisa dipertahankan. Oiya Bu, saya mau minta bantuan, tolong cek kamar Linda, ambil ponselnya, lalu paketkan. Kirim ke rumah sakit Healthy Family," kata Agam.


"Sip."


"Oiya jangan lupa chargernya disertakan juga ya, Bu."


"Sip, sip."


Agam mengakhiri panggilan.


Tunggu dulu, kenapa aku berpikir Linda tahu vidio itu? Setahuku, untuk mengakses vidio itu lumayan sulit. Ponsel Lindapun sudah aku seting agar tidak bisa mengakses situs dewasa. Wifi di rumahku juga sudah difilter.


Agam kembali berpikir.


Lantas, Linda marah karena alasan apa?


"Hmm, masalah ini harus dianalisa pelan-pelan seperti malam pertama," gumamnya.


Astaghfirullaah, kenapa aku jadi terpikirkan malam pertama? Kondisi Linda saja seperti itu, aku juga untuk sementara waktu harus merahasiakan pernikahan ini. Tapi aku malah mau ---.


"Eh, astaghfirullaah, kenapa kepalaku terus memikirkan itu?"


Agam mengutuk dirinya sendiri. Ya, ia sadar kalaupun misalnya nanti Linda tahu mereka sudah menikah, malam yang ia pikirkan itu akan sulit terjadi. Bisa membahayakan kandungan Linda.


"Entah sampai kapan aku harus berpuasa," gumamnya lagi sambil mengusap dadanya.


"Keluarga pasien Ny. Linda," tiba-tiba ada panggilan dari ruang ICU.


"Ya, saya." Agam berlari menghampiri.


Ia sudah membuka jas pengantinnya. Jadi, penampilan Agam tidak lagi menjadi pusat perhatian. Agam juga memakai masker. Sejauh ini, tidak ada yang tahu kalau pria itu adalah Dirut HGC.


"Anda siapanya Ny. Linda?" tanya dokter.


"Saya emm --- pamannya, ya pamannya," kata Agam.


"Oh, begini Pak, tolong katakan pada keluarga yang lain kalau Ny. Linda tidak mau dioperasi."


"Maksudnya, Dok?"


"Jadi begini, awalnya kita memutuskan untuk mengakhiri kehamilannya, karena dikhawatirkan akan terjadi kejang berulang yang membahayakan Ny. Linda. Namun setelah kami konfirmasi padanya, Ny. Linda menolak dioperasi. Dia mengatakan akan mempertahankan kandungannya."


"Kami tidak bisa memaksakan kehendak jika pasien sudah mengambil keputusan. Ny. Linda sudah tanda tangan penolakan tindakan," terang dokter sambil memperlihatkan berkas formulir penolakan yang sudah ditandatangani oleh Linda.


Agam hanya bisa menghela napas. Ya, semua keputusan pada akhirnya ada pada Linda.


"Apa ada alternatif lain, Dok? Second opinion?" tanya Agam.


"Saya sebagai dokter penanggung jawab spesialis kandungan, sudah menjelaskan pada Ny. Linda jika kandungannya dari sisi medis hanya bisa dipertahankankan maksimal sampai usia kehamilan 31 sampai 33 minggu, itu juga pasiennya haru dalam pengawasan ketat."


"Kalau sesuai hari terakhir haidnya, usia kehamilannya saat ini sudah 25 minggu. Itu artinya 7 minggu lagi paling cepat, atau selambatnya dua bulan lagi, Ny. Linda harus harus segera dioperasi," terang dokter.


"Jadi bayi sa ---, maksudnya bayinya akan lahir prematur?" Agam memastikan lagi.


"Ya, Pak. Untuk pasien dengan riwayat eklampsia, rata-rata memang dilahirkan lebih cepat. Sebelum dioperasi, biasanya kita akan memberikan obat pematangan paru selama dua hari untuk bayinya."


"Baik, Dok. Bisa saya bertemu dengan pasiennya?"


"Pasiennya sebentar lagi akan dijemput oleh perawat ruang perawatan. Bapak tunggu di ruangan saja, di VVIP Roses nomor dua," jelas dokter.


"Saya mau membantu mendorong," kata Agam.


"Boleh, kalau begitu, Bapak tunggu saja di depan ruang ICU saja."


"Baik," sahut Agam.


Saat ini, Linda sudah berada di ruang perawatan.


Tadi, sepanjang perjalanan menuju kamarnya, Linda tidak henti mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan ayahnya. Namun nihil. Lagi, hanya Agam yang ada di sampingnya.


Dan Linda masih mendiamkan Agam. Vidio syur itu kembali melintas di kepalanya dan membuatnya mual, kesal dan marah.


"Suster, saya tidak mau ditemani," kata Linda saat Agam ke kamar mandi.


"Tapi, Anda harus ada yang menemani. Untuk sementara, Anda akan ditemani oleh paman Anda," terang suster.


"Apa? Paman? Pamanku ke sini? Paman Setyadhi? Bukankah masih koma?" Linda kaget.


"Hehehe, yang tadi mendorong bed, yang baru saja masuk ke kamar mandi. Itu kan pamannya Ny. Linda."


Tanpa curiga suster menjelaskan. Suster berpikir Linda masih terpengaruh efek sedasi obat anti kejang hingga tidak mengenal pamannya sendiri.


"Kami permisi," suster berlalu saat Linda masih melongo kebingungan.


Dan paman yang dimaksud suster sudah keluar dari kamar mandi. Agam melemparkan senyum pada Linda. Tapi, Linda malah memalingkan wajah.


"Kenapa kamu marah, hmm? Katakan alasannya," ucap Agam, dan dengan santainya ia malah meraih tangan Linda dan mengecupnya.


"Lepas." Linda menepis.


"El, saya sangat bahagia kamu sadar." Agam duduk di sisi bed.


Lagi, Linda diam saja, dan kembali berpaling. Lalu ponsel Agam berdering, paket dari Bu Ira sepertinya sudah tiba.


"El, saya pergi dulu. Hanya sebentar, tunggu ya sayang," ucapnya.


Apa? Sayang? Cih, menyebalkan!


"Dia pandai merayu dan bersandiwara. Bisa-bisanya aku tertipu," gumam Linda saat Agam tidak ada di tempat.


"Eh, tunggu dulu. Jangan-jangan, aku juga tertipu oleh vidio itu, kalau vidionya rekayasa, bagaimana? Bisa saja, kan?"


Akhirnya, kesadaran dan akal sehat Linda mulai pulih.


"Aku harus melihat vidio itu lagi, pak Agam kan ada tanda lahirnya di --- berbentuk hati."


Linda lalu mengingat-ingat kejadian sebelum ia pergi ke rumah sakit. Yang terakhir ia ingat hanya vidio itu.


Ternyata ponsel Linda masih ada dayanya, 14 %. Di lobi, Agam segera mengeceknya. Ia ingin membukanya. Tapi sayang, pola pengaman yang ia buat rupanya sudah dirubah oleh Linda.


Dan Agam kaget karena tiba-tiba ada telepon masuk. Sebuah nomor tidak dikenal. Secepatnya diangkat tanpa mengatakan apapun.


Kenapa Agam kaget?


Karena setahu Agam, yang tahu nomor Linda hanya dirinya, pak Yudha dan bu Ira. Oiya, ada satu lagi, Bagas. Agam baru ingat.


"Hallo, sayang ... kapan kita bertemu? Kamu bisanya kapan? Kenapa tidak membalas pesan dan mengangkat teleponku? Sayang, aku sudah tidak tahan ..., serius, aku ingin bercinta denganmu dan menikmati keindahan kamu."


APA!!


Mata Agam membulat sempurna.


"Mari kita membuat irama cinta dan mendesah bersama-sama, sayang. Mari pergi ke surga dunia bersamaku. Hallo, Linda ... cepat katakan sesuatu sayang ... aku juga merindukan suaramu yang seksi itu. Sebenarnya, aku sering h o r n e y setiap mendengar suara kamu ohh ... aah ... Lin ---."


'Klik.'


Agam mematikan panggilan. Wajahnya langsung merah-padam. Napasnya jadi cepat, dan tangan yang memegang ponsel mengepal kuat hingga urat nadinya terlihat jelas. Gigi-gigi Agam gemeretak. Ia marah level diamond.


KURANG AJAR!!!


Di hari pertamanya menjadi suami, Agam sudah diuji.


___


*V**isual. Tak kenal, maka tak sayang*.


Ini sudah tahu lah, ya. Ini Pak Dirut kita yang aduduh dengan mata sayunya yang memesona, dan sejuta pesona lainnya.


Mohon jangan menzoom foto Pak Dirut, kenapa? Karena tidak baik untuk kesehatan jantung dan hati. Bisa meleleh dan takluk juga seperti halnya Ayah Berli, hehehe.



Ini sudah tahu juga ya, ini racun dunianya Agam Ben Buana. Eh tidak, sekarang sudah menjadi calon bidadarinya Agam Ben Buana. Linda Berliana Briliant, nyai baru tahu kalau nama Linda ada 'Briliant'nya.



Ini Gama, kataya sih play boy. Sudah kenal juga ya? Oiya, nama panjangnya Gamayasa Val Buana. Adik kesayangan Pak Dirut HGC.


I love you dari Gama bagi yang sudah vote, like dan komen.



Ini dia dokter militer kita, Paman Yordan. Kata Paman Yordan, salam kenal terutama untuk yang suka membaca tapi tidak pernah komen, hehehe. Paman Yordan orangnya bijak, kalem dan tampan juga ternyata.



Nah, ini Pak Yudha. Hati-hati dengan Pak Yudha, walaupun sudah berumur, tapi masih gagah perkasa.



Kalau ini Ayah Berli Briliant. Ya, memang terlihat sedikit garang sih, tapi ... aslinya baik, kok.



Ini pendatang baru, Freissya. Yang mana? Coba tebak, ya benar, Freissya yang paling kiri, ia tidak memakai name tag. Maka dari itu, Gama penasaran dengan namanya.



___


And this special picture for my reader, nyai's baby, with nyai's husband. 😊😊😊



___