
Sampailah mereka di masjid yang dituju. Di pelataran masjid, tampak Enda dan Maxim sudah menunggu.
"Pak, maaf, kita tidak menemukan Hikam," jelas Maxim sambil tertunduk. Ia khawatir Agam marah.
"Apa? Kemana anak itu, ya? Aku takut dia tersesat. Nomornya tidak aktif."
Ayah Berli mematung sejenak saat menimpali keterangan Maxim.
"Ayah tenang ya, nanti saya bantu cari lagi, kalau perlu kita lapor polisi," tegas Agam.
Ayah Berli diam saja.
Lapor polisi? Terlalu berlebihan, batin Ayah Berli.
Dan saat mereka akan masuk ke dalam masjid, Pak Yudha terperanjat sambil menatap ponselnya.
"Ada apa?" Paman Yordanpun kaget.
"Pak Setyadhi sadar. Ini ada pesan dari dokter Fatimah," terang Pak Yudha.
"Alhamdulillah," ucap Agam dan Ayah Berli bersamaan.
"Pak Setyadhi? Siapa itu?" Paman Berli keheranan, pun dengan Gama.
"Nanti saya jelaskan," ucap Agam.
Dua berita baik, Linda tensinya turun, dan Paman Setyadhi sadar. Semoga pertanda baik. Linda, aku akan segera memiliki kamu seutuhnya.
Ada secerca harapan, Agam bahagia.
.
.
.
.
Setibanya di dalam masjid kegugupan Agam muncul lagi. Lalu atas saran Paman Yordan, Agampun menjalani sesi latihan terlebih dahulu. Pak Yudha yang membimbingnya.
Ayah Berli menyimak, matanya terus menatap calon menantunya.
Semakin ia menatap Agam dan memperhatikan gerak-geriknya, Paman Berli jadi bingung. Ya, ia bingung karena kesulitan menemukan sisi berbahaya dan mengerikan dari seorang Agam Ben Buana.
Sejauh ini, yang ditemukan hanya yang baik-baik saja.
Tampan, mapan, resik, rapi, bersih, dan satu hal lagi, dia ... intelek.
Terbukti saat membahas tentang mujbir, Agam mampu memahaminya secara konseptual. Lalu secara tidak diduga, Agam menghubungkan makna mujbir dengan realita masa kini dan konsep keadilan.
"Siapa nama ayah Pak Dirut?" tanya Ayah Berli pada Gama yang sibuk memainkan ponselnya.
"Ayahku? Nama ayahku Agha Lon Buana."
"Cara menulisnya?" tanyanya lagi.
"Biasa, seperti ini."
Gama menuliskan nama ayahnya di secarik kertas yang disediakan oleh Enda.
Dan saat yang ditunggu itu akhirnya tiba. Pada pukul 00.17 waktu setempat, setelah Agam merasa siap, proses ijab kabul pernikahan Agam dan Linda akan segera dimulai.
"Mari, calon mempelai pria, wali nikah, dan para saksi yang belum bersuci kita berwudhu dulu," ajak Paman Yordan.
Setelah selesai berwudhu, Agam kian berdebar.
Saat semuanya sudah melingkar dan menunggunya, Agam masih berdiri, mengatur napas, dan beberapa kali membetulkan dasinya.
"Sudah rapi, Kak. Ayo semangat, bismillaah," seru Gama.
Perlahan Agam mendekat menghadap Ayah Berli. Di antara Agam dan Ayah Berli ada mahar dan gaun pengantin milik Linda.
Tak lupa, Paman Yordan dan Ayah Berli juga memberikan sepatah dua patah kata, sebuah nasihat pernikahan untuk Agam.
"Menikah adalah ibadah terpanjang dalam mengarungi perjalanan hidup. Jangan disia-siakan, istri itu titipan. Begitupun sebaliknya, dan aku titip putriku pada Pak Dirut," lirih Ayah Berli.
"Ben, nanti kalau kamu sudah sah menjadi suami Linda, selain menghormati Linda, kamu juga harus menghormati keluarga dari pasangan kamu."
"Ya, Paman," jawab Agam sambil menatap lekat gaun pengantin milik Linda.
Linda ....
Ia kembali memanggil Linda dalam batinnya.
"Pernikahan itu bukan hanya pernikahan individu, tetapi juga pernikahan dua keluarga besar, kamu pasti sudah faham," tambah Yordan.
"Jangan lupa untuk saling percaya bahwa orang yang kamu nikahi akan menjadikan diri kamu lebih baik. Percayalah bahwa Linda adalah wanita terbaik untuk kamu. Pernikahan itu amanah, Ben. Sedangkan amanah paling dasar adalah ketika kamu mampu dipercaya dan menjaga kepercayaan itu."
"Ya, Pak Dirut, dan tolong bimbing putriku agar kedepannya bisa lebih baik lagi. Oiya, saat Anda sudah memutuskan untuk menikah, berarti Anda sudah siap membawa orang baru masuk ke dalam kehidupan Anda. Tolong jaga Linda dengan cara menjaga cinta kalian berdua," sela Ayah Berli.
"Pak Berli benar, Ben. Dan jangan lupa, cinta kamu itu bukan hanya untuk Linda saja. Tempatkan posisi mencintai sesuai hirarki. Cinta kepada Allah dan Rasul yang utama, selanjutnya cinta kepada orang tua, baru kemudian cinta kepada keluarga kita."
"Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri. Apakah ibadah kita sudah lebih baik dibanding kemarin? Apakah sudah bisa membuat orang tua kita lebih bahagia dibanding kemarin? Apakah sudah bisa membuat istrimu lebih bahagia dibanding kemarin? Jika semua dijawab ya, maka itulah cinta," tambah Paman Yordan.
"Pak Dirut, nasihat ini berlaku juga untuk putriku, jika putriku memiliki kesempatan untuk mendampingi Anda, tolong bimbing Linda untuk memahami konsep ini," kata Ayah Berli seraya mengulurkan tangan pada Agam.
Agam meraihnya dengan tangan gemetar sambil mengatakan ....
"InsyaaAllah Ayah, akan saya sampaikan, saya mohon doa dan bimbingan dari Ayah."
'Grep.'
Tangan mereka menyatu.
"Oiya, saya ada satu permintaan," kata Agam.
"Katakan," timpal Ayah Berli.
"Permintaan saya harus didukung oleh semuanya, termasuk oleh kalian Enda dan Maxim."
"Apa? Kita juga?"
Maxim terkejut, spontan saling menatap dengan Enda.
"Ya, kalian juga. Begini, saya ingin merahasiakan dulu pernikahan ini dari Linda."
"Lho, kenapa?" Paman Yordan protes.
"Paman, Ayah, saya tidak ingin Linda kaget, itu alasan utamanya. Saya akan menjelaskannya nanti secara bertahap. Selain itu, ada alasan lain kenapa pernikahan ini harus dirahasiakan."
Agam mengedarkan pandangan, ia sedikit kebingungan untuk menjelaskan. Ya, Paman Yordan, Enda dan Maxim memang sudah tahu jika dirinya adalah 'Maga.'
Tapi, Pak Yudha dan Gama jelas tidak tahu. Apalagi Ayah Berli. Beruntung Paman Yordan bisa membaca situasi.
"Baik, kita setuju. Pak Berli, untuk alasan Ben yang ini, nanti kita bicarakan lagi empat mata."
Pak Berli menautkan alisnya, ia ingin protes, 'Kenapa harus dirahasiakan dulu?' Namun pada akhirnya iapun setuju. Dan berpikir, 'Mungkin, Agam perlu waktu untuk mempublikasikan hubungannya dengan Linda.'
Dugaan Ayah Berli tidak serta merta salah. Ya, Agam memang perlu waktu.
Tapi, kenapa harus dirahasiakan dulu?
Alasannya adalah ....
Untuk apa?
Tentu saja untuk dicek latar belakangnya. BRN harus memastikan terlebih dahulu jika calon istri/suami dan keluarga istri/suami para anggotanya bukan pemberontak negara, tidak terlibat organisasi bawah tanah, dan tidak pernah terlibat konflik dengan negara di masa lalu ataupun saat ini.
Jika lulus, lanjutkan. Jika tidak, hanya ada dua pilihan, keluar dari BRN secara suka rela, atau ... dipecat dengan tidak hormat dan tanpa santunan apapun.
Dan Agam memutuskan untuk mengundurkan diri dari anggota BRN. Ia tidak mau pernikahannya dengan Linda membuat Linda atau keluarganya merasa tidak nyaman. Agam tidak ingin keluarga Linda diselidiki.
Sekarang jadi faham kan kenapa anggota BRN ada atau mugkin banyak yang merahasiakan pernikahannya?
Benar, alasannya karena mereka ingin menjaga privasi istri/suami mereka. Konon banyak anggota BRN yang nikah siri, atau menjalin hubungan tanpa ikatan.
Kenapa?
Karena mereka tidak ingin pernikahannya terendus.
Lalu, bagaimana dengan anak/istri/suami mereka? Bukankah mereka juga butuh status hukum?
Seperti itulah kira-kira risiko menjadi anggota BRN. Tidak mudah bukan?
.
.
.
.
"Baik, aku setuju," tegas Ayah Berli.
"Sudah siap?"
Pertanyaan Paman Yordan mengagetkan Agam.
"Si-siap," jawabnya.
Lalu Pak Yudha memimpin doa sebelum ijab kabul. Kemudian menyuruh Agam untuk beristighfar sebanyak tujuh kali.
Dan ....
"Bissmillaahirramaanirrohiim," ucap Ayah Berli.
Ia menggenggam erat tangan Agam. Serius, Agam merasa lemas, dan gugup. Detak jantungnya bertalu-talu. Keringat merembes, mengalir di pelipis dan lehernya. Telinganya memerah.
Ia beberapa kali menelan saliva, menghela napas, dan menghembuskannya perlahan.
Setelah mengucapkan basmalah, dengan lantang dan tegas, Ayah Berli menghentak tangan Agam dan mengatakan ....
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Saudara Agam Ben Buana bin Bapak Agha Lon Buana (almarhum) dengan anak saya yang bernama Linda Berliana Briliant dengan maskawin berupa seperangkat alat shalat dan emas seberat 7,9 gram, tunai."
Bissmillaahirramaanirrohiim. Lalu Agam menarik napas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Linda Berliana Briliant binti Bapak Berli Briliant dengan yang tersebut, tunai," kata Agam.
"Saksi?" Ayah Berli mengerling.
"Tidak sah," jawab Pak Yudha.
"Ya, tidak sah," kata Paman Yordan.
"A-apa? Saya salah?"
Wajah Agam pucat pasi, Maxim dan Enda sibuk mengelap keringat di kening Agam dengan tissue.
Gama yang merekampun turut tegang, namun ia lanjut merekam tanpa berkomentar apapun.
"Ben, kamu lupa dengan kata maskawinnya. Harusnya 'Dengan maskawin yang tersebut, tunai.' Tadi kamu langsung 'Dengan yang tersebut tunai,' tanpa kata maskawin," jelas Paman Yordan.
"Benarkah? Saya merasa sudah benar," elak Agam, ia sedikit mengulum senyum karena teramat malu dan panik.
"Bi-bisa diulang, kan?" tanyanya.
"Tidak, bisa Ben. Kamu gagal menikah," goda Paman Yordan.
"A-apa?" Agam melongo.
Lalu disambut tawa Gama yang tertahan. Pun dengan Paman Yordan dan Pak Yudha, mereka menahan tawa.
"Bisa kok, Pak Dirut. Bisa diulang."
Kalimat Ayah Berli menenangkan Agam. Ya, Agampun pada dasarnya tahu kalau bisa diulang, tapi ia sudah terlanjur gugup.
"Mari kita ulangi lagi."
Ayah Berli kembali meraih tangan Agam. Bibir Agam tampak komat-kamit melafalkan doa dan shalawat, ia memohon kepada-Nya untuk diberikan kelancaran.
Bisa-bisanya aku salah dan mengulang. Ah, aku malu pada ayah mertua.
"Bismillaahirramaanirrohiim, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Saudara Agam Ben Buana bin Bapak Agha Lon Buana (almarhum) dengan anak saya yang bernama Linda Berliana Briliant dengan maskawin berupa seperangkat alat shalat dan emas seberat 7,9 gram, tu--nai."
A'uudzubillaahiminassyaitoonirojiim, bissmillaahirramanirrohiim.
"Saya terima nikah dan kawinnya Linda Berliana Briliant binti Bapak Berli Briliant dengan maskawin tersebut, tunai," kata Agam.
"Saksi?"
"SAH," sahut Paman Yordan.
"SAH," timpal Pak Yudha.
"Alhamdulillaah hirobbil 'aalamiin," ucap semuanya serempak, kecuali Maxim dan Enda.
"Allahumma inni as aluka khoyrohaa wa khoyro maa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa min syarri maa jabaltahaa alaih," lanjut Pak Yudha.
Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau ciptakan atasnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan atas yang Engkau ciptakan.
Lalu Pak Yudha melanjutkan doanya, dan diaminkan oleh semua yang hadir termasuk pengunjung masjid lain yang kebetulan ada di tempat tersebut.
Akhirnya, atas kehendak-Nya, tepat pada pukul 00.39 waktu sempat, Agam Ben Buana SAH secara agama menyandang gelar dan status baru sebagai 'Suami' dari Linda Berliana Briliant.
"Semoga sakinah mawaddah warahmah," pungkas Pak Yudha.
"Aamiin."
Semuanya bernapas lega, Agam dipeluk secara bersamaan oleh Ayah Berli dan Paman Yordan.
Gama tak kuasa menahan rasa haru, air mata Gama meleleh. Andai Ayah dan ibunya menyaksikan, mereka juga pasti akan terharu dan bahagia.
.
.
.
.
Lindaku, sayangku, sekarang kamu adalah istriku.
You are mine, forever and only (kamu milikku, selamanya dan satu-satunya).