AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Episode H-4



Di tengah megahnya acara aqiqah twins, Freissya merenung seorang diri di taman bunga yang berada kediaman Agam Ben Buana. Ia melamun karena teramat merindukan suaminya. Suami yang akhir-akhir ini jarang memberinya kabar dengan alasan sibuk, sibuk, dan sibuk.


Dari taman ini, ia dapat melihat kemeriahan acara. Saat ini, sedang berlangsung acara ramah-tamah dan santap-santap setelah sebelumnya dilaksanakan acara potong rambut sekaligus pengumuman nama twins. Media lokal tampak mengelilingi area utama podium. Mereka tengah mengambil foto keluarga Agam Ben Buana.


Agam, Linda, Keivel, twins, bu Nadia, ayah Berli, bu Ana, serta Yolla dan Yolli, tampil kompak dengan dress code cantik perpaduan antara warna biru, pink, dan warna putih. Dress code Freissyapun senada dengan busana yang digunakan oleh keluarga Agam dan ayah Berli.


Linda bak ratu sejagat, Agam laksana raja yang gagah perkasa dengan sejuta pesonanya. Sementara Keivel, tampil memukau layaknya pangeran dari negeri dongeng. Lalu twins, tentu saja sedang menjadi bintang panggung dan pusat perhatian karena kecantikan, dan ketampanannya. Keluarga Agam dan Linda bersuka cita. Senyum sumringah terpancar dari wajah mereka.


Di dinding podium utama, terukir indah nan megah karangan bunga hidup yang menuliskan nama twins.


"AIDAN LAY ZAHAB B. BUANA & ARIELLA LEILA ZANDRA B. BUANA."


"Nama yang indah, bisa dijelaskan maknanya, Pak? Kami sangat penasaran. Lalu, nama panggilannya apa?" tanya wartawan yang terpilih dan mendapat kesempatan untuk bertanya.


"Aidan Lay Zahab B. Buana bermakna anak yang tidak mudah menyerah, lemah-lembut, dan berharga seperti emas. B-nya singkatan dari nama keluarga istri saya, Brilliant. Buananya diambil dari nama saya," terang Agam. Lalu menyerahkam mikerophone pada Linda untuk menjelaskan nama putri mereka.


"Ariella Leila Zandra B. Buana artinya perempuan pemberani yang bisa melindungi. Leilanya bermakna malam. Kenapa disematkan nama yang bermakna malam? Aku juga tak tahu. Itu ide suamiku," kata Linda seraya melemparkan senyum pada Agam.


Wartawan dan tamu undangan langsung riuh, merekapun menduga-duga dan bergumaman dengan berbagai asumsi.


"Mungkin karena lahirnya di malam hari."


"Atau bisa jadi karena twins dibuatnya di malam hari." Mereka menerka sambil menahan tawa.


"Suasana malam pasti sangat spesial bagi Pak Dirut," celetuk pengujung lain. Mendengar keriuhan, Agam sigap menenangkan situasi.


"Saya menyematkan nama bermakna 'malam' karena malam adalah waktu yang tepat untuk saya melepas penat dan lelah. Malam juga menjadi waktu berharga untuk saya karena di malam hari, saya memiliki banyak waktu senggang untuk bermunajat dan berkeluh kesah di hadapan-Nya," jelas Agam.


"Oh, begitu ya? Kami faham," ujar seorang wartawan.


"Untuk nama panggilannya, kami sepakat memanggilnya Lay dan Lei. Jadi, ada tiga nama panggilan singkat untuk anak-anak kami. Kei, Lay, dan Lei," tutur Agam. Bersamaan dengan itu, si sulung yang menggemaskan tiba-tiba datang dan segera memeluk parennya. Rupanya, Keivel sudah tak sabar ingin berpidato.


"Kapan Kei pidato?" tanyanya. Wajah gemoynya langsung disorot kamera.


"Belum saatnya Kei, sebentar lagi. Sabar ya," bujuk Linda.


Sebenarnya, keluarga besar Agam masih menunggu kedatangan Gamayasa Val Buana, namun kedatangan Gama molor karena terkendala cuaca buruk. Sesuai keinginan Agam, acara aqiqah twins dilaksanakan setelah shalat Dzuhur dan akan berakhir sebelum Maghrib.


Semua kolega bisnis Agam Ben Buana diundang, dari keluarga Haiden, hingga kolega yang berasal dari berbagai daerah di negeri ini. Mereka datang membawa doa dan kado untuk twins.


Pengacara Vanopun datang bersama istrinya. Sementara Yohan, datang seorang diri. Kali ini, Yohanpun menjadi pusat perhatian tamu-tamu pak Dirut karena penampilannya yang menyejukkan. Pria berkulit sangat putih itu memakai baju khas muslim berwarna merah dengan bawahan celana panjang berwarna hitam. Warna busana dan kulit Yohan terlihat kontras. Menjadikan penampilannya tampak cemerlang dan menonjol.


Banyak tamu wanita meliriknya. Namun sayang, tak ada satupun tatapan mereka yang dibalas oleh Yohan. Sang maniak sudah bertaubat, jiwa buayanya telah dikandangkan. Tuan Yohan Nevan Haiden yang sekarang, bukanlah tuan Yohan yang dulu. Semuanya telah berubah. Yohan menjemput hidayahnya melalui pelantara seorang gadis belia dari Pulau Jauh bernama Sea.


Acara prasmanan diiringi nasyid merdu yang dilantunkan oleh anak-anak panti asuhan. Selanjutnya adalah acara tausiyah yang akan disampaikan oleh ustadz tertama di negeri ini. Sebelim tausiyah dimulai, tamu undangan riuh karena Keivel akan berpidato. Gaya Keivel begitu lucu sampai-sampai semua orang termasuk nona Aiza merasa gemas.


Keivel tampil percaya diri. Saat ia mengucap salam, hadirin langsung tertawa.


"Assawamu'awaikum (Assalamu'alaikuum)."


"Hahaha hahaha." Didominasi oleh tawa. Hanya sebagian kecil yang menjawab salam Keivel tanpa tertawa.


"Sawam (salam) itu wajib dijawab! Kenapa mawah (malah) ditewtawakan (ditertawakan)?" Keivel marah.


"Ihhh," kata Aiza sambil mencubit tangan Deanka saat Keivel mulai berorasi.


"Za, sakit."


"Aku gemas sama Keivel, Kak. Pak Agam dan LB pintar sekali membuat adonannya."


"Hei, Tuhan yang menjadikan seorang anak menjadi tampan dan cantik. Anak kita juga lucu, baby. Apa kamu lupa dengan anak kita sendiri gara-gara melihat Keivel?"


"Ya tidak mungkin lupa 'lah, Kak. Maaf, Kak." Aiza akhirnya berhenti memuji Keivel karena wajah Deanka tampak tidak senang. Lanjut menyimak pidato singkat Keivel.


"Tewima kasih (terima kasih) untuk Kak Indah77, Kak Kaywa Yazna (Kak Kayra Yazna), Kak Nieda, Kak Nani Evan, Kak Ai Doank, Kak Zezen, Kak Azzahwa (Kak Azzahra), Kak Sa Sa, Kak Ningwum Astuti (Ningrum Astuti), Kak Dewi Westawi (Kak Dewi Lestari), Kak Denovi, Kak endwae (Kak endrae), Kak Zoew Zoew (Kak Zoer Zoer), Kak Nada, Kak Miftah Ansowi (Kak Miftah Ansori), Kak mawtiana tya (martiana tya), dan wain-wain (lain-lain) yang sudah give Kei hadiah. Semoga kebaikan kakak-kakak sekawian (sekalian) dibawas (dibalas) oweh (oleh) bewkah (berkah) dan kebaikan dawi (dari) Yang Maha Esa. Aamiin."


"Aamiin." Dijawab serempak.


Nama-nama kolega Agam yang disebutkan oleh Keivel tampak tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah kamera saat nama mereka disebutkan. Seluruh kolega tersebut hadir dalam balutan gaun indah nan elegan.


"Thank's untuk Mom and Paw yang sudah kasih hadiah adik twins. Kei bahagia jadi kakak. Kei akan jaga twins. Kei mau jadi kakak yang membanggakan untuk twins. Hoaaam, ini jamnya Kei bobok siang. Maaf, pidatonya sudah ya. Padahaw (padahal), Kei masih mau bicawa (bicara) banyak."


Disambut tawa dan tepuk tangan saat Keivel mengucap salam, lalu berjalan begitu saja meninggalkan podium menuju ke pangkuan Maxim yang sudah merentangkan tangannya.


Agam dan Linda saling menatap sambil mengulum senyum. Saking patuhnya terhadap jadwal harian, mereka tak menyangka jika Keivel rela meninggalkan acara ini demi tidur siang.


Hadirinpun fokus kembali ke acara berikutnya yaitu tausiyah yang bertemakan Wisata Religi and Heart Healing.


...❤...


...❤...


...❤...


"Kenapa aku tak boleh pulang?" Freissya bingung sebab tiba-tiba dilarang pulang oleh Linda.


"Kamu ikut kami ke suatu tempat, jagain twins, mau?" sela Agam yang saat ini tengah disisiri rambutnya oleh Linda. Mereka sedang berada di kamar utama.


"Bukankah ada suster Dini dan ners Sinta?" Freissya masih kebingungan.


"Selesai acara aqiqah, ners Sinta mengajukan cuti. Jadi, untuk sementara waktu, suster Ice menggantikan ners Sinta, mau?" Lagi, Agam yang merayu. Ia rela membohongi adik iparnya demi menjalankan misi dari si adik kesayangan.


"Emm, boleh 'deh."


Freissya menyepakati. Lagi pula, ia berpikir butuh healing sejenak untuk menenangkan batinnya yang tengah dirundung rindu. Rindu pada sang suami.


"Ya sudah, kamu siap-siap ya. Nanti naik mobil bareng sama Kakak," tambah Linda.


"Tidak bareng sama twins?" tanya Freissya.


"Lay dan Lei ada di mobil lain." Lindapun berbohong demi adik iparnya.


"Hahaha hahaha."


Setelah Freissya meninggalkan kamar utama, Linda dan Agam tergelak. Mereka merasa senang karena rencana membawa Freissya ke hotel yang diinginkan Gama nyaris berhasil.


"Pak, aku pasti rindu twins."


Sambil merapikan dan memasukkan alat pompa ASI ke dalam tas, Linda menjelaskan kekhawatirannya pada Aidan dan Leila.


"Ssst, hanya satu malam sayang." Pak Dirut beralibi sambil memeluk punggung Linda.


"Kita lakukan di kamar ini saja yuk, Pak. Biar suster Ice dan Gama saja yang menginap di hotel." Linda ternyata masih ragu.


"Sayang, nanti suster Ice bisa curiga. Lagi pula, apa yang kamu khawatirkan, hmm? Stock ASI dari Amarillys 'kan sudah datang sayang. Lay dan Lei juga menyukai ASI Amarillys," jelas Agam. Ia benar-benar tak ingin melewatkan momentum unboxing pasca kelahiran twins.


Linda menghela napas. Lalu menatap Agam yang melemparkam senyum. Sebuah senyumam yang nyatanya mampu menggoyahkan dan meluluhkan hati Linda.


"Baiklah."


Jawaban Linda membuat pak Dirut girang tiada terkira. Segera memeluk Linda dan menyampaikan rasa terima kasih berulang-ulang.


"Terima kasih, sayang ...." Seraya memagut bibir merah milik istrinya.


"Pak, cu-cukup." Linda mengelak karena pak Dirut terkesan menuntut.


"Ma-maaf sayang. Saya tidak bisa menahan diri."


"Sabar 'dong Pak. Kan bisa dilanjutkan di hotel," goda Linda.


.


.


"Kok aku tak melihat mobil Pak Agam yang biasa membawa twins?" Freissya heran. Berulang kali ia menoleh ke belakang untuk memastikan dugaannya.


"Mereka sudah berangkat lebih awal," terang Agam yang kali ini sedang mengemudikan mobil.


"Tidak," jawab Linda.


"Terus, Kak Linda dan Pak Agam mau apa keluar malam-malam begini?"


"Mau bersenang-senang," celetuk Agam.


Jawaban Agam membuat Freissya mengernyitkan alisnya.


"Sudah, ikut saja," timpal Linda.


Ternyata, perjalanan ini memerlukan waktu cukup lama. Hingga Freissya ketiduran.


...❤...


...❤...


...❤...


Sekitar satu jam tiga puluh menit kemudian, merekapun sampai di tempat tujuan. Freissya segera dibangunkan dan dituntun oleh Linda menuju hotel dalam keadaan sedikit linglung ala-ala bangun tidur.


Sementara itu, Agam Ben Buana tampak bergegas lebih dulu untuk menemui seseorang yang sangat dirindukannya. Hampir tiga tahun lamanya mereka berpisah. Wajar jika Agam begitu antusias untuk menemuinya.


"Ga-Gama."


Agam memanggil sosok yang ia rindukan. Mereka bertemu untuk pertama kalinya di ruangan khusus hotel tersebut. Gama tengah duduk sambil menikmati kudapan. Dua orang temannya segera berlalu kala melihat kedatangan Agam.


"Kak."


Hanya kata singkat itu yang diucapkan Gama saat ia harus menahan diri dari dekapan Agam. Agam memeluknya erat, tak mengatakan apapun, namun dari raut wajahnya, jelas sekali jika pak Dirut begitu terharu dan bahagia.


"Mau nangis? Nangis saja, Kak," ledek Gama yang penampilannya terlihat lebih gagah, berisi, dan berotot.


"Nangis? Tak mungkin," jawab Agam. Ia melepas dekapannya sambil mengusap bahu kokoh adiknya. Lalu meninju perut Gama yang ternyata sudah pejal.


"Tubuhmu bagus," puji Agam. Terlalu banyak hal sebenarnya ingin ia tanyakan. Ujung-ujungnya, malah memuji sang adik.


"Aku ingin panco sama Kakak. Penasaran, siapa yang paling kuat?" tantang Gama seraya duduk kembali dan menyodorkan botol air mineral ke hadapan Agam.


"Mau panco sekarang? Siapa takut?" Agam tersenyum sambil menyingsingkan lengan bajunya.


"Tidak sekarang, Kak. Agenda sekarang, akan aku gunakan untuk menghabisi istriku dulu," jawab Gama.


"Hahaha, hati-hati, lepaskan dulu tas ranselnya," ucap Agam.


"Maksud Kakak?"


"Alkisah, pada zaman dahulu, ada seorang pelaut yang pulang untuk menemui istrinya setelah beberapa tahun tidak bertemu. Saat bertemu, sang suami langsung mengajak istrinya untuk bercinta. Di tengah percintaan, saat sedang sibuk-sibuknya, si istri menyadari sebuah kejanggalan."


Gama menyimak dalam keadaan masih menautkan alisnya.


"Di tengah gelora, si istripun bertanya, 'Sayang, aku merasa kamu semakin berat, padahal, kamu tak berubah jadi gemuk.' Suaminya menjawab, 'Berat badanku masih sama, sayang.' Nah, setelah mencapai puncaknya, si istri baru menyadari kalau suaminya ternyata masih memakai tas ransel." Agam mengakhiri ceritanya.


"Apa? Hahaha." Gama tertawa.


"Aneh, memangnya suaminya tak melepas bajunya?" protes Gama.


"Hahaha, mungkin langsung to the point. Jadi, hanya melepas underware," duga pak Dirut. Lalu merekapun tertawa bersama.


"Kalian di sini?" Linda tiba. Tapi tanpa Freissya.


"Kakak ipar?" Gama langsung berdiri. Namun, saat Linda hendak memeluk Gama, Agam menghadang Linda.


"Hanya saya yang boleh kamu peluk, cukup salaman saja," tegas Agam.


"Pak, aku kangen sama Gama."


"Kangen boleh, peluk jangan." Pak Dirut bersikeras.


"Haish," rutuk Linda. Lantas bersalaman dengan Gama.


"Kamu semakin tampan, makin gagah, dan terlihat lebih sehat." Linda terpukau.


"Sayang, hanya saya yang boleh kamu kagumi." Pak Dirut kembali protes.


"Hahaha, nanti aku dan Kakak mau adu panco, mari kita buktikan, siapa yang lebih kuat? Pasti aku."


"Sayang, otot saya lebih besar," sela Agam.


"Hahaha, itu dulu Kak. Sekarang, aku yang lebih besar." Gama sesumbar.


"Sudah-sudah, kalian kayak anak kecil 'deh. Sekarang lebih baik kita segera ke kamar masing-masing," ajak Linda sambil merangkul bahu pak Dirut.


Merekapun meninggalkan ruangan itu sembari bersenda gurau. Gama melambaikan tangan saat ia berada di depan kamar hotel milik Agam dan Linda. Setelah Agam dan Linda memasuki kamarnya, Gama berjalan cepat menuju kamar lain yang diperuntukkan untuk ia dan Freissya. Gama tak sabar, iapun berlari agar pertemuannya dengan belahan jiwa dapat dipercepat.


.


.


Gama mengatur napas saat ia telah sampai di depan kamarnya. Lantas memegang dadanya karena debaran kerinduan itu semakin kuat saja. Jantungnya berdegupan, ingin segera bersua dan meluapkan segenap rasa yang selama ini membelenggu jiwa raganya.


Setelah tenang, Gama membuka kunci kamar dengan kartu duplikat.


'Klak.'


Pintu kamar terbuka pelan. Gama mematung di ambang pintu, lalu menutup dan mengunci pintu tanpa melepas tatapannya dari sosok imut dan cantik yang saat ini sudah tertidur. Ya, karena mengantuk, Freissya melanjutkan kembali tidurnya yang sempat terganggu saat harus turun dari mobil.


Gama mendekat. Freissya tak berubah, malah tambah cantik. Sementara dirinya yang bongsor jelas mempertegas pandangan orang lain jika ia lebih tua daripada Freissya. Padahal faktanya, mereka seumuran dengan selisih usia beda dua bulan.


Ingin rasanya ia menindih Freissya saat ini juga untuk melampiaskan hasratnya. Tapi, Gama merasa kasihan. Iapun memutuskan untuk menunggu sampai Freissya bangun. Padahal, Gama sudah prepare, karena tak ingin menyia-nyiakan waktu, ia sengaja mandi dan mengganti bajunya di markas BRN.


Gama masih mematung menatap Freissya saat rok istrinya itu menyingkap ke atas karena Freissya menggaruk kakinya. Otomatis, yang awalnya ingin menunggu jadi tak sabaran. Setelah melepas sepatunya, Gama naik ke tempat tidur. Ia menghidu dan mengecupi kaki Freissya seraya mengelusnya.


Saat Gama tak sengaja melirik bayangan dirinya di cermin, Gama terhenyak, ia menutup bibirnya sendiri untuk menahan tawa. Baru sadar kalau dirinya belum melepas ransel yang masih melekat di punggungnya.


Gama tersenyum, pipi dan telinganya memerah. Awalnya, ia tak percaya dengan cerita Agam tentang pelaut yang lupa melepas ransel. Tapi ternyata, ia baru saja mengalaminya. Fix, Gama yakin jika cerita Agam bukan cerita fiksi.


Gama segera melepas ranselnya dan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Di kamar mandi, ia tertawa seorang diri.


"Hahaha hahaha."


Gama merasa malu pada dirinya sendiri. Lalu kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan yang tadi tertunda. Kali ini, ia melepas terlebih dahulu sebagian busananya. Wah, tubuh Gama benar-benar telah berubah. Jadi lebih atletis dari sebelumnya. Kembali merangkak ke tempat tidur dengan semangat menggebu. Lanjut melepas perlahan rok milik Freissya sambil menelan kasar salivanya.


Bahkan, sudah ada yang berdiri tegak. Padahal, di kamar mewah ini tak ada tiang bendera.


Selanjutnya ....


...~Tbc~...


Berikut, tamu undangan dari berbagai daerah yang hadir di aqiqahnya twins. Bahkan ada yang berasal dari negara tetangga yaitu kak Nieda. Terima kasih banyak atas dukungan dan kehadirannya. Semua kebaikan akan selalu dibalas oleh kebaikan. Balannya bisa jadi datang dari hal-hal yang tidak kita sadari. Oiya, terima kasih juga kepada kak Kis Tatik yang sering berkunjung ke rumah AGAPE, dan terima kasih jua untuk yang hadir namun nama-namanya tidak disebutkan.