AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kesepakatan dan Pertemuan



Apartemen


Semua orang di dunia ini tidak ada yang menginginkanku, hanya dunia gelap yang kadang menganggap keberadaanku. Itu juga setelah mereka tahu jika aku memiliki kemampuan yang mereka butuhkan, lalu memanfatkanku.


Kenapa sulit sekali untuk menjadi orang baik? Dulu, saat aku menjadi kapten pesawat kenegaraan, aku merasa sangat bahagia. Aku berpikir kehidupanku akan berjalan normal seperti orang lain pada umumnya.


Namun tiba-tiba kamu datang, memfitnahku, dan menghancurkan semuanya. Hingga aku dipecat, dan terpaksa terjun di dunia yang sulit. Ini semua gara-gara kamu.


Jika saja aku tidak dipecat, mungkin ... aku tidak menjadi manusia sekeji ini. Sekarang, aku benar-benar kotor, bahkan lebih kotor dan menjijikkan daripada sampah.


Cap maniak **** sudah tersemat padaku. Aku bahkan malu untuk bertaubat, karena aku merasa teramat kotor dan hina.


Maniak?


Ya, aku memang maniak, aku tidak mengkonsumsi Napza saat aku merasa tertekan dan stres. Aku lebih suka **** daripada obat-obat terlarang. Bagiku, **** lebih nikmat dan candu daripada obat-obatan.


Yohan Nevan Haiden, si manik jahat itu sedang melamun di balkon apartemen miliknya saat seseorang yang diduga sebagai asisten mengetuk pintu kamarnya.


"Mengganggu saja! Ada apa?!" bentaknya saat ia membuka pintu kamar.


"Maaf, Tuan. Ada yang ingin bertemu. Wanita cantik, Tuan. Seksi juga, tapi dia tidak berhenti menangis. Saya juga bingung," kata asistennya.


"Seksi? Cantik? Usir saja! Aku tidak memesan wanita, semenjak keluar dari penjara aku belum menyewa j a l a n g lagi. Mungkin dia mantan pelangganku."


"Awalnya saya akan usir, Tuan. Tapi dia menyebut nama Agam Ben Buana dan HGC, bagimana Tuan? Usir saja?"


"Apa?! Siapa dia? Kamu tidak tanya namanya? Ah, kalaupun kamu tanya juga percuma sih, aku tidak pernah mau tahu nama j a l a n g - j a l a n g itu. Aku bahkan tidak mengingat wajah mereka. Ya usir saja."


Yohan menutup kembali pintu kamarnya. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. Lalu membuka kembali pintu kamarnya saat asistennya baru saja membalikan badan untuk beranjak.


"Alex, tunggu."


"Ya Tuan." Alex membalikan badan.


"Kamu bilang dia cantik dan seksi, kan? Aku jadi penasaran. Biarkan dia masuk."


"Baik, Tuan."


"Oiya, bagaimana dengan gadis itu, apa sudah mau makan?"


"Belum, Tuan. Sudah dipaksa tapi tetap tidak mau."


"Kenapa?! Apa dia mau mati?!" teriak Yohan.


"Ya Tuan, katanya dia memang mau mati saja."


"Sialan! Begini saja, kamu panggil lagi dokter, terus suruh dokter menginfusnya, beri dia vitamin pengganti makanan. Ikat saja kalau dia menolak. Yang penting ada nutrisi masuk dan gadis itu tidak mati."


"Baik, Tuan."


Beberapa menit kemudian, pintu kamar Yohan diketuk lagi. Pria itu segera membuka pintu. Dan dia terkejut.


"Fa-Fanny?!" katanya.


"Hei, keparat apa yang kamu lakukan, hahh?!"


Fanny langsung masuk ke dalam kamar, berjinjit, lalu menjambak rambut Yohan.


"Hei, hei, Fanny! Kamu gila ya! Lepaskan tanganmu!"


Yohan menahan tangan Fanny lalu mendorong wanita itu hingga tersungkur ke lantai.


"Kamu harus tanggung jawab bajingan! Vidio kita di HGC ada di situs dewasa! Huuu hwaaa!" teriak Fanny. Ia menangis dan menjerit sejadi-jadinya.


"Apa?!" Yohan kaget.


"Jangan munafik, Tuan! Bisa-bisanya kamu terlihat kaget, sementara wajah kamu di vidio itu terlindungi, huuu .... Aaaa!" teriaknya.


"Berisik! Maksudmu apa?! Aku juga tidak mau tubuhku jadi konsumsi publik! Aku kaget sungguhan, Fanny!" teriak Yohan sambil berkacak pinggang dengan wajah merah-padam.


"Wajah kamu digantikan oleh wajah pak Agam, editannya bagus sekali. Yang tidak mengenal Pak Agam pasti mengira itu vidio asli," terang Fanny.


"Apa?! Hahaha, hahaha, huahahah, suprise sekali, aku bahagia mendengarnya." Yohan tergelak puas.


"Huuu, tolong lakukan sesuatu, Tuan. Aku tidak mau dipermalukan seperti ini. Aku tidak mau vidionya tersebar semakin luas, bagaimana dengan keluargaku? Mereka pasti kecewa. Cepat lakukan manipulasi pada situsnya, Tuan. Hukks ...."


"Fanny, dengar ya! Vidio itu tidak diupload dan dibuat atas perintahku! Aku tidak tahu apa-apa! Atasi masalahmu sendiri!"


"Jangan bohong, Tuan! Atau aku akan membongkar ke publik kalau pemeran prianya adalah kamu!" teriak Fanny sambil bediri dan memukul-mukul dada Yohan.


"Fanny!"


Tangan Fanny ditarik dan dihempaskan, wanita itu meringis kesakitan.


"Demi Tuhan, aku bukan dalang yang menyebarkan vidio itu! Pelakunya kemungkinan adalah orang yang dendam juga pada Dirut yang sok jagoan itu! Pelakunya pasti memiliki misi yang sama denganku. Ingin menghancurkan Agam Ben Buan, hahahah. Bagus, aku jadi senang mendengarnya."


"Lakukan sesuatu, Tuan Yo. Kumohooon .... Kalau Anda tidak membantuku, serius aku akan buka mulut," ancamnya.


" Hahaha. Fanny, itu vidio lama, lagipula aku sudah membayar tubuh kamu! Hmm ... atau begini saja." Yohan menautkan alisnya sambil menyeringai licik.


"Aku ada ide, kuharap kamu bisa bekerja sama. Tenang saja, dalam hal ini ... kamu tidak akan dirugikan. Mari kita membuat kesepakatan."


"Jangan menipuku, Tuan Yo." Fanny mengusap airmatanya.


...*...


...*...


...*...


...*...


Kediaman Agam Ben Buana


"Ben? Ya Tuhan. Kok kamu makin ganteng saja sih?"


Paman Yordan memeluk Agam sambil menepuk punggungnya.


"Paman juga semakin tampan dan sehat."


Mata Agam berbinar. Ia bahagia tiada terkira. Mereka sudah berada di dapur.


"Apa emailnya sudah dibaca semua?" Sambil menyiapkan menyiapkan minuman, Agam bertanya tentang hal itu.


"Sudah Ben, panjang sekali. Rumit sekali kisah cintamu." Lalu meneguk perlahan minuman yang dihidangkan.


"Paman sudah shalat Maghrib?"


"Sudah, tadi di Bandara."


Agam duduk menghadap Paman Yordan, hingga kedua lutut mereka bertemu.


"Paman ingat semua isi emailnya, kan?"


"Ingat dong, Ben. Dan yang paling teringat wajah wanita itu, siapa? Emm, Linda Berliana? Hahahah, pantas saja kamu tergila-gila, dia cantik sekali. Ya, walau cara kamu menemukan dia sangat ekstrem, hahaha."


"Tidak ekstrem, Paman." Wajah Agam bersemu merah.


"Viollin sampai menonton YT untuk melihat vidio lama Linda membaca berita. Awalnya, Paman ingin menghajar kamu. Jujur, Paman juga marah atas perilaku biadab kamu. Paman tidak menyangka, Ben. Paman sempat syok."


"Saya mengaku salah Paman, saat itu saya benar-benar diluar kendali, awalnya hanya ingin mengerjainya, tapi kepalaku hilang akal. Saya kehilangan akal sehat, dan marah."


"Hmm, siapa yang bisa tahan dengan kecantikan dia, Ben? Kalaupun ada, pastinya langka. Paman saja yang sudah memiliki Viollin dan dua orang anak, langsung berdebar saat melihat foto dia, hahaha." Paman Ben geleng-geleng kepala.


"Kak Viollin juga cantik, awas saja kalau Paman sampai menghianatinya."


"Hahaha, tidak akan Ben. Tidak perlu khawatir. Paman hanya kagum saja pada calon istri kamu. Parahnya, saat dia berbicara suaranya saja sudah seksi begitu. Ya ampun, apa dia bisa bernyanyi?"


Paman Ben masih geleng-geleng kepala. Ia heran karena Agam bisa menemukan wanita tipe penggoda, eh maksudnnya wanita cantik sememesona itu.


"Dia bisa bernyanyi Paman, dan bisa lain-lain."


"Apa?! Wah, apa merdu? Kamu sudah mendengarnya? Paman mau dengar dong, Ben."


"Suaranya mengerikan Paman, membangkitkan ---."


"Kepala bawah, hahaha." Sela Paman Yordan sebelum Agam menyelesaikan kalimatnya.


"Ya, benar." Dan Agam kaget, dengan jawaban spontannya.


"Apa?! Wuahahaha."


Paman Ben kembali tergelak. Terpingkal-pingkal, dan kali ini sampai mentoyor kening Agam, menendang kaki Agam dan menonjok dadanya.


"ARRGH! Paman, saya terluka di bagian itu." Agam memegang betis kirinya sambil meringis.


"Ben, kamu kenapa? Ben!"


Paman Yordan terkejut karena dari betis Agam yang memakai celana berwarna krem itu ada rembesan darah.


"Ahhh, saya belum sempat menceritakan yang ini, aduh Paman, jahitannya kemungkinan terbuka. Paman menendangku terlalu keras."


"Aduh, maaf Ben. Paman tidak tahu kamu terluka, malah itu kurang keras. Anggap saja sebagai hukuman dari Paman karena kamu sudah sembarangan memasukkan big brother. Hahaha."


"Paman jangan bercanda terus, saya serius, ini sakit sekali. Tadi sore baru selesai operasi angkat peluru."


Akhirnya obrolan unfaedah antara Agam dan Paman Yordan berakhir jua setelah kaki Agam berdarah.


"Ya ampun Ben, apa kamu terluka saat bertugas sebagai Maga?" Paman Yordan ternyata sudah tahu.


"Tepat," jawab Agam singkat.


"Siapa nama pengawal kamu? Nanti Paman panggilkan."


"Yang dua orang di depan namanya Enda dan Maxim. Ada seniornya, Pak Yudha namanya. Sedang berada di lantai dua bersama ayahnya Linda."


"Apa?! Dia ada di sini?"


"Ya Paman, di luar dugaan saya, tapi ... saya yakin ini jalannya."


Agam dipapah Paman Yordan menuju kamar di lantai satu yang didesain mirip kamar perawatan.


Kamar yang dulu pernah digunakan oleh dokter Fatimah untuk melakukan USG pada Linda sebelum keguguran.