
Kali ini yang menyetir adalah Bagas, Linda ada di kursi penumpang, Agam ada di samping kemudi. Agam tampak murung dan dingin. Apa karena efek makan petis? Entahlah. Yang jelas, detik ini juga Linda merasa bersalah.
"Pak Agam," panggilnya. Agam diam saja, bersamaan dengan itu ponsel Agam berdering. Agam langsung mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya Agam. Ia memasang headset.
"Lapor Pak, saya menemukan data penerbangan pria bernama Angga Raya Permana. Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, saya yakin jika pria ini identik dengan pria yang Anda cari."
"Apa?! Baik, awasi dia, laporkan pergerakan dia setiap dua jam. Segera kabari jika dia melakukan hal-hal mencurigakan," tegas Agam.
Agam mengepalkan tangannya saat menutup panggilan. Agam bingung, harus seperti apa ia menghadapi Angga? Apa ia yakin akan menemui pria itu dan menjelaskan semuanya? Ia berharap Angga tidak menerima Linda, tapi ... bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau Angga menerima kondisi Linda?
Satu hal lagi, Agam belum tahu pasti sikap dan sifat pria itu. Bagaimana kalau pria itu tidak terima kekasihnya diperkosa, dan melaporkan Agam ke polisi?
"ARGH." BRAK. Agam berteriak seraya memukul dashboard.
Bagas terkejut, begitupun dengan Linda. Belum hilang rasa bingungnya, biro iklan yang dituju sudah semakin dekat. Dari kejauhan tampak puluhan wartawan yang berkerumun menanti kedatangan sosok bintang baru brand ambassador produk HGC.
"I-itu, se-seramai itu?" Bagas gugup.
"Ya," kata Agam.
"Apa?! Bagaimana ini?" Linda gelagapan.
"Bagas."
"Ya, Pak Agam."
"Kamu turun duluan, alihkan konsentrasi mereka," kata Agam.
"Baik Pak."
"Pak Agam, syuting iklannya kan belum, kenapa wartawannya sudah sebanyak ini? Saya belum siap diwawancara Pak," keluh Linda saat Bagas sudah turun dari mobil.
"Sudah saya katakan. Selama ada saya, Anda tidak perlu khawatir. Oiya, setelah syuting iklan ini selesai, mari kita bicara serius, ada yang ingin saya sampaikan," terang Agam.
"Mau membahas apalagi Pak? Apa tentang kerja sama kita?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Ini tentang saya, kamu dan dia."
"Maksud Bapak?" Linda menatapnya penasaran.
"Saya ingin membahas hubungan saya dengan Anda, dan hubunga Anda dengan pria bernama Angga." Agam lalu membuka pintu mobil, dan saat itu juga para wartawan menyerbunya.
Linda terhenyak. Ia masih mematung bingung, bertepatan dengan seorang wartawan yang menyadari keberadaannya karena mengintip pada kaca mobil.
"LB?!"
Wartawan itu terkejut, sontak yang lain pun penasaran dan beberapa ikut mengintip.
"Pak Agam, apa bintang yang Anda maksud adalah LB?"
Suasana menjadi ricuh, dan Agam memilih bungkam, ia menepis para wartawan.
Karena Linda tidak turun dari mobil, Agam akhirnya membuka pintu, dan mengulurkan tangan pada Linda tanpa ada kata apapun. Linda meyambut tangan Agam dengan gemetar. Di seberang sana, tampak Bagas sedang berusaha mendekat bersama beberapa orang petugas keamanan dari biro iklan.
Agam menggandeng Linda. Hari ini, untuk pertama kalinya ia hadir di depan publik bersama seorang wanita. Seluruh awak media terkejut, dan mata kamera membidiknya.
Ya, yang mereka tahu LB itu hilang, namun kenapa hari ini LB tiba-tiba muncul bersama direktur utama HGC? LB juga hadir di tengah desas-desus akan adanya bintang brand ambassador baru untuk HGC.
Agam telah menabuh genderang perang. Ulah Agam membuat blunder, geger dan gusar beberapa pihak terkait.
.
.
Rufino Pederik meradang, ia langsung menyusun rencana untuk mendapatkan LB.
Sementara itu, Bima Setiawan sebagai kepala penyiaran stasiun TV KITA kalang-kabut, bahagia campur bingung. Ia dan tim segera melalukan rapat mendadak untuk menyikapi kemunculan LB.
.
.
Deasy Monickta yang berperan sebagai pengganti LB, begitu terkejut dengan kemunculan LB yang tiba-tiba, dan kehadiran sosok pria di samping LB, membuat kebenciannya pada LB semakin menjadi.
"Dasar ja lang, kemarin kamu main ranjang bersama politisi, sekarang kamu bersama dia. Demi uang si LB bahkan tak peduli kalau pria itu .... Gosipnya Agam Ben Buana pisang makan pisang, kan? Cuih, kamu cantik, tapi menjijikkan LB. Anehnya, Pak Bima selalu menginginkan kamu. Dasar penyihir! Kamu tidak boleh merebut posisiku penyihir," umpat Monik.
Ia segera mematikan televisi dan menghubungi seseorang.
.
.
Clara Mahcota yang merupakan istri dari Rufino Pederik pun tak kalah terkejutnya. Tekadnya untuk membunuh LB semakin bulat, dan keberadaan Agam di samping LB membuatnya mengernyit. Ya, ia tahu jika Agam memiliki hubungan dekat dengan Tuan Muda Deanka yang akhir-akhir ini diketahui sebagai sepupu dari suaminya.
"Rubah licik, setelah puas bermain dengan suamiku, sekarang kamu sengaja merayu Dirut HGC," gumam Clara.
Kebencian pada LB rupanya tidak dirasakan oleh Clara Mahcota dan Deasy Monickta saja. Aktor dan aktris yang digantikan posisinya oleh LB pun, kini meradang. Mereka tak terima jika penggantinya bukan senior mereka. Wah, jika LB benar-benar menjadi brand ambassador, ini sama saja dengan penghinaan. Anak kemarin sore yang baru sekali menyabet penghargaan belum layak menjadi brand ambassador HGC.
.
.
Alangkah terkesiapnya Angga saat ia tahu jika kekasihnya ternyata semakin terkenal. Hari ini, ia libur kuliah. Melihat sosok Linda di layar TV ruang tunggu bandara, ia tersenyum, namun kini matanya beralih pada sosok pria yang menggandeng Linda.
Siapa dia? Dia sangat tampan dan gagah.
Angga tahu tentang HGC. Tapi, karena lama di luar negeri, ia tidak tahu tentang perkembangan terbaru HGC.
Apa kamu sengaja mengganti nomor ponsel dan menghindariku gara-gara pria itu? Angga mengepalkan tangannya.
Kamu itu kekasihku, kamu milikku Linda.
"Pak, apa Bapak tahu siapa pria yang bersama LB itu?" tanyanya pada penumpang lain yang duduk di sampingnya.
"Kalau tidak salah itu Dirut HGC yang baru, namanya saya lupa, maklum sudah tua, hehehe."
Dirut HGC?
Angga terus menatap layar, panas batinnya melihat pria yang katanya Dirut HGC itu begitu sigap dan pasang badan melindungi dan memeluk Linda dari desak-desakan para awak media.
Haruskah Dirut turun tangan langsung dalam masalah advertising? Harusnya yang terlibat bagian pemasaran, kan?
Angga langsung menaruh curiga.
.
.
Kepolisian resor kotapun turut panik, mereka tidak menyangka jika Agam akan muncul membawa Linda secepat itu, padahal berdasarkan perjanjian sebelumnya, Agam mengatakan Linda akan muncul ke publik setelah polisi menyatakan jika Linda tidak hilang.
"Kenapa jadi seperti ini? Harusnya Pak Agam memberi kabar dulu kalau mau muncul ke publik bersama LB." Aiptu Joey panik.
"Benar, yakin kita pasti dipanggil penyidik untuk masalah ini," timpal Brigpol Lelly.
Dan telepon pararel di ruangannya berbunyi. Dengan hati gundah-gulana, Aiptu Joey mengangkatnya.
"Kamu sudah lihat TV, kan? Bagaima mungkin pak Agam tiba-tiba membawa LB ke publik tanpa memberi kabar? Sedangkan LB statusnya masih hilang. Kamu cari cara agar penyidik tidak menyalahkan kita dan tidak ada yang curiga jika selama ini LB bersama pak Agam." Suara di ujung telepon.
Setelah panggilan itu, ada panggilan lain. Aiptu Joey menarik napas dalam-dalam saat mengangkatnya.
"Hahaha, malam ini saya akan menangkap Dirut sombong itu. Kali ini kamu kalah Joey. Kamu tidak bisa lagi melindungi dia, saya dan tim saya akan menjerat Dirut sombong itu dengan pasal penculikan dan penyekapan."
"Selama ini LB bersama Agam Ben Buana kan? Beraninya kamu dan pimpinan kamu membohongi publik demi Dirut itu. Memangnya siapa dia? Keistimewaan apa yang dimiliki dia? Atau ... jangan-jangan tim kamu disogok dengan uang. Hahaha."
"Jaga ucapan kamu!" teriak Aiptu Joey. Ia menutup telepon secara sepihak.
"Ke-kenapa?" tanya Brigpol Lelly.
"Mereka berencana akan menangkap pak Agam."
"APA?!"
Seketika Brigpol Lelly bangun dari kursinya.
"ARRGGH, harus mulai dari mana dulu?" Aiptu Joey beranjak.
***
Agam menggandengnya erat, menyibak kerumunan para wartawan menuju gedung biro iklan HGC. Lalu petugas keamaman menyambut. Mereka terlihat kewalahan.
"LB, tolong katakan sesuatu."
"LB, apa selama ini kamu bersama Pak Agam?"
"Bagaimana hubunganmu dengan pak Rufino?"
Teriakan para wartawan itu sangat mengganggu, dan kata 'Pak Rufino' membuat Agam sejenak menghentikan langkahnya. Sudah ia duga, Linda pasti mengenal Rufino Pederik.
Melalui perjuangan yang tak mudah, Linda dan Agam akhirnya berhasil juga masuk ke dalam gedung biro iklan. Mereka disambut hangat oleh para staf. Agam dan Linda berpisah, Linda dibawa ke ruang rias didampingi oleh Bagas.
Ponsel Agam berbunyi, ada panggilan dari Aiptu Joey.
"Halo, ya Pak. Ada apa?" tanya Agam.
"Pak Agam kenapa gegabah sekali? Kenapa membawa LB ke hadapan publik saat status LB masih DPO (Daftar Pencarian Orang). Harusnya Bapak konfirmasi dulu."
"Astaghfirullaah, saya lupa." Agam menghela napas. Ya, manusia biasa adalah tempatnya salah, khilaf dan dosa.
"Penyidik pasti curiga jika Bapak terlibat atas hilangnya LB selama ini."
"Ya sudah, katakan saja pada mereka alasan kalian melindungi saya dan LB," kata Agam.
"Baik, tapi ada rencana dari pihak lain. Mereka akan menangkap Bapak sebagai dalang atas hilangnya LB selama ini."
"APA?!"
Panggilan berakhir.
Agam tertunduk lesu, ini salahnya. Kenapa ia bisa seceroboh ini? Dan ia tahu jawabanny. Ya, akhir-akhir ini ia sering tak waras karena terlalu fokus dengan LB. Ah, wanita itu memang benar-benar racun dunia.
Agam menyingkap tirai, wartawan dari berbagai media masih setia berkerumun di depan gedung biro iklan. Ini di luar rencananya. Harusnya, mereka hadir setelah Linda menyelesaikan proses syuting. Agam memijat kepalanya, berpikir keras untuk mengurai masalah ini.
Tuan Deanka, nona Aiza, aku sebenarnya perlu bantuan kalian, tapi ... kalian juga sedang sibuk.
Agam akhirnya berjalan menuju ruang tata rias di mana racun dunia, maksudnya LB berada di sana. Mau tidak mau wanita ini harus dilibatkan untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Krek, ia membuka pintu. Semua orang yang berada di ruangan itu langsung menunduk memberikan hormat, termasuk Bagas.
"Di mana dia?" tanyanya. Matanya beredar mencari LB.
"Ada di ruang ganti Pak. Makeupnya sudah selesai sekarang sedang memakai kostum," terang seorang staf berambut pendek seperti laki-laki, padahal dia wanita.
"Lamakah?"
"Sebentar lagi selesai Pak."
"Boleh saya duduk di sini?"
"Boleh, Pak. Ta-tapi ini sangat kotor dan berantakan." Mereka langsung ribut merapikan barang-barang.
"Santai saja, ini bersih, kok." Agam duduk di sebuah kursi menghadap ruang ganti.
"Selesai," ucap seseorang dari dalam ruang ganti.
"Apa bagus?" Linda keluar, sedikit terkejut saat tahu ada Agam di ruangan itu.
"Apa?! Kenapa dia pakai baju itu? Memannya konsep apa yang akan dibuat?" Agam sampai berdiri.
Seluruh staf terkejut, sejak kapan Dirut peduli dengan konsep iklan. Seseorang memberikan keterangan dengan tubuh gemetar.
"Konsepnya macam-macam Pak, disesuaikan degan tema produk. Baju yang ini rencananya untuk produk tas sekolah yang terbuat dari sampah plastik yang di dapat dari dalam laut.
"Saya tidak setuju, ganti!"
Linda dan Bagas hanya saling menatap. Lindapun kembali masuk ke ruang ganti.
"Apa seperti ini bagus?" Linda menantang Agam, ia langsung berpose dengan sebuah tas hitam di tangannya.
HGC, memang sedang mengembangkan produk baru berbasis ramah lingkungan. Karena HGC adalah perusahaan ekstraktif yang mengolah hasil laut, maka Agam Ben Buana sebagai Dirut baru HGC membuat terobosan baru dengan mengelola sampah yang didapatkan dari dalam laut menjadi barang-barang yang memiliki nilai jual.
Pantas saja ia terlibat langsung, ternyata ini adalah program barunya. Agam mengeluarkan gagasan jika HGC tidak serta-merta mengambil hasil laut, tapi juga membantu laut untuk terbebas dari sampah dan limbah.
"Linda, jangan coba-coba kamu berpose seperti itu, atau kontraknya saya batalkan," tegas Agam.
"Tolong ganti lagi, jangan sampai kaki jelek dia terekspose ke publik."
"Uhuk, uhuk," Bagas terbatuk-batuk mendengar kata kaki jelek, dan staf lain mengatupkan bibir menahan tawa.
Linda kembali ke ruang ganti.
"Untuk seluruh produk yang dibintangi LB, semua kostum yang dia pakai harus mendapat persetujuan saya terlebih dahulu," pungkasnya.
"Ba-baik, Pak.
"Ini tertutup, Pak? Bagaimana?"
"Gantiiii!" teriak Agam. Dia marah, tidak mungkin pikirnya seorang wanita hamil memakai celana jeans dan sepatu setinggi itu.
"Semuanya keluar! Kecuali dia." Ia menunjuk pada LB.
Seluruh staf keluar dengan hati gemetar.
"Kamu mau mencelakai bayi saya?!" bentaknya pada Linda.
Linda menunduk, ia tak ingin berdebat.
"Tolong pikirkan kandunganmu! Dimana wardrobenya? Biar saya yang pilih kamu pakai baju apa saja."
Linda dan Agam masuk ke ruang ganti.
"Coba yang ini." Agam menunggu di luar.
"Selesai," kata Linda.
"Apa?! Itu menerawang LB. Ganti!"
"Inikan pilihan Bapak, issh," keluhnya.
"Saya tidak tahu kalau hasilnya akan menerawang," elak Agam.
"Kalau yang ini?"
"Em lumayan, tapi kakimu masih terlihat, ganti."
Linda kehabisan ide, akhirnya ia memilih konsep sendiri yang diyakini pasti tidak akan diprotes lagi oleh Agam. Konsep muslimah dengan gaya kasual dan kekinian.
"Seperti ini?" tanya Linda.
"Hahaha," Agam langsung tertawa.
"Ini konsep paling baru, selama ini HGC tidak pernah memiliki konsep seperti ini. Baik, saya setuju, buat saja dua konsep, yang memakai hijab karena negara kita mayoritas muslim, dan yang tidak berhijab, tapi harus tertutup, pertahankan budaya ketimuran, bukan bukan budaya kebaratan."
"Baik Pak," kata Linda.
"Oiya Bu Linda, tunggu."
"Ada apalagi?"
"Setelah sesi pemotretan dan syuting iklan selesai, kemungkinan ... saya akan ditangkap polisi."
"Apa?! Kenapa?" Linda mendekati Agam.
"Saya lupa tidak mengabari pihak kepolisian terlebih dahulu, sebelum memperlihatkan Anda ke publik. Saya tidak berharap Anda mau membantu saya, tapi ... jika benar saya ditangkap, tolong jaga anak saya," kata Agam.
"Apa?! Tidak mau, saya tidak mau Bapak ditangkap." Entah sadar atau tidak, Linda memegang baju Agam.
"Keputusan ada di tangan Anda. Keputusan penyidikpun ada di tangan Anda. Keterangan Anda pada penyidik akan mempengaruhi nilai akhir apakah saya perlu ditangkap atau tidak."
"Jika Anda mengatakan saya menyekap Anda, maka kemungkinan besarnya saya akan ditangkap. Jika Anda memberikan alasan lain, mungkin ... penyidik akan mempertimbangkan."
"Pak Agam ...," lirihnya.
"Anda bukan orang jahat," Linda berhambur begitu saja ke dalam dekapan Agam. Agam terkejut, namum lagi-lagi ia tak bisa menolak keindahan dan pesona Linda.
Agampun mendekap Linda.
"Saya akan membantu Anda, untuk bebas dari tuduhan para penyidik, tapi ...."
"Ta-tapi a-apa?" tanya Agam.
Agam memundurkan sedikit tubuhnya, Agar bagian itu tidak berdekatan. Karena Linda memakai hak tinggi, Agam merasa sangat tidak nyaman, jika dibiarkan berkelanjutan, ia yakin akan menanggung malu.
"Saya tidak membantu Bapak secara cuma-cuma. Bapak harus membayar saya," kata Linda. Posisinya masih memeluk Agam.
"Berapa?" tanya Agam.
"Bukan denga uang, Pak. Tapi tolong temukan orang tua saya dalam waktu 3x24 jam."
"Kalau tidak?" tanya Agam.
"Saya akan mengatakan pada penyidik kalau Bapak memperkosa saya."
"Baik, tapi saya tidak menjamin vidio kita tidak akan tersebar," kata Agam.
"Apa?! Anda licik," kata Linda. Saat ia ingin melepas pelukannya, gini giliran Agam yang mendekapnya.
"Begini saja, saya akan mengamankan vidio itu dan kamu bantu saya bebas dari tuduhan para penyidik."
"Baik, tapi jawab dulu pertanyaan saya, kenapa polisi mau membantu Bapak? Mereka tahu saya bersama Bapak, tapi kenapa mereka tidak menangkap saya, padahal saya dijadikan DPO oleh mereka."
"Untuk masalah itu, saya tidak bisa menjawabnya."
"Kenapa?"
"Karena ini sangat rahasia."
"Baiklah, oiya apa sudah tidak pedas lagi?" tanya Linda. Spontan ia berjinjit untuk memperhatikan bibir Agam.
Dan entah kerasukan apa, Linda semakin mendekat, ia bahkan beralih memeluk leher Agam, mata Agam mengejap.
Apa yang akan dilakukan racun dunia ini? Batin Agam.
"Bulu mata Pak Agam jatuh."
Ternyata Linda hanya mengambil bulu matanya.
"Hmm, saya pikir mau apa?" kata Agam saat mereka sudah tidak berpelukan.
"Hahaha," Linda malah tertawa, jujur awalnya ia berpikir akan mencium bibir Agam sebagai permintaan maaf karena telah memberinya rujak pedas.
Tapi, siapa dia? Pikirnya. Agam hanya peduli pada calon bayinya. Bukan peduli padanya.
❤❤ Bersambung ....