AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Pulang



Gadis itu, atau biasa dipanggil Sea oleh Yohan tak kuasa menahan tangis saat Yohan memanggil-manggil mamanya.Tapi, Yohan lebih beruntung darinya. Yohan mengetahui wajah papa dan mamanya.


Sementara dirinya?


Tidak, dia tidak mengenal satu orangpun yang ia harapkan sebagai keluarganya.


Keluarga yang ia kenal hanya anak-anak panti, dan ibu panti yang ia jadikan sebagai ibu sendiri. Kata ibu panti, ia adalah bayi terlantar yang ditinggalkan oleh orang tuanya di sebuah rumah sakit.


Dia masih mendekap Yohan, pria b a j i n g a n yang telah memperkosa, melecehkan dan menculiknya. Dia pernah berkali-kali berusaha melarikan diri dari apartemen Yohan, tapi ... selalu gagal dan gagal.


Ia sangat membenci Yohan, benci sebenci-bencinya, kebencian yang bahkan sudah merasuki ubun-ubun, dan seluruh urat nadinya.


Namun, suatu hari saat hujan lebat mengguyur pusat kota, ia tidak sengaja melihat Yohan menatap air hujan sambil menangis, pria itu juga memegang sebuah peci di tangannya, dan saat Yohan memakai peci yang dipadukan dengan setelan kapten, bibirnya spontan tersenyum.


Entah berapa banyak wanita yang telah memeluk tubuh ini, entah berapa puluh bibir wanita yang telah ia renggut. Sea menatap bibir Yohan yang pecah dan berdarah. Ia tidak tahu jika dirinya adalah wanita satu-satunya yang pernah dicium bibirnya oleh seorang Yohan Nevan Haiden.


"Uhuuk, hoek," tiba-tiba Yohan memuntahkan air, membasahi pundak Sea.


Sea terkejut, serius ia awalnya merasa jijik. Yang dimuntahkan jelas sekali, dari baunya pasti minuman beralkohol dosis tinggi.


"Panas ...," gumam Yohan. Ia membuka bajunya. Matanya masih terpejam.


Sea membantu membuka baju Yohan tanpa ada rasa curiga. Ia tulus membantu pria itu.


Usut punya usut, minuman yang dipaksa ditenggak Yohan, ternyata buka hanya sekedar minuman beralkohol, namun juga dicampur oleh obat lain yang diperuntukkan untuk memantik gairah.


Saat tangan Sea menempel di dada Yohan, pria itu sadar jika ada seorang wanita di sampingnya. Yohan memegang tangan Sea, lalu membuka matanya.


"Tu-Tuan Yo?" sapa Sea.


Dalam kondisi setengah sadar, Yohan bergumam ....


"Hei j a l a n g, kenapa wajahmu mirip sekali dengan gadis yang aku inginkan, hahh?" Memegang tangan Sea semakin kuat. Sontak, Sea ketakutan.


"Tu-Tuan, a-aku memang Sea," sambil berusaha menarik tangannya. Tangan Sea gemetar. Tapi ia tidak berhasil melepaskan diri.


"Benarkah kamu Sea? Sea ... a-aku mencintaimu."


Yohan menatap nanar pada Sea, sudut matanya mengkristal. Entah apa yang dipikirkan Yohan saat ini.


"Ma-maf Tu-Tuan kita tidak bisa bersama, kita berbeda," gumam Sea. Ia memalingkan wajah.


"Apa karena aku berbeda keyakinan denganmu? Apa karena aku pendosa, hahh?" Yohan menghentak tangan Sea, hingga gadis itu jatuh di dadanya.


"Tu-Tuan lepaskan aku, Tu-Tuan jangan seperti ini," Sea meronta.


"Sea .... Aku membutuhkan kamu, maukah kamu menjadi bagian dari hidupku? Sea a-aku ingin merubah, aku ingin jadi manusia baik, tapi ... aku butuh kamu di sisiku, Sea ... aku mencintaimu."


Yohan merangkum pipi Sea, menatap lekat, dan mulai mendaratkan kecupan-kecupan kecil di leher gadis itu.


"Tuan to-tolong ... ja-jangan, jangan menodaiku lagi, huuks."


Air mata Sea berderai. Yohan membersihkan air mata Sea dengan jemarinya. Sayangnya hasrat itu kembali datang, Yohan memeluk Sea lalu mengurung gadis itu.


"Ja-jangan Tuan," Sea memalingkan wajah, tangannya meraih sandaran sofa. Yohan telah membalikan posisi.


"Aku tulus Sea, aku mencintaimu."


Tak bisa menahan gejolak, Yohan memagut bibir Sea, awalnya ia lembut. Tapi ya, jiwa buaya dan pengaruh obat itu sudah terlanjur merasuki tubuhnya. Yohan tak terkendali, tak sabaran, dan rakus. Sea hanya bisa menangis, meronta dan memohon.


Yohan merobek baju Sea, menindih tubuh Sea dan melahap apa saja yang terpampang di hadapannya.


"Aaaa, emm ... tolooong," teriaknya.


Sea mencakar Yohan, dan memukulnya, tapi Yohan tak terpengaruh. Lalu sudut mata Sea melihat ada gelas kaca di atas meja. Ia berpikir untuk meraih gelas itu.


Sea kemudian berpura-pura pasrah, dan saat Yohan tengah membuka ikat pinggangnya, Sea meraih gelas itu dan ....


'PRAK.' Ia memukul kepala Yohan sekuat tenaga.


Yohan tersungkur, luka pukulan yang terjadi di klub malam kembali mencucurkan darah segar. Pukulan Sea mendarat di tempat yang sama. Sudah terpukul terpukul lagi.


Sea terkejut saat melihat darah mengalir dari kepala Yohan, ia panik. Syukurlah, supir Yohan kembali. Melihat Sea dan Yohan berantakan, ia telah mengambil kesimpulan dan yakin jika Sea melakukan serangan pada Yohan karena ingin membela diri.


"Pak ... a-aku memukulnya, Tu-Tuan Yohan mau memperko ---."


"Ya, Nona, saya faham. Tidak apa-apa. Tidak perlu takut, sekarang Anda rapikan pakaian Anda dan bantu saya membawa Tuan Yohan ke dalam mobil. Tuan harus segera dibawa ke rumah sakit," ucapnya.


"Ba-baik, Pak."


"Oiya Nona, maaf jika saya ikut campur, jika Nona mau kabur, maka sekarang waktunya. Saya akan pura-pura tidak tahu."


"A-apa?" Sea kaget. Ia merasa senang, tapi juga bimbang.


"Cepat putuskan Nona! Kemasi barang-barang Anda! Tapi, ayo bantu saya dulu membopong Tuan Yohan."


"Ya Pak," jawabnya.


...❤...


...❤...


...❤...


Pagi ini, Linda telah diperbolehkan pulang. Linda sedang berkemas dibantu Yuli. Agam tengah mengurus administrasi.


Ekspresi Linda pada Yuli sama sekali tidak ada perubahan, seolah tidak ada yang terjadi pada mereka. Linda seakan-akan melupakan apapun yang dikatakan Yuli kepadanya.


Linda juga tidak menceritakan apa yang terjadi pada Yuli dikamar mandi dan tidak pula mengatakan pada Agam jika wanita itu telah memfitnah suaminya.


Lagi, Linda tidak ingin Agam bertindak di luar batas pada Yuli. Linda akan memantau prilaku Yuli serta memberinya kesempatan. Dan Linda akan berusaha menjaga aib Yuli, tidak akan menceritakannya pada siapapun kecuali di depan pengadilan.


"Semua sudah rapi, kan?" tanyanya pada Yuli.


"Sudah Bu," jawab Yuli sembari menunduk.


Yuli tidak habis pikir jika semua yang dikatakannya pada Linda sama sekali tidak ada pengaruhnya. Agam dan Linda tetap mesra. Tadi, selepas shalat Subuh, Agam dan Linda saling cium tangan, cium kening, lalu berpelukan.


Ini pasti karena LB juga wanita tidak benar. Dia pasti pernah berselingkuh dengan laki-laki lain. Jadi, dia menganggap wajar jikapun suaminya melakukan hal-hal yang di luar batas. Pak Agam dan LB pasti telah melakukan kesepakatan pranikah untuk saling merahasiakan aib dan keburukan masing-masing. Ck ck ck, kalian pasangan munafik. Batin Yuli.


Ternyata oh ternyata. Hati wanita ini benar-benar berbau busuk.


"Yuli, apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Linda.


"Belum Bu, mana ada yang mau dengan saya. Saya miskin dan buruk rupa, saya juga punya banyak adik, Bu." Lirihnya. Ekspresi wajah Yuli seperti teraniaya.


"Kamu cantik kok, sangat cantik," puji Linda.


"Siapa yang sangat cantik?" Tiba-tiba Agam datang.


"Yuli, Pak," jawab Linda.


"Hahaha," Agam tertawa sepontan. Linda segera mencubit pinggangnya.


"Pak Agam, kenapa? Ada yang lucu?" tanya Linda sambil menyusun kantung ASI.


"Ya sayang, kamu lucu. Oiya Yuli ini HP kamu, saya kembalikan," kata Agam.


"Hah? Kok HP Yuli ada di Pak Agam?" Linda pura-pura tidak tahu. Padahal, Agam telah menjelaskannya.


"Em, tidak tahu sayang, tiba-tiba saja ada saku saya," kilah Agam. Sejatinya, ia sedang menyindir Yuli.


Sementara itu, Yuli langsung mengecek ponselnya.


Lagi pula, untuk apa sih Pak Agam mengambil HP ku? Percuma kali, pikir Yuli.


Dan ....


Yuli terkejut saat menyadari jika foto-foto Linda yang ia ambil hilang dari galerinya.


Ini tidak mungkin, HP ku kan dikunci.


Ya, Yuli tidak tahu siapa Agam. Agam melihat ekspresi kaget Yuli dengan sudut matanya. Dan sampai saat ini, Agam tak habis pikir karena menurut Agam, wanita itu selalu menunjukkan ekspresi polos dan tak berdosa.


Yuli tertegun dengan kejanggalan ini, bahkan sampai mereka di dalam mobil, wanita itu masih tertegun. Berulang kali ia menatap ponselnya. Masih tidak percaya dengan kenyataan ini.


"Aku tidak sabar, aku rindu Zal," pekik Linda.


"Saya juga tidak sabar," timpal Agam.


Tidak sabar ingin bercinta dengan kamu di ruang ganti.


Lanjut Pak Dirut dalam benaknya. Semenjak berhasil merenggut kembali mahkota Linda yang luar biasa itu, otak Pak Dirut sering bertraveling.


...❤...


...❤...


...❤...


Setibanya di rumah, Linda cepat-cepat turun. Seolah melupakan bayi besarnya, Linda meninggalkan Agam.


"Keivel, Momca pulang," serunya. Melangkah cepat melewati Hikam dan Bu Ana. Sudah bersalaman sih dengan Bu Ana, tapi terburu-buru.


Bu Ana dan Hikam hanya saling menatap. Berbeda dengan Bu Ana, Hikam memperhatikan cara berjalan Linda yang menurutnya sedikit berbeda. Setiap langkah, kakinya sedikit terhimpit.


"Kangen dengan Keivel atau kebelet kamu, Linda?" tanya Hikam sambil menautkan alisnya.


"Terserah istri saya dong," yang menjawab Agam Ben Buana. Hikam terkejut karena bahunya ditepuk Agam.


"Ini wilayah ku Pak Dirut, jangan macam-macam ya," canda Hikam.


"Hahaha, ya saya mengakui sekarang kita bersahabat. Tapi ingat, jangan menatap istri saya sembarangan," bisik Agam. Lalu menyusul Linda.


...❤...


...❤...


...❤...


"Ssst, Keivelnya sedang tidur, baru saja," di depan pintu kamar, dokter Rita menghadang Agam dan Linda.


"Aku mau cium dia, kangen, Dok." Linda melongokan kepala.


"Saya juga rindu, mau gendong dia," tegas Agam.


"Ya sudah, Bapak dan Ibu boleh lihat, tapi jangan dulu dicium ya, Keivel itu sangat sensitif terhadap suara dan sentuhan, kalau dia terbangun sebelum tidurnya kenyang nanti rewel," jelas dokter Rita.


"Baiklah, kita akan mengendap," sela Linda.


Lalu Agam dan Linda mendekati tempat tidur Keivel. Dan Linda tak tahan untuk tidak mencium putranya demikian dengan Agam.


Pria itu asyik menghidu aroma surga yang menguar dari mulut Keivel saat putranya menangis. Suster dan dokter Rita geleng-geleng kepala.


"Pak Agam, sudah. Kasihan, Pak."


Linda merebut Keivel dari pangkuan Agam, segera memposisikan diri untuk meredakan tangisan Keivel.


"Kalian semua, keluar," titah Agam.


"Baik Pak," serempak.


Apa yang terjadi pada Keivel?


Pasti sudah dapat ditebak, setelah mendapatkan air berkah yang bergizi seimbang itu, tangisan Keivel reda seketika. Ia menyesap ASI dengan rakusnya. Matanya membulat menatap wajah momcanya.


"Pelan dong Keiv,"


Linda sedikit merintih, sambil tersenyum. Hatinya selalu berbunga-bunga saat tengah merasakan momentum ini.


"Hahaha, ya Keivel tenang saja, tidak akan Paren rebut, kok. Santai saja bos kecil," Agam juga terkekeh. Tapi, matanya fokus pada keindahan yang tersaji di depan mata.


Linda menyadarinya. Segera membelakangi Agam.


"Sayang, saya mau lihat," Agam menahan bahu Linda.


"Lihat apa?! Aku tahu Pak Agam bukan melihat Keivel," bentak Linda.


Agam menyengajakan, ia memeluk punggung Linda, menciumi tengkuknya. Seperti ada rasa iri karena Keivel menguasai Linda.


"Pak Agam, hmm ... ja-jangan jahil," keluh Linda.


"Fokus pada Keivel saja sayang, saya hanya ingin memeluk kamu," kilahnya.


"Pak, daripada menggangguku, lebih baik bantu Hikam. Lusa kan aqiqahnya Keivel. Kata Hikam, kalau tidak salah hari ini mau membersihkan taman."


"Sayang, saya tidak bisa menyiangi rumput," Agam beralasan lagi.


"Masa sih? Pak Agam sama sekali belum pernah memegang parang?"


"Belum," jawabnya.


Tangannya kali ini tengah membelai pipi Keivel, tangan yang lain melingkar di pinggang Linda.


"Ya ampun, aku lupa kalau Pak Agam orang kaya, kalau memanjat pohon kelapa, bisa?"


"Tidak sayang, lebih baik memanjat gedung atau memanjat kamu, hahaha."


"Ish," Linda menggedikkan bahu.


"Masa anggota BRN tidak bisa memanjat pohon kelapa sih? Kalau diserang musuh saat berada di hutan, bagaimana?"


"Sayang, anggota BRN itu berbeda dengan polisi, prajurit militer ataupun tentara yang bertugas menjaga perbatasan wilayah, BRN itu pasukan cadangan khusus yang direkrut negara berdasarkan kriteria dan kualifikasi yang diingingkan organisasi."


"Tugasnya ya sebagai pelengkap pertahanan negara selain warga sipil. BRN itu warga sipil yang telah terlatih, jika sewaktu-waktu negara diserang, maka anggota BRN akan berperan serta. Kalau saya dihutan, ya saya juga tetap bisa memanjat pohon, tapi menggunakan alat-alat tertentu," terangnya.


"Ssst, Keivel tidur lagi Pak, jangan berisik," kata Linda.


Agam mengatupkan bibirnya, lalu berbisik ....


"Terus setelah ini bagaimana sayang?"


"Menunggu terlepas dulu Pak, baru dipindahkan." Linda juga berbisik di telinga Agam.


"Lama tidak sayang?"


"Sabar dong, Pak." Cemberut kesal.


Empat menit berlalu, bibir mungil itu akhirnya terlepas jua dari sana. Lalu, Agam memindahka Keivel ke ranjang kecil yang terbuat dari kayu.


"Sekarang layani saya sayang, Keivel kan sudah sudah tidur."


Agam menuntun Linda menuju kamar mereka. Saat Agam membuka pintu, dokter Rita dan dua orang suster ternyata masih berdiri di depan kamar.


"Cepat jaga Keivel, dia tidur lagi," terang Agam.


"Baik, Pak." Serempak.


Linda menunduk saja, menahan rasa malu.


.


.


"Pak Agam aku mau ganti baju dulu," Linda masuk ke ruang ganti.


Pak Dirut menyusul.


"Pak Agam, kenapa kemari?"


"Sayang, kan kita sudah sepakat mau bercinta di ruang ganti," bisik Agam.


"I-iya a-ku tahu, Pak. Tapi tidak sekarang," tolak Linda.


"Sayang please ... kita baru melakukannya tiga kali, kan? Saya merindunkan ini, El." Mendesak Linda hingga tubuh Linda memepet dinding.


"Hahh? A-aku lapar Pak, bagaimana kalau kita makan dulu."


"Serius kamu lapar? Apa hanya alasan?"


"Berius-rius, Pak. Selepas memberi ASI memang suka lapar."


"Baiklah, kita makan dulu," Pak Dirut mengalah. Linda tersenyum kecut.


...❤...


...❤...


...❤...


"Ini ASI Keivel, bereskan ya," titah Yuli pada suster yang berada di kamar Keivel.


Dokter Rita menatap heran pada Yuli.


"Yuli, mereka sedang merapikan pakaian Keivel, kenapa tidak kamu saja yang rapikan?" kata dokter Rita.


"Dengar ya, di rumah ini kita semua sama. Sama-sama pem-ban-tu," kata Yuli, tanpa menoleh pada dokter Rita.


"Hei Yuli! Jangan tidak sopan ya kamu pada Bu Rita," ucap seorang suster.


"Ya Yuli, dan pelankan juga suara kamu, Keivel sedang tidur," ucap suster yang lain. Dokter Rita hanya menghela napas.


"Halah, kamu juga sama seperti aku, kan? Kita semua di sini adalah ba-bu," tegas Yuli, sambil melangkah meninggalkan kamar.


"Yuli, tunggu!" teriak suster. Suster yang ini sepertinya tidak sabaran. Dia menarik rambut Yuli. Hingga wanita itu membalikan badan.


"Hei, lepaskan tangan kamu dari rambut cantikku!" Yuli menepis, mendorong suster.


"Hentikan! Jangan ribut! Kita yang waras harus mengalah," dokter Rita berusaha melerai.


"Hei, Rita! Apa maksudmu, hahh? Apa maksud ucapanmu aku tidak waras?!" teriak Yuli.


"E aa ... hwa ... oh hwa oh hwaa." Teriakan Yuli membuat Keivel bangun dan menangis.


"Tuh kan, gara-gara kamu Keivel bangun, dasar kampungan!" gerutu suster yang tadi menjambak rambut Yuli. Dokter Rita berlari. Segera memangku dan menenangkan Keivel.


"Apa kamu bilang?! Aku kampungan? K u r a n g a j a r!" Yuli marah. Menjambak rambut suster.


"Hei, jangan bertengkar! Kalau Bu LB dan Pak Agam tahu, bagaimana?!" suster yang satunya lagi melerai. Dokter Rita kebingungan. Tapi ia lebih memilih memangku Keivel.


"Justru kamu yang kampungan! Lihat wajah kamu, orang kota kok burik! Ngaca kamu! Lihat tuh! Aku lebih putih dari pada kamu! Aku lebih cantik!" teriak Yuli.


"Bu Rita, dia tidak sopan dan rasis, kita harus melaporkan dia pada Pak Agam," kata suster.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka.


"Ada apa ini?!" bentak Agam.


Agam dan Linda yang mendengar keributan saat melewati kamar Keivel langsung masuk ke dalam kamar.


"Pak Agam, huuu ... mereka menghina saya, mereka mengatakan saya kampungan dan mereka tidak mau merapikan susu Keivel," Yuli langsung mengadu dan menangis.


Dokter Rita dan dua orang suster hanya menunduk. Mereka akan menerima apapun keputusan Agam.


"Apa benar yang dia katakan?" tanya Agam. Linda diam saja. Lebih memilih mendekati dokter Rita dan mengusap-usap Keivel.


"Sebagian benar, Pak. Tapi, kami punya alasan," jawab suster.


"Apa ada sanggahan?! Dokter Rita, katakan apa yang terjadi?" tanya Agam.


"Mohon maaf Pak, langsung lihat CCTV saja, saya tidak ingin ada kesalahfahaman," jawab dokter Rita.


"Baik, saya cek dulu," Agam memeriksa ponselnya.


"Sa-saya permisi Pak, saya mau membantu Bu Ana di dapur," Yuli hendak beranjak.


"Tetap di tempat!" tegas Agam.


Yuli menciut. Ia ikut-ikutan menunduk seperti suster. Jantungnya berdebar. Ia lalai, menyesal telah melupakan keberadaan CCTV di kamar ini.


Agam melihat rekaman CCTV. Setelah menyimak, amarahnya langsung memuncak.


"Yuli!" bentaknya.


"Pak Agam tenang, jangan marah," Linda memeluk bahu Agam. Agam mengatur napas.


"Yuli dengar ya! Maaf, bukannya saya menyepelekan kamu, tapi yang kamu suruh-suruh dan bentak itu anak buah saya, mereka bukan pembantu, bukan pula babu!"


"Mereka pekerja profesional, yang kamu panggil Rita adalah seorang dokter umum. Dan mereka suster Dini dan suster Sinta adalah perawat ahli. Suster Dini adalah perawat diploma tiga, dan suster Sinta telah mendapat gelar Ners."


"Maaf ya Yuli, dari segi pendidikan mereka memang berkelas, tapi mereka tidak angkuh dan sombong seperti kamu. Saya sengaja mempekerjakan mereka agar Keivel mendapatkan perawatan dan asuhan yang terbaik," tegas Agam.


Dan mereka juga bukan j a l a n g, lanjut Agam dalam batinnya.


"Oiya, satu hal lagi Yuli, jangan pernah menghina fisik atau warna kulit seseorang! Di hadapan Tuhan, semua manusia sama, yang membedakan hanya keimanannya. Camkan itu!"


Puas kamu! Puas! Batin suster Dini dan suster Sinta.


"Sayang, saya tidak bisa sabar lagi, cepat katakan pada ayah atau ibu kamu untuk memecat dia!" Agam menatap tajam pada Yuli lalu keluar dari kamar dan membanting pintu.


"Yuli," Linda menghela napas sejenak.


"Maaf ya, sepertinya aku juga tidak bisa mempertahankan kamu lagi." Linda keluar dari kamar.


Yuli menangis terisak-isak.


"Dikisahkan, di sebuah negeri antah-berantah, hiduplah seorang putri. Namanya Putri Sok," kata suster Dini.


"Ya, benar. Nama panjangnya Putri Sok cantik, hahaha. Selain sok cantik, dia juga songong dan sombong," tambah suster Sinta. Dokter Rita hanya senyum-senyum.


"Diam kalian!" bentak Yuli, lalu meninggalkan kamar.


.


.


"Jangan marah, Pak. Ya, nanti aku bujuk ibu supaya memecat dia." Linda merayu Agam.


Pak Dirut berang. Ia tertelungkup di tempat tidur sambil cemberut. Terlihat lucu, Linda jadi gemas.


"Katanya mau makan?"


"Saya tidak lapar! Tegas Agam.


"Emm, kalau memakanku, mau?" tawar Linda. Ia naik ke tempat tidur, lalu memeluk punggung Pak Dirut sambil memiringkan tubuh Agam.


"Tidak mau!" sergah Agam.


"Yakin tidak mau?" Linda merayu.


"Yakin," tegas Agam.


Linda terkekeh. Ya, bibir Agam memang mengatakan tidak, tapi ... tubuh Pak Dirut berhianat. Saat Linda menyentuhnya, dia langsung on go in.


"ARGH, s i a l!" rutuk Agam.


Secepatnya mengurung Linda, dan ia pun turut tertawa. Agam menyerah, ia tidak bisa marah lagi. Linda sudah menawarkan diri, mana bisa menolak?


"Hahaha, saya mengaku kalah sayang," katanya.


"Ayo kita temui ibu," goda Linda.


"Berani kamu ya mempermainkan saya,"


Agam mencekal tangan Linda. Lalu meraih bibir merah-merekah Linda dengan gaya sedikit kasar dan terburu-buru.


"Ahm ... uhm ...." Linda pasrah. Memejamkan mata dan menikmati setiap desirannya.


...~Tbc~...


Jika berkenan, vote ya para kesayangan nyai. Terima kasih.