AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Senandung



Tangan yang tadi menelisik itu tidak terlihat lagi di kepala Agam, Agam senyum-seyum.


Setelah mengungkapkan semua unek-unek pada Linda termasuk alasannya terlambat mengatakan cinta, dan keinginannya untuk pergi ke pulau jauh untuk melamar, ia merasa beban di hatinya sedikit berkurang.


Tapi jujur, ucapan Linda tentang ayah Berli yang dulu ingin memenjarakannya sedikit membuatnya khawatir.


Semoga Vano bisa mengatasinya, jika di sana aku menghadapi masalah hukum. Harapnya.


Lalu kembali tersenyum mengingat semua hal manis dan ketegangan di hari ini. Bisa-bisanya ia tega menggigit leher yang lembut dan mulus itu tanpa memikirkan akibatnya. Menyesal? Ya, Agam menyesal.


Bagaimana kalau tanda cinta itu sampai terlihat oleh Yohan? Bisa gaswat.


Agam meraba rambutnya sendiri, ternyata seperti ini rasanya saat rambut dibelai wanita yang dicintai, setiap usapan dari tangan Linda, membuat hatinya seolah mekar dan berbunga-bunga.


Diliriknya si cantik yang tadi membelai rambutnya.


Linda sedang tertidur nyaman tanpa drama. Tidak ada anggun-anggunnya saat ia tidur. Ya, serampangan kalau kata Bagas.


Tapi ... terlihat menggemaskan di mata Agam.


Kedua tangan Linda terangkat ke atas, matanya sedikit terbuka dan bibirnya itu lho ... menganga, dan terlihat menggoda tentu saja.


Agam memalingkan wajah, berlama-lama menatap Linda, tidak baik untuk keimanannya, tidak sehat untuk jantungnya, dan juga bisa membahayakan dia dan orang lain. Sebab ... sekarang Agam sedang mengemudi.


Tidak pernah terpikirkan kalau aku akan jatuh cinta pada artis.


Kok, aku jadi tidak tenang ya? Aku takut lamaranku ditolak.


.


.


.


Lamunan Agam buyar setelah ia sampai di tampat tujuan. Yaitu rumah seorang musisi ternama yang merupakan sahabat ayahnya.


Tidak terlalu dekat sih ia dengan muisi ini, tapi saat dia membangun studio rekaman, Agam pernah memberinya bantun sebagai ucapan terima kasih dan persahabatan atas nama ayahnya.


Dulunya dia penyanyi, tapi sekarang lebih fokus sebagai pencipta lagu. Di rumahnya inilah ada studio mini. Dia membuka kelas vokal untuk menyambung hidup selain mendapatkan uang dari royalti.


"El ...," sapa Agam. Tidak tega sebenarnya membangunkannya. Tapi ... harus.


"Hmm," wanita itu malah menggeliat dan garuk-garuk tidak jelas.


Terkejut Agam saat Linda menarik gaunnya. Mungkin akan menggaruk sesuatu di balik gaunnya.


"Linda, hentikan! Bagun!"


Kali ini tegas sambil menahan tangan Linda yang tidak tahu diri. Wah, hampir saja itu gaun terangkat.


"Su-sudah sampai?" Dia cengar-cengir tanpa merasa berasalah sambil mengucek matanya.


Ya ampun, menggemaskan sekali, apa setiap bangun tidur aku akan disuguhi hal seperti tadi? Agam melamun.


"Pak Agam!" hardiknya.


"Eh, iya?" Tersadar.


"Kenapa melamun, ini sudah sampai kan? Harusnya Bapak membangunkanku dari tadi, dong. Huuh," keluhnya. Sibuk hendak meretouch make up.


Lah, kok seperti aku yang salah? Jelas-jelas aku sudah membangunkan dia. Hmm, apakah ini bumbu pacaran? Agam tersenyum dan melamun lagi.


"Pak Agam! Ishh, Bapak kenapa sih? Cepat ambilkan tasku, Pak. Bedakku ada di sana. Di dompet ini hanya ada lipstik."


"Apa?!" Mata Agam membulat.


"Baik Nona," kata Agam.


Terpaksa turun dari mobil dan membuka bagasi untuk mengambil tas yang dimaksud Linda. Tas yang terpasang kamera mikro.


"Apa dia menganggapku sebagai asistennya. Enak saja. Aku bukan Bagas, LB!" gerutu Agam saat menutup kembali bagasi mobilnya.


'BRUGH.'


Sampai Linda terlonjak dan lipstiknya berantakan sampai ke hidung.


"Pak Agaaam!" teriaknya saat Agam masuk ke dalam mobil dan memberikan tasnya.


"Apa?!" bentak Agam.


Ya, ada kamera pengintai di tas itu, ia memang harus berakting pura-pura tidak dekat. Memarahi Linda kalau perlu.


"Lihat lipstikku! Berantakan, kan? Ini gara-gara Pak Agam. Mana tissuenya Pak, aku mau tissue. Tissue, tissue, tissue," rengeknya.


Bahkan Linda tidak men'Saya'kan lagi. Linda men'Aku'kan dirinya.


"Apa?! Hei, LB dengar ya! Saya bukan asisten kamu, saya Dirut HGC! Faham?" teriak Agam.


Sambil menggoyangkan tas agar Linda ingat akan kamera mikro itu. Mata Linda membulat.


"Memangnya kenapa kalau Bapak Dirut? Masa Dirut HGC diminta tissue saja tidak mampu memberikan, huh payah!" dengusnya kesal.


"Apa?! Linda, kamu ---." Agam geram, gemas, geregetan.


"Apa, apa, apaaa?! Mana tissuenya pak Agam?" Matanya mengerling kesana-kemari mencari tissue.


"Ya ampun, ini apa? Ini apa, apa? Hahh?" Agam meraih tissue yang berada di atas dashboard, tepat di depan Linda.


"Nih!" sentaknya.


"Hahaha, aku tidak melihat ke depan, maaf ya Pak Dirut. Sambil meraih tissue, wajah cantiknya merona. Lalu ia membersihkan bibirnya yang belepotan.


"Cepat, dong. Ini sudah sore," tegas Agam sambil melirik jam di tangan kananya.


"Sabar, dong. Ini belum beres," sahut Linda. Masih sibuk bersolek.


"Haisshh," desis Agam.


"Pak Agam, aku ini artis, namanya artis ya penampilan harus diutamakan," kata Linda.


"Ya terserah," sela Agam.


Kamu sudah cantik, Linda. Tidak perlu bersolekpun kamu sudah menggoda. Hmm, menyukai publik figur memang beresiko.


Agam akhirnya sabar menunggu, menyandarkan kepalanya pada setir, sambil menatap Linda. Ternyata seperti itu kalau wanita bersolek. Aneh, dan lucu pikirnya.


Tada ....


Gila, dia semakin canik. Batin Agam.


"Saya sudah siap, Pak." Ucapnya.


"A-apa?" Ada yang gelagapan karena terpesona.


"Aku sudah selesai Pak Agam, bagaimana? Apa cantik?"


"Apa?! Kamu jelek seperti nenek sihir," katanya. Agam memalingkan wajah dan keluar dari mobil meninggalkan Linda.


"Apa dia bilang? Nenek sihir? Arrgh." Ada yang tidak terima disebut nenek sihir. Linda becermin lagi untuk memastikan.


"Perasaan lumayan," gumamnya. Lalu turun mengejar Agam.


"Pak Agam, Pak Agam, tunguuu," panggilnya.


Mana ada calon suami meninggalkan calon istrinya seperti ini. Mana lagi hamil, lagi. Gerutu Linda dalam batinnya.


.


.


.


.


"Pak Agam?"


Musisi senior yang dimaksud Agam terkesima. Tidak biasanya Pak Dirut datang ke studionya.


"Mohon maaf jika kedatangan saya mengganggu kenyamanan Bapak karena pemberitahuannya mendadak." Agam meraih tangan musisi paruh baya itu, lalu mencium tangannya penuh rasa hormat.


"Pak Agam," di luar ada yang berteriak.


Namun Agam sengaja menutup pintu masuk, hingga Linda tercekal di luar.


"Pak, kok aku tidak diajak masuk?" teriaknya lagi.


"Bawa tamu?" tanya musisi itu pada Agam sambil menyimpulkan senyum. Baru kali ini melihat Agam kikuk.


"I-iya Pak, itu teman yang saya maksudkan untuk belajar olah vokal di sini."


"Siapa? Saudara Anda?" Sambil menyiapkan dua porsi minuman. Musisi itu terlihat sangat bersahaja.


"Emm, Bapak juga pasti kenal kok. Dia yang jadi bintang produk baru HGC." Agam duduk setelah dipersilahkan.


"LB? Ya ampuun." Musisi itu langsung berlari dan membuka pintu. Agam melongo.


"LB, ayo masuk." Matanya berbinar, ia menarik tangan Linda untuk masuk ke dalam.


Dan reaksi Linda pada musisi itu membuat Agam sedikit cemburu.


"Pak Abun SS? Pak ... aku penggemar Bapak." Memegang tangan Pak Abun SS dengan mata berbinar-binar. Bahkan kakinya sampai bejingkrak kegirangan.


"El!" Agam menarik tangan Linda. Pak Abun menatap bingung.


"Kamu lagi hamil, apa kamu lupa? Jangan berjingkrak-jingkrak," bisik Agam. Tak sadar sambil mencubit bokong Linda.


"Aduh, eh hehehe." Linda panik, tangan Agam tak punya sopan-santun. Namun ia harus tetap menunjukkan ekspresi manis pada Pak Abun.


"Hahaha, saya juga penggemar LB. Wah, ternyata aslinya lebih cantik daripada di televisi." Puji Pak Abun SS. Pujian yang sebenarnya sering didengar Linda.


"Terima kasih, Pak." Sekarang sudah duduk manis dan anggun di samping Agam yang jelas-jelas menunjukkan wajah kesal.


"LB mau aji mumpung?" tanya Pak Abun SS.


"Hehehe, tepat." Linda angkat jempol.


Mau aji mumpung kok bangga sekali dia. Batin Agam.


"Silahkan, sebelum tes vokal, dinikmati dulu minumannya. Oiya LB, saya punya tiga anak laki-laki, yang dua masih jomblo, mau kenalan?" tanya Pak Abun SS, tatapan pada Linda begitu dalam. Tatapan seorang fans garis keras.


"Pak Abun, saya tidak punya banyak waktu, saya maunya dia dites vokal sekarang." Agam berdiri. Serius, telinga Pak Dirut panas mendengar Linda mau diajak berkenalan.


"Wah, tadinya saya mau ngobrol-ngobrol dulu bersama LB. Betah ya kalau mengobrol sama wanita cantik." Pak Abun SS sedang cari mati.


"Pak Abun, apa sekarang Anda beralih profesi jadi buaya darat?" Sambil menenggak air minum di hadapannya. Wajah tampannya memerah.


"Apa?!" Pak Abun SS bengong.


"Pak Agam, Anda tidak sopan!" bentak Linda. Spontan tangannya melayang bermaksud untuk mencubit perut Agam.


Tapi ... gagal.


Ya ampun, perut dia liat dan pejal sekali. O ow .... Linda mengerjap. Kepejalan dan keliatan itulah yang membuatnya gagal.


Pipi Linda merona, jadi membayangkan badan Agam yang aduduh.


"LB, kalau begitu mari kita ke studio," ajak Pak Abun SS. Nyali musisi itu sedikit menciut melihat wajah Agam yang memerah. Yakin, jika Agam pasti memiliki hubungan spesial dengan LB.


"Baik," kata Linda, ia membuntuti Pak Abun SS, Agam ada di belakangnya.


"Kok sepi Pak studionya?" Linda melihat ke semua penjuru.


"Karena Pak Agam mengabari akan kemari, saya meliburkan kelas vokal untuk hari ini."


"Oh, begitu ya. Wah, saya merasa tersanjung, Pak."


.


.


.


.


Pak Abun SS membawa LB dan Agam ke sebuah ruangan berbentuk persegi.


Ada tiga buah Komputer di ruangan itu. Ada juga DAW atau Digital Audio Workstation, yaitu sebuah software yang didesain untuk mengakomodasi penggunanya untuk merekam, mixing, mastering, atau mengubah suara yang telah direkam atau dalam proses editing.


Audio Interface di ruangan itu terlihat sudah terhubung dengan perangkat alat-alat musik dan mikrofon pada komputer melalui sebuah mixer.


"Wah, aku baru kali ini masuk ke studio, Pak Agam ini keren," decaknya. Agam diam saja, wajahnya kaku.


Sedangkan Pak Abun SS senyum-senyum.


"Wah, mikrofonnya bagus sekali, apa ini terbuat dari emas asli?" Linda memegang sebuah mikrofon berwarna emas. Mengelusnya dan ....


"Puh, puh, puh," ditiupnya.


"LB, kamu memalukan." Agam kesal.


"Hahaha, tidak masalah kok," timpal Pak Abun SS.


"Mikrofon ini alat utama untuk merekam. Semua studio rekaman pastinya membutuhkan mikrofon."


"Mikropon ini komponen audio yang digunakan untuk merekam sinyal audio, baik vokal, akustik instrumen, atau apa pun yang menjadi sumber suara," jelas Pak Abun SS.


Ia kemudian menerangkan beberapa alat yang ada di ruangan itu berikut fungsinya. Linda menyimak dengan serius.


"Ini pasti tahu, ini headphone bukan handphone ya."


"Hahaha, ya iyalah Pak. Yang ini aku tahu," kata Linda.


"Ini namanya studio monitor atau speaker, ini kabel XLR, ini mic stand, fungsinya untuk ---."


"Cukup!" sela Agam.


Pak Abun SS membisu.


"Pak Agam, aku mau tahu nama-nama barang ini apa saja?" Linda menatap heran pada Agam.


"El, kamu di sini untuk saya tes bernyanyi bukan untuk study tour," tegasnya sambil duduk di kursi yang posisinya menghadap ke area central studio rekaman.


Nanum tiba-tiba Agam membuka jasnya, lalu memakaikan jas itu pada Linda.


"Di sini cukup dingin," bisiknya. Saat Pak Abun SS sedang menyiapkan instrumen untuk Linda.


"Thank's ...." Melemparkan senyum pada Agam, harapnya semoga suasana hati pria itu membaik.


"Baiklah, yuk kita mulai saja," katanya. Pak Abun SS mendekatkan stand book music pada Linda.


"Silahkan Nona LB, mau lagu yang mana? Ini ciptaan saya semua, dan ada yang kolaborasi dengan Anonim."


"Yang ini saja Pak," jawabnya sambil memakai headphone.


Agam kembali duduk di kursi semula, siap menyaksikan penampilan pujaan hatinya.


Seperti apa sih suara wanita itu?


Kok bisa membuat brandalan sekelas Yohan Nevan Haiden menangis?


Linda sedikit gugup saat sadar Agam tengah menatapnya tanpa ekpresi. Sedangkan Pak Abun SS sudah siap untuk menyalakan musik pengiring yang telah direkam sesuai dengan lagu yang dipilih oleh Linda.


Lalu Pak Abun SS memberikan headphone pada Agam, agar pria itu memakainya juga.


"Dengan memakai ini suara LB akan lebih jelas, Pak."


"Oke," kata Agam.


"Ready?" seru Pak Abun SS. Setelah ia memakai headphone dan menghadap Digital Audio Workstation (DAW), tangannya siap pada tombol on.


Klik ....


Intro musik mulai mengalun. Sebuah lagu syahdu. Dari musik awalnya saja sudah terdengar pilu.


"🎶 🎶"


"🎶 🎶"


Agam jadi tegang, alunan musik itu menelisik relung hatinya.


Semakin berdebar hati Agam manakala Linda mulai menggerakan kepalanya perlahan ke kiri lalu ke kanan, sambil memegang bulatan headphone di telinga kanan, lalu memejamkan mata dan menarik napasnya.


Lalu wanita cantik itu menatapnya lekat, sebelum akhirnya bibirnya yang merah merekah itu mengeluarkan suara bernada, mengalunkan syair syahdu.


Sebuah lagu berjudul Isyarat dan Doa Ciptaan Abun SS & Anonim


🎶 Kau ... adalah harapan


🎶 Kau ... adalah impian


🎶 Impian ... yang tak sanggup kukatakan


🎶 Kasih ....


🎶 Seandainya kau tahu


apa yang kurasakan setiap malam


🎶 Kasih ....


🎶 Seandainya kau tahu


bagaimana perasaanku


saat kau di hadapku, bersamaku, menatapku


Reff


🎶 Kau ... adalah harapan


🎶 Kau ... adalah impian


🎶 Impian ... yang tak sanggup kukatakan


🎶Namun sayang


terlalu rapat kupendam perasaan ini


🎶 Kau tak akan mungkin tahu


🎶 Aku takut mengucap satu kata


yang selama ini aku rasakan


🎶Aku hanya mampu bernyanyi


mengadu pada rembulan ... di kejauhan


🎶 Juga pada bantal ... tempat kusandarkan kepalaku, penatku, hampaku


Reff


🎶 Kau ... adalah harapan


🎶 Kau ... adalah impian


🎶 Impian ... yang tak sanggup kukatakan


🎶 Kau terlalu istimewa bagiku


🎶 Hingga perasaanku berkata


kau tak mungkin kugapai


Agam menunduk, tak kuasa menahan gejolak rasa saat Linda mengarahkan tangannya pada Agam ketika mengatakan "Kau."


Pak Abun SS mengangguk-angguk pelan, sesekali mengayunkan kepala dan tangannya ke kiri dan ke kanan. Jempol tangannya berulang kali terangkat mengapreasi Linda. Sedangkan kakinya mengetuk, menghentak lantai sesuai irama dan birama.


🎶 Hanya doa ... dan lelehan air mata


🎶 Berharap Tuhan menolong hamba


🎶 Dari rasaku ... cinta yang tak biasa


Reff


🎶 Kau ... adalah harapan


🎶 Kau ... adalah impian


🎶 Impian ... yang tak sanggup kukatakan


Musik mulai mengalun melambat, lalu perlahan mengecil, kecil, semakin kecil, sangat kecil.


Hingga akhirnya lenyap dan menghilang dari pendengaran bersamaan dengan tepuk tangan dan standing applause dari Pak Abun SS.


'Prok prok prok.'


"Yes LB, kamu luar biasa." Pak Abun SS melepas headphone terburu-buru dan berlari ke arah Linda yang tengah menatap Agam.


Ia sedang menunggu reaksi Agam, tapi pria itu sepertinya sama sekali tidak tertarik.


"Kamu hebat." Pak Abun SS hampir saja memeluk Linda, namun sebuah dehaman mengagetkannya.


"EHHEM!! Mari kita pulang," ajaknya.


Agam menarik tangan Linda.


"Pu-pulang?" Linda heran.


"Buat resume penilaiannya, surel ke email saya," tegas Agam saat meninggalkan Pak Abun SS yang mematung bingung.


"Ba-baik, Pak. Pada akhirnya ia memang harus mengatakan ya.


.


.


.


.


"Pak, jangan cepat-cepat jalannya. Saya lelah."


"Lelah? Baiklah. Sekarang tidak akan lelah lagi," kata Agam saat ia membopong Linda menuju mobil, dan memasukkan tas Linda ke bagasi.


"Aaaa, Pak ... Agam ... pelan-pelan."


"Jangan berteriak, kita akan kabur, El." Agam memakaikan sabuk pengaman pada Linda, matanya terlihat memutar waspada.


Linda jadi ketakutan.


"Pak, Ada apa ini? Aku takuut."


"Ada seseorang yang menginginkan kamu."


"Apa?! Mana? Musuh? Aku tidak melihatnya, Pak."


"Yakin kamu tidak melihatnya?"


"Iya, Pak." Linda melihat sekeliling.


"Ada di sisi kananmu, calon suamimu," jawabnya sambil melesatkan mobil.


"Apa?! Hahaha, aku tertipu." Linda baru faham.


Entah disadari Agam atau tidak, sebuah mobil pikup berwarna hitam, terlihat menguntit pergerakan mobil Agam.


Hmm, semoga bukan orang jahat.


❤❤ Bersambung ....