
"I-Ibu."
Agam memeluk pangkuan ibundanya. Bu Nadia membelai rambut putranya penuh kasih-sayang. Tidak banyak kalimat yang ia ucapkan kecuali tangisan.
"Maafkan Ibu ya, Nak. Maaf karena baru bisa pulang." Lagi, bu Nadia mengelus dan mencium rambut putranya.
"Ibu harus bersembunyi gara-gara saya, ini bukan salah Ibu, justru sayalah yang salah," kata Agam sambil mencium tangan ibunya. Ada perasaan khawatir di hati pak Dirut, ia kebingungan menjelaskan tentang adiknya jika ibunya menanyakan tentang Gama.
Linda masih mematung, menatap ibu mertuanya dengan deraian air mata.
"Nak LB, kemarilah."
Bu Nadia mengulurkan tangan pada Linda. Linda mendekat. Bu Nadia lantas memeluk menantu cantiknya itu sambil menangis.
Selama ia di tempat persembunyian, ia selalu memantau berita tentang Linda dari berbagai media. Bu Nadia merasa bangga karena Linda sudah berhasil menjadi istri pemberani dan penyabar. Karena ia tahu menjadi istri putranya bukanlah hal yang mudah karena Agam mempunyai banyak musuh.
"Terima kasih karena kamu bisa bertahan di sisi Agam. Ibu tahu ada di posisi kamu pasti sulit. Ibu bangga sama kamu, Nak. Kamu memang wanita terbaik untuk Agam." Seraya membelai rambut Linda. Agam hanya senyum-senyum.
Kalaupun Linda benar-benar ingin kabur dari sisinya. Agam akan memastikan jika Linda tidak akan mampu melepaskan diri dari jerat dan pesonanya. Pak Dirut sangat percaya diri kalau si cantik Linda Berliana Briliant adalah jodoh dunia akhiratnya.
"Dia tidak mungkin meninggalkan saya, Bu. Ya 'kan sayang?"
"Emm, i-iya," jawab Linda sambil tersipu.
Sementara Pak Yudha dan Bu Ira terlihat sedang memomong Keivel. Mereka teramat bahagia karena bisa bertemu kembali dengan bayi Keivel yang kondisinya tampak sehat dan baik-baik saja.
"Nak Linda, pokoknya Ibu sangat bangga sama kamu. Keivel juga tampan sekali. Ketampanan Keivel pasti karena kamunya yang cantik," puji Bu Nadia.
Ia merasa tak enak hati kalau memuji anaknya sendiri. Linda melongo karena dirinya justru merasa jika ketampanan Keivel diturunkan dari Agam Ben Buana.
"Keivel itu perpaduan antara cantiknya Bu LB dan tampannya Pak Agam. Tadaaa, jadilah sememesona ini," kata Pak Yudha yang tiba-tiba saja datang dan memberikan Keivel pada Linda.
"Hai sayang." Linda kembali menciumi putranya. Padahal, tadi ia sudah menciumi Keivel.
"Wah, kangen ya sama Momca? Dia pasti mau minum langsung dari sumbernya sayang," kata Agam yang langsung dibalas cubitan oleh Linda. Yang lain tergelak.
"Awas, jangan mencuri hak Keivel, kamu Ben!" canda Bu Nadia.
"Hahaha, tidaklah Bu. Nanti juga ada saatnya," timpal Agam.
Daun telinga Pak Dirut memerah, sedangkan Linda kian merona mendengar ucapan suaminya itu. Andai Bu Nadia tahu segila apa putra sulungnya saat di atas ranjang, ia pasti akan terkejut dan terheran-heran.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu." Linda beranjak.
"Aku ikut sayang," Agam hendak menyusul. Namun tangannya segera ditarik oleh Bu Nadia.
"Ben, kamu di sini dulu. Ada banyak hal yang perlu kita bahas," tegas Bu Nadia.
"Baik, Bu." Pak Dirut memang tidak pernah membantah ibundanya.
"Ayo bicara di kamar Ibu," ajak bu Nadia.
.
.
Di kamar ibunya, Agam sedikit gelisah karena sikap ibunya berubah dingin. Ia menatap Agam dengan sorot mata tajam. Agam menunduk, ia pasrah dan siap dikuliti kapan saja.
"Jangan kira Ibu tidak tahu kalau Gama celaka!" teriak Bu Nadia. Agam sudah menduga jika hal ini bakal terjadi.
"Ma-maaf Bu."
"Ibu kecewa padamu, Ben!"
'PLAK.'
'PLAK.'
Agam ditempeleng bulak-balik. Ibunya yang mantan atlit bela diri tentu saja pukulannya tak seenteng pukulan Linda. Bahu Pak Dirut tampak oleng. Jika pukulan itu diterima orang biasa, yakinlah akan tersungkur saat itu juga.
"Siapa dalang yang mencelakai Gama?!" teriak Bu Nadia.
"Tu-Tuan Reynaldi, Bu. Tapi kemungkinan ada oknum BRN yang bekerja sama dengan tuan Reynaldi. Sebab saat Gama kecelakaan, posisinya berada di bawah pengawasan BRN," jawab Agam sambil mengusap pipinya.
Tamparan Bu Nadia benar-benar bisa merontokkan gigi lawan dan meretakan tulang. Untungnya Pak Dirut bukan sembarang manusia. Dia perkasa, maksudnya dia petarung tangguh.
"Jangan kamu kira selama Ibu tak ada Ibu diam saja! Ibu tahu semua hal yang terjadi pada anak-anak Ibu!"
"Ya Ibu, saya juga tahu kalau Ibu sebenarnya sudah tahu."
"Jika di BRN masih ada pengkhianat, berarti keselamatan Gama masih terancam!" tandas Bu Nadia.
Agam mengernyitkan alis. Apa ibunya juga tahu kalau Gama hilang ingatan? Pak Dirut garuk-garuk kepala.
"Tidak perlu kamu jelaskan! Ibu tahu kalau Gama hilang ingatan!" sentaknya.
"Ma-maaf Ibu, semua salah saya. Silahkan hukum saya sesuka hati Ibu."
Agam merentangkan tangan, bermaksud memeluk Bu Nadia. Tapi Bu Nadia menepisnya saat tubuh putra sulungnya itu mendekat.
"Tak perlu peluk-peluk Ibu! Hukuman dari Ibu untuk kamu simpel saja. Cukup jangan meniduri LB selama satu bulan!" tegas Bu Nadia. Serius, saat ini ia sedang menahan tawa atas guyonan tak lucunya itu.
"A-apa?!" Jelaslah Agam terkejut.
"Beri hukuman yang lain Bu, asalkan jangan itu," rengek Agam. Dan Bu Nadia langsung terbahak-bahak. Lalu Agam sadar jika ia telah dikerjai ibunya.
"Ck ck ck, Ibu ayo bicara serius, apa yang harus saya lakukan?" Agam mendudukkan diri di sisi tempat tidur.
"Baiklah, sekarang Ibu mau serius. Begini Nak, Ibu mau kamu mengundurkan diri dari HGC."
"Tapi Bu. Kalau saya pergi dari HGC, saya khawatir HGC akan dimerger dan diakuisisi oleh perusahaan asing. Saya sudah membicarakan ini dengan tuan Deanka, dan dia menolak untuk menjabat kembali. Nona Aizapun setelah bayinya yang ini lepas ASI, katanya mau program punya bayi lagi."
"Harapan saya selain nona Aiza, ya adiknya nona Aiza. Tapi ... adiknya nona Aiza masih di dalam kandungan," terang Agam.
"Hmm, dari dulu Ibu selalu berharap agar kamu bebas dari bayang-bayang keluarga Haiden. Tanpa kamu jadi Dirut HGC pun, kehidupan kita sudah lebih dari cukup, Nak."
"Bu, ini bukan masalah materi, yang saya pikirkan adalah kelangsungan hidup ribuan karyawan yang bekerja di bawah naungan HGC. Keluarga Haiden, walaupun mereka bersaudara, tapi mereka tak pernah akur. Di dalamnnya ada banyak kubu. Ada yang jahat, baik, dan juga masih abu-abu."
"Hmm," Bu Ana menghela napas.
"Kenapa kamu tidak mengajukan tuan Yohan saja? Ibu rasa dia sudah berubah. Ibu sudah ngobrol banyak dengan anak itu."
"Tuan Yohan mantan narapidana Bu. Peraturan untuk Dirut HGC itu salah satunya adalah bukan mantan pesakitan."
"Dia aneh sekarang, Ben. Katanya mau pindah keyakinan juga."
"Apa?!" Agam terkejut.
"Apa kamu pernah mempengaruhi dia?"
"Mempengaruhi? Tidak pernah, Bu. Untukku agamaku, untukmu agamamu," timpal Agam.
"Tuan Yohan mau pindah keyakinan. Dia ingin memeluk Islam, Ben."
"Hmm, alhamdulillaah." Agam tersenyum. Ia yakin motivasi Yohan pasti lantaran gadis itu.
"Ya sudah, kamu cepat istirahat, Ibu mau ke rumah sakit dengan pak Yudha. Tak perlu kamu yang antar."
"Baik, Bu. Hehehe, apa Ibu mau saya belikan tas terbaru?" Agam merayu ibundanya.
"A-apa?! Siap Bu." Sambil memberi hormat.
Agam yang awalnya kaget jadi sumringah, sebab Bu Nadia kembali memeluknya. Dekapan seorang ibu seperti inilah yang selama ini selalu menguatkan seorang Agam Ben Buana.
"Ibu ...," lirih Agam.
"Sampai kapanpun, walau kamu sudah sebesar dan setinggi ini, banyak ototnya, dan sudah beranak, atau bercucu sekalipun, Ibu tetap menganggap kamu sebagai bayi pertama Ibu. Rasa cinta Ibu terhadap kamu tidak pernah berubah dari kamu dilahirkan hingga saat ini. Pun rasa cinta Ibu pada Gama. Kalian berdua adalah permata hati Ibu. Kalian bayi-bayi Ibu."
Air mata Bu Nadia menetes. Teringat kembali saat-saat sulit di mana ia harus berjuang seorang diri membesarkan Agam dan Gama.
"Terima kasih, Bu. Saya tidak bisa membalas kebaikan Ibu, saya hanya bisa berbakti dan berdoa untuk Ibu."
"Ya Nak, doa kamu pada Ibu memang akan menjadi amalan yang tidak akan terputus oleh ruang dan waktu. Ya sudah, kamu cepat gantian jaga Keivel. Istri kamu perlu istirahat. Menyusui itu melelahkan Ben, Ibu sempat khawatir Linda tidak mau menyusui."
"Linda luar biasa Bu. Ibu lihat saja stock ASI perahnya, banyak 'kan? Dia pumping setiap dua jam sekali. Linda juga makannya banyak, Bu. Dia rela mengesampingkan penampilannya demi Keivel." Pak Dirut bangga, memuji Linda di hadapan ibunya.
"Tapi yang Ibu lihat badannya bagus-bagus saja tuh. Nyaris tidak ada perubahan," puji Bu Nadia.
"Linda rutin olah raga Bu, baik olah raga sendiri, maupun olah raga dengan saya. Hahaha."
Agam terbahak-bahak. Bu Nadia memukul bahu putranya. Ia faham benar maksud putranya tentang olah raga bersama.
...❤...
...❤...
...❤...
"Val, a-aku harus pulang. Ini sudah sore, harusnya aku sudah pulang dinas dari jam dua siang." Freissya kebingungan karena Gama terus memeluknya.
Freissya telah lapor pada dokter jaga, namun dokter jaga malah menganjurkan agar Freissya lembur dan terus menjaga Gama sampai dia tertidur.
"Ice, kamu istriku 'kan? Hei, suami kamu sakit, masa mau kamu tinggalkan?"
Gama merajuk. Tapi tetap memeluk Freissya yang saat ini sedang mengelap peralatan medis yang ada di ruangan tersebut.
"Val sudah kubilang, kita sebenarnya bukan suami-istri."
"Jangan berbohong, sebelum ujian, tadikan kita melakukan hub ---."
"Ssst ...."
Freissya segera membekap bibir Gama. Wajahnya memerah. Teramat malu dan merasa dirinya sangat kotor karena dengan bodohnya melakukan hubungan itu.
"Val ...." Ia membalikan badan dan membalas pelukan Gama sambil menangis.
"Hei, kok malah nangis sih? Apa yang tadi masih sakit? Saranku, kita harus sering-sering melakukannya agar tubuhmu terbiasa."
"Huuu, Val .... Ish, bukan itu masalahnya. Aku menangis karena takut saat kamu sadar seratus persen, kamu malah melupakan aku. Padahal ... aku ... huuu ... sudah menyerahkan tubuhku sama kamu."
"Tidak akan Ice, aku tidak mungkin melupakan kamu. Jangan sedih lagi ya."
"Val, a-aku sebenarnya melakukan itu karena ada sedikit keterpaksaan."
"Terpaksa? Benarkah?"
"I-iya Val, emm ... kalau ingatanmu sudah pulih sepenuhnya, aku akan ceritakan alasan kenapa bapak dan mamaku membenci keluarga kamu."
"Aku tidak mengerti yang kamu bicarakan." Gama menautkan alisnya.
"Val, sebenarnya ... a-aku melakukannya karena berharap dapat keturunan dari kamu. Kalau aku hamil, bapak dan mamaku tidak mungkin menolak seorang bayi suci yang lahir dari rahimku kendatipun bayi itu berasal dari keturunan Buana," jelas Freissya.
"Apa?! Jadi maksudmu seperti itu?!"
"I-iya Val."
"Ya ampun Ice, tapi aku belum mau jadi bapak-bapak! Aku masih berusia 20 tahun, Ice. Tidak, kamu tidak boleh hamil dulu! Bayi itu rewel Ice, kebersamaan kita akan terganggu kalau di antara ada bayi!"
"Apa?!"
Freissya kaget dengan kalimat Gama. Padahal sebelumnya pria ini telah mengatakan ingin memiliki anak dari rahimnya.
"Val! Tadi kamu bilang mau punya anak dari aku. Kamu jahat! Huuu," Freissya melepaskan diri dari dekapan Gama.
"Ice, tadi aku mau karena mengira usiaku sudah dewasa dan berumur 25 tahun. Tapi setelah melihat kartu ujian, aku jadi yakin kalau aku memang masih remaja dan belum pantas jadi bapak-bapak apalagi punya anak. Kamu minum obat peluluh saja ya," bujuknya.
'PLAK.'
Dijawab oleh tamparan. Freissya menampar Gama karena kesal dan menyesali kejadian itu.
"Hei, kamu menampar suamimu?!" sentak Gama.
"Cukup Val! Cukup! Kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama! Dunia kita jauh berbeda! Kamu mutiara langka di lautan dalam, sedangkan aku hanya serpihan pasir di tepi pantai yang sering terinjak-injak dan jadi mainan!" Freissya berbicara dengan menggebu.
"Mari kita PUTUS!" teriak Freissya. Ia berlari menuju pintu keluar.
"Ice, tunggu!" teriak Gama.
"Mana boleh kamu meninggalkanku begitu saja setelah kamu melecehkanku! Apa kamu lupa sudah melakuan apa saja terhadap tubuhku, hah?! Kamu bahkan mengajariku beberapa trik! Kamu sudah mengambil kesucianku, Ice! Jangan harap kamu bisa lolos! Ingat yang telah kita lakukan wahai suster mesum!" bentak Gama sambil menahan kuat tangan Freissya.
"A-apa katamu?! Ka-kamu gila!"
Freissya menggelengkan kepala. Ucapan Gama terasa menyakitkan. Tega sekali pria ini mengatakan jika dirinya melecehkan Gama dan dituduh sebagai suster mesum. Padahal jelas-jelas mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Kejadian itu terjadi begitu saja secara alamiah dan naluriah.
"Jangan-jangan kamu juga pura-pura jadi Iceku! Padahal sebenarnya kamu bukan Ice!" tuduh Gama.
"Val, kamu benar-benar sakit! Tidak, akulah yang sakit. Bisa-bisanya aku percaya sama manusia yang baru sadar dari koma! Harusnya tadi aku menolak keinginan kamu! Aku benar-benar bodoh!"
Freissya sangat menyesal. Jika Gama tidak menginginkan dirinya hamil, itu artinya, tidak akan ada pria yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Freissya lantas membulatkan tekad untuk pergi dari kehidupan Gama.
"Huuks, Val ... terima kasih untuk semuanya. Tolong jangan katakan pada siapapun kalau aku telah melecehkan kamu. Aku sadar jika yang kulakukan adalah kesalahan dan termasuk dosa besar. Jikapun alasannya karena aku mencintai kamu, aku tetap saja salah. Dan kamu tidak salah karena posisimu masih dalam keadaan sakit."
"Kalau kamu tidak menginginkan kehamilanku, oke aku tak masalah. Jika benar-benar hamil, aku akan tetap membesarkan bayi ini sebagai kenang-kenangan yang aku anggap sebagai bingkisan cinta dari kamu." Freissya merapikan tas dan sepatunya sambil terisak.
"Ice, aku hanya belum mau jadi bapak-bapak, tapi itu bukan berarti aku tidak ingin memiliki bayi dari kamu. Aku siap menjadi babak setidaknya setelah usiaku 25 tahun. Jangan pergi, Ice. Tetap di sini sampai operasi terakhirku selesai." Kembali memegang tangan Freissya.
"Tidak, Val! Aku tidak mau! Aku harus pergi!"
"Kenapa, Ice?"
"Karena kamu telah menyinggung dan menyakiti perasaanku Val!" Freissya menepis tangan Gama. Ia bersikukuh ingin pergi.
"Tidak ada seorang yang boleh menolakku, termasuk kamu, Ice!" Gama menarik tubuh Freissya dan memaksa memagut kasar bibir Freissya.
Bersamaan dengan itu, pintu kamar ruang pemulihan megah itu tiba-tiba terbuka. Pak Yudha dan Bu Nadia tiba. Mereka juga datang bersama dokter jaga dan dokter penanggung jawab.
Mata mereka membelalak memergoki adegan tak senonoh itu. Jelas sekali jika Gama terlihat memaksa dan berhasrat, tangan Gama bahkan merambah ke bagian lain tubuh Freissya.
Bu Nadia terkejut bukan kepalang. Ia tak menyangka jika bayi keduanya tega melakukan perbuatan memalukan itu pada seorang suster.
"GAMA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak Bu Nadia.
Suaranya menggelegar. Gama teperangah, pun dengan Freissya. Dokter dan Pak Yudhapun turut terkejut mendengar suara Bu Nadia.
...~Tbc~...