AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Fighter



"Ayo minumlah cantik, ini bukan minuman beralkohol, kok. Ini hanya jus lemon yang dicampur dengan sari mentimun," rayu Tuan Reynaldi yang saat ini tengah mendudukan Linda di pangkuannya.


Jangan mengira jika Linda tidak curiga dengan minuman itu, sedari awal dia sudah curiga, hanya saja sedang mengulur waktu agar pria ini tidak bisa menodainya.


Tuan Reynaldi, dia sebenarnya adalah pria tampan, dia dikenal sebagai hot daddynya Haiden Grup yang kaya raya dan hidup sempurna karena memiliki istri yang cantik dan putra yang lucu-lucu. Namun pamornya menurun setelah gagal jadi Dirut dan digugat cerai.


"Maaf Tuan, aku punya asam lambung tinggi, aku tidak biasa minum lemon." Linda beralasan.


"Baiklah, aku akan menyediakan minuman lain."


Setelah mencium pundak Linda, pria itu beranjak. Ia akan mengambil minuman lain. Kali ini ia membuat susu.


"Kamu ibu menyusui 'kan? Susu ini bagus untuk kamu," katanya.


Rupanya alasan Linda belum cukup kuat untuk bisa mencegah Tuan Reynaldi memberinya minuman. Dan kegelisahan Linda terbaca oleh pria itu. Pria itu lantas kehilangan kesabaran.


"Kamu banyak ulah!" teriaknya sambil menodongkan pistol ke kepala Linda.


"Tu-Tuan letakan pistolnya. Aku janji akan patuh," kata Linda.


"Halah, lama!" sentaknya.


Lalu ia menarik dan mencekal tangan Linda. Membuka paksa mulut Linda dan memasukan sebuah pil. Kemudian memukul bagian bawah dagu Linda hingga obat itu spontan tertelan.


"Uhuuk, uhuuk," Linda terbatuk-batuk. Matanya berair. Ingin mencoba memuntahkanpun percuma karena obat itu sudah tertelan.


"Ka-kamu bajingan!" Linda akhirnya malas berakting lagi.


"Hahh, sudah kuduga! Kamu hanya pura-pura jadi penurut! Rasakan ini! Salahmu menolak diberikan dengan cara halus!"


Tuan Reynaldi mengambil gelas sebelumnya yang sudah berisi obat. Ia kembali memaksa Linda untuk meminumnya. Jadi, Linda nyaris meminum dua dosis. Karena sebagiannya berhasil dimuntahkan dan disemburkan ke wajah Tuan Reynaldi.


'Plak.'


Pipi Linda ditampar. Linda menangis, ia menyesal tidak bisa ilmu bela diri. Jika ia berhasil selamat, Linda berjanji akan belajar beladiri dari suaminya.


"Akh," jerit Linda saat tangannya diikatkan pada tiang gazebo.


"Sepuluh menit lagi kamu akan memohon untuk diperkosa, hahaha."


Ia tertawa puas saat melihat Linda ketakutan, ia juga senang melihat napas Linda yang naik-turun dengan dan pipinya yang kemerah-merahan. Visual istri Agam Ben Buana benar-benar aduhai.


"Bagaimana CCTVnya? Apa sudah diperbaiki?"


Sambil melucuti bajunya, ia menyempatkan diri untuk menelepon anak seseorang. Sementara itu, Linda mulai merasakan pusing dan kepanasan. Wanita cantik nan seksi itu berusaha tetap sadar dengan cara menggigit bibirnya kuat-kuat.


"Sudah Tuan, tiba-tiba saja sudah kembali normal."


Jawaban dari anak buahnya membuat Tuan Reynaldi tertawa. Ia tidak sadar dengan kata 'tiba-tiba saja jadi normal.'


Usut punya usut, lem perekat yang ditembakkan Agam pada CCTV ternyata memiliki rentang waktu rekat. Misal dalam lima menit perekatnya akan habis, maka dalam batas waktu lima menit itulah anggota BRN harus menyelesaikan misinya.


"Bagus, tempatkan lima orang penjaga di depan mini bar!" titahnya.


"Baik, Tuan."


Selesai menelepon, ia lantas menghampiri Linda. Lalu menghidu dan menciumi pipi Linda sambil tersenyum. Tangannya tak bisa diam. Perlahan meraba dan mengusap. Linda menolak semampunya sambil berurai air mata.


Harapannya untuk diselematkan oleh sang suami kandaslah sudah. Awalnya sempat berpikir ia akan baik-baik saja karena Agam pasti menolongnya. Tapi hingga di detik ini, pria itu belum tampak batang hidungnya.


"Silahkan kamu tangisi nasibmu, artis munafik!" Sambil meraih ponsel dan berselfie dengan latar belakang tubuh Linda.


"Tubuhmu terawat dengan baik, kulitmu adalah kulit termulus yang pernah aku lihat," kata Tuan Reynaldi saat ia mengelus-elus kaki Linda.


"Ja-jangan, tolong ...."


Linda masih bisa berbicara dengan suara lirih. Efek awal obat itu ternyata membuat tubuhnya terasa lemas.


.


Di Ruangan Lain.


"Hei, kamu kemana saja sih?!" teriak seorang pengawal saat melihat pria berseragam pengawal masuk ke ruang kerja mereka.


Pengawal itu memakai topi yang terlihat menutupi sebagian wajahnya. Tahu 'kan siapa pengawal itu? Ya benar, dia adalah Agam Ben Buana.


Agam hanya mengangguk, matanya kembali melirik pada signal cip pelacak yang berkedip dan menunjukkan jika titik lokasinya dan Linda hanya berjarak sekitar 10 meter lagi.


"Kamu bergabung dengan empat orang itu, tugasmu berjaga di depan minibar!" titah pria yang kemungkinan adalah kepala pengawal.


Lagi, Agam hanya mengangguk, ia sengaja tidak berbicara untuk meminimalisir kecurigaan. Ia berjalan di bagian belakang, menguntit empat orang di depan menuju mini bar. Jantung Pak Dirut berdegup. Ia tengah berusaha keras mengendalikan emosinya.


Serius, saat ini amarahnya memuncak sempurna.


Kenapa demikian?


Karena ia sempat mendengar seseorang mengatakan, "Tuan Rey sepertinya akan mencekok LB dengan obat perangsang dosis tinggi."


Sebagai seorang suami, siapa sih yang tidak marah?


Sampailah mereka di depan mini bar. Letaknya ada di bagian belakang lantai satu rumah ini. Agam menelan saliva kasar saat melihat titik signal menunjukkan ia berada di titik lokasi. Tangan yang ia sembunyikan di saku mengepal kuat hingga urat-uratnya menyembul.


Keparat!! Satu helai rambut istriku yang kamu jatuhkan, akan bernilai satu tikaman. Jika kamu menodai istriku, maka aku akan membunuhmu!


Ancam Pak Dirut dalam batinnya, dan berpikir keras untuk segera melumpuhkan para penjaga.


Tatapan tajamnya melihat dengan jelas jika seluruh pengawal membawa senjata api. Jika Agam langsung menembak, ledakan pistol pasti akan menghebohkan penjaga yang lain.


Pisau.


Ya, tangan Pak Dirut merogoh pelan pisau lipat dari dalam tas selempangnya. Percayalah, ini bukan pisau lipat biasa. Selain tajam, permukaan pisau ini mengandung racun gatal.


Kini pisau itu telah berada di balik telapak tangan Pak Dirut, siap menikam, dan menumpahkan darah.


Tak ada waktu lagi, jika terus menunggu lawan lengah, kapan ia bisa menyelematkan Linda? Bukankah dia ke sini demi Linda?


Agam bahkan rela meregang nyawa untuk membela kehormatan istrinya.


'Ksak.' Pisau itu terbuka.


Lalu dengan cepat Agam menikam satu pengawal yang berada di dekatnya dengan gerakan tak terbaca. Tidak, Agam tidak sejahat itu. Yang digunakan tenyata bukan pisau. Hanya saja, ia memukul titik lemah lawan sambil menghunus pisau.


"Hei! Siapa kamu?!"


Yang tiga orang lagi menyadari jika di antara mereka ada penyusup. Serempak pasang kuda.


"ITU DIA!"


Dari arah belakang ada serangan lagi. Rupanya salah satu pengawal yang terkunci di kamar mandi sudah sadar dan berhasil meloloskan diri. Sebab di barisan mereka ada satu orang yang tidak berdiri, melainkan merangkak dengan wajah yang babak-belur.


"Haish!" dengus Agam.


Ia tidak bisa bersembunyi lagi. Pak Dirut telah terkepung. Ia mundur beberapa langkah sambil mengedarkan pandangan.


"Siapa kamu?! Menyerah sekarang juga atau kamu akan mati!" teriak kepala pengawal sambil menembak ke udara.


'DOR.'


'PRAK.' Mengenai lampu hias.


Lampu hias yang jatuh tentu saja menimbulkan bunyi berisik hingga terdengar samar ke dalam mini bar.


Tuan Reynaldi yang sedang memaksa membuka baju Lindapun terkejut. Ia memicingkan telinga.


Sedangkan Linda tidak mendengarnya karena mulai terpengaruh obat. Sontak Tuan Reynaldi yang hanya mengenakan dalaman bagian bawah itu bangkit dan berlari ke arah pintu. Rupanya ia sudah terbiasa toples di hadapan anak buahnya hingga tak ada rasa malu lagi.


"Ada apa ini?!" teriaknya sambil membuka pintu.


Matanya melotot melihat lampu hiasnya hancur. Namun itu tak masalah, karena yang membuat ia membelalak sempurna adalah saat melihat anak buahnya mengepung seseorang.


"Mohon maaf, ada penyusup Tuan," lapor kepala pengawal. Sementara tangannya terus membidikan pistol ke arah Agam.


Agam mengangkat sedikit topinya untuk melihat ke arah suara yang ia kenali. Ia yang tadinya bisa sedikit tenang tak bisa mengedalikan diri lagi. Amarah Pak Dirut memuncak, bahkan mungkin telah mendidih di ubun-ubunnya.


"KURANG AJAR! Kau apakan istriku KEPARAT?!"


Penampilan Tuan Reynaldi yang toples dengan senjatanya yang sudah siap tempur itu jelas membuat Agam marah besar. Raja rimba tak punya toleransi lagi. Ia berlari untuk menyerang Tuan Reynaldi.


"Tahan dia! Tapi jangan dibunuh!" teriak Tuan Reynaldi pada anak buahnya.


Pria itu menyeringai, menyandarkan tubuhnya ke pintu sambil melipat tangan di dada. Dengan jumlah sebanyak itu, ia yakin anak buahnya mampu melumpuhkan Agam Ben Buana.


"Seraaang!"


Anak buahnya yang berjumlah belasan itu bersama-sama mengejar dan menyerang Agam.


"Dasar pecundang!" teriak Agam.


Ya, kalau Agam mau, ia juga bisa menggunakan seluruh anak buahnya untuk meluluh-lantakkan tempat ini dan tidak datang terlebih dahulu seorang diri. Tapi jiwa ksatrianya tidak selemah dan sepecundang itu.


Lari Agam begitu cepat, ia memukul mundur satu-persatu pengawal yang berhasil mendekat dan berusaha menyerangnya.


Agam membabi-buta menghajar yang menghalangi langkahnya dengan tendangan dan tikaman pisau di bagian bahu kanan. Namun Agam tidak menyerang organ vital. Karena sejatinya, ia bukanlah pembunuh. Kalaupun terpaksa membunuh, satu-satunya orang yang akan ia bunuh adalah Tuan Reynaldi.


'Srak.'


'Bugh.'


"Aaarggh."


Suara pisau Agam dan tendangannya bersinergi dengan suara teriakan dan pekikkan kesakitan lawan-lawannya.


Tetesan darah bececeran. Bahkan ada yang memancarkan darah dari lubang hidungnya akibat tendangan keras kaki Pak Dirut yang dibalut sepatu mahal. Seorang pengawal bertubuh paling pendek harus rela keramas dengan darah temannya. Dan iapun pingsan sebelum Agam melakukan apapun karena phobia darah.


"Hahhh, lemah!"


Ledekan Pak Dirut membuat Tuan Reynaldi naik pitam. Dan setelah melihat anak buahnya tumbang satu-persatu, ia pun tak punya cara lain kecuali menyerang Agam dengan cara yang licik. Ia berlari ke dalam minibar dan tentu saja akan menggunakan Linda sebagai tameng yang bisa digunakan untuk melemahkan Agam Ben Buana.


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk!...