
Bibir yang sama-sama indah itu kini semakin mendekat, hampir menempel dan melekat. Mungkin hanya berjarak satu centi meter, hingga keduanya bisa merasakan betapa hangatnya hembusan napas itu. Pemandangan dan interaksi di antara keduanya sungguh serasi.
Dag.
Dig.
Dug.
Derr.
Dan ....
"Aaaa!" Gama membelalakan mata.
Gama khawatir jika Agam benar-benar pingsan. Ia keluar dari kamar terburu-buru, jantungnya hampir terlepas saat melihat pemandangan manis di depan kamar Linda dan spontan berteriak.
Linda segera memalingkan wajah dan masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu dan mengutuk kebodohannya. Agam memasygul rambutnya kuat-kuat, rahangnya mengeras, ingin rasanya memutilasi Gama detik ini juga.
"ARGHH, Gamaaa," teriaknya.
Agam menarik piyama Gama, hingga kancingnya berjatuhan. Kesal, dan marah bersatu padu. Kesempatan emasnya hilang begitu saja.
"Sory, Kak. I'm so sory," Gama meringis. Serius, cengkraman Agam menyakiti lehernya.
"Ikut ke kamarku sekarang!" Agam menyeret adiknya.
BRUGH, ia membantingkan Gama pada sofa di kamarnya.
"Awh," Gama mengaduh dan garuk-garuk kepala.
"Sekarang kamu obati punggung Kakak, cepaaat!" teriaknya.
Agam ingin marah atas kegagalan tadi. Tapi biar bagaimanapun Gama telah menjadi pelantara bagaimana Yang Maha Kuasa mencegahnya untuk melakukan dosa itu. Dosa yang sangat ia rindukan. Ah, benar-benar gila.
Tadi itu sedikit lagi padahal. Bahkan ia bisa merasakan aroma buah segar dari bibir nan indah itu. Bibir yang dahulu telah ia nikmati dari berbagai sisi dan penjuru dengan tanpa ampun, dan baru berhenti menikmatinya saat dirinya benar-benar kelelahan.
"Sekali lagi maaf ya Kak. Aku tadi spontan. Serius tidak sengaja."
Gama mengambil kotak P3K di atas nakas, lalu mendekati Agam yang tertelungkup di tempat tidur sambil membenamkan kepalanya pada bantal.
"Ya tidak apa-apa. Maaf ... Kakak malah mempertontonkan hal yang tidak baik di hadapan kamu," ucapnya sambil sesekali meringis saat Gama mulai mengolesi lukanya dengan cairan antiseptik.
"Tidak baik sih, tapi tadi itu indah sekali Kak. Hahaha." Diakhiri tawanya yang terbahak.
"Sialan kamu. Oiya Gama, lain kali tolong jangan berani-berani menyentuh LB. Kakak tidak suka, atau tanganmu Kakak patahkan," ancamnya.
"Widih, seram sekali ancamannya. Maaf Kak, tadi yang di tangga dapur aku juga tidak sengaja."
"Kali ini Kakak maafkan, ingat hanya ada sekali peringatan, tidak ada kedua kali atau ketiga. Camkan itu!!"
"Siap."
"Oiya, ingat juga ya Gama, jangan sampai orang di luaran sana tahu kalau kamu adiknya Kakak. Kamu masih jaga rahasia itu, kan?"
"Masih Kak, selama ini hanya dewan guru saja yang tahu," jawab Gama.
"Nah, sampai sekarang kamu harus tetap jaga rahasia. Kakak punya banyak musuh, Kakak tidak mau membahayakan nyawa kamu. Jangan sampai ada orang jahat menggunakan kamu untuk menjebak Kakak. Itulah salah satu alasan kenapa setelah lulus sekolah menengah atas kamu Kakak larang kuliah dulu."
"Kakak maunya kamu berguru dulu selama satu tahun di padepokan bekas Kakak. Harapannya saat Kakak tidak ada, kamu bisa melindungi diri kamu sendiri," tegas Agam.
"Baik," jawabnya. Tanpa bertanya kenapa dan bagaimana kakaknya bisa terluka. Gama fokus mengobati.
"Gama," sapa Agam.
"Ya," jawabnya.
"Jujur kamu sama Kakak, apa kamu pernah mencium bibir wanita? Kalau pernah, harusnya tadi kamu tidak panik," kata Agam.
"Hahaha, jujur ya Kak. Tidak pernah. Aku memang sering ganti-ganti pacar, tapi aku hanya sebatas memeluk sama mencium kening dan pipinya," imbuh Gama.
"Hmm, kok Kakak tak yakin ya," kata Agam.
"Hahaha, aku serius Kak. Aku belum menemukan wanita yang membuat jantungku berdebar, sejauh ini aku pacaran ya iseng-iseng saja Kak."
"Syukurlah, pertahankan ya. Jangan sampai kamu jahat seperti Kakak. Kakak menyesali menodai LB. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Tapi Kakak bersyukur karena bisa mengenalnya. Ya, Kakak memang menyesali hari itu, tapi setelah kejadian itu Kakak merasa lebih semangat melewati hari."
Ia mulai memejamkan matanya. Lalu miring ke kanan agar Gama bisa mengobati lukanya yang ada di bagian perut dan dada.
"Sepertinya LB sudah memaafkan Kakak. Tadi dia diam saja saat Kakak mau kiss."
"Entahlah, Kakak juga bingung."
"Mungkin dia sudah melupakan kekasihnya."
"Apa katamu?!" Agam seketika membuka matanya dan duduk.
"Ulangi! Apa maksud kamu dia sudah melupakan kekasihnya, hahh?!"
Piyama Gama kembali dicengkram.
"Memang Kakak tidak tahu? Kata ibu, saat kak LB ditanya apa sudah punya pacar? Dia bilang sudah, Kak. Kukira Kakak tahu."
"Apa?! Pergi dari kamarku! Pergi."
Agam mendorong Gama. Amarahnya kembali menggebu. Karena yang ia tahu Linda tidak memiliki kekasih. Selepas Gama pergi, Agam kembali mengepalkan tangannya dan melampiaskan kemarahannya pada samsak yang ada di kamarnya.
BUG.
"Di acara TV kamu bilang kamu jomblo."
BUG.
"Kenapa kamu cerita sama ibuku kalau kamu punya kekasih?! Apa kamu sengaja ingin menyakit perasaanku?!"
Siapa pria itu? Aku harus mencari tahu identitasnya. Rupanya kamu hanya pura-pura baik LB. Aku sudah salah menilai kepatuhanmu akhir-akhir ini.
BUG.
Agam terus menghajar samsak, tubuhnya kembali lelah, hatinya kembali terluka, dan perutnya semakin lapar saja. Tapi selera makannya hilang.
Aku harus menyelidiki siapa kekasihnya. Aku juga harus segera menemukan keluarganya. Jika dia jujur pada ibu, berarti selama ini dia telah membohongi publik dengan mengatakan masih lajang.
LB, sebenarnya kamu seperti apa?
Apa kamu benar-benar tidak menyukaiku? Terus kenapa orang-orang itu ingin membunuhmu? Dan ada orang lain selain aku yang ingin menjadikan kamu sebagai istri. Siapa pria itu?
"Aaaa! Kehidupanmu ternyata rumit."
Agam kembali ambruk untuk yang kedua kalinya. Kali ini tubuhnya menimpa lantai beralaskan karpet berbentuk rumput yang cukup tebal, setidaknya tubuhnya tidak terluka. Agam lalu memejamkan matanya mencoba menghempaskan kegundahan dan amarahnya.
Siapa kekasihmu? Sudah berapa lama kalian pacaran? Apa saja yang sudah kalian lakukan selama kalian bersama? Linda ... kenapa dadaku sesak dan panas saat tahu kamu sudah punya kekasih?
Ya, aku tahu jika aku adalah orang pertama yang mengambil kesucianmu, tapi ... di hati kamu ada orang lain. Baru kali ini aku merasa benar-benar jatuh cinta.
Ternyata ... cinta itu menyenangkan, tapi juga menyakitkan.
Agam lalu membuka kembali matanya, malam ini ... terasa begitu panjang dan melelahkan. Hatinya akan tenang saat kembali mengadu pada-Nya. Namun, ia merasakan tubuhnya sangat lelah, dan bekas cambukan itu kini terasa perih.
Tapi ... hatinya justru lebih perih dan sakit.
Namun ia tahu jika dirinya dilarang terpuruk. Ada hal lain yang harus ia perjuangkan selain LB. Ada Gama, ibunya, HGC dan seluruh karyawannya, serta ada yayasan anak yatim piatu yang telah ia kelola bersama-sama dengan tuan Muda Deanka dan komisaris HGC.
Aku tidak boleh terpuruk hanya karena wanita itu. Aku fokus saja untuk menjaga calon anakku. Aku tidak bisa lagi memaksa agar dia mencintaiku. Jika aku saja merasa sesakit ini, bagaimana dengan pria itu?
Dia juga pasti akan sedih saat tahu kalau kekasihnya ternoda. Ya, Rabbi ... lagi-lagi aku merasa ini sangat menyakitkan, lagi-lagi aku merasa kebahagiaan dan ketenangan itu sulit aku raih.
***
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.17 waktu setempat. Karena merasa lapar, Agam memaksakan diri untuk bangun. Ini hari Kamis, jadwalnya berpuasa. Mau tidak mau ia harus makan sahur agar puasanya lancar.
Setelah mandi, Agam pun berjalan terhuyung menuju dapur. Saat melewati kamar Linda kakinya terhenti sejenak.
Apa dia tidur nyenyak?
Apa dia memakai selimut?
Apa calon anakku baik-baik saja?
Bagaimanapun juga kehamilan Linda adalah akibat dari perbuatan semena-menanya. Bisa dibayangkan betapa remuk redamnya Linda dan keluarganya pada saat itu. Mereka pasti sakit luar biasa, lahir maupun batin. Belum lagi gangguan tidak nyaman yang terjadi pada tubuh Linda selama masa kehamilan.
Problema yang dialami Linda pastinya meliputi fisik dan nonfisik. Bisa jadi batin Linda akan sakit seumur hidupnya. Linda bisa jadi akan membenci janin yang ada dalam perutnya karena dihantui perasaan jijik atas perbuatannya.
Kalau sudah demikian, lantas bagaimana bisa ia mengasuh dan mendidik anaknya dengan baik? Pertanyaan itu muncul begitu saja. Sepontan, Agampun mendekat ke arah pintu dan menempelkan telinganya.
DEG.
Agam terkejut. Ada suara rintihan dari kamar Linda. Rintihan seperti kesakitan, lalu ada isakan. Ia yakin Linda menangis.
Biarkan saja dia menangis.
Agam menghela napas, lalu melanjutkan kembali langkahnya. Namun baru dua langkah ia melangkah, kakinya kaku.
Aku bisa saja tidak peduli sama dia, tapi ... dia sedang mengandung anakku. Kalau dia sakit dan bersedih, pasti akan berdampak juga pada perkembangan anakku.
Agam tidak boleh egois, terlepas dari semua hal pribadi tentang Linda, ia harus tetap menjaganya dan mempedulikannya demi kelangsungan hidup buah hatinya.
Ia berbalik badan, membuka pintu kamar Linda, tapi terkunci. Agam bergegas ke kamarnya untuk mengambil kunci duplikat, lalu membuka pintu kamar tersebut dengan perasaan tak karuan.
"Bu Linda," panggilnya. Matanya beredar. Lagi-lagi, wanita itu pasti di kamar mandi.
Agam berlari ke sana. Benar saja, wanita cantik itu sedang terkulai di kamar mandi bersandar pada toilet duduk dengan wajah memucat. Piyamanya penuh dengan muntahan, celana panjangnyapun basah kuyup. Linda memuntahkan kembali makanan yang dimakan tadi sore di warung sederhana itu.
Sakit, hati Agam sakit melihatnya, bagaimana mungkin tadi ia ada niat untuk tidak peduli dengan wanita ini.
"Bu Linda bangun, lihat saya." Dengan ragu, ia menepuk lembut pipinya. Saat tangannya dipegang, rasanya begitu dingin.
"Pak Agam ...," lirihnya, ia membuka sedikit matanya lalu terpejam lagi.
"Tolooong ...," lirihnya lagi dengan bibir gemetar, dan wajah yang semakin memucat kedinginan.
"Maaf, saya harus membuka baju kamu. Jangan salah faham, please."
Namun Linda tak menjwab, energinya hampir habis. Ia merasakan 5L. Lesu, letih, lemah, lelah dan lalai. Linda lalai akan keadaan dirinya. Ia tak peduli apapun yang akan dilakukan oleh Agam, karena saat ini ia benar-benar merasa tidak nyaman.
Agam mengambil waslap, dilapnya sisa muntahan di baju Linda tanpa ada rasa jijik. Lalu mengambil handuk dan membopong Linda ke tempat tidur. Seketika ia menyesal sudah menyuruh bu Ira menjadi panitia pernikahan komisaris HGC.
"Maaf, saya harus membuka baju kamu. Jangan salah faham, please." Lagi, Agam mengulang kata-kata itu. Setelah mengambil baju ganti, ia pun memejamkan matanya guna membuka baju Linda.
Siaal, kenapa harus banyak kancingnya sih?!
Tangannya gemetar. Jantungnya bedegup berlarian. AC yang sengaja ia matikan agar Linda tidak kedinginan, membuat Agam kepanasan. Sudah beberapa kali beristighfar, tapi tetap saja hatinya tidak tenang.
Berhasil, ia berhasil membukanya. Linda gemetar kedinginan. Giginya bahkan gemeretak.
"Pak ...." Linda memanggilnya.
Spontan Agam membuka mata, dan terlihatlah bagian-bagian itu. Oh tidak, lagi-lagi keimanannya dipertaruhkan. Sangat indah dan begitu ranum. Linda segera menutupi tubuhnya dengan tangan gemetar.
"Pergi ...," kata Linda. Lagi-lagi ia merasa dimanfaatkan.
"Saya tidak bisa pergi. Anda mau anggap saya penjahatpun boleh, saya tidak peduli."
Agam melepas baju itu dengan cepat dan kasar. Jika ia lambat, keinginan jahatnya justru semakin menggebu-gebu.
Malam ini, Agam kembali diuji dengan kemolekan yang begitu nyata. Linda memeluk tubuhnya yang hanya menyisakan pakaian dalam saja. Sungguh, dihadapan Agam, ia seperti tidak memiliki harga diri lagi. Ingin bangun dan menarik bedcover, tapi ia tidak berdaya. Agam menyelimutinya sambil memalingkan wajah dan menelan salivanya beberapa kali.
Jika saja mengikuti nafsu, rasanya ia ingin masuk ke dalam bedcover itu untuk melampiaskan kerinduannya dan merasakan kembali kenikmatan dan dosa itu lagi, lagi dan lagi.
Namun iman di dadanya mendorong Agam untuk segera beranjak, membuka lemari pakaian dan mengambil baju apa saja yang bisa digunakan. Karena gugup, Agam mengambil baju yang salah.
"Maaf, saya akan memakaikan bajunya, maaf ya."
Dengan tangan gemetar ia memakaikan baju itu. Linda diam saja, ia teramat malu, bingung dan lemas.
"Bajunya sulit untuk masuk, ini kekecilan atau apasih?" keluh Agam.
Baju ini tidak pernah saya pakai, kecil dan minim, batin Linda.
Dengan sedikit kesulitan, akhirnya berhasil juga baju itu dipakai. Ya ampun, hasilnya sungguh miris. Ini mini dress casual yang sangat ketat dan minim.
Pantas saja Agam kesulitan, panjangnya bahkan hanya seperempat bagian paha. Dan di bagian perut Linda sungguh menggemaskan, terlihat sedikit berisi dan membuncit. Oh, tidak. Linda begitu cantik dan seksi.
Lagi, keimanan dipertaruhkan.
"Tunggu ya, saya akan mengambil makanan dan air hangat," ucap Agam setelah ia menyelimuti Linda dan membuang jauh-jauh pikiran kotornya.
"Pak ...," kata Linda, ia membuka matanya. Bibirnya berkamit mengucapkan sesuatu.
Agam tidak bisa mendengar apapun. Terpaksa ia mendekatkan telinganya guna bisa mendengar.
"Saya mau ...."
"Sa-saya ma-mau nasi goreng, a-apa boleh?" bisiknya.
"Nasi goreng?"
Linda mengangguk perlahan.
"Baik, saya buatkan. Oiya mau minuman apa?"
"Apa saja, tapi jangan susu hamil. Saya mau susu kotak tapi yang dingin ya, bukan susu kambing, mau susu yang biasa diminum sama Gama," ungkapnya.
Setelah merasa badannya nyaman dan hangat, Linda tidak kesulitan lagi saat berbicara.
"Baik, tunggu saya."
Agam berdiri. Namun sebelum Agam membalikan badan, Linda memegang tangannya.
"Ke-kenapa?" tanya Agam.
"Bapak juga makan ya, Bapak belum makan kan? Sa-saya mau makan bersama," kata Linda.
"Apa?!" Agam terkejut.
"Please ...." Mata nan cantik itu mengiba.
"O-oke." Agam mengiyakan dengan ragu.
Linda tersenyum saat menatap sosoknya menghilang di balik pintu. Entah kenapa ia merasa sedikit bahagia. Bahagia karena ada yang bisa ia andalkan di saat-saat seperti ini. Ia mengelus perutnya, lagi-lagi perutnya berdenyut.
.
.
Linda lalu memejamkan mata seraya menunggu. Dan telah terlelap saat Agam kembali ke kamar membawa baki besar berisi dua piring nasi goreng buatannya, susu kotak dan dua gelas air putih. Ia meletakkan baki itu pada meja dan menggeser meja itu ke samping tempat tidur. Lalu duduk di sisi tempat tidak dan menatap Linda.
Kenapa aku sangat mencintai kamu?
Kenapa hanya kamu satu-satunya wanita yang membuat jantungku berdebar?
Kata pak Ustadz, aku sebenarnya bisa saja menikahi kamu tapi tidak boleh melakukan hubungan suami istri sampai masa nifas berakhir, tapi ... syaratnya kamu harus ihklas aku nikahi. Dan kamu jelas-jelas sudah menolakku. Aku tidak mungkin memaksa menikah dengan wanita yang tidak mencintaiku.
Agam menatapnya lekat, dipandang dari semua sisi wanita ini tetap cantik, bahkan sedang tidur dengan mulut terbukapun tetap saja cantik. Namun ucapan Gama tentang Linda yang memiliki kekasih membuatnya kesal dan marah.
Aroma nasi goreng yang masih mengepul nyatanya sampai jua ke alam bawah sadar Linda. Ia pun terbangun, celingak-celinguk, dan terkejut menyadari ada Agam di sampingnya.
"Pak Agam? Kenapa ada di sini?" tanyanya. Jelas, nyawa wanita itu belum terkumpul hingga ia amnesia.
"Apa perlu saya bawakan air biar kamu sadar?" kata Agam. Tidak ada lagi kehangatan dalam nada bicaranya.
Linda garuk-garuk kepala. Berpikir dan mengingat. Ting, ia ingat. Langsung merona, dan tersipu. Menatap baju yang ia pakai dan berkata, "Baju ini tidak pernah saya pakai lagi, Pak. Ini telalu sek --."
"Diam!" bentak Agam. Sampai Linda terlonjak kaget.
"Ke-kenapa?" Linda menatapnya.
"Makan nasinya!" Dan Agam beranjak.
"Pak Agam tunggu, bukankah kita akan makan bersama? Saya mau kita makan bersama," kata Linda.
"Saya tidak ada selera," sela Agam.
"Tapi Bapak sudah bikin dua piring, kan?" Linda bangun, duduk di samping tempat tidur dan menjuntaikan kakinya.
"Tutupi kakimu jelekmu! Setelah kamu makan, ganti bajumu dengan yang lebih sopan."
"Jelek?" cepat-cepat Linda menyelimuti kakinya.
"Wah, pasti enak. Harum sekali," pujinya. Linda mendekatkan meja ke hadapannya.
"Pak ayo kita makan. Makan bersama-sama dalam agama kita disunahkan, bukan? Konon dapat mendatangkan keberkahan, menjalin kekerabatan, dan kekompakkan antarsesama."
Linda berdiri perlahan, lalu menarik satu kursi ke hadapan meja untuk Agam, sementara ia duduk kembali di sisi tempat tidur.
"Mari Pak. Saya lapar," pungkasnya.
"Anda makan sediri saja," saya akan makan di kamar saya," ia lalu mengambil salah satu piring berserta gelasnya.
Linda terkejut, kenapa sikap Agam berubah? Padahal, beberapa jam yang lalu pria itu begitu hangat, sampai-sampai ia khilaf dan pasrah ketika Agam akan menciumnya.
Tangan Linda yang memegang sendok gemetar, nafsu makannya hilang. Dan dadanya terasa sakit. Kenapa? Entahlah. Ia meletakkan kembali sendok yang dipegangnya.
"Kenapa tidak jadi makan?!" sebelum keluar dari kamar, Agam sempat menoleh.
"Sa-saya ti-tida selera Pak." Seraya menunduk, menahan desakan kesedihan yang entah apa penyebabnya.
"Apa?! Kenapa?! Saya sudah bersusah-payah membuatnya. Anda tidak menghargai saya Bu Linda!" ia meletakkan kembali piring dan gelas. Lalu menatap Linda penuh amarah.
"Ke-kenapa Bapak marah? Apa karena tidak sudi makan bersama saya? Saya juga sebenarnya tidak sudi makan bersama Anda, ini tiba-tiba saja, mungkin bawaan janin." Linda mengelak dengan alasan yang dibuat-buat.
"Saya tidak mau tahu! Pokoknya kamu harus makan, tadi kamu muntah kan? Saya tidak mau anak saya kekurangan gizi. Ayo makan!"
Entah setan apa yang merasuki Agam, ia menyendok nasi, lalu menyuapi Linda dengan cara memaksa. Ia mencengkram dagu Linda, menengadahkan kepalanya, dan menekan pipinya. Saat mulut Linda terbuka, ia memasukan nasi goreng tersebut.
Pak Agam ... kamu kenapa? Ini tidak seperti kamu yang biasanya.
"Kunyah!" perintahnya.
Seketika, Linda begitu ketakutan. Padahal, ia baru saja berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan Agam. Ia mengunyah nasi itu sambil menunduk dan berurai air mata.
"Siapa dia?!" tanya Agam.
Ia sebenarnya tidak tega melihat Linda menangis, namun kecemburuan itu sudah terlanjur mengoyak batinnya.
"A-apa? Dia siapa?"
Linda balik bertanya. Nasi goreng suapan pertama baru saja ia telan dengan susah payah.
"Siapa nama pacar kamu?! Kenapa kamu tidak jujur pada publik kalau kamu sudah punya kekasih?! Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?! Saya minta alamat rumahnya. Saya dan dia harus bicara," tegasnya dengan berapi-api.
"APA?! Dari mana Bapak ta --."
"Oh, jadi benar kamu punya kekasih?!" teriaknya. Tangan Agam mengepal.
Dan Lindapun akhirnya naik pitam. Sambil berurai air mata ia berteriak tak kalah kencangnya dari teriakan Agam.
"Memangnya kalau saya punya kekasih kenapa, hahh?! Apa urusannya dengan Anda, toh Anda juga bukan siapa-siapa saya. Anda peduli pada saya hanya karena saya hamil, kan? Selebihnya, mungkin Anda hanya menganggap saya sebagai wanita kotor!" teriaknya, sambil menjentikkan jari menunjuk-nunjuk Agam.
"Kamu! Bera --."
RUP, listrik padam.
"Aaaa," teriak Linda. Ia berlari dan menabrak meja.
"PRANG."
Terdengar suara pecahan, entah itu gelas atau piring. Belum bisa dipastikan.
"Pak Agam, aku takut gelap. Huks, huks." Linda panik.
"Kamu diam di tempat! Jangan bergerak! Jangan sampai pecahan kaca itu melukai kakimu," kata Agam.
"Huuu, huuu, takut ada hantu Pak."
"Bisa diam tidak?! Tidak ada hantu di dunia ini! Itu mitos, yang ada itu jin."
"Saya juga takut sama Jin," kata Linda.
"Sudah jangan banyak bicara, jangan bergerak. Jangan sampai kaki kamu terkena pecahan kaca," kata Agam.
"Oke, tapi cepat lakukan sesuatu, Pak."
"Iya, tolong kamu diam. Di mana kamu menyimpan ponselmu?"
Agam meraba-raba dengan perlahan dan hati-hati, kakinya juga menyisir sebelum berpijak.
"Saya lupa Pak, huuks .... Cepat nyalakan gensetnya Pak."
"Perlu waktu untuk ke basement, makanya saya perlu ponsel kamu." Ia terus meraba, dan ia memegang sesuatu.
DEG. Agam terkejut. Apa itu? Hangat dan ....
"Aaaa," teriak Linda.
Agam langsung sadar dengan apa yang baru saja ia sentuh.
"Anda memegang dada saya?! Jangan mencari kesempatan dalam kegelapan ya Pak!" teriak Linda.
"Saya tidak sengaja, ini gelap gulita, saya manusia, bukan termasuk jenis hewan yang bisa melihat dalam kegelapan!" tegasnya.
"Pak Agam saya takut."
Mengetahui Agam ada di hadapannya. Linda segera merentangkan tangan dan memeluknya. Ia menyembunyikan kepala di dada Agam. Sungguh, ia pun tidak sadar akan sikapnya.
DEG.
Cobaan apa lagi ini? Kenapa aku selalu diuji dengan hal-hal seperti ini?
Tubuh Agampun kembali berdesir. Malam ini, ada begitu banyak ujian yang harus ia lewati. Dan sumber ujian terbesarnya malah menyerahkan diri dan suka rela mendekapnya.
"Pak Agam ... berapa lama lampunya mati? Sa-saya takuut," suara Linda terdengar gemetar.
Sejenak Agam mematung, namun lagi-lagi tangannya khilaf. Iapun menggerakan kedua tangannya dan memeluk Linda. Rasanya sangat hangat dan nyaman. Tak sadar iapun berkata, "Jangan takut, ada saya." Ia menepuk-nepuk bahu Linda. Seperti seorang ayah yang menenangkan putrinya.
"Letakkan kaki kamu di kaki saya."
"U-untuk apa Pak?"
"Biar telapak kaki kamu tidak terluka," jawabnya.
"Ba-baik." Linda menginjak kaki Agam.
"Kenapa kamu berlari? Harusnya diam di tempat lebih aman."
"Ma-maaf Pak ... saya panik."
"Aaargh!" Agam berteriak.
"Ke-kenapa, Pak?"
"Sepertinya saya menginjak pecahan kaca. Saya tidak bisa bergerak mencari ponsel. Jalan amannya kita tetap berdiri seperti ini," tegas Agam.
"Seperti i-ini?"
"I-iya," kata Agam.
"Sa-sampai lampunya menyala?" tanya Linda.
"Ya, sampai lampunya menyala."
Agam mempererat dekapannya, tangan yang awalnya menepuk bahu Linda, kini bergerak perlahan membelai rambut Linda. Lalu menundukkan kepala guna menciun aroma rambutnya.
Linda resah dan gelisah, ia merasakan betapa dada pria ini sangat wangi dan hangat.
"Pak Agam ...." Lirihnya.
"Sssst, di-diam jangan bergerak, dan jangan berbicara."
"Ke-kenapa?" tanya Linda gugup.
"Apa Anda mau saya nodai lagi?"
"Apa?!" Linda hendak melepaskan dekapannya.
"Makanya diam, please ...."
***
"Hemm, sampai berapa menit ya aku matikan lampunya?" gumam Gama.
Ia sedang berada di basement, tepatnya di sebuah ruangan kecil yang biasa digunakan untuk mengendalikan aliran listrik di rumah tersebut. Ide jahilnya muncul saat tadi ia berniat mengambil buku referensi di perpustakaan, dan mendengar pertengkaran Agam dan Linda.
❤❤ Bersambung ....
..._____...
...Rekor nyai hari ini demi AGAPE...
...3327 kata 🤭 WOW .......
...Semoga yang mau santet online mengurungkan niatnya....
...Colek Kak @Kis Tatik😁...
...-----...