
Tol Dalam Kota
"Cepat Pak Agam! Aku harus memastikan dulu siapa pengemudi itu."
Linda begitu panik, napasnya memburu tidak beraturan.
"Sabar Linda, kita tidak bisa bergerak, ini macet, mobil ini tidak bisa berubah jadi mobil terbang," sanggahnya.
"Baiklah, aku mau berjalan saja, aku mau turun!"
Linda hendak membuka pintu, entah kenapa perasaannya sangat tidak tenang dan gelisah. Tiba-tiba ada dorongan kuat yang menyebabkan ia bersikeras ingin ke sana sesegera mungkin.
Batinnya bertanya, ada apa ini? Kenapa? Namun Linda sendiri tidak tahu jawabannya.
"Jangan Linda, kita tunggu kemacetan ini terurai dulu. Kalau kamu keluar, pengguna jalan raya akan heboh karena melihat kamu." Agam menahan tangannya.
"Aku tidak peduli!"
Wanita itu begitu keras kepala, tapi Agam tentu saja tidak bisa marah. Linda berusaha membuka pintu lagi.
"Buka, buka, bukaaa!" pekiknya.
"Baik, kalau itu mau kamu, mari kita ke sana bersama-sama, tapi tolong pakai masker ini, agar kamu tidak menjadi pusat perhatian."
Agam menahan tangan Linda dan memakaikannya masker. Lalu Agam juga mengambil masker untuk dirinya.
.
.
.
Suasana di salah satu ruas jalan tol dalam kota kali ini tampak macet total. Kendaraan pribadi menepi untuk memberi jalan pada mobil pemadam kebakaran yang diapit oleh mobil mobil polisi. Kemudian disusul oleh mobil ambulance dengan bunyi sirine khasnya.
Suara sirine ambulance bersahutan dengan sirine mobil polisi, ditimpali oleh pekikkan suara kendaraan bermotor yang terjebak kemacetan. Susana senja kala ini menjadi mencekam.
Para pengemudi saling bertanya satu sama lain, penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ada apa sih?" Ada yang sama sekali tidak tahu-menahu.
"Ada kecelakaan ya?" Ada yang sudah menduga-duga.
"Kok bisa sampai macet dua arah?" Ada yang kebingungan.
"Ini polisi bagaimana sih mengaturnya?! Kok dari tadi tidak bergerak sama sekali?!" Ada yang merutuki kinerja polisi.
"Woooy! Berisik tahu! Klakson mobil bukan kamu saja yang punya!" Ada yang marah-marah dan tidak sabaran.
"Aduh, mana belum shalat Ashar, eh sekarang sepertinya mau ketinggalan shalat Maghrib." Ada yang ingat akan Tuhannya.
"Subuh kesiangan, Dzuhur kerepotan, Ashar di perjalanan, Maghrib kecapekan, Isya' ketiduran." Ada juga yang berdendang.
.
.
.
Sementara itu cakrawala di ufuk barat telah menguning dan menjingga. Sang mentari yang keemasan perlahan pergi, hendak meninggalkan siang, akan merangkul sang malam.
Dua orang insan yang tampak serasi itu terlihat bergandengan, mereka berjalan cepat di bahu jalan, sedikitnya menjadi pemandangan mengasyikan di tengah kepenatan menunggu kemacetan.
Sang pria, tinggi tegap dan gagah. Sementara sang wanita, tinggi semampai dan seksi. Bahkan ada yang mengabadikan pergerakan mereka karena terpikat pesonanya.
"Lihat mereka, pasti tampan dan cantik, sayangnya memakai masker."
"Prianya seperti marah saat yang wanitanya berjalan cepat."
"Mereka kenapa ya? Kok terlihat seperti panik."
Ya, benar. Mereka sedang membicarakan pasangan serasi Linda Berliana dan Agam Ben Buana.
.
.
.
"Linda, tolong jangan cepat-cepat jalannya, kamu sedang hamil, tolong ingat itu." Agam menahan tangannya.
"Maaf, Pak. Hanya saja aku merasa tidak tenang."
"Ikuti langkah saya, jangan membantah," tegas Agam di tengah kegundahan hatinya. Ia takut jika mobil yang ditembak bannya tadi memiliki hubungan dengan Linda.
Linda dan Agam semakin dekat ke TKP, terlihat gumpalan asap hitam mengepul membumbung ke udara yang berasal dari mobil pikup yang terbakar itu.
Bau gosong dari badan mobil yang terbakar semakin menusuk hidung. Badan mobil hangus tak bersisa sementara sebagian kepala mobil masih utuh dan ban kanan bagian depan yang ditembak Agam pun terbakar.
Karet ban mobil yang terbakar menyebabkan bau yang begitu menyengat. Mobil pemadam kebakaran telah sampai di lokasi dan telah berhasil menguasai nyala api.
"Tolong jangan mendekat!" teriak polisi yang menjaga TKP saat Agam dan Linda mendekat.
"Pak, nomor polisi mobil yang terbakar itu berasal dari kampung halamanku, aku khawatir jika korbannya adalah orang yang aku kenali." Linda menatap polisi dengan mengiba.
Agam fokus mengamati lokasi.
Tiga ban mobil terbakar. Fix, jejak penembakan pada ban tersamarkan. Namun, apakah penembakan itu yang menyebabkan kebakaran? Perlu penyelidikan lebih lanjut.
"Sebentar, saya mau meminta izin pada komandan dulu Nona."
Polisi muda itu berlari ke arah kerumunan para polisi yang berdiri melingkar di samping kerangka mobil pikup yang terbakar dan mengelilingi satu kantung jenazah.
Di dalam kantung jenazah itu dipastikan sudah terisi korban kebakaran. Untuk jumlah korban belum diketahui.
"Linda, tenang ...." Agam memegang bahunya, Linda diam, bergeming.
"Apa Pak Agam akan mengakui kalau Pak Agam menembak ban mobil itu?" tanyanya dengan tatapan berapi-api.
"Hmm ... apa Bu Linda akan mengatakan pada polisi kalau saya menembak ban mobil itu? Saya bagaimana Bu Linda saja, kalau kamu memberikan kesaksian tentang penembakan ban itu, maka sayapun akan mengakuinya."
"Apa?! Pak Agam! Kenapa malah bertanya padaku? Seolah-olah Pak Agam menekanku. Kenapa jadi aku yang tersudutkan?"
Linda menunduk, berjongkok, dan menangis sambil sesekali menatap tim AFIS (Automatic Finger Print Identification System) kepolisian satuan resese pusat kota yang sedang melakukan olah tempat kejadian perkara untuk menemukan sekecil apapun barang bukti yang ada di TKP yang tentu saja sangat penting dalam proses pengungkapan suatu kasus.
"Linda, Bu Linda ... jangan salah faham dulu. Tolong dengarkan saya." Agam merangkul bahu Linda.
"Jika Anda bertanya apakah saya akan mengakui atau tidak, maka jawabannya adalah tidak. Kenapa? Karena belum tentu juga kebakaran itu disebabkan oleh tembakan tadi. Lihat di sana, yang rusak parah adalah bagian kabin mobil, bukan kepala mobil," terangnya.
"Cukup! Aku tidak butuh argumentasi Pak Agam, toh Bapak juga bukan polisi, kan?" Linda menepis tangan Agam yang melingkar di bahunya.
"Bu Linda, tatap saya. Saya mohon."
"Tidak mau," jawabnya.
"Bu Linda, akan jadi aneh jika saya tiba-tiba mengakui menembak mobil itu sebelum polisi menyelesaikan penyelidikan. Bagaimana kalau bukan saya penyebabnya?"
"Terserah Pak Agam, aku awam dalam masalah hukum."
"Linda, maaf ... saya tidak mungkin melakukan hal gegabah, apalagi ini masalah hukum dan nyawa manusia. Saya tidak akan mengatakan apapun pada polisi agar kebenaran kasus ini tidak samar, kamu faham?"
"Tidak, aku tidak faham."
Linda lalu menjauh dari Agam manakala polisi yang tadi berdiri di luar police line menghampiri sambil membawa sesuatu.
"Nona, maaf. Kata komandan, Anda tidak boleh mendekat, siapun tidak boleh mendekat kecuali kerabat."
"Apa ada petunjuk mengenai identitas korban?" tanya Agam yang ternyata mengikuti Linda.
"Nah, itu yang ingin kami jelaskan. Di kursi depan sisi kemudi, kuasa Tuhan tidak terjadi kerusakan parah. Dan kami bisa menyelamatkan sebuah tas kulit yang isinya diduga merupakan barang-barang korban, termasuk kartu identitasnya."
"Apa?! Pak, boleh aku lihat kartu idetitasnya?" tanya Linda.
"Tentu saja boleh Nona, silahkan. Kalau Anda mengenalinya Anda bisa segera melapor pada kami untuk membantu proses penyelidikan dan identifikasi lanjutan karena belum tentu juga barang-barang ini milik korban."
Polisi itu mengambil salah satu barang dan memberikannya pada Linda. Sebuah kartu identitas. Tangan Linda gemetar saat mengambilnya, sampai-sampai polisi mengatakan ....
"Ada apa Nona? Nona, tidak apa-apa, kan? Sementara Agam kini terbengong-bengong. Batinnya sudah kalut sedari tadi.
Linda memberanikan diri melihat kartu identitas itu, jantungnya berdegup kuat.
___
...Kartu Identitas Penduduk...
...Daerah Kepulauan Pulau Jauh...
Nama : M. Setyadhi
___
Lalu terpampang sebuah foto pria, berusia 41 tahun jika dilihat dari kartu identitasnya. Wajahnya ramah, dan tampan.
Mata yang memikat itu membaca dengan seksama. Dan ... tubuh Linda tiba-tiba hilang keseimbangan. Hendak terjatuh, untung saja ada Agam yang segera meraih dan mendekapnya.
"Linda?"
Agam jelas terkejut.
"Nona?"
Pak polisipun kaget, secepatnya mengambil kartu identitas yang terjatuh dari tangan Linda.
"Ti-tidak mungkiiiin ...." Rintihnya.
"Kamu mengenalnya?"
"Ada mengenanya, Nona?"
Tanya polisi dan Agam secara bersamaan, dan belum juga dijawab pertanyaan itu, Linda sudah melepaskan diri dari dekapan Agam, ia berlari tunggang-langgang ke TKP, menabrak police line, sambil berteriak.
Dan teriakan itu membuat pihak kepolisian terkejut, dan Agam ... Agam mundur beberapa langkah seraya memegang dadanya.
"Pamaaan ....!"
"Pamaaan ....!"
"Pamaaan ....!
Teriak Linda.
"Pamaaan ... ini Linda Pamaaan ... Pamaaan ... maafkan aku .... Huuu huuu .... haaa .... Aaaa." Linda menangis dan bertriak histeris.
"No-Nona tolong tenang," seorang polisi menenangkan. Tapi Linda tidak bisa dicegat.
"Pak, izinkan saya ke sana juga," kata Agam pada polisi. Hati Agam hancur-lebur, berkeping-keping.
"Boleh, kalau boleh tahu, Anda siapanya Nona itu?" Karena memakai masker, polisi tidak mengenali Agam.
"Saya calon suaminya, Pak."
"Oh, baiklah. Silahkan, silahkan," polisi itu memberi jalan.
Dan kemacetan di area itu kini mulai terurai. Padat merayap di sisi TKP, sedangkan dari arah yang berlawanan mulai ramai lancar, namun di jalur rest area terlihat tersendat, karena sebentar lagi adzan Maghrib akan berkumandang.
"Paman Setya, Pamaaan. Maafkan aku."
Linda masih menangis histeris sambil memukul dadanya saat Agam dan polisi itu datang.
Agam mematung bingung. Bibirnya benar-benar kelu, bingung mau mengatakan apa.
"Nona, tolong tenang, barang ini belum tentu milik korban."
"Pak ... aku yakin dia pamanku. Di-dia memang pernah ke sini ti-tiga tahun yang lalu untuk berkunjung. Huuu ... Paman ... Paman ...."
Tubuh Linda lemas, lunglai, dan terpuruk begitu saja di atas kantung jenazah.
"Linda," Agam berlari dan merengkuhnya.
Linda pingsan.
"Pak, ayo bawa masuk ke ambulan saja," seru seorang polisi.
Agam membopong tubuh terkulai itu menuju ambulance. Ia berjanji dalam hatinya, akan bertanggung jawab atas kejadian ini jika memang tembakan itu adalah penyebabnya.
"Pak, kita menemukan proyektil peluru," teriak tim AFIS pada komandan mereka.
Deg, jantung Agam berdegup, ia melirik ke belakang sebelum merebahkan Linda di kursi ambulance.
"Apa?! Kok bisa? Amankan!" tegas komandan.
Agam melihat beberapa petugas kepolisian itu mengecek proyektil, dan salah satu dari mereka mengatakan sesuatu.
"Kalibernya sih rendah. Masalahnya, kok bisa ya ada di TKP?"
"Apa ini penyebab kebakaran?" sahut yang lain.
"Terlalu dini kalian menyimpulkan hal seperti itu, belum tentu. Kecuali proyektil ini mengandung bahan peledak," kata komandan mereka.
Agam mendekap Linda yang masih pingsan saat kantung jenazah itu dimasukan ke dalam ambulance yang sama dengan Linda. Seorang polisi mendampingi.
Ambulance itu kemudian melaju cepat menuju rumah sakit sektor angkatan darat dan memekikkan bunyi khasnya.
'Wiw wuw, wiw wuw ....'
Disahuti sirine mobil kepolisian yang mengawal di belakang.
Maafkan saya .... Lirih Agam dalam batinnya sambil mencium tangan Linda.
"Pak coba berikan minyak ini, semoga Nonanya sadar," perawat ambulance memberikan minyak hangat pada Agam.
Perlahan Agam membuka masker yang digunakan Linda lalu mengoleskan minyak hangat itu di antara hidung dan bibir Linda.
"Wah, calon istri Bapak cantik sekali, mirip artis LB." Seloroh polisi itu, dan perawat yang berada di situpun turut terkejut.
Agam diam saja, tidak menyahut, tidak pula membantah. Hati pria itu sedang dilema, dilema berat.
Perlahan Linda sadar, saat tersadar tangan yang lembut sedang membelai pipinya, dan wajah mata yang sayu itu tengah menatapnya.
"Kamu sudah sadar?"
Dibalik masker itu bibir Agam tersenyum. Bahagia saat milihat pujaan hatinya membuka mata.
Linda diam, ia bangun perlahan, dan kembali memeluk kantung jenazah dan terisak-terisak.
"Pamaaan, maafkan Linda, Pamaaan. Semua ini salahku, Paman kenapa pergi kota ini? Apa Paman disuruh ayah?" ratapnya, hingga semidu-midu.
Yaa Rabb ... cobaan apalagi ini? Kenapa Linda mengabaikanku? Bati Agam pun meratap.
"Pak polisi, apa boleh aku membuka kantung jenazahnya?"
"Maaf, untuk sementara tidak boleh Nona, sebelum ada hasil identifikasi data dari tim AFIS dan dokter forensik," terang polisi itu, yang sedari tadi menatap Linda karena merasa sangat mirip dengan LB.
Cantik, seksi, kulitnya seperti tidak berpori. Apa jangan-jangan dia benar LB yang asli? Pak Polisi terpana.
Baru kali ini saya merasa betah berlama-lama di dalam ambulance. Perawat itu berkali-kali mencuri pandang pada Linda.
***
Rumah Sakit Pusat Sektor Angkatan Darat
Korban kecelakaan tunggal yang menyebabkan kebakaran dan diduga sebabagai pamannya Linda kini sudah berada di kamar jenazah rumah sakit pusat sektor angkatan darat untuk dilakukan autopsi guna penyelidikan lebih lanjut.
Karena tidak ada ponsel di tas korban, atau mungkin ponsel korban telah hangus terbakar, serta terkendala jalur komunikasi untuk menghubungi kepolisian wilayah kepulauan Pulau Jauh, akhirnya pihak kepolisian menggunakan Linda sebagai satu-satunya orang yang diduga adalah keluarga korban berdasarkan pengakuannya.
Di rumah sakit pusat sektor angkatan darat, identitas Linda akhirnya terbongkar saat Linda harus menandatangani persetujuan autopsi.
Kini di meja autopsi tertulis, "Diduga Tn. M. Setyadhi (LB's uncle)."
Autopsi dilakukan segera atas permintaan Linda, bertujuan untuk mengambil sampel DNA (Deoxyribonucleic Acid) dari organ yang masih utuh untuk dilakukan sinkronisasi data identitas oleh tim AFIS.
Karena luka bakar 99 persen, tim AFIS tidak bisa melakukan pidai sidik jari untuk mengetahui identitas korban.
.
.
.
Linda sedang duduk di ruang tunggu, ia berada di ruang khusus agar keberadaanya tidak menarik perhatian. Di hadapannya tesedia berbagai menu makanan cepat saji, dan minuman instan. Ya, Linda dijamu sebagai artis.
Tapi ... Linda hanya meminum air mineral, ia tahu jika makanan cepat saji itu kurang baik dikonsumsi oleh ibu hamil. Ia didampingi seorang polisi wanita yang saat ini tengah membaca koran. The Police News.
Agam berjalan tergesa menenteng kantung plastik yang di dalamnya berisi makanan sehat untuk Linda.
Setelah mendampingi Linda dalam kebisuan, tadi ... Agam dan Linda telah melaksanakan shalat Maghrib, dan mengqodo shalat Ashar yang ketinggalan. Lanjut melaksanakan shalat Isya.
"Saya akan keluar dulu membeli makanan sehat untuk kita." Kata Agam, pada saat itu.
Tapi lagi-lagi Linda hanya diam.
"Baiklah, kamu tunggu di ruang tunggu ya, nanti saya menyusul." Linda hanya melengos dan berjalan tergesa menuju ruang tunggu yang dimaksud.
"Bu, permisi, saya calon suaminya LB, izin mau mengantarkan makanan untuknya," kata Agam. Agam masih menyembunyikan indentitasnya. Belum melepas masker.
"Oh, calon suaminya LB? Ya ampun, silahkan masuk saja, Pak. Mari saya antar."
~Dan mereka tiba di ruang tunggu~
"Nona LB, ini calon suaminya mau mengantarkan makanan," kata polisi wanita itu sambil mengulum senyum.
Pantas dia calon suami LB pikirnya. Karena memakai masker saja tetap terlihat tampan, dan tadi saat mereka berjalan beriringan, pria ini begitu wangi dan santun.
Ya, Agam memang menundukkan badan saat melewati atau berpapasan dengan petugas.
Linda yang sedang melamun menatap polisi itu, tanpa menoleh pada Agam.
"Aku tidak punya calon suami, Bu. Aku lajang, dia hanya fans yang membantuku dan berpura-pura sebagai calon suamiku."
"A-apa? Linda, k-kamu ...?"
Agam lemas, tubuhnya seolah diterjang ombak, lalu terhempas ke samudra dan tenggelam di palung yang terdalam.
"Oh, hahaha, fans garis rupanya, padahal serasi lho Nona." Polisi wanita itu terbahak.
"Linda, kamu tidak bisa seperti ini!" bentak Agam. Ia memaksa berlari ke arah Linda.
"Eits, tahan Pak."
Dua polisi wanita menahan Agam sambil menondongkan pistol.
"Linda, lihat saya, Lindaaa, apa maksud ucapan kamu?" teriak Agam. Sebenarnya, ia bisa melawan polisi itu, tapi Agam tidak ingin membuat masalah dan keributan.
"Bawa pergi orang itu, Bu. Aku tidak mau melihatnya lagi." Kata Linda sambil memalingkan wajah.
"Baik, Nona LB."
"Ayo, Anda harus keluar!" Agam diseret.
"Lindaaa jangan seperti ini ..., saya mohon Lindaaa, kita harus bicara. Linda, please ...." Teriak Agam saat tubuhnya diseret.
'PRAK.'
Makanan yang dibawa Agam terjatuh ke lantai dan berhamburan. Agam menjatuhkannya karena tangannya lemas seolah tidak lagi memiliki kekuatan.
"Lindaaa, El .... Lindaaa, Lindaa, Linda ... Lin ---."
Semakin lama suara Agam semakin mengecil, dan hilang.
"Huuu huuu huuks ...."
Setelah hanya ada dia seorang diri di ruangan itu, Linda kembali menangis meraung-raung. Lalu meraih kantung plastik makanan yang tadi dijatukan Agam. Masih ada makanan yang bisa diselamatkan.
Pak ... Agam ... maafkan aku .... Aku perlu waktu untuk berpikir apakah kita bisa bersama atau tidak .... Aku tidak ingin merasa bersalah pada pamanku seumur hidupku. Tapi ... aku juga ingin melindungi kamu dari tuduhan polisi. Pak Agam ....
"Huuu ...."
❤❤ Bersambung ....
Apakabar nyai's reader? Semoga selalu sehat ya. Aamiin.
Oiya, untuk episode besok, siapkan *V**OTE*nya for *AGAPE* yaaa.
Spoiler nih dari ambu, besok akan sangat mengejutkan dan diluar dugaan pastinya. Sehatkan mental dan jantung ya, karena novel ini akan sedikit mengguncang kejiwaan.
Terima vote, like, hadiah dan komen. Eh ... maksudnya "Terima kasih."