
Agam kembali duduk di kursi semula.
"Terus, Bapak mau di ruangan ini saja?" tanya Linda.
"Tentu saja tidak," Agam beranjak. Langsung membuka pintu dan keluar begitu saja.
Di depan ruang tata rias seluruh staf dan Bagas ternyata sedang berbaris rapi dan menatap ke arah pintu.
"Lanjutkan pekerjaan kalian," kata Agam.
"Ba-baik Pak." Mereka menjawab serempak.
"Mau memakai baju ini?" tanya seorang staf yang keheranan karena Linda memakai style berjilbab.
"Ya, kata pak Agam buat dua konsep dengan yang memakai jilbab," kata Linda.
"Oh seperti itu? Baiklah. Ini konsep baru dari Dirut baru. Sip, mari kita coba. Hehehe."
"El, kamu jujur deh sama aku, ada hubungan apa kamu dengan Pak Agam?" saat membantu Linda menuju ruang pemotretan, Bagas bertanya akan hal itu.
"Nanti aku ceritakan Bagas, sekarang belum waktunya, sudah sih kamu tenang saja," kata Linda.
Mereka berbicara pelan mungkin agar staf biro iklan tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
"LB ready take," ucap juru kamera.
"Bagas doain ya, aku deg-degan."
"Kamu kan hidup El, kalau tidak deg-degan ya mati," ledek Bagas.
"Untung saja aku pernah latihan saat mau iklan produk kecap, ya walaupun tidak jadi."
"Iya, sudah sana. Kamu berbakat El. Bismillaah, pasti bisa. Bagas menyemangati.
Dengan sedikit gugup, Linda akhirnya melangkah juga ke area pemotretan. Seluruh kru biro iklan menatapnya kagum. Linda Berliana begitu cantik dan elegan. Pikir mereka pantas saja jika Dirut HGC memberikan perhatian lebih. Namun mereka tidak ingin berasumsi terlalu jauh, sebab seluruh kru juga tahu jika Dirut HGC memiliki kisah kelam di masa lalu.
Ya, mereka tahu jika Agam dan Dirut HGC sebelumnya dikabarkan memiliki hubungan khusus dalam tanda kutip. Namun baru-baru ini mereka juga tahu jika Dirut sebelum Agam telah menikah dengan putri ayah angkatnya.
Apakah benar Agam penyuka sesama jenis atau hanya gosip murahan saja?
Sampai saat ini mereka belum menemukan jawaban yang pasti. Semua hal tentang Agam Ben Buana telah mereka simpan rapat-rapat di benak masing-masing.
Linda mengedarkan pandangan, entah kenapa ia ingin seseorang melihat aksinya, namun sejurus kemudian Linda tersadar jika ketidakhadiran Agam justru mengurangi kegugupannya.
"Take satu, action," seru pengarah gaya.
Dan kilatan kamera high quality pun kini menyambar aksi LB yang memukau. Beberapa take dapat dilewati oleh LB tanpa kendala sedikitpun. Bahkan pengarah gaya tidak harus memberikan intruksi karena dengan sendirinya LB mampu beradaptasi dengan konsep yang mereka inginkan.
Dan seluruh ide Linda diterima tanpa sanggah oleh kreator dan art director.
.
.
"Dia sangat berbakat, Pak Agam hebat. Bisa menemukan mutiara sekemilau ini," ungkap kepala departemen media yang saat ini tengah menyaksikan aksi LB di sebuah ruangan khusus bersama Agam.
Ternyata salah satu kamera di ruang pemotretan terkoneksi langsung dengan layar yang tepat berada di hadapan Agam.
"Ya, dia lumayan," kata Agam.
Sedikit sungkan memuji Linda secara berlebihan, untuk mengantisipasi agar rahasianya dan Linda tidak terungkap.
"Bagaimana kronologisnya bisa mendapatkan dia, Pak?"
"Bagian departemen media itu profit centernya biro iklan. Anda fokus saja bekerja dengan media planner, media buyer, dan media direktor untuk merancang dan menentukan strategi, tidak perlu tahu bagaimana caranya saya menemukan LB," tegas Agam.
"Ma-maaf, Pak."
Kepala departemen media menunduk, menyesal telah menanyakan sesuatu yang sama sekali tidak berhungan dengan tupoksinya.
Agam tetap fokus pada layar, tak luput dari bagian perut LB yang mana di sana telah bersemi benihnya yang sangat berharga.
Kamu jangan rewel, jangan membuat mamamu kesulitan.
Harap Agam dalam batinnya seraya terus memperhatikan saat LB berpose dengan sebuah tas yang terbuat dari masker medis yang ditemukan dari kedalaman laut.
Lalu LB berpose menggunakan kaus bertema 'Prikehewanan' di mana kaus tersebut bergambar foto seekor penyu yang kedua kakinya mengecil di bagian tengah karena terjerat sampah plastik dan karet.
Ada juga baju dengan foto seekor pinguin kecil yang mati di Pulau Troubridge, Australia. Bersama pinguin tersebut, ada plastik yang menjerat lehernya.
Ada juga baju yang menampilkan hasil bidikan Chris Jordan yang mengabadikan foto bangkai burung Laysan Albatross dengan perut penuh dengan sampah plastik di pulau Midway.
"Miris, jangankan harus berprikehewanan, manusia saat ini bahkan banyak yang tidak berprikemanusiaan," gerutu Agam saat Linda menyelesaikan sesi foto bertema prikehewanan.
"Ini terobosan baru. Bapak hebat."
"Ini tidak sebanding dengan apa yang telah dihasilkan oleh laut untuk HGC, saya hanya ingin orang-orang sadar, jika laut itu perlu dijaga, dan keberadaan biota di dalamnya harus dijaga dan dilestarikan."
Agam beralu meninggalkan ruangan itu karena Lindapun tampak tidak terlihat pada layar.
.
.
Linda sedang berada di kamar mandi ketika seseorang menemuinya dan mengunci pintu kamar mandi di mana Linda berada.
"Halo, saya Linda," sapanya pada wanita seksi itu.
Tapi wanita itu tetap diam.
"Saya penggemar Anda. Kak Ririn sangat cantik," kata Linda. Ia menyodorkan tangan untuk bersalaman. Namun wanita bernama Ririn itu menepis tangannya.
"Gara-gara kamu kontrak saya tidak diperpanjang!" ketusnya.
"Maksud Kak Ririn?" Linda memberanikan diri menatap wanita itu.
"Kamu tahukan saya dan empat artis lain adalah bintang iklan HGC sebelumnya?" Ririn mencengkram baju Linda, hingga Linda terlonjak kaget.
"Sa-saya hanya menerima tawaran Kak. Tidak tahu-menahu masalah itu." Linda menunduk.
"Halah, kamu jangan berlaga sok suci ya LB, jawab dengan jujur! Apa kamu tidur dengan pemegang saham terbersar HGC?"
"Apa?! Kak Ririn, Anda tidak sopan menuduh seperti itu. Saya bekerja profesional," sergah Linda.
"Masih tidak mau mengaku?! Apa kamu tidur dengan salah satu dewan komisaris?!"
"Tidak Kak, tolong jangan berperasangka buruk." Mata Linda mulai berkaca-kaca.
Linda tidak menyangka jika keputusannya menerima tawaran Agam, akan memunculkan prahara dan asumsi senegatif itu.
"Oh, berarti kamu tidur dengan salah satu dewan direksi. Sudahlah mengaku saja, tidak mungkin pendatang baru seperti kamu langsung dibayar setara dengan kontrak saya."
"Kak Ririn, cukup .... Aku tidak tidur dengan siapapun," jawab Linda dengan suara lirih.
Dalam lubuk hati terdalamnya, Linda sebenarnya mengakui bahwa ia telah tidur bersama Dirut HGC. Tapi hal itu tentu saja tidak ada hubungannya dengan proyek iklan ini.
"Hahaha, apa kamu tidur dengan Pak Agam?" bisik Ririn di telinga Linda.
DEG, Linda terkejut dan sejenak membisu. Ia tidak sanggup menjawab pertanyaan Ririn.
"Pastinya kamu tidak akan mengakui kebusukan kamu, kalau semua yang jahat jujur, di dunia itu tidak perlu ada penyidik, pengacara, jaksa, dan hakim. Cukup sediakan penjara saja. Satu hal yang harus kamu camkan LB! Saya tidak percaya kamu tiba-tiba jadi bintang iklan dengan bayaran sekelas saya tanpa ada sesuatu. Saya yakin kamu menyembunyikan rahasia."
Linda semakin menunduk, ucapa Ririn ada benarnya.
"Ingat! Saya jauh lebih lama berkarir di dunia hiburan daripada kamu. Kamu hanya pembawa acara berita yang kebetulan cantik, dan beruntung dapat penghargaan. Apa perlu saya perlihatkan piala-piala saya ke kamu?"
"Kalau saya jadi kamu dan tidak main belakang, saya akan menolak tawaran ini karena mawas diri."
"Tapi ... semua kru biro iklan menyukai hasil kerja saya Kak," cicit Linda dengan suara gemetar.
"Mereka suka karena kamunya main belakang, pasti ada orang berkuasa di belakang kamu. Saya yakin orang itu sudah mencicipi kamu. Jangan munafik LB. Oiya ada yang ingin saya katakan untuk pencapaianmu," tegas Ririn. Ia kembali berbisik di telingan LB.
"Kamu menjijikkan, kamu murahan. Sudah berapa pria yang berhasil memasuki tubuhmu, hahh? Saya doakan kamu tidak penyakitan. Jangan lupa pakai pengaman ya sun dal," bisiknya.
"Kak Ririn ... kamu ...."
Ucapan Ririn sangat melukai hati dan menyesakkan dadanya.
"Murahan, puih." Ririn keluar dari kamar mandi meninggalkannya.
BRUK, wanita itu menutup pintu dengan kencang, bersamaan dengan Bagas yang datang ke arah itu untuk mencari Linda.
"El, El, sepuluh menit lagi take iklan, kamu di mana?" kata Bagas.
Mata Bagas mengerling saat berpapasan dengan dengan Ririn. Bagas langsung tersenyum dan membungkukkan badan saat Ririn berlalu.
Mendengar suara Bagas, Linda langsung beranjak, masuk ke salah satu kamar mandi dan mengunci pintu.
"El, El," Bagas terus memanggil.
Karena toilet wanita kosong, Bagaspun masuk. Matanya langsung tertuju pada satu-satunya pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"El, kamu lama sekali, cepat El."
Namun tidak ada jawaban, hanya ada suara air mengalir.
"El, El, jawab aku. El, jangan bercanda." Bagas mulai kebingungan.
Iapun menggedor pintu. Bagas panik karena LB bergeming tanpa suara.
"Linda, please jawab dong."
Bagas menempelkan telinganya pada pintu, dan pada saat itu ia mendengar ada suara lain selain suara air. Jelas ia hafal jika itu suara isakan tangis.
"Linda? Kamu nangis? tanyanya.
"Kamu kenapa El?" tanyanya lagi saat suara air berhenti.
"Bagas ... aku tidak mau syuting iklan, aku mau membatalkan kontrak," kata Linda.
"APA?! El, kamu jangan bercanda ya! Gila kamu ya El. Cepat keluar El, kita harus bicara," teriak Bagas.
.
.
Semua kru tengah bersiap, lima menit lagi akan ada sesi pengambilan gambar dan vidio untuk iklan.
Agam tampak hadir di belakang barisan para kru. Banyaknya properti yang ada di area syuting membuatnya khawatir, dan memutuskan untuk menyaksikan proses iklan itu secara langsung.
Juru kamera berkali-kali melihat jam di tangannya, begitupun dengan staf yang lain.
"Kok lama sekali ya di kamar mandinya?" kata seseorang.
"Ya, padahal tadi sudah ganti kostum," ungkap yang lain.
"Harusnya sebagai bintang baru tidak boleh membiarkan kita menunggu." Ucap wanita yang ada di antara para kru. Dia adalah Devi, manajer Ririn.
"Kamu sengaja hadir, Dev?" tanya kru.
"Tidak sengaja juga, tadi kesini kerena mengantar Ririn mengambil sesuatu."
Tiba-tiba Bagas datang tergesa-gesa. Bagas tidak mau merusak nama LB. Ia terpaksa berbohong.
"Pak produser, maaf sekali. LB nya masih di kamar mandi, katanya sakit perut. Apa bisa syutingnya diundur?" Bagas menunduk ketakutan.
"Lah, kok bisa tiba-tiba sakit perut? Perasaan tadi baik-baik saja."
Agam yang mendengar keterangan Bagas terkejut. Ia berprasangka Linda pasti mual dan muntah-muntah di kamar mandi.
"Undur syutingnya," teriak Agam. Yang mana membuat semuanya membalikkan badan dan menatap Agam.
Namun yang ditatap ternyata langsung berlari menuju kamar mandi.
"Aduh, bagaimana ini? Kitakan masih ada agenda dengan artis lain," keluh produser saat punggung Agam tak tampak lagi.
"Saya yakin LB itu main belakang, lihat perhatian pak Agam, janggal tidak, sih?" Devi lagi-lagi memprovokasi.
Bagus, terus provokasi. Aku harap seluruh kru membenci wanita itu. Batin Ririn. Ia tenyata mengintip dari sebuah ruang ganti.
Bagas mengepalkan tangan, ingin rasanya berteriak dan memarahi semuanya. Tapi Bagas sadar akan posisinya. Ia hanya manajer artis kemarin sore. Selain itu keberadaan Agam di sisi LB pun membuat Bagas sedikit khawatir jika apa yang ditudingkan pada LB benar adanya.
Tapi, LB bukan wanita murahan. Dia bahkan belum pernah berciuman dengan Angga. Aku percaya padamu, El. Batin Bagas.
Ya, Bagas adalah satu-satunya orang yang tahu jika Linda memiliki kekasih selain ayah Berli dan bu Ana.
.
.
BRAK, tanpa basa-basi, Agam langsung mendobrak pintu kamar mandi yang diyakini ada Linda di dalamnya.
"Bu Linda?"
Terkejut saat melihat wanita yang pernah memanaskan tubuhnya itu bersimpuh di lantai, terisak-isak dan berurai air mata. Riasan Linda luntur karena ia mengucek matanya berakali-kali, dan Lindapun sempat mencuci muka.
"Anda kenapa?" Agam bersimpuh mensejajarkan tubuh dan meraih bahu Linda.
"Huks, huks."
Mata yang riasannya meleleh itu menatap dalam pada Agam. Bibirnya gemetar. Linda kesulitan mengatakan apapun. Terlalu sakit jiwa dan raganya saat syak wasangka itu menyulut batinnya.
Ia adalah wanita yang mujur dan tiba-tiba menjadi bintang baru HGC karena belas kasih dari seorang Agam Ben Buana. Kenapa pria itu berbelas kasih padanya?
Tentu saja karena Agam telah menikmati tubuhnya. Mana mungkin ia sebaik itu jika saja pria itu tidak pernah menidurinya. Linda merasa jika tuduhan dari Ririn adalah fakta. Apalagi kala ia mengingat lagi hari itu.
Ada rahasia besar yang hanya diketahui oleh Linda.
Ya, pada hari Agam mengambil kesuciannya, Linda memang menolak dan membenci Agam. Tapi ... jauh di lubuk hatinya ada secerca kebahagiaan dan harapan dari Linda.
Tatkala ia menikmati sentuhan dan perlakuan Agam, ia sempat membayangkan dan menginginkan agar kenikmatan dan perasaan sangat dicintai dan dihormati itu akan ia rasakan lagi suatu hari nanti dengan pria yang sama. Agam Ben Buana.
Apa benar ia wanita menjijikkan?
Apakah benar ia telah menjual tubuhnya demi popularitas? Apa ia pendosa? Apa ia tidak pantas mendapatkan kesempatan emas ini? Apakah hanya wanita suci saja yang berhak bahagia dan dicintai semua orang? Seberapa kotorkah dirinya?
Lama ia menatap Agam, sebelum akhirnya pandangan matanya kabur dan membawa rasa sakit, minder, rasa hina, dan rasa tak layak itu ke dalam pingsannya.
"Linda," Agam mendekapnya.
Hati pria itu seakan turut merasakan bagaimana perasaan Linda. Agam berpikir jika Linda merasa tertekan dan tidak bahagia saat bersamanya.
"Maafkan saya Linda ...," lirihnya. Entah itu ucapan maaf yang keberapa kali.
Agam membawa Linda ke lantai dua, ke sebuah kamar khusus yang disediakan untuk Dirut HGC. Kamar yang bahkan tidak pernah dikunjungi olehnya ataupun oleh Dirut HGC sebelumnya.
Agam tidak peduli lagi dengan tatapan heran dan menyelidik seluruh staf dan kru biro iklan. Apa yang dilakukan Agam tentu saja semakin meyakinkan para kru dan tim produksi jika LB main belakang.
Bagas mengekor sampai ke kamar.
"Sediakan teh manis, dan minyak hangat. Sekarang." Titahnya pada Bagas.
"Baik Pak."
.
.
Agam membersihkan make up di wajah Linda dengan tissue basah. Lalu ia membuka sepatunya. Tampak telapak kaki LB memerah dan lecet pada mata kakinya.
Arrggh, umpatnya dalam hati saat ia melihat nomor sepatu yang digunakan LB ternyata satu nomor lebih kecil dari yang biasa dipakainya.
Kenapa kamu pura-pura nyaman dengan sepatu ini? Bagaimana kalau kakimu infeksi? Agam merutuki Linda dalam benaknya. Ia melempar sepatu itu ke tempat sampah.
"Maaf sudah mengeksploitasi kamu, harusnya ... saya tidak pernah menawarkan kontrak ini. Harusnya ..., kamu istirahat saja di rumah dan menungguk saya pulang," guman Agam saat Linda mulai siuman.
❤❤ Bersambung ....